Minggu, 16 Maret 2014

Gerindra Minta Jokowi Bersikap "Gentlemen" untuk Mundur

Sebagai partai yang turut mendukung dalam Pilkada DKI lalu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra DKI Jakarta mengecam langkah Joko Widodo (Jokowi) yang bersedia dicapreskan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai berlambang Burung Garuda itu meminta Jokowi, bersikap gentlemen dengan mengundurkan diri sebagai Gubernur DKI jika akan maju sebagai capres. Hal itu lantaran pemilihan presiden berbeda dengan pemilihan gubernur.
"Ini pemilihan Presiden. Enggak boleh dipermainkan. Dengan dia nggak mundur, artinya kalau kalah masih bisa jadi Gubernur. Ini Ibu Kota, enggak bisa disamain kayak Solo yang dia enggak mundur," tegas Ketua Fraksi Gerindra DPRD DKI, Muhammad Sanusi saat dihubungi wartawan, Minggu (16/3/2014).
Sanusi mengatakan, dalam sebuah survei mengenai kepemimpinan, karakter jujur merupakan yang paling penting. Sementara Jokowi bukanlah pemimpin yang jujur dalam menjalankan amanah.
"Dalam survei manajemen, karakter pemimpin yang paling dicari nomor satunya itu jujur. Nomor berikut-berikutnya, bisa cerdas dan lain sebagainya," katanya.
Pernyataan tersebut terkait komitmen yang pernah dibuat Jokowi untuk memimpin Jakarta selama lima tahun. Komitmen tersebut disampaikan Jokowi dalam konferensi pers di rumah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada 20 September 2012 lalu.
Sanusi menyatakan, mundurnya Jokowi tidak akan mempengaruhi kinerja Pemprov DKI. Hal itu lantaran selama 1,5 tahun ini, Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Bahkan, Sanusi menyatakan, dari seluruh tugas Pemprov DKI, Ahok, sapaan Basuki mengerjakan sekitar 85 persen.
"Dari keseluruhan, 85 persen yang kerja di Jakarta kan Wagub. Jadi enggak ada persoalan kalo dia memang cabut," klaim Sanusi.
Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto menyindir langkah Jokowi maju sebagai capres. kepada wartawan di Halim Perdana Kusuma. Prabowo mengaku heran banyaknya pemimpin yang tidak bisa dipegang kata-katanya. Menurutnya, pemimpin yang tidak konsisten dan mencla-mencle akan berbahaya bagi Indonesia. Ketika disinggung apakah pernyataan tersebut ditujukan kepada Jokowi, Prabowo tak menampik maupun membenarkannya.
"Menurut anda? Kira-kira bagaimana? Sebetulnya para wartawan sudah ngerti, mau nanya saja kalian ini," ungkapnya.

Sumber :
beritasatu.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar