Minggu, 31 Maret 2013

Jokowi Masih di Singapura, Suyatmi Pulang dengan Tangan Hampa

Pupus sudah perjuangan Suyatmi (42) menemui Gubernur DKI Joko Widodo untuk curhat urusan tabrak lari di Solo, Jawa Tengah, yang menimpa adiknya. Jokowi masih ada di Singapura.

"Bapak lagi keluar ke Singapura kemarin pagi sekalian acara keluarga di sana kan libur panjang nanti Senin balik lagi kerja," ujar ajudan Jokowi, Puput, saat menemui Suyatmi di halaman rumah dinas Gubernur DKI Jakarta di Jalan Taman Suropati No 1, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (31/3/203)

"Trus kapan pulang?" tanya Suyatmi.

"Saya belum tahu kapan balik, soal belum ada agenda lagi," Jawab Puput.

Ivan, ajudan Jokowi lainnya mengatakan sudah berkoordinasi dengan Jokowi via telepon soal keluhan Suyatmi. Jokowi menyarankan persoalan ini diselesaikan oleh wali kota Solo.

"Tadi saya sudah telepon bapak, pesan bapak ibu ketemu wali kota Solo di sana, lagian sekarang bapak sudah ngurus Jakarta nanti kalau sama bapak dikiranya bapak intervensi wali kota sana," kata Ivan.

Suyatmi pun menimpali bahwa dia hanya ingin mendapat pencerahan, bukan meminta bantuan apa-apa. Akhirnya, Suyatmi pun pulang ke kampung halamannya.

"Iya ibu saya juga ngerti tapi amanat bapak begitu, saya cuma bisa nyampain saja," tutup Ivan.


Sumber :
news.detik.com

Suyatmi, Keluarga Korban Tabrak Lari di Solo Ingin Curhat ke Jokowi

Suyatmi (42) ingin bertemu dengan Gubernur DKI Joko Widodo untuk memperjuangkan kesehatan adiknya yang tinggal di Solo. Dirinya sudah berkali-kali mencoba bertemu tapi hasilnya sia-sia.

"Ke sini mau ketemu Jokowi mau nanyakan kenapa program kesehatan dulu dia di Solo sekarang nggak berjalan lagi," ujar Suyatmi yang menunggu Jokowi di rumah dinasnya Jalan Taman Suropati No 1, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (31/3/2013).

Suyatmi menceritakan keinginan bertemu Jokowi dikarenakan adiknya yang bernama Purwanto (21) menjadi korban tabrak lari di Solo. Kecelakaan itu terjadi pada Desember 2012. Hingga saat ini, biaya yang dihabiskan untuk berobat sudah hampir Rp 70 juta.

"Soal setiap 2 minggu sekali datang abis Rp 1,5 juta," tuturnya.

"Dulu kita datang ke bapak (Jokowi-red) sekarang besoknya sudah diproses setelah itu kalau sudah dirujuk dokter jadi enak, tapi kalau sekarang harus ada uang dulu," ujarnya.

Saat ini, sang adik sudah nyaris putus asa. Karena itu, Suyatmi berharap ada bantuan segera.

"Sampai adik saya bilang udah mati aja, sampai kaki yang patah itu dipukul-pukul," ucapnya sambil menangis.

Hingga siang ini, Suyatmi masih menunggu di rumah dinas Jokowi. Dia berharap bisa bertemu untuk sekadar bercerita soal nasib adiknya. Bila memang Jokowi tidak bisa membantu, dia pun maklum karena sekarang bapak tiga anak itu bukan lagi wali kota Solo.


Sumber :
news.detik.com

Berita Serupa :
- jakarta.tribunnews.com : ""Pak Jokowi, Layanan Kesehatan di Solo Tak Seperti Dulu""

Gebrakan Jokowi Tanpa Perhitungan Matang

167 hari sudah Joko Widodo memimpin Ibu Kota Jakarta. Meski terkenal dengan ide-ide perbaikan Jakarta, gebrakan mantan Wali Kota Solo itu masih dinilai tanpa perhitungan matang.

"Banyak dari gebrakan baru itu tanpa perhitungan matang seperti Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat yang tidak memperhitungkan beban pelayanan yang harus dihadapi oleh petugas," kata peneliti senior The Jakarta Institute, Ubaidillah saat dihubungi, Sabtu (30/3/2013) malam.

Bukan hanya KJS dan KJP, Ubaidillah menyebut konsep dari gagasan rumah susun dan kampung deret juga belum matang. "Sebaiknya untuk program-program tersebut, Jokowi bikin satu model dulu, kemudian dievaluasi daripada berwacana banyak dan memberi harapan, namun kemudian tidak dijalankan," sambungnya.

Menurutnya banyak wacana yang dilontarkan Jokowi maupun wakilnya Basuki Tjahaja Purnama yang belum ditindaklanjuti seperti MRT maupun peremajaan angkutan umum.

"Namun belum ada tindak lanjut yang signifikan dalam implementasinya dan banyak tarik ulur," sebutnya.

Semestinya, Jokowi juga fokus mengerjakan program yang memiliki beban anggaran tidak terlalu besar dan dapat dikerjakan dalam waktu singkat. "Segera dijalankan misalnnya dalam skala terbatas dulu, kemudian dilakukan evaluasi," kata Ubaidillah. "Yang penting harus berani mengakui kalau ternyata dari hasil evaluasi ada yang kurang," tambahnya.

Bagi Ubaidillah, ada tiga sebutan untuk menilai kinerja kepemimpinan Jokowi. "Panik, implementasi sesaat dan tarik ulur program," ujarnya.

Sumber :
news.detik.com