Rabu, 21 Agustus 2013

Jokowi Ambil Alih 50 Persen Tugas Satpol PP

Gaya kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang gemar turun langsung ke masyarakat ternyata berpengaruh besar pada psikologis warga saat melakukan penertiban. Bagi Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Kukuh Hadisantoso, blusukan Jokowi itu sangat membantu tugas Satpol PP di lapangan.
"Sangat berpengaruh. Rakyat itu kalau didatangi pemimpinnya jadi senang, yang tadinya ingin marah jadi tidak marah," kata Kukuh yang ditemui detikcom, Jumat pekan lalu. "Itulah kelebihannya Pak Jokowi," ucapnya meneruskan.
Bahkan Kukuh menyebut Jokowi sudah mengurangi bebannya saat melakukan penertiban pedagang kaki lima atau permukiman liar. "Ibaratnya 50 persen sudah diambil alih Pak Jokowi," ujar Kukuh. Masyarakat, kata dia, juga menjadi tenang dan senang sehingga jadinya tidak sulit. "Memang pemimpin harusnya begitu."
Pun dengan para anggota Satpol PP sendiri. Jokowi juga membawa pengaruh besar terhadap psikologis mereka. Kukuh menuturkan dengan sering datang blusukan Jokowi melihat apakah misalnya di Tanah Abang ada Satpol PP atau tidak. Jadi mau tak mau aparat Satpol PP tetap siap siaga. "Dia kan suka keliling juga, berapa kali datang ke Tanah Abang malam-malam," kata Kukuh.
Dengan begitu, otomatis Kukuh juga harus mengimbangi cara Jokowi blusukan dalam memimpin Jakarta. Salah satunya, ia selalu berusaha hadir lebih dulu sebelum Jokowi tiba di tempat yang bermasalah. “Saya juga sampai di rumah selalu jam setengah 2 pagi, keluar dari rumah setengah 6 dan setengah 7 sudah ada di kantor. Bisa di cek,” kata dia.

Selain harus sering terjun ke lapangan, Kukuh yang baru empat bulan menjabat Kepala Satpol PP juga punya pekerjaan rumah yang besar besar untuk membenahi image satuannya yang terlanjur dicap negatif oleh masyarakat.
“Tadinya Satpol PP itu sudah di titik nadir, sudah tidak bersemangat. Gara-gara masalah di Tanjung Priok itu mereka betul-betul drop," jelasnya. Untuk membangkitkan semangat pasukannya, Kukuh pun mengaku berinisiatif memberi contoh langsung dengan selalu turun di garda depan saat melakukan penertiban. "Saya juga tak membatasi diri bergaul dengan pasukan," kata bekas Kepala Biro Umum Pemprov DKI ini.
Pengamat perkotaan Yayat Supriyatna menilai gaya kepemimpinan dan komunikasi Jokowi dan juga Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang lebih terbuka sangat menguntungkan bagi Satpol PP. Adanya dukungan yang kuat dari Jokowi dan Ahok juga memberikan dampak yang besar. Satpol PP sebagai ujung tombak penegakan peraturan daerah akan mengikuti instruksi dari atasan.
Dia mencontohkan, penggusuran PKL diikuti dengan solusi berupa relokasi. Pihak-pihak yang menghalangi penegakan peraturan daerah seperti preman-preman di Tanah Abang juga diamankan oleh pimpinan dengan menggerakkan kepolisian. Saat yang bersamaan, pimpinan juga secara komunikatif dan tegas mendekati dan menyadarkan para PKL. “Jadi di belakang Satpol PP ada Wagub yang keras dan gubernur yang mau komunikasi,” Yayay menjelaskan.
Wakil Ketua DPRD DKI, Triwiksaksana, pun memberikan penilaian senada. Peralihan Satpol PP pada era Jokowi-Ahok yang kini lebih komunikatif dan tak lagi menggunakan cara kekerasan untuk penertiban adalah sebuah perubahan yang besar. “Pastinya ini ada pengaruh dari kepemimpinan Pak Jokowi. Monitoring yang melekat, turun ke lapangan dan ketegasan dalam eksekusi,” kata dia kepada detikcom, kemarin.

Sumber :
detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar