Seorang wanita jatuh pingsan di tengah kerumunan warga di Jalan Luar
Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, yang sedang mengantre untuk
mendapatkan sumbangan dari Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Minggu
(27/1/2013) siang.
Melihat peristiwa itu, Jokowi langsung
menolong wanita itu dan membawanya ke tempat lebih lapang. Sengatan
sinar matahari di antara kerumunan warga menyebabkan wanita ini semaput.
Jokowi pun membantunya untuk pindah ke sebuah warung di dalam gang.
"Gimana, sudah siuman belum? Dikasih minum dong, sama diolesi minyak kayu putih," kata Jokowi sambil mengamati kondisi si ibu.
Setelah
membantu wanita itu dan memastikan kondisinya telah membaik, Jokowi
kembali membagikan paket bantuan. Paket bantuan yang diberikan Jokowi
berisi satu set seragam sekolah dan lima buku tulis. Barang-barang itu
diangkut menggunakan truk satuan polisi pamong praja.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Arsip terlengkap seputar kegiatan Jokowi mulai tahun 2013 hingga Jokowi Terindikasi Melindungi Koruptor.
Minggu, 27 Januari 2013
Jokowi: Waduk Pluit Bakal Diperdalam hingga 10 Meter
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo kembali mengunjungi kawasan Muara Baru,
Jakarta Utara, Minggu (27/1/2013). Dalam kunjungannya, pria yang akrab
disapa Jokowi ini melihat langsung perkembangan wilayah yang telah lebih
dari satu minggu tergenang air.
Kali ini Jokowi megunjungi Gang V III, RT 21, RW 17, Muara Baru yang masih tergenang banjir setinggi 10 sentimeter. "Coba ini disedot ini. Ambil penyedot yang di situ (di gang lainnya)," ujar Jokowi saat menyaksikan sisa banjir tersebut.
Mantan Wali Kota Solo yang tiba di Muara Baru sekitar pukul 11:30 WIB ini mengatakan akan memperbesar daya tampung Waduk Pluit karena waduk itu merupakan patokan banjir di Jakarta. "Jadi, Waduk Pluit itu jantungnya. Kalau kita ada banjir ya di situ. Jadi kalau bermasalah seperti sekarang ini, menjadi problem. Sekarang 2-3 meter kedalamannya, itu mau dijadikan 10 meter sehingga berdaya tampung besar," tutur Jokowi.
Namun, rencana untuk memperdalam waduk tersebut bakal tak berjalan mudah. Pasalnya, beberapa tempat sudah dihuni masyarakat. Rencananya, warga akan mendapat sosialisasi agar bersedia dipindahkan dari kawasan waduk tersebut.
"Mereka juga, kan, diberi solusi ke Marunda atau di tempat lain. Yang itu juga telah disiapkan mebel-mebelnya, tinggal masuk saja. Nanti saya bikin yang semurah-murahnya karena ini menyangkut sebuah kepentingan, bukan income untuk mendapatkan uang dari sewa itu tidak, tapi ini harus menyelesaikan masalah," tuturnya.
Karena adanya kunjungan Gubernur DKI Jakarta ini, Jalan Muara Baru Raya yang hanya dapat dilalui dua ruas kendaraan mendadak macet karena banyak warga langsung mendatangi sang Gubernur.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Kali ini Jokowi megunjungi Gang V III, RT 21, RW 17, Muara Baru yang masih tergenang banjir setinggi 10 sentimeter. "Coba ini disedot ini. Ambil penyedot yang di situ (di gang lainnya)," ujar Jokowi saat menyaksikan sisa banjir tersebut.
Mantan Wali Kota Solo yang tiba di Muara Baru sekitar pukul 11:30 WIB ini mengatakan akan memperbesar daya tampung Waduk Pluit karena waduk itu merupakan patokan banjir di Jakarta. "Jadi, Waduk Pluit itu jantungnya. Kalau kita ada banjir ya di situ. Jadi kalau bermasalah seperti sekarang ini, menjadi problem. Sekarang 2-3 meter kedalamannya, itu mau dijadikan 10 meter sehingga berdaya tampung besar," tutur Jokowi.
Namun, rencana untuk memperdalam waduk tersebut bakal tak berjalan mudah. Pasalnya, beberapa tempat sudah dihuni masyarakat. Rencananya, warga akan mendapat sosialisasi agar bersedia dipindahkan dari kawasan waduk tersebut.
"Mereka juga, kan, diberi solusi ke Marunda atau di tempat lain. Yang itu juga telah disiapkan mebel-mebelnya, tinggal masuk saja. Nanti saya bikin yang semurah-murahnya karena ini menyangkut sebuah kepentingan, bukan income untuk mendapatkan uang dari sewa itu tidak, tapi ini harus menyelesaikan masalah," tuturnya.
Karena adanya kunjungan Gubernur DKI Jakarta ini, Jalan Muara Baru Raya yang hanya dapat dilalui dua ruas kendaraan mendadak macet karena banyak warga langsung mendatangi sang Gubernur.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Jokowi Tinjau Pasar Ikan
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi membagikan bantuan kepada
warga yang menjadi korban banjir di Pasar Ikan, RT 11, RW 04, Kelurahan
Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.
Jokowi tiba di lokasi tersebut pada Ahad pukul 11.30 WIB dan langsung disambut oleh warga sekitar yang ingin bersalaman. Banjir dengan ketinggian yang bervariasi sudah menggenangi wilayah tersebut sejak Kamis (17/1) lalu dan baru surut pada Rabu (23/1).
Ketinggian air yang merendam rumah warga selama berhari-hari di kawasan tersebut berbeda-beda, yakni mulai dari 40 sentimeter hingga satu meter.
Akan tetapi, bukan hanya banjir yang melanda pemukiman warga, karena setelah banjir surut, wilayah tersebut juga dilanda banjir rob akibat air pasang pada Kamis (24/1).
Di lokasi tersebut, Jokowi membagikan bantuan berupa beras, mie instan, sembako, selimut, uang tunai, buku tulis dan seragam sekolah kepada para korban banjir di wilayah itu.
Hingga berita ini diturunkan, Jokowi masih membagi-bagikan bantuan kepada warga secara langsung satu per satu.
Sumber :
republika.co.id
Jokowi tiba di lokasi tersebut pada Ahad pukul 11.30 WIB dan langsung disambut oleh warga sekitar yang ingin bersalaman. Banjir dengan ketinggian yang bervariasi sudah menggenangi wilayah tersebut sejak Kamis (17/1) lalu dan baru surut pada Rabu (23/1).
Ketinggian air yang merendam rumah warga selama berhari-hari di kawasan tersebut berbeda-beda, yakni mulai dari 40 sentimeter hingga satu meter.
Akan tetapi, bukan hanya banjir yang melanda pemukiman warga, karena setelah banjir surut, wilayah tersebut juga dilanda banjir rob akibat air pasang pada Kamis (24/1).
Di lokasi tersebut, Jokowi membagikan bantuan berupa beras, mie instan, sembako, selimut, uang tunai, buku tulis dan seragam sekolah kepada para korban banjir di wilayah itu.
Hingga berita ini diturunkan, Jokowi masih membagi-bagikan bantuan kepada warga secara langsung satu per satu.
Sumber :
republika.co.id
Jokowi blusukan ke sampah yang menggunung
Gubernur DKI
Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengecek tumpukan sampah yang menggunung di
pinggir Kali Mati, Kelurahan Gedong Panjang, Kecamatan Penjaringan,
Jakarta Utara.
Jokowi meninggalkan rumah dinasnya pada 09.30 WIB dan tiba di lokasi tersebut pada 10.15 WIB.
Mobil Jokowi berhenti di sebelah Halte Busway Pakin, dan tak lama Jokowi melangkah keluar menuju gunungan sampah di pinggir kali tersebut.
Sekitar lima menit, Jokowi berdiri di atas tumpukan karung-karung sampah dan kayu-kayu bekas untuk mengecek kondisi kali yang dipenuhi sampah.
Tak lama kemudian, sebanyak tiga truk sampah milik Pemerintah Provinsi Pemprov) DKI Jakarta tiba di lokasi dan para petugas kebersihan segera membersihkan dan mengangkut sampah itu ke dalam truk.
Selain tiga truk sampah, ada pula satu escavator di pinggir kali tersebut. Namun, escavator itu sudah ada sejak sebelum Jokowi tiba di lokasi.
Dalam tinjauan yang berlangsung sekitar 20 menit tersebut, Jokowi turut didampingi oleh Kepala dinas Kebersihan DKI Jakarta Unu Nurdin.
Sumber :
antaranews.com
Jokowi meninggalkan rumah dinasnya pada 09.30 WIB dan tiba di lokasi tersebut pada 10.15 WIB.
Mobil Jokowi berhenti di sebelah Halte Busway Pakin, dan tak lama Jokowi melangkah keluar menuju gunungan sampah di pinggir kali tersebut.
Sekitar lima menit, Jokowi berdiri di atas tumpukan karung-karung sampah dan kayu-kayu bekas untuk mengecek kondisi kali yang dipenuhi sampah.
Tak lama kemudian, sebanyak tiga truk sampah milik Pemerintah Provinsi Pemprov) DKI Jakarta tiba di lokasi dan para petugas kebersihan segera membersihkan dan mengangkut sampah itu ke dalam truk.
Selain tiga truk sampah, ada pula satu escavator di pinggir kali tersebut. Namun, escavator itu sudah ada sejak sebelum Jokowi tiba di lokasi.
Dalam tinjauan yang berlangsung sekitar 20 menit tersebut, Jokowi turut didampingi oleh Kepala dinas Kebersihan DKI Jakarta Unu Nurdin.
Sumber :
antaranews.com
Hujan Diturunkan di Laut, Jokowi Minta Masyarakat Tetap Waspada
Berbagai upaya dilakukan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk
meminimalkan bencana banjir di Ibu Kota. Salah satunya, dilakukannya
operasi teknologi modifikasi cuaca di atmosfer untuk mendistribusikan
curah hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Kendati demikian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap meminta warga agar waspada banjir. Meskipun potensi hujan besar pada 27 Januari diperkirakan kecil, pasang laut masih di level maksimal 1 meter, tanggul di pantai utara Jakarta juga rawan jebol.
Rekayasa cuaca
Operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) ini merupakan kerja sama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Pesawat Hercules mulai menebar garam dapur di atas Selat Sunda, Sabtu (26/1/2013) pukul 13.32 hingga 15.40, untuk membuat hujan buatan. Hanya sekitar setengah jam setelah 4 ton garam ditebarkan, hujan lebat di atas Selat Sunda pun terjadi.
"Potensi pembentukan awan hujan terpantau radar BPPT berada di atas Selat Sunda, di sebelah barat Kabupaten Pandeglang. Karena itu, pesawat mengarah ke sana untuk menebarkan garam," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan BPPT Heru Widodo.
Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, operasi TMC dilakukan atas perintah Gubernur DKI Jakarta kepada Kepala BNPB, Jumat pekan lalu. BNPB pun segera merespons dan bekerja sama dengan BPPT.
Menurut Heru, Jokowi meminta agar hujan lebat tidak turun di sekitar Puncak dan Jakarta untuk mencegah terjadi banjir di Jakarta.
BPPT kemudian bekerja sama dengan BNPB membuat hujan buatan dan memasang alat pemecah pembentukan awan hujan.
Rekayasa cuaca ini akan dilakukan selama dua bulan, yaitu 26 Januari-25 Maret 2013, sehingga hujan tidak turun di darat, tetapi langsung di laut. Awan juga direkayasa agar terbentuk di atas laut sehingga hujan pun turun di laut.
TMC ditargetkan akan mampu mengurangi hujan di Jakarta sekitar 30 persen. Dana yang dikeluarkan BNPB mencapai Rp 13 miliar.
Hujan buatan akan dilakukan di pesisir utara Jakarta, di sekitar Selat Sunda, serta di pantai selatan bagian barat Pulau Jawa. Pembuatan hujan ini disesuaikan dengan potensi awan hujan yang terbentuk setiap hari selama musim hujan.
BPPT juga mengoperasikan alat pemecah pembentukan awan hujan. Alat ini dipasang pada menara berketinggian sekitar 50 meter dan sudah dioperasikan lima unit di sekitar Puncak dan 20 unit tersebar di Jakarta. Alat ini bekerja berdasarkan pantauan radar cuaca BPPT.
"Jika terjadi potensi pembentukan awan hujan, awan segera dipecahkan sehingga tidak terjadi hujan," kata Heru.
Pelaksanaan TMC di Jakarta dilakukan dengan mengerahkan empat pesawat terbang, yaitu 1 Hercules C-130 TNI AU dan 3 pesawat CASA 212-200.
Pesawat Hercules yang bisa mengangkut 5 ton-6 ton garam disiapkan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Pesawat CASA yang berkapasitas angkut sekitar 1 ton garam disiapkan di Lapangan Pondok Cabe, Tangerang.
"Operasional pesawat tergantung kondisi awan. Jika membutuhkan cukup banyak garam, maka dioperasikan pesawat Hercules," kata Sutopo.
Penanganan banjir
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, banjir di Jakarta hingga kemarin masih menggenangi sejumlah wilayah di delapan kelurahan. Jumlah pengungsi sebanyak 3.330 jiwa.
Jokowi mengatakan akan mengevaluasi status tanggap darurat bencana banjir yang telah berlangsung selama 10 hari dan berakhir pada Minggu ini.
Di tempat-tempat yang masih tergenang banjir, Jokowi juga telah memerintahkan agar mobil-mobil pemadam kebakaran menyedot air. Armada pengangkut sampah juga sudah dikerahkan untuk mengangkut sampah sisa banjir.
Penanganan korban banjir masih terkonsentrasi di Jakarta Utara. Jokowi pun berharap pada Minggu ini tidak turun hujan besar. "Mudah-mudahan tidak ada," ujarnya saat mengunjungi lokasi banjir di Luar Batang, Jakarta Utara.
Berdasarkan data BPBD DKI Jakarta, kemarin, kondisi 10 pintu air masih dalam posisi Siaga IV dan satu pintu air di Pasar Ikan dalam posisi Siaga III dengan ketinggian air 194 sentimeter. Ketinggian air di Pintu Air Pasar Ikan ini yang memengaruhi banjir di Pluit dan wilayah sekitarnya yang berbatasan dengan laut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi, sepanjang akhir pekan ini cuaca di Jakarta dan sekitarnya juga cukup bersahabat. Hujan diperkirakan tetap mengguyur Jabodetabek dengan intensitas ringan hingga lebat. Namun, sebagian besar kawasan Ibu Kota diperkirakan diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.
Kawasan Jakarta Selatan, Depok, dan Tangerang adalah daerah yang diperkirakan bakal diguyur hujan lebat, tetapi pada saat tertentu, seperti siang hari.
Call Center 164
Kendati demikian, Eko Hariadi dari Bagian Humas Komando Tanggap Darurat Bencana Banjir DKI Jakarta meminta warga tetap waspada banjir karena peluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang tetap bisa terjadi secara sporadis di wilayah Jabodetabek.
"Ada pula prediksi pasang laut yang tinggi pada 27 Januari, karena itu warga harus tetap waspada," ujarnya.
Untuk meningkatkan kewaspadaan warga, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah menyiapkan layanan informasi cuaca, banjir, dan kebutuhan di pengungsian. Warga bisa menghubungi Call Center Siaga Bencana di nomor 164.
Pengoperasian pompa
Ahli teknik hidro dan pantai dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Nur Yuwono, mengingatkan, Pemprov DKI Jakarta juga semestinya memperhatikan kesiapan pengoperasian pompa-pompa pengendali banjir.
Katulampa sebagai acuan ancaman banjir di Jakarta harus diikuti pengoperasian semua pompa pengendali banjir di Jakarta.
"Saat ini air di Katulampa tinggi, semua pompa pengendali banjir di Jakarta termasuk di Waduk Pluit harus dioperasikan. Jangan sampai pompa itu lebih dulu terendam banjir sehingga tidak bisa dioperasikan," ujarnya.
Sebagai kawasan yang mengalami penurunan muka tanah cukup tinggi dan berada di bawah permukaan air laut, kawasan Pluit sangat membutuhkan sistem polder yang baik untuk menjaga kawasan tersebut tetap kering.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Kendati demikian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap meminta warga agar waspada banjir. Meskipun potensi hujan besar pada 27 Januari diperkirakan kecil, pasang laut masih di level maksimal 1 meter, tanggul di pantai utara Jakarta juga rawan jebol.
Rekayasa cuaca
Operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) ini merupakan kerja sama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Pesawat Hercules mulai menebar garam dapur di atas Selat Sunda, Sabtu (26/1/2013) pukul 13.32 hingga 15.40, untuk membuat hujan buatan. Hanya sekitar setengah jam setelah 4 ton garam ditebarkan, hujan lebat di atas Selat Sunda pun terjadi.
"Potensi pembentukan awan hujan terpantau radar BPPT berada di atas Selat Sunda, di sebelah barat Kabupaten Pandeglang. Karena itu, pesawat mengarah ke sana untuk menebarkan garam," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan BPPT Heru Widodo.
Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, operasi TMC dilakukan atas perintah Gubernur DKI Jakarta kepada Kepala BNPB, Jumat pekan lalu. BNPB pun segera merespons dan bekerja sama dengan BPPT.
Menurut Heru, Jokowi meminta agar hujan lebat tidak turun di sekitar Puncak dan Jakarta untuk mencegah terjadi banjir di Jakarta.
BPPT kemudian bekerja sama dengan BNPB membuat hujan buatan dan memasang alat pemecah pembentukan awan hujan.
Rekayasa cuaca ini akan dilakukan selama dua bulan, yaitu 26 Januari-25 Maret 2013, sehingga hujan tidak turun di darat, tetapi langsung di laut. Awan juga direkayasa agar terbentuk di atas laut sehingga hujan pun turun di laut.
TMC ditargetkan akan mampu mengurangi hujan di Jakarta sekitar 30 persen. Dana yang dikeluarkan BNPB mencapai Rp 13 miliar.
Hujan buatan akan dilakukan di pesisir utara Jakarta, di sekitar Selat Sunda, serta di pantai selatan bagian barat Pulau Jawa. Pembuatan hujan ini disesuaikan dengan potensi awan hujan yang terbentuk setiap hari selama musim hujan.
BPPT juga mengoperasikan alat pemecah pembentukan awan hujan. Alat ini dipasang pada menara berketinggian sekitar 50 meter dan sudah dioperasikan lima unit di sekitar Puncak dan 20 unit tersebar di Jakarta. Alat ini bekerja berdasarkan pantauan radar cuaca BPPT.
"Jika terjadi potensi pembentukan awan hujan, awan segera dipecahkan sehingga tidak terjadi hujan," kata Heru.
Pelaksanaan TMC di Jakarta dilakukan dengan mengerahkan empat pesawat terbang, yaitu 1 Hercules C-130 TNI AU dan 3 pesawat CASA 212-200.
Pesawat Hercules yang bisa mengangkut 5 ton-6 ton garam disiapkan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Pesawat CASA yang berkapasitas angkut sekitar 1 ton garam disiapkan di Lapangan Pondok Cabe, Tangerang.
"Operasional pesawat tergantung kondisi awan. Jika membutuhkan cukup banyak garam, maka dioperasikan pesawat Hercules," kata Sutopo.
Penanganan banjir
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, banjir di Jakarta hingga kemarin masih menggenangi sejumlah wilayah di delapan kelurahan. Jumlah pengungsi sebanyak 3.330 jiwa.
Jokowi mengatakan akan mengevaluasi status tanggap darurat bencana banjir yang telah berlangsung selama 10 hari dan berakhir pada Minggu ini.
Di tempat-tempat yang masih tergenang banjir, Jokowi juga telah memerintahkan agar mobil-mobil pemadam kebakaran menyedot air. Armada pengangkut sampah juga sudah dikerahkan untuk mengangkut sampah sisa banjir.
Penanganan korban banjir masih terkonsentrasi di Jakarta Utara. Jokowi pun berharap pada Minggu ini tidak turun hujan besar. "Mudah-mudahan tidak ada," ujarnya saat mengunjungi lokasi banjir di Luar Batang, Jakarta Utara.
Berdasarkan data BPBD DKI Jakarta, kemarin, kondisi 10 pintu air masih dalam posisi Siaga IV dan satu pintu air di Pasar Ikan dalam posisi Siaga III dengan ketinggian air 194 sentimeter. Ketinggian air di Pintu Air Pasar Ikan ini yang memengaruhi banjir di Pluit dan wilayah sekitarnya yang berbatasan dengan laut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi, sepanjang akhir pekan ini cuaca di Jakarta dan sekitarnya juga cukup bersahabat. Hujan diperkirakan tetap mengguyur Jabodetabek dengan intensitas ringan hingga lebat. Namun, sebagian besar kawasan Ibu Kota diperkirakan diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.
Kawasan Jakarta Selatan, Depok, dan Tangerang adalah daerah yang diperkirakan bakal diguyur hujan lebat, tetapi pada saat tertentu, seperti siang hari.
Call Center 164
Kendati demikian, Eko Hariadi dari Bagian Humas Komando Tanggap Darurat Bencana Banjir DKI Jakarta meminta warga tetap waspada banjir karena peluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang tetap bisa terjadi secara sporadis di wilayah Jabodetabek.
"Ada pula prediksi pasang laut yang tinggi pada 27 Januari, karena itu warga harus tetap waspada," ujarnya.
Untuk meningkatkan kewaspadaan warga, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah menyiapkan layanan informasi cuaca, banjir, dan kebutuhan di pengungsian. Warga bisa menghubungi Call Center Siaga Bencana di nomor 164.
Pengoperasian pompa
Ahli teknik hidro dan pantai dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Nur Yuwono, mengingatkan, Pemprov DKI Jakarta juga semestinya memperhatikan kesiapan pengoperasian pompa-pompa pengendali banjir.
Katulampa sebagai acuan ancaman banjir di Jakarta harus diikuti pengoperasian semua pompa pengendali banjir di Jakarta.
"Saat ini air di Katulampa tinggi, semua pompa pengendali banjir di Jakarta termasuk di Waduk Pluit harus dioperasikan. Jangan sampai pompa itu lebih dulu terendam banjir sehingga tidak bisa dioperasikan," ujarnya.
Sebagai kawasan yang mengalami penurunan muka tanah cukup tinggi dan berada di bawah permukaan air laut, kawasan Pluit sangat membutuhkan sistem polder yang baik untuk menjaga kawasan tersebut tetap kering.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Sabtu, 26 Januari 2013
Jokowi Akan Audit Seluruh Bangunan di Jakarta
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dalam waktu dekat akan melakukan audit
terhadap seluruh bangunan di Jakarta. Hal ini ia lakukan untuk
menanggulangi banjir yang kerap terjadi di Ibu Kota.
"Semuanya akan kita audit dan kita lakukan setelah banjir. Baik di perumahan, mal, kantor, dan semuanya," kata Jokowi, seusai meninjau banjir di Luar Batang, Jakarta Utara, Sabtu (26/1/2013).
Untuk mewujudkan hal tersebut, Jokowi sudah mempersiapkan Pergub yang lebih detail dan konkrit. Salah satu pergub tersebut akan mewajibkan semua bangunan yang didirikan atau bangunan yang sudah jadi, harus memiliki resapan air dengan kedalaman 20-250 meter.
"Pergub tentang Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) akan diperketat bagi bangunan gedung, apartemen, kantor, dan mal. Jadi, setiap ijin bangunan harus dilampirkan juga sumur resapannya berapa meter, detail, komplit, dan sumur resapannya berjarak 100-200 meter. Apa yang di harapkan kalau sumur resapannya cuma 1 meter," kata Jokowi.
Kepala Dinas Pengawasan dan Penataan Bangunan DKI I Putu Ngurah Indiana membenarkan bahwa dalam waktu dekat akan ada Pergub terkait izin mendirikan bangunan, yaitu terkait sumur resapan. Menurutnyan aturan tersebut sudah ada sejak dalam Sertifikat Layak Fungsi (SLF) ketika dikeluarkan izin mendirikan bangunan.
"Kalau sumur serapan dibuat menjadi setiap 100-200 meter pada setiap bangunan maka jelas sangat efektif untuk menyelesaikan persoalan banjir," kata Putu.
Saat ini, kata Putu, setiap pengembang juga telah bersedia untuk menjalankan aturan tersebut apabila pergubnya telah dikeluarkan. Menurut Putu, pengembang melihat sumur resapan hingga kedalaman 250 meter juga dapat mencegah banjir di lokasi pengembang.
"Pengembang menyambut baik rencana tersebut jika memang dijalankan. Hanya saja perlu diperhatikan juga bagian atasnya untuk dirapihkan sehingga tidak longsor di kemudian harinya," tutur Putu.
Sumber :
tribunnews.com
"Semuanya akan kita audit dan kita lakukan setelah banjir. Baik di perumahan, mal, kantor, dan semuanya," kata Jokowi, seusai meninjau banjir di Luar Batang, Jakarta Utara, Sabtu (26/1/2013).
Untuk mewujudkan hal tersebut, Jokowi sudah mempersiapkan Pergub yang lebih detail dan konkrit. Salah satu pergub tersebut akan mewajibkan semua bangunan yang didirikan atau bangunan yang sudah jadi, harus memiliki resapan air dengan kedalaman 20-250 meter.
"Pergub tentang Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) akan diperketat bagi bangunan gedung, apartemen, kantor, dan mal. Jadi, setiap ijin bangunan harus dilampirkan juga sumur resapannya berapa meter, detail, komplit, dan sumur resapannya berjarak 100-200 meter. Apa yang di harapkan kalau sumur resapannya cuma 1 meter," kata Jokowi.
Kepala Dinas Pengawasan dan Penataan Bangunan DKI I Putu Ngurah Indiana membenarkan bahwa dalam waktu dekat akan ada Pergub terkait izin mendirikan bangunan, yaitu terkait sumur resapan. Menurutnyan aturan tersebut sudah ada sejak dalam Sertifikat Layak Fungsi (SLF) ketika dikeluarkan izin mendirikan bangunan.
"Kalau sumur serapan dibuat menjadi setiap 100-200 meter pada setiap bangunan maka jelas sangat efektif untuk menyelesaikan persoalan banjir," kata Putu.
Saat ini, kata Putu, setiap pengembang juga telah bersedia untuk menjalankan aturan tersebut apabila pergubnya telah dikeluarkan. Menurut Putu, pengembang melihat sumur resapan hingga kedalaman 250 meter juga dapat mencegah banjir di lokasi pengembang.
"Pengembang menyambut baik rencana tersebut jika memang dijalankan. Hanya saja perlu diperhatikan juga bagian atasnya untuk dirapihkan sehingga tidak longsor di kemudian harinya," tutur Putu.
Sumber :
tribunnews.com
Jokowi Akan Lanjutkan Proyek Gagasan Foke
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo akan mempercepat proyek gagasan
mantan Gubernur Fauzi Bowo, yakni Jakarta Emergency Dredging Initiative
(JEDI). Proyek JEDI ini merupakan upaya pengendalian banjir melalui
normalisasi dan pengerukan 13 sungai di Jakarta.
"Pokoknya Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2013 digedok, proyeknya langsung kita mulai," kata Jokowi, seusai meninjau lokasi banjir Luar Batang, Penjaringan, Jakarta, Sabtu (26/1/2013).
Jokowi mengatakan program tersebut telah diajukan dalam Rancangan APBD 2013 dan telah dijadwalkan disahkan pada 28 Januari 2013 pukul 13.00 WIB. Namun Jokowi enggan menjelaskan lebih lanjut terkait anggaran yang digelontorkan oleh Pemprov DKI terkait realisasi proyek tersebut.
"Mungkin Rp 1 triliun sekian. Pokoknya nanti semua itu untuk menjadi pagar yang lama menjadi pagar baru di sungai dan untuk pengerukan. Kita juga pakai sistem sedot jadi lebih bersih," kata Jokowi.
Fauzi Bowo telah menggagas proyek itu sejak tahun 2008 untuk menanggulangi banjir. Realisasi proyek JEDI dilakukan secara bertahap dan dibagi dalam tujuh paket pengerjaan. Dari tujuh paket itu, tiga paket dikerjakan Pemprov DKI, dua oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) dan dua lainnya oleh Cipta Karya lewat bantuan dana Bank Dunia.
Pengajuan pinjaman ke Bank Dunia sebenarnya sudah sejak tahun 2008 namun karena masalah birokrasi, realisasinya baru tahun 2012 lalu. Tender proyek JEDI pun telah berjalan dengan melibatkan 14 perusahaan termasuk dari Korea, Cina, India, dan Taiwan.
Secara keseluruhan proyek JEDI meliputi 57 kelurahan di 4 wilayah DKI Jakarta, yakni di Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur. Proyek JEDI ini diharapkan mampu membebaskan pemukiman warga dari banjir.
Secara rinci, proyek JEDI ini juga meliputi daerah kumuh di sepanjang Kanal Banjir Barat (KBB), Pakin, Kali Besar, Jelakeng, Sunter Hulu, Krukut-Cideng dengan populasi penduduk sekitar 173.000 jiwa. Sementara itu, lumpur yang telah dikeruk akan ditiriskan, kemudian dibuang ke kawasan Ancol menggunakan truk kedap air. Sedangkan sampahnya dibuang ke TPA Bantargebang.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
"Pokoknya Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2013 digedok, proyeknya langsung kita mulai," kata Jokowi, seusai meninjau lokasi banjir Luar Batang, Penjaringan, Jakarta, Sabtu (26/1/2013).
Jokowi mengatakan program tersebut telah diajukan dalam Rancangan APBD 2013 dan telah dijadwalkan disahkan pada 28 Januari 2013 pukul 13.00 WIB. Namun Jokowi enggan menjelaskan lebih lanjut terkait anggaran yang digelontorkan oleh Pemprov DKI terkait realisasi proyek tersebut.
"Mungkin Rp 1 triliun sekian. Pokoknya nanti semua itu untuk menjadi pagar yang lama menjadi pagar baru di sungai dan untuk pengerukan. Kita juga pakai sistem sedot jadi lebih bersih," kata Jokowi.
Fauzi Bowo telah menggagas proyek itu sejak tahun 2008 untuk menanggulangi banjir. Realisasi proyek JEDI dilakukan secara bertahap dan dibagi dalam tujuh paket pengerjaan. Dari tujuh paket itu, tiga paket dikerjakan Pemprov DKI, dua oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) dan dua lainnya oleh Cipta Karya lewat bantuan dana Bank Dunia.
Pengajuan pinjaman ke Bank Dunia sebenarnya sudah sejak tahun 2008 namun karena masalah birokrasi, realisasinya baru tahun 2012 lalu. Tender proyek JEDI pun telah berjalan dengan melibatkan 14 perusahaan termasuk dari Korea, Cina, India, dan Taiwan.
Secara keseluruhan proyek JEDI meliputi 57 kelurahan di 4 wilayah DKI Jakarta, yakni di Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur. Proyek JEDI ini diharapkan mampu membebaskan pemukiman warga dari banjir.
Secara rinci, proyek JEDI ini juga meliputi daerah kumuh di sepanjang Kanal Banjir Barat (KBB), Pakin, Kali Besar, Jelakeng, Sunter Hulu, Krukut-Cideng dengan populasi penduduk sekitar 173.000 jiwa. Sementara itu, lumpur yang telah dikeruk akan ditiriskan, kemudian dibuang ke kawasan Ancol menggunakan truk kedap air. Sedangkan sampahnya dibuang ke TPA Bantargebang.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Jokowi: Bisa saja gelar sekaten Maulid di Jakarta
Ketika masih menjadi wali kota Solo, Joko Widodo (Jokowi) sering hadir dalam perayaan meriah sekaten saat peringatan Maulid Nabi Muhammad. Gubernur DKI Jakarta itu juga berencana akan mengelar acara tersebut di Ibu Kota.
"Yah, itu bisa, bisa saja. Itu kan tradisi sejak zaman keratonan dulu banget, yah bisa-bisa aja," kata Jokowi saat memberikan bantuan di SDN Penjaringan 01/02, Jakarta, Sabtu (26/1).
Jokowi hanya menjawab datar ketika disinggung kerinduan kemeriahan acara sekaten di Solo. "Ah enggak biasa-biasa sajalah, tidak ada rindu itu," ujar Jokowi sambil tersenyum.
Seperti diketahui, Jokowi dikenal sebagai pria yang akrab dengan budaya dan seni. Sebelumnya Jokowi berhasil memeriahkan malam pergantian tahun saat menggelar Jakarta Night Festival atau Car Free Night di kawasan Sudirman-Thamrin.
Sumber :
merdeka.com
"Yah, itu bisa, bisa saja. Itu kan tradisi sejak zaman keratonan dulu banget, yah bisa-bisa aja," kata Jokowi saat memberikan bantuan di SDN Penjaringan 01/02, Jakarta, Sabtu (26/1).
Jokowi hanya menjawab datar ketika disinggung kerinduan kemeriahan acara sekaten di Solo. "Ah enggak biasa-biasa sajalah, tidak ada rindu itu," ujar Jokowi sambil tersenyum.
Seperti diketahui, Jokowi dikenal sebagai pria yang akrab dengan budaya dan seni. Sebelumnya Jokowi berhasil memeriahkan malam pergantian tahun saat menggelar Jakarta Night Festival atau Car Free Night di kawasan Sudirman-Thamrin.
Sumber :
merdeka.com
Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) kagum dengan warga di Penjaringan,
Jakarta Utara, yang antre untuk mendapatkan bantuan banjir. Jokowi akan
menambah bantuan untuk warga Penjaringan.
"Karena antrenya bagus, saya tambahin lagi (bantuan). Sebenarnya stok kita banyak sekali, kalau barisnya rapi ditambah," ujar Jokowi.
Jokowi mengatakan itu usai memberikan bantuan di SDN 01/02 Penjaringan, Jl Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (26/1/2013).
Jokowi menilai, masyarakat harus berbaris rapih untuk mendapatkan bantuan. Jika tidak rapih, maka Jokowi akan kesulitan membagikan bantuan.
"Mana SD, mana SMP, SMA, laki, perempuan saja kita juga bingung. Soalnya ngantrinya kan tidak runtut," kata Jokowi yang membagikan seragam SMP itu.
Jokowi menambahkan, bantuan bisa langsung diberikannya. Bisa juga melalui RT dan RW.
"Pokoknya biar melimpah. Kita ingin setiap mobil bantuan yang datang saya ingin langsung menyalurkan ke masyarakat. Makanya juga tidak hanya melihat berseliwerannya mobil bantuan tapi mereka juga merasakan ada bantuan datang," kata suami Iriana itu.
Sumber :
news.detik.com
"Karena antrenya bagus, saya tambahin lagi (bantuan). Sebenarnya stok kita banyak sekali, kalau barisnya rapi ditambah," ujar Jokowi.
Jokowi mengatakan itu usai memberikan bantuan di SDN 01/02 Penjaringan, Jl Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (26/1/2013).
Jokowi menilai, masyarakat harus berbaris rapih untuk mendapatkan bantuan. Jika tidak rapih, maka Jokowi akan kesulitan membagikan bantuan.
"Mana SD, mana SMP, SMA, laki, perempuan saja kita juga bingung. Soalnya ngantrinya kan tidak runtut," kata Jokowi yang membagikan seragam SMP itu.
Jokowi menambahkan, bantuan bisa langsung diberikannya. Bisa juga melalui RT dan RW.
"Pokoknya biar melimpah. Kita ingin setiap mobil bantuan yang datang saya ingin langsung menyalurkan ke masyarakat. Makanya juga tidak hanya melihat berseliwerannya mobil bantuan tapi mereka juga merasakan ada bantuan datang," kata suami Iriana itu.
Sumber :
news.detik.com
Jokowi Bagikan Seragam di SDN Penjaringan
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo membagikan bantuan kepada korban
banjir di Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (26/1/2013).
Selain memberikan bantuan di Masjid Keramat Luar Batang, pria yang akrab
disapa Jokowi itu juga memberikan bantuan kepada warga yang mengungsi
di SDN Penjaringan 01/02.
Di SD tersebut, Jokowi memberikan bantuan berupa seragam sekolah putih biru atau yang biasa dipakai oleh siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berdasarkan pantauan Kompas.com, mulai dari anak-anak sekitar umur lima tahun hingga remaja mengantre untuk mendapatkan seragam sekolah tersebut.
Ada juga seorang ibu yang mengambil seragam itu dan mengaku bahwa baju seragam itu akan dipakainya sendiri karena pas di badannya. "Ternyata cukup pas saya pakai ini roknya. Mendingan buat saya saja, anak saya cowok semua ini," kata Ani (56), kepada Kompas.com, di lokasi, Sabtu (26/1/2013).
Saat ditanyakan hal itu kepada Jokowi, ia mengaku sulit membedakan seragam mana untuk siswa SD, siswa SMP, maupun SMA karena baju-baju itu masih di dalam karung. "Ya, enggak mungkin. Cara seperti itu kan sulit ya di dalam karung, mana SD, mana SMP, SMA, laki-laki, perempuan, kitanya juga bingung," kata Jokowi.
Jokowi juga menyerahkan bantuan berupa beras lima ton, sembako, mi instan, handuk, selimut, dan uang tunai. Bantuan itu, kata Jokowi, akan terus ia tambah seiring dengan semakin memprihatinkannya kondisi warga korban banjir. "Pokoknya akan kita tambah lagi. Sebetulnya stok kita banyak sekali. Asal mau rapi seperti ini sampai malam pun, tak ladenin," kata Jokowi.
Banjir menerjang kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, sejak Kamis 17 Januari lalu. Ratusan rumah terendam dan kawasan ini berubah menjadi kolam renang raksasa. Ketinggian air yang merata tak menyisakan sedikit pun areal yang kering. Kondisi itu diperparah dengan menumpuknya sampah di pintu air Pluit.
Belum surutnya ketinggian air yang menggenangi kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, diduga akibat terjadinya air pasang dari laut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan ketinggian curah hujan akan terus naik hingga 27 Januari mendatang saat bulan purnama.
Saat itu kondisi laut diperkirakan mengalami pasang, sehingga pasokan air darat diperkirkan sulit masuk ke laut. Akibatnya, di beberapa daerah diperkirakan terjadi banjir rob cukup tinggi. Seperti diketahui, tiga perempat wilayah Jakarta Utara berada di bawah permukaan laut.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Di SD tersebut, Jokowi memberikan bantuan berupa seragam sekolah putih biru atau yang biasa dipakai oleh siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berdasarkan pantauan Kompas.com, mulai dari anak-anak sekitar umur lima tahun hingga remaja mengantre untuk mendapatkan seragam sekolah tersebut.
Ada juga seorang ibu yang mengambil seragam itu dan mengaku bahwa baju seragam itu akan dipakainya sendiri karena pas di badannya. "Ternyata cukup pas saya pakai ini roknya. Mendingan buat saya saja, anak saya cowok semua ini," kata Ani (56), kepada Kompas.com, di lokasi, Sabtu (26/1/2013).
Saat ditanyakan hal itu kepada Jokowi, ia mengaku sulit membedakan seragam mana untuk siswa SD, siswa SMP, maupun SMA karena baju-baju itu masih di dalam karung. "Ya, enggak mungkin. Cara seperti itu kan sulit ya di dalam karung, mana SD, mana SMP, SMA, laki-laki, perempuan, kitanya juga bingung," kata Jokowi.
Jokowi juga menyerahkan bantuan berupa beras lima ton, sembako, mi instan, handuk, selimut, dan uang tunai. Bantuan itu, kata Jokowi, akan terus ia tambah seiring dengan semakin memprihatinkannya kondisi warga korban banjir. "Pokoknya akan kita tambah lagi. Sebetulnya stok kita banyak sekali. Asal mau rapi seperti ini sampai malam pun, tak ladenin," kata Jokowi.
Banjir menerjang kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, sejak Kamis 17 Januari lalu. Ratusan rumah terendam dan kawasan ini berubah menjadi kolam renang raksasa. Ketinggian air yang merata tak menyisakan sedikit pun areal yang kering. Kondisi itu diperparah dengan menumpuknya sampah di pintu air Pluit.
Belum surutnya ketinggian air yang menggenangi kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, diduga akibat terjadinya air pasang dari laut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan ketinggian curah hujan akan terus naik hingga 27 Januari mendatang saat bulan purnama.
Saat itu kondisi laut diperkirakan mengalami pasang, sehingga pasokan air darat diperkirkan sulit masuk ke laut. Akibatnya, di beberapa daerah diperkirakan terjadi banjir rob cukup tinggi. Seperti diketahui, tiga perempat wilayah Jakarta Utara berada di bawah permukaan laut.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Jokowi: Semoga Besok Enggak Banjir
Puncak pasang air laut diperkirakan akan terjadi pada 27 Januari 2013,
besok. Posisi tertinggi air laut akan mencapai 100-110 sentimeter di
atas kondisi normal. Daerah yang mendapat luapan air tersebut adalah
Jakarta Utara, dikarenakan wilayah itu berada 40 persen di bawah
permukaan air laut.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur DKI Joko Widodo berharap banjir rob dan luapan air laut tidak terjadi.
"Moga-moga enggak ada, Ya mudah-mudahan tidak ada," kata Jokowi saat mengunjungi korban banjir di Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (26/7/2013).
Selanjutnya, kata Jokowi, Pemerintah Provinsi DKI akan mengoreksi semua kekurangan saat tanggap darurat banjir Jakarta sejak sembilan hari lalu, tepatnya 17 Januari hingga 27 Januari 2013.
"Kalau sudah rampung semuanya baru kita evaluasi (tanggap darurat), koreksi-koreksi lah," pungkasnya.
Sumber :
okezone.com
Menanggapi hal tersebut, Gubernur DKI Joko Widodo berharap banjir rob dan luapan air laut tidak terjadi.
"Moga-moga enggak ada, Ya mudah-mudahan tidak ada," kata Jokowi saat mengunjungi korban banjir di Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (26/7/2013).
Selanjutnya, kata Jokowi, Pemerintah Provinsi DKI akan mengoreksi semua kekurangan saat tanggap darurat banjir Jakarta sejak sembilan hari lalu, tepatnya 17 Januari hingga 27 Januari 2013.
"Kalau sudah rampung semuanya baru kita evaluasi (tanggap darurat), koreksi-koreksi lah," pungkasnya.
Sumber :
okezone.com
Cegah Banjir, Jokowi Minta BNPB Tabur Garam di Awan Jakarta
Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) kagum dengan warga di Penjaringan,
Jakarta Utara, yang antre untuk mendapatkan bantuan banjir. Jokowi akan
menambah bantuan untuk warga Penjaringan.
"Karena antrenya bagus, saya tambahin lagi (bantuan). Sebenarnya stok kita banyak sekali, kalau barisnya rapi ditambah," ujar Jokowi.
Jokowi mengatakan itu usai memberikan bantuan di SDN 01/02 Penjaringan, Jl Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (26/1/2013).
Jokowi menilai, masyarakat harus berbaris rapih untuk mendapatkan bantuan. Jika tidak rapih, maka Jokowi akan kesulitan membagikan bantuan.
"Mana SD, mana SMP, SMA, laki, perempuan saja kita juga bingung. Soalnya ngantrinya kan tidak runtut," kata Jokowi yang membagikan seragam SMP itu.
Jokowi menambahkan, bantuan bisa langsung diberikannya. Bisa juga melalui RT dan RW.
"Pokoknya biar melimpah. Kita ingin setiap mobil bantuan yang datang saya ingin langsung menyalurkan ke masyarakat. Makanya juga tidak hanya melihat berseliwerannya mobil bantuan tapi mereka juga merasakan ada bantuan datang," kata suami Iriana itu.
Sumber :
news.detik.com
"Karena antrenya bagus, saya tambahin lagi (bantuan). Sebenarnya stok kita banyak sekali, kalau barisnya rapi ditambah," ujar Jokowi.
Jokowi mengatakan itu usai memberikan bantuan di SDN 01/02 Penjaringan, Jl Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (26/1/2013).
Jokowi menilai, masyarakat harus berbaris rapih untuk mendapatkan bantuan. Jika tidak rapih, maka Jokowi akan kesulitan membagikan bantuan.
"Mana SD, mana SMP, SMA, laki, perempuan saja kita juga bingung. Soalnya ngantrinya kan tidak runtut," kata Jokowi yang membagikan seragam SMP itu.
Jokowi menambahkan, bantuan bisa langsung diberikannya. Bisa juga melalui RT dan RW.
"Pokoknya biar melimpah. Kita ingin setiap mobil bantuan yang datang saya ingin langsung menyalurkan ke masyarakat. Makanya juga tidak hanya melihat berseliwerannya mobil bantuan tapi mereka juga merasakan ada bantuan datang," kata suami Iriana itu.
Sumber :
news.detik.com
Jokowi Persilakan Pemerintah Pusat Evaluasi Tata Ruang
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengizinkan pemerintah pusat
untuk melakukan evaluasi terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI
Jakarta.
"Evaluasi ini perlu agar pembangunan bisa terus berjalan beriringan dengan pemerintah pusat. Sehingga, targetnya tercapai," kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat.
Menurut Jokowi, evaluasi RTRW tersebut akan dilakukan terhadap enam daerah, antara lain Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Cianjur (Jabodetabekjur).
"Dalam evaluasi tersebut, akan dilihat apakah pelaksanaan Koefisien Dasar Hijau (KDH) dan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) sudah sesuai dengan peraturan RTRW daerah," ujar Jokowi.
Jokowi menuturkan jika hasil evaluasi menunjukkan adanya pelanggaran undang-undang, maka akan diberikan sanksi yang bervariasi, mulai dari administratif hingga pidana.
"Berbagai jenis sanksi tersebut akan diberikan kepada pihak pelanggar atau pihak terkait, seperti pemberian izin pendirian bangunan dan pemilik bangunan itu sendiri," katanya.
Jokowi mengharapkan agar evaluasi RTRW tersebut dapat diselesaikan seluruhnya pada akhir 2013.
Evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat itu merupakan amanat dari Undang-undang Nomor 26 Tahun 2017 Tentang Penataan Ruang.
Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa pemerintah harus melakukan audit peraturan daerah tata ruang dan implementasinya secara rutin per lima tahun.
Sumber :
http://www.republika.co.id
"Evaluasi ini perlu agar pembangunan bisa terus berjalan beriringan dengan pemerintah pusat. Sehingga, targetnya tercapai," kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat.
Menurut Jokowi, evaluasi RTRW tersebut akan dilakukan terhadap enam daerah, antara lain Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Cianjur (Jabodetabekjur).
"Dalam evaluasi tersebut, akan dilihat apakah pelaksanaan Koefisien Dasar Hijau (KDH) dan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) sudah sesuai dengan peraturan RTRW daerah," ujar Jokowi.
Jokowi menuturkan jika hasil evaluasi menunjukkan adanya pelanggaran undang-undang, maka akan diberikan sanksi yang bervariasi, mulai dari administratif hingga pidana.
"Berbagai jenis sanksi tersebut akan diberikan kepada pihak pelanggar atau pihak terkait, seperti pemberian izin pendirian bangunan dan pemilik bangunan itu sendiri," katanya.
Jokowi mengharapkan agar evaluasi RTRW tersebut dapat diselesaikan seluruhnya pada akhir 2013.
Evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat itu merupakan amanat dari Undang-undang Nomor 26 Tahun 2017 Tentang Penataan Ruang.
Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa pemerintah harus melakukan audit peraturan daerah tata ruang dan implementasinya secara rutin per lima tahun.
Sumber :
http://www.republika.co.id
Jumat, 25 Januari 2013
Jokowi Jadi Rebutan Tamu Maulid Nabi di Istana
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ikut hadir dalam peringatan Maulid Nabi
Muhammad SAW 1434 Hijriah di Istana Negara, Jakarta, Jumat malam, 25
Januari 2013. Sejak pukul 19.30 WIB, dia sudah terlihat duduk di bangku
yang disusun berbaris menunggu peringatan dimulai.
Jokowi--sapaan Joko Widodo--yang mengenakan kemeja putih bercorak dipadu jas dan kopiah hitam, terlihat beberapa kali dihampiri sejumlah tamu undangan yang sama-sama menunggu acara dimulai. Pria-wanita tamu undangan itu meminta foto bersama dengan mantan Wali Kota Solo itu.
Tak canggung, Jokowi menerima permintaan fan-nya itu. Sambil tersenyum, ia "melayani" keinginan tamu undangan untuk mengabadikan momen bersama. Bahkan beberapa di antara tamu undangan hanya mengabadikan foto Jokowi tanpa mereka ada di samping si Gubernur.
Adapun peringatan Maulid Nabi di Istana dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Rangkaian peringatan dimulai pukul 20.00 WIB. Presiden SBY dijadwalkan memberikan sambutan pada pukul 21.00 hingga 45 menit setelahnya.
Hingga pukul 19.30, sejumlah tamu undangan sudah terlihat duduk berbaris di dalam Istana Negara. Mereka menunggu peringatan dimulai. Adapun sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, pejabat negara, dan perwakilan negara lain juga diagendakan menghadiri peringatan ini.
Sumber :
www.tempo.co
Jokowi--sapaan Joko Widodo--yang mengenakan kemeja putih bercorak dipadu jas dan kopiah hitam, terlihat beberapa kali dihampiri sejumlah tamu undangan yang sama-sama menunggu acara dimulai. Pria-wanita tamu undangan itu meminta foto bersama dengan mantan Wali Kota Solo itu.
Tak canggung, Jokowi menerima permintaan fan-nya itu. Sambil tersenyum, ia "melayani" keinginan tamu undangan untuk mengabadikan momen bersama. Bahkan beberapa di antara tamu undangan hanya mengabadikan foto Jokowi tanpa mereka ada di samping si Gubernur.
Adapun peringatan Maulid Nabi di Istana dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Rangkaian peringatan dimulai pukul 20.00 WIB. Presiden SBY dijadwalkan memberikan sambutan pada pukul 21.00 hingga 45 menit setelahnya.
Hingga pukul 19.30, sejumlah tamu undangan sudah terlihat duduk berbaris di dalam Istana Negara. Mereka menunggu peringatan dimulai. Adapun sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, pejabat negara, dan perwakilan negara lain juga diagendakan menghadiri peringatan ini.
Sumber :
www.tempo.co
Hadapi 27 Januari, Jokowi Minta Siapkan Batu Pasir
Untuk mengantisipasi dan menghadapi perkiraan bencana banjir bandang
melanda Jakarta pada 27 Januari, Gubernur DKI Joko Widodo meminta para
wali kota, camat, dan lurah di lingkup Pemprov DKI wajib menyiapkan batu
dan pasir di wilayah masing-masing sebagai upaya mengantisipasi banjir.
Artinya, jangan sampai banjir sudah terjadi, baru para wali kota, camat, dan lurah, termasuk gubernurnya, sibuk mencari batu dan pasir. Ini terjadi pada peristiwa banjir di kawasan Menteng dan sekitarnya akibat jebolnya tanggul Kali Ciliwung di Jalan Latuharhari, Jakarta Pusat, Kamis (17/1).
Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan peringatan tersebut dalam setiap memberikan pengarahan kepada segenap lurah, camat, wali kota, dan instansi terkait dalam penanganan banjir, termasuk warga, saat gubernur blusukan.
Jokowi di Balai Kota DKI, Jumat (25/1), menyatakan sebagai peringatan bagi semua pejabat unit terkait di lingkup pemprov dan jajaran perlu bertindak cerdas dan cepat mencari solusi bila terjadi banjir maupun bencana lain.
Peringatan Jokowi itu agar Pemprov DKI mampu menangani banjir walau datangnya mendadak. Jadi, tidak terulang lagi kasus jebolnya tanggul Kali Ciliwung yang airnya hampir mencapai Istana Negara.
Jokowi mengingatkan semua pihak, khususnya warga Jakarta, agar saling membahu untuk mengatasi banjir dengan mempersiapkan material seperti batu dan pasir. Pemprov sendiri tidak punya batu dan pasir, karena pertambangan ada di luar Jakarta.
"Perlu saya tekankan, jangan sampai terlambat mempersiapkan material yang dibutuhkan jika terjadi bencana banjir di Jakarta pada 27 nanti sesuai perkiraan Badan Meteorologi Geofisika dan Klimatologi (BMKG) akan terjadi hujan besar menimpa Jakarta dan rob naik dari laut," ujarnya.
Selain itu, komunikasi di lapangan harus intensif dilakukan. "Lurah bisa mengadu ke saya. Camat enggak usah takut. Bisa telepon ke saya kalau ada hal yang sangat penting. Wali kota juga agar tidak terlambat dan yang paling penting korban banjir harus diutamakan. Rakyat itu manusia harus prioritas penanganannya," ujar Jokowi.
Gubernur menambahkan pihaknya juga sudah meminta BPPT agar memindahkan awan bakal hujan dari arah selatan Jakarta (Bogor dan Depok) ke daerah lain agar hujan terhindar dari Jakarta.
Sumber :
metrotvnews.com
Artinya, jangan sampai banjir sudah terjadi, baru para wali kota, camat, dan lurah, termasuk gubernurnya, sibuk mencari batu dan pasir. Ini terjadi pada peristiwa banjir di kawasan Menteng dan sekitarnya akibat jebolnya tanggul Kali Ciliwung di Jalan Latuharhari, Jakarta Pusat, Kamis (17/1).
Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan peringatan tersebut dalam setiap memberikan pengarahan kepada segenap lurah, camat, wali kota, dan instansi terkait dalam penanganan banjir, termasuk warga, saat gubernur blusukan.
Jokowi di Balai Kota DKI, Jumat (25/1), menyatakan sebagai peringatan bagi semua pejabat unit terkait di lingkup pemprov dan jajaran perlu bertindak cerdas dan cepat mencari solusi bila terjadi banjir maupun bencana lain.
Peringatan Jokowi itu agar Pemprov DKI mampu menangani banjir walau datangnya mendadak. Jadi, tidak terulang lagi kasus jebolnya tanggul Kali Ciliwung yang airnya hampir mencapai Istana Negara.
Jokowi mengingatkan semua pihak, khususnya warga Jakarta, agar saling membahu untuk mengatasi banjir dengan mempersiapkan material seperti batu dan pasir. Pemprov sendiri tidak punya batu dan pasir, karena pertambangan ada di luar Jakarta.
"Perlu saya tekankan, jangan sampai terlambat mempersiapkan material yang dibutuhkan jika terjadi bencana banjir di Jakarta pada 27 nanti sesuai perkiraan Badan Meteorologi Geofisika dan Klimatologi (BMKG) akan terjadi hujan besar menimpa Jakarta dan rob naik dari laut," ujarnya.
Selain itu, komunikasi di lapangan harus intensif dilakukan. "Lurah bisa mengadu ke saya. Camat enggak usah takut. Bisa telepon ke saya kalau ada hal yang sangat penting. Wali kota juga agar tidak terlambat dan yang paling penting korban banjir harus diutamakan. Rakyat itu manusia harus prioritas penanganannya," ujar Jokowi.
Gubernur menambahkan pihaknya juga sudah meminta BPPT agar memindahkan awan bakal hujan dari arah selatan Jakarta (Bogor dan Depok) ke daerah lain agar hujan terhindar dari Jakarta.
Sumber :
metrotvnews.com
Jokowi Minta BPPT Pindahkan Hujan ke Laut, BMKG Ragu
Permintaan Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) kepada Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk memindahkan hujan ke laut guna
mencegah banjir diragukan oleh Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Mulyono Prabowo.
Sebelumnya, dikabarkan bahwa prediksi akan Jakarta diguyur hujan lebat dan laut pasang akibat bulan purnama pada 27 Januari nanti. Faktor gabungan itu, diwaspadai curah hujan tinggi saat terjadi pasang air laut sehingga menimbulkan air yang ada di darat tidak bisa terbuang ke laut.
"Jika ditambah dengan gelombang besar maka akan menimbulkan rob," kata Profesor Riset Astronomi Astrofisika LAPAN, Thomas Jamaluddin kepada Suara Merdeka, Jumat (25/1).
Sementara, Mulyono dalam wawancaranya di Jakarta, Jumat (25/1), mengatakan, secara teknis tidak ada cara memindahkan kawanan awan ke laut. Yang ada adalah dengan mempercepat atau menunda hujan. "Setahu saya tidak ada cara memindahkan hujan dari awan ke laut. Karena tak mungkin kita membungkus awan lalu menyeretnya ke atas lautan," katanya.
Menurutnya, yang ada adalah dengan mempercepat turunnya hujan dengan menaburi awan dengan bahan hidroskopis berupa garam yang lembut yang nantinya menarik uap air sehingga bergabung menjadi butiran air yang semakin lama semakin berat hingga terjadilah hujan.
Namun, Mulyono menjelaskan, memindah hujan ke laut kemungkinan kecil karena itu tergantung pada datangnya awan. "Misalnya saja bila awan berasal dari Kepulauan Seribu, kita mungkin aja mempercepat hujan dengan menurunkannya di lautan sebelum ia sampai ke Jakarta. Namun, bila awan berasal dari arah selatan atau timur, percuma saja karena hujan tetap akan masuk ke Jakarta," paparnya.
Mulyono juga mengungkapkan banjir bisa karena permukaan tanah yang tidak dapat menyerap air dengan baik. "Banjir tidak sepenuhnya disebabkan hujan yang turun, tapi juga karena permukaan wilayah yang mampat atau tidak bisa menyerap air dengan baik. Alhasil, air yang tertampung pun bukan terserap, melainkan mengalir," ungkapnya.
Sumber :
suaramerdeka.com
Sebelumnya, dikabarkan bahwa prediksi akan Jakarta diguyur hujan lebat dan laut pasang akibat bulan purnama pada 27 Januari nanti. Faktor gabungan itu, diwaspadai curah hujan tinggi saat terjadi pasang air laut sehingga menimbulkan air yang ada di darat tidak bisa terbuang ke laut.
"Jika ditambah dengan gelombang besar maka akan menimbulkan rob," kata Profesor Riset Astronomi Astrofisika LAPAN, Thomas Jamaluddin kepada Suara Merdeka, Jumat (25/1).
Sementara, Mulyono dalam wawancaranya di Jakarta, Jumat (25/1), mengatakan, secara teknis tidak ada cara memindahkan kawanan awan ke laut. Yang ada adalah dengan mempercepat atau menunda hujan. "Setahu saya tidak ada cara memindahkan hujan dari awan ke laut. Karena tak mungkin kita membungkus awan lalu menyeretnya ke atas lautan," katanya.
Menurutnya, yang ada adalah dengan mempercepat turunnya hujan dengan menaburi awan dengan bahan hidroskopis berupa garam yang lembut yang nantinya menarik uap air sehingga bergabung menjadi butiran air yang semakin lama semakin berat hingga terjadilah hujan.
Namun, Mulyono menjelaskan, memindah hujan ke laut kemungkinan kecil karena itu tergantung pada datangnya awan. "Misalnya saja bila awan berasal dari Kepulauan Seribu, kita mungkin aja mempercepat hujan dengan menurunkannya di lautan sebelum ia sampai ke Jakarta. Namun, bila awan berasal dari arah selatan atau timur, percuma saja karena hujan tetap akan masuk ke Jakarta," paparnya.
Mulyono juga mengungkapkan banjir bisa karena permukaan tanah yang tidak dapat menyerap air dengan baik. "Banjir tidak sepenuhnya disebabkan hujan yang turun, tapi juga karena permukaan wilayah yang mampat atau tidak bisa menyerap air dengan baik. Alhasil, air yang tertampung pun bukan terserap, melainkan mengalir," ungkapnya.
Sumber :
suaramerdeka.com
Kriing! Normalisasi Waduk Pluit, Jokowi-Djokir Teleponan Tiap Hari
Normalisasi Waduk Pluit sudah 70 persen digarap dan hampir rampung. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto (Djokir) rajin berkoordinasi.
"Sudah jalan tuh. Hampir tiap hari teleponan sama Pak Menteri PU," kata Jokowi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (25/1/2013).
Jokowi mengaku selalu membahas seputar pekerjaan normalisasi waduk tersebut bersama sang menteri.
"Baik mengenai sodetan, baik mengenai saya minta bantuan alat alat berat di Waduk Pluit yang sedang kita kerjakan. Sampah itu bukan main buanyaknyaaa...," ujar Jokowi.
Menurut dia, pekerjaan tersebut kemungkinan kelar hari ini. "Sudah mulai kita keruk mungkin sudah 70 persen ini hari ini. Hari ini mungkin dirampungkan," kata Jokowi.
Waduk Pluit terletak di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Waduk ini memiliki luas 80 hektar. Waduk itu berfungsi sebagai pengendali banjir, tempat penampungan air hujan, dan cadangan air tanah. Namun sekarang waduk itu dipenuhi pemukiman liar, sampah hingga enceng gondok.
Jokowi menyebut, idealnya kedalaman waduk 10 meter. Tapi sekarang cuma 2 sampai 3 meter, sehingga kapasitasnya tidak sesuai dengan air yang masuk. Normalisasi waduk ini membutuhkan dana Rp 1 triliun.
Sumber :
news.detik.com
"Sudah jalan tuh. Hampir tiap hari teleponan sama Pak Menteri PU," kata Jokowi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (25/1/2013).
Jokowi mengaku selalu membahas seputar pekerjaan normalisasi waduk tersebut bersama sang menteri.
"Baik mengenai sodetan, baik mengenai saya minta bantuan alat alat berat di Waduk Pluit yang sedang kita kerjakan. Sampah itu bukan main buanyaknyaaa...," ujar Jokowi.
Menurut dia, pekerjaan tersebut kemungkinan kelar hari ini. "Sudah mulai kita keruk mungkin sudah 70 persen ini hari ini. Hari ini mungkin dirampungkan," kata Jokowi.
Waduk Pluit terletak di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Waduk ini memiliki luas 80 hektar. Waduk itu berfungsi sebagai pengendali banjir, tempat penampungan air hujan, dan cadangan air tanah. Namun sekarang waduk itu dipenuhi pemukiman liar, sampah hingga enceng gondok.
Jokowi menyebut, idealnya kedalaman waduk 10 meter. Tapi sekarang cuma 2 sampai 3 meter, sehingga kapasitasnya tidak sesuai dengan air yang masuk. Normalisasi waduk ini membutuhkan dana Rp 1 triliun.
Sumber :
news.detik.com
Jokowi: rencana IPO Bank DKI belum dipastikan
Gubernur DKI
Jakarta Joko Widodo mengatakan, rencana penawaran saham perdana (IPO)
Bank DKI masih belum dapat dipastikan jadwalnya karena masih terus
dipersiapkan.
"Kita masih mempersiapkan diri, masih proses persiapan," kata Jokowi usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank DKI di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, ada kemungkinan pihaknya mengucurkan dana tambahan selain yang telah disetujui sebesar Rp450 miliar, mengingat pertumbuhan aset bank tersebut yang besar.
"Kalau perlu ditambah lagi, karena pertumbuhan asetnya sangat besar, tapi ekuity-nya perlu disuntik. Kalau ada potensinya, kenapa tidak?" kata Jokowi.
Terkait pengurangan dividen untuk penambahan modal, dia mengatakan hal tersebut tergantung pemegang saham.
"Kalau mau diambil ya diambil. Tapi kenapa harus selalu diambil?" katanya.
Senada dengan Jokowi, Direktur Pemasaran Bank DKI Mulyatno Wibowo menyatakan rencana IPO Bank DKI masih belum dapat dipastikan karena tergantung suntikan dana APBD yang direncanakan Pemprov DKI.
"IPO kami harapkan sekitar Juni 2013. Tapi kalau pemprov memberikan modal baru lagi, misal di semester kedua, kemungkinan IPO kami mundurkan di 2014," katanya.
Mulyatno menambahkan bila IPO dilakukan, maka setidaknya 20 persen saham akan dilepas ke publik dengan target perolehan modal minimal Rp900 miliar.
Mulyatno menyatakan dana yang dibutuhkan Bank DKI hingga 2013 sebesar Rp1,35 triliun. Dari dana sebesar itu, sebanyak Rp450 miliar sudah disetujui Pemprov DKI. Sementara sisanya bisa melalui IPO ataupun penambahan dana dari pemprov.
"Kami harapkan sampai akhir 2013, bisa sampai Rp1,35 triliun. Rp450 miliar yang sudah disetujui, sisanya nanti akan dipikirkan apa dari IPO atau dari tambahan penyertaan dana pemprov," katanya.
Gubernur DKI telah menyetujui suntikan dana sebesar Rp450 miliar untuk memperbesar bank milik Pemprov DKI tersebut.
Sumber :
antaranews.com
"Kita masih mempersiapkan diri, masih proses persiapan," kata Jokowi usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank DKI di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, ada kemungkinan pihaknya mengucurkan dana tambahan selain yang telah disetujui sebesar Rp450 miliar, mengingat pertumbuhan aset bank tersebut yang besar.
"Kalau perlu ditambah lagi, karena pertumbuhan asetnya sangat besar, tapi ekuity-nya perlu disuntik. Kalau ada potensinya, kenapa tidak?" kata Jokowi.
Terkait pengurangan dividen untuk penambahan modal, dia mengatakan hal tersebut tergantung pemegang saham.
"Kalau mau diambil ya diambil. Tapi kenapa harus selalu diambil?" katanya.
Senada dengan Jokowi, Direktur Pemasaran Bank DKI Mulyatno Wibowo menyatakan rencana IPO Bank DKI masih belum dapat dipastikan karena tergantung suntikan dana APBD yang direncanakan Pemprov DKI.
"IPO kami harapkan sekitar Juni 2013. Tapi kalau pemprov memberikan modal baru lagi, misal di semester kedua, kemungkinan IPO kami mundurkan di 2014," katanya.
Mulyatno menambahkan bila IPO dilakukan, maka setidaknya 20 persen saham akan dilepas ke publik dengan target perolehan modal minimal Rp900 miliar.
