Wacana duet Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres 2014 menimbulkan gesekan di internal PDIP. Jokowi mengakui ada pihak-pihak di elite PDIP yang tak senang dengan kedekatannya dengan Mega.
Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo membantah sedang terjadi kekisruhan diinternal karena kedekatan Mega dan Jokowi. Dia menegaskan, tak ada sebutan elite di partainya.
Tjahjo mengatakan, tak ada masalah dengan hubungan Mega dan Jokowi. Menurut dia, kedekatan keduanya wajar karena sesama kader partai.
"Tidak ada elite PDIP. Apa alasannya?" ujar Tjahjo kepada merdeka.com, Kamis (9/1/2014).
Arsip terlengkap seputar kegiatan Jokowi mulai tahun 2013 hingga Jokowi Terindikasi Melindungi Koruptor.
Kamis, 09 Januari 2014
Ahok: Enak Kalau Jokowi Presiden, Saya Gubernur
Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan menggantikan tugas Joko Widodo (Jokowi) sebagai gubernur, akan lebih enak. Itu tentunya, jika Jokowi maju dan lolos sebagai presiden dalam Pemilu 2014.
Meski sekadar berandai-andai, namun Ahok menaruh harapan untuk dapat membangun Kota Jakarta. Hal serupa juga akan terjadi jika Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo yang menjadi presiden.
Meski sekadar berandai-andai, namun Ahok menaruh harapan untuk dapat membangun Kota Jakarta. Hal serupa juga akan terjadi jika Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo yang menjadi presiden.
Mau Jadi Cawapres Jokowi? Ini Jawaban Anies Baswedan
Peserta konvensi capres PD Anies Baswedan menyatakan akan
mempertimbangkan menjadi cawapres Gubernur DKI Jakarta Jokowi. Namun
Anies menunggu deklarasi pencapresan Jokowi.
"Pak Jokowi saja belum dijadikan capres sama PDIP. Ya, mudah-mudahan Pak Jokowi jadi Capres PDIP. Setelah itu baru saya komentar apakah akan berdampingan atau tidak," ujar Anies di Sekretariat Konvensi PD, Jl. Pati Unus No 75, Jakarta Selatan, Kamis (9/1/2014).
Anies menyatakan bahwa dirinya tak memandang latar belakang seseorang.
"Pak Jokowi saja belum dijadikan capres sama PDIP. Ya, mudah-mudahan Pak Jokowi jadi Capres PDIP. Setelah itu baru saya komentar apakah akan berdampingan atau tidak," ujar Anies di Sekretariat Konvensi PD, Jl. Pati Unus No 75, Jakarta Selatan, Kamis (9/1/2014).
Anies menyatakan bahwa dirinya tak memandang latar belakang seseorang.
Tinjau Hutan Kota di Semper, Jokowi Janji Buatkan Jalan yang Mulus
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), kembali blusukan ke Cilincing.
Kamis (9/1/2014) Kali ini sasarannya hutan taman kota yang terletak di Rawa
Malang, tepatnya di Jalan TPU Budi Dharma RT 05/10, Semper Timur,
Cilincing, Jakarta Utara. Kedatangan orang nomor 1 di DKI Jakarta itupun
tak luput dari serbuan warga yang ingin berlomba-lomba bersalaman atau
sekedar foto bersama.
Kepada Jokowi warga minta agar jalan menuju ke hutan taman kota diperbaiki.
Kepada Jokowi warga minta agar jalan menuju ke hutan taman kota diperbaiki.
Ahok Bangga Elektabilitas Jokowi Naik Meski Banjir Dimana-mana
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengaku senang dengan naiknya elektabilitas pasangannya Joko Widodo (Jokowi). Alasannya, dengan hasil itu, Ahok mengklaim kerja mereka selama setahun terakhir dinilai baik oleh masyarakat.
"Alhamdulillah. Berarti kerja kami setahun di sini, dinilai ok. Walau banjir masih di mana-mana dan genangan di mana-mana," ungkap Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (9/1/2014).
"Alhamdulillah. Berarti kerja kami setahun di sini, dinilai ok. Walau banjir masih di mana-mana dan genangan di mana-mana," ungkap Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (9/1/2014).
Tak Ada yang Sanggup Hadapi Jokowi
Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa
Bakti, menyatakan, saat ini tidak ada satu pun tokoh publik di republik ini yang
sanggup hadapi popularitas Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI)
Jakarta, Joko Widodo (Jokowi).
"Enggak ada satu pun yang bisa saingi popularitas Jokowi saat ini," ujar Professor Riset di bidang Politik itu ketika dihubungi Kamis pagi (9/1/2014). Menurutnya, hanya ada dua kemungkinan popularitas Jokowi dapat disaingi oleh tokoh publik lainnya.
"Enggak ada satu pun yang bisa saingi popularitas Jokowi saat ini," ujar Professor Riset di bidang Politik itu ketika dihubungi Kamis pagi (9/1/2014). Menurutnya, hanya ada dua kemungkinan popularitas Jokowi dapat disaingi oleh tokoh publik lainnya.
Surva-surve Indobarometer: Tak Capreskan Jokowi, PDIP Gulung Tikar
Pencapresan Gubernur DKI Joko Widodo rupanya menjadi kunci kemenangan PDIP di Pemilu 2014. Survei yang dilakukan Indo Barometer menunjukkan PDIP bakal kalah kalau tak mencapreskan Jokowi di 2014.
"Jika Joko Widodo tidak dicalonkan PDIP sebagai capres, maka Golkar (20,8%), disusul PDIP (19,6%), PKB (9,6%), dan Gerindra (7,5%). Sedangkan Demokrat (5,8%)," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam publikasi hasil surveinya di Hotel Harris, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/1/2014).
Survei dilaksanakan di 34 provinsi di seluruh Indonesia pada 4 – 15 Desember 2013 dengan jumlah responden sebanyak 1.200 orang. Margin of error survei ini sekitar 3,0% pada tingkat kepercayaan 95%.
"Jika Joko Widodo tidak dicalonkan PDIP sebagai capres, maka Golkar (20,8%), disusul PDIP (19,6%), PKB (9,6%), dan Gerindra (7,5%). Sedangkan Demokrat (5,8%)," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam publikasi hasil surveinya di Hotel Harris, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/1/2014).
Survei dilaksanakan di 34 provinsi di seluruh Indonesia pada 4 – 15 Desember 2013 dengan jumlah responden sebanyak 1.200 orang. Margin of error survei ini sekitar 3,0% pada tingkat kepercayaan 95%.
Surva-sure Indobarometer: PDIP Tembus 35,8% Asal Jokowi Tunggangannya
Lembaga survei Indo Barometer mempublikasikan survei seputar
elektabilitas parpol jika Jokowi dicapreskan PDIP. Hasilnya mengagetkan,
PDIP bisa menembus 35,8% jika lekas mendeklarasikan Joko Widodo (Jokowi) sebagai
capres.
"Jika Joko Widodo dicalonkan sebagai capres PDIP, maka suara PDIP meningkat menjadi 35,8%, Golkar 15,8%, Gerindra 7,9%, dan Demokrat 4,6%," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam publikasi hasil surveinya di Hotel Harris, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/1/2014).
"Jika Joko Widodo dicalonkan sebagai capres PDIP, maka suara PDIP meningkat menjadi 35,8%, Golkar 15,8%, Gerindra 7,9%, dan Demokrat 4,6%," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam publikasi hasil surveinya di Hotel Harris, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/1/2014).
Baliho 'Jokowi for Presiden' Marak Terpampang di Ngawi
Sebanyak 19 baliho raksasa berukuran 4 x 6 yang berisi foto Gubernur
DKI Jakarta Joko "Jokowi" Widodo dan Bupati Ngawi Budi Sulistyono,
terpajang di sejumlah jalan protokol setempat.
Baliho yang bertuliskan Jokowi Calon Presiden RI 2014-2019 itu, memang sengaja dipasang relawan Jokowi di Ngawi, sejak Kamis (9/1/2014).
Para relawan itu, sengaja memasang baleho raksasa itu sebagai bentuk dukungan agar Jokowi ditetapkan sebagai calon presiden (capres) dari PDI Perjuangan.
Baliho yang bertuliskan Jokowi Calon Presiden RI 2014-2019 itu, memang sengaja dipasang relawan Jokowi di Ngawi, sejak Kamis (9/1/2014).
Para relawan itu, sengaja memasang baleho raksasa itu sebagai bentuk dukungan agar Jokowi ditetapkan sebagai calon presiden (capres) dari PDI Perjuangan.
PDIP Jateng Minta Jokowi Diganti
Sekretaris PDI Perjuangan Jawa Tengah, Agustina Wilujeng, meminta pengurus pusat mengganti Joko Widodo (Jokowi) yang selama ini menjabat Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah PDIP Jawa Tengah. "Sebab, Jokowi diminta bisa konsentrasi sebagai gubernur di DKI Jakarta," kata Sekretaris PDIP Jawa Tengah itu kepada Tempo, Kamis (9/1/2014).
Menurut Agustina, jabatan Jokowi mengemban amanat sebagai Gubernur DKI Jakarta akan menyulitkan dia aktif di kepengurusan PDIP Jawa Tengah. Sebab, setiap pengurus harus bisa aktif datang dalam rapat-rapat pengurus PDIP Jawa Tengah.
Menurut Agustina, jabatan Jokowi mengemban amanat sebagai Gubernur DKI Jakarta akan menyulitkan dia aktif di kepengurusan PDIP Jawa Tengah. Sebab, setiap pengurus harus bisa aktif datang dalam rapat-rapat pengurus PDIP Jawa Tengah.
Surva-surve: Skenario Mega-Jokowi Rontokkan Elektabilitas PDIP!
Skenario Mega-Jokowi yang digaungkan elite PDIP di akhir tahun 2013
berdampak pada elektabilitas banteng moncong putih. Elektabilitas PDIP
menurun cukup tajam.
Survei yang dirilis Litbang Kompas pada Kamis (9/1/2014), menunjukkan elektabilitas PDIP di akhir tahun 2013 menurun menjadi 21,8%, padahal sempat berada di angka 23,6% pada pertengahan tahun 2013 lalu.
Pada kisaran survei ini dilakukan, isu Mega-Jokowi sedang mengamuka. Apakah isu itu berefek pada penurunan elektabilitas PDIP?
Survei yang dirilis Litbang Kompas pada Kamis (9/1/2014), menunjukkan elektabilitas PDIP di akhir tahun 2013 menurun menjadi 21,8%, padahal sempat berada di angka 23,6% pada pertengahan tahun 2013 lalu.
Pada kisaran survei ini dilakukan, isu Mega-Jokowi sedang mengamuka. Apakah isu itu berefek pada penurunan elektabilitas PDIP?
Oh Ternyata KJS Jauh Lebih Unggul dari JKN
Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sudah dicanangkan sejak per 1 Januari 2014. Sejak dicanangkan itu, ada sejumlah kelemahan dan kekurangan dikeluhkan oleh masyarakat.
Contohnya sistem JKN yang dilakukan pemerintah pusat melalui BPJS tidak dapat membackup penyakit tertentu dan justru masyarakat diwajibkan menyetor iuran per bulan.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengakui memang ada perbedaan antara JKN dengan KJS yang ia buat. Jokowi menyebut, KJS lebih andal dibandingkan dengan JKN yang sama-sama memberikan layanan kesehatan terhadap masyarakat.
"Memang di lapangan masalah masyarakat merasakan ada perbedaan.
Contohnya sistem JKN yang dilakukan pemerintah pusat melalui BPJS tidak dapat membackup penyakit tertentu dan justru masyarakat diwajibkan menyetor iuran per bulan.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengakui memang ada perbedaan antara JKN dengan KJS yang ia buat. Jokowi menyebut, KJS lebih andal dibandingkan dengan JKN yang sama-sama memberikan layanan kesehatan terhadap masyarakat.
"Memang di lapangan masalah masyarakat merasakan ada perbedaan.
PDIP Surabaya Pilih Jokowi, PDIP Jatim? Galau!
Sekretaris PDI Perjuangan Jawa Timur Kusnadi mengatakan Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo (Jokowi) merupakan figur yang dirindukan oleh masyarakat. "Baik Megawati maupun Jokowi sama-sama dirindukan publik Jawa Timur," kata Kusnadi saat dihubungi, Kamis (9/1/2014).
Mengenai hasil-hasil survei calon presiden yang selalu menempatkan Jokowi pada posisi teratas, Kusnadi mengaku ikut bangga. "Saya juga ikut bangga bahwa ada kader PDIP yang mendapat simpati publik. Itu sangat menggembirakan," kata dia.
Mengenai hasil-hasil survei calon presiden yang selalu menempatkan Jokowi pada posisi teratas, Kusnadi mengaku ikut bangga. "Saya juga ikut bangga bahwa ada kader PDIP yang mendapat simpati publik. Itu sangat menggembirakan," kata dia.
Jokowi Akui Masih Banyak 'Sungai' yang Melanda Jakarta Usai Hujan Deras
Hujan yang mengguyur kota Jakarta pada Rabu (8/1) kemarin seketika
menimbulkan banyaknya genangan di beberapa titik ibukota. Gubernur DKI
Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengatakan hal itu memang masih terjadi
meski saat ini pihaknya tengah gencar melakukan normalisasi waduk dan
penataan saluran air serta membuat sumur resapan.
Banyaknya genangan dan timbulnya banjir di Jakarta karena proses penataan sungai, waduk dan saluran air belum sepenuhnya optimal. Terlebih hal ini harus dikerjakan secara terintegrasi antara Jakarta, pemerintah pusat dan daerah hulu (Bogor).
Banyaknya genangan dan timbulnya banjir di Jakarta karena proses penataan sungai, waduk dan saluran air belum sepenuhnya optimal. Terlebih hal ini harus dikerjakan secara terintegrasi antara Jakarta, pemerintah pusat dan daerah hulu (Bogor).
Arus Bawah PDIP Minta Mega Legowo Deklarasikan Jokowi
Skenario duet Mega-Jokowi di Pilpres 2014 ditentang kader PDIP sendiri.
Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri (66) diminta legowo melepas tiket
capres PDIP ke Jokowi (52).
"Kami hanya menyampaikan suara dan aspirasi yang berkembang di daerah kami. Kami mengharapkan, Ibu Mega sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan yang memiliki hak preogratif untuk menetapkan capres dari PDI Perjuangan mendengarkan aspirasi di daerah kami," kata Wakil Ketua DPC PDIP Jakarta Barat, Dedi Obray, dalam siaran pers, Kamis (9/1/2014).
"Kami hanya menyampaikan suara dan aspirasi yang berkembang di daerah kami. Kami mengharapkan, Ibu Mega sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan yang memiliki hak preogratif untuk menetapkan capres dari PDI Perjuangan mendengarkan aspirasi di daerah kami," kata Wakil Ketua DPC PDIP Jakarta Barat, Dedi Obray, dalam siaran pers, Kamis (9/1/2014).
PDIP Jakarta Barat Deklarasikan Pro Jokowi Capres
Satu per satu DPD dan DPC PDIP menyatakan dukungan ke pencapresan Joko
Widodo (Jokowi). Kali ini DPC PDIP Jakarta Barat yang menegaskan sikap
mendukung pencapresan Gubernur DKI itu.
"Aspirasi masyarakat di daerah kami, sangat antusias mendukung Jokowi sebagai capres. Itu yang saya dengar setiap kali kami menjumpai masyarat, dari pedagang kaki lima sampai perumahan-perumahan yang ada di Jakarta Barat. Gerakan Pro Jokowi ini murni aspirasi arus bawah," kata Wakil Ketua DPC PDIP Jakarta Barat, Dedi Obray, dalam siaran pers, Kamis (9/1/2014).
"Aspirasi masyarakat di daerah kami, sangat antusias mendukung Jokowi sebagai capres. Itu yang saya dengar setiap kali kami menjumpai masyarat, dari pedagang kaki lima sampai perumahan-perumahan yang ada di Jakarta Barat. Gerakan Pro Jokowi ini murni aspirasi arus bawah," kata Wakil Ketua DPC PDIP Jakarta Barat, Dedi Obray, dalam siaran pers, Kamis (9/1/2014).
Surva-surve: Elektabilitas Melorot, Apa Komentar PDI-P?
Survei yang dilakukan Litbang Kompas pada Desember 2013 tidak
menunjukkan korelasi positif antara elektabilitas Gubernur DKI Jakarta
Joko Widodo alias Jokowi yang terus meroket dan elektabilitas PDI
Perjuangan (PDI-P). Elektabilitas partai berlambang banteng moncong putih ini bahkan dalam survei tersebut justru menurun.
Apa kata PDI-P? Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Eriko Sotarduga mengatakan, elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) tinggi karena dihadapkan pada pilihan figur. Saat ini, pemilih di Indonesia masih sangat bergantung pada figur yang ditawarkan.
Apa kata PDI-P? Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Eriko Sotarduga mengatakan, elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) tinggi karena dihadapkan pada pilihan figur. Saat ini, pemilih di Indonesia masih sangat bergantung pada figur yang ditawarkan.
PDIP Surabaya Yakin Jokowi Calon Presiden 2014
Ketua Dewan Pengurus Cabang PDI Perjuangan Kota Surabaya Wisnu Sakti Buana yakin bahwa Joko Widodo (Jokowi) bakal melenggang menjadi calon presiden karena partai berlambang banteng bermoncong putih itu sudah pasti akan mengusungnya. "Dilihat dari tingkat popularitasnya, tidak ada alasan lagi untuk tidak menempatkan Jokowi sebagai calon presiden,” kata Wisnu yang juga Wakil Wali Kota Surabaya itu kepada Tempo di ruang kerjanya, Kamis (9/1/2014).
PDIP Lebak Usulkan Megawati-Jokowi Jadi Capres dan Cawapres 2014
Dewan Pengurus Cabang PDI Perjuangan Kabupaten Lebak menilai Megawati Soekarnoputri layak sebaiknya dicalonkan pada Pemilihan Presiden 2014. Adapun Megawati nantinya dipasangkan dengan kadernya yakni Joko Widodo (Jokowi) yang kini menjabat Gubernur DKI Jakarta.
"Karena itu, kami berharap Megawati untuk dicalonkan kembali pada Pemilihan Presiden 2014," kata Wakil Dewan Pengurus Cabang (DPC) PDI-P Ade Suryana di Rangkasbitung, Kamis (8/1/2014).
"Karena itu, kami berharap Megawati untuk dicalonkan kembali pada Pemilihan Presiden 2014," kata Wakil Dewan Pengurus Cabang (DPC) PDI-P Ade Suryana di Rangkasbitung, Kamis (8/1/2014).
Tanggapi Surva-surve: PDIP Tak Kuatir Elektabilitasnya Turun
Survei Litbang Kompas menunjukkan adanya penurunan
elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dari 23,6
persen pada Juni 2013 menjadi 21,8 persen pada Desember 2013. Terkait
hasil survei ini, PDI-P menyatakan tak terlalu khawatir dengan perolehan
suaranya kelak.
"Ini masih sangat wajar karena penurunan angkanya masih ada di batas margin of error. Sangat wajar kalau turun 2-3 persen, kecuali kalau turunnya jauh sekali baru dipertanyakan apa yang salah. Tapi, kalau ini, kami menyikapi biasa saja," ujar Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Eriko Sotarduga saat dihubungi, Kamis (9/1/2014).
"Ini masih sangat wajar karena penurunan angkanya masih ada di batas margin of error. Sangat wajar kalau turun 2-3 persen, kecuali kalau turunnya jauh sekali baru dipertanyakan apa yang salah. Tapi, kalau ini, kami menyikapi biasa saja," ujar Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Eriko Sotarduga saat dihubungi, Kamis (9/1/2014).
Surva-surve: Megawati dan Jokowi Penentu Peta Politik 2014
Figur Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati
Soekarnoputri dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) akan menjadi penentu
peta politik pada Pemilu 2014.
Bagi partai kompetitor PDI-P, cara paling rasional untuk memenangi pemilu adalah dengan mendorong PDI-P mengusung Megawati sebagai calon presiden. Setidaknya demikian, bila merujuk tren dukungan bagi para kandidat dan partai berdasarkan survei yang digelar harian Kompas pada 2012 sampai 2013.
Bagi partai kompetitor PDI-P, cara paling rasional untuk memenangi pemilu adalah dengan mendorong PDI-P mengusung Megawati sebagai calon presiden. Setidaknya demikian, bila merujuk tren dukungan bagi para kandidat dan partai berdasarkan survei yang digelar harian Kompas pada 2012 sampai 2013.
Surva-surve: Tren Suara Jokowi dan PDI-P Berkebalikan
Dukungan untuk Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) terus melejit seandainya pemilu digelar hari ini, setidaknya berdasarkan rangkaian survei yang digelar Kompas. Namun, tren serupa tak terjadi untuk partai yang membesarkannya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Bila suara Jokowi melompat dari 17,7 persen menjadi 43,5 persen dalam rentang waktu setahun, 2012 hingga 2013, dukungan untuk PDI-P justru melorot pada paruh tahun kedua perjalanan survei. Padahal, hingga setengah perjalanan 2013, partai ini mampu memikat para pemilih rasional untuk memilihnya, jika pemilu digelar saat itu.
Pada Desember 2012, rilis pertama rangkaian survei Kompas mendapati dukungan untuk PDI-P pada kisaran 13,3 persen.
Bila suara Jokowi melompat dari 17,7 persen menjadi 43,5 persen dalam rentang waktu setahun, 2012 hingga 2013, dukungan untuk PDI-P justru melorot pada paruh tahun kedua perjalanan survei. Padahal, hingga setengah perjalanan 2013, partai ini mampu memikat para pemilih rasional untuk memilihnya, jika pemilu digelar saat itu.
Pada Desember 2012, rilis pertama rangkaian survei Kompas mendapati dukungan untuk PDI-P pada kisaran 13,3 persen.
Jokowi dan "Personality Politics" Penentu Pemilu Presiden 2014
Kepribadian kandidat dinilai bakal menjadi penentu dalam Pemilu Presiden 2014 di Indonesia. Kondisi itu dikenal sebagai personality politics.
"Sosok yang paling berkharisma (dan) mampu menggugah perhatian warga yang akan terpilih," kata Associate Professor Leonard Sebastian, Direktur Program Studi Indonesia di Rajaratnam School of International Studies, Singapura, akhir pekan lalu.
Sebastian mengatakan, pemilu Indonesia tidak ditentukan oleh ideologi ataupun platform partai politik. Contoh personality politics yang berlangsung di Indonesia, sebut dia, adalah melejitnya popularitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).
