Lebaran dijadikan momen warga untuk pulang ke kampung halaman atau
mudik. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengimbau kepada warga
DKI Jakarta yang berniat mudik agar tidak menggunakan sepeda motor.
"Kita
ngerti, mudik pakai sepeda motor itu bukan bahaya, tapi terlalu
berbahaya," kata Jokowi di Gedung Balai Kota, Jalan Medan Merdeka
Selatan, Jakarta Pusat, Senin (15/7/2013).
Menurut dia, berdasarkan data tahun 2012 kecelakaan terbesar dialami oleh pemudik yang menggunakan sepeda motor.
"Saya imbau agar yang pulang mudik lebih baik tidak pakai kendaraan sepeda motor," ujar Jokowi
Mengenai
melonjaknya angka urbanisasi pasca Lebaran, mantan Wali Kota Solo ini
belum menemukan 'jurus' untuk mengantisipasi hal itu.
"Belum
ketemu jurusnya. Kalau yang rutinitas seperti yang lalu kan realnya
nggak punya dampak. Jadi ngomong yang rutin saya nggak mau," kata
Jokowi.
Sebanyak 9.798.335 warga akan meninggalkan Jakarta saat
mudik Lebaran tahun ini. Pemprov DKI menyiapkan berbagai sarana dalam
menghadapi agenda tahunan tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan DKI
Jakarta, Udar Pristono mengatakan, sebanyak 4 terminal utama dan 18
terminal bantuan akan siap melayani para pemudik. Selain itu, ada 5
stasiun utama dan 2 stasiun bantuan, 1 pelabuhan dan 1 bandar udara
utama ditambah 1 bandar udara bantuan.
"Prediksi jumlah pemudik
yang menggunakan angkutan umum yaitu 2.527.488, dengan rincian Bus AKAP
729.278, mudik gratis 81.289, kereta api 382.854, kapal laut 18.129,
jalur udara 1.315.938. Sedangkan kendaraan pribadi 7.270.847, dengan
rincian mobil 5.836.919 dan sepeda motor 1.433.928 orang. Total
perkiraan ada 9.798.335 pemudik," ujar Udar Pristono.
Sumber :
detik.com
Arsip terlengkap seputar kegiatan Jokowi mulai tahun 2013 hingga Jokowi Terindikasi Melindungi Koruptor.
Senin, 15 Juli 2013
Jokowi Perlu Institusi Pengelola CSR
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengaku perlu ada sebuah institusi sebagai pengelola dana corporate social responsibility
(CSR) dalam pembiayaan pembangunan di Jakarta. Jokowi menilai
keberadaan institusi itu dapat membuat pengelolaan anggaran CSR menjadi
lebih transparan.
"Perlu, itu baik, biar barangnya kelihatan, yang nyumbang siapa. Mereka kan ingin diketahui umum juga bahwa saya sudah bantu," ujar Jokowi saat mengunjungi Waduk Pluit, Jakarta Utara, Senin (15/7/2013).
Berdasarkan Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 13 Tahun 2012 tentang Forum Tanggung Jawab Sosial Dunia Usaha pada Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial, pengelola CSR harus terpusat. Oleh sebab itu, dibentuk Forum CSR. Namun, forum itu belum berjalan karena Jokowi belum memberi surat keputusan atas forum tersebut.
Menanggapi kondisi tersebut, Jokowi akan segera meninjau kembali. Menurutnya, keberadaan institusi pengelola anggaran CSR itu mampu mempercepat proses pemberian CSR ke warga.
"Kita minta bantuan karena ingin mempercepat proses-proses yang ada. Kalau kita menunggu lelang APBD, itu kelamaan," kata Jokowi.
Sumber :
kompas.com
"Perlu, itu baik, biar barangnya kelihatan, yang nyumbang siapa. Mereka kan ingin diketahui umum juga bahwa saya sudah bantu," ujar Jokowi saat mengunjungi Waduk Pluit, Jakarta Utara, Senin (15/7/2013).
Berdasarkan Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 13 Tahun 2012 tentang Forum Tanggung Jawab Sosial Dunia Usaha pada Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial, pengelola CSR harus terpusat. Oleh sebab itu, dibentuk Forum CSR. Namun, forum itu belum berjalan karena Jokowi belum memberi surat keputusan atas forum tersebut.
Menanggapi kondisi tersebut, Jokowi akan segera meninjau kembali. Menurutnya, keberadaan institusi pengelola anggaran CSR itu mampu mempercepat proses pemberian CSR ke warga.
"Kita minta bantuan karena ingin mempercepat proses-proses yang ada. Kalau kita menunggu lelang APBD, itu kelamaan," kata Jokowi.
Sumber :
kompas.com
Jokowi Minta Percepatan Pembangunan Rusun Muara Baru
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) meminta percepatan pembangunan rumah susun
sewa di Muara Baru, Jakarta Utara. Pengembang memasang target
pembangunan rusun selesai pada April 2014. Adapun Jokowi meminta
pembangunan rusun selesai akhir tahun ini.
"Ini selesai April iya, Pak? Bulan Desember saja, ya, kalau bisa. Ya, kalau tak selesai, paling tidak tujuh dari delapan blok rusun selesai dibangun. Kalau tidak selesai, ya, tujuh setengah blok bisa dibangun," kata Jokowi di hadapan pengembang seusai meresmikan dimulainya pembangunan rusun Muara Baru, Senin (15/7/2013).