Mulyatno menyatakan dana yang dibutuhkan Bank DKI hingga 2013 sebesar Rp1,35 triliun. Dari dana sebesar itu, sebanyak Rp450 miliar sudah disetujui Pemprov DKI. Sementara sisanya bisa melalui IPO ataupun penambahan dana dari pemprov.
"Kami harapkan sampai akhir 2013, bisa sampai Rp1,35 triliun. Rp450 miliar yang sudah disetujui, sisanya nanti akan dipikirkan apa dari IPO atau dari tambahan penyertaan dana pemprov," katanya.
Gubernur DKI telah menyetujui suntikan dana sebesar Rp450 miliar untuk memperbesar bank milik Pemprov DKI tersebut.
Sumber :
antaranews.com
Sampah Banjir Menggunung, Jokowi Keluhkan APBD
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku belum bisa berbuat apa-apa
untuk dapat membersihkan sampah yang menggunung akibat banjir yang
menerjang Ibu Kota.
Pasalnya, hingga Jumat (25/1/2013) ini, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI 2013 belum dapat disahkan.
"Sampah pascabanjir, ya bagaimana? APBD-nya belum diketok," kata Jokowi di Balaikota Jakarta.
Terkait dengan APBD DKI 2013 yang rencananya akan disahkan pada 28 Januari 2013, Jokowi mengaku belum mengetahuinya. "Jangan tanya saya. Itu kan semuanya dari sana (DPRD). Tanya ke sana saja, jangan tanya saya," kata Jokowi.
Oleh karena itu, Jokowi menjelaskan, ia akan terus menunggu pengesahan APBD agar bisa melaksanakan program unggulan 2013. Untuk penanggulangan sampah sisa banjir, Jokowi akan menggunakan alternatif lain untuk mengatasinya.
"Ya, mau pakai dana apa? Kalau uang Rp 1.000-Rp 2.000 saya punya. Tapi, ini kan menyangkut uang yang triliunan. Nanti kita cari jurus lain, misalnya minta bantuan seperti kejadian jebolnya Tanggul Latuharhary kemarin," ujarnya.
Selanjutnya Jokowi menuturkan, permasalahan-permasalahan seperti banjir dan sampah ini tidak dapat diselesaikan menggunakan alternatif dan cara yang dicetuskan secara mendadak.
"Memang permasalahan ini bukan diselesaikan dengan cara dadakan dan parsial. Tapi juga dengan cara yang sudah terencana dalam blue print, dan juga memang harus ada terobosan," ujarnya.
Agar permasalahan sampah itu dapat segera terselesaikan, Jokowi mengaku sudah memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum DKI segera membersihkan sampah-sampah di beberapa titik lokasi banjir yang menyebabkan luapan sampah.
Bahkan Jokowi mengatakan, ia sudah hafal di luar kepala terkait lokasi-lokasi yang harus segera dibersihkan dari luapan sampah tersebut.
"Saya mengerti kok di mana titik-titik sampah itu. Saya langsung perintahkan ke Dinas PU. Semuanya sudah ada yang dicek, ada juga yang belum," ujar Jokowi.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Pasalnya, hingga Jumat (25/1/2013) ini, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI 2013 belum dapat disahkan.
"Sampah pascabanjir, ya bagaimana? APBD-nya belum diketok," kata Jokowi di Balaikota Jakarta.
Terkait dengan APBD DKI 2013 yang rencananya akan disahkan pada 28 Januari 2013, Jokowi mengaku belum mengetahuinya. "Jangan tanya saya. Itu kan semuanya dari sana (DPRD). Tanya ke sana saja, jangan tanya saya," kata Jokowi.
Oleh karena itu, Jokowi menjelaskan, ia akan terus menunggu pengesahan APBD agar bisa melaksanakan program unggulan 2013. Untuk penanggulangan sampah sisa banjir, Jokowi akan menggunakan alternatif lain untuk mengatasinya.
"Ya, mau pakai dana apa? Kalau uang Rp 1.000-Rp 2.000 saya punya. Tapi, ini kan menyangkut uang yang triliunan. Nanti kita cari jurus lain, misalnya minta bantuan seperti kejadian jebolnya Tanggul Latuharhary kemarin," ujarnya.
Selanjutnya Jokowi menuturkan, permasalahan-permasalahan seperti banjir dan sampah ini tidak dapat diselesaikan menggunakan alternatif dan cara yang dicetuskan secara mendadak.
"Memang permasalahan ini bukan diselesaikan dengan cara dadakan dan parsial. Tapi juga dengan cara yang sudah terencana dalam blue print, dan juga memang harus ada terobosan," ujarnya.
Agar permasalahan sampah itu dapat segera terselesaikan, Jokowi mengaku sudah memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum DKI segera membersihkan sampah-sampah di beberapa titik lokasi banjir yang menyebabkan luapan sampah.
Bahkan Jokowi mengatakan, ia sudah hafal di luar kepala terkait lokasi-lokasi yang harus segera dibersihkan dari luapan sampah tersebut.
"Saya mengerti kok di mana titik-titik sampah itu. Saya langsung perintahkan ke Dinas PU. Semuanya sudah ada yang dicek, ada juga yang belum," ujar Jokowi.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Kamis, 24 Januari 2013
Jokowi: “Kalo Ketemu Saya, Urusan Kecil ini Pasti Rampung..”
Pak Adi Putra, warga Penjaringan, Jakarta Utara,
mengadu pada Jokowi. Sambil memegang beberapa lembar ketas, ia mengaku
tak mampu lagi untuk membayar tagihan yang diberikan Rumah Sakit (RS)
Pluit, Jakarta Utara.
“Saya tidak mampu bayar lagi, Pak,” ujar pak Adi.
“Jumlahnya berapa pak?” tanya Aviani Malik, Presenter Metro TV.
“Limapuluh juta lebih…”
“Kalo ketemu saya, pasti cepat selesai. Ini urusan kecil rampung,” kata Jokowi.
Itulah sekelumit suasana yang terjadi di tayangan 100 Hari Jokowi-Ahok yang
disiarkan Metro TV semalam ini. Berbeda dengan dua stasiun televisi
yang lebih dulu menayangkan program 100 hari kepemimpinan Jokowi-Ahok
(tvOne dan RCTI), konsep program 100 Hari Jokowi-Ahok yang disuguhkan Metro TV mengedapankan dialog Gubernur DKI Jakarta langsung dengan rakyat.
Selain memberikan kesempatan pada warga di lokasi shooting,
Metro TV mencoba membuat polling kecil-kecilan tentang kinerja
Jokowi-Ahok selama 100 hari. Ada beberapa pertanyaan yang dijawab oleh
warga secara langsung via polling, mulai dari masalah banjir,
transportasi, grand design, dan juga kesehatan. Bertepatan saat
pembahasan tentang kesehatan ini, pak Adi Putra mengadu dan aduannya
ditanggapi positif oleh Jokowi.
“Barangkali pak Jokowi mau bikin oret-oretan di sini,”
usul Indra Maulana, berharap Jokowi memberikan jaminan dengan
memberikan tandatangan surat tagihan dari pihak RS pada pak Adi yang
tidak mampu bayar itu.
Nyatanya, usulan Indra langsung disambut
Jokowi. Sang Gubernur langsung meminta pak Adi Putra supaya mendekat dan
menyerahkan surat tagihan. Surat tagihan rumah sakit itu pun
ditandatangani Jokowi. Boleh jadi Metro TV sangat beruntung mendapatkan
momentum penandatangani jaminan kesehatan dari Jokowi ke warga ini,
dimana beberapa kali Indra dan Avi mengatakan pada pemirsa kalau
peristiwa ini tidak direkayasa.
“Nanti langsung ke Dinas Kesehatan. Gratis!” ucap Jokowi pada pak Adi.
Ucapan Jokowi langsung disambut tepuk tangan
warga Penjaringan. Oleh warga, raport kepemimpinan Jokowi-Ahok selama
100 hari ini dinilai berwarna biru. Meski dalam polling dadakan, ada
beberapa warga yang menyatakan diri tidak puas. Namun, dari sejumlah
Twit yang penulis baca, mayoritas menilai kepemimpinan Jokowi dianggap
jauh lebih baik dari beberapa Gubernur DKI Jakarta sebelumnya.
Selain raport Jokowi-Ahok, sepertinya Metro TV juga mendapat raport biru dalam hal penayangan 100 Hari Jokowi-Ahok.
Memang tidak bisa dikatakan luar biasa, tetapi dianggap masih lebih
baik dari stasiun televisi sebelumnya yang juga sempat menayangkan
program sejenis, terutama dalam hal cara menginterview Jokowi. Ya,
setidaknya tidak didamprat sebagaimana sebelumnya terjadi pada tvOne.
Ini terlihat dari sejumlah twit yang penulis kumpulkan berikut ini:
@jokoanwar: Good job, MetroTV buat 100 Hari Jokowi-Ahok. Bad aftertaste liputan TV yang satu lagi jadi nggak gitu kerasa lagi.”
@fseptiani @Metro_TV keren liputan 100 hari jokowi-ahoknya…
@janes_cs salut pd reporter2 metroTV cara interviewnya netral, bhs sopan n spontan dlm menggali jawaban
@azroy_Liputan 100 hari JoHok MetroTV, Asli, berkelas dan berkualitas
@anggaeins: Ini program 100hari Jokowi MetroTV 1000% lebih bagus dari buatan tipiwan…
@dlzstwn salam sm.muhammad rizki..suruh ntn metrotv skrng yh..@akimalam_tvone biar ngerti gmn caranya interview
@yoiyoa Jurnalis tvone, lg rame2 nonton metrotv nih, biar gak disikat sama fans nya jokowi lagi. :)
@IrwanMF: Memang @metroTV lebih hebat beda kualiats sama —- > @tvOneNews @muhammad_Rizq
@herDjanto @muhammad_Rizq mestinya belajar dr mb @AviMalik #metrotv
@rasjawa Jujur, saya lebih suka gaya pewawancarai MetroTV yg mewawancarai Jokowi & Ahok. Mereka gak sok pintar
@indronesia_: Nah..anchor sing sopan menghargai dan respect iku sing koyok ndk metro tv iki, gak koyok sing ndk tv one wingi.
@mfahmia2705: cara Metro TV
mengemas 100 hari Jokowi layak diacungi jempol, memang menggiring opini
publik, tapi caranya elegan dan mmg ada bukti ;-)
@r0nalw: Sekali ini konsep acara
@Metro_TV 100hari @jowoki_do@ keren abis, @AviMalik pun intvw tdk kyk
host sebelah, lebih cerdas tdk menghakimi
@ghifari_husnul mantep banget ngeliat 100 hari jokowi @Metro_TV semoga menjadi tetap yang terbaik
@RendiAdiK Liat metro tv wawancara
jokowi and ahok gak berasa ampe habis..pas nonton acara yg sama! Di
tipi Wan!..baru sebentar lgsng ganti channel!
@FerryMaitimu: Enakkan wawancara @Metro_TV dengan Pak Jokowi malam ini, dari pada wawancara dengan TV yang sebelah itu…
@wish_inu Dialog @jokowi_do2 dgn pihak @metro_tv ini enak disimak, santai dan berisi. Gak kayak kmrn yg bikin emosi aja.
@zenrs Metro menang telak nih soal program acara 100 Hari Jokowi. TipiWan kalah TKO.
@RezaRef Metro TV mencuri perhatian malam ini dgn Jokowi-nya. TV One lewat. Si merah bahkan ga lebih bagus dari Jak TV
@ulieherdian: Suka deh liat
wawancara pak jokowi di metro, sisi humanisnya keluar banget, apa
adanya, tp jelas n tegas..mudah2an amanah ya pak..amiin !
@grace_lovelyria Metro TV
tdk menyerang Jokowi tp mengorek janji2 Jokowi agr mereka menagih janji2
Jokowi. Syukur Jokowi orgnya cerdas ia mampu memilah jwban
@oni_pt Tayangan 100 hari Jokowi Ahok di Metro jauh lebih cerdas dan mendidik dari pada di TV One
@uttha: Pilihan wawancara Jokowi sama Metro TV lebih bersahabat, ga kaya kemarin TV One ngececar, mancing urat.
@sidjabatisme Mantap
@Metro_TV nih 100 hari pak @jokowi_do2 nya luar biasa, ada yg langsung
di teken biaya 50jt RSnya LUNAS. TVone mah cengceremen
@hadhadining TV OON kalah telak nih. di Metro Jokowi lebih happy dan santai
@mfahmia2705: Metro TV tdk
menyerang Jokowi,namun memancing jawaban,shg khalayak tahu solusi
(+janji) yg ditawarkan Jokowi.ke depannya,tagih janjinya! :-)
@frenly74 Beda banget wwcr Jokowi di metro sama tv1 kmrn,beda kasta beda adab
@FahleismeReza: Metro tv sukses bikin diskusi berisi jadi keliatan santai, ga kayak tv sebelah, sok serius tapi kosong. :)) #Jokowi”
@ichbin_silvia: 100 hari Jokowi di Metro TV ini menarik!! Nggak njelehi kayak TV sebelah :p”
@paalll: I like the way
Metro TV show the real stage of 100 Hari Jokowi Ahok. Smart, direct,
objective, smooth. And Jokowi? solutif tegas cekatan. :)
@achasya 100 hari jokowi-ahok di metro tv kayanya lebih bagus drpd yg di tv one !! How does it feels tv one ?
@dpih Metro TV lebih cerdas wawancara 100hari Jokowi-Ahok drpd TvOne, yah setidaknya lebih bermutu pertanyaannya
Sumber :
kompasiana.com
Atasi Banjir, Jokowi Percepat Proyek Tanggul Foke
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tetap akan melanjutkan realisasi pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall yang
digagas oleh mantan Gubernur DKI, Fauzi Bowo. Bahkan, Jokowi akan
mempercepat proyek itu untuk mengatasi masalah banjir, khususnya wilayah
di utara Kota Jakarta yang kerap terancam banjir saat air laut naik.
"Pembangunan giant sea wall akan kita percepat," kata Jokowi di Jakarta, Kamis (24/1/2013).
Untuk dapat merealisasikan proyek itu, dalam waktu dekat ini, Pemprov DKI akan meminta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) agar segera merealisasikan proses pembangunan tanggul tersebut.
"Kami juga akan meminta Bappenas dan UKP4 untuk langsung mempercepat persiapan pembangunannya," ujarnya.
Menurutnya, pembangunan tanggul laut raksasa ini membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Ia juga mengakui telah mendapatkan konsep dan detail pembangunan tembok raksasa tersebut.
"Jadi memang sudah saya tekankan, kalau giant sea wall itu perlu sekali untuk menghadang rob besar. Tapi sekali lagi, ini menyangkut anggaran besar dan waktu yang cukup lama," kata Jokowi.
Tanggul raksasa ini merupakan gagasan Fauzi Bowo. Tanggul itu dipercaya tak hanya berfungsi menghalau air laut, tetapi juga untuk memarkir air yang mengalir dari sungai agar tak langsung terbuang ke laut. Oleh karena itu, tanggul akan berbentuk waduk raksasa.
Proyek itu diperkirakan merogoh kocek hingga Rp 50 triliun. Rencananya pembiayaan tanggul raksasa tidak hanya ditanggung oleh pemerintah, tetapi juga investor. Sebab, kalau menunggu pemerintah pusat, tanggul tidak akan terwujud dalam waktu dekat.
Saat menggagas proyek tersebut, pria yang akrab disapa Foke itu meyakini keberadaan tanggul raksasa dan pengerukan 13 sungai di Jakarta bisa menyelesaikan 90 persen masalah banjir Ibu Kota.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
"Pembangunan giant sea wall akan kita percepat," kata Jokowi di Jakarta, Kamis (24/1/2013).
Untuk dapat merealisasikan proyek itu, dalam waktu dekat ini, Pemprov DKI akan meminta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) agar segera merealisasikan proses pembangunan tanggul tersebut.
"Kami juga akan meminta Bappenas dan UKP4 untuk langsung mempercepat persiapan pembangunannya," ujarnya.
Menurutnya, pembangunan tanggul laut raksasa ini membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Ia juga mengakui telah mendapatkan konsep dan detail pembangunan tembok raksasa tersebut.
"Jadi memang sudah saya tekankan, kalau giant sea wall itu perlu sekali untuk menghadang rob besar. Tapi sekali lagi, ini menyangkut anggaran besar dan waktu yang cukup lama," kata Jokowi.
Tanggul raksasa ini merupakan gagasan Fauzi Bowo. Tanggul itu dipercaya tak hanya berfungsi menghalau air laut, tetapi juga untuk memarkir air yang mengalir dari sungai agar tak langsung terbuang ke laut. Oleh karena itu, tanggul akan berbentuk waduk raksasa.
Proyek itu diperkirakan merogoh kocek hingga Rp 50 triliun. Rencananya pembiayaan tanggul raksasa tidak hanya ditanggung oleh pemerintah, tetapi juga investor. Sebab, kalau menunggu pemerintah pusat, tanggul tidak akan terwujud dalam waktu dekat.
Saat menggagas proyek tersebut, pria yang akrab disapa Foke itu meyakini keberadaan tanggul raksasa dan pengerukan 13 sungai di Jakarta bisa menyelesaikan 90 persen masalah banjir Ibu Kota.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Demi Jokowi, Warga Waduk Pluit Rela Direlokasi
Sejumlah Warga yang tinggal di seputaran Waduk Pluit, Penjaringan,
Jakarta Utara, bersedia direlokasi ke Rumah Susun Sederhana Sewa
(Rusunawa). Dengan catatan, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang
langsung turun tangan bernegosiasi dengan warga, dengan harga sewa yang
sesuai kantong.
Herlina, 54, warga Kelurahan Penjaringan, mengaku tidak keberatan dengan program relokasi Pemprov DKI Jakarta. Sebab, kondisi hunian di rusunawa lebih memberi jaminan kepastian hukum meskipun statusnya sewa. Ia pun yakin lingkungannya akan lebih teratur ketimbang pemukiman di kawasan Muara Baru.
"Yang jelas, Jokowi yang harus turun langsung. Saya enggak percaya sama Lurah, RT, RW, di sini. Kami hanya percaya kalau dia (Jokowi) yang ngomong langsung sama warga," serunya yang ditimpali sorakan dan tepuk tangan para pengungsi di salah satu titik pengungsian di Gedung SDN 03 Pagi Penjaringan, Jakarta, Kamis (25/1).
Senada dengan Herlina, Daeng, 59, pemilik salah satu Rumah di RW 17, juga mengaku ikhlas seandainya program relokasi itu terlaksana. Pasalnya, tanah yang ia dan tetangganya tempati saat ini tak bersertifikat.
"Ada syaratnya komandannya (Jokowi) harus turun langsung. Biar enak ngobrolnya," seloroh warga yang sudah tinggal di Muara Baru lebih dari tiga dekade ini.
Ditemui di basis pengungsi lainnya, yakni Kantor Kelurahan Penjaringan, Pak Mur, 71, warga Muara Baru RT 16 RW 17 mengimbuhkan, persetejuannya atas relokasi itu disertai syarat bahwa Rusunawa itu mesti dibangun tak jauh dari lokasi tinggal sekarang.
Pertimbangannya, warga kebanyakan sudah kadung menggantungkan hidup di Lokasi pelelangan ikan, laut, serta pertimbangan lokasi sekolah anak. Pembangunan fasilitas pelengkap, seperti Puskesmas, pun menjadi keniscayaan.
Evan, 27, warga RT 10 RW 01 Kelurahan Penjaringan menjelaskan, pihaknya memang menerima kabar adanya relokasi itu pada saat Jokowi melakukan kunjungan ke lokasi banjir Pluit, Senin (21/1). Namun, itu baru sebatas kabar dari mulut ke mulut.
"Belum ada info resmi dari kelurahan atau RW," akunya. Walau begitu, ia mendapat kabar empat RT di RW 17 yang diterjang banjir hingga ketinggian hidung orang dewasa itu menjadi lokasi kuat yang akan direlokasi. Yakni, RW 16, 17, Dan 19.
"(Status) tanahnya hak pakai, atau girik ya?" ujarnya tak yakin. "Ini awalnya dulu pas Megawati jadi Presiden sekitar 2003, bilang ke warga, 'silakan pakai saja (untuk dihuni)'," kisah Pak Mur.
Lebih jauh, timpal Herlina, Daeng, dan Evan, relokasi itu mesti mensyaratkan negosiasi harga sewa yang adil dengan pemerintah DKI. Mereka menuturkan kebanyakan warga di Muara Baru adalah kalangan ekonomi menengah ke bawah yang bermata pencaharian sebagai, misalnya, nelayan, pekerja pelelangan ikan, kuli angkut, dan tukang becak. Kisaran harga pun harus sesuai dengan kantong.
"Pokoknya di bawah Rp200 ribu. Itu baru bisa. Kalau sewa (Rusunawa) Rp300 ribu-Rp400 ribu mah mending ngontrak aja, dapet yang bagus," cetus Herlina, perempuan yang salon sederhana miliknya terendam banjir ini.
Sumber :
metrotvnews.com
Herlina, 54, warga Kelurahan Penjaringan, mengaku tidak keberatan dengan program relokasi Pemprov DKI Jakarta. Sebab, kondisi hunian di rusunawa lebih memberi jaminan kepastian hukum meskipun statusnya sewa. Ia pun yakin lingkungannya akan lebih teratur ketimbang pemukiman di kawasan Muara Baru.
"Yang jelas, Jokowi yang harus turun langsung. Saya enggak percaya sama Lurah, RT, RW, di sini. Kami hanya percaya kalau dia (Jokowi) yang ngomong langsung sama warga," serunya yang ditimpali sorakan dan tepuk tangan para pengungsi di salah satu titik pengungsian di Gedung SDN 03 Pagi Penjaringan, Jakarta, Kamis (25/1).
Senada dengan Herlina, Daeng, 59, pemilik salah satu Rumah di RW 17, juga mengaku ikhlas seandainya program relokasi itu terlaksana. Pasalnya, tanah yang ia dan tetangganya tempati saat ini tak bersertifikat.
"Ada syaratnya komandannya (Jokowi) harus turun langsung. Biar enak ngobrolnya," seloroh warga yang sudah tinggal di Muara Baru lebih dari tiga dekade ini.
Ditemui di basis pengungsi lainnya, yakni Kantor Kelurahan Penjaringan, Pak Mur, 71, warga Muara Baru RT 16 RW 17 mengimbuhkan, persetejuannya atas relokasi itu disertai syarat bahwa Rusunawa itu mesti dibangun tak jauh dari lokasi tinggal sekarang.
Pertimbangannya, warga kebanyakan sudah kadung menggantungkan hidup di Lokasi pelelangan ikan, laut, serta pertimbangan lokasi sekolah anak. Pembangunan fasilitas pelengkap, seperti Puskesmas, pun menjadi keniscayaan.
Evan, 27, warga RT 10 RW 01 Kelurahan Penjaringan menjelaskan, pihaknya memang menerima kabar adanya relokasi itu pada saat Jokowi melakukan kunjungan ke lokasi banjir Pluit, Senin (21/1). Namun, itu baru sebatas kabar dari mulut ke mulut.
"Belum ada info resmi dari kelurahan atau RW," akunya. Walau begitu, ia mendapat kabar empat RT di RW 17 yang diterjang banjir hingga ketinggian hidung orang dewasa itu menjadi lokasi kuat yang akan direlokasi. Yakni, RW 16, 17, Dan 19.
"(Status) tanahnya hak pakai, atau girik ya?" ujarnya tak yakin. "Ini awalnya dulu pas Megawati jadi Presiden sekitar 2003, bilang ke warga, 'silakan pakai saja (untuk dihuni)'," kisah Pak Mur.
Lebih jauh, timpal Herlina, Daeng, dan Evan, relokasi itu mesti mensyaratkan negosiasi harga sewa yang adil dengan pemerintah DKI. Mereka menuturkan kebanyakan warga di Muara Baru adalah kalangan ekonomi menengah ke bawah yang bermata pencaharian sebagai, misalnya, nelayan, pekerja pelelangan ikan, kuli angkut, dan tukang becak. Kisaran harga pun harus sesuai dengan kantong.
"Pokoknya di bawah Rp200 ribu. Itu baru bisa. Kalau sewa (Rusunawa) Rp300 ribu-Rp400 ribu mah mending ngontrak aja, dapet yang bagus," cetus Herlina, perempuan yang salon sederhana miliknya terendam banjir ini.
Sumber :
metrotvnews.com
Jokowi Kunjungi Lokasi Banjir di Penjaringan
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi salah satu
lokasi banjir di Ibu Kota, yaitu permukiman warga di Jalan Muara Baru,
Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara.
Berdasarkan pantauan ANTARA di lapangan, Jokowi tiba di lokasi banjir tersebut pada pukul 13.45 WIB dan langsung disambut warga sekitar.
"Kita sudah menerima banyak sekali keluhan dari masyarakat. Jadi, bantuan-bantuan ini langsung kita berikan untuk mereka (masyarakat)," kata Jokowi ketika mengunjungi permukiman warga yang tergenang air di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (24/1).
Jokowi mengungkapkan bantuan-bantuan yang diberikan memang ditujukan langsung kepada masyarakat, bukan ke posko pengungsian. "Maka, kami datang ke sini untuk menyebarkan bantuannya langsung kepada warga. Kita tidak ingin melihat bantuan ini malah menumpuk dan tidak tersalurkan," ujar Jokowi.
Menurut Jokowi, terjadinya penumpukan bantuan tersebut disebabkan karena kurangnya koordinasi di lapangan. Maka, Jokowi memutuskan untuk turun langsung ke lapangan.
Banjir yang menggenangi lokasi itu bervariasi, mulai dari ketinggian 40 sentimeter hingga dua setengah meter. Banjir sudah menggenangi permukiman warga di RT 18 dan RT 19 sejak Kamis (17/1).
Di lokasi tersebut, Jokowi memberikan bantuan logistik berupa mie instan, biskuit, beras, dan selimut. Selain itu, ada pula bantuan berupa perlengakapan sekolah, antara lain, seragam sekolah, sepatu, tas, buku tulis, dan penggaris.
Sumber :
republika.co.id
Berdasarkan pantauan ANTARA di lapangan, Jokowi tiba di lokasi banjir tersebut pada pukul 13.45 WIB dan langsung disambut warga sekitar.
"Kita sudah menerima banyak sekali keluhan dari masyarakat. Jadi, bantuan-bantuan ini langsung kita berikan untuk mereka (masyarakat)," kata Jokowi ketika mengunjungi permukiman warga yang tergenang air di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (24/1).
Jokowi mengungkapkan bantuan-bantuan yang diberikan memang ditujukan langsung kepada masyarakat, bukan ke posko pengungsian. "Maka, kami datang ke sini untuk menyebarkan bantuannya langsung kepada warga. Kita tidak ingin melihat bantuan ini malah menumpuk dan tidak tersalurkan," ujar Jokowi.
Menurut Jokowi, terjadinya penumpukan bantuan tersebut disebabkan karena kurangnya koordinasi di lapangan. Maka, Jokowi memutuskan untuk turun langsung ke lapangan.
Banjir yang menggenangi lokasi itu bervariasi, mulai dari ketinggian 40 sentimeter hingga dua setengah meter. Banjir sudah menggenangi permukiman warga di RT 18 dan RT 19 sejak Kamis (17/1).
Di lokasi tersebut, Jokowi memberikan bantuan logistik berupa mie instan, biskuit, beras, dan selimut. Selain itu, ada pula bantuan berupa perlengakapan sekolah, antara lain, seragam sekolah, sepatu, tas, buku tulis, dan penggaris.
Sumber :
republika.co.id
Bantuan Banjir Ditimbun di Posko, Jokowi Ngamuk
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) mengaku sudah melakukan sidak
ke posko-posko banjir di wilayah Jakarta Utara. Itu dilakukan karena
Jokowi mendengar banyak korban banjir yang mengeluh belum mendapatkan
bantuan.
Menurut dia, sebetulnya banyak titik-titik banjir yang belum mendapat bantuan. Bukan karena kordinasi yang kurang, tetapi karena memang belum terjangkau posko terutama di kawasan Penjaringan, Pluit, dan Muara Baru.
"Tadi malam sudah saya sampaikan, posko itu barangnya jangan ditumpuk tapi langsung didistribusikan ke masyarakat. Saya lihat bertumpuk-tumpuk barang itu ada," katanya di Jakarta, Kamis (24/1/2013).
Dia meminta agar bantuan yang diberikan tidak ditimbun di posko. Artinya, ketika bantuan sudah sampai di posko, maka petugas di posko tersebut harus segera mendsitribusikannya kepada warga dan tidak perlu ada stok di posko.
"Saya kira ini (ditumpuk di Posko) cara lama. Harus ada cara baru, bantuan datang distribusi, datang sebar. Karena tujuannya untuk masyarakat bukan ke posko," tuturnya.
Seperti diketahui, kawasan banjir di Jakarta Utara baru terjamah setelah empat hari terkena banjir pada Selasa 15 Januari 2013 lalu. Bahkan, ada korban banjir yang baru mendapat bantuan lima hari kemudian.
Sumber :
okezone.com
Menurut dia, sebetulnya banyak titik-titik banjir yang belum mendapat bantuan. Bukan karena kordinasi yang kurang, tetapi karena memang belum terjangkau posko terutama di kawasan Penjaringan, Pluit, dan Muara Baru.
"Tadi malam sudah saya sampaikan, posko itu barangnya jangan ditumpuk tapi langsung didistribusikan ke masyarakat. Saya lihat bertumpuk-tumpuk barang itu ada," katanya di Jakarta, Kamis (24/1/2013).
Dia meminta agar bantuan yang diberikan tidak ditimbun di posko. Artinya, ketika bantuan sudah sampai di posko, maka petugas di posko tersebut harus segera mendsitribusikannya kepada warga dan tidak perlu ada stok di posko.
"Saya kira ini (ditumpuk di Posko) cara lama. Harus ada cara baru, bantuan datang distribusi, datang sebar. Karena tujuannya untuk masyarakat bukan ke posko," tuturnya.
Seperti diketahui, kawasan banjir di Jakarta Utara baru terjamah setelah empat hari terkena banjir pada Selasa 15 Januari 2013 lalu. Bahkan, ada korban banjir yang baru mendapat bantuan lima hari kemudian.
Sumber :
okezone.com
Pesan Jokowi untuk Bank DKI
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengaku telat menyetor
tambahan modal untuk PT Bank Pembangunan Daerah DKI Jakarta (Bank DKI).
Alhasil, Bank DKI kesulitan untuk melakukan ekspansinya.
"Terus terang kita terlambat menyuntik dari Pemprov," ungkap Jokowi di kantor Bank DKI, Pecenongan, Jakarta, Jumat (25/1/2013).
Dijelaskan Jokowi, opsi IPO sebagai salah satu bentuk tambahan modal masih dalam proses persiapan. Ia lebih memilih suntikan modal via APBD saat ini.
"Itu urusan bank, masak IPO urusan Gubernur. Mempersiapkan diri. Tetapi kalau bisa kita suntik dari APBD ya kenapa tidak. Yang paling penting kan pertumbuhan asetnya bagus. Tadi saya minta diloncatkan tidak hanya naik. Tetapi dengan tetap kehati-hatian. Prudent banking harus dipegang tetap," jelas Jokowi.
Jokowi juga masih mempertimbangkan untuk menarik dividen dari Bank DKI. Ia lebih memilih bagaimana Bank DKI bisa terus tumbuh ketimbang mencari untung untuk Pemprov sendiri.
"Ya kalau perlu dividen diambil ya diambil, kalau tidak ya tidak. Kenapa selalu diambil. Kalau diperlukan di bank DKI?," jelasnya.
Seperti diketahui, pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengucurkan dana segar kepada Bank DKI Jakarta sebesar Rp 450 miliar. Dana tersebut diberikan agar bank tersebut bisa melakukan ekspansi usaha.
Jokowi mengatakan, dana tersebut untuk memenuhi kebutuhan modal Bank DKI Rp 1,3 triliun untuk memperbesar porsi kredit.
Sumber :
finance.detik.com
"Terus terang kita terlambat menyuntik dari Pemprov," ungkap Jokowi di kantor Bank DKI, Pecenongan, Jakarta, Jumat (25/1/2013).
Dijelaskan Jokowi, opsi IPO sebagai salah satu bentuk tambahan modal masih dalam proses persiapan. Ia lebih memilih suntikan modal via APBD saat ini.
"Itu urusan bank, masak IPO urusan Gubernur. Mempersiapkan diri. Tetapi kalau bisa kita suntik dari APBD ya kenapa tidak. Yang paling penting kan pertumbuhan asetnya bagus. Tadi saya minta diloncatkan tidak hanya naik. Tetapi dengan tetap kehati-hatian. Prudent banking harus dipegang tetap," jelas Jokowi.
Jokowi juga masih mempertimbangkan untuk menarik dividen dari Bank DKI. Ia lebih memilih bagaimana Bank DKI bisa terus tumbuh ketimbang mencari untung untuk Pemprov sendiri.
"Ya kalau perlu dividen diambil ya diambil, kalau tidak ya tidak. Kenapa selalu diambil. Kalau diperlukan di bank DKI?," jelasnya.
Seperti diketahui, pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengucurkan dana segar kepada Bank DKI Jakarta sebesar Rp 450 miliar. Dana tersebut diberikan agar bank tersebut bisa melakukan ekspansi usaha.
Jokowi mengatakan, dana tersebut untuk memenuhi kebutuhan modal Bank DKI Rp 1,3 triliun untuk memperbesar porsi kredit.
Sumber :
finance.detik.com
BBC sebut Jokowi, Obama dari Jakarta
Banjir besar di Jakarta juga menjadi perhatian media-media luar negeri. Kantor Berita Inggris BBC menyebut Jokowi sebagai Obama dari Jakarta.
Artikel itu dimuat dalam BBC Asia, Rabu (23/1). Judulnya Flooding tests 'Jakarta's Obama'. Ada foto Jokowi mengenakan baju Betawi lengkap dengan peci berwarna hitam sebagai ilustrasi.
BBC menyoroti banjir di Jakarta dan kebijakan Jokowi menyelesaikan permasalahan itu. Artikel tersebut ditulis oleh wartawan BBC Karishma Vaswani.
"Jelang 100 hari kepemimpinannya, Jokowi menghadapi tes pertama. Air berwarna kecoklatan merendam Jakarta tanggal 17 Januari kemarin. Penyebabnya curah hujan tinggi yang menyebabkan tanggul jebol dan sungai meluap."
BBC banyak memuji Jokowi dalam artikel itu. Mereka menyebut Jokowi sebagai tokoh populer dan mendapat dukungan dari kalangan bawah maupun kalangan menengah Jakarta. Warga Jakarta optimistis Jokowi bisa menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Jokowi juga dikenal sebagai politikus yang bersih dan pekerja keras.
"Mr Widodo adalah politikus yang bersih. Seorang pemimpin yang mendengarkan keluhan masyarakat. Dia kerap disamakan dengan Presiden AS Barack Obama, bukan karena perawakannya yang sama-sama tinggi dan langsing. tetapi karena empatinya pada masyarakat."
"Saya bukan Obama. Saya cuma orang yang sederhana," kata Jokowi sambil tertawa.
"Jadi gubernur Jakarta membuat saya kadang sakit kepala. Tapi saya menikmatinya. Saya harus kerja dari pagi hingga ketemu pagi lagi untuk menunjukkan pada orang-orang saya bekerja keras. Itulah yang diharapkan masyarakat dari saya," kata Obama, eh Jokowi.
Sumber :
merdeka.com
Artikel itu dimuat dalam BBC Asia, Rabu (23/1). Judulnya Flooding tests 'Jakarta's Obama'. Ada foto Jokowi mengenakan baju Betawi lengkap dengan peci berwarna hitam sebagai ilustrasi.
BBC menyoroti banjir di Jakarta dan kebijakan Jokowi menyelesaikan permasalahan itu. Artikel tersebut ditulis oleh wartawan BBC Karishma Vaswani.
"Jelang 100 hari kepemimpinannya, Jokowi menghadapi tes pertama. Air berwarna kecoklatan merendam Jakarta tanggal 17 Januari kemarin. Penyebabnya curah hujan tinggi yang menyebabkan tanggul jebol dan sungai meluap."
BBC banyak memuji Jokowi dalam artikel itu. Mereka menyebut Jokowi sebagai tokoh populer dan mendapat dukungan dari kalangan bawah maupun kalangan menengah Jakarta. Warga Jakarta optimistis Jokowi bisa menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Jokowi juga dikenal sebagai politikus yang bersih dan pekerja keras.
"Mr Widodo adalah politikus yang bersih. Seorang pemimpin yang mendengarkan keluhan masyarakat. Dia kerap disamakan dengan Presiden AS Barack Obama, bukan karena perawakannya yang sama-sama tinggi dan langsing. tetapi karena empatinya pada masyarakat."
"Saya bukan Obama. Saya cuma orang yang sederhana," kata Jokowi sambil tertawa.
"Jadi gubernur Jakarta membuat saya kadang sakit kepala. Tapi saya menikmatinya. Saya harus kerja dari pagi hingga ketemu pagi lagi untuk menunjukkan pada orang-orang saya bekerja keras. Itulah yang diharapkan masyarakat dari saya," kata Obama, eh Jokowi.
Sumber :
merdeka.com
Jokowi akan membujuk warga bantaran kali
Gubernur DKI
Jakarta Joko Widodo (Jokowi) akan membujuk warga yang bermukim di
bantaran kali pindah ke lokasi lain untuk mendukung program normalisasi
kali dan sungai di Jakarta.
"Yah coba dibujuk," katanya di Balaikota DKI Jakarta, Jumat.
"Nantilah diajak bicara, kalau semua ditanya yang di kanan kiri sungai Pesanggarahan, Sunter, dan Angke, nanti dikasih penyadaran kolektif agar pindah," katanya.
Pemerintah DKI Jakarta berencana membersihkan kawasan sekitar waduk dan bantaran kali dari pemukiman penduduk untuk melakukan normalisasi sungai dan waduk guna mencegah banjir.
Warga yang tinggal di sekitar waduk dan bantaran sungai rencananya dipindahkan ke rumah susun sewa (rusunawa) yang tersedia.
Pemerintah DKI Jakarta bahkan sudah menyediakan rusunawa dengan fasilitas lengkap termasuk tempat tidur, televisi, kulkas, kasur, meja, kursi hingga pakaian dan alat mandi untuk warga di sekitar Waduk Pluit, Jakarta Utara.
"Iya, kan nanti Pluit mau dikeruk sampai 10 meter kedalaman," katanya.
Sumber :
antaranews.com
"Yah coba dibujuk," katanya di Balaikota DKI Jakarta, Jumat.
"Nantilah diajak bicara, kalau semua ditanya yang di kanan kiri sungai Pesanggarahan, Sunter, dan Angke, nanti dikasih penyadaran kolektif agar pindah," katanya.
Pemerintah DKI Jakarta berencana membersihkan kawasan sekitar waduk dan bantaran kali dari pemukiman penduduk untuk melakukan normalisasi sungai dan waduk guna mencegah banjir.
Warga yang tinggal di sekitar waduk dan bantaran sungai rencananya dipindahkan ke rumah susun sewa (rusunawa) yang tersedia.
Pemerintah DKI Jakarta bahkan sudah menyediakan rusunawa dengan fasilitas lengkap termasuk tempat tidur, televisi, kulkas, kasur, meja, kursi hingga pakaian dan alat mandi untuk warga di sekitar Waduk Pluit, Jakarta Utara.
"Iya, kan nanti Pluit mau dikeruk sampai 10 meter kedalaman," katanya.
Sumber :
antaranews.com
Langganan:
Postingan (Atom)