"Sosok yang paling berkharisma (dan) mampu menggugah perhatian warga yang akan terpilih," kata Associate Professor Leonard Sebastian, Direktur Program Studi Indonesia di Rajaratnam School of International Studies, Singapura, akhir pekan lalu.
Sebastian mengatakan, pemilu Indonesia tidak ditentukan oleh ideologi ataupun platform partai politik. Contoh personality politics yang berlangsung di Indonesia, sebut dia, adalah melejitnya popularitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).
Rabu, 08 Januari 2014
Bos Toyota Salut dengan Kebijakan Joko Widodo Atasi Soal Kemacetan
Kebijakan Gubernur DKI Jakarta dalam mengatasi kemacetan jalan ibu kota
berkesan memberatkan sektor industri otomotif. Namun hal itu ditanggapi
positif oleh Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Johnny Darmawan.
Manfaatkan Brand Jokowi, Hatta: Saya Punya Komunikasi Baik
Sebuah mobil bergambar Hatta Rajasa dan Joko Widodo terparkir di halaman
Kantor DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Jakarta Selatan. Gambar
Hatta-Jokowi itu terpampang jelas di bagian kaca belakang mobil sedan
warna hitam itu.
Menanggapi gambar tersebut, Hatta Rajasa sebagai Ketua Umum DPP PAN mengatakan, hal itu bukanlah simbol atau tanda keduanya akan berpasangan sebagai calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2014.
Menanggapi gambar tersebut, Hatta Rajasa sebagai Ketua Umum DPP PAN mengatakan, hal itu bukanlah simbol atau tanda keduanya akan berpasangan sebagai calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2014.
Anggap PDIP Lelet, Seknas Jokowi Segera Ambil Alih PDIP
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), hingga saat ini belum mengumumkan siapa capres yang akan diusung partai berlambang banteng moncong putih ini. Padahal, desakan berbagai elemen masyarakat dan struktural partai terus muncul.
Nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) didukung berbagai elemen masyarakat termasuk Seknas Jokowi.
Mengingat waktu yang sempit dan belum ada tanda-tanda PDIP akan mengumumkan nama Jokowi sebagai capres, maka Seknas Jokowi akan menggelar rakernas pada Jumat 10 Januari 2014. Kemudian akan dilanjutkan dengan aksi turun ke jalan mendukung Jokowi jadi Capres 2014.
Nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) didukung berbagai elemen masyarakat termasuk Seknas Jokowi.
Mengingat waktu yang sempit dan belum ada tanda-tanda PDIP akan mengumumkan nama Jokowi sebagai capres, maka Seknas Jokowi akan menggelar rakernas pada Jumat 10 Januari 2014. Kemudian akan dilanjutkan dengan aksi turun ke jalan mendukung Jokowi jadi Capres 2014.
Demokrat Tak Gentar Hadapi Jokowi
Partai Demokrat (PD) tidak gentar dengan tingginya elektabilitas
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden
(capres).
“Kita tidaklah takut dengan elektabilitas Jokowi. Peserta konvensi mereka tetap optimis akan lebih unggul,” kata Ketua Harian DPP PD Syariefuddin Hasan, di Sekretariat Komite Konvensi, Jakarta, Rabu (8/1/2014).
Syarief yang juga Menteri Koperasi dan UMKM mengapresiasi optimisme para peserta konvensi. Sebelumnya peserta enggan menjadi calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Jokowi.
“Kita tidaklah takut dengan elektabilitas Jokowi. Peserta konvensi mereka tetap optimis akan lebih unggul,” kata Ketua Harian DPP PD Syariefuddin Hasan, di Sekretariat Komite Konvensi, Jakarta, Rabu (8/1/2014).
Syarief yang juga Menteri Koperasi dan UMKM mengapresiasi optimisme para peserta konvensi. Sebelumnya peserta enggan menjadi calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Jokowi.
Langganan:
Postingan (Atom)

























