Senin, 17 Maret 2014

Dirut KAI Selamatkan Muka Jokowi

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dinilai belum berbuat apa-apa untuk pembenahan transportasi di Jakarta. Sekarang, Jokowi malah maju sebagai capres. Beruntung, citra Jokowi diselamatkan oleh PT KAI selaku pengelola Kereta Rel Listrik (KRL) yang membantu mengurangi kemacetan di ibu kota.
Menurut Direktur Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas, jika KRL tidak memperbaiki diri beberapa tahun belakangan, maka saat ini Jakarta sudah gridlock atau kemacetan parah.
"Waktu itu kan banyak yang memprediksi 2014 Jakarta akan gridlock, atau macet saat keluar rumah, itu terjadi kalau tidak ada upaya apapun, namun ternyata PT KAI berkinerja sangat baik, ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Senin (17/3/2014).
Ia mengungkapkan, KRL Jabodetabek mampu mengangkut hingga 600.000 orang lebih, atau meningkat sekitar 100 persen dari sebelum diberlakukan tiket elektronik dan penghapusan KRL Ekonomi, yakni 300.000 penumpang per hari.
"Efeknya saya kira signifikan, jadi Jokowi diselamatkan Pak Jonan (Dirut PT KAI). Coba lihat semua stasiun ada parkir mobil dan sepeda motor, banyak yang parkir dan naik kereta, kereta juga ditambah, peron diperpanjang, stasiun steril, orang mau naik KRL, ujarnya.
Dharmaningtyas mengatakan, keberadaan mobil murah ramah lingkungan (LCGC) memang cukup dirasakan di Jakarta. Namun karena KRL sudah lebih baik, kemacetan agak bisa terurai.
"2018, KRL ditargetkan mengangkut sampai 1,2 juta penumpang per hari, saya yakin PT KAI bisa, tapi kalau Pemprov DKI tidak melakukan apa-apa ya kita cuma menunda stagnansi lalu lintas," tegasnya.
Jokowi seharusnya menjalankan Pergub Pola Transportasi Makro (PTM) yang sudah dicanangkan dari era Sutiyoso. Pergub PTM Nomor 103 tahun 2007 itu sudah mencakup semua sistem transportasi.
"Termasuk juga sebenarnya monorail. Tapi saya itu paling menentang monorail diteruskan, di Sidney (Australia) saja, monorail tutup," ujar Tyas.

Sumber :
merdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar