Jumat, 30 Agustus 2013

Menghadang Laju Jokowi

Semua survei dari semua lembaga apa pun memperlihatkan tingkat keterpilihan Joko Widodo (Jokowi) makin meningkat saja. Makin jauh meninggalkan para pesaingnya. Namun jika ditanya, gubernur DKI Jakarta itu selalu mengelak. Ia mengaku hanya ingin fokus mengurusi Jakarta, terutama soal banjir, macet, dan kekumuhan serta kemiskinan. Hingga kini, partainya, PDI-P, juga masih belum mengubah keputusan sebelumnya.
Mereka akan mencalonkan Megawati, ketua umumnya, untuk menjadi calon presiden pada 2014 nanti.
Walau Jokowi selalu mengelak dan PDI-P masih tetap pada keputusan semula bukan berarti para pesaingnya diam saja. Mereka terus bekerja untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya pada pilpres nanti. Tak hanya itu, sudah ada gejala untuk menghadang laju mantan wali kota Solo tersebut. Ada yang bilang belum saatnya menjadi capres. Ada yang ngomong sebaiknya selesaikan tugasnya sebagai gubernur. Ada pula yang bicara Jokowi cuma bisa blusukan. Katanya belum ada jejak kesuksesannya. Bahkan ada yang bilang, sulit membayangkan Jokowi tampil elegan di forum APEC, PBB, G-20, dan semacamnya. Jokowi yang badannya kerempeng dan tampangnya ndeso memang tak pernah menutupi sisi-sisi semacam itu.
Upaya menghadang Jokowi tentu tak akan berhenti di kata-kata. Ke depan akan ada langkah-langkah yang lebih nyata. Secara umum yang coba bicara negatif soal Jokowi memang dari partai tertentu saja. Bahkan orang-orang dari lembaga tertentu pun mulai memberi sinyal untuk menghentikan laju Jokowi. Karena itu, jangan kaget jika ke depan akan makin banyak hambatan yang menghadang dia. Namun, kita harus tetap objektif. Jika persoalan yang menghadang itu memang kasus nyata seperti korupsi atau tindak kriminal pribadi maka kita harus siap menerimanya. Namun jika hal itu merupakan manuver politik maka kita pun harus siap menilai: apakah Jokowi akan lulus ujian atau gagal. Anggap saja itu bagian dari pematangan dirinya.
Seorang jenderal yang matang dalam dunia intelijen hanya bilang singkat. Jika rakyat sudah menghendaki, maka segala rekayasa untuk menghadangnya akan gagal. Ia menyebut contoh fenomena SBY pada 2004. Karena itu, sejumlah politisi papan atas sudah ada yang merapat ke Jokowi. Melakukan pendekatan dan penjajakan. Diplomat dari negeri-negeri penting pun sudah menemui Jokowi. Pemilu memang masih satu tahun lagi. Namun, kereta politik sudah bergerak. Kita tak bisa memungkiri kenyataan ini.
Sejak dilantik hingga kini, Jokowi masih tetap memukau seperti semula. Orang menyebutnya sebagai media darling. Apapun yang dilakukannya selalu dilihat dari perspektif politik. Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar sudah berjalan dengan baik. Pembangunan rumah deret pun berjalan mulus. Pembenahan pedagang kaki lima di kawasan Pasar Minggu dan Pasar Tanah Abang relatif sukses. Langkahnya menghentikan sementara pembangunan jalan layang Casablanca pun mendapat dukungan publik. Ia juga berhasil memenangkan negosiasi dengan pemerintah pusat soal pembangunan monorel yang hasilnya lebih menguntungkan Pemprov DKI. Kebijakannya melakukan lelang jabatan juga ditiru sebagian pemerintah daerah. Dengan cara itu ia berhasil merotasi jabatan di lingkungan pemerintahan tanpa harus menimbulkan gejolak.
Yang masih orang tunggu adalah kapan ada kemajuan dalam mengatasi kemacetan dan mengurangi banjir jika di musim hujan. Inilah ujian yang tak gampang dilalui. Pembangunan monorel, jalan layang, bahkan subway maupun pembenahan busway masih belum tentu mengurangi kemacetan secara signifikan. Hingga kini, warga Jakarta masih menderita karena macet.
Saya tak cukup dekat dengan Jokowi. Namun di awal upaya dia membenahi Pasar Tanah Abang, saya sempat bertaruh dengan beberapa orang. Saya meyakini ia akan berhasil. Sedangkan yang lain tak yakin. Ini bukan semata situasi yang sudah akut dan menyangkut nasib perut para pedagang kaki lima tapi juga menyangkut berkuasanya preman dan para pejabat terkait yang mendapat limpahan uang dari kacaunya situasi Pasar Tanah Abang. Saya tak mengenal wilayah itu, namun satu saja yang saya yakini, Jokowi “punya hati”. Itu yang membedakan dia dengan para pemimpin lainnya. Jika kita bekerja dengan hati dan tanpa pretensi maka semua akan menjadi lebih mudah. Sesuatu yang sederhana, namun tak semua orang memilikinya.
Kawan itu akhirnya mengakui keberhasilan Jokowi dalam membenahi Tanah Abang. Menurutnya, jika ia berhasil membenahi wilayah itu maka semestinya ia lebih mudah membenahi Jakarta secara keseluruhan. Saya tak menghiraukan pendapat yang agak menyederhanakan itu. Namun saya lebih memperhatikan kata-katanya yang lain: “Jokowi itu kerempeng, bukan orang kuat, tapi ternyata bisa mengatasi kawasan yang keras seperti itu.” Itulah kekuatan hati.
Tentu Jokowi bukan segalanya. Pernyataannya soal Mesir, misalnya, jelas gegabah. Tentu terlalu dini untuk menilai kinerjanya sebagai gubernur. Masih banyak hal yang harus dilihat. Tapi hingga kini ia berjalan dengan benar. Namun, yang membuat popularitas dan elektabilitasnya paling melejit karena dia benar-benar antitesis yang sempurna dari SBY. Publik ingin sesuatu yang baru dan berbeda.

Sumber :
republika.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar