Sabtu, 15 Juni 2013

Humor: "Terjawab Sudah Siapa Orang Tua Jokowi"

Banyak masyarakat Jakarta yang bertanda tanya, siapa sih orang tua dari Mas Jokowi, Gubernur DKI Jakarta ? Jangankan masyarakat, para birokrat di Balaikota juga hampir semuanya tidak mengetahui, Siapa orang tua dari Gubernur yang notabene adalah atasannya ini ? Begitu juga teman-teman mass media, sehingga banyak insan pers bertanda tanya tentang sosok misterius orang tua dari Mas Jokowi ? Padahal sebenarnya para kuli tinta ini bisa menanyakan secara langsung ketika ada acara dialog antara Gubernur dengan wartawan di Balaikota atau dimana saja ketika Mas Jokowi sedang melakukan blusukan, namun sampai hari ini siapa orang tua dari Mas Jokowi masih menjadi tanda tanya besar. Sampai-sampai Oma Irama (beberapa waktu yang lalu) pernah menuduh yang bukan-bukan tentang orang tua Mas Jokowi, karena ketidak mengertian Oma Irama tentang asal usul Mas Jokowi kita ini.

Hingga pada suatu ketika, tanda tanya tersebut akhirnya terjawab sudah. Teka-teki misterius siapa sebenarnya orang tua Mas Jokowi, berawal dari suatu kejadian yang tidak di sengaja pada cerita berikut ini :

Pada suatu hari, anak-anak Mas Jokowi sedang berlibur ke Jakarta, entah kebetulan atau tidak tetapi anak-anak Mas Jokowi ini sangat suka dengan ketan, dan setelah mencari kesana kemari, akhirnya ketemu juga tempat jual makanan ketan yang paling laris di Jakarta yaitu di pertigaan jalan Garuda tidak jauh dari Kantor Polisi Sektor Kemayoran, Jakarta pusat.

Warung ketan ini memang sangat sederhana layaknya warung kopi dipinggir jalan, tapi kalau soal pengunjungnya, wah jangan ditanya, hampir 24 jam warung ketan ini selalu ramai dengan pembeli.

Tabiat Mas Jokowi yang sering lesehan dan sering turun ke rakyat bawah ternyata di ikuti pula oleh tingkah laku anak-anaknya yang juga suka lesehan dan tidak pernah malu atau gengsi terhadap perilaku kehidupannya.

Nah karena mereka suka dengan ketan, dan ada warung penjual ketan di Kemayoran maka tanpa sungkan-sungkan lagi anak pertama Mas Jokowi yang bernama Gibran Rakabumi langsung meluncur sendirian kelokasi penjual ketan.

Setelah menikmati ketan dan beberapa tempe serta pisang goreng plus teh poci kesukaannya, Gibran, anak Mas Jokowi, langsung bertanya pada penjual ketan "Berapa semuanya, pak ?"
Penjual ketan yang sebenarnya termasuk salah satu pendukung Mas Jokowi dan kenal betul dengan anak-anak Mas Jokowi karena sering lihat di pencarian google langsung menjawab,
"Maaf mas. Tambahannya apa saja ?" jawab penjual ketan.
"Tempe dua, pisang goreng satu dan minumnya teh poci" jawab Gibran.
"Ooh semuanya 8.000 rupiah mas," jawab penjual ketan.
Gibran langsung memberi selembar uang lima puluh ribuan, sambil berkata, "Sudah pak, kembaliannya buat bapak saja." Penjual ketan sangat senang dan langsung mengucapkan terima kasih.

Setelah beberapa jam, tiba-tiba datang lagi anak kedua dari Mas Jokowi yang bernama Kahiyang Ayu yang juga sama-sama suka dengan ketan, maklum keluarga Mas Jokowi memang sangat suka dengan ketan. Sama seperti kakaknya, setelah makan ketan, Kahiyang Ayu langsung bertanya sama penjual ketan, "Pak, berapa semuanya ?" Penjual ketan yang memang juga sudah tahu siapa pembelinya ini berkata,
"Maaf mbak. tambahannya apa saja ?"
"Tempe tiga, pisang goreng satu dan minumnya jeruk panas," jawab Kahiyang Ayu.
"Ooh semuanya 9.000 rupiah, mbak," jawab penjual ketan.
Kahiyang langsung memberi selembar uang lima puluh ribuan, sambil berkata, "Sudah pak kembaliannya buat bapak saja."  Penjual ketan sangat senang dan langsung mengucapkan terima kasih.

Entah kebetulan atau tidak, tak lama kemudian datang rombongan Gubernur yang habis meninjau warga kebanjiran, tak lupa Mas Jokowi juga menyempatkan diri untuk makan ketan kesukaannya di warung ketan Kemayoran, entah dapat informasi dari mana, Mas Jokowi juga tahu tempat penjual ketan ini.

Selesai menikmati ketan, sama seperti kedua anaknya, setelah makan, Mas Jokowi langsung membayar sendiri makanan yang telah disantapnya itu,
"Dik, berapa semuanya ?" tanya Mas Jokowi.
Penjual ketan yang sudah tahu siapa pembelinya ini berkata,
"Maaf pak tambahannya apa saja ?"
Mungkin karena lapar habis kunjungan kelapangan, Mas Jokowi menjawab,
"Ketan dua, tempe lima, pisang empat dan minumnya teh poci plus es jeruk,"
"Maaf pak, semuanya jadi tujuh belas ribu rupiah," jawab penjual ketan.
Mas Jokowi langsung memberikan uang 50.000 rupiah, kemudian Mas Jokowi menunggu uang kembalian dan setelah menunggu 5 menit, di tanyanya lagi penjual ketan,
"Loh, mana uang kembalian saya ?"
"Ah, masa pak, uang 33.000 rupiah saja di kembalikan," kata tukang penjual ketan.
"Tadi anak pertama dan kedua Pak Jokowi makan disini, uang kembaliannya sebanyak 42.000 rupiah dan 41.000 rupiah diberikan ke saya, masa pak Jokowi yang 33.000 rupiah saja minta kembalian ?" lanjut penjual ketan.
"Tunggu dulu dik, anda tahu siapa anak pertama dan kedua saya ?"
Dengan cekatan penjual ketan menjawab,
"Ya tahu dong pak, jelas anak pertama dan kedua bapak adalah anak Pak Jokowi Gubernur Jakarta ?" "Pintar kamu," kata Mas Jokowi.
"Kamu tahu mereka anak Gubernur, Nah sedangkan saya cuma anak tukang kayu, sudah tahu kan ? Nah, mana sekarang kembalian saya" lanjut Mas Jokowi.

Kebetulan saat kejadian tersebut, ada seorang wartawan yang melihat dan akhirnya mengetahui bahwa ternyata orang tua dari Mas Jokowi itu adalah seorang tukang kayu, Esok hari nya semua Media cetak Headline berita dengan judul "Jokowi Anak Tukang Kayu, Makan Ketan Minta Kembalian" he he he

Catatan Penulis Humor :
Maaf ya Mas Jokowi, ini cuma canda saja, semoga kalau Mas Jokowi baca bisa menjadi semangat kerja yang lebih baik lagi, bagi kepentingan masyarakat Jakarta yang memang benar-benar mengharapkan sosok Mas Jokowi bisa melakukan perubahan bagi Jakarta yang lebih baik, kami semua tetap sabar dan selalu mendoakan, karena membereskan Jakarta yang memang sudah semrawut ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi kami juga berharap semoga semua tantangan ini bisa Mas Jokowi jalankan dengan sebaik-baiknya.


Sumber :
agussutondomediacenter.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar