Rabu, 07 Agustus 2013

Pemimpin Malaysia...Kunjungi Jakarta dan Contoh Jokowi

Nama Jokowi kembali go international. Untuk kesekian kalinya, kiprahnya dibahas di media luar. Setelah BBC menyebut 'Obamanya Jakarta', The Malay Mail 'Butuh Jokowinya Malaysia', The Hindu 'Mana Jokowinya India?', kini giliran The Star Malaysia yang mengulasnya lewat artikel berjudul 'Lessons from Tanah Abang' edisi 6 Agustus 2013.
Dalam ulasan tersebut, kolumnis Karim Raslan menuliskan bagaimana Jokowi berhasil menangani ruwetnya memindahkan para pedagang kaki lima (PKL) yang bercokol di Tanah Abang. Cara pamungkas Jokowi, lewat blusukan.
"Blusukan yang dilakukan Jokowi tanpa pengawalan ketat membuatnya bisa memecahkan masalah langsung ke lapangan. Dengan cara ini, seorang pemimpin bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi," tulis Karim, seperti dimuat The Star, Selasa (6/8/2013).
Artikel Karim dibuka dengan perbandingan masalah ibukota di negara Asia Tenggara. "Di Kuala Lumpur terjadi kriminal, Singapura masalah transportasi dan kaum pendatang. Sedangkan di Jakarta dan Manila, macet dan banjir."
Semua permasalahan itu mengakar dari urbanisasi dan membutuhkan sebuah solusi. Bagaimana caranya? "Coba kita tengok Indonesia, tepatnya Jakarta.

PKL Tanah Abang
Di kota itu (Jakarta), jelas Karim, ada tantangan berat yang harus dihadapi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Ketika banyak orang membicarakan potensinya untuk maju sebagai capres, namun ada hal menarik lain, yakni gaya kepemimpinannya yang tak terduga.
"Tanah Abang (yang menjadi tujuan utama orang Malaysia untuk belanja) merupakan pusat perdagangan tekstil besar dan pasar paling sibuk di Asia. Pasar ini telah berdiri sejak 250 tahun lalu."
Kini ada sekitar 28 ribu pedagang yang tersebar di 6 lantai. Juga ada yang di pinggir jalan. Sangat ramai. Apalagi menjelang Lebaran. Sampai bikin macet jalan sekitar.
"Karenanya dibutuhkan pendekatan yang tepat untuk memindahkan para pedagang," sebut penulis beberapa buku itu.
"Selain pengusaha pakaian, ada kelompok lokal (preman) yang berbagi bisnis dengan pemerintah," imbuh dia.
Jokowi pun datang menjadi Gubernur. Ia menghadapi masalah yang hampir sama sewaktu menjabat sebagai Walikota Solo: sulitnya merelokasi PKL.

PKL Solo
Pada 2005 silam, Jokowi harus berusaha keras untuk meyakinkan para pengusaha dan PKL agar pindah ke tempat baru di Klithikan Semanggi, Solo.
"Dan Jokowi pada akhirnya berhasil, seperti yang ditulis Rushad Majeed dalam penelitiannya di Princeton University berjudul 'Innovations for Successful Societies' dengan mengadakan lebih dari 50 kali pertemuan dengan para PKL."
Ini bukan hanya urusan satu belah pihak. Sebagai walikota yang mendengar tuntutan PKL, Jokowi mengumpulkan data dan melakukan tawar-menawar yang alot. "Ini adalah bentuk dari gaya kepemimpinan 'blusukan' nya yang sekarang populer di Jakarta."
Namun apa yang dilakukan Jokowi saat ini tidaklah dianggap mudah. Ia dan wakilnya Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dikritik politisi lokal dan kelompok-kelompok yang menuduh mereka tidak memahami kebutuhan PKL.
"Namun kesabaran mereka terbayarkan dan Basuki mengumumkan pada hari Selasa 30 Juli 2013 bahwa PKL di Tanah Abang telah setuju untuk pindah ke dekat Blok G, dimana sekitar 1.000 kios telah didirikan."
Keberhasilan Jokowi dalam menyelesaikan masalah di Tanah Abang mungkin tampak sulit dipercaya. Namun sebenarnya ini merupakan langkah besar untuk negara.
"Ini membuktikan bahwa perubahan itu mungkin. Perubahan hanya dapat dilakukan ketika para pemimpin terlibat ke bawah dengan masyarakat.

Blusukan
Blusukan (Istilah Indonesia untuk bertemu orang secara langsung di lapangan) telah menjadi kunci dari segalanya.
Dengan turun langsung ke lapangan, memeriksa para pegawai sipil, Jokowi semakin mendapat dukungan dan dipercaya penuh rakyat. Ini menjadi modal besar baginya.
"Jauh dibanding seorang politisi yang skeptis, tak peduli. Sehingga masyarakat sulit untuk percaya."
Jokowi saat ini tengah merancang solusi besar untuk menuntaskan masalah banjir dan macet. Seperti membujuk penghuni liar di Pluit demi program penanganan banjir.
"Aksinya bagai superhero Hercules. Mampu mengajak 7.000 keluarga untuk pindah ke tempat yang lebih tepat. Kemampuan persuasif positifnya sangat besar."
Blusukan yang dilakukan Jokowi tanpa pengawalan ketat membuatnya bisa memecahkan masalah langsung ke lapangan. Dengan cara ini, seorang pemimpin bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebagai warga negara Malaysia yang baik, saya sarankan pemimpin kita perlu ke Jakarta dan mencontoh apa yang Jokowi lakukan di sana. Mungkin kita membutuhkan seorang pemimpin yang melakukan blusukan untuk mendengar dan belajar?"
Sumber :
liputan6.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar