Rabu, 29 Januari 2014

Surva-surve SMRC: Jokowi Bisa Menang Pilpres 1 Putaran

Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) melakukan simulasi pencapresan bagi PDIP yaitu Megawati dan Joko Widodo (Jokowi). Hasilnya, pencapresan Jokowi bisa menangi Pilpres dengan 1 putaran.
"Jokowi kemungkinan mendapat suara mutlak 51%. Walau suara ini masih dalam error margin 3%, setidaknya ada peluang Pilpres satu putaran," tutur Direktur Eksekutif Jayadi Hanan dalam paparan survei di Four Season Hotel, di Jl HR Rasuna Said, Jaksel, Rabu (29/1/2014).

PDIP Pastikan Usung Mega-Jokowi

DPP PDI Perjuangan akhirnya mengungkapkan skenario yang bakal mereka jalankan terkait Pilpres 2014. Ada dua skenario yang disiapkan PDI Perjuangan, pertama mengusung Megawati-Jokowi atau Jokowi dengan calon dari parpol lain.
"Kalau menyangkut pilpres ada nama Jokowi dan Ibu Megawati," kata Sekretaris Jendral DPP PDIP, Tjahjo Kumolo di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (29/1/2014).
Tjahjo dua skenario itu sangat bergantung pada hasil Pemilu Legislatif yang akan diperoleh PDI Perjuangan. Jika berhasil memenuhi syarat 'presidential thereshold' maka kemungkinan besar PDI Perjuangan akan mengusung duet Megawati-Jokowi.

Surva-surve FSI: Prawobo Unggul, Jokowi Hancur

Nama Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) tenggelam dalam elektabilitas bakal calon presiden berdasarkan hasil penelitian Focus Survey Indonesia. Dari 15 nama yang disurvei, nama Joko Widodo hanya berada di peringkat ke enam dengan dukungan 5,2 persen.
Bertengger di urutan teratas adalah Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan perolehan 33,6 persen.
Direktur Focus Survey Indonesia (FSI), Soedarsono, memiliki penjelasan mengenai hasil survei tersebut.

Kata Ruhut, di Daerah Jokowi Tak Laku

Setiap partai politik bakal berkonsolidasi dan menerjunkan kader-kader andalan untuk pemenangan Pemilu 2014. PDIP misalnya, bakal meminta Jokowi untuk kampanye blusukan ke daerah-daerah, sementara Ahok bakal diminta turun membantu kampanye Partai Gerindra.
Tak kalah dengan kedua partai di atas, Partai Demokrat bakal menerjunkan kader andalannya, Ruhut Sitompul. Politisi asal Batak ini siap bersaing dengan Jokowi-Ahok yang masing-masing kampanye untuk partai pengusungnya.
"Saya turun sendiri dengan Pak Pramono Edhi sebagai capres kita ke daerah-daerah. Kemarin di Jabar, Kalimantan dan terus keliling," ujar Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul saat dihubungi, Jakarta, Rabu (29/1/2014).

Selesai Urus Banjir, Jokowi Tindak Pembuang Sampah Sembarangan

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, pihaknya segera menerapkan Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum (Perdatibum) tentang larangan dan sanksi membuang sampah sembarangan.
"Itu nanti urusannya Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja)," kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Rabu (29/1/2014).
Jokowi mengatakan, penerapan Perdatibum tersebut tentu tidak mungkin dilakukan sekarang. Pihak Pemprov DKI kini tengah sibuk urusi masalah banjir yang hingga kini masih melanda Jakarta.

Jokowi Tinjau Kali Sunter

Proyek normalisasi daerah aliran sungai masih menjadi program utama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tahun ini. Untuk mengebut pelaksanaannya, sore ini Jokowi meninjau kondisi Kali Sunter di Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Jokowi tiba di Kantor Kelurahan, Pondok Bambu, Jakarta Timur, sekitar pukul 15.30 WIB, Rabu (29/1/2014). Kedatangannya disambut Walikota Jakarta Timur, Krisdianto.

Jika Jokowi Deklarasi Sekarang, Jadi Sasaran Tembak

Diam-diam ternyata PDIP memang sudah memperhitungkan betul sosok Joko Widodo (Jokowi) untuk dimajukan dalam Pilpres mendatang. Namun seandainya dideklarasikan saat ini, Jokowi diprediksi malah menjadi sasaran tembak parpol lain.
"Jika dipaksakan untuk dideklarasikan, wah jadi sasaran tembak," ujar Sekjen PDIP Tjahjo dalam membuka rapat kordinasi tim Kesekjenan di Kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jaksel, Rabu (29/1/2014).
Tjahjo bukan sembarang bicara. Indikasi mengenai penggembosan suara Jokowi sudah lama diterima PDIP.

Surva-surve SMRC: Tanpa Capres Jokowi, Golput 80%

Sebanyak 80% publik secara spontan (pertanyaan terbuka) tidak memberikan suaranya kepada tokoh partai teratas sebagai calon presiden (capres) seperti Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Wiranto, dan Aburizal Bakrie.
Demikian Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) saat merilis hasil surveinya, di Jakarta, Rabu (29/1/2014). Hasil survei disampaikan Direktur Riser SMRC Jayadi Hanan.

Media Asing Mungkin Heran Ada Gubernur Seperti Saya

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan tidak begitu mengetahui mengapa belakangan ini banyak media asing yang ikut meliput kegiatannya baik di Balai Kota maupun saat blusukan.
"Ya saya tidak tahu. Biasa saja. Tidak ada tanggapan, mereka datang sendiri-sendiri ke sini meliput," ujar Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Rabu (29/1/2014).
Menurut Jokowi, kehadiran media asing yang meliput kegiatannya lantaran mereka heran ada sosok Gubernur seperti dirinya yang justru diakuinya sendiri bahwa setelannya tidak cocok sebagai Gubernur.

Surva-surve SMRC: Elektabilitas Jokowi 20,2%, Prabowo 8,1%, Mega 3%

Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) kembali merilis hasil survei elektabilitas capres jelang pemilu 2014. Hasilnya bisa ditebak, Joko Widodo (Jokowi) kembali jadi 'jawara' survei dengan 20,2%.
"Top of Mind yang dipilih sebagai presiden Jokowi berada di urutan pertama 20,2%," kata Direktur Eksekutif Jayadi Hanan dalam paparan survei di Four Season Hotel, di Jl HR Rasuna Said, Jaksel, Rabu (29/1/2014).
Survei digelar dengan metode wawnacara 19-27 Desember 2013 dengan 1.220 responden yang sudah berumur 17 tahun lebih. Margin of error 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.

Terjadi Tiap Tahun, Samapai Jokowi Hafal Titik-titik Banjir

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengaku telah mengetahui titik-titik banjir apabila Jakarta diguyur hujan deras. Jokowi juga menilai banjir sebagai rutinitas warga Jakarta setiap tahunnya.
"Kalau kita lihat di lapangan, setiap tahun, titik banjir sudah ngerti itu di mana saja, evakuasi ke mana juga sudah. Ini kan kaya rutinitas, tapi kan enggak benar juga kalau saya bilang rutinitas," ujar Jokowi di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (29/1/2014).

Jokowi Tak Mau Banjir Jadi Rutinitas

Banjir lagi, banjir lagi. Hujan yang mengguyur semalaman telah membuat Jakarta kembali digenangi air. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menyadari, banjir seolah sudah menjadi rutinitas tahunan di Ibu Kota. Namun, ia mengatakan rutinitas itu tak boleh dilanjutkan.
"Ya ini sudah menjadi rutinitas. Tapi rutinitasnya tidak benar. Oleh sebab itu yang ingin kita selesaikan ya akar masalahnya," katanya di Balai Kota, Rabu (29/1/2014).

PDI-P Minta Kritikan Terhadap Jokowi Bersifat Membangun

Citra Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) kini relatif positif di mata publik. Hal itu tercermin dari hasil jajak pendapat yang menempatkan Jokowi dan PDI-P di jajaran atas. Namun, situasi demikian membuat Jokowi dan PDI-P rentan terhadap serangan dari lawan politik. Apalagi, Ibu Kota kini sedang dilanda banjir di sejumlah titik. Masalah banjir ini sempat menjadi bahan untuk menyudutkan Jokowi dan PDI-P.
Ketua DPP PDI-P Bidang Kehormatan Sidharto Danusubroto mengatakan, serangan politik menjelang pemilu 2014 sulit dihindari. Namun, dia berharap seluruh pihak tetap menjaga situasi yang terkendali.

Jakarta Dikepung Banjir, Jokowi: Tadi Malam Saya Keliling Sampai Jam 1

Hujan yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Selasa (28/1/2014) malam, hingga Rabu pagi (29/1/2014), menyebabkan terjadinya banjir di beberapa ruas jalan. Akibatnya, arus lalu lintas menjadi macet parah.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowo) mengaku sudah mendapat laporan soal parahnya kemacetan Jakarta pagi tadi. Termasuk soal adanya banjir.
"Iya sudah tahu. Tadi malam saya keliling sampai jam 1. Ya memang seperti itu," ujar Jokowi di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (29/1/2014).

Projo: Elit dan Kader PDIP Jangan Sampai Jokowi Effect Phobia

Elit dan kader PDI Perjuangan tak perlu risau dengan "Jokowi effect" yang terjadi saat ini. Justru, pengaruh dan tingginya elektabilitas Jokowi (Joko Widodo) di mata masyarakat harus dinilai positif.
Begitu dikemukakan koordinator Nasional PDI Perjuangan Pro Jokowi (Projo), Budi Arie Setiadi dalam keteranganya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (29/1/2014).
"Jangan sampai dihantui Jokowi effect phobia," katanya.

Surva-surve Android: 85,51% Setuju Jokowi Jadi Presiden

Elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) moncer di berbagai survei. Belakangan di jagat Android juga muncul aplikasi survei pencapresan Jokowi, hasilnya ada 85,51% user aplikasi itu setuju Jokowi jadi presiden.
Aplikasi ini bisa dijumpai di toko aplikasi di ponsel Android. Nama aplikasi ini simpel, Jokowi. Yang mengunduh aplikasi ini sudah lebih dari 600 user. Sejumlah pertanyaan seputar Jokowi diajukan dan user diberi kesempatan untuk mengklik jawaban antara setuju dan tidak setuju.
Saat diakses pada Rabu (29/1/2014), pukul 13.15 WIB, aplikasi polling sederhana ini menunjukkan 85,51% penggunanya setuju Jokowi jadi presiden. Hanya 14,49% pengguna yang menjawab tidak setuju Jokowi jadi presiden.

RTH Jakarta Terancam Gagal Karena Kepemilikan Ganda

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) pesimistis pemenuhan target penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 30 persen dari luas Jakarta dapat tercapai tahun ini. Penyebabnya, karena banyaknya kepemilikan lahan RTH yang tumpang tindih.
"Sudah kita teliti, dokumennya sudah ada. Tapi pas mau dibayar, ini ada yang datang bawa dokumen lagi, 'Pak, itu milik kita, Pak,' yang satu juga sama, jadi gimana," kata Jokowi itu di Balaikota Jakarta, Rabu (29/1/2014).

Masalah PPD, Dahlan: Jokowi Secepatnya Temui Mentrei Keuangan

Menteri BUMN Dahlan Iskan mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar lebih gencar mengambilalih Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD) berinsiatif mendatangi Menteri Keuangan yang menjadi kuasa pemegang saham PPD.
"Sesuai prosedur bahwa dalam penyelesaian pengambilalihan harus mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan," kata Dahlan usai membuka seminar BUMN Outlook 2014 di Jakarta, Rabu (29/1/2013).
Menurut Dahlan, keputusan akhir pengalihan PPD kepada Pemprov DKI berada di tangan Menteri Keuangan.

Warga Denpasar Bentuk Relawan Semeton Jokowi

Sejumlah warga di Kota Denpasar membentuk forum relawan "Semeton Jokowi" atau saudara Joko Widodo (Jokowi) yang mendukung Gubernur DKI Jakarta itu maju sebagai calon presiden dalam Pemilu Presiden 2014. 
"Forum ini dibentuk karena warga cinta dengan Jokowi dan ada harapan masyarakat kepada salah satu kader terbaik bangsa itu," kata salah satu anggota penggerak "Semeton Jokowi", Agung Putri Astrid, dalam keterangan persnya di Denpasar, Rabu (29/1/2014). 
Dia mengatakan forum tersebut merupakan inisiatif warga menyambut suara yang muncul di masyarakat mendukung Jokowi. 

Jokowi Harus Minta Pemilik Utilitas Tak Rusak Aset Pemprov

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), sebagai pemegang otoritas tertinggi di Ibu Kota, diimbau duduk bersama dengan pemilik utilitas. Upaya itu dimaksudkan agar pengerjaan galian tidak terbengkalai, tidak membahayakan pengguna jalan, tidak membuat banjir, dan tidak merusak infrastruktur Pemprov DKI.
"Pemerintah daerah harus memanggil pemilik utilitas untuk membuat kesepakatan bagaimana cara mengelola utilitas ini bisa dikerjakan secara tertib dan tidak merusak aset daerah," kata Peneliti Institut Studi Transpotasi (Instran) Izzul Waro kepada wartawan di Jakarta, Rabu (29/1/2014). 

Selasa, 28 Januari 2014

Kata Eros Djarot, Bodoh Kalau Banjir Salahkan Jokowi

Bencana banjir yang kembali menimpa Jakarta beberapa waktu terakhir menimbulkan banyak pihak yang berkomentar termasuk menyalahkan keberadaan sosok pemimpin DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi). Menurut musikus serta politikus Eros Djarot, memang akan ada saja yang menyalahkan hal semacam ini pada Jokowi.
"Hanya orang bodoh yang minta Jokowi menyelesaikan banjir ini dalam dua tahun," kata Eros kepada Tempo di Grand Indonesia (28/1/2014).
Menurut Eros, banjir di Jakarta sudah ada sejak lama. Tidak bisa langsung diselesaikan dalam waktu cepat. "Banjir ini masalah klasik," katanya lagi.

Gubernur kok Wajahnya Begini!

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) menilai dirinya tersohor dan menjadi perbincangan di media Internasional lantaran wajah dia yang biasa-biasa saja.
"Ya wajahku kelihatannya... Gubernur kok wajahnya begini. Harusnya begini," ujar Jokowi sambil mempraktikkan badan tegap di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (28/1/2014).
Pria lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada itu mengaku tidak pernah menduga ketenarannya. Ia menanggapi biasa saja. "Kita tidak tahu, tidak ada tanggapan, biasa saja. Mereka datang sendiri ke sini meliput," kata Jokowi.

37 Ribu Akun Twitter Gunjing Jokowi Soal Banjir

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) masih menjadi tokoh yang populer di media sosial. Situs pemantau media sosial, awesometrics.com mencatat, selama Januari 2014, puluhan ribu akun twitter aktif berkicau soal penanganan banjir oleh Jokowi.
Dari 28 Desember 2013 hingga 27 Januari 2014, jumlah akun yang aktif berkicau soal isu ini hampir mencapai 37 ribu akun Twitter. Percakapan soal Jokowi terkait isu banjir berpotensi menjangkau 36 jutaan akun Twitter.

Inilah Alasan Tahir Bantu Jokowi

Orang terkaya ke-12 Indonesia, Tahir, memberikan bantuan 6M ke Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) untuk korban banjir. Selain itu, Tahir pun memberikan 10 bus gratis. Ada apa di balik pemberian bantuan Tahir tersebut?
Tahir mengaku sudah mengenal Jokowi sejak menjabat sebagai Walikota Solo. Dia mengenal Jokowi cukup dekat. Bantuan yang diberikan Tahir tulus tanpa mengharapkan imbalan apapun.
"Saya melihat, individual satu per satu. Saya kenal beliau sejak di Solo, dia waktu itu mau jadi gubernur. Saya bilang sama dia Pak saya minta satu hal. Saya tidak akan pernah minta satu fasilitas pun," kata pendiri Mayapada Group ini saat berkunjung ke kantor detikcom, Jakarta, Selasa (28/1/2014).

Jokowi Go International

Sosok Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) ternyata menjadi magnet bagi media internasional. Penampilannya yang sederhana dan bersedia blusukan menjadi salah satu faktor mengapa publik internasional demen dan penasaran terhadap kader terbaik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini.
Hal itu terungkap dalam diskusi dengan para jurnalis asing yang diadakan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Pusat Kebudayaan AS, Jakarta Selatan.
Hadir sebagai narasumber dua wartawan asing Sam Reeves yang bekerja untuk media Prancis, Agence France Press (AFP) dan Joe Cochrane, koresponden New York Times.

Pakai Brand Jokowi Silakan, Tapi Jangan Lupa Mega Ya...

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, I Wayan Adnyana mempersilahkan calon legislatif di kabupaten itu mengunakan nama Joko Widodo (Jokowi) untuk meraih dukungan sebanyak mungkin dari masyarakat.
"Silahkan saja gunakan nama Jokowi karena memang beliau kader DPIP," kata I Wayan Adnyana, di Mukomuko, Selasa (28/1/2014), menanggapi beredarkan gambar baliho calon legislatif (Caleg) dari partai itu yang bergandeng dengan gambar Jokowi.

Jokowi Minta Proyek MRT Dipercepat, Tapi Lahannya Belum Ada

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) meminta Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) mempercepat realisasi proyek Mass Rapid Transit (MRT). Namun masalah lahan masih menjadi kendalanya.
"Saya minta, waktunya dipercepat. Kalau mereka sudah terbiasa dengan ngomong. Kalau kita terbiasa tepat waktu dengan target yang jelas," kata Jokowi di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (28/1/2014).