Senin, 16 September 2013

Gara-gara Direlokasi Jokowi, ex PKL di Blok G Kehilangan Rejeki

Sejumlah upaya promosi dilakukan pengelola Blok G Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat untuk memikat calon pembeli. Atas instruksi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan juga turut membantu. Mereka menggelar konser musik dan pentas kesenian lainnya.
Kini setiap Jumat sampai Minggu konser musik dan gambusan selalu diadakan di Blok G Pasar Tanah Abang. Pada Jumat pagi misalnya, ada kegiatan

"Beda Kebijakan Pusat dan DKI karena SBY-Jokowi Beda Partai"

Pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia (UI), Profesor Hamdi Moeloek, menilai lambannya koordinasi untuk mengantisipasi terbenturnya kebijakan pusat dan daerah sedikit banyak disebabkan perbedaan golongan, yakni partai politik.
"Saya curiga yang terjadi begini, kan pemerintah pusat Partai Demokrat, Jokowi itu PDI-P. Kalau dibantu, nanti seperti membesarkan anak macan. Entah itu benar atau tidak ya," ujar Hamdi saat dihubungi, Senin (16/9/2013).

Pasar Gembrong Sepi Tapi Pedagang Tetap Dukung Program Jokowi

Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang biasa berjualan di trotoar di Jalan Basuki Rahmat, Jakarta Timur, mengeluh merugi setelah mengikuti program relokasi ke PD Pasar Gembrong, Cipinang Besar.
Mereka mengeluhkan hilangnya pemasukan, karena tak ada pembeli yang   mampir ke tempat mereka berdagang saat ini sejak sepekan lalu.
Bahkan pedagang mainan dan karpet yang menempati PD Pasar Gembrong Cipinang Besar, belum melihat adanya pembeli yang lalu lalang, atau bertransaksi. Sebagian besar kios tertutup atau dibiarkan terbuka tanpa penjaga .

Jokowi Akan Turun Tangan Hentikan Tawuran

Tawuran kembali pecah di Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, Minggu (15/9/2013) malam. Kali ini, baku lempar antarwarga terjadi di Jalan Intan, Kelurahan Galur. Seperti tawuran yang pernah terjadi, tak ada yang tahu pemicu pertikaian di antara dua rukun warga yang bertetangga itu. Namun, akibat pertikaian itu, seorang anggota patroli kota Kepolisian Sektor Johar Baru, Brigadir Sugito Aritonang, yang tengah berada di tengah massa, menjadi korban.

Efek Kejut Jokowi Yang Memiriskan Capres Lain

Kemunculan Joko Widodo (Jokowi) dalam pentas perpolitikan Indonesia membawa efek kejut dan mengubah peta calon presiden 2014. Kader terbaik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) tersebut menguasai bursa survei sebagai kandidat calon presiden terpopuler. Bahkan lebih tinggi dari grup band Metallica.
Hal ini secara tidak langsung mengganggu banyak parpol sekaligus mengancam kandidat capres lainnya. "Tentu saja, Jokowi mulai terasa degungnya. Padahal, Jokowi sendiri belum resmi ditetapkan sebagai Capres dari PDIP," kata Direktur Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti, Jakarta, Senin (16/9/2013).

Jokowi: Akan Dibangun Pabrik Monorel di Indonesia

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) membenarkan PT Jakarta Monorail akan membangun pabrik pembuatan monorel di Indonesia. Demi peningkatan kualitas produk dalam negeri, Jokowi pun mendukung rencana pembangunan.
"Iya, laporannya sudah ke saya. Pasti didukung dong, bagus itu," kata Jokowi kepada wartawan di Balaikota, Jakarta, pada Senin (16/9/2013).
Meski demikian Jokowi belum mengetahui perusahaan BUMN Indonesia mana yang akan bekerja sama dengan PT Jakarta Monorail untuk membangun industri manufaktur rangkaian monorel itu.

Jokowi Bawa Gaya Membangun Dari Solo

Pembangunan Di Jakarta yang saat ini sedang gencar dilakukan oleh Gubernur Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menurut Yayat Supriatna, Pengamat Perkotaan, merupakan gaya yang ia terapkan dulu di Solo.
"Setiap orang bertindak dan berbuat itu pasti ada sejarah atau habitusnya, jadi apa yang Pak Jokowi bawa ke Jakarta ini memang apa yang sudah dulu ia terapkan Di Solo," terangnya saat menghadiri diskusi media di Restoran Pulau Dua Jakarta, Senin (16/9/2013).

PDI-P Akan Lestarikan Ketokohan Jokowi

Wasekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Eriko Sotarduga mengatakan partainya akan menjaga dan memelihara popularitas dan ketokohan Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi).
"Ini kan dihitung. Proses grooming (pemeliharaan tokoh baru -red) sekarang sedang dilakukan. Nanti penentuan capres dilaksanakan tahun depan. Apakah sesudah Pileg atau sebelum Pileg, kita tunggu saja," tutur Eriko.
Eriko menyebutkan sosok Jokowi memang merupakan muka baru untuk konteks capres. Jokowi telah didorong berbagai pihak untuk maju capres 2014.

Jokowi Ingin Jadikan Jakarta Seimbang

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menyayangkan jumlah pusat perbelanjaan mewah (mal) di Jakarta, meskipun jumlah mal di Jakarta adalah yang terbanyak di dunia.
"Selalu yang dibangun adalah mal, hedonis, suka hal-hal yang bersifat konsumtif, mewah. Arah pembangunannya ke sana terus," ujar Jokowi dalam kuliah umum di Perguruan Tinggi Ilmu Al-quran (PTIQ) di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin (16/9/2013).

Jokowi Prakarsai Pertemuan Gubernur dan Walikota se-ASEAN

Untuk meningkatkan kerja sama antar pemerintah daerah se-ASEAN dan membentuk masyarakat ekonomi ASEAN 2015, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memprakarsai pertemuan multilateral antara Gubernur dan Walikota di kota-kota yang berada dalam negara yang menjadi anggota ASEAN.
Pertemuan multilateral tersebut akan diadakan pada 18-19 September 2012 di Jakarta. Rencananya akan ada 110 delegasi dari 10 ibukota negara anggota ASEAN. Pertemuan ini mengambil tema ASEAN Goes Local: Contributing to ASEAN Community 2015.

Giliran Ruhut Ejek Jokowi

Politisi Partai Demokrat Ruhut Sitompul menanggapi soal daya saing capres konvensi yang diremehkan Anas Urbaningrum. Tokoh potensial saingannya adalah Joko Widodo (Jokowi), namun Ruhut punya pandangan sendiri.
"Dia kan baru setahun (jadi Gubernur). Kalau aku bilang, lebih bagus era Foke (Fauzi Bowo) lho. Sekarang (era Jokowi) Jakarta jadi tambah macet, banjir, protes penggusuran dan sebagainya," tutur Ruhut di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (16/9/2013).

Apa Jokowi Mau Duet Dengan Ical?

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menanggapi dingin tawaran Partai Golkar yang berminat meminang Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi calon wakil presiden bagi Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical). Minat ini diutarakan setelah elektabilitas Jokowi terus unggul dalam berbagai survei, bahkan kerap lebih tinggi dari Ical.
“Lagi pula, kalau PDI-P kursinya cukup masa mau jadi wapresnya? Itu soal syarat, terus siapa yang mau dengan Ical? Wong elektabilitasnya (Jokowi) lebih tinggi,” ujar Wakil Ketua Bappilu PDI Perjuangan TB Hasanudin di Kompleks Parlemen, Senin (16/9/2013).

Wasekjen PD, Ramadhan Pohan Ejek Jokowi

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat (PD) Ramadhan Pohan menyatakan Joko Widodo (Jokowi) melambung di survei pencapresan bukan karena hasil kerjanya yang hebat, melainkan karena tak ada saingan yang bisa menandingi.
"Jokowi itu melambung bukan karena Jokowi hebat, tapi karena kelemahan capres yang lain," kata Ramadhan Pohan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (16/9/2013).
Ramadhan menyatakan capres-capres yang selama ini beredar masih didominasi muka-muka lama alias 'capres iwak peyek'. Namun melalui konvensi, muka-muka baru bisa bermunculan.
"Lawan-lawannya (Jokowi) 'iwak peyek'," ujarnya.

Buruh Demo Lagi, Kali ini Minta Jokowi Selesaikan Masalah Internal

Ratusan buruh dari PT Yamaha Music Indonesia mendatangi Balaikota Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (16/9/2013). Mereka meminta Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menyelesaikan permasalahan di perusahaan tersebut.
Sugiman selaku kordinator aksi buruh PT Yamaha Music Indonesia mengatakan, buruh menuntut keadilan bagi karyawan kepada manajemen perusahaan. Mereka meminta manajer dan deputi personalia perusahaan itu dipecat.

Jokowi: Saya Sih Merasa Ganteng, Kayak Dude Harlino

Bukan Foto sesungguhnya (hasil rekayasa)
Di balik penampilan sederhananya, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), ternyata juga kocak.
Kader terbaik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang mengenakan seragam blusukan kebanggaan seharga Rp. 46.000,- dan tak pernah memakai jam tangan mengungkapkan rasa herannya dengan penilaian sejumlah media tentang penampilannya.

Jokowi Stop Pembangunan Mal di Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengkritik pembangunan tata kota Jakarta dalam beberapa tahun terakhir ini. Menurut dia, selama ini pembangunan Jakarta hanya mengarah pada pembangunan ekonomi dan masyarakat diajak untuk bergaya hidup hedonis.
"Selalu yang dibangun adalah mal, suka hal-hal yang bersifat konsumtif, mewah. Memang arah pembangunannya ke sana terus," kata Jokowi di kampus Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin (16/9/22013).

Jokowi Yakin Pemprov DKI Bisa Tuntaskan 28 Lokasi Penataan Kampung Dalam 5 Tahun

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yakin bahwa Pemprov DKI mampu selesaikan program penataan kampung sebanyak 28 titik di Jakarta dalam waktu 5 tahun.
"Lima rahun ya rapi. Ada 28 lokasi di Petojokan, Cakung. Sekitar 360-an (pembangunan) per tahun," kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Senin (16/9/2013).
Jokowi optimis, apabila dalam satu tahun dapat membangun 100 unit rumah di satu kampung, maka lima tahun dapat selesaikan 500 unit rumah.

MRT Tunggu Alat Dari Jepang

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) kembali menyampaikan perkembangan pembangunan transportasi massal, MRT dan Monorail yang pelaksanaannya akan dilakukan sepenuhnya pada bulan Oktober mendatang. Menurutnya, pembangunan MRT hanya tinggal menunggu alat berat yang akan didatangkan langsung dari Jepang.
"Ini baru nunggu alat-alat berat dari Jepang untuk masuk ke sini. Ini pertengahan bulan atau Oktober nanti baru akan masuk," kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Senin (16/9/2013).

Pro Kontra Jam Wajib Balajar Malam Ala Jokowi

Berkaitan dengan wacana Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) untuk membuat jam wajib belajar malam bagi para alay di DKI Jakarta, Jokowi mengaku banyak mendapat masukan baik yang pro maupun kontra dengan wacana tersebut.
"Rencana itu masih dalam proses, karena ada yang menentang ada yang setuju," kata Jokowi di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (16/9/2013).

Haruskah Jokowi-Ahok "Mengalah" kepada DPRD?

Beberapa program Pemerintah Provinsi DKI terganjal persetujuan di DPRD DKI. Haruskah Jokowi-Ahok ikut aturan main legislatif demi golnya program?
Beberapa program Jokowi yang masih terganjal di DPRD DKI antara lain proyek MRT, pemberian suntikan dana kepada Bank DKI, dan pendirian BUMD PD Transjakarta.
Pengamat politik LIPI, Siti Zuhro, menilai komunikasi antara Pemprov DKI dan DPRD DKI tergolong tak semesra pemimpin daerah ke rakyatnya.

Kesalahan Fatal Prabowo


Pengamat politik dari Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Bony Hargens, menilai bahwa Prabowo Subianto telah melakukan kesalahan fatal dalam bidang politik politik dengan membawa Joko Widodo (Jokowi) ke Jakarta. Sebab, setelah Jokowi diorbitkan sebagai Gubernur DKI Jakarta, kepopuleran Jokowi mengikis habis pamor Prabowo.
Kini, kata Bony, justru Jokowi yang merupakan calon kuat presiden pada 2014. “Kesalahannya, Prabowo datang dari atas, elitis, ketika muncul Jokowi yang datang dari bawah, dari akar rumput. Kesalahan Prabowo adalah mendatangkan Jokowi ke Jakarta,” ujar Bony.

"Sudah Saatnya Presiden Bantu Jokowi-Ahok"

Ekspektasi masyarakat terhadap kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk menata Ibu Kota terbilang tinggi. Namun, apa daya, tumpang tindih kebijakan menunjukkan kewenangannya tak sebesar ekspektasi.
Jokowi-Ahok pun disangsikan mampu mewujudkan harapan warga Jakarta, yakni menyelesaikan masalah macet dan banjir di Ibu Kota. Kedua masalah itu tumpang tindih dengan kebijakan pemerintah pusat.
Program gebrakan lemah seketika. Di tengah-tengah upaya Jokowi-Ahok meminimalisasi kemacetan dengan memperbaiki transportasi umum di Jakarta, pemerintah pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Regulasi Mobil Murah dan Ramah Lingkungan atau LCGC.

Warga Jakarta Belum Dukung Gerakan Bersih Jokowi

Sepekan sejak Gerakan Jakarta Bersih dicanangkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), tumpukan sampah masih terlihat di permukaan sejumlah sungai dan waduk di Jakarta, Minggu (15/9/2013). Tempat dan armada pembuangan sampah serta kesadaran warga dinilai masih kurang.
Tumpukan sampah antara lain terlihat di Waduk Rawabadak di Koja, Jakarta Utara. Sampah plastik, potongan kayu dan bambu, serta bungkus bahan keperluan sehari-hari, seperti sabun, sampo, dan pasta gigi, mengapung dan menumpuk di sisi selatan waduk.