Minggu, 20 Januari 2013

SBY Gelar Rapat di Lokasi Pengungsian Banjir, Jokowi Presentasi

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggelar rapat penanganan banjir di DKI Jakarta bersama sejumlah menteri dan pejabat Pemprov DKI. Gubernur DKI Joko Widodo dan pejabat lainnya presentasi soal kondisi terkini di DKI.

Pantauan detikcom, rapat digelar di area pengungsi banjir di pelataran GOR Otista, Jl Otista, Jakarta Timur, mulai pukul 13.30 WIB. Ruang rapat itu cukup sederhana, hanya ditutupi tenda berwarna hijau. Wartawan hanya diperkenankan meliput awal acara.

Pejabat yang hadir terdiri dari Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menko Kesra Agung Laksono, Menteri PU Djoko Kirmanto, Kepala BNPB Samsul Maarif, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, dan Kapolri Jenderal Timur Pradopo.

Di awal rapat, SBY mendengarkan presentasi dari tiga pejabat, yakni Kepala BNPB Samsul Maarif, Gubernur DKI Jokowi dan Menteri PU Djoko Kirmanto. Semua menyampaikan kondisi banjir terkini. Khusus Jokowi, dia menyampaikan soal solusi banjir yang akan ditempuh Pemprov DKI.

"Ada beberapa hal yang saya sampaikan, terkait Latuharhary, hari ini Insya allah selesai," kata Jokowi yang tampil berkemeja putih.

"Di UOB sudah dikerahkan untuk menyedot air dari basement, basement kedua tinggal separuh dan mudah-mudahan tidak ada korban lagi," sambungnya.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga mengingatkan bahwa ancaman banjir masih bisa mengancam di tahun yang akan datang. Karena itu, pemerintah pusat diminta bantuannya untuk menyelesaikan program-program yang sudah direncanakan Jokowi.

"Usulan normalisasi kali Ciliwung, kami siap untuk pembebasan tanah dengan anggaran Rp 250 miliar, Pesanggarahan, Angke, Sunter Rp 400 miliar. Kedua, terkait sudetan dari Bidara Cina ke BKT, ini sangat membantu sekali kami mohon agar segera dikerjakan," jelasnya.

Tak lupa, Jokowi juga mengingatkan pentingnya segera membangun waduk Ciawi dan Cimanggis. Soal pompa air di Pluit, Jakarta Utara, juga sudah disampaikan.

"Tahun ini sungai-sungai kecil akan dilakuan pengerukan, TNI sudah disiapkan dan nanti akan dibangun sumur resapan 10 ribu," terangnya.


Sumber :
news.detik.com

Ini Solusi Jokowi Tangkis Banjir

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memberikan penjelasan soal solusi mengatasi banjir Jakarta kepada pimpinan MPR RI, DPR RI, dan DPD RI secara terpisah di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Senin.
Menurut Jokowi Pemerintah DKI Jakarta sudah melakukan penyedotan di sejumlah lokasi banjir yang cukup parah dan airnya dibuang ke laut. Kemudian, memberikan bantuan makanan, pakaian, serta pelayanan perahu karet, dan tenda-tenda untuk pengungsi. "Untuk mengatasi banjir dan membantu korban banjir, Pemerintah DKI Jakarta sudah berkoordinasi dengan pihak terkait, seperti TNI, Polri, Badan SAR Nasional dan pihak terkait lainnya," katanya.

Ia menambahkan, stok logistik untuk korban banjir melampaui cukup meskipun jumlah pengungsi korban banjir melonjak tajam dari sekitar 19.000 jiwa pada Rabu (16/1) melonjak menjadi sekitar 64.000 jiwa pada Ahad (20/1).

Namun kendala yang dihadapi Pemerintah DKI Jakarta adalah pendistribusiannya karena tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan mudah. Kendala lainnya yang dihadapi Pemerintah DKI Jakarta adalah fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) di lokasi pengungsi yang masih minim.

Kemudian, solusi mengatasi banjir Jakarta, menurut Jokowi, Pemerintah DKI Jakarta merencanakan akan membuat sodetan kali dari banjir kanal timur (BKT) ke laut sehingga air banjir dari Bogor tidak sempat masuk ke Jakarta langsung mengarah ke laut.

Pemerintah DKI Jakarta juga akan membuat sumur resapan sebanyak-banyaknya guna meminimalisir genangan air pada saat hujan deras serta membuat bendungan di kawasan hulu yakni di Bogor Jawa Barat. "Untuk rencana pembuatan bendungan ini Pemerintah DKI Jakarta sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat," katanya.

Jokowi menambahkan, Pemerintah DKI Jakarta juga mengkaji kemungkinan pembangunan "deep tunnel" yang diterapkan di Eropa.


Sumber :
www.republika.co.id

Sabtu, 19 Januari 2013

Jokowi Borong Beras dari Solo, Basuki Borong Pasir dari Belitung

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama seolah berbagi tugas dalam mengatasi banjir dan jebolnya kanal barat di Latuharhary, Menteng, Jakarta. Jika Jokowi memborong beras dari kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah, Basuki bertugas mendatangkan pasir dan batu dari kampungnya di Belitung Timur.
"Saya disuruh nyari batu sama pasir. Itu pasir dari Belitung semua," kata Basuki saat ditemui di Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (19/1/2013).
Dia tengah memantau penanggulangan banjir di kawasan yang terendam air sejak Kamis (16/1/2013) lalu tersebut. Menurut Basuki, dia telah mendatangkan 20 truk pasir dan batu sesuai dengan arahan Jokowi. Pasir dan batu itu kemudian digunakan untuk memperbaiki kanal barat yang jebol di Latuharhary.
"Itu dari Belitung sama Cilegon. Pasir silka, batu belah juga ada. Kita minta teman-teman untuk kirim," ucapnya. Mengenai dana untuk pembelian beras dan pasir tersebut, baik Jokowi maupun Basuki tidak membicarakannya.
Secara terpisah, Jokowi enggan mengungkapkan apakah 50 ton beras untuk korban banjir tersebut dibeli dengan merogoh kantung pribadinya atau menggunakan kas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
"Kalau keadaan darurat begini enggak usah tanya dana datangnya darimana lah," kata Jokowi.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang pengusaha beras asal Solo mengaku dapat pesanan beras 50 ton untuk diantar ke kediaman Jokowi pada Kamis (17/1/2013). Hari itu, pedagang beras yang bernama Billy Haryanto tersebut mengantarkan 20 ton beras.
Menyusul kemudian, 30 ton beras sisanya. Dia juga mengatakan, beras yang dibeli Jokowi tersebut berkualitas baik, yakni jenis IR 64 dari Sragen seharga Rp 8.000 per kilogram.


Sumber :
megapolitan.kompas.com

Korban Banjir di Pluit ke Jokowi: Mulai dari Minta Foto Sampai Minta Pompa

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi mendatangi lokasi banjir di Pluit, Jakarta Utara. Jokowi dengan menaiki perahu karet berkeliling ke kawasan yang terendam air. Jokowi pun sempat menyapa para korban banjir.

Pantauan detikcom, Sabtu (19/1/2013), usai berkeliling dengan perahu karet, Jokowi menyapa warga di posko banjir. Nah, saat ditemui Jokowi, rupa-rupa permintaan disampaikan warga.

"Pak foto Pak, foto," kata sejumlah warga ke Jokowi.

Dengan ditemani istrinya Iriana, Jokowi pun meladeni permintaan foto bersama. Setelah puas foto-foto dan salaman, warga pun meminta pompa agar air bisa dipompa dan segera surut.

"Pak rumah kita kebanjiran. Pak ini pompanya gimana, sudah datang belum," tanya seorang warga.

Jokowi pun tersenyum. Dia menjelaskan, Pemprov DKI akan memberikan bantuan pompa kepada warga. Pompa itu akan segera didatangkan untuk menyedot air.

"Ya pompanya harus jalan. Sampai saat ini masih nggak bisa jalan. kan kerendam kan PLN nggak bisa hidup karena banjir, sehingga akan kita datangkan 6 pompa dari Dinas PU kita," jelas Jokowi.

Di lokasi, Pemprov DKI sudah mendatangkan pompa ukuran besar dan sedang. Dan pompa itu terus bekerja. "Nanti kita datangin yang lain," imbuhnya.

Jokowi kemudian pamit dan pergi menaiki mobil Innova. Dia menyapa korban banjir di kawasan Penjaringan. Tiba di lokasi, dia langsung turun dan beperahu karet meninjau warga.


Sumber :
news.detik.com

Jokowi 'Rapat' Penanganan Banjir di Perahu Karet

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) keliling memantau kondisi warga korban banjir dahsyat di Pluit, Jakarta Utara. Di atas perahu karet, Jokowi dan jajarannya berdiskusi penanganan banjir.

Pengamatan detikcom, Sabtu (19/1/2013), perahu karet mengantarkan Jokowi yang didampingi sang istri, Iriana, meninjau banjir. Perahu berlayar dari Posko Budha Tzuchi menuju Jalan Pluit Barat Raya.

Jokowi melihat-lihat kondisi sejumlah perumahan yang terendam banjir setinggi 50 centimeter hingga 100 centimeter. Perahu karet Jokowi lalu belok ke arah Jalan Permai Raya. Di jalan itulah, pusat perniagaan di Pluit.

Ruko-ruko mewah terendam air setinggi 80 centimeter dan 150 centimeter. Ada showroom mobil mewah, toko emas, Mega Mal Pluit, restoran ternama dan sekolah Tarakanita.

Warga yang memilih bertahan di ruko menyapa Jokowi sambil melambaikan tangan. Jokowi tampak serius memantau kondisi di lapangan. Sesekali ia menunjukkan jari ke arah warga yang terjebak sambil berdiskusi dengan Lurah Pluit, Tahta Yujang.

Sementara sang istri Jokowi, Iriana, mengamati dengan seksama kondisi warga korban banjir. Ia melihat ke arah kanan dan kiri aktivitas warga Pluit yang masih bertahan di rumahnya.

Perahu karet Jokowi terus berlayar dan tiba di pertigaan ke arah Pluit Vilage. Perahu memutar balik ke arah Posko Budha Tzuchi.


Sumber :
news.detik.com

Naik Perahu ke Pluit, Jokowi Bertemu Basuki

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) memantau banjir di Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (19/1/013). Setibanya di loksi, Jokowi langsung disambut warga sekitar. Dia juga bertemu dengan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama yang sejak Kamis (16/1/2013) memantau banjir di kawasan Pluit tersebut. Rumah Basuki yang berada di kawasan Pantai Mutiara, Penjaringan, Jakarta Utara ikut kebanjiran setinggi sekitar dua meter sejak Kamis.

Seusai berbincang singkat dengan Basuki, Jokowi langsung menaiki perahu karet. Dengan bantuan warga dan relawan, perahu karet yang ditumpangi Jokowi melaju ke tengah perumahan Pluit yang sebagian besarnya masih digenangi air. Kepada wartawan, Basuki mengungkapkan kalau banjir di kawasan ini masih tinggi.
"Ini sampai dua meter tingginya. Ketinggian air naik terus, makanya kita harus tambah mesin," ungkapnya.
Basuki tidak ikut naik perahu karet bersama Jokowi. Dia memilih untuk memaksimalkan penggunaan perahu karet untuk memasok bantuan bagi warga yang rumahnya terendam banjir.
Berdasarkan pengamatan Kompas.com, sebagian wilayah perumahan Pluit memang terendam banjir. Sejumlah posko penanggulangan banjir tampak dibangun warga di kawasan tersebut. Evakuasi barang-barang pun dilakukan dengan memanfaatkan perahu kayu dan perahu karet.
Sepanjang perjalanan dari Menteng menuju Pluit, terlihat sejumlah wilayah di kawasan Grogol, Jakarta Barat masih tergenang banjir. Misalnya saja di depan Universitas Tarumanegara dan Universitas Trisaksi. Basuki mengatakan, banjir di kawasan Pluit ini merupakan imbas dari luapan Waduk Pluit.


Sumber :
megapolitan.kompas.com

Jokowi Siap Dipanggil DPR

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengaku siap jika dipanggil Dewan Perwakilan Rakyat terkait penanganan bencana banjir. Hal ini diungkapkan Jokowi saat memantau perbaikan tanggul Latuharhari, Sabtu (19/1/2013).
"Ya dipanggil saja. Kalau nanti diundang, saya datang," kata Jokowi. Selebihnya dia mengatakan, Pemrov DKI akan mengontrol kelayakan fungsi semua tanggul air di Jakarta.
Sejauh ini, Jokowi sudah menerima laporan mengenai tanggul-tanggul yang berpotensi jebol seperti tanggul Latuharhari. "Nanti setelah perbaikannya rampung, kita akan kontrol semuanya. Cek semuanya, yang enggak standar itu yang mana, yang belum baik yang mana," ujarnya.
Jebolnya tanggul Latuharhari saat hujan deras, Kamis (16/1/2013) lalu, memperparah banjir yang melanda sebagian besar wilayah Jakarta pada hari itu. Wilayah yang terkena dampak paling parah terjadi di Kampung Melayu (Jakarta Timur), Daan Mogot (Jakarta Barat), Rawajati dan kawasan Casablanca (Jakarta Selatan).
Jalan-jalan protokol pun merasakan imbas dari luapan banjir. Tidak hanya itu, Istana Negara juga tak luput dari genangan air.
Banjir tersebut juga mengakibatkan 14.164 warga harus mengungsi. Sedikitnya 90.582 warga Ibu Kota terkena dampak banjir dalam beberapa hari terakhir ini.
Menanggapi musibah tersebut, anggota Komisi VIII dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS), Nasir Djamil, mengatakan bahwa komisinya berencana memanggil Kementerian Sosial, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, dan Gubernur DKI Jakarta Jokowi.
Pemanggilan pihak-pihak tesebut, menurut Nasir, diperlukan untuk mendengar dan mengetahui langsung langkah Kementerian Sosial dan BNPB dalam melindungi dan melayani para pengungsi akibat banjir. Selain itu, pemanggilan dilakukan berkaitan dengan status Jakarta yang diumumkan menjadi darurat banjir hingga akhir Januari 2013.
Nasir mengatakan, Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Banten diharapkan bisa memaparkan titik-titik mana saja di daerahnya yang menjadi prioritas dalam upaya penanggulangan banjir. "Komisi VIII ingin memfasilitasi agar di lapangan antara gubernur dan kementerian bisa sinkron," ucapnya.


Sumber :
megapolitan.kompas.com

Jokowi Tolak Bicara Dana 50 Ton Beras dari Solo

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo enggan berbicara soal dana yang digunakan untuk pembiayaan beras yang ia datangkan dari Solo, Jawa Tengah.
Seperti diketahui beberapa waktu lalu Jokowi memesan 50 ton beras yang langsung ia datangkan dari Solo. Kemudian, dana dari manakah yang Jokowi pergunakan untuk membayar beras yang dipesan khusus dari Solo tersebut? "Kalau keadaan darurat begini enggak usah tanya dana datangnya darimana lah," kata Jokowi saat meninjau tanggul jebol, di Latuharhary, Jakarta Pusat, Sabtu (19/1/2013).
Jokowi tidak menjawab tegas saat ditanya apakah mendatangkan beras dari Solo itu karena persediaan logistik dari Pemerintah Provinsi DKI sudah menipis.
"Ya, mungkin habis. Mungkin, mungkin lho. Pokoknya sebetulnya ini bantuan kan di Wali Kota ada, di Dinas Sosial ada, tapi kalau memang kurang ya akan ditutup dari saya. Pokoknya beras dari manapun, semuanya harus terkirim ke masyarakat," kata Jokowi.
Jokowi berpendapat, dengan status tanggap darurat di Jakarta saat ini,  sangat mungkin apabila stok persediaan logistik di Pemprov DKI berkurang, karena banyak titik yang harus mendapat sumbangan.  Namun, Jokowi berjanji setelah ada status 'Tanggap Darurat', anggaran akan segera cair dan kemudian diserahkan ke dinas terkait untuk digunakan sebagai dana bantuan bencana banjir.
"Tapi ini setelah ada tanggap darurat, nanti Senin sudah akan kita keluarkan lagi anggarannya, saya kira akan normal kembali. Pokoknya enggak usah tanya soal dananya darimana," tegas Jokowi.
Sebelumnya diberitakan, pada Kamis (17/1/2013) lalu seorang penjual beras asal Sragen, Billy Haryanto, mengaku telah mengirim tujuh truk beras ke rumah dinas Gubernur DKI Joko Widodo di Jalan Taman Suropati 7. Menurut Billy, Jokowi merupakan pelanggannya sejak lima tahun lalu, ketika masih menjadi wali kota Solo.
Billy mengatakan, Jokowi telah memesan beras sebanyak 50 ton. "Yang baru tiba 20 ton, sedangkan 30 ton lagi masih dalam perjalanan, karena butuh waktu dua hari untuk sampai Jakarta," kata Billy.
Sementara itu mengenai jenis beras yang akan dikirimkan kepada korban banjir ini, kata dia, berjenis IR 64 dengan harga Rp 8.000 per kilogram, sesuai dengan harga pasar. "Beras langsung dibayar dengan sistem transfer. Begitu pesan, beliau (Jokowi) langsung bayar," ujarnya.


Sumber :
megapolitan.kompas.com

Jumat, 18 Januari 2013

Jokowi Larang Pendirian Posko Banjir, PKS Protes !

Kebijakan Jokowi yang melarang partai politik maupun perusahaan mendirikan posko banjir disanggah oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
PKS tidak setuju dengan larangan partai politik mendirikan posko banjir.
“Ya, sudah kita sampaikan memang sebaiknya tidak perlu larangan semacam itu,” kata Ketua Fraksi PKS, Hidayat Nur Wahid di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, realitanya banjir yang melanda Jakarta sudah sebegitu luas dan sudah dianggap darurat banjir.
“Masyarakat butuh bantuan segera agar sampai birokrasi, koordinasi di Jakarta membuat lambat hadirkan bantuan dari donator untuk korban banjir,” kata Hidayat.
Alasan lainnya, kata Hidayat, masyarakat Jakarta adalah partisan partai yang juga ada pemilih tetap PKS.
“Bagaimana mungkin partai tidak boleh membantu konstituen. Yang perlu adalah mengajak Ormas, LSM dan media berlomba-lomba memberikan bantuan kepada masyarakat korban banjir. Mereka sudah turun memberikan bantuan atas nama partai dan bukan nama partai. Semakin banyak yang berikan bantuan, semakin baik,” kata mantan Presiden PKS itu.
Ditegaskannya, tak setujunya dengan apa yang disampaikan Jokowi, bukan untuk pencitraan PKS.
“Prinsipnya bukan pencitraan. Partai dibuat serba salah. Kalau beri bantuan dibilang pencitraan buat pemilu. Kalau diam-diam disalahkan. Ini sudah menjadi tradisi PKS, bukan hanya di Jakarta, bahkan sampai Wamena tanpa dikaitkan ada pemilu atau tidak,” pungkas Hidayat.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tidak mengizinkan partai politik atau perusahaan tertentu mendirikan posko siaga banjir di lokasi korban banjir.
“Kebijakan Pak Gubernur melarang ada posko partai atau perusahaan di lokasi banjir. Arahan beliau, kalau mau menyumbang, langsung ke kelurahan saja biar satu pintu,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, Arfan Arkilie.


Sumber :
kabar24.com

Jokowi: Baliho di Tepi Tanggul Harus Hilang

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo terus berusaha mencari sebab musabab dari jebolnya tanggul Banjir Kanal Barat di Jalan Latuharhari, Jakarta Pusat.

Pria yang akrab disapa Jokowi ini menduga Baliho berukuran besar tersebut mengganggu konstruksi tanah yang menahan dinding tanggul. Namun ia tidak begitu saja menyalahkan baliho tersebut.

"Penyebab tanggul jebol atau bukan, baliho tersebut harus hilang," kata Jokowi, Jumat (18/1/2013).

Memang, dua baliho besar yang sedikit miring itu masih berdiri di tepi tanggul yang jebol.

Sampai saat ini pihak Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Damkar dan PB) berupaya melepaskan baliho tersebut.


Sumber :
jakarta.tribunnews.com

Jokowi: Tanggul Jebol akibat Kurangnya Kontrol Manajemen

Sudah hampir seharian ini Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo bertahan di tanggul Banjir Kanal Barat (BKB) yang jebol. Melihat jebolnya tanggul tersebut, menurut mantan Wali Kota Solo itu, ialah karena kurangnya kontrol manajemen ke lapangan.
"Kurang kontrol saja. Ya namanya ada tanggul kan harus dikontrol. Ini manajemen kontrol menurut saya yang kurang," kata Jokowi, di Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat, Jumat (18/1/2013).
Manajemen kontrol lapangan itu, kata Jokowi, berguna untuk selalu mengontrol peristiwa-peristiwa kecil yang mungkin dapat berdampak besar terhadap masyarakat. "Misalnya, ada yang digerus oleh air mungkin ada yang digerus oleh masyarakat. Ini memang harus dicek dan dikontrol terus," kata Jokowi.
Perbaikan tanggul BKB yang telah jebol akibat curah hujan yang sangat tinggi sejak Kamis (17/1/2013) lalu ditargetkan oleh Jokowi untuk dapat diselesaikan  secepatnya. "Ya secepatnya, targetnya kan sebenarnya tadi malam. Tadi malam sampai pukul 03.30 WIB enggak rampung, ya diteruskan kalau targetnya besok-besok ya bagaimana, makanya harus secepatnya," kata Jokowi.
Menurut Jokowi, kendala yang ditemukan di lapangan ialah karena memang kejadian itu mendadak. Jadi, alat-alat yang digunakan untuk memperbaiki tanggul tersebut juga seadanya. "Batu yang harus dicari, semuanya kan sudah dikerahkan, bantuan dari Kodam, Kopassus, sudah kami minta semuanya. Tapi, kan ini jebolnya tanggul bukan jebol 1-2 cm, 30 meter ini. Pokoknya jangan sampai dikejar sama hujannya atau air yang dari atas," kata Jokowi.
Selain itu, berdasarkan pantauan Kompas.com, sudah ada tiga alat berat dari Balai Besar Sungai Ciliwung Cisadane (Kementerian PU) dan satu alat berat dari Dinas PU DKI untuk mempercepat pengerjaan perbaikan tanggul BKB. Jokowi pun merasa tidak perlu untuk menambah alat berat kembali karena ia juga bingung akan ditempatkan di mana alat berat tersebut.
"Kalau mau ditambah, tempatnya juga di mana ya enggak bisa juga. Ini karena tempat agak sulit di bawah jembatan layang dan dekat rel," kata Jokowi.
Dalam tinjauannya kali ini, Jokowi turut didampingi oleh Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup DKI Wiryatmoko, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Ery Basworo, Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah, dan Camat Menteng Bondan Dyah. Sementara itu, para Satpol PP, Petugas Dinas Pekerjaan Umum DKI, Kopassus, TNI AU, TNI AL, dan Kodam Jaya masih bergotong royong untuk memperbaiki tanggul yang jebol.
Sebelumnya, alat-alat berat dari Dinas PU DKI itu masih belum ada. Pengerjaan masih dilakukan secara manual dengan peralatan pasir, batu, bronjong, dan karung. Tanggul BKB tersebut diketahui jebol sejak Kamis (17/1/2013) pukul 10.00 WIB pagi. Tanggul jebol sepanjang 30 meter di sisi Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat.
Akibat jebolnya tanggul, air yang ditampung BKB melimpah, tumpah ruah ke Jalan Teluk Betung dan Tosari. Aliran air akan sampai ke Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman. Tanggul jebol tersebut merendam rel kereta api arah ke Stasiun Tanah Abang dan Manggarai. Akibatnya, kereta api Tanah Abang-Depok, Tanah Abang-Manggarai, tidak dapat beroperasi.
Selain itu, jebolnya tanggul tersebut juga berdampak pada Jalan Teluk Betung menuju Tosari, belakang Bunderan Hotel Indonesia, Jalan Sudirman, dan Jalan Thamrin yang tergenang oleh air.

Sumber :
megapolitan.kompas.com

Jokowi Targetkan Tanggul di Latuharhary Selesai Hari Ini, Kurang 40% Lagi

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) ngebut pagi hingga malam mengawasi perbaikan tanggul jebol di Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat. Perbaikan tanggul banjir kanal barat itu ditargetkan selesai hari ini dan masih kurang 40 persen lagi.

"Iya masih kurang 40 persen. Sudah 60 persen," kata Jokowi di lokasi tanggul jebol, Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat, Jumat (18/1/2013).

Menurut dia, bantuan tenaga dari berbagai pihak terus mengalir. Namun, bantuan dari pihak swasta belum kunjung datang.

"Belum (bantuan swasta). Ini yang mau mendatangkan pelat betonnya (beton untuk 'menambal' tanggul jebol)," ujar Jokowi.

Jokowi mengaku tidak mengetahui asal muasal material yang datang ke lokasi tanggul jebol. Ia hanya melakukan pengawasan semata agar pekerjaan ini segera selesai.

"Saya nggak ngerti material dari mana. Yang paling penting, material datang, itu saja. Ya nungguin supaya semuanya bekerja. Tungguin teruus! Kayak tadi malam. Ya moga-moga hari ini rampunglah," harap Jokowi.

Pembagian bantuan dari mana saja? "Saya nggak berpikir dari daerah atau apa pun. Pokoknya saya pingin bekerja dan cepat mengatasi masalah. Ya sampai masalah rampung," ujar suami Iriana ini.


Sumber :
news.detik.com

Dengan Celana Bernoda Lumpur, Jokowi Nongol di Senayan City

Gubernur DKI Jakarta Jokowi hadir di Senayan City, Jl Asia Afrika, Jakarta, dengan celana bernoda lumpur. Maklum saja, Jokowi baru saja sibuk ikut memperbaiki tanggul jebol di Latuharhary. Di mal elite itu Jokowi menghadiri peresmian pajak online.

Pantauan detikcom, Jumat (18/1/2013) sekitar pukul 15.30 WIB, dengan kemeja putih dan celana hitam dan sepatu pantofel, Jokowi hadir di lantai LG Senayan City. Di mal itu, digelar acara peresmian pajak online DKI bekerjasama dengan Bank BRI.

Jokowi tampak santai. Dia menyapa hadirin yang tampil rapi dengan kemeja batik. Jokowi juga menyalami sejumlah pejabat dan undangan yang hadir.

Jokowi memang dikenal sebagai pejabat yang apa adanya. Jokowi seharian berada di tanggul Latuharhary. Di lokasi tanggul dia mengenakan jas hujan jaket dan sepatu pantofel. Jokowi ikut membantu dan mengawasi perbaikan tanggul. Bahkan dia menyambangi tanggul itu tiga kali pada Kamis kemarin untuk mengawasi perbaikan.


Sumber :
news.detik.com

SBY blusukan naik searider, Jokowi cukup naik gerobak

Tingginya curah hujan di Jakarta dalam sepekan terakhir membuat Ibu Kota terendam banjir. Alhasil, sepanjang Kamis (17/1) Jakarta bak lautan di tengah kota.

Banjir tak hanya merendam pemukiman warga. Sejumlah ruas jalan utama juga terputus. Keadaan diperparah dengan pemadaman listrik yang dilakukan PLN untuk mengantisipasi hal tak diinginkan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membantah peristiwa ini sebagai banjir siklus lima tahunan. Tapi jika dilihat kenyataan di lapangan, banjir di awal tahun 2013 ini tak ada bedanya dengan banjir tahun 2007 lalu.

Istana Negara juga terendam. Ketinggian air di beberapa pintu air meluber, dan tanggul Kanal Banjir Barat (KBB) jebol.

Kaget dengan kondisi ini, petinggi negara bergerak. Menko Kesra Agung Laksono, Kepala BNPB Samsul Maarif dan tuan rumah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) langsung mengadakan rapat penanggulangan banjir.

Tak puas sekadar rapat, usai pertemuan itu Jokowi langsung turun ke lapangan memantau banjir di beberapa kawasan. Diawali dengan memantau banjir di ruas Jalan MH Thamrin.

Dari Balai Kota Jokowi menumpang mobil dinas. Rupanya, ketinggian air di MH Thamrin mencapai sepinggang, alhasil mobil mewah itu diparkir di depan Gedung Sarinah.

Dia langsung turun dari mobil. Jokowi sudah memakai setelah tepat berada di lokasi banjir yakni berjaket, topi dan sepatu boot.

Entah apa pasalnya, Jokowi kemudian memilih menyeberangi lautan dadakan itu dengan gerobak milik warga. Tanpa canggung dia naik dan duduk di tepi. Ajudannya tampak terus memayungi. Begitu Jokowi duduk mantap, gerobak pun disorong menuju Bundaran HI.

Puluhan warga juga tampak mengikuti Jokowi. Beberapa berteriak usil. "Nanti di tempat yang agak dalam cemplungin aja," gurau seorang warga diikuti tawa teman-temannya.

Jokowi yang mendengar hanya nyengir saja.

Rupanya, bukan pejabat sekelas Jokowi saja yang turun memantau banjir. Petinggi negara ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga melakukan hal yang sama.

SBY blusukan ditemani Ibu Ani dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. Dia mengunjungi lokasi banjir dan pengungsian warga Rawajati, tepatnya di bawah flyover Kalibata, Jakarta Selatan.

Ibu Ani yang membawa kamera foto tampak mengabadikan gambar suasana di lokasi. Beberapa kali Ibu Ani tampak jeprat-jepret di lokasi pengungsian.

Tak sekadar menyapa warga, SBY bersama rombongan juga minta diantarkan mengelilingi Kali Ciliwung untuk memantau kondisi air dan pemukiman di bantaran kali. SBY kemudian naik perahu jenis searider milik TNI menyusuri Kali Ciliwung. SBY tampak melapisi pakaiannya dengan pelampung.

Tak hanya di Kali Ciliwung, perahu serupa juga disediakan di Bundarah H.

"Perahu akan di stand by kan untuk presiden apabila dia ingin blusukan," kata salah satu prajurit.

Pantauan merdeka.com, speedboat sepanjang sekitar 15 meter itu dibawa ke HI menggunakan mobil tronton. Selain mempersiapkan speedboat, TNI juga menyiapkan 3 unit mobil iring-iringan. Satu mobil menggunakan lapis baja.

Benar atau tidak, bencana selalu dijadikan berbagai pihak untuk meraih simpati publik. Semoga tidak dengan dua pejabat ini.

Sampai malam ini ruas jalan MH Thamrin, Sudirman, Daan Mogot, Kampung Melayu dan titik-titik banjir lainnya masih tergenang air dengan ketinggian mulai 30 sampai 150 sentimeter.

Cuaca Jakarta di Jakarta malam ini sempat diguyur hujan selama 30 menit. Namun setelah itu hujan mereda.


Sumber :
merdeka.com

Atasi Tanggul Jebol, Beginilah Aksi Jokowi

Jebolnya tanggul Kanal Banjir Barat (KBB) di Jl Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, langsung mendapat perhatian Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Orang nomor satu di Jakarta itu bahkan tidak segan-segan turun langsung ke lapangan memimpin upaya perbaikan tanggul yang jebol tersebut.

Jokowi mengatakan, kedatangannya ke lokasi tanggul jebol tersebut agar pengerjaan tanggul yang dibuat sementara untuk menahan luapan air ke jalan raya cepat terselesaikan dan air dari KBB tidak lagi meluap ke jalanan di sekitarnya. "Pantau terus sampai rampung. Memang harus dikomandani. Kalau perlu sampai pagi saya komandani," kata Jokowi.

Menurutnya, tanggul yang bocor bisa diperbaiki sebelum hujan kembali datang. Jika tak beres, limpahan air dari Kanal Banjir Barat akan meluber hingga Jl Thamrin dan menambah parah banjir di pusat kota Jakarta. "Yang kerja dari Kodam Jaya 150 orang saat ini ditambah 200 orang, Satpol PP 100 orang dan Dinas PU juga 100 orang, dari Marinir ditambah 100 orang sedang meluncur," jelasnya.

Kasie Sarana dan Prasarana Pengendali Banjir Dinas Pekerjaan Umum DKI, Hendri mengatakan, volume air ke KBB sangat banyak lantaran limpahan air dari Manggarai saat itu sempat mencapai ketinggian 1.030 cm atau di atas batas siaga 1 sehingga tanggul di Latuharhari tidak kuat menahan derasnya aliran air sehingga jebol. "Karena tanggulnya jebol, banjir akan terus terjadi di Jl MH Thamrin dan Jl Jenderal Sudirman. Kalau belum ditutup tanggul yang jebol tersebut, banjir di dua jalan protokol itu akan terus meninggi," tandas Hendri.


Sumber :
republika.co.id

Jokowi Kembali Datangi Lokasi Tanggul Jebol

Hujan deras yang mengguyur Ibu Kota Jakarta, Kamis tengah malam (17/1/2013) tak menyurutkan niat Jokowi untuk kembali memantau pengerjaan perbaikan tanggul Banjir Kanal Barat (BKB) di kawasan Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat.
Sebelum ke lokasi tanggul BKB, Jokowi meninjau pengungsi banjir Kampung Pulo, Jakarta Timur.
Tinjauannya ke tanggul jebol merupakan tinjauan yang ketiga kalinya hari ini. Sebelumnya, Jokowi meninjau di sore dan malam hari.
Berbeda dengan kunjungan di Kampung Pulo yang ditemani oleh istrinya, Iriana Widodo, saat berada di lokasi tanggul jebol, sang istri lebih memilih untuk tidak turun dari mobil dinas gubernur.
"Ini kita kerjakan malam-malam. Biar kalau hujan lagi enggak akan banjir," kata Jokowi, di Latuharhary.
Jokowi mengatakan, tanggul BKB yang jebol itu harus segera diperbaiki agar jalan protokol di Ibu Kota tidak tergenang dan aktivitas perekonomian tak terhambat lagi.
Oleh karena itu, dalam memperbaiki tanggul jebol itu, Jokowi memohon bantuan dari pihak Satpol PP, Petugas Dinas Pekerjaan Umum, Pangdam, dan Kopassus untuk menyelesaikan pengerjaan tersebut.
"Air masuk ke kota itu bahaya. Ini memang tidak mudah karena perlu tahapan-tahapan proses yang harus dilalui alat berat yang juga enggak bisa mendekat," kata Jokowi.
Keadaan di lokasi pun hujan turun dengan intensitas curah hujan sedang. Oleh karena itu, menurut Jokowi, malam hari merupakan waktu yang tepat untuk memperbaiki pengerjaan tanggul jebol tersebut.
Hambatan penyelesaian pengerjaan perbaikan tanggul itu, menurut Jokowi karena masih dikerjakan secara manual. Hal itu terpaksa dilakukan karena pengadaan alat berat terhalang banjir.
Tinjauan Jokowi ke tanggul BKB hanya terjadi sekitar 15 menit, kemudian ia kembali ke rumah dinasnya tak jauh dari lokasi itu, di Taman Suropati 7.
Tanggul BKB tersebut diketahui jebol sejak pukul 10.00 WIB. Tanggul jebol sepanjang 30 meter di sisi Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat. Akibat jebolnya tanggul, air yang ditampung BKB melimpah, tumpah ruah ke Jalan Teluk Betung dan Tosari.
Aliran air akan sampai ke Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman. Tanggul jebol tersebut merendam rel kereta api arah ke Stasiun Tanah Abang dan Manggarai. Akibatnya, kereta api Tanah Abang-Depok, Tanah Abang-Manggarai, tidak dapat beroperasi.
Selain itu jebolnya tanggul tersebut juga berdampak pada Jalan Teluk Betung menuju Tosari, belakang Bunderan Hotel Indonesia, Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin yang tergenang oleh air.


Sumber :
jakarta.tribunnews.com

Kamis, 17 Januari 2013

Jokowi Pasrah, Perbaikan Tanggul Jebol secara Manual

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo malam ini kembali meninjau keadaan tanggul Kanal Banjir Barat (KBB) yang jebol pada Kamis pagi. Ia langsung meninjau tanggul sungai Manggarai yang jebol di Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat.
Jokowi sempat menelepon Sekretaris Daerah Fadjar Panjaitan dan Pangdam Jaya Mayor Jenderal TNI Hudawi Lubis untuk meminta tambahan personel dari militer dan membantu pengerjaan tanggul yang jebol. Hingga malam ini pengerjaan tanggul yang jebol itu masih dikerjakan secara manual berkat gotong-royong anggota Kopassus, satpol PP, Kodam Jaya, dan petugas Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.
Tidak ada alat berat yang tampak di sana. Menurut Jokowi, pengerjaan tanggul tersebut masih dikerjakan secara manual karena pengadaan alat berat terhalang oleh banjir. "Karena dengan alat-alat berat tidak bisa menuju ke sini sehingga mau tidak mau ya harus dikerjakan manual lah," kata Jokowi di lokasi, Kamis (17/1/2013) malam.
Jokowi mengatakan, pengerjaan tanggul secara manual ini menjadi salah satu hambatan terbesar dalam penyelesaian perbaikan secara cepat. "Kalau bisa pakai alat berat, bisa mendekat, bisa lebih cepat. Tapi ini kan semuanya manual. Tapi ya enggak apa-apa, kita kerjainlah sampai rampung," kata Jokowi.
Jokowi optimistis pengerjaan tanggul tersebut cepat selesai agar jalan protokol di Ibu Kota tidak lagi tergenang banjir. Akibat jebolnya tanggul tersebut, kawasan Jalan Thamrin dan Bundaran Hotel Indonesia tergenang sejak Kamis pagi.
Dalam tinjauannya ke Jalan Latuharhary, Jokowi didampingi oleh Wali Kota Jakarta Selatan Anas Effendy, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Ery Basworo, Kepala Zeni Kodam Jaya Letnan Kolonel Czi Suardi Samiran, dan Kepala Humas PT KAI Daerah Operasional I Jakarta Mateta Rizalulhaq. Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, Jokowi masih meninjau keadaan tanggul jebol.
Saat ini kondisi Jalan Latuharhary sangat licin karena bercampur dengan tanah. Kondisi itu diperparah dengan kurangnya penerangan jalan. Sementara itu, para anggota Kopassus, satpol PP, Dinas Pekerjaan Umum DKI, dan marinir bekerja sama mengangkat batu, karung pasir, dan bronjong. Kehadiran Jokowi di lokasi tanggul jebol menarik perhatian warga sekitar sehingga semakin malam lokasi itu semakin ramai oleh warga.
Tanggul KBB tersebut diketahui jebol sejak pukul 10.00 WIB. Tanggul jebol sepanjang 30 meter di sisi Jalan Latuharhary. Hal itu mengakibatkan air yang ditampung KBB melimpas dan tumpah ruah ke Jalan Teluk Betung dan Tosari. Aliran air juga sampai ke Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman. Tanggul jebol tersebut merendam rel kereta api arah ke Stasiun Tanah Abang dan Manggarai. Akibatnya, kereta api Tanah Abang-Depok, Tanah Abang-Manggarai, tidak dapat beroperasi.

Sumber :
megapolitan.kompas.com

Jokowi Siap Jadi 'Mandor' Perbaikan Tanggul Latuharhari Sampai Pagi

Gubernur DKI Joko Widodo siap memimpin upaya perbaikan tanggul jebol di Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat. Bahkan, bila diperlukan, dia siap menjadi 'mandor' hingga besok pagi.

"Jadi memang harus dikomandani, kalau perlu sampai pagi saya komandani," kata Jokowi di lokasi tanggul Latuharhari yang jebol di Jakarta Pusat, Kamis (17/1/2013).

Saat ini, Jokowi sudah menerima bantuan 350 personel TNI dari Kodam Jaya untuk membantu perbaikan tanggul. Sementara dari Dinas PU ada 100 orang, Satpol PP 100 orang dan Marinir 100 orang.

"Tambah gubernurnya satu. Ya iya," ucap Jokowi sambil tertawa.

Mantan Wali Kota Solo ini menegaskan, berapa pun pekerja yang dikerahkan bisa bekerja baik selama diarahkan dengan tepat.

Fokus Jokowi saat ini adalah memperbaiki tanggul jebol di kawasan Banjir Kanal Barat Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat. Bantuan dari personel TNI pun dikerahkan untuk perbaikan.

Tanggul jebol itu menjadi salah satu penyebab banjir besar yang melanda kawasan Thamrin-Sudirman.

Sumber :
news.detik.com

Jokowi: Ahok Saya Suruh Cari Pasir Sama Batu

Kepompakkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Wakilnya Basuki T Purnama (Ahok) nampaknya di uji dalam upaya perbaikan tanggul Latuharhary.

Seperti diketahui, jebolnya tanggul tersebut, menyebabkan putusnya jalur kereta api dari Manggarai ke Tanah Abang. Selain itu jebolnya tanggul menyebabkan genangan air di kawasan Menteng hingga Jalan MH Thamrin.

Terkait hal itu, orang nomor satu di Jakarta ini mengaku sudah memerintahkan wakilnya, Ahok, untuk mencari bahan bangunan guna memperbaiki tanggul yang jebol tersebut.

"Pak Ahok tak suruh muter-muter cari pasir sama batu. Ya, pokoknya pak Ahok urusan itu lah," ujar Jokowi di lokasi jebolnya tanggul Latuharhary, Jakarta Pusat, Kamis (17/1/2013).

Selain menyiapkan bahan material, Jokowi juga memerintahkan Ahok untuk meninjau di lokasi banjir lainnya yang belum di kunjunginya.

"Di lain tempat juga mengunjungi lokasi banjir, kan bagi-bagi, coba saja telpon sendiri. Ada di Jakbar dan tempat lainnya,"kata Jokowi.


Sumber :
jakarta.okezone.com

Tangani Banjir Jakarta, Presiden Minta Jokowi Gunakan Semua Sumber Daya

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah meminta Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) agar mengerahkan semua sumber daya yang dimiliki oleh Pemda dalam menangani korban banjir yang menggenangi hampir sebagian besar wilayah Ibukota, Kamis (17/1).
“Semua sudah bekerja. Tadi pagi (Kamis, 17/1) saya sudah berbicara dengan Gubernur DKI Jakarta, Pak Jokowi. Saya minta lakukan segala sesuatunya. Gunakan semua sumber daya yang dimiliki oleh DKI. Pemerintah Pusat membantu,” kata Presiden SBY di depan pers dan warga korban banjir di Kelurahan Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (17/1) sore.
Presiden mengaku sudah mendengar rencana Gubernur  Jokowi untuk mengatasi masalah korban banjir. Di Jakarta.  “Atasilah, Pemerintah Pusat akan membantu agar bisa dijamin keselamatannya. yang penting ada solusi. Sebab kalau sampai ada korban jiwa, tentu kita semua bersedih yang seharusnya bisa kita cegah,” ujar Kepala Negara.
Menurut Kepala Negara, sekarang ini yang diutamakan adalah menyelamatkan jiwa manusia. “Sampai saat ini saya belum menerima laporan ada korban jiwa. Mudah-mudahan tidak ada,” harapnya.
Yang kedua, pinta Presiden, menampung mereka di tempat  pengungsian, memberikan bantuan pangan atau logistik. Kalau ada yang sakit dirawat, diobati. Pada saatnya nanti kalau sudah aman warga kembali bisa kembali ke tempatnya masing-masing.
“Saya ingin jajaran pemerintah, baik pusat maupun daerah, bahkan sampai tingkat RT/RW ya bekerja  bersama-sama masyarakat yang ingin membantu, ada dapur-dapur umum...silahkan. Bantu dengan ikhlas. Saya juga membantu, banyak pihak yang membantu. Saya mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan ini bisa kita control,” tutur Presiden SBY.
Bantuan Pusat
Dalam kesempatan itu, Presiden SBY mengemukakan, bahwa pagi-pagi sekali ia sudah berbicara dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Menko Kesra, untuk memastikan karena skalanya besar maka harus ada bantuan dari pusat.
Kemudian TNI dan Polri juga sudah dikerahkan untuk membantu angkutan, termasuk mengamankan tempat-tempat yang ditinggalkan oleh penghuninya ke tempat-tempat pengungsian. Pendek kata sekarang semua sedang mengemban tugasnya. “Saya minta kerja sama dari masyarakat luas, untuk meringankan dan membantu menyelamatkan rakyat kita,” kata Presiden mengimbau partisipasi warga.
Mengenai peninjauannya dengan perahu milik Marinir dan juga Kopasus menyusuri Sungai Ciliwung (dari Rawajati, Kali Bata, Pancoran, Jakarta Selatan), Presiden mengatakan, ia ingin melihat langsung seperti apa kondisi rumah-rumah di kanan-kiri sungai itu.
“Ini sebenarnya sudah lama menjadi masalah dan ingin dipecahkan oleh kita semua, terutama Gubernur DKI Jakarta. Saya melihat langsung memang tidak aman rumah-rumah yang persis di kiri-kanan sungai, apalagi kalau banjirnya seperti ini. Kalau luapan airnya seperti ini. Saya berhenti, saya naik (ke kampung-kampung pinggir sungai). Memang kalau rumahnya tingkat masih lumayan. tapi kalau tidak tingkat, dan persis di kiri-kanan sungai memang  membahayakan,” terang SBY.
Mengenai sikapnya yang tetap menerima tamu Presiden Argentina Cristina Elisabet Fernandez de Kirchner, Kamis (17/1) ini, dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada Jumat (18/1) besok, saat Jakarta dikepung banjir, Presiden SBY mengatakan para tamu negara itu bisa memahami kondisi Jakarta.
“Mereka memahami Jakarta sedang banjir, terjadi lagi setelah enam tahun. Meskipun terlambat, kedatangan Presiden Argentina Cristina Elisabet Fernandez de Kirchner di Istana kegiatan tetap berlangsung dengan baik,” ungkap SBY.
Presiden SBY juga meminta kerja sama dan bantuan pers dan para wartawan untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai daerah-daerah banjir  masih berbahaya. “Katakan berbahaya. Kalau ingin beri masukan kepada pemerintah misalnya ada keterlambatan logistik, berikan masukan itu.. Tapi saya berharap beritanya akurat dan benar, sebab supaya tidak menimbulkan kepanikan pada masyarakat kita,” pinta SBY.
Turut mendampingi Presiden SBY dalam meninjau banjir Jakarta itu, selain Ibu Negara Ani Yudhoyono juga Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto, Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri I, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, dan Kapolri Jendral Timur Pradopo.

Sumber :
www.setkab.go.id

Hidayat Harapkan "Blusukan" Jokowi Bawa Solusi Banjir

Anggota Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid, meminta Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo segera membuat solusi dalam mengatasi banjir untuk jangka panjang. Hidayat berharap kegiatan blusukan atau kunjungan ke kampung-kampung kumuh yang kerap oleh Jokowi bisa memberikan solusi yang baik bagi problem klasik Ibu Kota.
Hidayat mengatakan, sebagai pelaksana amanat rakyat, Jokowi harus melakukan sesuatu untuk mengatasi persoalan Ibu Kota, termasuk banjir besar yang terjadi pada hari ini. "Datang ke rakyat tidak hanya sekadar datang, tapi solusinya," kata Hidayat saat dijumpai di kompleks Gedung Parlemen Senayan, Kamis (17/1/2013).
Hidayat yang pernah bersaing melawan Jokowi dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta beberapa waktu lalu menyadari bahwa persoalan banjir tidak bisa dituntaskan dalam waktu singkat. Namun, problem ini tetap membutuhkan gerak cepat pemerintah daerah untuk menanggulanginya.
Oleh karena itu, Hidayat mengimbau agar Jokowi segera menggandeng seluruh pihak untuk mempercepat proses penanggulangan banjir. Tidak hanya pemangku kepentingan, Jokowi juga harus merangkul partai politik, organisasi kemasyarakatan, hingga perusahaan untuk turun membantu warga. Hidayat juga menyayangkan pernyataan Jokowi yang melarang partai politik untuk membuka posko dalam membantu warga Jakarta.
"Seharusnya jangan begitu. Harusnya semua membantu, memberikan bantuan ke masyarakat, entah itu parpol, ormas, perusahaan ke terkena korban banjir. Harusnya jangan berburuk sangka," ujar Hidayat.
Sejumlah wilayah di Jakarta kini terendam banjir. Wilayah yang terkena dampak paling parah terjadi di Kampung Melayu, Jakarta Timur; Daan Mogot, Jakarta Barat; Rawajati dan kawasan Casablanca, Jakarta Selatan. Jalan-jalan protokol pun merasakan imbas dari luapan banjir. Tidak hanya itu, Istana Negara juga tak luput dari banjir.
Musibah banjir ini langsung ditanggapi sejumlah pimpinan daerah dan pemerintah pusat. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memutuskan turun langsung melihat kondisi banjir yang melumpuhkan kawasan sentra bisnis Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Adapun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meninjau kawasan banjir di daerah Rawajati, Jakarta Selatan.
Kepala Bidang Informatika dan Pengendalian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta Edy Junaedi Harahap menjelaskan, sedikitnya 90.582 warga Ibu Kota terkena dampak banjir dalam beberapa hari terakhir. Mereka yang terkena dampak banjir adalah warga yang tempat tinggalnya tergenang air, baik dalam hitungan sentimeter, maupun meter. Dari jumlah tersebut, kata Edy, terdapat 14.164 warga yang terpaksa mengungsi. Semuanya berasal dari 23.675 kepala keluarga di 186 RW, 475 RT, 39 kelurahan, dan 23 kecamatan.

Sumber :
megapolitan.kompas.com

Jakarta Dikepung Banjir, Prabowo: Jokowi Bukan Nabi Musa!

Jakarta dikepung banjir besar. Capres Partai Gerindra, Prabowo Subianto menilai hal ini bukan merupakan kesalahan Jokowi.

"Masak yang disalahkan Jokowi saja, banjir di Jakarta yang diserahkan kepada satu orang saja? Apa benar begitu, apa dia Nabi Musa," ujar Prabowo balik bertanya.

Hal ini disampaikan Prabowo usai syukuran lolosnya Gerindra sebagai parpol peserta Pemilu 2014 di kantor DPP Gerindra, Jalan Harsono, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2013).

Prabowo juga mengaku dirinya tak suka dengan konsep 100 hari kerja. Menurutnya, kinerja seorang pemimpin harus dinilai dari selama dia menjabat sebagai pemimpin.

"Dari dulu saya nggak pernah suka dengan 100 hari kerja. Ya nilailah (Jokowi-Ahok) dari 5 tahun dia bekerja," lanjutnya.

Terlepas dari itu, Prabowo punya penilaian tersendiri bagi pasangan Jokowi-Ahok.

"Saya rasa sudah lumayan kok," tutur Prabowo.


Sumber :
news.detik.com

Jokowi Ingin Tanggul Jebol Teratasi Hari Ini

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo meminta bantuan kepada Pangdam Jaya dan Kopassus untuk mengatasi tanggul jebol di Latuharhari, Jakarta Pusat.

Jokowi panggilan akrab Joko Widodo menginginkan tanggul di Latuharhari bisa ditutup sementara dengan karung-karung berisi batu dan pasir.

"Saya sudah minta Pangdam, Kopasus, tapi posisi masih macet di jalan untuk megerjakan semuanya tanggul jebol ini," kata Jokowi saat meninjau lokasi tanggul jebol di Latuharhari, Kamis (17/1/2013).

Ia berharap jebolnya tanggul tersebut bisa selesai hari ini, meskipun terbuat dari karung-karung berisi pasir dan batu.

"Hari ini harus rampung," ujarnya.

Jokowi pun langsung menghubungi Dirjen Sumber Daya Air Kementrian Pekerjaan Umum saat memantau tanggul jebol di Latuharhari.

"Halo Pak Dirjen, saya Jokowi, Pak ini tanggul yang jebol di Latuharhari airnya masuk semua ke Thamrin, ini tidak bisa tidak harus segera diatasi. Mungkin bisa dibantu dari kementrian," kata Jokowi saat menelpon.

Ia menjelaskan dalam sambungan teleponnya membutuhkan bahan-bahan untuk menutup tanggul yang jebol.

"Mungkin yang dipunya kementran, baik karung pasir dan lain-lain bisa dibantu. Kami tunggu pak. Terimakasih Pak," ujarnya.

Kemudian ia pun menelepon Sekretaris Wilayah Daerah Provinsi DKI Jakarta untuk mengerahkan sejumlah Satuan Polisi Pamong Praja ke Latuharhari guna secepatnya menangani tanggul yang jebol supaya banjir di wilayah Jakarta Pusat bisa diatasi.

"Tolong Satpol PP saya tunggu ke sini, penting, darurat ini. Mereka bisa diperbantukan untuk memasukan pasir ke karung atau bagaimana lah," ujarnya.

Saat ini sejumlah anggota TNI sudah datang untuk mengatasi tanggul jebol, namun pekerjaan sempat terhambat karena baligo raksasa yang tertancap di bibir sungai bisa sewaktu-waktu roboh.

Sumber :
jakarta.tribunnews.com

Jokowi: Musim Hujan Selesai, Harus Segera "Action"!

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pada sore ini meninjau keadaan banjir di Jalan MH Thamrin hingga Bundaran HI, Jakarta Pusat. Kendaraan dinasnya pun tidak bisa menerjang banjir di kawasan tersebut sehingga Jokowi harus menggunakan gerobak untuk menerjang banjir.

Mantan Wali Kota Solo tersebut mengatakan, harus ada tindakan yang konkret untuk mengatasi banjir. Ia juga berjanji apabila banjir telah usai, Pemprov DKI Jakarta akan segera melakukan tindakan yang nyata sebagai terobosan antisipasi banjir.
"Ya, kayak tanggul jebol, harus action lapangan. Kalau enggak, nanti enggak akan diselesaikan. Di Thamrin akan seperti ini terus karena dari Ciliwung. Tapi sekali lagi, setelah musim hujan ini selesai, kita harus segera ada action konkret yang real dan yang ada terobosannya," kata Jokowi di Bundaran HI, Jakarta, Kamis (17/1/2013).
Terobosan yang dimaksud Jokowi adalah tindakan menanggulangi banjir yang tidak monoton dari rutinitas yang ada. Selain itu, Jokowi juga menganjurkan kepada semua pihak terkait untuk tidak kembali lalai dan dapat menyebabkan banjir separah ini.
"Tapi memang harus ada sebuah langkah terobosan, apa pun itu. Entah itu membuat waduk sebesar-besarnya, entah deep tunnel. Pokoknya harus ada terobosan," kata Jokowi.
Sementara itu, seperti yang telah berulang kali disampaikan Jokowi, untuk rencana jangka pendek mengantisipasi banjir, mulai tahun ini, Pemprov DKI akan melakukan normalisasi tiga sungai, yaitu Sungai Pesanggrahan, Angke, dan Sunter (PAS).
"Kalau bisa, normalisasi sekaligus semua sungai yang ada. Tapi ya kami memang ingin terus komunikasi dengan pemerintah pusat agar dibantu," ujarnya.
Jokowi juga mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dan berhati-hati karena menurut ramalan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan tidak hanya akan terjadi hari ini, tapi juga malam ini dan esok hari seterusnya.
Sementara itu, hujan dengan intensitas ringan sampai tinggi memicu terjadinya banjir di 68 titik di seluruh Jakarta. Dengan keadaan seperti ini, setelah mengadakan rapat koordinasi dengan Menko Kesra, Menteri Pekerjaan Umum, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, BMKG, dan BNPB; Gubernur DKI Joko Widodo menyatakan bahwa Jakarta dalam posisi tanggap darurat sampai 27 Januari 2013.

Sumber :
megapolitan.kompas.com

FPAN DPRD Solo : Jokowi Pernah Gagal Atasi Banjir di Solo

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo mulai mendapat kritikan dari sejumlah warga terkait banjir yang melanda Jakarta. Tak jarang banyak warga yang mengeluh karena Jokowi belum mampu mengatasi persoalan banjir.

Lantas, mampukah Jokowi mengatasi banjir di masa kepemimpinannya? Sebab persoalan banjir adalah dinilai tantangan terberat bagi mantan Wali Kota Solo itu. Jokowi pernah dianggap gagal mengatasi banjir di Kota Solo, selama dua periode kepemimpinannya.

Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) DPRD Solo,Jawa Tengah Umar Hasyim mengaku tidak begitu heran bila banjir yang terjadi di Jakarta membuat mantan Wali Kota Solo, Joko Widodo atau Jokowi panen hujatan.

Pasalnya, saat menjabat sebagai Wali Kota Solo, Jokowi juga belum berhasil mengatasi banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo. Terbukti, sampai saat ini, beberapa daerah di Solo, seperti Kelurahan Sewu, Pucangsawit, Jebres, Gandekan, Mojosongo, Semanggi, Sangkrah dan Joyontakan masih tergenang banjir.

"Lihat saja setiap musim hujan. Daerah-daerah yang menjadi langganan banjir, di Solo, setiap curah hujan tinggi, pasti banjir. Jadi,selama dua periode memimpin belum berhasil mengatasi banjir,"jelas Umar saat dihubungi Okezone,Kamis (17/1/2013).

Menurut Umar, pernyatannya itu berdasarkan fakta dan kenyataan yang terjadi di Solo. Terbukti, banjir masih terus melanda Kota Solo setiap musim hujan.

Bahkan tak hanya banjir yang masih disisakan Wali Kota asal PDI Perjuangan ini, masalah relokasi warga yang tinggal di bantaran sungai bengawan solo juga hingga saat ini, belum sepenuhnya mampu diselesaikan. "Relokasi warga yang tinggal di bantaran juga sampai saat ini belum sepenuhnya selesai. Padahal lahan sudah disiapkan, tapi ya itu Jokowi keburu ke Jakarta,"paparnya.

Meski demikian,Umar meminta Jokowi jangan sepenuhnya disalahkan. Sebab, banjir Jakarta sudah terjadi jauh sebelum Jokowi memimpin Jakarta. Yang perlu diubah Jokowi yaitu pola kepemimpinannya. Pihaknya masih melihat, pola yang diterapkan Jokowi sama seperti saat memimpin Solo. "Banjir Jakarta itu terjadi jauh sebelum Jokowi memimpin. Mungkin yang harus diubah Jokowi yaitu pola kepemimpinan Jokowi agar bertindak tegas bagi siapa yang membuang sampah atau limbah ke sungai," pungkasnya.

Sumber :
jakarta.okezone.com

Naik Gerobak, Jokowi Diteriaki Bocah Kecil 'Hidup Jokowi'

Gubernur DKI Jakarta Jokowi benar-benar populer di mata warganya. Ketika meninjau banjir di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta dia malah dielu-elukan warga. Anak-anak pun berteriak-teriak memanggil nama Jokowi.

"Hidup Jokowi, hidup Jokowi," kata bocah-bocah yang saat itu tengah bermain air di kawasan Sarinah, Jakarta, Kamis (17/1/2013).

Jokowi, saat itu turun dari mobil Kijang Innova, kemudian dia menyapa warga. Lokasi perempatan Sarinah memang parah terkena banjir. Ketinggian air mencapai sepaha orang dewasa.

Jokowi kemudian menaiki gerobak yang biasa digunakan warga sebagai mata pencaharian di kala banjir. Ditemani ajudan Jokowi naik gerobak itu, menembus banjir menuju Bundaran HI.

Kala di atas gerobak, sejumlah warga tampak ikut mengerumuni dan mengawalnya. Jokowi yang mengenakan topi pun tampak tersenyum. Cuaca di HI, gerimis mulai turun.


Sumber :
news.detik.com

Jokowi: Jakarta Tanggap Darurat hingga 27 Januari

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyatakan Jakarta dalam posisi tanggap darurat hingga akhir Januari 2013.

Hal tersebut disampaikan seusai mengikuti rapat lintas sektoral bersama Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Kepala BNPB Syamsul Maarif, serta Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim di Balaikota Jakarta, Kamis (17/1/2013).

"Kondisi seperti ini, sampai 27 Januari, posisinya tanggap darurat," kata Jokowi.

Dalam waktu dekat, mantan Wali Kota Surakarta itu akan segera mengeluarkan surat resmi terkait posisi tanggap darurat tersebut. "Surat resminya segera kami buat, kami keluarkan," ujarnya.

Sebagai informasi, banjir di Jakarta disebabkan oleh tiga hal. Intensitas hujan ringan sampai tinggi yang terus mengguyur Ibu Kota dalam beberapa hari terakhir ini, air kiriman dari daerah sekitar, dan air pasang yang meninggi.

Untuk itu, Pemprov DKI telah membangun posko di 68 titik pengungsian dan posko nasional juga telah didirikan di Kementerian Pekerjaan Umum.  


Sumber :
megapolitan.kompas.com