Kamis, 10 April 2014

Ada Gerakan Memecah Belah Internal PDIP

Pasca pileg terus bergulir kampanye negatif terkait pencalonan Jokowi sebagai presiden. Kampanye negatif ini juga dilakukan dengan cara memecah belah internal PDIP agar tidak puas dengan Jokowi.
Hal ini diungkapkan oleh Pengamat Politik Ari Dwipayana, Kamis (10/4/2014). Ia menegaskan, kampanye negatif yang dimaksud adalah, munculnya pemberitaan secara masif, menegaskan tak ada Jokowi efek dalam Pileg kemarin.
"Ada kampanye, skenarionya untuk memecah belah PDIP. Mendorong ketidakpuasan internal terhadap Jokowi. Menekankan, Jokowi tidak punya efek ke partai," ujarnya.
Faktanya, lanjut Ari, modal elektabilitas Jokowi sebagai calon presiden sudah di kisaran 40-50 persen. Pemilih Jokowi, ia menegaskan, datang dari lintas partai, dan hantaman negatif kepada Jokowi dan PDIP bukan menurunkan tingkat elektabilitasnya, namun makin memperkuat sentimen antipartai.
"Itu akibatnya pemilih Jokowi akhirnya memilih untuk golput di pileg 2014 dan berhasil memperbesar angka golongan putih (golput) sampai 35 persen," pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada ini.
Ia yakin, pada pilpres nanti akan muncul dukungan dari pemilih yang bukan pemilih loyal  partai politik. Dari berbagai survei, imbuhnya,  menunjukkan pendukung jokowi justru berasal dari partai di luar PDIP yang ia sebut sebagai split ticket voting
Ari sepakat waktu yang diberikan PDIP untuk Jokowi dalam melakukan sosialisasi cukup singkat sehingga pencapaian suara, menjadi tidak maksimal.
Ari kemudian membandingkan dengan Prabowo Subianto. Sebagai capres dan ikon Partai Gerindra yang disosialisasikan  sebelum pemilu legislatif . Sementara Jokowi baru disosialisasikan dua minggu sebelum Pileg 9 April 2014.
"Kondisi itu terjadi di tengah Jokowi jadi target semua kampanye negatif,  menurunkan elektabilitasnya. Pihak lawan Jokowi tentu berharap, suara pemilih mengambang yang mudah goyah bisa bergeser dari Jokowi ke partai mereka," pungkasnya.

Sumber :
tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar