Selasa, 15 April 2014

Pertemuan Jokowi dan Pengusaha Jacob Soetoyo Isyarat Intervensi AS

Calon Presiden dari PDI Perjuangan (PDIP) Joko Widodo (Jokowi) bersama Megawati Soekarnoputri malam tadi bertemu dengan sejumlah duta besar termasuk Dubes Amerika Serikat (AS), Robert O' Blacke. Pertemuan tersebut dilakukan di rumah salah seorang pengusaha yakni Jacob Soetoyo yang berada di Jalan Sircon No 73, Permata Hijau Jakarta Selatan.
Pengamat Politik Universitas Jayabaya Igor Dirgantara menilai, pertemuan tersebut tidak bisa lepas dari kepentingan Amerika di Pilpres 2014. Dia melihat, pertemuan itu juga meyakinkan AS sangat mungkin mendikte pemerintahan Jokowi nanti.
"Biasanya AS akan menanamkan dukungan dan pengaruh baik terhadap figur atau arah kebijakannya. Ini bentuk pendiktean AS terhadap Indonesia akan posisi strategisnya terhadap dinamika masa depan kawasan Asia Tenggara," kata Igor dalam keterangan pers yang diterima merdeka.com, Selasa (15/4/2014).
Igor menjelaskan, wujud nyata kepentingan AS dalam menguasai perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia sebetulnya telah terungkap dari kasus terbongkarnya penyadapan AS dan kebocaran kawat diplomatik AS oleh Edward Snowden. Karena itu, bukan AS namanya jika tidak punya agenda politik ekonomi.
"Bukan sesuatu yang mustahil buat Jokowi dalam upaya mencari dukungan negara besar dalam pencapresannya tahun ini," terang dia.
Karena itu, Igor menjelaskan, sangat berbahaya jika Indonesia masuk orbit hegemoni AS mengingat perseteruannya dengan China dalam kasus laut China Selatan, yang juga melibatkan negara anggota ASEAN lainnya seperti Filipina dan Vietnam.
"AS gemar mengunjungi negara yang dianggap sekutunya untuk mendukung politik anti Suriah dan Iran. Padahal Indonesia menganut politik bebas dan aktif dari campur tangan negara besar," jelas dia.
Selain itu, kata Igor, AS kini gencar mempropagandakan Trans Pacific Partnership (TPP) dan ingin memasukan Indonesia sebagai anggotanya, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. "Tetapi semua perdagangan bebas regional selalu berdampak negatif bagi Indonesia," jelasnya.
Karena itu, menurutnya bangsa Indonesia perlu mewaspadai dengan apa yang sekarang ini terjadi di Ukraina akibat campur tangan AS. Isu besar di balik jatuhnya Presiden Yanukovich adalah pertarungan penguasaan energi global antara kelompok negara TPP yang diusung AS melawan negara-negara yang tergabung dalam BRICS yang dimotori China dan Rusia.
"AS senantiasa punya manuver politik mematikan bagi negara yang kaya sumber daya alam tapi tidak pro-Washington," ungkap Igor.
Belum lagi menurutnya jika itu dikaitkan dengan adanya kepentingan korperasi besar AS seperti kontrak Freeport di Papua, Newmont dan lainnya. Karena, AS ingin agar Asia Tenggara lebih membuka akses perdagangannya demi memulihkan kembali perekonomiannya yang terpuruk akibat krisis.
"Semua masalah tersebut bisa berdampak terhadap kedaulatan wilayah NKRI. Kepentingan AS lainnya di Indonesia adalah modernisasi Kedubes AS di Jakarta yang menelan biaya Rp 4,2 triliun," tuding dia.

Sumber :
merdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar