Sabtu, 26 Januari 2013

Jokowi Akan Audit Seluruh Bangunan di Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dalam waktu dekat akan melakukan audit terhadap seluruh bangunan di Jakarta. Hal ini ia lakukan untuk menanggulangi banjir yang kerap terjadi di Ibu Kota.

"Semuanya akan kita audit dan kita lakukan setelah banjir. Baik di perumahan, mal, kantor, dan semuanya," kata Jokowi, seusai meninjau banjir di Luar Batang, Jakarta Utara, Sabtu (26/1/2013).

Untuk mewujudkan hal tersebut, Jokowi sudah mempersiapkan Pergub yang lebih detail dan konkrit. Salah satu pergub tersebut akan mewajibkan semua bangunan yang didirikan atau bangunan yang sudah jadi, harus memiliki resapan air dengan kedalaman 20-250 meter.

"Pergub tentang Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) akan diperketat bagi bangunan gedung, apartemen, kantor, dan mal. Jadi, setiap ijin bangunan harus dilampirkan juga sumur resapannya berapa meter, detail, komplit, dan sumur resapannya berjarak 100-200 meter. Apa yang di harapkan kalau sumur resapannya cuma 1 meter," kata Jokowi.

Kepala Dinas Pengawasan dan Penataan Bangunan DKI I Putu Ngurah Indiana membenarkan bahwa dalam waktu dekat akan ada Pergub terkait izin mendirikan bangunan, yaitu terkait sumur resapan. Menurutnyan aturan tersebut sudah ada sejak dalam Sertifikat Layak Fungsi (SLF) ketika dikeluarkan izin mendirikan bangunan.

"Kalau sumur serapan dibuat menjadi setiap 100-200 meter pada setiap bangunan maka jelas sangat efektif untuk menyelesaikan persoalan banjir," kata Putu.

Saat ini, kata Putu, setiap pengembang juga telah bersedia untuk menjalankan aturan tersebut apabila pergubnya telah dikeluarkan. Menurut Putu, pengembang melihat sumur resapan hingga kedalaman 250 meter juga dapat mencegah banjir di lokasi pengembang.

"Pengembang menyambut baik rencana tersebut jika memang dijalankan. Hanya saja perlu diperhatikan juga bagian atasnya untuk dirapihkan sehingga tidak longsor di kemudian harinya," tutur Putu.

Sumber :
tribunnews.com

Jokowi Akan Lanjutkan Proyek Gagasan Foke

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo akan mempercepat proyek gagasan mantan Gubernur  Fauzi Bowo, yakni Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI). Proyek JEDI ini merupakan upaya pengendalian banjir melalui normalisasi dan pengerukan 13 sungai di Jakarta.
"Pokoknya Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2013 digedok, proyeknya langsung kita mulai," kata Jokowi, seusai meninjau lokasi banjir Luar Batang, Penjaringan, Jakarta, Sabtu (26/1/2013).
Jokowi mengatakan program tersebut telah diajukan dalam Rancangan APBD 2013 dan telah dijadwalkan disahkan pada 28 Januari 2013 pukul 13.00 WIB. Namun Jokowi enggan menjelaskan lebih lanjut terkait anggaran yang digelontorkan oleh Pemprov DKI terkait realisasi proyek tersebut.
"Mungkin Rp 1 triliun sekian. Pokoknya nanti semua itu untuk menjadi pagar yang lama menjadi pagar baru di sungai dan untuk pengerukan. Kita juga pakai sistem sedot jadi lebih bersih," kata Jokowi.
Fauzi Bowo telah menggagas proyek itu sejak tahun 2008 untuk menanggulangi banjir. Realisasi proyek JEDI dilakukan secara bertahap dan dibagi dalam tujuh paket pengerjaan. Dari tujuh paket itu, tiga paket dikerjakan Pemprov DKI, dua oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) dan dua lainnya oleh Cipta Karya lewat bantuan dana Bank Dunia.
Pengajuan pinjaman ke Bank Dunia sebenarnya sudah sejak tahun 2008 namun karena masalah birokrasi, realisasinya baru tahun 2012 lalu. Tender proyek JEDI pun telah berjalan dengan melibatkan 14 perusahaan termasuk dari Korea, Cina, India, dan Taiwan.
Secara keseluruhan proyek JEDI meliputi 57 kelurahan di 4 wilayah DKI Jakarta, yakni di Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur. Proyek JEDI ini diharapkan mampu membebaskan pemukiman warga dari banjir.
Secara rinci, proyek JEDI ini juga meliputi daerah kumuh di sepanjang Kanal Banjir Barat (KBB), Pakin, Kali Besar, Jelakeng, Sunter Hulu, Krukut-Cideng dengan populasi penduduk sekitar 173.000 jiwa. Sementara itu, lumpur yang telah dikeruk akan ditiriskan, kemudian dibuang ke kawasan Ancol menggunakan truk kedap air. Sedangkan sampahnya dibuang ke TPA Bantargebang.

Sumber :
megapolitan.kompas.com

Jokowi: Bisa saja gelar sekaten Maulid di Jakarta

Ketika masih menjadi wali kota Solo, Joko Widodo (Jokowi) sering hadir dalam perayaan meriah sekaten saat peringatan Maulid Nabi Muhammad. Gubernur DKI Jakarta itu juga berencana akan mengelar acara tersebut di Ibu Kota.

"Yah, itu bisa, bisa saja. Itu kan tradisi sejak zaman keratonan dulu banget, yah bisa-bisa aja," kata Jokowi saat memberikan bantuan di SDN Penjaringan 01/02, Jakarta, Sabtu (26/1).

Jokowi hanya menjawab datar ketika disinggung kerinduan kemeriahan acara sekaten di Solo. "Ah enggak biasa-biasa sajalah, tidak ada rindu itu," ujar Jokowi sambil tersenyum.

Seperti diketahui, Jokowi dikenal sebagai pria yang akrab dengan budaya dan seni. Sebelumnya Jokowi berhasil memeriahkan malam pergantian tahun saat menggelar Jakarta Night Festival atau Car Free Night di kawasan Sudirman-Thamrin.


Sumber :
merdeka.com
Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) kagum dengan warga di Penjaringan, Jakarta Utara, yang antre untuk mendapatkan bantuan banjir. Jokowi akan menambah bantuan untuk warga Penjaringan.

"Karena antrenya bagus, saya tambahin lagi (bantuan). Sebenarnya stok kita banyak sekali, kalau barisnya rapi ditambah," ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan itu usai memberikan bantuan di SDN 01/02 Penjaringan, Jl Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (26/1/2013).

Jokowi menilai, masyarakat harus berbaris rapih untuk mendapatkan bantuan. Jika tidak rapih, maka Jokowi akan kesulitan membagikan bantuan.

"Mana SD, mana SMP, SMA, laki, perempuan saja kita juga bingung. Soalnya ngantrinya kan tidak runtut," kata Jokowi yang membagikan seragam SMP itu.

Jokowi menambahkan, bantuan bisa langsung diberikannya. Bisa juga melalui RT dan RW.

"Pokoknya biar melimpah. Kita ingin setiap mobil bantuan yang datang saya ingin langsung menyalurkan ke masyarakat. Makanya juga tidak hanya melihat berseliwerannya mobil bantuan tapi mereka juga merasakan ada bantuan datang," kata suami Iriana itu.


Sumber :
news.detik.com

Jokowi Bagikan Seragam di SDN Penjaringan

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo membagikan bantuan kepada korban banjir di Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (26/1/2013). Selain memberikan bantuan di Masjid Keramat Luar Batang, pria yang akrab disapa Jokowi itu juga memberikan bantuan kepada warga yang mengungsi di SDN Penjaringan 01/02.
Di SD tersebut, Jokowi memberikan bantuan berupa seragam sekolah putih biru atau yang biasa dipakai oleh siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berdasarkan pantauan Kompas.com, mulai dari anak-anak sekitar umur lima tahun hingga remaja mengantre untuk mendapatkan seragam sekolah tersebut.
Ada juga seorang ibu yang mengambil seragam itu dan mengaku bahwa baju seragam itu akan dipakainya sendiri karena pas di badannya. "Ternyata cukup pas saya pakai ini roknya. Mendingan buat saya saja, anak saya cowok semua ini," kata Ani (56), kepada Kompas.com, di lokasi, Sabtu (26/1/2013).
Saat ditanyakan hal itu kepada Jokowi, ia mengaku sulit membedakan seragam mana untuk siswa SD, siswa SMP, maupun SMA karena baju-baju itu masih di dalam karung. "Ya, enggak mungkin. Cara seperti itu kan sulit ya di dalam karung, mana SD, mana SMP, SMA, laki-laki, perempuan, kitanya juga bingung," kata Jokowi.
Jokowi juga menyerahkan bantuan berupa beras lima ton, sembako, mi instan, handuk, selimut, dan uang tunai. Bantuan itu, kata Jokowi, akan terus ia tambah seiring dengan semakin memprihatinkannya kondisi warga korban banjir. "Pokoknya akan kita tambah lagi. Sebetulnya stok kita banyak sekali. Asal mau rapi seperti ini sampai malam pun, tak ladenin," kata Jokowi.
Banjir menerjang kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, sejak Kamis 17 Januari lalu. Ratusan rumah terendam dan kawasan ini berubah menjadi kolam renang raksasa. Ketinggian air yang merata tak menyisakan sedikit pun areal yang kering. Kondisi itu diperparah dengan menumpuknya sampah di pintu air Pluit.
Belum surutnya ketinggian air yang menggenangi kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, diduga akibat terjadinya air pasang dari laut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan ketinggian curah hujan akan terus naik hingga 27 Januari mendatang saat bulan purnama.
Saat itu kondisi laut diperkirakan mengalami pasang, sehingga pasokan air darat diperkirkan sulit masuk ke laut. Akibatnya, di beberapa daerah diperkirakan terjadi banjir rob cukup tinggi. Seperti diketahui, tiga perempat wilayah Jakarta Utara berada di bawah permukaan laut.

Sumber :
megapolitan.kompas.com

Jokowi: Semoga Besok Enggak Banjir

Puncak pasang air laut diperkirakan akan terjadi pada 27 Januari 2013, besok. Posisi tertinggi air laut akan mencapai 100-110 sentimeter di atas kondisi normal. Daerah yang mendapat luapan air tersebut adalah Jakarta Utara, dikarenakan wilayah itu berada 40 persen di bawah permukaan air laut.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur DKI Joko Widodo berharap banjir rob dan luapan air laut tidak terjadi.

"Moga-moga enggak ada, Ya mudah-mudahan tidak ada," kata Jokowi saat mengunjungi korban banjir di Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (26/7/2013).

Selanjutnya, kata Jokowi, Pemerintah Provinsi DKI akan mengoreksi semua kekurangan saat tanggap darurat banjir Jakarta sejak sembilan hari lalu, tepatnya 17 Januari hingga 27 Januari 2013.

"Kalau sudah rampung semuanya baru kita evaluasi (tanggap darurat), koreksi-koreksi lah," pungkasnya.


Sumber :
okezone.com

Cegah Banjir, Jokowi Minta BNPB Tabur Garam di Awan Jakarta

Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) kagum dengan warga di Penjaringan, Jakarta Utara, yang antre untuk mendapatkan bantuan banjir. Jokowi akan menambah bantuan untuk warga Penjaringan.

"Karena antrenya bagus, saya tambahin lagi (bantuan). Sebenarnya stok kita banyak sekali, kalau barisnya rapi ditambah," ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan itu usai memberikan bantuan di SDN 01/02 Penjaringan, Jl Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (26/1/2013).

Jokowi menilai, masyarakat harus berbaris rapih untuk mendapatkan bantuan. Jika tidak rapih, maka Jokowi akan kesulitan membagikan bantuan.

"Mana SD, mana SMP, SMA, laki, perempuan saja kita juga bingung. Soalnya ngantrinya kan tidak runtut," kata Jokowi yang membagikan seragam SMP itu.

Jokowi menambahkan, bantuan bisa langsung diberikannya. Bisa juga melalui RT dan RW.

"Pokoknya biar melimpah. Kita ingin setiap mobil bantuan yang datang saya ingin langsung menyalurkan ke masyarakat. Makanya juga tidak hanya melihat berseliwerannya mobil bantuan tapi mereka juga merasakan ada bantuan datang," kata suami Iriana itu.


Sumber :
news.detik.com

Jokowi Persilakan Pemerintah Pusat Evaluasi Tata Ruang

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengizinkan pemerintah pusat untuk melakukan evaluasi terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta.

"Evaluasi ini perlu agar pembangunan bisa terus berjalan beriringan dengan pemerintah pusat. Sehingga, targetnya tercapai," kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat.

Menurut Jokowi, evaluasi RTRW tersebut akan dilakukan terhadap enam daerah, antara lain Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Cianjur (Jabodetabekjur).

"Dalam evaluasi tersebut, akan dilihat apakah pelaksanaan Koefisien Dasar Hijau (KDH) dan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) sudah sesuai dengan peraturan RTRW daerah," ujar Jokowi.

Jokowi menuturkan jika hasil evaluasi menunjukkan adanya pelanggaran undang-undang, maka akan diberikan sanksi yang bervariasi, mulai dari administratif hingga pidana.

"Berbagai jenis sanksi tersebut akan diberikan kepada pihak pelanggar atau pihak terkait, seperti pemberian izin pendirian bangunan dan pemilik bangunan itu sendiri," katanya.

Jokowi mengharapkan agar evaluasi RTRW tersebut dapat diselesaikan seluruhnya pada akhir 2013.

Evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat itu merupakan amanat dari Undang-undang Nomor 26 Tahun 2017 Tentang Penataan Ruang.

Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa pemerintah harus melakukan audit peraturan daerah tata ruang dan implementasinya secara rutin per lima tahun.

Sumber :
http://www.republika.co.id

Jumat, 25 Januari 2013

Jokowi Jadi Rebutan Tamu Maulid Nabi di Istana

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ikut hadir dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1434 Hijriah di Istana Negara, Jakarta, Jumat malam, 25 Januari 2013. Sejak pukul 19.30 WIB, dia sudah terlihat duduk di bangku yang disusun berbaris menunggu peringatan dimulai.

Jokowi--sapaan Joko Widodo--yang mengenakan kemeja putih bercorak dipadu jas dan kopiah hitam, terlihat beberapa kali dihampiri sejumlah tamu undangan yang sama-sama menunggu acara dimulai. Pria-wanita tamu undangan itu meminta foto bersama dengan mantan Wali Kota Solo itu.

Tak canggung, Jokowi menerima permintaan fan-nya itu. Sambil tersenyum, ia "melayani" keinginan tamu undangan untuk mengabadikan momen bersama. Bahkan beberapa di antara tamu undangan hanya mengabadikan foto Jokowi tanpa mereka ada di samping si Gubernur.

Adapun peringatan Maulid Nabi di Istana dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Rangkaian peringatan dimulai pukul 20.00 WIB. Presiden SBY dijadwalkan memberikan sambutan pada pukul 21.00 hingga 45 menit setelahnya.

Hingga pukul 19.30, sejumlah tamu undangan sudah terlihat duduk berbaris di dalam Istana Negara. Mereka menunggu peringatan dimulai. Adapun sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, pejabat negara, dan perwakilan negara lain juga diagendakan menghadiri peringatan ini.


Sumber :
www.tempo.co

Hadapi 27 Januari, Jokowi Minta Siapkan Batu Pasir

Untuk mengantisipasi dan menghadapi perkiraan bencana banjir bandang melanda Jakarta pada 27 Januari, Gubernur DKI Joko Widodo meminta para wali kota, camat, dan lurah di lingkup Pemprov DKI wajib menyiapkan batu dan pasir di wilayah masing-masing sebagai upaya mengantisipasi banjir.

Artinya, jangan sampai banjir sudah terjadi, baru para wali kota, camat, dan lurah, termasuk gubernurnya, sibuk mencari batu dan pasir. Ini terjadi pada peristiwa banjir di kawasan Menteng dan sekitarnya akibat jebolnya tanggul Kali Ciliwung di Jalan Latuharhari, Jakarta Pusat, Kamis (17/1).

Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan peringatan tersebut dalam setiap memberikan pengarahan kepada segenap lurah, camat, wali kota, dan instansi terkait dalam penanganan banjir, termasuk warga, saat gubernur blusukan.

Jokowi di Balai Kota DKI, Jumat (25/1), menyatakan sebagai peringatan bagi semua pejabat unit terkait di lingkup pemprov dan jajaran perlu bertindak cerdas dan cepat mencari solusi bila terjadi banjir maupun bencana lain.

Peringatan Jokowi itu agar Pemprov DKI mampu menangani banjir walau datangnya mendadak. Jadi, tidak terulang lagi kasus jebolnya tanggul Kali Ciliwung yang airnya hampir mencapai Istana Negara.

Jokowi mengingatkan semua pihak, khususnya warga Jakarta, agar saling membahu untuk mengatasi banjir dengan mempersiapkan material seperti batu dan pasir. Pemprov sendiri tidak punya batu dan pasir, karena pertambangan ada di luar Jakarta.

"Perlu saya tekankan, jangan sampai terlambat mempersiapkan material yang dibutuhkan jika terjadi bencana banjir di Jakarta pada 27 nanti sesuai perkiraan Badan Meteorologi Geofisika dan Klimatologi (BMKG) akan terjadi hujan besar menimpa Jakarta dan rob naik dari laut," ujarnya.

Selain itu, komunikasi di lapangan harus intensif dilakukan. "Lurah bisa mengadu ke saya. Camat enggak usah takut. Bisa telepon ke saya kalau ada hal yang sangat penting. Wali kota juga agar tidak terlambat dan yang paling penting korban banjir harus diutamakan. Rakyat itu manusia harus prioritas penanganannya," ujar Jokowi.

Gubernur menambahkan pihaknya juga sudah meminta BPPT agar memindahkan awan bakal hujan dari arah selatan Jakarta (Bogor dan Depok) ke daerah lain agar hujan terhindar dari Jakarta.

Sumber :
metrotvnews.com

Jokowi Minta BPPT Pindahkan Hujan ke Laut, BMKG Ragu

Permintaan Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) kepada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk memindahkan hujan ke laut guna mencegah banjir diragukan oleh Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Mulyono Prabowo.
Sebelumnya, dikabarkan bahwa prediksi akan Jakarta diguyur hujan lebat dan laut pasang akibat bulan purnama pada 27 Januari nanti. Faktor gabungan itu, diwaspadai curah hujan tinggi saat terjadi pasang air laut sehingga menimbulkan air yang ada di darat tidak bisa terbuang ke laut.
"Jika ditambah dengan gelombang besar maka akan menimbulkan rob," kata Profesor Riset Astronomi Astrofisika LAPAN, Thomas Jamaluddin kepada Suara Merdeka, Jumat (25/1).
Sementara, Mulyono dalam wawancaranya di Jakarta, Jumat (25/1), mengatakan, secara teknis tidak ada cara memindahkan kawanan awan ke laut. Yang ada adalah dengan mempercepat atau menunda hujan. "Setahu saya tidak ada cara memindahkan hujan dari awan ke laut. Karena tak mungkin kita membungkus awan lalu menyeretnya ke atas lautan," katanya.
Menurutnya, yang ada adalah dengan mempercepat turunnya hujan dengan menaburi awan dengan bahan hidroskopis berupa garam yang lembut yang nantinya menarik uap air sehingga bergabung menjadi butiran air yang semakin lama semakin berat hingga terjadilah hujan.
Namun, Mulyono menjelaskan, memindah hujan ke laut kemungkinan kecil karena itu tergantung pada datangnya awan. "Misalnya saja bila awan berasal dari Kepulauan Seribu, kita mungkin aja mempercepat hujan dengan menurunkannya di lautan sebelum ia sampai ke Jakarta. Namun, bila awan berasal dari arah selatan atau timur, percuma saja karena hujan tetap akan masuk ke Jakarta," paparnya.
Mulyono juga mengungkapkan banjir bisa karena permukaan tanah yang tidak dapat menyerap air dengan baik. "Banjir tidak sepenuhnya disebabkan hujan yang turun, tapi juga karena permukaan wilayah yang mampat atau tidak bisa menyerap air dengan baik. Alhasil, air yang tertampung pun bukan terserap, melainkan mengalir," ungkapnya.


Sumber :
suaramerdeka.com

Kriing! Normalisasi Waduk Pluit, Jokowi-Djokir Teleponan Tiap Hari

Normalisasi Waduk Pluit sudah 70 persen digarap dan hampir rampung. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto (Djokir) rajin berkoordinasi.

"Sudah jalan tuh. Hampir tiap hari teleponan sama Pak Menteri PU," kata Jokowi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (25/1/2013).

Jokowi mengaku selalu membahas seputar pekerjaan normalisasi waduk tersebut bersama sang menteri.

"Baik mengenai sodetan, baik mengenai saya minta bantuan alat alat berat di Waduk Pluit yang sedang kita kerjakan. Sampah itu bukan main buanyaknyaaa...," ujar Jokowi.

Menurut dia, pekerjaan tersebut kemungkinan kelar hari ini. "Sudah mulai kita keruk mungkin sudah 70 persen ini hari ini. Hari ini mungkin dirampungkan," kata Jokowi.

Waduk Pluit terletak di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Waduk ini memiliki luas 80 hektar. Waduk itu berfungsi sebagai pengendali banjir, tempat penampungan air hujan, dan cadangan air tanah. Namun sekarang waduk itu dipenuhi pemukiman liar, sampah hingga enceng gondok.

Jokowi menyebut, idealnya kedalaman waduk 10 meter. Tapi sekarang cuma 2 sampai 3 meter, sehingga kapasitasnya tidak sesuai dengan air yang masuk. Normalisasi waduk ini membutuhkan dana Rp 1 triliun.


Sumber :
news.detik.com

Jokowi: rencana IPO Bank DKI belum dipastikan

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan, rencana penawaran saham perdana (IPO) Bank DKI masih belum dapat dipastikan jadwalnya karena masih terus dipersiapkan.

"Kita masih mempersiapkan diri, masih proses persiapan," kata Jokowi usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank DKI di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, ada kemungkinan pihaknya mengucurkan dana tambahan selain yang telah disetujui sebesar Rp450 miliar, mengingat pertumbuhan aset bank tersebut yang besar.

"Kalau perlu ditambah lagi, karena pertumbuhan asetnya sangat besar, tapi ekuity-nya perlu disuntik. Kalau ada potensinya, kenapa tidak?" kata Jokowi.

Terkait pengurangan dividen untuk penambahan modal, dia mengatakan hal tersebut tergantung pemegang saham.

"Kalau mau diambil ya diambil. Tapi kenapa harus selalu diambil?" katanya.

Senada dengan Jokowi, Direktur Pemasaran Bank DKI Mulyatno Wibowo menyatakan rencana IPO Bank DKI masih belum dapat dipastikan karena tergantung suntikan dana APBD yang direncanakan Pemprov DKI.

"IPO kami harapkan sekitar Juni 2013. Tapi kalau pemprov memberikan modal baru lagi, misal di semester kedua, kemungkinan IPO kami mundurkan di 2014," katanya.

Mulyatno menambahkan bila IPO dilakukan, maka setidaknya 20 persen saham akan dilepas ke publik dengan target perolehan modal minimal Rp900 miliar.

Mulyatno menyatakan dana yang dibutuhkan Bank DKI hingga 2013 sebesar Rp1,35 triliun. Dari dana sebesar itu, sebanyak Rp450 miliar sudah disetujui Pemprov DKI. Sementara sisanya bisa melalui IPO ataupun penambahan dana dari pemprov.

"Kami harapkan sampai akhir 2013, bisa sampai Rp1,35 triliun. Rp450 miliar yang sudah disetujui, sisanya nanti akan dipikirkan apa dari IPO atau dari tambahan penyertaan dana pemprov," katanya.

Gubernur DKI telah menyetujui suntikan dana sebesar Rp450 miliar untuk memperbesar bank milik Pemprov DKI tersebut. 



Sumber :
antaranews.com

Sampah Banjir Menggunung, Jokowi Keluhkan APBD

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku belum bisa berbuat apa-apa untuk dapat membersihkan sampah yang menggunung akibat banjir yang menerjang Ibu Kota.
Pasalnya, hingga Jumat (25/1/2013) ini, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI 2013 belum dapat disahkan.
"Sampah pascabanjir, ya bagaimana? APBD-nya belum diketok," kata Jokowi di Balaikota Jakarta.
Terkait dengan APBD DKI 2013 yang rencananya akan disahkan pada 28 Januari 2013, Jokowi mengaku belum mengetahuinya. "Jangan tanya saya. Itu kan semuanya dari sana (DPRD). Tanya ke sana saja, jangan tanya saya," kata Jokowi.
Oleh karena itu, Jokowi menjelaskan, ia akan terus menunggu pengesahan APBD agar bisa melaksanakan program unggulan 2013. Untuk penanggulangan sampah sisa banjir, Jokowi akan menggunakan alternatif lain untuk mengatasinya.
"Ya, mau pakai dana apa? Kalau uang Rp 1.000-Rp 2.000 saya punya. Tapi, ini kan menyangkut uang yang triliunan. Nanti kita cari jurus lain, misalnya minta bantuan seperti kejadian jebolnya Tanggul Latuharhary kemarin," ujarnya.
Selanjutnya Jokowi menuturkan, permasalahan-permasalahan seperti banjir dan sampah ini tidak dapat diselesaikan menggunakan alternatif dan cara yang dicetuskan secara mendadak.
"Memang permasalahan ini bukan diselesaikan dengan cara dadakan dan parsial. Tapi juga dengan cara yang sudah terencana dalam blue print, dan juga memang harus ada terobosan," ujarnya.
Agar permasalahan sampah itu dapat segera terselesaikan, Jokowi mengaku sudah memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum DKI segera membersihkan sampah-sampah di beberapa titik lokasi banjir yang menyebabkan luapan sampah.
Bahkan Jokowi mengatakan, ia sudah hafal di luar kepala terkait lokasi-lokasi yang harus segera dibersihkan dari luapan sampah tersebut.
"Saya mengerti kok di mana titik-titik sampah itu. Saya langsung perintahkan ke Dinas PU. Semuanya sudah ada yang dicek, ada juga yang belum," ujar Jokowi.


Sumber :
megapolitan.kompas.com

Kamis, 24 Januari 2013

Jokowi: “Kalo Ketemu Saya, Urusan Kecil ini Pasti Rampung..”

Pak Adi Putra, warga Penjaringan, Jakarta Utara, mengadu pada Jokowi. Sambil memegang beberapa lembar ketas, ia mengaku tak mampu lagi untuk membayar tagihan yang diberikan Rumah Sakit (RS) Pluit, Jakarta Utara.
Saya tidak mampu bayar lagi, Pak,” ujar pak Adi.
Jumlahnya berapa pak?” tanya Aviani Malik, Presenter Metro TV.
Limapuluh juta lebih…
Kalo ketemu saya, pasti cepat selesai. Ini urusan kecil rampung,” kata Jokowi.
Itulah sekelumit suasana yang terjadi di tayangan 100 Hari Jokowi-Ahok yang disiarkan Metro TV semalam ini. Berbeda dengan dua stasiun televisi yang lebih dulu menayangkan program 100 hari kepemimpinan Jokowi-Ahok (tvOne dan RCTI), konsep program 100 Hari Jokowi-Ahok yang disuguhkan Metro TV mengedapankan dialog Gubernur DKI Jakarta langsung dengan rakyat.
Selain memberikan kesempatan pada warga di lokasi shooting, Metro TV mencoba membuat polling kecil-kecilan tentang kinerja Jokowi-Ahok selama 100 hari. Ada beberapa pertanyaan yang dijawab oleh warga secara langsung via polling, mulai dari masalah banjir, transportasi, grand design, dan juga kesehatan. Bertepatan saat pembahasan tentang kesehatan ini, pak Adi Putra mengadu dan aduannya ditanggapi positif oleh Jokowi.
Barangkali pak Jokowi mau bikin oret-oretan di sini,” usul Indra Maulana, berharap Jokowi memberikan jaminan dengan memberikan tandatangan surat tagihan dari pihak RS pada pak Adi yang tidak mampu bayar itu.
Nyatanya, usulan Indra langsung disambut Jokowi. Sang Gubernur langsung meminta pak Adi Putra supaya mendekat dan menyerahkan surat tagihan. Surat tagihan rumah sakit itu pun ditandatangani Jokowi. Boleh jadi Metro TV sangat beruntung mendapatkan momentum penandatangani jaminan kesehatan dari Jokowi ke warga ini, dimana beberapa kali Indra dan Avi mengatakan pada pemirsa kalau peristiwa ini tidak direkayasa.
Nanti langsung ke Dinas Kesehatan. Gratis!” ucap Jokowi pada pak Adi.
Ucapan Jokowi langsung disambut tepuk tangan warga Penjaringan. Oleh warga, raport kepemimpinan Jokowi-Ahok selama 100 hari ini dinilai berwarna biru. Meski dalam polling dadakan, ada beberapa warga yang menyatakan diri tidak puas. Namun, dari sejumlah Twit yang penulis baca, mayoritas menilai kepemimpinan Jokowi dianggap jauh lebih baik dari beberapa Gubernur DKI Jakarta sebelumnya.
Selain raport Jokowi-Ahok, sepertinya Metro TV juga mendapat raport biru dalam hal penayangan 100 Hari Jokowi-Ahok. Memang tidak bisa dikatakan luar biasa, tetapi dianggap masih lebih baik dari stasiun televisi sebelumnya yang juga sempat menayangkan program sejenis, terutama dalam hal cara menginterview Jokowi. Ya, setidaknya tidak didamprat sebagaimana sebelumnya terjadi pada tvOne. Ini terlihat dari sejumlah twit yang penulis kumpulkan berikut ini:
@jokoanwar: Good job, MetroTV buat 100 Hari Jokowi-Ahok. Bad aftertaste liputan TV yang satu lagi jadi nggak gitu kerasa lagi.”
@fseptiani @Metro_TV keren liputan 100 hari jokowi-ahoknya…
@janes_cs salut pd reporter2 metroTV cara interviewnya netral, bhs sopan n spontan dlm menggali jawaban
@azroy_Liputan 100 hari JoHok MetroTV, Asli, berkelas dan berkualitas
@anggaeins:  Ini program 100hari Jokowi MetroTV 1000% lebih bagus dari buatan tipiwan…
@dlzstwn salam sm.muhammad rizki..suruh ntn metrotv skrng yh..@akimalam_tvone biar ngerti gmn caranya interview
@yoiyoa Jurnalis tvone, lg rame2 nonton metrotv nih, biar gak disikat sama fans nya jokowi lagi. :)
@IrwanMF: Memang @metroTV lebih hebat beda kualiats sama —- > @tvOneNews @muhammad_Rizq
@herDjanto @muhammad_Rizq mestinya belajar dr mb @AviMalik #metrotv
@rasjawa Jujur, saya lebih suka gaya pewawancarai MetroTV yg mewawancarai Jokowi & Ahok. Mereka gak sok pintar
@indronesia_: Nah..anchor sing sopan menghargai dan respect iku sing koyok ndk metro tv iki, gak koyok sing ndk tv one wingi.
@mfahmia2705: cara Metro TV mengemas 100 hari Jokowi layak diacungi jempol, memang menggiring opini publik, tapi caranya elegan dan mmg ada bukti ;-)
@r0nalw: Sekali ini konsep acara @Metro_TV 100hari @jowoki_do@ keren abis, @AviMalik pun intvw tdk kyk host sebelah, lebih cerdas tdk menghakimi
@ghifari_husnul mantep banget ngeliat 100 hari jokowi @Metro_TV semoga menjadi tetap yang terbaik
@RendiAdiK Liat metro tv wawancara jokowi and ahok gak berasa ampe habis..pas nonton acara yg sama! Di tipi Wan!..baru sebentar lgsng ganti channel!
@FerryMaitimu: Enakkan wawancara @Metro_TV dengan Pak Jokowi malam ini, dari pada wawancara dengan TV yang sebelah itu…
@wish_inu Dialog @jokowi_do2 dgn pihak @metro_tv ini enak disimak, santai dan berisi. Gak kayak kmrn yg bikin emosi aja.
@zenrs Metro menang telak nih soal program acara 100 Hari Jokowi. TipiWan kalah TKO.
@RezaRef Metro TV mencuri perhatian malam ini dgn Jokowi-nya. TV One lewat. Si merah bahkan ga lebih bagus dari Jak TV
@ulieherdian: Suka deh liat wawancara pak jokowi di metro, sisi humanisnya keluar banget, apa adanya, tp jelas n tegas..mudah2an amanah ya pak..amiin !
@grace_lovelyria Metro TV tdk menyerang Jokowi tp mengorek janji2 Jokowi agr mereka menagih janji2 Jokowi. Syukur Jokowi orgnya cerdas ia mampu memilah jwban
@oni_pt Tayangan 100 hari Jokowi Ahok di Metro jauh lebih cerdas dan mendidik dari pada di TV One
@uttha: Pilihan wawancara Jokowi sama Metro TV lebih bersahabat, ga kaya kemarin TV One ngececar, mancing urat.
@sidjabatisme Mantap @Metro_TV nih 100 hari pak @jokowi_do2 nya luar biasa, ada yg langsung di teken biaya 50jt RSnya LUNAS. TVone mah cengceremen
@hadhadining TV OON kalah telak nih. di Metro Jokowi lebih happy dan santai
@mfahmia2705: Metro TV tdk menyerang Jokowi,namun memancing jawaban,shg khalayak tahu solusi (+janji) yg ditawarkan Jokowi.ke depannya,tagih janjinya! :-)
@frenly74 Beda banget wwcr Jokowi di metro sama tv1 kmrn,beda kasta beda adab
@FahleismeReza: Metro tv sukses bikin diskusi berisi jadi keliatan santai, ga kayak tv sebelah, sok serius tapi kosong. :)) #Jokowi”
@ichbin_silvia: 100 hari Jokowi di Metro TV ini menarik!! Nggak njelehi kayak TV sebelah :p”
@paalll: I like the way Metro TV show the real stage of 100 Hari Jokowi Ahok. Smart, direct, objective, smooth. And Jokowi? solutif tegas cekatan. :)
@achasya 100 hari jokowi-ahok di metro tv kayanya lebih bagus drpd yg di tv one !! How does it feels tv one ?
@dpih Metro TV lebih cerdas wawancara 100hari Jokowi-Ahok drpd TvOne, yah setidaknya lebih bermutu pertanyaannya

Sumber :
kompasiana.com

Atasi Banjir, Jokowi Percepat Proyek Tanggul Foke

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tetap akan melanjutkan realisasi pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall yang digagas oleh mantan Gubernur DKI, Fauzi Bowo. Bahkan, Jokowi akan mempercepat proyek itu untuk mengatasi masalah banjir, khususnya wilayah di utara Kota Jakarta yang kerap terancam banjir saat air laut naik.
"Pembangunan giant sea wall akan kita percepat," kata Jokowi di Jakarta, Kamis (24/1/2013).
Untuk dapat merealisasikan proyek itu, dalam waktu dekat ini, Pemprov DKI akan meminta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) agar segera merealisasikan proses pembangunan tanggul tersebut.
"Kami juga akan meminta Bappenas dan UKP4 untuk langsung mempercepat persiapan pembangunannya," ujarnya.
Menurutnya, pembangunan tanggul laut raksasa ini membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Ia juga mengakui telah mendapatkan konsep dan detail pembangunan tembok raksasa tersebut.
"Jadi memang sudah saya tekankan, kalau giant sea wall itu perlu sekali untuk menghadang rob besar. Tapi sekali lagi, ini menyangkut anggaran besar dan waktu yang cukup lama," kata Jokowi.
Tanggul raksasa ini merupakan gagasan Fauzi Bowo. Tanggul itu dipercaya tak hanya berfungsi menghalau air laut, tetapi juga untuk memarkir air yang mengalir dari sungai agar tak langsung terbuang ke laut. Oleh karena itu, tanggul akan berbentuk waduk raksasa.
Proyek itu diperkirakan merogoh kocek hingga Rp 50 triliun. Rencananya pembiayaan tanggul raksasa tidak hanya ditanggung oleh pemerintah, tetapi juga investor. Sebab, kalau menunggu pemerintah pusat, tanggul tidak akan terwujud dalam waktu dekat.
Saat menggagas proyek tersebut, pria yang akrab disapa Foke itu meyakini keberadaan tanggul raksasa dan pengerukan 13 sungai di Jakarta bisa menyelesaikan 90 persen masalah banjir Ibu Kota.


Sumber :
megapolitan.kompas.com

Demi Jokowi, Warga Waduk Pluit Rela Direlokasi

Sejumlah Warga yang tinggal di seputaran Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, bersedia direlokasi ke Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Dengan catatan, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang langsung turun tangan bernegosiasi dengan warga, dengan harga sewa yang sesuai kantong.

Herlina, 54, warga Kelurahan Penjaringan, mengaku tidak keberatan dengan program relokasi Pemprov DKI Jakarta. Sebab, kondisi hunian di rusunawa lebih memberi jaminan kepastian hukum meskipun statusnya sewa. Ia pun yakin lingkungannya akan lebih teratur ketimbang pemukiman di kawasan Muara Baru.

"Yang jelas, Jokowi yang harus turun langsung. Saya enggak percaya sama Lurah, RT, RW, di sini. Kami hanya percaya kalau dia (Jokowi) yang ngomong langsung sama warga," serunya yang ditimpali sorakan dan tepuk tangan para pengungsi di salah satu titik pengungsian di Gedung SDN 03 Pagi Penjaringan, Jakarta, Kamis (25/1).

Senada dengan Herlina, Daeng, 59, pemilik salah satu Rumah di RW 17, juga mengaku ikhlas seandainya program relokasi itu terlaksana. Pasalnya, tanah yang ia dan tetangganya tempati saat ini tak bersertifikat.

"Ada syaratnya komandannya (Jokowi) harus turun langsung. Biar enak ngobrolnya," seloroh warga yang sudah tinggal di Muara Baru lebih dari tiga dekade ini.

Ditemui di basis pengungsi lainnya, yakni Kantor Kelurahan Penjaringan, Pak Mur, 71, warga Muara Baru RT 16 RW 17 mengimbuhkan, persetejuannya atas relokasi itu disertai syarat bahwa Rusunawa itu mesti dibangun tak jauh dari lokasi tinggal sekarang.

Pertimbangannya, warga kebanyakan sudah kadung menggantungkan hidup di Lokasi pelelangan ikan, laut, serta pertimbangan lokasi sekolah anak. Pembangunan fasilitas pelengkap, seperti Puskesmas, pun menjadi keniscayaan.

Evan, 27, warga RT 10 RW 01 Kelurahan Penjaringan menjelaskan, pihaknya memang menerima kabar adanya relokasi itu pada saat Jokowi melakukan kunjungan ke lokasi banjir Pluit, Senin (21/1). Namun, itu baru sebatas kabar dari mulut ke mulut.

"Belum ada info resmi dari kelurahan atau RW," akunya. Walau begitu, ia mendapat kabar empat RT di RW 17 yang diterjang banjir hingga ketinggian hidung orang dewasa itu menjadi lokasi kuat yang akan direlokasi. Yakni, RW 16, 17, Dan 19.

"(Status) tanahnya hak pakai, atau girik ya?" ujarnya tak yakin. "Ini awalnya dulu pas Megawati jadi Presiden sekitar 2003, bilang ke warga, 'silakan pakai saja (untuk dihuni)'," kisah Pak Mur.

Lebih jauh, timpal Herlina, Daeng, dan Evan, relokasi itu mesti mensyaratkan negosiasi harga sewa yang adil dengan pemerintah DKI. Mereka menuturkan kebanyakan warga di Muara Baru adalah kalangan ekonomi menengah ke bawah yang bermata pencaharian sebagai, misalnya, nelayan, pekerja pelelangan ikan, kuli angkut, dan tukang becak. Kisaran harga pun harus sesuai dengan kantong.

"Pokoknya di bawah Rp200 ribu. Itu baru bisa. Kalau sewa (Rusunawa) Rp300 ribu-Rp400 ribu mah mending ngontrak aja, dapet yang bagus," cetus Herlina, perempuan yang salon sederhana miliknya terendam banjir ini.

Sumber :
metrotvnews.com

Jokowi Kunjungi Lokasi Banjir di Penjaringan

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi salah satu lokasi banjir di Ibu Kota, yaitu permukiman warga di Jalan Muara Baru, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara.
Berdasarkan pantauan ANTARA di lapangan, Jokowi tiba di lokasi banjir tersebut pada pukul 13.45 WIB dan langsung disambut warga sekitar.
"Kita sudah menerima banyak sekali keluhan dari masyarakat. Jadi, bantuan-bantuan ini langsung kita berikan untuk mereka (masyarakat)," kata Jokowi ketika mengunjungi permukiman warga yang tergenang air di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (24/1).
Jokowi mengungkapkan bantuan-bantuan yang diberikan memang ditujukan langsung kepada masyarakat, bukan ke posko pengungsian. "Maka, kami datang ke sini untuk menyebarkan bantuannya langsung kepada warga. Kita tidak ingin melihat bantuan ini malah menumpuk dan tidak tersalurkan," ujar Jokowi.
Menurut Jokowi, terjadinya penumpukan bantuan tersebut disebabkan karena kurangnya koordinasi di lapangan. Maka, Jokowi memutuskan untuk turun langsung ke lapangan.
Banjir yang menggenangi lokasi itu bervariasi, mulai dari ketinggian 40 sentimeter hingga dua setengah meter. Banjir sudah menggenangi permukiman warga di RT 18 dan RT 19 sejak Kamis (17/1).
Di lokasi tersebut, Jokowi memberikan bantuan logistik berupa mie instan, biskuit, beras, dan selimut. Selain itu, ada pula bantuan berupa perlengakapan sekolah, antara lain, seragam sekolah, sepatu, tas, buku tulis, dan penggaris.

Sumber :
republika.co.id

Bantuan Banjir Ditimbun di Posko, Jokowi Ngamuk

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) mengaku sudah melakukan sidak ke posko-posko banjir di wilayah Jakarta Utara. Itu dilakukan karena Jokowi mendengar banyak korban banjir yang mengeluh belum mendapatkan bantuan.

Menurut dia, sebetulnya banyak titik-titik banjir yang belum mendapat bantuan. Bukan karena kordinasi yang kurang, tetapi karena memang belum terjangkau posko terutama di kawasan Penjaringan, Pluit, dan Muara Baru.

"Tadi malam sudah saya sampaikan, posko itu barangnya jangan ditumpuk tapi langsung didistribusikan ke masyarakat. Saya lihat bertumpuk-tumpuk barang itu ada," katanya di Jakarta, Kamis (24/1/2013).

Dia meminta agar bantuan yang diberikan tidak ditimbun di posko. Artinya, ketika bantuan sudah sampai di posko, maka petugas di posko tersebut harus segera mendsitribusikannya kepada warga dan tidak perlu ada stok di posko.

"Saya kira ini (ditumpuk di Posko) cara lama. Harus ada cara baru, bantuan datang distribusi, datang sebar. Karena tujuannya untuk masyarakat bukan ke posko," tuturnya.

Seperti diketahui, kawasan banjir di Jakarta Utara baru terjamah setelah empat hari terkena banjir pada Selasa 15 Januari 2013 lalu. Bahkan, ada korban banjir yang baru mendapat bantuan lima hari kemudian.

Sumber :
okezone.com

Pesan Jokowi untuk Bank DKI

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengaku telat menyetor tambahan modal untuk PT Bank Pembangunan Daerah DKI Jakarta (Bank DKI). Alhasil, Bank DKI kesulitan untuk melakukan ekspansinya.

"Terus terang kita terlambat menyuntik dari Pemprov," ungkap Jokowi di kantor Bank DKI, Pecenongan, Jakarta, Jumat (25/1/2013).

Dijelaskan Jokowi, opsi IPO sebagai salah satu bentuk tambahan modal masih dalam proses persiapan. Ia lebih memilih suntikan modal via APBD saat ini.

"Itu urusan bank, masak IPO urusan Gubernur. Mempersiapkan diri. Tetapi kalau bisa kita suntik dari APBD ya kenapa tidak. Yang paling penting kan pertumbuhan asetnya bagus. Tadi saya minta diloncatkan tidak hanya naik. Tetapi dengan tetap kehati-hatian. Prudent banking harus dipegang tetap," jelas Jokowi.

Jokowi juga masih mempertimbangkan untuk menarik dividen dari Bank DKI. Ia lebih memilih bagaimana Bank DKI bisa terus tumbuh ketimbang mencari untung untuk Pemprov sendiri.

"Ya kalau perlu dividen diambil ya diambil, kalau tidak ya tidak. Kenapa selalu diambil. Kalau diperlukan di bank DKI?," jelasnya.

Seperti diketahui, pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengucurkan dana segar kepada Bank DKI Jakarta sebesar Rp 450 miliar. Dana tersebut diberikan agar bank tersebut bisa melakukan ekspansi usaha.

Jokowi mengatakan, dana tersebut untuk memenuhi kebutuhan modal Bank DKI Rp 1,3 triliun untuk memperbesar porsi kredit.

Sumber :
finance.detik.com

BBC sebut Jokowi, Obama dari Jakarta

Banjir besar di Jakarta juga menjadi perhatian media-media luar negeri. Kantor Berita Inggris BBC menyebut Jokowi sebagai Obama dari Jakarta.

Artikel itu dimuat dalam BBC Asia, Rabu (23/1). Judulnya Flooding tests 'Jakarta's Obama'. Ada foto Jokowi mengenakan baju Betawi lengkap dengan peci berwarna hitam sebagai ilustrasi.

BBC menyoroti banjir di Jakarta dan kebijakan Jokowi menyelesaikan permasalahan itu. Artikel tersebut ditulis oleh wartawan BBC Karishma Vaswani.

"Jelang 100 hari kepemimpinannya, Jokowi menghadapi tes pertama. Air berwarna kecoklatan merendam Jakarta tanggal 17 Januari kemarin. Penyebabnya curah hujan tinggi yang menyebabkan tanggul jebol dan sungai meluap."

BBC banyak memuji Jokowi dalam artikel itu. Mereka menyebut Jokowi sebagai tokoh populer dan mendapat dukungan dari kalangan bawah maupun kalangan menengah Jakarta. Warga Jakarta optimistis Jokowi bisa menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Jokowi juga dikenal sebagai politikus yang bersih dan pekerja keras.

"Mr Widodo adalah politikus yang bersih. Seorang pemimpin yang mendengarkan keluhan masyarakat. Dia kerap disamakan dengan Presiden AS Barack Obama, bukan karena perawakannya yang sama-sama tinggi dan langsing. tetapi karena empatinya pada masyarakat."

"Saya bukan Obama. Saya cuma orang yang sederhana," kata Jokowi sambil tertawa.

"Jadi gubernur Jakarta membuat saya kadang sakit kepala. Tapi saya menikmatinya. Saya harus kerja dari pagi hingga ketemu pagi lagi untuk menunjukkan pada orang-orang saya bekerja keras. Itulah yang diharapkan masyarakat dari saya," kata Obama, eh Jokowi.

Sumber :
merdeka.com

Jokowi akan membujuk warga bantaran kali

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) akan membujuk warga yang bermukim di bantaran kali pindah ke lokasi lain untuk mendukung program normalisasi kali dan sungai di Jakarta.

"Yah coba dibujuk," katanya di Balaikota DKI Jakarta, Jumat.

"Nantilah diajak bicara, kalau semua ditanya yang di kanan kiri sungai Pesanggarahan, Sunter, dan Angke, nanti dikasih penyadaran kolektif agar pindah," katanya.

Pemerintah DKI Jakarta berencana membersihkan kawasan sekitar waduk dan bantaran kali dari pemukiman penduduk untuk melakukan normalisasi sungai dan waduk guna mencegah banjir.

Warga yang tinggal di sekitar waduk dan bantaran sungai rencananya dipindahkan ke rumah susun sewa (rusunawa) yang tersedia.

Pemerintah DKI Jakarta bahkan sudah menyediakan rusunawa dengan fasilitas lengkap termasuk tempat tidur, televisi, kulkas, kasur, meja, kursi hingga pakaian dan alat mandi untuk warga di sekitar Waduk Pluit, Jakarta Utara.

"Iya, kan nanti Pluit mau dikeruk sampai 10 meter kedalaman," katanya. 


Sumber :
antaranews.com

Rabu, 23 Januari 2013

Berikut Alasan Jokowi Usai Ngamuk Berat Pada tvOne

Program khusus 100 Hari Jokowi-Ahok yang ditayangkan tvOne semalam (Senin, 21/01/13) pkl 19:30 wib, bikin Jokowi sewot. Pasalnya, Gubernur DKI Jakarta yang baru ini merasa dijebak oleh tvOne. Setidaknya ini dikatakan oleh Ajudan Jokowi, Anggit. “Semalam Bapak marah banget. Tumben-tumbenan marah sama wartawan kayak gitu,” ujar Anggit pada saya pagi ini via HP.

Awalnya, tvOne ingin melakukan wawancara Jokowi perihal banjir dan tanggul di jalan Latuharhary yang ambruk. Saat itu, Jokowi sudah wanti-wanti tidak berkenan ditanya mengenai hal lain di luar masalah banjir. Selain itu, ia juga sudah berpesan untuk tidak menyertakan narasumber lain dalam interviewnya. Semua pesan tersebut disanggupi oleh pihak tvOne. Namun, tvOne rupanya memanfaatkan momentum interview-nya dalam rangka “100 Hari Pemerintahan Jokowi-Ahok”. Apalagi, tvOne sudah mengendus, bahwa Metro TV akan memproduksi program sejenis dengan mengundang Jokowi. Sebelumnya, Metro TV sudah dua kali menayangkan program khusus Gebrakan Jokowi, yang secara eksklusif menginterview Jokowi di lokasi bersama masyarakat. Agar tidak kalah 3-0 dari Metro TV, tvOne terpaksa membohongi Jokowi. Pesan-pesan Jokowi pun diabaikan. “Staff di Balaikota merasa miss, karena interview yang dilakukan tvOne cuma persoalan banjir, eh ternyata malah menanyakan persoalan-persoalan lain. Wajah Bapak pun berubah begitu ada narasumber lain dalam interview itu,” ujar Anggit. Tak heran, begitu kelar shooting, Jokowi langsung marah besar pada tvOne. Perstiwa Jokowi marah-marah pada wartawan sebetulnya sangat langka. Maklumlah, ia sangat dekat dengan semua wartawan. Namun, kejadian semalam merupakan puncak kekesalan Gubernur DKI Jakarta ini. Di tengah musibah, tvOne tega menghianati janjinya pada Jokowi. Ternyata bukan cuma Jokowi yang kesal. Dalam sebuah milis yang saya ikuti, beberapa anggota mengumpatkan kekesalannya. Henry Pasarian, misalnya. Interview yang dilakukan Muhammad Rizki dianggap sangat dangkal. “Lebih banyak sok tahunya, ketimbang riset dahulu. Masak tetap ngotot bertanya, ‘Jadi kapan Jakarta bebas banjir?’. Lha wong sejak jaman Belanda Batavia sudah banjir kok,” ujar Henry kesal. Lanjut Henry, ketika Jokowi mengakui tidak sempat mengecek soal tanggul-tanggul yang ada di Jakarta, Rizki malah bertanya, “Kenapa tidak mengecek, Pak?”. Seharusnya, kata Henry, bertanya seputar bagaimana pemeliharaan tanggul-tanggul itu dan siapa yang bertanggung jawab. “Benar-benar miskin riset.” Di milis ini, Reporter tvOne juga dikritik oleh Armin Bell dari Ruteng Flores. Lewat tulisan berjudul tvOne dan Reporter Antipati yang diposting pada Sabtu, 19 January 2013 pukul 14:00 WIB, ia menilai Reporter tvOne begitu sok tahu. Ini terlihat saat seorang Reporter perempuan dengan bersemangat melaporkan situasi di sebuah tenda pengungsian di Jati Asih. Reporter memulainya dari pertanyaan tentang pola distribusi bantuan yang dijawab oleh si relawan dengan mengatakan, “Kami melakukan distribusi langsung kepada para pengungsi di tenda-tenda.”. Belum selesai berbicara, Reporter langsung bertanya dengan tendensius: “Lho kenapa tidak melalui RT? Kan lebih bagus kalau melalui RT?” Dalam pertanyaan sok tahu berikutnya, Reporter menanyakan tentang bahan-bahan yang didistribusikan. Relawan pun menjawab, “Macam-macam mbak, ada pakaian, selimut, mie instan dan kebutuhan-kebutuhan lain.”. Namun, Reporter perempuan tvOne ini kembali bertanya sekaligus memberikan kesimpulan. “Saya pikir yang sangat mereka butuhkan adalah air bersih. Kenapa tidak disiapkan air bersih?” tanya Reporter itu. Terakhir Armin juga mencatat kesoktahuan Reporter ini, ketika menanyakan tentang mie instan, dimana menurut Reporter ini salah. “Mas, koq distribusi makanannya mie instan? Kan susah itu diolah oleh para pengungsi. Mengapa tidak menyiapkan nasi bungkus?” Oleh karena sudah hilang kesabaran, Relawan yang diinterview pun Nampak marah. Wajahnya sangat jelas menunjukkan kemarahan. Namun ia tetap menjawab dengan sedikit ketus, “Selama ini tidak masalah koq mbak. Semua baik-baik saja. Mereka bisa mengolahnya dengan baik!” Menurut Armin Bell, Reporter Nampak sekali sangat tendensius, menuduh apa yang dilakukan Relawan semuanya salah, mulai dari pola pendistribusian bahan-bahan, air bersih, sampai mie instan. Padahal. Seharusnya Reporter tidak menuduh sesuatu yang belum tentu benar di depan kamera televise, yang pada saat itu disiarkan secara langsung. “Bagi saya, reporter tadi tidak menunjukkan sikap empati yang harusnya dimiliki oleh setiap wartawan, tetapi dia sedang antipati pada para relawan. Heran!” ujarArmin kesal.


Sumber :
ruanghati.com

Jokowi Tawarkan Satu Gebrakan Atasi Banjir

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan harus ada program gebrakan untuk mengatasi banjir di Jakarta. Dia menggagas program yang sempat diajukan pada masa Sutiyoso dan Fauzi Bowo, yaitu terowongan multiguna atau multipurpose deep tunnel.

"Masalah banjir katanya kerugiannya sampai Rp 20 triliun. Kalau bikin skenario deep tunnel kan habis Rp 16 triliun sekalian, biar beres masalahnya," ujar Jokowi di Balai Kota Jakarta, Selasa, 22 Januari 2013.

Dengan adanya deep tunnel, kata Jokowi, berarti kota sekelas Jakarta dapat memiliki fasilitas untuk pembuangan air.

Deep tunnel menjadi satu dari enam langkah yang diajukan Jokowi untuk mengatasi banjir di Jakarta. Lima langkah lainnya adalah normalisasi sungai; sodetan Kali Ciliwung dari Otista ke arah Kanal Banjir Timur; pembuatan sumur serapan; penyediaan pompa air; dan pembuatan waduk besar di Ciawi dan Cimanggis.

Pembangunan deep tunnel di Jakarta diperkirakan mencapai Rp 16,4 triliun. Nantinya terowongan multiguna ini akan dimulai dari MT Haryono hingga Pluit.

Jika di Malaysia memiliki deep tunnel punya dua fungsi, yakni sebagai pengendali banjir dan jalan tol, di Jakarta nantinya akan memiliki lima fungsi. Fungsi itu di antaranya pengendali banjir, jalan tol, sistem utilitas kota, pembuangan limbah kota, dan terowongan air bawah tanah.

Sumber :
www.tempo.co

Jokowi: Kalau Ada Daun Jatuh di Cilincing, Saya harus Tahu

Pada 15 OKtober 2012, Jokow Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama dilantik menjadik Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakaqrta periode 2012-2017. Begitu dilantik, Jokowi dan Ahok, begitu kedua pemimpin itu biasa disapa, langsung menggebrak. Keduanya turun lapangan, mendatangi warga, merasakan denyut rakyat, dan rapat siang-malam untuk menuntaskan masalah-masalah kronis Jakarta. Pada 23 Januari 2013 ini tepat 100 hari usia kepemimpinan Jokowi-Ahok. Apa saja langkah Jokowi, apa kendala dan berbagai yang ia siapkan, nukilan wawancara Jokowi kepada reporter Metro TV Prisca Niken:

Tanya (T): Bagaimana program 100 hari setelah mengepalai Jakarta? Apalagi karakteristik Solo dan Jakarta kan berbeda?

Jawab (J): Saya tidak punya 100 hari, satu hari atau 1.000 hari. Yang penting adalah bagaimana saya bekerja sebaik-baiknya. Saya ditugaskan dari rakyat untuk bekerja baik. Sabtu dan Minggu, kalau ada masalah saya tetap kerja. Kalau dilihat perbedaan, ya sama saja. Kalau musim panas ya panas. Cuaca di Solo dan Jakarta sama saja. Jika di sana pas musim hujan, ya di sini musim hujan.

Hanya cara mengelola masalah itu harus diterminate dengan baik. Sebagai orang baru tentu saja saya harus menguasai medan, menguasai masalah, dan menguasai persoalan. Itu sebabnya saya selalu ke lapangan. Saya ingin bekerja detail. Ibaratnya, ada daun jatuh di Cilincing, ada daun jatuh di Penjaringan, ada daun jatuh di Setu Babakan, serta ada daun jatuh ke Kampung Melayu, saya dengar. Itu yang saya inginkan.

Jangan sampai saya membuat kebijakan, tapi saya tidak menguasai permasalahan. Itu yang selalu saya berusaha sekeras-kerasnya, agar saya selalu mendengar apa yang menjadi keinginan masyarakat.

Apa saya harus duduk di kantor untuk tandatangan kertas. Atau kemudian dapat laporan dari bawahan saya, yang semuanya berisi laporan baik-baik saja. Atau apa yang disebut dengan ABS (asal bapak senang), apa itu yang saya lakukan? Kan tidak. Jika saya datang ke suatu kampung pasti ada datanya, bukan seperti jalan-jalan. Hanya tak mungkin saja disampaikan. Ada yang saya sampaikan terbuka kepada masyarakat. Ada juga yang tidak, dan nantinya bisa menjadi kebijakan.

T: Apakah itu tidak menyita waktu?

J: Lah kok ke sita! (nada tinggi). Saya ke sana kan juga bekerja dalam rangka mendengar keinginan masyarakat, dalam rangka melihat problem, melihat masalah. Memang waktunya habis di situ, tapi kan pembagian kerja tetap ada. Setiap hari ada wakil gubernur, ada Sekda, dan ada asisten. Untuk apa saya harus duduk di kantor terus. Saya tanda tangan setengah jam juga sudah rampung.

T: Budaya tersebut kan sudah bapak lakukan selama delapan tahun?

J: Ya, memang sudah selama delapan tahun saya lakukan dengan cara-cara ini. Dan itu tak ada masalah di manajerial, manajemen. Secara birokrasi alhamdulillah tidak masalah.

T: Blusukan bapak ke kampung-kampung menghasilkan dua gebrakan paling besar, Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar? Kenapa dua gebrakan itu yang dipilih?

J: Itu kebutuhan dasar, kebutuhan dasar rakyat kita. Kalau sebelumnya ada yang ngomong kesehatan dan pendidikan gratis, lah sistemnya kaya apa? Mengucurkah uang itu ke masyarakat secara real? Faktanya sejak ada Kartu Jakarta Sehat lonjakan ke Puskesmas meningkat antara 40 persen hingga 70 persen di sejumlah wilayah. Itu artinya, sebelum itu mereka sakit, tapi ditahan karena tidak punya biaya.

Ini sistem yang kita bangun itu sistem. Bukan hanya omomngan kesehatan dan pendidikan gratis, realnya seperti apa. Bila cara mengakses atau mendapatkannya sulit, ya untuk apa. Wong anggarannya ada tapi masyarakat tidak bisa mengakses, ya untuk apa.

T: Berarti yang dulu belum tepat sasaran juga?

J: Ya itu sistem yang harus dibangun. Ini sistem kartu. Nanti kartu itu suatu saat bisa digunakan untuk hal-hal lain. Kan masih satu kepentingan, karena ada chipnya bisa digunakan untuk hal lain.

T: Nanti sistemnya terintegrasi?

J: Ya, terintegrasi. Yang jelas ada sistemnya dulu.

T: Apa sih yang mau dibenahi dari Jakarta?

J: Semuanya yang belum baik, semuanya perlu diperbaiki. Fakta dan realitasnya Jakarta sudeh ruwet dan kronis, kita harus omong apa adanya. Tapi seperti banjir jangan menjadikan kita pesimis, harus optimis. Kita jangan menyerah.

Banjir di Jakarta itu ada sejak tahun 1932, diselesaikan tahun 1938 dengan dibangun Kalan Banjir Barat. Lalu tahun 2004 dibangun Kanal Banjir Timur. Kita harus konsistensi dan fokus terhadap dua masalah, macet dan banjir sehingga bisa terselesaikan.

Tapi itu perlu proses dan perlu waktu. Jangan baru tiga bulan, Pak masih banjir. Kaya saya dewa atau superman saja. Ya ngga bisa seperti itu dong.

T: Optimis Jakarta bisa selesai dari masalah-masalah?

J: Loh loh, ini kan masalah kelihatan. Negara lain bisa kenapa kita tidak bisa. Negara lain, kejadian sudah ada dan terselesaikan. Kan kelihatan mata semuanya. Tapi jangan nuntut terlalu tinggi ke saya. Saya baru tiga bulan, beri waktu saya.

T: Masyarakat memberi waktu dan kepercayaan?

J: Sekali lagi perencanaan sudah ada. diperlukan tambahan untuk terobosan. Saya berikan contoh, proyek Mass Rapid Transportation (MRT) itu rencananya sudah sejak tahun 1986. Kenapa nggak diputuskan, kan dari dulu sudah punya. Kalau saya disuruh buat studi lagi yang ada saya putuskan. Tapi jangan lantas ngomong itu idenya gubernur yang lalu, ya jangan seperti itu dong. Apa saya harus membuat ide sendiri dan membuat suatu kajian.

Sumber :
metrotvnews.com

Selasa, 22 Januari 2013

Jokowi: Kalau Lagi B dan T, Ya Bete, Ciyus...

Di tengah kesibukannya menangani banjir Jakarta, Gubernur DKI Joko Widodo menyediakan waktu berbincang santai kepada para wartawan. Tak dinyana, Jokowi keluar dari ruangannya kemudian mengambil kursi di tengah-tengah wartawan yang ada di Balaikota DKI, Jakarta.

Perbincangan santai sekitar setengah jam itu berlangsung sangat cair. Berbagai pertanyaan terlontar dari wartawan kepada mantan Walikota Solo itu. Dari mulai penanganan banjir sampai soal isu keretakan hubungan dengan Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama.

Banyak kata-kata tak terduga disampaikan Jokowi. Entah itu spontan atau sudah disiapkan? Yang pasti, saat bicara soal keruwetan masalah di Jakarta, pernyataan itu terlontar.

Bermula saat Jokowi membeber tentang jam kerjanya yang tak mengenal waktu. "Malam itu kita kerja juga. Malam lebih hening, santai. Jadi lebih enak buat mikir," kata Jokowi sambil tersenyum.

Lalu masalah apa yang membuat Jokowi pusing sehingga membutuhkan waktu di malam hari untuk berpikir? "Masalah yang paling bikin pusing? Ngga ada. Enteng semua, biasa saja. Masalah di kota saya 8 tahun biasa saja. Ngga ada pusingnya," jawab Jokowi.

Tetapi Jokowi membantah menganggap enteng setiap masalah yang dihadapi. Tetapi ada satu masa saat sang gubernur tak lagi semangat. Kapankah itu? "Kalau pas B sama pas T, ya bete. Ciyusss..." canda Jokowi yang mengundang tawa. "Ciyus ini," tambah Jokowi lagi.

Tak terduga, rupanya Jokowi juga mengikuti bahasa gaul yang menjadi tren di masyarakat. Ciyus merupakan salah satu bahasa gaul yang sempat tren di masyarakat. Arti kata Ciyus sendiri adalah 'Serius."


Sumber :
liputan6.com

Atasi Banjir, Jokowi Gandeng BPPT untuk Rekayasa Hujan

Menghadapi perkiraan puncak air pasang laut pada 24-26 Januari mendatang, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk melakukan rekayasa hujan. Rekayasa tersebut dilakukan agar hujan tidak turun saat yang bersamaan dengan terjadinya rob.

"Yang bisa kami lakukan bersurat ke BPPT agar hujan didorong tidak di tanggal itu. Karena dikhawatirkan hujan bersamaan dengan air pasang. Hal itulah yang dihindari," kata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, di Balaikota Jakarta, Selasa (22/1/2013).

Pihak Pemprov DKI juga akan segera melakukan rapat koordinasi untuk mencari antisipasi lainnya. Jokowi mengaku, tidak akan hanya mempersiapkan satu skenario melainkan beberapa skenario untuk mengatasi banjir rob tersebut. "Kalau dari sisi penanggulangan bencana, kita akan adakan briefing lagi untuk betul-betul siap menghadapi banjir. Ada skenario satu hingga tiga. Akan kita pakai juga skenario untuk menghadapi situasi diluar perhitungan kita, seperti jebolnya tanggul Laturharhary yang memang diluar ekspektasi dan skenario kita," jelasnya.

Sebanyak enam pompa mobile milik Dinas Pekerjaan Umum DKI yang juga telah disiapkan dan Pemprov DKI juga meminta Kementerian Pekerjaan Umum yang telah menyiagakan enam pompa mobile. Menurut Jokowi, kekuatan 10 pompa air tersebut tidak cukup untuk membuang atau menyedot air.

"Makanya ketika ketemu dengan Presiden, kita minta supaya pembangunan pompa yang di Marina, Pluit serta tengah barat dan timur dipercepat. Kalau kita mau beli bisa saja beli. Tapi kan perlu pondasi, perlu infrastruktur dan akan memakan waktu sampai 4 bulan," kata Jokowi.

Ia juga menilai, untuk memperkuat bendungan agar tidak jebol, diperlukan waktu yang tidak singkat. Sehingga Jokowi memilih untuk melakukan rekayasa hujan melalui bantuan BBPT.

"Memperkuat tanggul dalam satu dua hari ini memang tidak memungkinkan. Jadi kita pilih rekayasa cuaca untuk menghadapi bencana," katanya.

Seperti diketahui, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa pada 24-26 Januari mendatang akan menjadi puncak air pasang yakni mencapai 1 meter. Padahal saat ini kawasan Pluit, Jakarta Selatan masih terendam banjir, karena diterjang rob dan limpahan air dari Waduk Pluit.


Sumber :
megapolitan.kompas.com