Jumat, 04 Juli 2014

Ketika Otoriter-Oportunis Berkuasa

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jaleswari Pramodawardhani, menyatakan dirinya merasa kaget dengan hasil riset Lembaga Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI) soal takaran kepribadian capres Prabowo Subianto, yang dibandingkan dengan para capres-cawapres lainnya.
Sebab meski mengakui selama ini sering mendengar kepribadian Prabowo yang temperamental, namun kajian UI yang dibuat dengan pendekatan khusus, termasuk wawancara dengan 204 psikolog, mengungkapkan berbagai fakta baru.
Misalnya, bagaimana Prabowo cenderung mengambil keputusan atas pertimbangan diri sendiri dan cenderung otoriter.
Lalu Prabowo tidak dapat bekerja di bawah tekanan, dan dampaknya dapat mengambil tindakan yang kurang tepat. Bahkan disebutkan Prabowo memiliki kepercayaan diri yang berlebihan.
"Dalam situasi seperti demikian itu, berdampingan dengan Hatta Radjasa sebagai sosok oportunis, tentu akan menciptakan kesulitan tersendiri karena benturan karakter pasangan tersebut," kata Jaleswari di Jakarta, Jumat (4/7/2014).
Sementara hasil riset itu terhadap sosok Jokowi, menegaskan sosoknya sebagai pekerja keras, sederhana, dan jujur.
Karakter kepemimpinan Jokowi demokratis, beride cemerlang untuk menyelesaikan masalah bangsa, dan mampu mengambil kebijakan konkrit seperi kenaikan gaji PNS, TNI dan POLRI setidak-tidaknya 20 persen per tahun, dan remunerasi PNS.
Jokowi juga  memiliki motivasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan Prabowo.
"Yang justru mengherankan, takaran kepribadian Jokowi ternyata merupakan sosok yang tegas dalam mengambil keputusan, serta lebih hangat berhubungan dengan orang lain," kata Jaleswari.
"Di sisi lain, karakter JK bisa saling melengkapi. Sebab hasil riset itu menunjukkan, selain sama-sama memiliki motivasi tinggi, JK merupakan sosok yang bekerja dengan efisien, dan tidak buang-buang waktu untuk mengambil kebijakan konkrit."
Menurutnya, takaran kepribadian tersebut sangatlah penting untuk diketahui rakyat. "Sebab sukses tidaknya seorang pemimpin pada akhirnya ditentukan dari karakter kepribadiannya, bukan dari polesan pidato atau retorika politik yang dimainkan."
Dari kajian tersebut, juga diungkapkan gaya kepemimpinan para kandidat capres-cawapres. Jokowi dipandang memiliki gaya kepemimpinan demokratis dengan kadar 87 persen dan kadar otoriter 13 persen. Sebaliknya Prabowo dipandang sebagai pemimpin yang otoriter dengan kadar 76 persen dan demokratis 24 persen.
Jika dikaitkan dengan karakter yang mau mendengarkan orang lain, Jokowi lebih unggul yaitu 64 persen dan Prabowo 18 persen.
Bagi Jaleswari, hal itu membuktikan kebiasaan Jokowi blusukan inheren dengan karakter yang dimilikinya, yaitu kemampuan mendengarkan orang lain, yaitu rakyat.
"Nampak jelas mengapa rakyat begitu antusias dan percaya terhadap Jokowi. Indonesia memerlukan pemimpin yang dapat bekerja bersama-sama rakyat,” demikian Jaleswari.  [tribun]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar