Minggu, 20 April 2014

Nasdem Pastikan Usung JK Sebagai Prioritas Teratas Bakal Cawapres Jokowi

Partai Nasdem mengakui bahwa mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) menjadi bakal cawapres terkuat yang mereka ajukan ke PDI Perjuangan (PDIP) untuk menjadi calon pendamping bagi Joko Widodo (Jokowi) sebagai capres.
Seperti disampaikan Sekjen Nasdem, Patrice Rio Capella, pasca meresmikan kerja sama dengan PDIP, kedua partai itu sedang dalam tahapan mencari calon wapres yang tepat untuk Jokowi.
"Kita mengajukan beberapa nama. Salah satunya JK. Yang paling kuat dari Nasdem, ya JK," kata Capella saat dihubungi di Jakarta, akhir pekan ini.
"Tapi itu berpulang ke PDIP dan Jokowi sebagai mitra kolisi. Kita tunggu responsnya."
Ditanya seberapa jauh Nasdem meyakini kemampuan JK, Rio menyatakan pihaknya sangat memahami kapabilitasnya. JK dinilai punya pengalaman, jaringan, dan elektabilitas yang baik.
JK juga memiliki kemampuan berkomunikasi politik yang baik, bahkan dengan parpol semacam Partai Demokrat yang dianggap 'jauh' dari PDIP.
"Jangan khawatirkan kemampuan Pak JK. Orang perang saja di Poso dan Aceh bisa didamaikan oleh dia. Apalagi cuma sekedar mengkomunikasikan kebijakan dengan parpol lain. Orang pakai senjata saja bisa damai," beber Capella sambil tertawa.
Dia melanjutkan pihaknya bisa memahami kalau PDIP tak bisa segera memutuskan siapa bakal cawapres definitif untuk Jokowi. Sebab banyak perhitungan politik yang harus dilakukan, termasuk menunggu siapa pasangan potensial yang akan dihadapi di pilpres mendatang.
Capella tak menolak bila PDIP memang menyiapkan sejumlah alternatif pasangan untuk Jokowi. Pasangan-pasangan itu disiapkan terkait spesifikasi tertentu dari figur yang disiapkan, misalnya kemampuan di sektor pemberantasan korupsi dan sektor pertahanan negara.
Ditanya apakah pihaknya diberitahu PDIP soal pembicaraan kemungkinan kerja sama dengan parpol lain, Capella mengatakan pihaknya mempersilahkan PDIP melakukannya.
Hanya saja, menurut dia, posisi sudah jelas untuk parpol tertentu. Misalnya Partai Golkar, yang tak mungkin menurunkan Ketua Umumnya Aburizal Bakrie sebagai bakal cawapres untuk Jokowi, karena sudah terlanjur memproklamirkan diri sebagai bakal capres.
"Tak mungkin ada kerja sama menuju pilpres dengan Golkar," imbuh dia.
Sementara untuk parpol lain seperti Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), kata Capella, mungkin saja terjadi. Namun harus diingat, bahwa kalaupun ada kerja sama dengan PDIP, sebaiknya parpol-parpol itu bergabung tanpa embel syarat tertentu.
"Nasdem yang pertama bergabung saja tak minta wapres. Jangan pula yang belakangan bergabung malah minta wapres. Ya, kalau mau bekerja sama, ya bergabung saja. Jangan kemudian posisi-posisi menjadi prasyarat kerja sama," jelasnya.

Sumber :
beritasatu.com

1 komentar:

  1. Tolong PDIP dan Nasdem dengarkan suara2 dr kami non parpol bahwa kami menginginkan Pak Abraham Samad dr KPK sbg cawapres Jokowi dg berbagai pertimbangan. Kami di bawah selama ini lbh merasakan permasalahan & kebutuhan juga ikut mengamati dan menilai figur2 yg ada. Sbg rakyat, kami sdh mudah akses media serta menyaringnya.

    BalasHapus