Senin, 28 Juli 2014

Semakin Ngotot Semakin Lucu

Kasihan sebenarnya Prabowo Subianto ini. Terlalu banyak orang-orang aneh disekitarnya sehingga Prabowo sudah tidak bisa menilai mana yang bisa dipercaya atau tidak. Semua informasi dari orang-orang sekitarnya kebanyakan tidak dapat dipertanggung-jawabkan, terutama dari PKS dan ARB dan kawan-kawan.
Awal dari semua yang mempermalukan Prabowo adalah ketika ARB mengganti lembaga survey Poltracking dengan 3 lembaga survey abal-abal yang menyiarkan quick count pada tanggal 9 Juli 2014 kemarin. Inilah yang membuat Prabowo sampai melakukan Sujud Syukur Kemenangan yang ternyata merupakan kemenangan palsu dan kekalahan pasti.
Setelah 3 lembaga survey tersebut ketahuan abal-abal, Prabowo tentunya merasa sangat malu. Apalagi ambisinya untuk menang begitu tinggi sehingga dengan mempertahankan gengsinya dia ingin mencari suatu pegangan yang dapat digunakan untuk mempertahankan klaim kemenangannya tersebut.
Dan masuklah PKS dengan menyodorkan hitung-hitungan yang sebenarnya sangat diragukan kebenarannya. Andai saja Prabowo membaca Kompasiana pada tanggal 10 Juli 2014 tentu Prabowo bisa mengerti bahwa Real Count PKS itu abal-abal dan sempat dipublish di Inilah.com yang akhirnya menimbulkan kontroversi.
Kebingungan Prabowo saat itu membuat nalar dan logikanya tidak tajam sehingga bisa percaya begitu saja perhitungan Real Count PKS. Bagaimana mungkin PKS mampu menghitung real count pada tanggal 10 Juli  2014 (dalam waktu 1×24 jam) berbekal scan form C1 dari 270.000 TPS? Seberapa hebat IT dari PKS sehingga mampu mengumpulkan data C1 dari 270.000 TPS dalam waktu 24 jam dan langsung menghitungnya dilanjutkan dengan mempresentasikannya kepada Prabowo.
Dan kemudian PKS semakin menjadi-jadi “membius” Prabowo untuk menjadikan hitungan mereka sebagai pegangan Koalisi Merah Putih sehingga Prabowo pun dengan PeDe nya berkali-kali menyatakan dirinya unggul dari Jokowi. Begitu juga didepan media asing dimana Prabowo dengan yakinnyamengatakan dirinya lah yang mendapat mandat dari rakyat.
Tetapi kemudian ketika tanggal 15 Juli 2014, begitu Kawalpemilu.org dan beberapa website lain merilis perhitungan suara berdasarkan form C1 yang dipublish KPU mulailah Prabowo mulai ragu dengan perhitungan PKS. Akan tetapi PKS kembali tetap berusaha meyakinkannya bahwa Hitungan PKS yang paling tepat. PKS bahkan membumbui-bumbui dengan melaporkan adanya kecurangan-kecurangan tim Jokowi kepada Prabowo.
Disinilah Prabowo tidak punya pilihan lain. Ada informasi / kabar burung juga bahwa Polri juga sempat diam-diam ikut menghitung perolehan suara Pilpres dan bila memang benar tentu saja tidak dapat dipakai sebagai patokan karena perhitungan personil Polri tentu sangat terbatas karena memang tujuannya hanya untuk kontrol keamanan saja. (hanya daerah yang berpotensi konflik saja yang akan diliput oleh Polri). Dan selanjutnya mungkin saja sebagian kecil data dari Polri disatukan dengan data PKS dan dimodifikasi oleh PKS sehingga Prabowo percaya begitu saja.
Kemudian waktu berlalu hingga tanggal 20 Juli 2014. Kawalpemilu.org sudah merilis perhitungan C1 hingga 93% atau setara 117 juta suara dengan kemenangan Jokowi 52,80%, Prabowo mulai galau. Dan pada saat galau tersebut kembali PKS membakar Prabowo dengan melaporkan ada kecurangan di 5.841 TPS di DKI. Kecurangan itu menurut PKS sudah dilaporkan ke Bawaslu dan Bawaslu sudah merekomendasikan PSU ke KPU DKI tapi tidak dilaksanakan oleh KPU DKI. Akhirnya saat itu terbakar sudah emosi dari Prabowo gara-gara informasi palsu dari PKS.
Selanjutnya Prabowo mulai berpikir-pikir untuk menggugat KPU. Apalagi sudah ada tambahan data-data yang disebut kecurangan oleh PKS di sejumlah TPS di Jawa Timur. Semua ini membuat Prabowo menjadi kehilangan nalarnya.
Tibalah tanggal 21 Juli dimana KPU sudah melakukan rekapitulasi di tingkat Nasional dengan data masuk diatas 80% dan tetap menunjuk kemenangan Jokowi 52%. Di titik itulah kubu Prabowo yang terdiri dari Idrus Marham, Habiburokman dan PKS berteriak karena paniknya. Mereka mulai mengancam dan akan mempidanakan KPU kalau meneruskan perhitungan rekapitulasi di tingkat nasional.
Prabowo pun benar-benar terbakar emosi akibat ulah para pendukungnya tersebut hingga langsung membuat konsep untuk mengundurkan diri dari Pilpres 2014.
Dan ketika tanggal 22 Juli Siang terlihat rekapitulasi nasional KPU tidak bisa dihentikan meskipun tim saksi sudah bersilat lidah hingga ratusan jurus di gedung KPU maka terjadilah blunder besar dari Prabowo. Terjadilah Pidato hebohnya dengan menarik diri dari Pilpres 2014, menyatakan menolak Hasil Pilpres 2014 dan memanggil para saksi yang ada di gedung KPU.
Tapi ternyata pengumuman Prabowo tersebut tidak mengganggu sama sekali proses rekapitulasi nasional di KPU dan KPU masih berusaha menyelesaikannya hingga tahap penetapan Pemenang pilpres. Begitu juga dengan pakar-pakar Tata Negara langsung mengeluarkan pendapat-pendapatnya bahwa dengan mundurnya Prabowo maka Jokowi sudah pasti menjadi Presiden dan tinggal menunggu pelantikannya saja. Prabowo sudah mundur dan tidak bisa menggugat lagi di MK.
Dan akhirnya mulailah kejadian-kejadian lucu terjadi.
Pertama berkaitan denga Mahfud MD.
Sehari sebelumnya pada tanggal 21 Juli, Ketua Tim Kemenangan Prabowo, Mahfud MD sudah mengatakan ke media bahwa kalau KPU sudah menetapkan pemenangnya adalah Jokowi maka dia akan mengajukan pengunduran diri sebagai ketua Tim Prabowo. Menurutnya PSU itu tidak perlu, Penundaan Pengumuman KPU juga tidak perlu. Dan bila mengajukan gugatan ke MK itu sangat sulit berdasarkan pengalamannya selama di MK.
Dan pada tanggal 22 Juli 2014, ketika Prabowo selesai berpidato tersebut, Mahfud MD langsung mengundurkan diri dan digantikan oleh Letjen (purn) Yunus Yosfiah. Dan setelah mengundurkan diri Mahfud berpesan agar kalau Tim Prabowo mengajukan gugatan ke MK, bukti-bukti yang dilampirkan harus benar-benar kuat. Dan ketika media bertanya lagi kepada Mahfud seberapa besar peluang Prabowo memenangkan gugatan di MK, maka Mahfud menyatakan tidak tahu. Dia lupa karena sudah 2 tahun tidak di MK. Ini kan lucu karena sebelumnya pada tanggal 21 Juli 2014 dia sudah mengatakan hal yang berbeda.
Kelucuan kedua berkaitan dengan Fadli Zon, dimana pada tanggal 22 Juli 2014 malam, begitu banyak pakar Tata Negara mengeluarkan pendapatnya, Fadli langsung buru-buru mengeluarkan pernyataan bahwa Prabowo tidak mengundurkan diri dari Pilpres 2014. Prabowo hanya menarik diri dari Rekapitulasi Nasional di KPU. Ini sungguh lucu. Secara kontekstual pidato Prabowo yang sudah tersebar kemana-mana menyatakan menolak hasil Pilpres, KPU tidak jujur dan menarik diri dari proses yang terjadi. Namanya menarik diri ya pasti sama dengan mengundurkan diri. Lalu memisahkan proses rekapitulasi dengan proses pencoblosan juga sangat aneh.Perhitungan Rekapitulasi itu terjadi karena ada pencoblosan jadi rekapitulasi perhitungan dan pencoblosan itu adalah suatu kesatuan. Tapi biarlah, semua pihak baik KPU dan MK tidak mau mempermasalahkan kata-kata. (pasti sudah tahu berdebat dengan Fadli Zon itu sama saja berdebat dengan Pokrol Bambu. Buang-buang waktu saja). Dan KPU dan MK mempersilahkan Prabowo mengajukan gugatan ke MK.
