Sabtu, 12 April 2014

Pelajaran Bagi PDIP

PEMILU legislatif Indonesia dilaksanakan pada 9 April 2014.  Sebagian besar hasil penghitungan cepat atau quick counts tidak resmi menunjukkan bahwa perolehan suara PDIP di bawah 20% untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Hasil tersebut mendekati ambang batas 25% yang dibutuhkan untuk mengajukan calon presiden Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).
Simpatisan partai sangat kecewa setelah berharap banyak untuk bisa memenangkan 30% suara.
Namun demikian, hasil ini masih lebih baik dibandingkan pemilu tahun 2004 dan 2009 saat PDIP hanya meraup 18,53% dan 14,03% suara.
Apalagi PDIP juga menjadi pilihan masyarakat yang majemuk di beberapa provinsi Sumatera. Ini adalah kemenangan besar pada dekade terakhir, bahkan menang di kubu Golkar Banten.
Secara keseluruhan: hasil terakhir ini baik, tapi tidak hebat.

Mengapa?
Mungkin kesalahan yang paling fatal adalah over-confidence bahwa popularitas Jokowi secara otomatis berpengaruh pada kemenangan PDIP. Jokowi kembali klaim pasti menang, menang tebal dst, yang bagi sebagian pengagumnya justru menimbulkan antipati. Demikian juga dengan perubahan sikap Jokowi yang menjadi cenderung agresif, melawan kampanye hitam dengan membusungkan dada, menjadi nilai negatif bagi para simpatisannya karena selama ini Jokowi dinilai sebagai orang yang lemah lembut, sabar dan menjunjung etika di atas segalanya. Memang, sebagian orang berpendapat bahwa apa yang disebut "efek Jokowi " adalah sebuah keniscayaan. Saya tidak yakin tentang hal ini. CSIS  dan Cyrus Network telah memproyeksikan bahwa jumlah pemilih sekitar 75,3%, tertinggi sejak masa Orde Baru.
Jokowi telah memengaruhi pergeseran paradigma dalam politik Indonesia. Kehadirannya berhasil menurunkan tingkat golput dan meningkatkan partisipasi pemilih.
Walau begitu, jelas bahwa PDIP perlu mengganti strategi untuk pemilihan presiden Juli nanti.
Jokowi tidak begitu berhasil menggiring pemilih, dan pemilihan parlemen telah membuktikannya.
Dia akan menghadapi tantangan besar dari saingannya, termasuk sang tokoh karismatik dan kontroversial yaitu mantan jenderal Prabowo Subianto dari Gerindra yang selama masa kampanye parlemen terlihat sangat disiplin, fokus dan berapi-api. Belum lagi sang tokoh pengusaha dan politikus Aburizal Bakrie dari Golkar.
PDIP harus membiarkan Jokowi dilihat sebagai orang yang dijagokan dan benar-benar menjadi ujung tombak. Dia harus mampu mengatur pola dan arah kemana partai akan menuju.
Oleh karena itu, Jokowi harus terlihat di depan dan tidak mengikuti partainya. Ini juga penting bagi pemerintahannya jika ia menang.
Ada kekhawatiran bahwa PDIP akan setia pada jalur reformasi yang membuat investor takut dan umumnya memilih pergi meninggalkan Indonesia dalam ekonomi global yang bergejolak.
Menghadapi tantangan tersebut, Jokowi membutuhkan fleksibilitas dan pemerintahan yang bebas dari pertimbangan partisan yang sempit.
Tantangan utama yang dihadapi PDIP sekarang ialah pembentukan koalisi yang akan berpengaruh langsung pada pemilihan calon wakil presiden.
Meskipun memiliki track record lokal yang kuat, Jokowi masih belum teruji di tingkat nasional. Masih tidak jelas juga berapa banyak dukungan yang ia miliki dari kalangan masyarakat muslim konservatif, orang dari bagian timur, dan kalangan militer yang berpengaruh di Indonesia. Mereka adalah konstituen penting yang bisa memberi keunggulan bagi Prabowo atau Bakrie atas dirinya.
Dalam strategi memenangkan Jokowi diperlukan seseorang yang dapat mengatasi kekurangan tersebut.
Partai jelas sudah memiliki agenda sendiri terkait hal tersebut tetapi harus melangkah hati-hati.
Partai juga harus menghindari kekeliruan seperti "Koalisi Sekretariat Bersama" atau Setgab yang dipimpin oleh SBY setelah diwarnai oleh berbagai pertempuran kepentingan alot yang akhirnya menyebabkan kelumpuhan kebijakan.
Dengan menjaga Jokowi pada tali kekang, PDIP sedang mencuri aset terbesarnya.
Di saat yang sama, kurangnya substansi dalam platform cenderung menurunkan suara yang seharusnya bisa dimenangkan lebih besar.
Partai harus bekerja lebih keras untuk memengaruhi masyarakat Indonesia bahwa mereka dengan Jokowi sebagai calon presiden akan dapat dipercaya memegang pemerintahan.
Mungkin satu-satunya cara untuk melakukannya adalah dengan membiarkan Jokowi untuk menjadi dirinya sendiri.
Semua bermuara pada kepercayaan, dan PDIP telah memutuskan calonnya sendiri. Sehingga mereka harus percaya dan menunjukkan bahwa Jokowi dapat memimpin bangsa.
PDIP berada dalam kondisi yang lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya, tetapi tetap harus kerja keras menyingsingkan lengan baju jika ingin benar-benar mengubah Indonesia.

Sumber :
- jpnn.com
- tempo.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar