Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, mengatakan pembangunan Multi
Purpose Deep Tunnel atau terowongan raksasa bawah tanah multi guna bisa
dibatalkan jika laporan detail kajiannya menyatakan tidak efektif
mengatasi banjir. "Kalau cuma dua titik banjir buat apa, masak proyek
triliunan cuma dua titik, misalnya," kata Jokowi, Senin, 7 Januari
2013.
Saat ini, kata Jokowi, dirinya masih menunggu laporan detil proyek
senilai Rp 16 triliun itu. Dia ingin jika gorong-gorong sepanjang 23
kilometer itu bisa mengatasi banjir yang kerap menghantui Ibu Kota.
"Sekarang (detail kajian) masih dalam proses," ujarnya.
Deep
Tunnel akan di bangun dari ruas Jalan MT Haryono menuju Manggarai,
Karet, dan berujung di Pluit. Panjangnya mencapai 22 kilo meter dengan
kapasitas limpasan air sebanyak 2,5 juta meter kubik tiap tiga jam.
Menurut Jokowi, Deep Tunnel di Jakarta lebih canggih ketimbang milik
Malaysia.
Alasannya, gorong-gorong raksasa di Jakarta lebih multifungsi
daripada SMAR Tunnel Kuala Lumpur yang cuma bisa digunakan menjadi dua
fungsi. "Kalau di sini nanti bisa untuk banjir, jalan tol, saluran air,
kabel listrik, dan air baku," kata dia.
Mantan Wali Kota
Surakarta itu menolak tudingan bahwa proyek pembangunan gorong-gorong
ini merupakan kebijakan reaktif. "Itu kan sudah bertahun-tahun
direncanakan, blue print-nya saja sudah lama. Digagas sejak 2005,"
katanya.
Cuma saja, dia menambahkan, proyek ini terhambat lantaran minimnya
dana dan kesiapan pelaksanaannya. "Kita itu berkutat di situ-situ, kalau
sedikit-sedikit berpolemik, ramai, ya tidak mulai-mulai," ujarnya.
Sebelumnya, peneliti Rujak Center, Elisa Sutanudjaja, menilai
kebijakan pembangunan Deep Tunnel terlalu reaktif. Alasannya, kebijakan
itu diambil tanpa mempertimbangkan kondisi tanah Jakarta. Apalagi,
kontur tanah di Jakarta dan Kuala Lumpur, Malaysia, yang dijadikan
contoh sangat berbeda. Kritikan Elisa dibantah penggagas Deep Tunnel,
Firdaus Ali. “Kalau enggak ngerti, jangan asal ngomong,” kata Firdaus.
Jokowi mengungkapkan, banyak proyek besar di Jakarta yang sudah
selesai kajiannya, namun tidak kunjung direalisasikan. "MRT sudah 20
tahun tidak mulai-mulai, monorel tidak mulai-mulai," kata dia. Karena
itu, dia menegaskan akan mengambil keputusan untuk melanjutkan
pembangunan proyek besar di Ibu Kota itu.
Sebelumnya, peneliti
Rujak Center, Elisa Sutanudjaja, menilai kebijakan pembangunan Deep
Tunnel terlalu reaktif. Alasannya, kebijakan itu diambil tanpa
mempertimbangkan kondisi tanah Jakarta. Apalagi, kontur tanah di Jakarta
dan Kuala Lumpur, Malaysia, yang dijadikan contoh sangat berbeda.
Sumber :
www.tempo.co
Arsip terlengkap seputar kegiatan Jokowi mulai tahun 2013 hingga Jokowi Terindikasi Melindungi Koruptor.
Senin, 07 Januari 2013
Jokowi Kaget Lihat Kondisi Terminal Pulo Gebang
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo meninjau keadaan Terminal Bus Antarkota
dan Antarprovinsi (AKAP) Pulo Gebang, Jakarta Timur. Kondisi terminal
yang mulai beroperasi pada Juni lalu itu cukup membuat pria yang akrab
disapa Jokowi itu terkejut.
Pintu depan dari terminal yang digadang-gadang akan menjadi terminal terbesar se-Asia Tenggara itu dipenuhi genangan air hujan. Bahkan, lantai paling atas pun juga tergenang air hujan. Kebetulan, saat Jokowi melakukan sidak terminal, lokasi terminal dalam keadaan gerimis.
Kedatangan Jokowi ini disambut oleh Kepala Pembinaan Penggunaan Lalu Lintas Angkutan Jalan Dinas Perhubungan DKI Jakarta Tiodor Sianturi. Keduanya pun tampak terlibat percakapan serius.
Tiodor mengatakan, terdapat beberapa permasalahan di Terminal Pulo Gebang, saat ini. "Ada problem di tanah (pembebasan tanah) yang masih ada sisa sekitar 1,4 hektar di tahun 2013 dan juga masalah air yang tergenang," kata Tiodor di Terminal Pulo Gebang, Senin (7/1/2013).
Sementara itu, Jokowi mengatakan bahwa kelemahan terbesar dalam pembangunan Terminal Pulo Gebang adalah kurangnya manajemen kontrol lapangan.
"Seharusnya pekerjaan-pekerjaan seperti ini, kalau terencana, ya seharusnya enggak ada lagi karena memang kelemahan kita itu di manajemen kontrol lapangan," katanya.
Jokowi pun segera memberi perintah kepada pihak terkait untuk dapat memperbaiki hal-hal yang masih menjadi kekurangan di Terminal Pulo Gebang.
"Mungkin drainasenya perlu dilebari. Mungkin kemiringannya yang perlu diperbaiki lagi. Oleh sebab itu, itulah yang namanya manajemen kontrol lapangan yang diperlukan. Kalau saya enggak ke sini, enggak tahu. Kalau enggak tahu ya berarti saya enggak bisa membetulkan, saya enggak bisa memperbaiki," kata Jokowi.
Selain dua permasalahan yang disebutkan di atas, Jokowi juga mengatakan bahwa akses dari Terminal Pulo Gebang untuk menuju jalan tol JORR juga belum selesai.
"Di sini untuk jalan masuk ke tol juga belum. Semuanya pengin kita kebutlah jangan sampai ini terlalu lama diam. Kalau diam nanti pasti ada yang rusak," kata Jokowi.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Pintu depan dari terminal yang digadang-gadang akan menjadi terminal terbesar se-Asia Tenggara itu dipenuhi genangan air hujan. Bahkan, lantai paling atas pun juga tergenang air hujan. Kebetulan, saat Jokowi melakukan sidak terminal, lokasi terminal dalam keadaan gerimis.
Kedatangan Jokowi ini disambut oleh Kepala Pembinaan Penggunaan Lalu Lintas Angkutan Jalan Dinas Perhubungan DKI Jakarta Tiodor Sianturi. Keduanya pun tampak terlibat percakapan serius.
Tiodor mengatakan, terdapat beberapa permasalahan di Terminal Pulo Gebang, saat ini. "Ada problem di tanah (pembebasan tanah) yang masih ada sisa sekitar 1,4 hektar di tahun 2013 dan juga masalah air yang tergenang," kata Tiodor di Terminal Pulo Gebang, Senin (7/1/2013).
Sementara itu, Jokowi mengatakan bahwa kelemahan terbesar dalam pembangunan Terminal Pulo Gebang adalah kurangnya manajemen kontrol lapangan.
"Seharusnya pekerjaan-pekerjaan seperti ini, kalau terencana, ya seharusnya enggak ada lagi karena memang kelemahan kita itu di manajemen kontrol lapangan," katanya.
Jokowi pun segera memberi perintah kepada pihak terkait untuk dapat memperbaiki hal-hal yang masih menjadi kekurangan di Terminal Pulo Gebang.
"Mungkin drainasenya perlu dilebari. Mungkin kemiringannya yang perlu diperbaiki lagi. Oleh sebab itu, itulah yang namanya manajemen kontrol lapangan yang diperlukan. Kalau saya enggak ke sini, enggak tahu. Kalau enggak tahu ya berarti saya enggak bisa membetulkan, saya enggak bisa memperbaiki," kata Jokowi.
Selain dua permasalahan yang disebutkan di atas, Jokowi juga mengatakan bahwa akses dari Terminal Pulo Gebang untuk menuju jalan tol JORR juga belum selesai.
"Di sini untuk jalan masuk ke tol juga belum. Semuanya pengin kita kebutlah jangan sampai ini terlalu lama diam. Kalau diam nanti pasti ada yang rusak," kata Jokowi.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Kasus Siswi SD yang Diduga Diperkosa, Jokowi: Ini Peringatan Bagi Semua
Bocah SD yang diduga menjadi korban pemerkosaan, RI, akhirnya meninggal
dunia kemarin. Kasus ini menarik perhatian banyak pihak, salah satunya
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Peristiwa ini dianggap Jokowi
sebagai peringatan bagi semua pihak.
"Ini menjadi peringatan semua dan memang masalah di Jakarta ini sangat kompleks," kata Jokowi usai memberikan santunan di rumah RI, di Jalan Rawa Bebek, Pulogebang, Jakarta Timur, Senin (7/1/2013).
Menurutnya, semua masalah yang terjadi saling berkaitan satu sama lain. Jakarta memiliki masalah yang tidak hanya bersifat fisik tetapi juga non fisik yang harus dibenahi.
"Masalah besar kita di Jakarta ini memang sebetulnya bukan hanya fisik saja, yang non fisik juga menjadi masalah baru," ujar Jokowi.
Suami Iriana ini mengatakan, semua pihak harus bekerjasama untuk membenahi masalah yang ada di Jakarta. Keamanan menjadi salah satu hal utama yang harus dibenahi.
"Problem kita banyak, di pelayanan di Puskesmas, di rumah sakit, di Kelurahan, Kecamatan. Semuanya ini kita perbaiki, Ya tentu itu (keamanan) yang utama," ucapnya.
Sebelumnya, siang tadi Jokowi menyambangi rumah keluarga bocah tersebut. Jokowi memberikan bantuan santunan uang bela sungkawa kepada keluarga korban.
Bocah kelas 5 SD, RI, yang diduga menjadi korban pemerkosaan meninggal dunia Minggu (6/1/2013) pagi di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur. Dia dibawa ke RS milik pemerintah itu pada 29 Desember 2012 lalu dalam kondisi kemaluannya luka parah. Soal dugaan pemerkosaan itu, tim dokter menunggu hasil visum lengkap hari ini.
"Saya kira kita tunggu hasil visum lengkap saja ya, karena itu (disebut infeksi) bukan kami. Hasil visum sementara sudah tadi, Senin mereka minta untuk hasil visum lengkap," ucap Direktur Medik dan Keperawatan RS Persahabatan, Tri Hesty Widyastoeti kepada detikcom, Minggu kemarin.
Sementara Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan si bocah tidak mengalami kekerasan seksual, tapi hanya mengalami infeksi.
Sumber :
news.detik.com
"Ini menjadi peringatan semua dan memang masalah di Jakarta ini sangat kompleks," kata Jokowi usai memberikan santunan di rumah RI, di Jalan Rawa Bebek, Pulogebang, Jakarta Timur, Senin (7/1/2013).
Menurutnya, semua masalah yang terjadi saling berkaitan satu sama lain. Jakarta memiliki masalah yang tidak hanya bersifat fisik tetapi juga non fisik yang harus dibenahi.
"Masalah besar kita di Jakarta ini memang sebetulnya bukan hanya fisik saja, yang non fisik juga menjadi masalah baru," ujar Jokowi.
Suami Iriana ini mengatakan, semua pihak harus bekerjasama untuk membenahi masalah yang ada di Jakarta. Keamanan menjadi salah satu hal utama yang harus dibenahi.
"Problem kita banyak, di pelayanan di Puskesmas, di rumah sakit, di Kelurahan, Kecamatan. Semuanya ini kita perbaiki, Ya tentu itu (keamanan) yang utama," ucapnya.
Sebelumnya, siang tadi Jokowi menyambangi rumah keluarga bocah tersebut. Jokowi memberikan bantuan santunan uang bela sungkawa kepada keluarga korban.
Bocah kelas 5 SD, RI, yang diduga menjadi korban pemerkosaan meninggal dunia Minggu (6/1/2013) pagi di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur. Dia dibawa ke RS milik pemerintah itu pada 29 Desember 2012 lalu dalam kondisi kemaluannya luka parah. Soal dugaan pemerkosaan itu, tim dokter menunggu hasil visum lengkap hari ini.
"Saya kira kita tunggu hasil visum lengkap saja ya, karena itu (disebut infeksi) bukan kami. Hasil visum sementara sudah tadi, Senin mereka minta untuk hasil visum lengkap," ucap Direktur Medik dan Keperawatan RS Persahabatan, Tri Hesty Widyastoeti kepada detikcom, Minggu kemarin.
Sementara Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan si bocah tidak mengalami kekerasan seksual, tapi hanya mengalami infeksi.
Sumber :
news.detik.com
Jokowi: Problem Jakarta Bukan Hanya Fisik
Setelah melayat ke rumah keluarga bocah yang diduga diperkosa, RI (11),
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku terkejut. Menurut pria yang
akrab disapa Jokowi itu, peristiwa tersebut membuktikan bahwa
permasalahan di Jakarta multikompleks, tidak hanya permasalahan fisik,
tetapi juga non-fisik.
"Jadi semua kait-mengait. Ya memang masalah besar kita ini adalah di Jakarta, memang sebetulnya bukan hanya masalah fisik saja, yang non-fisik juga menjadi masalah kita," kata Jokowi di Rawa Bebek, Jakarta Timur, Senin (7/1/2013).
Jokowi pun berjanji akan menyelesaikan permasalahan Jakarta yang multikompleks tersebut secara bergiliran. Selain itu, menurutnya, permasalahan keamanan juga menjadi salah satu permasalahan besar di Ibu Kota yang harus tetap dijaga.
"Problem kita banyak, problem di pelayanan, di puskesmas, rumah sakit, kelurahan, kecamatan, semuanya. Ini harus kita perbaiki, terutama masalah keamanan itu," ujarnya.
Untuk dapat menyelesaikan permasalahan Jakarta yang multikompleks itu, Jokowi menggunakan strategi untuk langsung turun ke lapangan melihat dan berkomunikasi dengan warga. Dengan demikian, ia dapat mengetahui bagaimana permasalahan lapangan dan mengetahui bagaimana jalan keluar untuk pemecahan permasalahan tersebut.
"Ya, saya ke lapangan begini kan jadi lebih tahu fakta-fakta di lapangan, realitas-realitas yang ada. Kebijakannya kita godok, saya belum mengerti tapi kita pengen memperbaiki dan membenahi semuanya," ujar Jokowi.
Jokowi melayat keluarga RI, bocah yang diduga korban perkosaan. Dengan keadaan hujan deras yang mengguyur kawasan Kampung Rawa Bebek, Jokowi langsung disambut oleh ayah bocah itu, Sutono, di rumahnya yang sangat sederhana. Di sana, mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius.
Setelah itu, Pemerintah Provinsi DKI yang diwakili langsung oleh Gubernur Jokowi memberikan santunan kepada keluarga RI.
RI adalah putri bungsu dari enam bersaudara pasangan suami-istri, A (50) dan L (54). Mereka tinggal di lapak pemulung di Cakung, Jakarta Timur.
Kondisi bocah yang duduk di kelas V SD itu dua bulan terakhir menurun drastis hingga kejang dan mengalami penurunan suhu tubuh. Pada 29 Desember 2012 lalu, kondisi RI semakin menurun hingga akhirnya ia dibawa ke Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan (RSUPP)
Saat dokter melakukan penanganan pertama, ditemukan luka lama tak tertangani pada area kemaluan bocah malang tersebut. RI meninggal di RSUPP pada Minggu (6/1/2013) pada pukul 06.00 WIB pagi. Bocah malang itu dimakamkan di TPU Kapuk, Harapan Baru, Bekasi, Jawa Barat.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
"Jadi semua kait-mengait. Ya memang masalah besar kita ini adalah di Jakarta, memang sebetulnya bukan hanya masalah fisik saja, yang non-fisik juga menjadi masalah kita," kata Jokowi di Rawa Bebek, Jakarta Timur, Senin (7/1/2013).
Jokowi pun berjanji akan menyelesaikan permasalahan Jakarta yang multikompleks tersebut secara bergiliran. Selain itu, menurutnya, permasalahan keamanan juga menjadi salah satu permasalahan besar di Ibu Kota yang harus tetap dijaga.
"Problem kita banyak, problem di pelayanan, di puskesmas, rumah sakit, kelurahan, kecamatan, semuanya. Ini harus kita perbaiki, terutama masalah keamanan itu," ujarnya.
Untuk dapat menyelesaikan permasalahan Jakarta yang multikompleks itu, Jokowi menggunakan strategi untuk langsung turun ke lapangan melihat dan berkomunikasi dengan warga. Dengan demikian, ia dapat mengetahui bagaimana permasalahan lapangan dan mengetahui bagaimana jalan keluar untuk pemecahan permasalahan tersebut.
"Ya, saya ke lapangan begini kan jadi lebih tahu fakta-fakta di lapangan, realitas-realitas yang ada. Kebijakannya kita godok, saya belum mengerti tapi kita pengen memperbaiki dan membenahi semuanya," ujar Jokowi.
Jokowi melayat keluarga RI, bocah yang diduga korban perkosaan. Dengan keadaan hujan deras yang mengguyur kawasan Kampung Rawa Bebek, Jokowi langsung disambut oleh ayah bocah itu, Sutono, di rumahnya yang sangat sederhana. Di sana, mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius.
Setelah itu, Pemerintah Provinsi DKI yang diwakili langsung oleh Gubernur Jokowi memberikan santunan kepada keluarga RI.
RI adalah putri bungsu dari enam bersaudara pasangan suami-istri, A (50) dan L (54). Mereka tinggal di lapak pemulung di Cakung, Jakarta Timur.
Kondisi bocah yang duduk di kelas V SD itu dua bulan terakhir menurun drastis hingga kejang dan mengalami penurunan suhu tubuh. Pada 29 Desember 2012 lalu, kondisi RI semakin menurun hingga akhirnya ia dibawa ke Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan (RSUPP)
Saat dokter melakukan penanganan pertama, ditemukan luka lama tak tertangani pada area kemaluan bocah malang tersebut. RI meninggal di RSUPP pada Minggu (6/1/2013) pada pukul 06.00 WIB pagi. Bocah malang itu dimakamkan di TPU Kapuk, Harapan Baru, Bekasi, Jawa Barat.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Auw! Warga Rebutan Salaman, Tangan Jokowi Luka
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) tampak mengelus-elus punggung
tangan kanannya yang tergores. Rupanya, tangan Jokowi luka setelah
sejumlah warga berebut bersalaman dengannya.
Pribadi Jokowi yang murah senyum dan low profile selalu mendapat sambutan hangat dari warga Jakarta yang dikunjunginya.
Jokowi sabar melayani warga Ibukota yang ingin bersalaman hingga berfoto bersamanya.
Bukan hanya sekali, luka kecil itu ternyata seringkali dialami Jokowi usai blusukan. Misalnya hari ini saat mampir ke kampung padat di Pulogebang.
"Iya nih tangan saya luka. Sering luka tangannya," kata Jokowi sambil mengelus-elus jari tengah tangan kanannya itu usai meninjau Terminal Pulogebang, Jakarta Timur, Senin (7/1/2013).
"Yang nyalamin itu mesti pakai cincin, ibu-ibu. Salamannya ditarik-tarik," ujar Jokowi seraya tersenyum khas.
"Kata warga tangan Bapak halus?" kata wartawan.
"Loh saya tiap hari nukang kok," jawab Jokowi seraya memperagakan tengah menyerut kayu sambil tertawa.
Sumber :
news.detik.com
Pribadi Jokowi yang murah senyum dan low profile selalu mendapat sambutan hangat dari warga Jakarta yang dikunjunginya.
Jokowi sabar melayani warga Ibukota yang ingin bersalaman hingga berfoto bersamanya.
Bukan hanya sekali, luka kecil itu ternyata seringkali dialami Jokowi usai blusukan. Misalnya hari ini saat mampir ke kampung padat di Pulogebang.
"Iya nih tangan saya luka. Sering luka tangannya," kata Jokowi sambil mengelus-elus jari tengah tangan kanannya itu usai meninjau Terminal Pulogebang, Jakarta Timur, Senin (7/1/2013).
"Yang nyalamin itu mesti pakai cincin, ibu-ibu. Salamannya ditarik-tarik," ujar Jokowi seraya tersenyum khas.
"Kata warga tangan Bapak halus?" kata wartawan.
"Loh saya tiap hari nukang kok," jawab Jokowi seraya memperagakan tengah menyerut kayu sambil tertawa.
Sumber :
news.detik.com
Hujan Deras, Jokowi Melayat Keluarga RI
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo melayat keluarga bocah diduga korban
perkosaan, RI (11), di Rawa Bebek, Cakung, Jakarta Timur, Senin
(7/1/2013). Dengan menggunakan setelan kemeja putih dan mobil Innova
hitam B 1592 NKR, Jokowi tiba di lokasi pada pukul 14.00 WIB.
Seperti biasa, kedatangan orang nomor satu di DKI itu selalu menyedot perhatian warga. Saat Jokowi tiba, cuaca di lokasi pun dalam keadaan hujan deras. Para warga pun dengan sukarela basah-basahan, berlari-lari, dan berusaha untuk sekadar mendekati, bersalaman, atau berfoto bersama Jokowi. Suasana hujan deras, gang sempit, dan jalanan becek menjadi tantangan tersendiri bagi para pewarta yang harus berlomba-lomba dengan para warga untuk dapat mendekati Jokowi.
Akhirnya Jokowi tiba di rumah Sunoto, ayah RI (11), yang diduga korban perkosaan. Di rumah yang sangat sederhana dan semi-permanen dengan penerangan yang kurang dan bagian terasnya hanya dilindungi oleh terpal untuk melindungi dari derasnya hujan yang turun, di situlah tempat RI sehari-hari beraktivitas. Jokowi langsung disambut oleh keluarga besar RI, termasuk Sunoto.
Jokowi berbicara cukup lama dengan Sunoto yang saat itu terlihat cukup kumal dan menggunakan batik sederhana. Sebelumnya, saat masih berada di Balaikota Jakarta, Jokowi pun berjanji untuk menemui keluarga korban untuk melayat dan memberikan santunan kepada keluarga RI sebagai tanda berbelasungkawa.
"Ya, saya atur. Sekarang ramai-ramai hehe," kata Jokowi.
RI, yang diduga menjadi korban tindakan kekerasan seksual, meninggal dunia di ruang ICU (Intensive Care Unit) Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan (RSUPP) dalam kondisi koma. Sebelumnya, RI didiagnosis dokter mengalami infeksi pada bagian otak, meski dokter belum berhasil menemukan apakah infeksi itu akibat luka pada kemaluannya atau bukan.
RI adalah putri bungsu dari enam bersaudara pasangan suami-istri A (50) dan L (54). Mereka tinggal di lapak pemulung di Cakung, Jakarta Timur. Kondisi bocah yang duduk di kelas V SD itu dua bulan terakhir menurun drastis, hingga kejang dan mengalami penurunan suhu tubuh. Pada 29 Desember 2012 lalu, kondisi RI semakin menurun hingga akhirnya ia dibawa ke ICU RSUPP.
Saat dokter melakukan penanganan pertama, ditemukan luka lama tak tertangani pada area kemaluan bocah malang tersebut.
"Pas anak saya masuk dan diperiksa, katanya ada yang melakuin. Anak ibu sudah enggak suci lagi, gitu katanya," ujar ibunda RI saat memberikan testimoni kepada sejumlah wartawan di RS Persahabatan, Kamis (3/1/2013) siang.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Berita Serupa :
- metro.news.viva.co.id : "Jokowi Kunjungi Keluarga Bocah yang Diduga Diperkosa"
Seperti biasa, kedatangan orang nomor satu di DKI itu selalu menyedot perhatian warga. Saat Jokowi tiba, cuaca di lokasi pun dalam keadaan hujan deras. Para warga pun dengan sukarela basah-basahan, berlari-lari, dan berusaha untuk sekadar mendekati, bersalaman, atau berfoto bersama Jokowi. Suasana hujan deras, gang sempit, dan jalanan becek menjadi tantangan tersendiri bagi para pewarta yang harus berlomba-lomba dengan para warga untuk dapat mendekati Jokowi.
Akhirnya Jokowi tiba di rumah Sunoto, ayah RI (11), yang diduga korban perkosaan. Di rumah yang sangat sederhana dan semi-permanen dengan penerangan yang kurang dan bagian terasnya hanya dilindungi oleh terpal untuk melindungi dari derasnya hujan yang turun, di situlah tempat RI sehari-hari beraktivitas. Jokowi langsung disambut oleh keluarga besar RI, termasuk Sunoto.
Jokowi berbicara cukup lama dengan Sunoto yang saat itu terlihat cukup kumal dan menggunakan batik sederhana. Sebelumnya, saat masih berada di Balaikota Jakarta, Jokowi pun berjanji untuk menemui keluarga korban untuk melayat dan memberikan santunan kepada keluarga RI sebagai tanda berbelasungkawa.
"Ya, saya atur. Sekarang ramai-ramai hehe," kata Jokowi.
RI, yang diduga menjadi korban tindakan kekerasan seksual, meninggal dunia di ruang ICU (Intensive Care Unit) Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan (RSUPP) dalam kondisi koma. Sebelumnya, RI didiagnosis dokter mengalami infeksi pada bagian otak, meski dokter belum berhasil menemukan apakah infeksi itu akibat luka pada kemaluannya atau bukan.
RI adalah putri bungsu dari enam bersaudara pasangan suami-istri A (50) dan L (54). Mereka tinggal di lapak pemulung di Cakung, Jakarta Timur. Kondisi bocah yang duduk di kelas V SD itu dua bulan terakhir menurun drastis, hingga kejang dan mengalami penurunan suhu tubuh. Pada 29 Desember 2012 lalu, kondisi RI semakin menurun hingga akhirnya ia dibawa ke ICU RSUPP.
Saat dokter melakukan penanganan pertama, ditemukan luka lama tak tertangani pada area kemaluan bocah malang tersebut.
"Pas anak saya masuk dan diperiksa, katanya ada yang melakuin. Anak ibu sudah enggak suci lagi, gitu katanya," ujar ibunda RI saat memberikan testimoni kepada sejumlah wartawan di RS Persahabatan, Kamis (3/1/2013) siang.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Berita Serupa :
- metro.news.viva.co.id : "Jokowi Kunjungi Keluarga Bocah yang Diduga Diperkosa"
Jokowi Siap Bertanggung Jawab Atas Kematian RI
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyatakan siap bertanggung jawab atas kematian RI, 11 tahun. Gadis ini adalah pasien dari keluarga miskin yang diduga meninggal karena tidak mendapat pelayanan kesehatan yang layak. Dia berjanji akan mengunjungi dan memberi santunan kepada keluarga RI. "Saya siap bertanggung jawab," kata Jokowi di Balai Kota Jakarta, Senin, 7 Januari 2013.
RI adalah bocah sekolah dasar. Dia menderita demam tinggi dan dibawa ke puskesmas untuk pengobatan. Dokter awalnya mendiagnosis bocah perempuan itu menderita penyakit tifus. Namun belakangan diketahui bocah itu menderita infeksi di saluran vagina dan dubur. (baca: Otopsi untuk Pastikan RI Diperkosa atau Sebab Lain)
Setelah mengalami koma selama beberapa hari, RI meninggal Ahad lalu saat dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia menilai pelayanan kesehatan terhadap RI tidak layak. (baca: Meski RI Meninggal, Komnas Anak Tetap Menyelidiki)
Akibatnya, penyakit bocah itu baru bisa terdeteksi setelah kondisinya parah. Ketua Satuan Tugas Perlindungan Anak KPAI M. Ihsan meminta Jokowi bertanggung jawab atas pelayanan kesehatan yang buruk itu. "Gubernur harus menyampaikan permintaan maaf dan mengunjungi keluarga korban," katanya kemarin. (baca: Jokowi Dituntut Minta Maaf Atas Kematian RI)
Jokowi menyatakan sama sekali tidak berkeberatan memenuhi tuntutan itu. "Kalau memang tanggung jawab saya, ya saya bertanggung jawab," katanya. Bahkan dia mengakui pelaksanaan program kesehatan di Jakarta belum optimal. "Semuanya memang belum baik, jadi harus diperbaiki semuanya, termasuk pelayanan."
Menurut Jokowi, masih ada diskriminasi pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan di puskesmas maupun rumah sakit. Padahal setiap pasien yang datang berhak mendapat pelayanan yang sama, meskipun menggunakan fasilitas berobat gratis. "Saya tahu itu tanggung jawab saya," katanya.
Sumber :
www.tempo.co
RI adalah bocah sekolah dasar. Dia menderita demam tinggi dan dibawa ke puskesmas untuk pengobatan. Dokter awalnya mendiagnosis bocah perempuan itu menderita penyakit tifus. Namun belakangan diketahui bocah itu menderita infeksi di saluran vagina dan dubur. (baca: Otopsi untuk Pastikan RI Diperkosa atau Sebab Lain)
Setelah mengalami koma selama beberapa hari, RI meninggal Ahad lalu saat dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia menilai pelayanan kesehatan terhadap RI tidak layak. (baca: Meski RI Meninggal, Komnas Anak Tetap Menyelidiki)
Akibatnya, penyakit bocah itu baru bisa terdeteksi setelah kondisinya parah. Ketua Satuan Tugas Perlindungan Anak KPAI M. Ihsan meminta Jokowi bertanggung jawab atas pelayanan kesehatan yang buruk itu. "Gubernur harus menyampaikan permintaan maaf dan mengunjungi keluarga korban," katanya kemarin. (baca: Jokowi Dituntut Minta Maaf Atas Kematian RI)
Jokowi menyatakan sama sekali tidak berkeberatan memenuhi tuntutan itu. "Kalau memang tanggung jawab saya, ya saya bertanggung jawab," katanya. Bahkan dia mengakui pelaksanaan program kesehatan di Jakarta belum optimal. "Semuanya memang belum baik, jadi harus diperbaiki semuanya, termasuk pelayanan."
Menurut Jokowi, masih ada diskriminasi pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan di puskesmas maupun rumah sakit. Padahal setiap pasien yang datang berhak mendapat pelayanan yang sama, meskipun menggunakan fasilitas berobat gratis. "Saya tahu itu tanggung jawab saya," katanya.
Sumber :
www.tempo.co
Jokowi Kaget Rusun Marunda Diperjualbelikan
Gubernur DKI Jokowi kaget mendengar kabar unit di rusun Marunda, Jakarta
Utara, diperjualkan. Jokowi akan mencari tahu kabar penjualan di rusun
yang tadinya sepi peminat tersebut.
"Ceritanya gimana? Saya belum dengar. Saya cari nanti," ujar Jokowi kaget. Jokowi mengatakan itu usai bertemu dengan Dubes Brunei Darussalam Dato Paduka Mahmud Hj di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin
(3/1/2013).
Pria asal Solo ini menerangkan, rusun Marunda sebenarnya sudah tidak beroperasi selama lebih dari 5 tahun. Dari 26 blok yang tersedia, yang tidak beroperasi 19 blok.
Jokowi pun meminta rusun Marunda diperbaiki agar semua blok terisi. Bahkan Jokowi akan menyediakan puskesmas, pasar di rusun tersebut.
"Mau kita beri transport, puskesmas, pasar, mau kita kompletin. Tahun ini harus komplet. Ya tapi ada problem ini, coba saya cari. Saya cari dulu apakah benar," kata ayah 3 anak ini.
Jokowi akan mengecek adanya kabar warga yang menyewa rusun Marunda sebagai pihak ketiga. Jika benar, Jokowi akan meluruskannya.
"Harus dikontrol, harus dicek bener tidak. Kalau nggak benar ya dibenarin. Memang banyak yang harus kita benarin. Itulah perlunya manajemen lapangan, manajemen kontrol, manajemen cek," tuturnya.
Jokowi pun memprediksi pembenahan rusun Marunda akan selesai akhir tahun ini juga. "Beri saya waktu. Baru beberapa hari. Kita kan sudah menyelesaikan 3 blok, ya paling nggak sampai akhir tahun ini rampung," ucap Jokowi.
Sumber :
news.detik.com
"Ceritanya gimana? Saya belum dengar. Saya cari nanti," ujar Jokowi kaget. Jokowi mengatakan itu usai bertemu dengan Dubes Brunei Darussalam Dato Paduka Mahmud Hj di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin
(3/1/2013).
Pria asal Solo ini menerangkan, rusun Marunda sebenarnya sudah tidak beroperasi selama lebih dari 5 tahun. Dari 26 blok yang tersedia, yang tidak beroperasi 19 blok.
Jokowi pun meminta rusun Marunda diperbaiki agar semua blok terisi. Bahkan Jokowi akan menyediakan puskesmas, pasar di rusun tersebut.
"Mau kita beri transport, puskesmas, pasar, mau kita kompletin. Tahun ini harus komplet. Ya tapi ada problem ini, coba saya cari. Saya cari dulu apakah benar," kata ayah 3 anak ini.
Jokowi akan mengecek adanya kabar warga yang menyewa rusun Marunda sebagai pihak ketiga. Jika benar, Jokowi akan meluruskannya.
"Harus dikontrol, harus dicek bener tidak. Kalau nggak benar ya dibenarin. Memang banyak yang harus kita benarin. Itulah perlunya manajemen lapangan, manajemen kontrol, manajemen cek," tuturnya.
Jokowi pun memprediksi pembenahan rusun Marunda akan selesai akhir tahun ini juga. "Beri saya waktu. Baru beberapa hari. Kita kan sudah menyelesaikan 3 blok, ya paling nggak sampai akhir tahun ini rampung," ucap Jokowi.
Sumber :
news.detik.com
Effendi: Jokowi itu tampangnya ndeso, Dahlan jangan ikut-ikut
Kecelakaan mobil yang menimpa Menteri BUMN Dahlan Iskan rupanya tidak membuat politisi PDI Perjuangan Effendi Simbolon berhenti mengkritisi. Menurut dia, apa yang telah dilakukan Dahlan adalah sebuah pencitraan untuk bisa menjadi presiden di pemilu 2014 mendatang.
Dia mengatakan, Dahlan tidak akan mungkin bisa meniru gaya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang terkenal akibat mempopulerkan mobil Esemka.
"Ini kan (kecelakaan Dahlan) sebenarnya sinyal dari Tuhan kepada orang-orang yang berambisi jadi presiden, enggak perlu lah ikuti jejak Jokowi," jelas Effendi di Gedung DPR, Jakarta (7/1).
Effendi menilai, tidak akan ada tokoh yang bisa mengikuti gaya Jokowi memikat hati masyarakat dengan gaya yang bersahaja. "Jokowi terlahir sudah wajahnya ndeso penampilannya ndeso, kita-kita ini enggak bisa lah meniru-niru dengan gaya Jokowi kemudian bisa jadi capres," imbuhnya.
Bahkan Effendi meminta agar kecelakaan yang dialami Dahlan segera diusut, termasuk dugaan pelanggaran berkendara yang dilakukan oleh mantan dirut PLN itu.
"Justru mobil yang belum berSTNK, berarti pak Dahlan melanggar lalu lintas. Anas aja plat nomornya dipermasalahkan, berarti harus dipermasalahkan juga dong," tegas dia.
Meski begitu, dia tetap prihatin atas apa yang telah menimpa Dahlan. Dia juga berencana akan menjenguk Dahlan apabila akibat insiden ini, Dahlan tidak bisa bekerja optimal sebagai menteri BUMN.
"Ya kita prihatin, untung enggak diopname, kalau diopname saya akan jenguk," tandasnya.
Sumber :
merdeka.com
Dia mengatakan, Dahlan tidak akan mungkin bisa meniru gaya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang terkenal akibat mempopulerkan mobil Esemka.
"Ini kan (kecelakaan Dahlan) sebenarnya sinyal dari Tuhan kepada orang-orang yang berambisi jadi presiden, enggak perlu lah ikuti jejak Jokowi," jelas Effendi di Gedung DPR, Jakarta (7/1).
Effendi menilai, tidak akan ada tokoh yang bisa mengikuti gaya Jokowi memikat hati masyarakat dengan gaya yang bersahaja. "Jokowi terlahir sudah wajahnya ndeso penampilannya ndeso, kita-kita ini enggak bisa lah meniru-niru dengan gaya Jokowi kemudian bisa jadi capres," imbuhnya.
Bahkan Effendi meminta agar kecelakaan yang dialami Dahlan segera diusut, termasuk dugaan pelanggaran berkendara yang dilakukan oleh mantan dirut PLN itu.
"Justru mobil yang belum berSTNK, berarti pak Dahlan melanggar lalu lintas. Anas aja plat nomornya dipermasalahkan, berarti harus dipermasalahkan juga dong," tegas dia.
Meski begitu, dia tetap prihatin atas apa yang telah menimpa Dahlan. Dia juga berencana akan menjenguk Dahlan apabila akibat insiden ini, Dahlan tidak bisa bekerja optimal sebagai menteri BUMN.
"Ya kita prihatin, untung enggak diopname, kalau diopname saya akan jenguk," tandasnya.
Sumber :
merdeka.com
Jokowi & Dubes Brunei Kongkow Bahas Pariwisata Jakarta
Duta Besar (Dubes) Brunei Darussalam untuk Indonesia, Dato Paduka
Mahmoud, bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) untuk
membahas berbagai kerja sama Jakarta-Brunei.
"Kita memperbincangkan mengenai, pertama, mengenalkan saya sebagai Duta besar, kedua untuk bincangkan kerja sama yang bisa diwujudkan antara Brunei dan Jakarta khususnya. Bagi saya itu yang perlu ditingkatkan lagi person to person kontak untuk pencapaian aset di 2013," kata Dato Paduka Mahmoud di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (7/1/2013).
Kendati demikian, dia menyebut untuk saat ini bidang yang paling tepat untuk menjalin kerja sama adalah pariwisata. Untuk mengenalkan Jakarta kepada warga Brunei dan sebaliknya mengenalkan warga Jakarta tentang Brunei.
"Dalam bidang pariwisata itu bagi kita mengenalkan Brunei kepada penduduk Jakarta dan juga bagi orang-orang Brunei lebih banyak ke Jakarta untuk mengetahui dan menikmati sendiri Jakarta," ujarnya.
Mahmoud juga secara pribadi mengaku senang bisa bertemu Jokowi untuk pertama kalinya, setelah menjabat sebagai gubernur DKI. Meski ketika menjadi Wali Kota Solo dia mengaku sudah pernah bertemu.
Sementara itu, Jokowi berharap kerjasama antara Pemprov DKI Jakarta dengan Brunei Darussalam khususnya dalam bidang pariwisata bisa termujud dalam waktu dekat.
"Kerja sama yang konkret dan yang bisa saling membutuhkan. Tapi dengan Brunei, kita ingin di pariwisata. Bisa dibicarakan apa yang bisa dilakukan dan dia bisa sanggupi," katanya Jokowi usai pertemuan.
Karena itu pada pertemuan berikutnya akan ada pembahasan mengenai kerja sama tersebut.
Sumber :
jakarta.okezone.com
"Kita memperbincangkan mengenai, pertama, mengenalkan saya sebagai Duta besar, kedua untuk bincangkan kerja sama yang bisa diwujudkan antara Brunei dan Jakarta khususnya. Bagi saya itu yang perlu ditingkatkan lagi person to person kontak untuk pencapaian aset di 2013," kata Dato Paduka Mahmoud di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (7/1/2013).
Kendati demikian, dia menyebut untuk saat ini bidang yang paling tepat untuk menjalin kerja sama adalah pariwisata. Untuk mengenalkan Jakarta kepada warga Brunei dan sebaliknya mengenalkan warga Jakarta tentang Brunei.
"Dalam bidang pariwisata itu bagi kita mengenalkan Brunei kepada penduduk Jakarta dan juga bagi orang-orang Brunei lebih banyak ke Jakarta untuk mengetahui dan menikmati sendiri Jakarta," ujarnya.
Mahmoud juga secara pribadi mengaku senang bisa bertemu Jokowi untuk pertama kalinya, setelah menjabat sebagai gubernur DKI. Meski ketika menjadi Wali Kota Solo dia mengaku sudah pernah bertemu.
Sementara itu, Jokowi berharap kerjasama antara Pemprov DKI Jakarta dengan Brunei Darussalam khususnya dalam bidang pariwisata bisa termujud dalam waktu dekat.
"Kerja sama yang konkret dan yang bisa saling membutuhkan. Tapi dengan Brunei, kita ingin di pariwisata. Bisa dibicarakan apa yang bisa dilakukan dan dia bisa sanggupi," katanya Jokowi usai pertemuan.
Karena itu pada pertemuan berikutnya akan ada pembahasan mengenai kerja sama tersebut.
Sumber :
jakarta.okezone.com
APBD Telat, Jokowi Nilai Dewan Memperlambat
DKI Jakarta Joko Widodo berjanji pertengahan Januari, APBD DKI 2013
sudah bisa diketok. Pembahasan yang cukup alot antara eksekutif dan
legislatif membuat APBD tak kunjung bisa diselesaikan.
“Kalau yang kerja saya sendiri ya saya percepat. Tapi karena melibatkan dewan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi banyak pertanyaan dari dewan, jadi pembahasannya makan waktu yang cukup panjang,” ujar Jokowi.
Menurut mantan Walikota Solo itu, pembahasan rancangan APBD DKI 2013 telah dilakukannya siang hingga malam. Penyusunan RAPBD DKI sudah dilakukan mulai dari Oktober hingga awal Januari 2013. Dan Pemprov DKI tetap menginginkan pembahasan rampung pertengahan Januari dan langsung diketok palu oleh DPRD DKI.
“Kami kerja siang malam. Apa dipikir kami ini hanya kerja siang saja? Siang malam untuk rampungkan. Mulai dari Oktober sampai sekarang juga belum rampung. Tapi kami tetap ingin pertengahan Januari ini rampung. Insya Allah,” harapnya.
Dituturkan Jokowi, ada beberapa kendala yang menyebabkan belum disahkannya RAPBD DKI 2013 menjadi APBD DKI 2013. Yaitu, ada program-program pembangunan yang belum sinkron, yang perlu diperbaiki dan perlu penjelasan yang mendetail. Seperti banyak dewan yang mempertanyakan pembelian bus sedang untuk hibah 1.000 bus, kemudian jalan layang untuk elevated bus di Ciledug, penataan kampung dan Kartu Jakarta Sehat (KJS).
“Semuanya ditanyakan. Mulai dari pembelian bus, jalan layang untuk elevated bus di ciledug, mengenai penataan kampung. Bahkan terkait pelaksanaan, Kartu Jakarta Sehat (KJS) meski sudah jelas, tapi tetap saja dipertanyakan, meskipun sudah dijalankan KJS masih ditanyakan juga,” tegasnya.
Jokowipun mengatakan, pembahasan APBD pun sebenarnya tidak terlalu alot. Namun dewan selalu meminta penjelasan yang seharusnya sudah tidak perlu dijelaskan.
“Tapi saat ini pembahasan, sudah mendekati final. Tinggal seminggu lagilah. Moga-moga bisa rampung,” paparnya.
Ketua Komisi C (bidang anggaran) DPRD Jakarta Maman Firmansyah mengatakan, telatnya pengesahan APBD dikarenakan banyaknya program-program yang dimasukkan Jokowi adalah program coba-coba. Hal itulah yang membuat banyak pertanyaan dewan dalam pembahasan APBD. Dampaknya pengesahan terlambat.
“Program coba-coba yang dimaksud adalah, KJS, Kartu Sehat (KS), kampung deret ataupun kampung apung,” kata Maman.
Ketua DPRD DKI Jakarta Ferrial Sofyan menegaskan pihaknya tidak ingin memperlama pengesahan APBD DKI 2013. Tetapi banyak program Pemprov DKI Jakarta dalam RAPBD DKI 2013 perlu dikritisi lagi, supaya tidak melanggar aturan yang sudah ada.
“Kami bukannya ingin memperlama. Kami dukung semua program Gubernur. Tetapi semua kegiatan dalam APBD DKI 2013 harus sesuai aturan. Lagipula kami masih menunggu Gubernur menyerahkan Raperda RPJMD 2012-2017 yang menjadi acuan untuk menyusun APBD DKI,” jelasnya.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Inggard Joshua memastikan, pengesahan APBD akan disahkan pada 28 Januari 2013. Keterlambatan pengesahan APBD ini adalah untuk mengakomodasi program-program yang dijalankan Jokowi.
Menurut Inggard, saat ini masih dalam tahap pembahasan per komisi. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan eksekutif. Sehingga Pemprov DKI Jakarta bisa menggunakan anggaran rutin untuk kegiatan yang dijalankan pada Januari. “Eksekutif bisa memakai anggaran rutin sesuai dengan tahun sebelumnya untuk bulan Januari,” terangnya.
Seperti diketahui, APBD DKI 2013 mencapai Rp 46.859.484.166.000. Alokasi belanja terbesar DKI ada pada bidang pendidikan yang mencapai 29,7 persen, atau sebesar Rp 12,6 triliun. Disusul bidang pemerintahan sebesar Rp 7,9 triliun, bidang pekerjaan umum Rp 4,9 triliun, bidang kesehatan Rp 4,1 triliun, dan Perhubungan Rp 3,3 triliun.
Sumber :
jpnn.com
“Kalau yang kerja saya sendiri ya saya percepat. Tapi karena melibatkan dewan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi banyak pertanyaan dari dewan, jadi pembahasannya makan waktu yang cukup panjang,” ujar Jokowi.
Menurut mantan Walikota Solo itu, pembahasan rancangan APBD DKI 2013 telah dilakukannya siang hingga malam. Penyusunan RAPBD DKI sudah dilakukan mulai dari Oktober hingga awal Januari 2013. Dan Pemprov DKI tetap menginginkan pembahasan rampung pertengahan Januari dan langsung diketok palu oleh DPRD DKI.
“Kami kerja siang malam. Apa dipikir kami ini hanya kerja siang saja? Siang malam untuk rampungkan. Mulai dari Oktober sampai sekarang juga belum rampung. Tapi kami tetap ingin pertengahan Januari ini rampung. Insya Allah,” harapnya.
Dituturkan Jokowi, ada beberapa kendala yang menyebabkan belum disahkannya RAPBD DKI 2013 menjadi APBD DKI 2013. Yaitu, ada program-program pembangunan yang belum sinkron, yang perlu diperbaiki dan perlu penjelasan yang mendetail. Seperti banyak dewan yang mempertanyakan pembelian bus sedang untuk hibah 1.000 bus, kemudian jalan layang untuk elevated bus di Ciledug, penataan kampung dan Kartu Jakarta Sehat (KJS).
“Semuanya ditanyakan. Mulai dari pembelian bus, jalan layang untuk elevated bus di ciledug, mengenai penataan kampung. Bahkan terkait pelaksanaan, Kartu Jakarta Sehat (KJS) meski sudah jelas, tapi tetap saja dipertanyakan, meskipun sudah dijalankan KJS masih ditanyakan juga,” tegasnya.
Jokowipun mengatakan, pembahasan APBD pun sebenarnya tidak terlalu alot. Namun dewan selalu meminta penjelasan yang seharusnya sudah tidak perlu dijelaskan.
“Tapi saat ini pembahasan, sudah mendekati final. Tinggal seminggu lagilah. Moga-moga bisa rampung,” paparnya.
Ketua Komisi C (bidang anggaran) DPRD Jakarta Maman Firmansyah mengatakan, telatnya pengesahan APBD dikarenakan banyaknya program-program yang dimasukkan Jokowi adalah program coba-coba. Hal itulah yang membuat banyak pertanyaan dewan dalam pembahasan APBD. Dampaknya pengesahan terlambat.
“Program coba-coba yang dimaksud adalah, KJS, Kartu Sehat (KS), kampung deret ataupun kampung apung,” kata Maman.
Ketua DPRD DKI Jakarta Ferrial Sofyan menegaskan pihaknya tidak ingin memperlama pengesahan APBD DKI 2013. Tetapi banyak program Pemprov DKI Jakarta dalam RAPBD DKI 2013 perlu dikritisi lagi, supaya tidak melanggar aturan yang sudah ada.
“Kami bukannya ingin memperlama. Kami dukung semua program Gubernur. Tetapi semua kegiatan dalam APBD DKI 2013 harus sesuai aturan. Lagipula kami masih menunggu Gubernur menyerahkan Raperda RPJMD 2012-2017 yang menjadi acuan untuk menyusun APBD DKI,” jelasnya.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Inggard Joshua memastikan, pengesahan APBD akan disahkan pada 28 Januari 2013. Keterlambatan pengesahan APBD ini adalah untuk mengakomodasi program-program yang dijalankan Jokowi.
Menurut Inggard, saat ini masih dalam tahap pembahasan per komisi. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan eksekutif. Sehingga Pemprov DKI Jakarta bisa menggunakan anggaran rutin untuk kegiatan yang dijalankan pada Januari. “Eksekutif bisa memakai anggaran rutin sesuai dengan tahun sebelumnya untuk bulan Januari,” terangnya.
Seperti diketahui, APBD DKI 2013 mencapai Rp 46.859.484.166.000. Alokasi belanja terbesar DKI ada pada bidang pendidikan yang mencapai 29,7 persen, atau sebesar Rp 12,6 triliun. Disusul bidang pemerintahan sebesar Rp 7,9 triliun, bidang pekerjaan umum Rp 4,9 triliun, bidang kesehatan Rp 4,1 triliun, dan Perhubungan Rp 3,3 triliun.
Sumber :
jpnn.com
Minggu, 06 Januari 2013
Jokowi Hadiri Perayaan Natal PDIP di TIM
Gubernur DKI Joko Widodo menghadiri perayaan natal bersama DPP PDI
Perjuangan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini
Raya, Jakarta Pusat. Megawati yang juga dijadwalkan hadir belum tampak
hingga acara dimulai.
Pantuan detikcom, Minggu (6/1/2013), Jokowi tiba di lokasi pukul 19.55 WIB dari kediamannya di Taman Surapati, Menteng, Jakarta. Jokowi yang memakai batik cokelat lengan panjang tersebut datang dengan kijang Innova hitam B 1592 NKR.
Begitu Jokowi datang, wartawan langsung mengerumuni dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Akan tetapi Jokowi tidak menjawab satupun pertanyaan tersebut dan memilih tersenyum sambil berlalu ke dalam ruangan acara.
Tampak juga di acara ini Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo dan Maruarar Sirait, serta para kader PDIP yang malam ini memakai pakaian warna merah dan hitam.
Sumber :
news.detik.com
Pantuan detikcom, Minggu (6/1/2013), Jokowi tiba di lokasi pukul 19.55 WIB dari kediamannya di Taman Surapati, Menteng, Jakarta. Jokowi yang memakai batik cokelat lengan panjang tersebut datang dengan kijang Innova hitam B 1592 NKR.
Begitu Jokowi datang, wartawan langsung mengerumuni dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Akan tetapi Jokowi tidak menjawab satupun pertanyaan tersebut dan memilih tersenyum sambil berlalu ke dalam ruangan acara.
Tampak juga di acara ini Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo dan Maruarar Sirait, serta para kader PDIP yang malam ini memakai pakaian warna merah dan hitam.
Sumber :
news.detik.com
Dipo Alam: Blusukan SBY tak Tiru Jokowi
Sekretaris Kabinet (Seskab), Dipo Alam menegaskan blusukan yang
dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bukan pencitraan
atau meniru gaya dari Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.
Dipo menegaskan sejak awal pemerintahan SBY, aksi tersebut sudah sering dilakukan. “Dari dulu juga begitu. Sekarang saja lebih sering pakai protokoler karena Kemeterian Dalam Negeri menyebutkan agar gubernur dan bupati menyambut presiden. Itu yang membuat waktu presiden menjadi kurang untuk melakukan inspeksi,” katanya, Ahad (6/1).
Aksi Presiden SBY, ujar Dipo, dilakukan secara sistemik dan berdasarkan evaluasi dan pelaporan yang terhimpun di UKP4. Secara fisik, hasil program pemerintah memang dilaporkan tetapi dianggap perlu pula untuk melihat secara langsung apa saja program yang terhambat dan titik penyumbatnya.
Contohnya, terang Dipo, belum tersosialisasinya program Kredit Usaha Rakyat (KUR) padahal ada dana untuk program ini digelontorkan triliunan rupiah setiap tahunnya. “Kenapa nelayan dan warga tidak tahu caranya memanfaatkan program KUR. Kita juga pergi dalam kaitan dengan rencana-rencana pembangunan di Indonesia yang perlu perhatian,” terangnya.
Tak hanya itu, blusukan Presiden SBY, ujar Dipo, juga untuk melihat kinerja para pemerintah daerah. Dengan inspeksi mendadak itu, jajaran pemerintahan tingkat bawah seperti bupati ataupun walikota bisa terpantau kinerjanya apakah memberikan perhatian pada masyarakatnya atau tidak.
Sumber :
republika.co.id
Dipo menegaskan sejak awal pemerintahan SBY, aksi tersebut sudah sering dilakukan. “Dari dulu juga begitu. Sekarang saja lebih sering pakai protokoler karena Kemeterian Dalam Negeri menyebutkan agar gubernur dan bupati menyambut presiden. Itu yang membuat waktu presiden menjadi kurang untuk melakukan inspeksi,” katanya, Ahad (6/1).
Aksi Presiden SBY, ujar Dipo, dilakukan secara sistemik dan berdasarkan evaluasi dan pelaporan yang terhimpun di UKP4. Secara fisik, hasil program pemerintah memang dilaporkan tetapi dianggap perlu pula untuk melihat secara langsung apa saja program yang terhambat dan titik penyumbatnya.
Contohnya, terang Dipo, belum tersosialisasinya program Kredit Usaha Rakyat (KUR) padahal ada dana untuk program ini digelontorkan triliunan rupiah setiap tahunnya. “Kenapa nelayan dan warga tidak tahu caranya memanfaatkan program KUR. Kita juga pergi dalam kaitan dengan rencana-rencana pembangunan di Indonesia yang perlu perhatian,” terangnya.
Tak hanya itu, blusukan Presiden SBY, ujar Dipo, juga untuk melihat kinerja para pemerintah daerah. Dengan inspeksi mendadak itu, jajaran pemerintahan tingkat bawah seperti bupati ataupun walikota bisa terpantau kinerjanya apakah memberikan perhatian pada masyarakatnya atau tidak.
Sumber :
republika.co.id
NASIONAL Jokowi Gandeng Korea Selatan Benahi Sungai Jakarta
Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Joko Widodo
ternyata menarik perhatian dunia. Duta Besar Korea Selatan Kim Yeong
Seon menyambangi Gubernur Jokowi di Balaikota DKI Jakarta, Jumat (4/1).
Kunjungan ini terkait rencana Seoul menjadikan Jakarta sebagai kota
berkelas dunia (Global City).
Ada dua fokus pembahasan pertemuan: restorasi Kali Ciliwung dan kerja sama di bidang transportasi. Jokowi mengaku kagum dengan sungai di Seoul yang bersih dan dikelola baik.
Di sana, kata Jokowi, sungai dijadikan tempat wisata di malam hari. Untuk itu, Jokowi akan membangun proyek percontohan untuk sejumlah sungai (kali) di Jakarta dengan konsep sama.
Yeong Seon menyatakan, tahun ini adalah tahun kerja sama besar-besaran antara Pemprov DKI Jakarta dengan Korsel. Yeong Seon melihat kepemimpinan Jokowi akan membawa Jakarta sebagai kota berkelas dunia.
Hubungan kerja Indonesia dengan Korsel sudah terjalin 40 tahun. Kini Negeri Gingseng sedang melirik Jakarta yang dinilai punya potensi besar untuk maju.
Sumber :
metrotvnews.com
Ada dua fokus pembahasan pertemuan: restorasi Kali Ciliwung dan kerja sama di bidang transportasi. Jokowi mengaku kagum dengan sungai di Seoul yang bersih dan dikelola baik.
Di sana, kata Jokowi, sungai dijadikan tempat wisata di malam hari. Untuk itu, Jokowi akan membangun proyek percontohan untuk sejumlah sungai (kali) di Jakarta dengan konsep sama.
Yeong Seon menyatakan, tahun ini adalah tahun kerja sama besar-besaran antara Pemprov DKI Jakarta dengan Korsel. Yeong Seon melihat kepemimpinan Jokowi akan membawa Jakarta sebagai kota berkelas dunia.
Hubungan kerja Indonesia dengan Korsel sudah terjalin 40 tahun. Kini Negeri Gingseng sedang melirik Jakarta yang dinilai punya potensi besar untuk maju.
Sumber :
metrotvnews.com
Jokowi Dituntut Minta Maaf Atas Kematian RI
Komisi Perlindungan Anak Indonesia menuding Gubernur DKI Jakarta Joko
Widodo bersalah dalam kasus meninggalnya RI, 11 tahun, siswi SDN 22 Pulo
Gebang, Jakarta Timur, yang diduga sebagai korban pemerkosaan.
"Gubernur harus sampaikan maaf dan kunjungi keluarga korban," ujar Ketua
Satgas Perlindungan Anak KPAI, M. Ihsan, Ahad, 6 Januari 2013.
Alasannya, Jokowi dianggap membiarkan lambannya penanganan kesehatan dan ketidakmampuan pelayanan kesehatan dari tingkat puskesmas yang mendeteksi masalah medis RI sejak dini. "Inilah yang berujung maut," ujar Ihsan.
Menurut Ihsan, RI sudah mengeluh sakit sejak tiga bulan lalu. "Keluhannya sakit kelenjar getah bening, tapi tak kunjung sembuh," ujarnya. Keluarga tak berani membawa RI ke tenaga medis yang lebih ahli dengan alasan ekonomi. Namun, di sisi lain, pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas tak memadai.
"Ini membuktikan bahwa puskesmas tidak mampu memberikan pelayanan yang optimal," ujarnya. Setelah RI tak sadarkan diri, barulah keluarga berani membawa RI ke Rumah Sakit Persahabatan. Ia sempat divonis berbagai macam penyakit, seperti sakit lambung dan tifus.
Saat dirawat di RS Persahabatan, keluarga menemukan fakta bahwa ada dugaan terjadi kekerasan seksual pada RI. "Ada pembengkakan di kelamin yang terinfeksi serta mengeluarkan belatung," ujarnya.
Akhirnya, setelah berjuang melawan penyakitnya selama satu minggu, RI meninggal dunia tadi pagi di RS Persahabatan. Sekarang jenazahnya tengah diotopsi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Atas dugaan kekerasan seksual itu, Ihsan meminta agar kasus ini diusut tuntas.
Sumber :
www.tempo.co
Alasannya, Jokowi dianggap membiarkan lambannya penanganan kesehatan dan ketidakmampuan pelayanan kesehatan dari tingkat puskesmas yang mendeteksi masalah medis RI sejak dini. "Inilah yang berujung maut," ujar Ihsan.
Menurut Ihsan, RI sudah mengeluh sakit sejak tiga bulan lalu. "Keluhannya sakit kelenjar getah bening, tapi tak kunjung sembuh," ujarnya. Keluarga tak berani membawa RI ke tenaga medis yang lebih ahli dengan alasan ekonomi. Namun, di sisi lain, pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas tak memadai.
"Ini membuktikan bahwa puskesmas tidak mampu memberikan pelayanan yang optimal," ujarnya. Setelah RI tak sadarkan diri, barulah keluarga berani membawa RI ke Rumah Sakit Persahabatan. Ia sempat divonis berbagai macam penyakit, seperti sakit lambung dan tifus.
Saat dirawat di RS Persahabatan, keluarga menemukan fakta bahwa ada dugaan terjadi kekerasan seksual pada RI. "Ada pembengkakan di kelamin yang terinfeksi serta mengeluarkan belatung," ujarnya.
Akhirnya, setelah berjuang melawan penyakitnya selama satu minggu, RI meninggal dunia tadi pagi di RS Persahabatan. Sekarang jenazahnya tengah diotopsi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Atas dugaan kekerasan seksual itu, Ihsan meminta agar kasus ini diusut tuntas.
Sumber :
www.tempo.co
Demokrat: Jangan Samakan Blusukan SBY dengan Jokowi
Partai Demokrat enggan disebut aksi blusukan Presiden SBY meniru atau
sama dengan aksi blusukan Gubernur DKI Jakarta Jokowi. Presiden SBY
dinilai lebih dulu melakukan aksi blusukan tersebut sejak awal menjabat
sebagai presiden.
"Kalau disamakan, tentu tidak sama. Pak SBY sudah sejak 2004 sudah begitu (blusukan) terus," ujar Ketua DPP Partai Demokrat Andi Nurpati Andi Nurpati saat berbincang, Sabtu (5/1/2013).
Andi mengatakan gaya turba atau turun ke bawah bukan hal yang baru bagi Presiden SBY. Dalam setiap kesempatan, Presiden selalu menyempatkan waktunya untuk menyapa masyarakat.
"Seperti saat tsunami Aceh beliau terjun langsung dan ke tempat-tempat lainnya. Saat akan berangkat atau pulang kunjungan kerja Pak SBY sering gelar rapat di bandara," tutur Andi.
Menurut Andi mungkin masyarakat lupa dengan apa yang telah dilakukan Presiden SBY. Selain itu, porsi pemberitaan Jokowi jelas lebih banyak dibandingkan dengan berita sidak SBY.
"Jadi karena itu (pemberitaan) Jokowi seolah meniru aksi mantan walikota Solo tersebut. Meski begitu, siapapun pejabat atau tokoh yang mau melakukan komunikasi ke bawah harus didukung.
"Menurut saya, siapapun pejabatnya, ketika ingin turun ke lapangan untuk berkomunikasi maka harus di support," paparnya.
Pada Kamis 4 Januari kemarin, SBY mengunjungi Kampung Nelayan di Tangerang. Ia tak menggunakan mobil RI 1 seperti biasa, tapi mobil berpelat nomor B 1909 RFS. Rangkaian kendaraan yang ikut pun tak banyak.
Alhasil, banyak warga yang kaget dan bahkan tak tahu kalau pria nomor satu di Indonesia itu sedang melintas di jalanan. Sepanjang perjalanan menuju desa Tanjung Pasir, SBY disuguhi pemandangan jalanan sempit, macet, warga yang sedang mencuci, mandi di kali yang kotor, hingga persoalan sampah.
Sementara di lokasi kampung nelayan pun tak jauh berbeda. Warga mengeluhkan sanitasi yang kurang baik, bantuan solar untuk melaut yang kurang, hingga masalah pendidikan.
Bahkan, Bupati Tangerang Ismet Iskandar tidak tahu soal kunjungan SBY hingga pagi hari tadi. Dia sempat datang terlambat ke lokasi.
"Kalau disamakan, tentu tidak sama. Pak SBY sudah sejak 2004 sudah begitu (blusukan) terus," ujar Ketua DPP Partai Demokrat Andi Nurpati Andi Nurpati saat berbincang, Sabtu (5/1/2013).
Andi mengatakan gaya turba atau turun ke bawah bukan hal yang baru bagi Presiden SBY. Dalam setiap kesempatan, Presiden selalu menyempatkan waktunya untuk menyapa masyarakat.
"Seperti saat tsunami Aceh beliau terjun langsung dan ke tempat-tempat lainnya. Saat akan berangkat atau pulang kunjungan kerja Pak SBY sering gelar rapat di bandara," tutur Andi.
Menurut Andi mungkin masyarakat lupa dengan apa yang telah dilakukan Presiden SBY. Selain itu, porsi pemberitaan Jokowi jelas lebih banyak dibandingkan dengan berita sidak SBY.
"Jadi karena itu (pemberitaan) Jokowi seolah meniru aksi mantan walikota Solo tersebut. Meski begitu, siapapun pejabat atau tokoh yang mau melakukan komunikasi ke bawah harus didukung.
"Menurut saya, siapapun pejabatnya, ketika ingin turun ke lapangan untuk berkomunikasi maka harus di support," paparnya.
Pada Kamis 4 Januari kemarin, SBY mengunjungi Kampung Nelayan di Tangerang. Ia tak menggunakan mobil RI 1 seperti biasa, tapi mobil berpelat nomor B 1909 RFS. Rangkaian kendaraan yang ikut pun tak banyak.
Alhasil, banyak warga yang kaget dan bahkan tak tahu kalau pria nomor satu di Indonesia itu sedang melintas di jalanan. Sepanjang perjalanan menuju desa Tanjung Pasir, SBY disuguhi pemandangan jalanan sempit, macet, warga yang sedang mencuci, mandi di kali yang kotor, hingga persoalan sampah.
Sementara di lokasi kampung nelayan pun tak jauh berbeda. Warga mengeluhkan sanitasi yang kurang baik, bantuan solar untuk melaut yang kurang, hingga masalah pendidikan.
Bahkan, Bupati Tangerang Ismet Iskandar tidak tahu soal kunjungan SBY hingga pagi hari tadi. Dia sempat datang terlambat ke lokasi.
Jokowi Sering Sidak, Sampah di Pintu Air Manggarai Mulai Berkurang
Meski Gubernur DKI Jakarta Jokowi sudah berulang kali melakukan sidak ke
beberapa kali atau sungai di Jakarta, sampah-sampah tetap bertebaran.
Sampah rumah tangga dan sampah plastik, tetap terlihat mengambang di
Sungai Ciliwung, Jakarta.
Pantauan detikcom, Sabtu (5/1/2012) di Sungai Ciliwung, Jl Sultan Agung, Jakarta, sampah-sampah tetap menghiasi di aliran sungai. Sampah sterofoam yang berwarna putih mendominasi aliran sungai, warna putih semakin terlihat jelas jelang Pintu Air Manggarai.
Dion, petugas pintu Air Manggarai mengatakan, persoalan sampah di aliran Sungai tidak akan bisa selesai. Dia menjelaskan, sampah tetap ada. Namun, hal itu bisa dikurangi jika kesadaran masyarakat yang sadar lingkungan tinggi.
"Kalau sampah pasti tetap ada, cuma kalau dikurangi pasti bisa," ungkapnya.
Dion mengungkapkan, pasca Jokowi melakukan sidak sampah di Pintu Air Manggarai mulai berkurang. Hal itu dikarenakan pengawasan yang ketat dari Dinas PU Jakarta.
"Sekarang kan lebih ketat, kalau dulu tunggu numpuk dulu baru diangkut. Sekarang kan harus diangkut terus," tutur Dion.
Sumber :
news.detik.com
Pantauan detikcom, Sabtu (5/1/2012) di Sungai Ciliwung, Jl Sultan Agung, Jakarta, sampah-sampah tetap menghiasi di aliran sungai. Sampah sterofoam yang berwarna putih mendominasi aliran sungai, warna putih semakin terlihat jelas jelang Pintu Air Manggarai.
Dion, petugas pintu Air Manggarai mengatakan, persoalan sampah di aliran Sungai tidak akan bisa selesai. Dia menjelaskan, sampah tetap ada. Namun, hal itu bisa dikurangi jika kesadaran masyarakat yang sadar lingkungan tinggi.
"Kalau sampah pasti tetap ada, cuma kalau dikurangi pasti bisa," ungkapnya.
Dion mengungkapkan, pasca Jokowi melakukan sidak sampah di Pintu Air Manggarai mulai berkurang. Hal itu dikarenakan pengawasan yang ketat dari Dinas PU Jakarta.
"Sekarang kan lebih ketat, kalau dulu tunggu numpuk dulu baru diangkut. Sekarang kan harus diangkut terus," tutur Dion.
Sumber :
news.detik.com
Sabtu, 05 Januari 2013
Jokowi Pulang Kampung
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) tetap beraktivitas pada akhir
pekan ini. Setelah selesai beraktivitas, malam ini Jokowi pulang kampung
ke Solo, Jawa Tengah.
Pantauan detikcom Jokowi keluar dari rumah dinasnya di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (5/1/2013) dengan naik mobil Innova hitam B 1123 RFR-nya tanpa pengawalan pukul 17.00 WIB.
Sebelumnya, Jokowi saat blusukan hari ini memakai Innova hitam, namun dengan plat berbeda B 1592 NKR. Beberapa menit kemudian, Mobil Innova hitam B 1592 NKR keluar dari rumah tersebut. Tampak di dalamnya, terdapat ibu-ibu, tanpa keberadaan Jokowi.
"Ntar mau ke Solo ke bandara, mau silaturahmi sama keluarga," ujar salah seorang petugas sebelum mobil Innova hitam bernopol B 1123 RFR berangkat.
Sekitar pukul 19.30 WIB, kedua mobil Innova tersebut kembali ke rumah dinas. Hanya sopir yang berada di kedua mobil tersebut.
"Informasi awal seperti itu (ke Solo)," ujar petugas rumah dinas saat dikonfirmasi ulang.
Info yang dihimpun detikcom Jokowi mampir terlebih dahulu di acara di kediaman Sasono Wiwoho untuk bersilaturahmi dan melihat tari-tarian. Selama kurang lebih 10 menit, Jokowi kemudian ke Bandara.
Sumber :
news.detik.com
Pantauan detikcom Jokowi keluar dari rumah dinasnya di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (5/1/2013) dengan naik mobil Innova hitam B 1123 RFR-nya tanpa pengawalan pukul 17.00 WIB.
Sebelumnya, Jokowi saat blusukan hari ini memakai Innova hitam, namun dengan plat berbeda B 1592 NKR. Beberapa menit kemudian, Mobil Innova hitam B 1592 NKR keluar dari rumah tersebut. Tampak di dalamnya, terdapat ibu-ibu, tanpa keberadaan Jokowi.
"Ntar mau ke Solo ke bandara, mau silaturahmi sama keluarga," ujar salah seorang petugas sebelum mobil Innova hitam bernopol B 1123 RFR berangkat.
Sekitar pukul 19.30 WIB, kedua mobil Innova tersebut kembali ke rumah dinas. Hanya sopir yang berada di kedua mobil tersebut.
"Informasi awal seperti itu (ke Solo)," ujar petugas rumah dinas saat dikonfirmasi ulang.
Info yang dihimpun detikcom Jokowi mampir terlebih dahulu di acara di kediaman Sasono Wiwoho untuk bersilaturahmi dan melihat tari-tarian. Selama kurang lebih 10 menit, Jokowi kemudian ke Bandara.
Sumber :
news.detik.com
Istana : Jokowi dan SBY Jangan Diadu
Fihak Istana Kepresidenan melalui Staf Khusus Presiden bidang
Informasi, Heru Lelono, sangat menyayangkan pemberitaan media sebagai
informasi rakyat yang seolah mengadu kerja seorang Presiden SBY dan
Gubernur DKI Joko Widodo.
"Kalau para pemimpin menyapa dan mengunjungi rakyatnya, itu adalah bagian dari tugas dan kewajiban para pemimpinn" kata Heru kepada Tribunnews.com, Sabtu (5/1/2013).
Beberapa pihak menyebut SBY meniru gaya blusukan Jokowi. Ini setelah kemarin SBY juga mengadakan blusukan inspeksi mendadak tanpa protokoler ke perkampungan nelayan Teluk Naga, Banten.
Menurut Heru, apa yang dilakukan Presiden SBY ataupun Gubernur Jokowi sepantasnya dilakukan oleh seluruh pemimpin disemua tingkatan di negeri ini.
"Itulah kesamaan SBY dan Jokowi," kata Heru.
Bedanya, menurut dia, Presiden SBY melakukan itu sejak menjadi pejabat, apakah di TNI mulai menjadi Dandim, sampai saat ini sebagai Presiden. Selama menjadi Presiden, lanjut Heru, tak terhitung SBY mengunjungi rakyat secara langsung.
"Apakah dalam kunjungan atau safari ramadhan, kunjungan kerja kedaerah, mengunjungi korban bencana seperti Aceh, seminggu di Jogya, di Papua, di Miangas, dan hampir diseluruh daerah di tanah air," kata Heru.
Dikatakan Jokowi mungkin melakukan hal yang hampir sama, di Solo sebagai Walikota, dan baru beberapa kali di DKI dalam 3 bulan terakhir ini sebagai Gubernur.
"Setiap pemimpin punya tugas dan kewajiban sesuai dengan tingkatannya," kata dia.
Lanjut Heru, turunnya para pemimpin ke daerah tentu ingin mengetahui secara langsung hasil kebijakan yang dicanangkan.
"Sehingga bisa dilakukan berbagai penyempurnaan. Itulah persamaan dan perbedaan antara SBY dan Jokowi. Mereka menjalankan tugas dan kewajibannya masing-masing. Sungguh tidak perlu ada pihak yang dengan picik mempertangkannya," kata Heru.
Sumber :
jakarta.tribunnews.com
"Kalau para pemimpin menyapa dan mengunjungi rakyatnya, itu adalah bagian dari tugas dan kewajiban para pemimpinn" kata Heru kepada Tribunnews.com, Sabtu (5/1/2013).
Beberapa pihak menyebut SBY meniru gaya blusukan Jokowi. Ini setelah kemarin SBY juga mengadakan blusukan inspeksi mendadak tanpa protokoler ke perkampungan nelayan Teluk Naga, Banten.
Menurut Heru, apa yang dilakukan Presiden SBY ataupun Gubernur Jokowi sepantasnya dilakukan oleh seluruh pemimpin disemua tingkatan di negeri ini.
"Itulah kesamaan SBY dan Jokowi," kata Heru.
Bedanya, menurut dia, Presiden SBY melakukan itu sejak menjadi pejabat, apakah di TNI mulai menjadi Dandim, sampai saat ini sebagai Presiden. Selama menjadi Presiden, lanjut Heru, tak terhitung SBY mengunjungi rakyat secara langsung.
"Apakah dalam kunjungan atau safari ramadhan, kunjungan kerja kedaerah, mengunjungi korban bencana seperti Aceh, seminggu di Jogya, di Papua, di Miangas, dan hampir diseluruh daerah di tanah air," kata Heru.
Dikatakan Jokowi mungkin melakukan hal yang hampir sama, di Solo sebagai Walikota, dan baru beberapa kali di DKI dalam 3 bulan terakhir ini sebagai Gubernur.
"Setiap pemimpin punya tugas dan kewajiban sesuai dengan tingkatannya," kata dia.
Lanjut Heru, turunnya para pemimpin ke daerah tentu ingin mengetahui secara langsung hasil kebijakan yang dicanangkan.
"Sehingga bisa dilakukan berbagai penyempurnaan. Itulah persamaan dan perbedaan antara SBY dan Jokowi. Mereka menjalankan tugas dan kewajibannya masing-masing. Sungguh tidak perlu ada pihak yang dengan picik mempertangkannya," kata Heru.
Sumber :
jakarta.tribunnews.com
Jokowi Duga Pengaspalan Jalan Jadi Penyebab Banjir
Sering terjadinya banjir lantaran jalan lebih tinggi ketimbang
pemukiman warga, menurut Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) ada
kesalahan cara pengaspalan yang selama ini dilakukan.
"Ya memang cara pengaspalannya yang enggak benar," ujar Jokowi ketika blusukan di lokasi banjir di Kelurahan Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu (5/1/2013).
Menurut Jokowi, di dunia manapun cara melakukan pengaspalan bukanlah menambal jalan yang rusak dengan aspal yang baru.
Jokowi menjelaskan, seharusnya yang perlu dilakukan yakni mengeruk dahulu jalan yang akan diaspal ulang, baru ditimpa dengan aspal yang baru, sehingga kontur tanahnya tetap sama.
"Mustinya di dunia manapun yang namanya aspal itu tidak meninggikan jalan. Yang lama dikeruk, baru ditimpa lagi, sehingga tetap," tutur Jokowi.
Sumber :
jakarta.tribunnews.com
"Ya memang cara pengaspalannya yang enggak benar," ujar Jokowi ketika blusukan di lokasi banjir di Kelurahan Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu (5/1/2013).
Menurut Jokowi, di dunia manapun cara melakukan pengaspalan bukanlah menambal jalan yang rusak dengan aspal yang baru.
Jokowi menjelaskan, seharusnya yang perlu dilakukan yakni mengeruk dahulu jalan yang akan diaspal ulang, baru ditimpa dengan aspal yang baru, sehingga kontur tanahnya tetap sama.
"Mustinya di dunia manapun yang namanya aspal itu tidak meninggikan jalan. Yang lama dikeruk, baru ditimpa lagi, sehingga tetap," tutur Jokowi.
Sumber :
jakarta.tribunnews.com
Jokowi Fokus pada Normalisasi Tiga Kali Besar
Untuk mengurangi banjir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
berkonsentrasi melakukan normalisasi di tiga kali besar di wilayah ibu
kota negara Indonesia ini.
"Semua akan dinormalisasi, tetapi konsentrasi awal untuk kali besar di Pesanggrahan, Angke, dan Sunter," kata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di Jalan Raya Kedoya, Pesing Koneng RT 09 RW 08, Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (5/1/2013).
Ia melanjutkan, dalam rangka normalisasi tersebut, Pemprov DKI akan fokus pada pengerjaan pembebasan tanah. Saat ini sudah ada sebagian tanah yang masuk pada inventarisasi agar cepat selesai. Jika pembebasan tanah rampung dengan cepat, pembangunan dapat segera dilaksanakan.
Normalisasi dengan membangun tanggul di kali-kali besar, kata Jokowi, dapat mengurangi banjir di wilayah Jakarta. Akan tetapi, pembangunan tanggul dan normalisasi tidak dapat dilaksanakan dengan cepat karena tersendat pembebasan tanah dan terbatasnya pekerja. "Kalau hitungan tematik, kan, dalam setahun kita hanya bisa betulkan 8-12 kali, sedangkan di Jakarta terdapat 78 titik banjir," kata Jokowi.
Ia menambahkan, 78 titik itu belum termasuk penambahan titik banjir setiap tahunnya. Setiap tahun, titik banjir pasti terus bertambah sehingga membutuhkan terobosan-terobosan. "Tangkapan air jadi mal dan rumah. Makanya titik banjir terus bertambah setiap tahunnya," ungkap Jokowi.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memantau tanggul kali Sekertaris, RT 5 RW 2 kampung Guji Baru, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Pantauan ini dilakukan dalam tahap normalisasi kali yang didirikan tanggul untuk mencegah banjir.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
"Semua akan dinormalisasi, tetapi konsentrasi awal untuk kali besar di Pesanggrahan, Angke, dan Sunter," kata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di Jalan Raya Kedoya, Pesing Koneng RT 09 RW 08, Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (5/1/2013).
Ia melanjutkan, dalam rangka normalisasi tersebut, Pemprov DKI akan fokus pada pengerjaan pembebasan tanah. Saat ini sudah ada sebagian tanah yang masuk pada inventarisasi agar cepat selesai. Jika pembebasan tanah rampung dengan cepat, pembangunan dapat segera dilaksanakan.
Normalisasi dengan membangun tanggul di kali-kali besar, kata Jokowi, dapat mengurangi banjir di wilayah Jakarta. Akan tetapi, pembangunan tanggul dan normalisasi tidak dapat dilaksanakan dengan cepat karena tersendat pembebasan tanah dan terbatasnya pekerja. "Kalau hitungan tematik, kan, dalam setahun kita hanya bisa betulkan 8-12 kali, sedangkan di Jakarta terdapat 78 titik banjir," kata Jokowi.
Ia menambahkan, 78 titik itu belum termasuk penambahan titik banjir setiap tahunnya. Setiap tahun, titik banjir pasti terus bertambah sehingga membutuhkan terobosan-terobosan. "Tangkapan air jadi mal dan rumah. Makanya titik banjir terus bertambah setiap tahunnya," ungkap Jokowi.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memantau tanggul kali Sekertaris, RT 5 RW 2 kampung Guji Baru, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Pantauan ini dilakukan dalam tahap normalisasi kali yang didirikan tanggul untuk mencegah banjir.
Sumber :
megapolitan.kompas.com
Jokowi: SBY Sudah Blusukan Sebelum Saya Jadi Gubernur
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tidak merasa gaya blusukannya yang keliling dari satu kampung ke kampung lain ditiru oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Ia mengatakan, SBY sudah jauh lebih dulu blusukan sebelum dirinya terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta. “Bapak Presiden sudah blusukan sejak lama, sebelum saya jadi gubernur,” kata Jokowi usai blusukan ke kawasan Kedoya Utara, Jakarta Barat, Sabtu 5 Januari 2013.
Jokowi mengatakan, apa yang dilakukan Presiden SBY merupakan hal wajar yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Apalagi SBY adalah Presiden, pemimpin tertinggi negara. “Itu (blusukan) merupakan kebutuhan Bapak Presiden untuk menggali informasi langsung dari masyarakat, sehingga beliau bisa mendengar langsung suara rakyatnya,” kata mantan wali kota Solo itu.
Menurut Jokowi, blusukan atau turun langsung ke lapangan membuat seorang pemimpin bisa mengetahui kondisi riil masyarakat dengan mata kepala sendiri, sehingga tidak asal menerima laporan dari anak buah. “Kalau kita hanya dengar dari bawahan, masalahnya bawahan itu kadang-kadang ada yang benar dan ada yang tidak benar. Jadi perlu kroscek langsung ke warga,” ujar Jokowi.
Jumat kemarin, 4 Januari 2013, Presiden SBY melakukan kunjungan kerja ke kampung nelayan di Desa Tanjung Pasir, Teluknaga, Tangerang, Banten. Kunjungan ini tidak biasa, karena terkesan mendadak dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya.
Di kampung nelayan itu, SBY yang didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri, blusukan ke sejumlah tempat. SBY juga berbincang-bincang dengan warga setempat dan menampung aspirasi mereka. SBY bahkan memberikan sumbangan Rp100 juta untuk pembangunan kampung di sana.
Gaya blusukan SBY ini dinilai banyak pihak mirip dengan kunjungan yang kerap dilakukan Jokowi ke berbagai tempat di Jakarta. Namun Istana menolak jika kunjungan SBY ini disebut meniru gaya Jokowi.
Staf Khusus Presiden Bidang Politik, Daniel Sparingga, mengatakan kunjungan SBU ke Teluknaga bukan bentuk pencitraan, sebab SBY tidak akan dan tidak bisa mencalonkan diri lagi dalam pemilihan presiden 2014. Daniel mengatakan, SBY tengah mengembangkan pola komunikasi yang progresif untuk memastikan semua programnya berjalan lancar.
Sumber :
metro.news.viva.co.id
Ia mengatakan, SBY sudah jauh lebih dulu blusukan sebelum dirinya terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta. “Bapak Presiden sudah blusukan sejak lama, sebelum saya jadi gubernur,” kata Jokowi usai blusukan ke kawasan Kedoya Utara, Jakarta Barat, Sabtu 5 Januari 2013.
Jokowi mengatakan, apa yang dilakukan Presiden SBY merupakan hal wajar yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Apalagi SBY adalah Presiden, pemimpin tertinggi negara. “Itu (blusukan) merupakan kebutuhan Bapak Presiden untuk menggali informasi langsung dari masyarakat, sehingga beliau bisa mendengar langsung suara rakyatnya,” kata mantan wali kota Solo itu.
Menurut Jokowi, blusukan atau turun langsung ke lapangan membuat seorang pemimpin bisa mengetahui kondisi riil masyarakat dengan mata kepala sendiri, sehingga tidak asal menerima laporan dari anak buah. “Kalau kita hanya dengar dari bawahan, masalahnya bawahan itu kadang-kadang ada yang benar dan ada yang tidak benar. Jadi perlu kroscek langsung ke warga,” ujar Jokowi.
Jumat kemarin, 4 Januari 2013, Presiden SBY melakukan kunjungan kerja ke kampung nelayan di Desa Tanjung Pasir, Teluknaga, Tangerang, Banten. Kunjungan ini tidak biasa, karena terkesan mendadak dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya.
Di kampung nelayan itu, SBY yang didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri, blusukan ke sejumlah tempat. SBY juga berbincang-bincang dengan warga setempat dan menampung aspirasi mereka. SBY bahkan memberikan sumbangan Rp100 juta untuk pembangunan kampung di sana.
Gaya blusukan SBY ini dinilai banyak pihak mirip dengan kunjungan yang kerap dilakukan Jokowi ke berbagai tempat di Jakarta. Namun Istana menolak jika kunjungan SBY ini disebut meniru gaya Jokowi.
Staf Khusus Presiden Bidang Politik, Daniel Sparingga, mengatakan kunjungan SBU ke Teluknaga bukan bentuk pencitraan, sebab SBY tidak akan dan tidak bisa mencalonkan diri lagi dalam pemilihan presiden 2014. Daniel mengatakan, SBY tengah mengembangkan pola komunikasi yang progresif untuk memastikan semua programnya berjalan lancar.
Sumber :
metro.news.viva.co.id
Jokowi Akui Pembangunan Tanggul di Kali Sekretaris Tersendat
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) mengaku bahwa sebenarnya
pembangunan tanggul di Kali Sekretaris, Duri Kepa, Jakarta Barat sempat
tersendat, sehingga banjir masih mengancam warga sekitar.
"Sebenarnya sudah dikerjakan dengan anggaran tahun 2012. Tetapi Desember kemarin distop," ujar Jokowi, Sabtu (5/1/2013).
Jokowi mengungkapkan, alasan dirinya menyambangi bantaran kali Sekertaris ini dalam rangka memantau langsung perkembangan pembangunan tanggul yang sempat terhenti.
"Ini kan belum saya lihat, kebanjiran minta dikunjungi-kunjungi, segini (sepinggang) katanya kebanjirannya," ucap Jokowi.
Jokowi pun mengungkapkan, pihaknya akan melanjutkan kembali pembangunan tanggul yang tingginya 1 meter dari permukaan.
"Nanti dilihat sejauh mana. Ini akan dilanjutkan tahun ini (2013)," kata Jokowi.
Sumber :
jakarta.tribunnews.com
"Sebenarnya sudah dikerjakan dengan anggaran tahun 2012. Tetapi Desember kemarin distop," ujar Jokowi, Sabtu (5/1/2013).
Jokowi mengungkapkan, alasan dirinya menyambangi bantaran kali Sekertaris ini dalam rangka memantau langsung perkembangan pembangunan tanggul yang sempat terhenti.
"Ini kan belum saya lihat, kebanjiran minta dikunjungi-kunjungi, segini (sepinggang) katanya kebanjirannya," ucap Jokowi.
Jokowi pun mengungkapkan, pihaknya akan melanjutkan kembali pembangunan tanggul yang tingginya 1 meter dari permukaan.
"Nanti dilihat sejauh mana. Ini akan dilanjutkan tahun ini (2013)," kata Jokowi.
Sumber :
jakarta.tribunnews.com
Presiden Blusukan, Jokowi Tak Merasa Ditiru
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang sering melakukan blusukan tak
merasa ditiru Presiden Susilo Bambang Yodhoyono. Kegiatan tinjau
lapangan langsung merupakan kebutuhan dari pemimpin untuk meninjau
masyarakat.
"Saya tidak merasa ditiru. Kegiatan yang dilakukan Pak SBY bagus sekali. Itu sebuah kebutuhan Presiden dengan menggali informasi dari masyarakat langsung," kata Jokowi di Jakarta, Sabtu (5/1/2013).
Menurut dia, menggali informasi langsung dari masyarakat sangat baik dan diperlukan. Dengan mendatangi lapangan, pemimpin bisa mendapatkan keluhan langsung dan tahu masalah yang terjadi di masyarakat. Jokowi melanjutkan, dirinya tidak merasa tersaingi dengan kegiatan blusukan yang dilakukan presiden SBY. Jika pemimpin hanya mendengarkan informasi dari bawahan, kemungkinan keluhan masyarakat tidak terdengar dengan nyata.
"Ya sekarang kalau kita hanya dengar dari bawahan kita, kadang-kadang ada yang bener, kadang-kadang ada yang tidak sehingga perlu dengar langsung untuk kroscek," kata Jokowi.
Saat ditanya apakah Jokowi merasa menjadi panutan Presiden, dirinya menjawab tidak. Menurut dia, SBY sudah lebih dahulu melakukan kunjungan dadakan dibandingkan dirinya.
Sumber :
megapolitan.kmpas.com
"Saya tidak merasa ditiru. Kegiatan yang dilakukan Pak SBY bagus sekali. Itu sebuah kebutuhan Presiden dengan menggali informasi dari masyarakat langsung," kata Jokowi di Jakarta, Sabtu (5/1/2013).
Menurut dia, menggali informasi langsung dari masyarakat sangat baik dan diperlukan. Dengan mendatangi lapangan, pemimpin bisa mendapatkan keluhan langsung dan tahu masalah yang terjadi di masyarakat. Jokowi melanjutkan, dirinya tidak merasa tersaingi dengan kegiatan blusukan yang dilakukan presiden SBY. Jika pemimpin hanya mendengarkan informasi dari bawahan, kemungkinan keluhan masyarakat tidak terdengar dengan nyata.
"Ya sekarang kalau kita hanya dengar dari bawahan kita, kadang-kadang ada yang bener, kadang-kadang ada yang tidak sehingga perlu dengar langsung untuk kroscek," kata Jokowi.
Saat ditanya apakah Jokowi merasa menjadi panutan Presiden, dirinya menjawab tidak. Menurut dia, SBY sudah lebih dahulu melakukan kunjungan dadakan dibandingkan dirinya.
Sumber :
megapolitan.kmpas.com
Jokowi: Semua sungai di Jakarta akan dinormalisasi
Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) akan melakukan normalisasi ke seluruh sungai di Ibu Kota. Hal ini dijalankan agar banjir dapat dicegah.
"Ya semua. Tapi konsentrasi dulu untuk yang kali besar. Tahun depan itu ada di Pesanggrahan, Sunter, sama Angke," ujar Jokowi saat blusukan di Kampung Pesing Koneng, Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta, Sabtu (5/1).
Jokowi mengatakan, langkah yang kini sedang ditempuh untuk normalisasi itu adalah pembebasan tanah dan inventarisir kebutuhan. "Tapi kita ingin semuanya cepat sehingga rampung pembebasan, langsung pelaksanaan," kata dia.
Namun demikian, normalisasi yang akan dijalankan bukan merupakan langkah yang paling diandalkan. Ini disebabkan setiap tahun muncul titik banjir baru.
"Sekarang ini hitung-hitungan ya, dengan cara konvensional itu yang berkurang kira-kira hanya 8 sampai 12 titik. Padahal kita ada 78 titik banjir, kalo gak bertambah. Artinya, kita kejar-kejaran dengan titik banjir itu. Sehingga harus ada terobosan," ungkap Jokowi.
Sumber :
merdeka.com
"Ya semua. Tapi konsentrasi dulu untuk yang kali besar. Tahun depan itu ada di Pesanggrahan, Sunter, sama Angke," ujar Jokowi saat blusukan di Kampung Pesing Koneng, Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta, Sabtu (5/1).
Jokowi mengatakan, langkah yang kini sedang ditempuh untuk normalisasi itu adalah pembebasan tanah dan inventarisir kebutuhan. "Tapi kita ingin semuanya cepat sehingga rampung pembebasan, langsung pelaksanaan," kata dia.
Namun demikian, normalisasi yang akan dijalankan bukan merupakan langkah yang paling diandalkan. Ini disebabkan setiap tahun muncul titik banjir baru.
"Sekarang ini hitung-hitungan ya, dengan cara konvensional itu yang berkurang kira-kira hanya 8 sampai 12 titik. Padahal kita ada 78 titik banjir, kalo gak bertambah. Artinya, kita kejar-kejaran dengan titik banjir itu. Sehingga harus ada terobosan," ungkap Jokowi.
Sumber :
merdeka.com
Waduh! Jokowi Kejar-kejaran dengan Titik Banjir
Titik-titik banjir di Jakarta dapat diminimalisir dengan pembangunan
tanggul dan normalisasi sungai. Tetapi hal itu tidak cukup, terowongan
multiguna diperlukan untuk menangkal banjir Ibukota.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengatakan sedikitnya 8 hingga 12 dari 78 titik banjir berkurang dengan adanya pembangunan tanggul-tanggul di bantaran kali Jakarta.
"Sekarang ini hitung-hitungan ya dengan cara konvensional. Itu yang berkurang kira-kira hanya 8-12 titik. Padahal kita ada 78 titik banjir, kalau nggak tambah. Artinya, kita kejar-kejaran dengan titik banjir itu," kata Jokowi saat meninjau Kali Pesing Koneng, di Jalan Kedoya Raya, Pesing Koneng, RT 09, Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (5/1/2013).
"Jangan yang linier konvensional ya nggak rampung-rampung. Ini sudah beberapa puluh tahun kita hadapi banjir seperti ini sehingga harus ada terowongan multifungsi untuk menerobos ke situ. Kalau kita linier terus mungkin nggak akan ada habisnya. Dari tahun ke tahun, kita akan mengalami hal yang sama," lanjut dia.
Jokowi memprediksi titik banjir bakal terus bertambah lantaran area resapan air kini berubah fungsi menjadi mal dan apartemen.
Untuk itu, menurut Jokowi, pembangunan tanggul, pengerukan sungai hingga rencana pembangunan deep tunnel terus dikebut dan segera direalisasikan.
Jokowi merencanakan akan konsentrasi melakukan normalisasi semua sungai pada tahun depan.
"Tapi konsentrasi untuk yang kali besar tahun depan itu ada di Pesanggrahan, Sunter, sama Angke. Baik konsentrasi mengenai pembebasan tanah, ada yang masih mulai inventarisasi tapi kita pengen smuanya cepet sehingga rampung pembebasan, langsung pelaksanaan," kata Jokowi yang mengenakan kemeja warna putih itu.
Sumber :
news.detik.com
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengatakan sedikitnya 8 hingga 12 dari 78 titik banjir berkurang dengan adanya pembangunan tanggul-tanggul di bantaran kali Jakarta.
"Sekarang ini hitung-hitungan ya dengan cara konvensional. Itu yang berkurang kira-kira hanya 8-12 titik. Padahal kita ada 78 titik banjir, kalau nggak tambah. Artinya, kita kejar-kejaran dengan titik banjir itu," kata Jokowi saat meninjau Kali Pesing Koneng, di Jalan Kedoya Raya, Pesing Koneng, RT 09, Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (5/1/2013).
"Jangan yang linier konvensional ya nggak rampung-rampung. Ini sudah beberapa puluh tahun kita hadapi banjir seperti ini sehingga harus ada terowongan multifungsi untuk menerobos ke situ. Kalau kita linier terus mungkin nggak akan ada habisnya. Dari tahun ke tahun, kita akan mengalami hal yang sama," lanjut dia.
Jokowi memprediksi titik banjir bakal terus bertambah lantaran area resapan air kini berubah fungsi menjadi mal dan apartemen.
Untuk itu, menurut Jokowi, pembangunan tanggul, pengerukan sungai hingga rencana pembangunan deep tunnel terus dikebut dan segera direalisasikan.
Jokowi merencanakan akan konsentrasi melakukan normalisasi semua sungai pada tahun depan.
"Tapi konsentrasi untuk yang kali besar tahun depan itu ada di Pesanggrahan, Sunter, sama Angke. Baik konsentrasi mengenai pembebasan tanah, ada yang masih mulai inventarisasi tapi kita pengen smuanya cepet sehingga rampung pembebasan, langsung pelaksanaan," kata Jokowi yang mengenakan kemeja warna putih itu.
Sumber :
news.detik.com
Jokowi Puji Aksi Blusukan SBY
Sejumlah kalangan menuding Presiden SBY tengah mengimitasi gaya
kepemimpinan Jokowi untuk mengerek popularitas dan citra dirinya serta
Partai Demokrat menjelang Pemilu 2014.
Namun, penilaian berbeda justru dilontarkan orang yang disebut-sebut gayanya ditiru SBY, yaitu Jokowi. Gubernur DKI Jakarta itu malah mengapresiasi sikap Presiden yang mau turun ke bawah untuk mengecek hasil kerja anak buahnya.
"Melakukan kunjungan langsung itu sangat bagus, agar terpenuhi kebutuhan masyarakat," ungkap Jokowi saat meninjau pembangunan tanggul Kali Sekretaris di Jakarta Barat, Sabtu (5/1/2013).
Dalam kesempatan ini Jokowi juga menegaskan blusukan bukanlah gaya kepemimpinan yang menjadi monopoli dirinya. Setiap pemimpin, kata dia, sudah seharusnya merakyat dan mau turun ke bawah sehingga betul-betul tahu situasi di lapangan.
"Menejemen kontrol perlu. Jangan percaya sama laporan. Jadi kunjungan sangat bagus," katanya.
Sumber :
jakarta.okezone.com
Namun, penilaian berbeda justru dilontarkan orang yang disebut-sebut gayanya ditiru SBY, yaitu Jokowi. Gubernur DKI Jakarta itu malah mengapresiasi sikap Presiden yang mau turun ke bawah untuk mengecek hasil kerja anak buahnya.
"Melakukan kunjungan langsung itu sangat bagus, agar terpenuhi kebutuhan masyarakat," ungkap Jokowi saat meninjau pembangunan tanggul Kali Sekretaris di Jakarta Barat, Sabtu (5/1/2013).
Dalam kesempatan ini Jokowi juga menegaskan blusukan bukanlah gaya kepemimpinan yang menjadi monopoli dirinya. Setiap pemimpin, kata dia, sudah seharusnya merakyat dan mau turun ke bawah sehingga betul-betul tahu situasi di lapangan.
"Menejemen kontrol perlu. Jangan percaya sama laporan. Jadi kunjungan sangat bagus," katanya.
Sumber :
jakarta.okezone.com
Langganan:
Postingan (Atom)