Kelucuan Ketiga terjadi dengan Yunus Yosfiah, dimana Ketua Tim yang baru ini mungkin dibisikin oleh PKS bahwa kemungkinan besar data KPU di Hack oleh para Hacker. Berita sebelumnya di media ada sejumlah 37 orang Hackers ditangkap polisi. Dan Yunus Yosfiah tanpa menyaring lagi informasi tersebut langsung mengatakan ke Media bahwa 37 Hackers dari Korea dan Tiongkok telah meretas data Pilpres 2014. Ini kan o’on dan lucu. Mana mungkin data manual dan berjenjang bisa di hack oleh seorang hacker. Jangankan puluhan Hacker, ribuan hackerpun tidak akan mungkin mampu meretas data yang dihitung secara manual dan berjenjang seperti data Pilpres ini. Dan akhirnya Yunus Yosfiah ketemu batunya karena Duta Besar Korea yang mendengar pernyataannya langsung ke Polri dan datang ke rumah Polonia untuk meminta klarifikasi hal tersebut. Belum diketahui bagaimana akhirnya penjelasan dari Tim Prabowo kepada Dubes Korea tersebut.
Selanjutnya Kelucuan keempat terjadi dengan Tantowi Yahya. Tantowi ini mungkin anggota DPR yang paling pintar. Karena merasa koalisi Merah Putih menguasai parlemen maka Tantowi mempunyai ide untuk membentuk Pansus Pilpres di DPR. Ini benar-benar pinter dan keblinger. Menurut beberapa pengamat politik yang ada, Tantowi Yahya ini sedang melawan Kewarasan Nasional. Saking pintarnya Tantowi sehingga dia tidak tahu bahwa Lembaga Negara yang punya wewenang menyatakan hasil pemilu adalah KPU dan MK. Dengan melibatkan DPR pada proses pemilu itu artinya DPR diajak ikut serta untuk mempolitisasi pemilu. Dan sudah pasti berarti bahwa koalisi merah putih memang berniat ingin merekayasa hasil pemilu.
Dan Kelima atau yang terakhir yang ane dengar dan membuat ane sakit perut adalah yang berkaitan dengan tim saksi PKS.
Tadi siang Tantowi Yahya menyatakan bahwa besok sore tanggal 25 Juli jam 17:00 Tim Prabowo-Hatta akan mendaftarkan gugatannya ke Mahkamah Konstitusi. Tantowi mengatakan tim nya sedang mengumpulkan bukti-bukti yang ada.
Tapi ternyata tadi sore tim saksi dari PKS Muhamad Taufik dan Ketua DPW PKS Jakarta Slamet Nurdin juga sudah melapor ke Polisi dengan perkara bahwa berkas-berkas kecurangan pada pilpres yang dimiliki mereka telah hilang padahal mau digunakan untuk mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Nah loh. Kok bisa sampai hilang sih? Memangnya nyimpennya dimana sampai bisa hilang begitu? Hahahaa.
Dan ketua Tim saksi dari PKS juga curhat ke Polisi bahwa KPU telah berlaku curang pada Pilpres 2014 ini. Disisi lain mereka juga yakin akan memenangkan gugatan di MK. Mereka juga mengklaim bahwa bukti-bukti yang mereka miliki saat ini kurang lebih sejumlah 10 Truk. 10 Truk? Ane membayangkannya saja sudah susah dan bingung.
Ya begitulah semakin lama semakin lucu mereka. Entah besok ada lelucon apa lagi yang keluar dari koalisi Merah Putih ini. Yah bagaimana lagi, nasibnya Prabowo memang begitu.  [indonesiamedia]

1 komentar: