Sabtu, 30 November 2013

Ada Perjanjian Batu Tulis, Akankah Duet Prabowo-Jokowi Terwujud?

Menjelang Pilpers 2009, PDIP dan Gerindra membuat perjanjian politik di Batu Tulis, Bogor. Salah satu poin dalam perjanjian itu disebut-sebut berupa janji PDIP untuk mendukung pencapresan Prabowo di Pilpres 2014. Jika poin itu benar adanya, apakah berarti duet Prabowo-Jokowi akan terwujud?
Pertemuan di Batu Tulis tersebut dihadiri semua petinggi PDIP dan Gerindra, seperti Mega sendiri, Puan Maharani, Pramono Anung, Prabowo didampingi Fadli Zon, Martin Hutabarat, Hashim Djojohadikusumo, dan lainnya.
Poin yang sudah pasti tercantum dan disepakati dalam perjanjian itu adalah pembentukan duet Megawati-Prabowo, yang saat itu dikenal dengan duet MegaPro, di Pilpres 2009. Nah, kabarnya, Prabowo yang saat itu ngebet untuk nyapres bersedia mengalah 'turun kasta' jadi cawapres Megawati dengan janji akan gantian didukung sebagai capres pada Pilpres 2014.
Gerindra, yang mengaku memegang secarik kertas perjanjian itu, berharap PDIP memenuhi janjinya mendukung pencapresan Prabowo di 2014. Namun PDIP tak mengamini. Petinggi partai banteng menilai ada pelanggaran terhadap poin lain yang ada di perjanjian itu, sehingga menggugurkan keseluruhan perjanjian.
Gerindra tak lekas patah arang. Partai berlambang kepala burung garuda ini masih menyimpan asa PDIP memenuhi janjinya dengan membuka kemungkinan duet Prabowo dengan kader PDIP paling moncer saat ini, Joko Widodo (Jokowi). Jika duet ini terwujud, maka kemungkinan menang mudah di Pilpres cukup besar. Sebab, dua nama itu hampir selalu berada di puncak survei capres.
Namun PDIP bergeming, tak reaktif, tak mau buru-buru juga menyikapi. Mereka memegang teguh kesepakatan forum tertinggi internal yang menyepakati keputusan soal pencapresan diserahkan ke Megawati.
"Seperti disampaikan Ibu Ketua Umum di acara UI, tentu semua melihat hasil Pileg, baru akan ditentukan langkah berikutnya," kata Wasekjen PDIP Eriko Sotarduga saat dihubungi, Sabtu (30/11/2013) malam.
Skenarionya, PDIP ingin mengusung capres sendiri dan menentukan partnernya sesuka hati jika bisa meraup suara melebihi ambang batas Presidential Threshold. Namun jika tidak, mau tak mau PDIP membuka pintu koalisi dan menerima masukan partai lain untuk pencapresan.
Gerindra mencium gelagat PDIP akan melangkah sendiri mengusung Jokowi dan melupakan yang terjadi di Batu Tulis. Gerindra pun mulai bermanuver, mencoba mengetuk Jokowi agar tak meninggalkan Jakarta dan melenggang di Pilpres 2014.
"Jokowi dan Basuki harus lebih konsentrasi memperbaiki Jakarta. Apakah Jakarta Baru sudah terwujud atau belum? Dan itu perlu waktu kan," kata Waketum Gerindra Fadli Zon saat dihubungi, Kamis (28/11/2013).
Situasinya jadi pelik. Apalagi, meski sudah dimunculkan, belum ada pihak yang mau mengungkap perjanjian itu secara gamblang. Baik Prabowo maupun Megawati juga belum pernah mau membahas perjanjian ini.

Sumber :
detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar