Selasa, 22 Oktober 2013

Apa Perlu Marah?

“Aku jadi was was juga sekarang,” kataku kepada Lukman dan Soleh hari itu.
“Apa pasalnya?” tanya Lukman.
“Tadinya dibilang bahwa 13 sungai di Jakarta dan dikeruk untuk mengurangi banjir. Dan memang sudah mulai dikeruk,”jawabku.
“Kan bagus,” potong Soleh.
“Ya, tapi belakangan dibilang baru lima puluh persen, belum semua. Alasannya terhambat pembebasan lahan. Dan ini urusannya DKI. Kalau beres, pengerukan selesai,” kataku.
“La, apa nunggu Jokowi marah? Kok lambat betul pembebasannya,” kata Lukman.
“Kupikir Jokowi perlu blusukan, apa masalahnya. Nggak ada anggaran, apa iya?” kata Soleh.
“Betul juga. Tak usahlah tutup mata, masih ada pejabat DKI yang kerjanya nunggu dapat bagian dulu,” kata  Lukman.
“Maksud kau apa?” tanyaku.
“Ah, masak pula tak tahu. Kan masih ada pejabat DKI yang berpikir, gue dapat berapa dari pembebasan lahan ini,” jawab Lukman sambil menggeser kakinya ke kursi di dekatku. Gubraakk. Ia terjatuh, kakinya nggak sampai ke kursi tersebut.
“Yaah, kau jangan marah-marah. Kayak Jokowi saja membanting berkas waktu sidak di Jakarta Timur,” kata Soleh kaget.
“Ini bukan marah,” sungut Lukman berusaha duduk kembali sambil menahan sakit.
“Ah, kau, orang jatuh kau bilang marah,” kataku kepada Soleh sambil membantu Lukman.
“Sorry, sorry….,” kata Soleh tertawa kecil menjabat tangan Lukman.
“Kupikir Jokowi waktu sidak itu bukan membanting berkas, tapi meletakkannya. Cuma mungkin karena kesal jadi kelihatannya kayak marah,” kataku.
“Kurasa dia marah. Karena masih ada pejabat DKI yang belum bisa mengikuti irama kerjanya. Ya, kayak soal pembebasan lahan untuk pengerukan sungai. Kan ini  sudah lama,” kata Soleh.
“Maka itu bagusnya, Jokowi blusukan, tanya warganya kenapa nggak mau menyerahkan lahannya. Bisa saja warganya nggak salah, pejabatnya saja yang berulah,” kataku.
“Maka itu pantas saja dia marah. Kan Jokowi dan Ahok nggak mau usahanya membenahi Jakarta ini terhambat, apalagi kalau dilakukan pejabat DKI sendiri,” kata Lukman.
“Yaa… kita tunggu saja,” kataku.
“Tunggu apa, tunggu Jokowi marah?” tanya Lukman.
“Bukan. Tunggu kapan Jokowi sidak apa pasal pengerukan sungai nggak cepat beres. Jadi aku nggak was was kebanjiran kalau turun hujan lebat,” kataku. [/lubis1209@gmail.com]

Sumber :
Pos Kota

Tidak ada komentar:

Posting Komentar