Menanggapi permintaan Jokowi, pengembang tidak memberikan jawaban tegas. Mereka hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Menurut Jokowi, semakin cepat diselesaikan pembangunan rusun di Muara Baru semakin baik. Sebab, hal itu terkait dengan pengerukan Waduk Pluit yang saat ini sedang berjalan.
"Jika seluruh warga bisa tinggal di rusun, penyedotan lumpur waduk bisa lebih cepat. Selama masih ada warga di bantaran waduk, penyedotan lumpur hanya bisa dilakukan di pinggiran waduk," kata Jokowi.
Delapan blok rusun yang dibangun di Muara Baru itu dibangun oleh pengembang PT Kapuk Naga Indah dan PT Jaladri Kartika Pakci. Pembangunan itu bagian dari kewajiban pengembang yang tertuang dalam Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah (SIPPT).
Rencananya, di Muara Baru akan dibangun 12 menara rusun di atas lahan seluas 4,7 hektar. Empat blok rusun di antaranya sudah dibangun di bagian barat lahan tersebut. Adapun delapan blok yang akan dibangun ada di lahan seluas 3,3 hektar.
Sumber :
kompas.com
"Ini selesai April iya, Pak? Bulan Desember saja, ya, kalau bisa. Ya, kalau tak selesai, paling tidak tujuh dari delapan blok rusun selesai dibangun. Kalau tidak selesai, ya, tujuh setengah blok bisa dibangun," kata Jokowi di hadapan pengembang seusai meresmikan dimulainya pembangunan rusun Muara Baru, Senin (15/7/2013).
Menanggapi permintaan Jokowi, pengembang tidak memberikan jawaban tegas. Mereka hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Menurut Jokowi, semakin cepat diselesaikan pembangunan rusun di Muara Baru semakin baik. Sebab, hal itu terkait dengan pengerukan Waduk Pluit yang saat ini sedang berjalan.
"Jika seluruh warga bisa tinggal di rusun, penyedotan lumpur waduk bisa lebih cepat. Selama masih ada warga di bantaran waduk, penyedotan lumpur hanya bisa dilakukan di pinggiran waduk," kata Jokowi.
Delapan blok rusun yang dibangun di Muara Baru itu dibangun oleh pengembang PT Kapuk Naga Indah dan PT Jaladri Kartika Pakci. Pembangunan itu bagian dari kewajiban pengembang yang tertuang dalam Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah (SIPPT).
Rencananya, di Muara Baru akan dibangun 12 menara rusun di atas lahan seluas 4,7 hektar. Empat blok rusun di antaranya sudah dibangun di bagian barat lahan tersebut. Adapun delapan blok yang akan dibangun ada di lahan seluas 3,3 hektar.
Sumber :
kompas.com
Jokowi Masih Menjabat Pimpinan PDIP Jateng
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) ternyata masih punya
posisi di Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Jawa Tengah. Ini diungkapkan
oleh Plh (Pelaksana harian) Ketua DPD Jawa Tengah.
"(Jokowi) Wakil Ketua DPD PDIP Jawa Tengah bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah," kata Plh Ketua DPD Jateng M Prakosa saat dihubungi, Senin (15/7/2013).
Anggota Komisi IV DPR ini tak tahu menahu jika ada isu yang menyebutkan Jokowi akan ditunjuk menjadi ketua definitif DPD Jateng. Prakosa menegaskan, dirinya masih menjabat sebagai Plh Ketua DPD Jateng hingga saat ini.
"Sampai sekarang saya masih di Plh. Saya sendiri saat ini tidak mendengar (kabar Jokowi menjadi Ketua DPD)," ucap Prakosa.
Sebelumnya, proyeksi Jokowi untuk menjabat Ketua DPD Jateng sempat terpantik lewat pernyataan salah seorang Ketua DPP PDIP. Ini menjawab tanggapan Jokowi yang selalu memuncaki survei-survei pencapresan. Jokowi dinyatakan belum saatnya maju capres 2014.
"Nggak ada, biar matang dulu di DPD," kata Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan pencapresan Jokowi. Effendi menyampaikan hal itu saat hendak naik mobil meninggalkan Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Senin (15/7).
Sumber :
detik.com
"(Jokowi) Wakil Ketua DPD PDIP Jawa Tengah bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah," kata Plh Ketua DPD Jateng M Prakosa saat dihubungi, Senin (15/7/2013).
Anggota Komisi IV DPR ini tak tahu menahu jika ada isu yang menyebutkan Jokowi akan ditunjuk menjadi ketua definitif DPD Jateng. Prakosa menegaskan, dirinya masih menjabat sebagai Plh Ketua DPD Jateng hingga saat ini.
"Sampai sekarang saya masih di Plh. Saya sendiri saat ini tidak mendengar (kabar Jokowi menjadi Ketua DPD)," ucap Prakosa.
Sebelumnya, proyeksi Jokowi untuk menjabat Ketua DPD Jateng sempat terpantik lewat pernyataan salah seorang Ketua DPP PDIP. Ini menjawab tanggapan Jokowi yang selalu memuncaki survei-survei pencapresan. Jokowi dinyatakan belum saatnya maju capres 2014.
"Nggak ada, biar matang dulu di DPD," kata Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan pencapresan Jokowi. Effendi menyampaikan hal itu saat hendak naik mobil meninggalkan Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Senin (15/7).
Sumber :
detik.com
Jokowi Resmikan Dimulainya Pembangunan Rusunawa Bagi Warga Waduk Pluit
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) hari ini meresmikan lokasi pembangunan
rumah susun sewa Muara Baru di Penjaringan, Jakarta Utara. Rusun baru
itu diperuntukkan bagi warga yang dipindahkan dari lahan Waduk Pluit.
Jokowi tiba pukul 14.30 WIB, Senin (15/7/2013), bersama Walikota Jakarta Utara, Bambang, Plh Sekda Provinsi DKI Wiryatmoko dan Kepalda Dinas Perumahan DKI Jakarta, Yonathan Pasodung. Mereka
"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pembangunan Rusunawa Muara Baru, kita mulai," ujar Jokowi sambil memencet tombol sirene sebagai tanda awal pembangunan.
Seketika, mesin penghentak pancang langsung menghunuskan tiang pancang ke dalam perut bumi di lokasi yang tak jauh dari Waduk Pluit ini.
Rencananya ada 8 blok yang akan dibangun di lahan seluas 3,3 hektar tersebut. Pembangunan akan dilakukan oleh PT Kapuk Niaga Indah dan PT Jaladri Kartika Pakci. Nantinya Rusunawa ini diperuntukkan bagi warga yang terkena dampak penataan Waduk Pluit.
"Pembangunan tersebut dilakukan sebagai bentuk kerjasama dan perjanjian antara PT Kapuk Naga Indah dan PT Jaladri Kartika Pakci dengan Pemprov D0I Jakarta," ujar Kepala Dinas Perumahan DKI Jakarta, Yonathan Pasodung.
Sumber :
detik.com
Jokowi tiba pukul 14.30 WIB, Senin (15/7/2013), bersama Walikota Jakarta Utara, Bambang, Plh Sekda Provinsi DKI Wiryatmoko dan Kepalda Dinas Perumahan DKI Jakarta, Yonathan Pasodung. Mereka
"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pembangunan Rusunawa Muara Baru, kita mulai," ujar Jokowi sambil memencet tombol sirene sebagai tanda awal pembangunan.
Seketika, mesin penghentak pancang langsung menghunuskan tiang pancang ke dalam perut bumi di lokasi yang tak jauh dari Waduk Pluit ini.
Rencananya ada 8 blok yang akan dibangun di lahan seluas 3,3 hektar tersebut. Pembangunan akan dilakukan oleh PT Kapuk Niaga Indah dan PT Jaladri Kartika Pakci. Nantinya Rusunawa ini diperuntukkan bagi warga yang terkena dampak penataan Waduk Pluit.
"Pembangunan tersebut dilakukan sebagai bentuk kerjasama dan perjanjian antara PT Kapuk Naga Indah dan PT Jaladri Kartika Pakci dengan Pemprov D0I Jakarta," ujar Kepala Dinas Perumahan DKI Jakarta, Yonathan Pasodung.
Sumber :
detik.com
Jokowi : Kenaikan Harga Jelang Lebaran itu Biasa
Gubernur DKI Jakarta
Joko Widodo (Jokowi) menilai, kenaikan harga sejumlah barang kebutuhan pokok
selama bulan Ramadan dan jelang hari raya Idul Fitri merupakan hal yang
biasa.
Karena itu, menurut Jokowi, yang terpenting adalah pemprov memiliki program ampuh untuk menangani persoalan tersebut, yakni membantu menormalisasi harga barang.
"Kenaikan harga itu sudah biasa. Yang penting, respons pemprovnya tepat atau tidak. Nanti kami akan mengadakan pasar rakyat dan operasi pasar buat menormalisasi kenaikan harga barang itu," ujar Gubernur Jokowi seusai rapat forkompinda, di Balai Kota Jakarta, Senin (15/07/2013).
Sementara Kepala Dinas UKM dan MP Jakarta Ratnaningsih mengungkapkan, harga sejumlah barang kebutuhan pokok sampai kekinian masih bertahan tinggi. "Harga paling tinggi adalah harga daging sapi, yakni Rp 101 ribu per kilogram," imbuhnya.
Selain daging sapi, sambung Ratna, harga telor, dan daging ayam ras juga masih bertahan tinggi. "Harga telor mencapai Rp 21 ribu per kilo, sedangkan daging ayam Rp 36 ribu. Karena itu, kami akan menggelar pasar rakyat di 10 lokasi di 5 wilayah bulan ini," tandasnya.
Sumber :
tribunnews.com
Karena itu, menurut Jokowi, yang terpenting adalah pemprov memiliki program ampuh untuk menangani persoalan tersebut, yakni membantu menormalisasi harga barang.
"Kenaikan harga itu sudah biasa. Yang penting, respons pemprovnya tepat atau tidak. Nanti kami akan mengadakan pasar rakyat dan operasi pasar buat menormalisasi kenaikan harga barang itu," ujar Gubernur Jokowi seusai rapat forkompinda, di Balai Kota Jakarta, Senin (15/07/2013).
Sementara Kepala Dinas UKM dan MP Jakarta Ratnaningsih mengungkapkan, harga sejumlah barang kebutuhan pokok sampai kekinian masih bertahan tinggi. "Harga paling tinggi adalah harga daging sapi, yakni Rp 101 ribu per kilogram," imbuhnya.
Selain daging sapi, sambung Ratna, harga telor, dan daging ayam ras juga masih bertahan tinggi. "Harga telor mencapai Rp 21 ribu per kilo, sedangkan daging ayam Rp 36 ribu. Karena itu, kami akan menggelar pasar rakyat di 10 lokasi di 5 wilayah bulan ini," tandasnya.
Sumber :
tribunnews.com
Untung Ada Jokowi
Kawasan Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, yang menjadi proyek percontohan
program Kampung Deret saat ini sudah berubah. Pelan tetapi pasti,
rumah-rumah yang sering menjadi korban kebakaran terlihat tertata rapi.
Permukiman di Tanah Tinggi I, RT 14 RW 01, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, menjadi salah satu percontohan Kampung Deret. Permukiman yang dihuni lebih dari 80 kepala keluarga (KK) ini telah rampung merenovasi 36 rumah dari 40 rumah yang ada. Satu rumah dihuni dua hingga enam KK.
"Satu rumah dihuni dua sampai enam KK. Ada yang sudah pindah, tapi KTP-nya masih tercatat di sini," ujar Bu Yahya (53), warga Tanah Tinggi, saat ditemui Kompas.com, Senin (15/7/2013).
Sementara Upik (47), mantan warga Tanah Tinggi yang kini tinggal di Pondok Gede, mengaku senang dengan perubahan yang dialami kampungnya. Bahkan, ia berharap perubahan fisik kampungnya juga dibarengi dengan perubahan sosial masyarakatnya.
"Alhamdulillah sekarang lebih baik. Untung ada Jokowi. Bukan bagaimana-bagaimana, tapi faktanya dia orang yang care," ujar Upik senang.
Selanjutnya, setelah rumah-rumah warga ditata rapi, warga berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melengkapi penataan kampung dengan hydrant. Hal tersebut untuk mengantisipasi risiko kebakaran yang lebih besar jika terjadi kebakaran.
"Saya lagi ajukan hydrant, buat jaga-jaga. Sebagai antisipasi kalau terjadi kebakaran," ungkap Ketua RT 14, RW 01, Tanah Tinggi, Yahya.
Sementara instalasi listrik dikerjakan oleh pengembang, sedangkan pemasangan meteran (alat pengukur listrik) dikerjakan oleh PLN.
Menurut Yahya, akibat kebakaran hebat yang sempat melanda kampung tersebut pada 4 Maret 2013 lalu, banyak instalasi listrik yang rusak. Dia pun mengurus rumah-rumah warga yang instalasi listriknya rusak ke PLN.
"(Rumah) yang kebakar harus dilaporkan ke kepolisian, kemudian baru dipasang meteran lagi sama PLN. Tapi, sayang warga masih harus membayar Rp 275.000 per rumah," ujar Yahya.
Sumber :
kompas.com
Permukiman di Tanah Tinggi I, RT 14 RW 01, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, menjadi salah satu percontohan Kampung Deret. Permukiman yang dihuni lebih dari 80 kepala keluarga (KK) ini telah rampung merenovasi 36 rumah dari 40 rumah yang ada. Satu rumah dihuni dua hingga enam KK.
"Satu rumah dihuni dua sampai enam KK. Ada yang sudah pindah, tapi KTP-nya masih tercatat di sini," ujar Bu Yahya (53), warga Tanah Tinggi, saat ditemui Kompas.com, Senin (15/7/2013).
Sementara Upik (47), mantan warga Tanah Tinggi yang kini tinggal di Pondok Gede, mengaku senang dengan perubahan yang dialami kampungnya. Bahkan, ia berharap perubahan fisik kampungnya juga dibarengi dengan perubahan sosial masyarakatnya.
"Alhamdulillah sekarang lebih baik. Untung ada Jokowi. Bukan bagaimana-bagaimana, tapi faktanya dia orang yang care," ujar Upik senang.
Selanjutnya, setelah rumah-rumah warga ditata rapi, warga berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melengkapi penataan kampung dengan hydrant. Hal tersebut untuk mengantisipasi risiko kebakaran yang lebih besar jika terjadi kebakaran.
"Saya lagi ajukan hydrant, buat jaga-jaga. Sebagai antisipasi kalau terjadi kebakaran," ungkap Ketua RT 14, RW 01, Tanah Tinggi, Yahya.
Sementara instalasi listrik dikerjakan oleh pengembang, sedangkan pemasangan meteran (alat pengukur listrik) dikerjakan oleh PLN.
Menurut Yahya, akibat kebakaran hebat yang sempat melanda kampung tersebut pada 4 Maret 2013 lalu, banyak instalasi listrik yang rusak. Dia pun mengurus rumah-rumah warga yang instalasi listriknya rusak ke PLN.
"(Rumah) yang kebakar harus dilaporkan ke kepolisian, kemudian baru dipasang meteran lagi sama PLN. Tapi, sayang warga masih harus membayar Rp 275.000 per rumah," ujar Yahya.
Sumber :
kompas.com
Gara-gara Jokowi, Banteng Bingung
Sikap Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarno Putri (Mega), yang belum menyatakan secara eksplisit tentang status Joko Widodo (Jokowi) di masa mendatang, menimbulkan kesan PDIP dalam "perang saudara", "terkoyak", sampai "pecah". Bagai banteng bingung. Para punggawa PDIP memberikan pernyataan yang beda-beda. Mungkinkah karena PDIP partai yang menjunjung tinggi perbedaan, sehingga hal ini sering dan berulang ulang terjadi?
Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon menyebut Jokowi belum matang dan tak akan dicapreskan di 2014. Sikap Effendi ternyata belum sikap final PDIP, masih ada internal PDIP yang melihat ada peluang Jokowi nyapres di 2014.
"Saya rasa Pilpres 2014 masih jauh. Jadi kita belum membicarakan siapa. Saya kira capres itu kewenangan Ibu Mega, bisa saja Ibu Mega nyapres, bisa juga Jokowi ditunjuk Ibu Mega," kata Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait, Senin (15/7/2013).
Maruarar tak memungkiri elektabilitas Jokowi kian bersinar. Bersamaan dengan itu raihan PDIP di sejumlah survei politik juga menunjukkan peningkatan.
"Ya memang dari berbagai survei kan memang apresiasi publik baik elektabilitas maupun alasan yang dekat dengan rakyat, tegas, jujur, memang paling tinggi kan Jokowi," kata Maruarar.
"Memang yang cukup tinggi Jokowi, Mbak Mega, dan Pak JK. Artinya itu adalah sikap yang diapresiasi publik sebagai pemimpin bangsa," lanjut Maruarar.
Dia sendiri bersyukur nama Jokowi dan Mega konsisten memuncaki survei capres. Menurutnya itu tanda baik untuk PDIP menjelang Pemilu 2014.
"Jadi memang kita bersyukur survei Mas Jokowi diapresiasi di publik sangat baik. Memang seiring survei PDIP menjadi partai yang paling banyak dipilih oleh publik dengan berbagai alasan," terang Maruarar.
Pandangan Maruarar yang terdengar sejuk untuk peluang pencapresan Jokowi berbeda jauh dengan pandangan Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon. Effendi tanpa tedeng aling-aling menilai Jokowi masih belum matang dan tak akan dicapreskan PDIP di 2014.
"Nggak ada, biar matang dulu di DPD," kata Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan pencapresan Jokowi. Effendi menyampaikan hal itu saat hendak naik mobil meninggalkan Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Senin (15/7/2013). Jokowi merupakan wakil ketua DPD PDIP Jawa Tengah.
Lalu sekuat apa perbedaan pandangan di internal PDIP tentang peluang pencapresan Jokowi? yang jelas Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo menuturkan capres PDIP akan diputuskan setelah Pileg 2014 nanti.
Sumber :
detik.com
Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon menyebut Jokowi belum matang dan tak akan dicapreskan di 2014. Sikap Effendi ternyata belum sikap final PDIP, masih ada internal PDIP yang melihat ada peluang Jokowi nyapres di 2014.
"Saya rasa Pilpres 2014 masih jauh. Jadi kita belum membicarakan siapa. Saya kira capres itu kewenangan Ibu Mega, bisa saja Ibu Mega nyapres, bisa juga Jokowi ditunjuk Ibu Mega," kata Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait, Senin (15/7/2013).
Maruarar tak memungkiri elektabilitas Jokowi kian bersinar. Bersamaan dengan itu raihan PDIP di sejumlah survei politik juga menunjukkan peningkatan.
"Ya memang dari berbagai survei kan memang apresiasi publik baik elektabilitas maupun alasan yang dekat dengan rakyat, tegas, jujur, memang paling tinggi kan Jokowi," kata Maruarar.
"Memang yang cukup tinggi Jokowi, Mbak Mega, dan Pak JK. Artinya itu adalah sikap yang diapresiasi publik sebagai pemimpin bangsa," lanjut Maruarar.
Dia sendiri bersyukur nama Jokowi dan Mega konsisten memuncaki survei capres. Menurutnya itu tanda baik untuk PDIP menjelang Pemilu 2014.
"Jadi memang kita bersyukur survei Mas Jokowi diapresiasi di publik sangat baik. Memang seiring survei PDIP menjadi partai yang paling banyak dipilih oleh publik dengan berbagai alasan," terang Maruarar.
Pandangan Maruarar yang terdengar sejuk untuk peluang pencapresan Jokowi berbeda jauh dengan pandangan Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon. Effendi tanpa tedeng aling-aling menilai Jokowi masih belum matang dan tak akan dicapreskan PDIP di 2014.
"Nggak ada, biar matang dulu di DPD," kata Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan pencapresan Jokowi. Effendi menyampaikan hal itu saat hendak naik mobil meninggalkan Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Senin (15/7/2013). Jokowi merupakan wakil ketua DPD PDIP Jawa Tengah.
Lalu sekuat apa perbedaan pandangan di internal PDIP tentang peluang pencapresan Jokowi? yang jelas Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo menuturkan capres PDIP akan diputuskan setelah Pileg 2014 nanti.
Sumber :
detik.com
Makna Rapat 15 Menit Bagi Jokowi
Rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FOKOPIMDA) usai dilaksanakan.
Rapat membahas penanganan isu-isu yang muncul selama bulan ramadan dan
Hari Raya Idul Fitri mendatang.
Hadir dalam rapat ini Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono, Kepala Dinas UKM dan MP, Ratnaningsih, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Arie Budhiman, beberapa kepala dinas, Kapolda Metro Jaya, serta unsur TNI Angkatan Darat dan Udara.
Sebelum rapat dimulai, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo hanya berpesan singkat untuk menyampaikan masalah utama yang penting saja kepada para peserta rapat. "Sampaikan yang singkat-singkat dan penting saja ya," pinta Jokowi, Senin (15/7/2013).
Rapat yang hanya berlangsung selama kurang lebih lima belas menit ini membahas mengenai penutupan tempat hiburan malam di DKI Jakarta, kenaikan harga bahan makanan, pengawasan peredaran makanan pada saat lebaran.
Kemudian, persiapan DKI Jakarta menghadapi arus mudik dan arus balik pada lebaran tanggal 8 dan 9 Agustus mendatang. "Rapat itu tak perlu lama. Rapat itu ya kayak tadi. Simpel-simpel saja. 15 sampai 30 menit cukup. Yang penting pelaksanaan di lapangan," Jokowi memastikan.
Sumber :
tribunnews.com
Hadir dalam rapat ini Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono, Kepala Dinas UKM dan MP, Ratnaningsih, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Arie Budhiman, beberapa kepala dinas, Kapolda Metro Jaya, serta unsur TNI Angkatan Darat dan Udara.
Sebelum rapat dimulai, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo hanya berpesan singkat untuk menyampaikan masalah utama yang penting saja kepada para peserta rapat. "Sampaikan yang singkat-singkat dan penting saja ya," pinta Jokowi, Senin (15/7/2013).
Rapat yang hanya berlangsung selama kurang lebih lima belas menit ini membahas mengenai penutupan tempat hiburan malam di DKI Jakarta, kenaikan harga bahan makanan, pengawasan peredaran makanan pada saat lebaran.
Kemudian, persiapan DKI Jakarta menghadapi arus mudik dan arus balik pada lebaran tanggal 8 dan 9 Agustus mendatang. "Rapat itu tak perlu lama. Rapat itu ya kayak tadi. Simpel-simpel saja. 15 sampai 30 menit cukup. Yang penting pelaksanaan di lapangan," Jokowi memastikan.
Sumber :
tribunnews.com
Harga Melambung, Jokowi Gelar Pasar Murah
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) merealisasikan pasar murah selama bulan Ramadan. Pasar murah ini diharapkan sebagai salah satu upaya untuk menekan kebutuhan harga bahan pokok yang terus melambung. Sehingga perekonomian masyarakat sedikit terbantu.
"Iya pasar murah dan operasi pasar mulai Minggu ini," kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Senin (15/7/2013).
Jokowi menambahkan, pasar murah dan operasi pasar tidak harus digelar di setiap kecamatan.
"Ya di tempat-tempat yang diperlukan, gak harus di kecamatan seperti itu, di tempat-tempat yang memang diperlukan dilakukan," terang Jokowi.
Secara terpisah, Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perdagangan (KUMKMP) DKI Jakarta, Ratnaningsih berharap dengan adanya pasar murah ini bisa membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sembako.
Menurutnya, dua lokasi pasar rakyat telah diadakan pekan lalu yakni pada 23-24 Juni di Kelurahan Kalisari dan pada 25-26 Juni di Kelurahan Pegangsan. Sementara pada saat puasa akan ada delapan titik lagi yang diadakan pasar murah, yakni pada 10-11 Juli di Kelurahan Kebon Kosong, 10-11 Juli di Pegadungan, 15-16 Juli di Kelurahan Rawabunga, 20-21 Juli di Kelurahan Kalianyar, 23-24 Juli di Jakarta Selatan (lokasi masih tentatif), 25-26 Juli Kecamatan Kebayoran Lama, 24-25 Juli di Kelurahan Warakas, dan 24-25 Juli di Petojo Selatan.
Sumber :
merdeka.com
"Iya pasar murah dan operasi pasar mulai Minggu ini," kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Senin (15/7/2013).
Jokowi menambahkan, pasar murah dan operasi pasar tidak harus digelar di setiap kecamatan.
"Ya di tempat-tempat yang diperlukan, gak harus di kecamatan seperti itu, di tempat-tempat yang memang diperlukan dilakukan," terang Jokowi.
Secara terpisah, Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perdagangan (KUMKMP) DKI Jakarta, Ratnaningsih berharap dengan adanya pasar murah ini bisa membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sembako.
Menurutnya, dua lokasi pasar rakyat telah diadakan pekan lalu yakni pada 23-24 Juni di Kelurahan Kalisari dan pada 25-26 Juni di Kelurahan Pegangsan. Sementara pada saat puasa akan ada delapan titik lagi yang diadakan pasar murah, yakni pada 10-11 Juli di Kelurahan Kebon Kosong, 10-11 Juli di Pegadungan, 15-16 Juli di Kelurahan Rawabunga, 20-21 Juli di Kelurahan Kalianyar, 23-24 Juli di Jakarta Selatan (lokasi masih tentatif), 25-26 Juli Kecamatan Kebayoran Lama, 24-25 Juli di Kelurahan Warakas, dan 24-25 Juli di Petojo Selatan.
Sumber :
merdeka.com
Jokowi Gelar Rapat Persiapan Mudik Lebaran Bersama Kapolda Metro Jaya
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) hari ini menggelar Rapat Forum
Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Rapat tersebut membahas
persiapan DKI Jakarta dalam penyambut mudik lebaran 2013.
Rapat digelar di ruang Balai Agung di Gedung Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (15/7/2013). Dalam rapat itu hadir Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Kapolda Metro Jaya Irjen Putut Eko Bayu Seno dan Pangdam Jaya Mayjen TNI E Hudawi Lubis.
Selain itu hadir seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprov DKI Jakarta. Dalam rapat tersebut, Jokowi mengaku tidak ada masalah yang berat dalam persiapan arus mudik lebaran di Jakarta.
"Kelihatannya tidak ada masalah yang berarti di Jakarta. Saya lihat di lapangan, di bawah, di kampung juga kelihatannya tidak banyak masalah yang berarti. Semoga nanti sampai Lebaran dan ke depannya lagi masih sama," ujar Jokowi.
Jokowi berharap, seluruh jajaran dinas Pemprov DKI dapat dengan cepat berkoordinasi dengan aparat dalam mersepon jika ada permasalahan di Jakarta, terutama yang berkaitan dengan masalah keamanan.
"Saya titip agar seluruh dinas selalu berkoordina dengan aparat dan instansi terkait dengan merespon persoalan dan kejadian, sehingga Jakarta akan terus kondusif," katanya.
Sumber :
detik.com
Rapat digelar di ruang Balai Agung di Gedung Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (15/7/2013). Dalam rapat itu hadir Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Kapolda Metro Jaya Irjen Putut Eko Bayu Seno dan Pangdam Jaya Mayjen TNI E Hudawi Lubis.
Selain itu hadir seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprov DKI Jakarta. Dalam rapat tersebut, Jokowi mengaku tidak ada masalah yang berat dalam persiapan arus mudik lebaran di Jakarta.
"Kelihatannya tidak ada masalah yang berarti di Jakarta. Saya lihat di lapangan, di bawah, di kampung juga kelihatannya tidak banyak masalah yang berarti. Semoga nanti sampai Lebaran dan ke depannya lagi masih sama," ujar Jokowi.
Jokowi berharap, seluruh jajaran dinas Pemprov DKI dapat dengan cepat berkoordinasi dengan aparat dalam mersepon jika ada permasalahan di Jakarta, terutama yang berkaitan dengan masalah keamanan.
"Saya titip agar seluruh dinas selalu berkoordina dengan aparat dan instansi terkait dengan merespon persoalan dan kejadian, sehingga Jakarta akan terus kondusif," katanya.
Sumber :
detik.com
Jokowi Melakukan Tugas Parta, Bukan Pencitraan Untuk Pilpres
Elektabilitas Jokowi melejit seiring aksi nyatanya blusukan di tengah
masyarakat. Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) ingin memastikan Jokowi tak sedang melakukan pencitraan
untuk mencari peluang nyapres di 2014.
"Jokowi sebagai kader partai yang saya pahami tentunya tidak melakukan pencitraan terkait Pilpres 2014," kata Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo, Senin (15/7/2013).
Tjahjo menuturkan, tindakan nyata Jokowi blusukan sebagai tanggung jawab sebagai gubernur DKI Jakarta. Jokowi dinilainya tak sambil menyelam minum air.
"Langkah-langkahnya yang terpublikasi media semata melaksanakan tugas politiknya sebagai gubernur DKI terpilih di dalam menjabarkan janji-janji kampanye Pilkada melakukan reformasi pembangunan secara cepat terpadu terkoordinasi dengan baik di DKI," katanya.
Sementara terkait Pilpres 2014 PDIP masih belum menentukan siapa capres yang akan diusung. Nantinya capres PDIP akan ditentukan oleh Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.
"Terkait soal Pilpres 2014 posisi PDIP saat ini memang belum membahasnya secara detail. Menunggu saja hasil pemilihan umum legeslatif saja dulu, sambil mempersiapkan konsolidasi dan mengerakkan serta mengorganisir masyarakat pemilih untuk pileg 2014," tandasnya.
Semakin banyak lembaga survei yang memprediksi Gubernur DKI Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi akan memenangi Pemilu Presiden 2014 jika dirinya benar-benar maju sebagai salah satu kandidat. Soalnya, saat ini rakyat sedang gandrung dengan sosok yang ndeso.
"Jika Jokowi maju dalam Pilpres 2014, Jokowi akan memenangkan kursi presiden 2014 secara mutlak dan meyakinkan," kata Direktur Eksekutif Institute for Transformation Studies (Intrans) Saiful Haq di Galleri Cafe, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Minggu (14/7/2013).
Sumber :
detik.com
"Jokowi sebagai kader partai yang saya pahami tentunya tidak melakukan pencitraan terkait Pilpres 2014," kata Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo, Senin (15/7/2013).
Tjahjo menuturkan, tindakan nyata Jokowi blusukan sebagai tanggung jawab sebagai gubernur DKI Jakarta. Jokowi dinilainya tak sambil menyelam minum air.
"Langkah-langkahnya yang terpublikasi media semata melaksanakan tugas politiknya sebagai gubernur DKI terpilih di dalam menjabarkan janji-janji kampanye Pilkada melakukan reformasi pembangunan secara cepat terpadu terkoordinasi dengan baik di DKI," katanya.
Sementara terkait Pilpres 2014 PDIP masih belum menentukan siapa capres yang akan diusung. Nantinya capres PDIP akan ditentukan oleh Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.
"Terkait soal Pilpres 2014 posisi PDIP saat ini memang belum membahasnya secara detail. Menunggu saja hasil pemilihan umum legeslatif saja dulu, sambil mempersiapkan konsolidasi dan mengerakkan serta mengorganisir masyarakat pemilih untuk pileg 2014," tandasnya.
Semakin banyak lembaga survei yang memprediksi Gubernur DKI Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi akan memenangi Pemilu Presiden 2014 jika dirinya benar-benar maju sebagai salah satu kandidat. Soalnya, saat ini rakyat sedang gandrung dengan sosok yang ndeso.
"Jika Jokowi maju dalam Pilpres 2014, Jokowi akan memenangkan kursi presiden 2014 secara mutlak dan meyakinkan," kata Direktur Eksekutif Institute for Transformation Studies (Intrans) Saiful Haq di Galleri Cafe, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Minggu (14/7/2013).
Sumber :
detik.com
PKL Tumbuh, Jokowi-Ahok Bertumbuh
Pertumbuhan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan dengan memanfaatkan
fasilitas jalan umum di Ibu Kota Jakarta menjadi tantangan Gubernur DKI
Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Wilayah yang
menjadi perhatian dan fokus penataan oleh dua pimpinan Jakarta itu
adalah kawasan Pasar Minggu, Jatinegara, dan Tanah Abang.
Jokowi menginginkan agar para pedagang kaki lima yang berjualan di jalan tidak digusur tetapi ditata. Salah satu program Pemprov DKI Jakarta bagi PKL misalnya menyediakan lokasi binaan (lokbin) bagi para PKL atau memasukkan mereka di lokasi baru di dalam pasar sehingga bisa berjualan lebih tertib.
Namun yang menjadi masalah, rata-rata pedagang enggan masuk ke dalam pasar lantaran takut kehilangan pelanggan mereka. Pengamat kebijakan publik, Andrinof Chaniago, mengatakan, masalah PKL memang merupakan tantangan yang biasa terjadi di kota besar.
"Yang paling berat memang kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung karena tingkat kedatangan PKL-nya tinggi," kata Andrinof, Senin (15/7/2013).
Di wilayah Jatinegara, Jakarta Timur, bahkan ada rencana menjadikan bangunan sekolah untuk dialihfungsikan menjadi tempat PKL. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga membuat kebijakan PKL yang berjualan haruslah warga yang memiliki KTP DKI Jakarta.
Menurut Andrinof, hal tersebut memang perlu dilakukan untuk mengatasi perkembangan PKL yang muncul dari luar Jakarta. "Menurut saya itu sah, tetapi bukan berarti yang tidak punya KTP DKI itu tidak sah berjualan. Namun, mereka harus mengurus hak domisili dan syarat administrasi yang diperlukan," ujar Andrinof.
Ia mengatakan, Pemprov DKI Jakarta juga perlu melakukan pendataan dengan jumlah PKL yang ada saat ini. Selain itu, PKL yang ada juga harus didorong untuk membentuk organisasi di kalangan mereka. Misalnya saja, lokasi binaan PKL percontohan di Daan Mogot, Jakarta Barat.
"Penataannya lewat cara pengorganisasian. Mereka harus didorong membentuk organisasi atau perkumpulan, tapi dengan aturan yang harus diikuti, yang sesuai dengan kepentingan umum. Misalnya, mereka harus terdata, tidak boleh menambah anggota. Kalau jumlah pasti diketahui, maka mudah untuk mengatur. Yang bikin sulit, munculnya PKL baru. Oleh karenanya, jumlahnya harus dikunci," ungkap Andrinof.
Sumber :
kompas.com
Jokowi menginginkan agar para pedagang kaki lima yang berjualan di jalan tidak digusur tetapi ditata. Salah satu program Pemprov DKI Jakarta bagi PKL misalnya menyediakan lokasi binaan (lokbin) bagi para PKL atau memasukkan mereka di lokasi baru di dalam pasar sehingga bisa berjualan lebih tertib.
Namun yang menjadi masalah, rata-rata pedagang enggan masuk ke dalam pasar lantaran takut kehilangan pelanggan mereka. Pengamat kebijakan publik, Andrinof Chaniago, mengatakan, masalah PKL memang merupakan tantangan yang biasa terjadi di kota besar.
"Yang paling berat memang kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung karena tingkat kedatangan PKL-nya tinggi," kata Andrinof, Senin (15/7/2013).
Di wilayah Jatinegara, Jakarta Timur, bahkan ada rencana menjadikan bangunan sekolah untuk dialihfungsikan menjadi tempat PKL. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga membuat kebijakan PKL yang berjualan haruslah warga yang memiliki KTP DKI Jakarta.
Menurut Andrinof, hal tersebut memang perlu dilakukan untuk mengatasi perkembangan PKL yang muncul dari luar Jakarta. "Menurut saya itu sah, tetapi bukan berarti yang tidak punya KTP DKI itu tidak sah berjualan. Namun, mereka harus mengurus hak domisili dan syarat administrasi yang diperlukan," ujar Andrinof.
Ia mengatakan, Pemprov DKI Jakarta juga perlu melakukan pendataan dengan jumlah PKL yang ada saat ini. Selain itu, PKL yang ada juga harus didorong untuk membentuk organisasi di kalangan mereka. Misalnya saja, lokasi binaan PKL percontohan di Daan Mogot, Jakarta Barat.
"Penataannya lewat cara pengorganisasian. Mereka harus didorong membentuk organisasi atau perkumpulan, tapi dengan aturan yang harus diikuti, yang sesuai dengan kepentingan umum. Misalnya, mereka harus terdata, tidak boleh menambah anggota. Kalau jumlah pasti diketahui, maka mudah untuk mengatur. Yang bikin sulit, munculnya PKL baru. Oleh karenanya, jumlahnya harus dikunci," ungkap Andrinof.
Sumber :
kompas.com
Lain Tjahjo Lain Effendi Simbolon
Meski Joko Widodo (Jokowi) menjadi maharaja berbagai lembaga survei capres, Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) rupanya
belum tergerak untuk mencapreskan Jokowi pada Pemilu 2014 yang akan datang.
Jokowi bahkan dipandang belum matang.
"Nggak ada, biar matang dulu di DPD," kata Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan pencapresan Jokowi. Effendi menyampaikan hal itu saat hendak naik mobil meninggalkan Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Senin (15/7/2013). Jokowi merupakan wakil ketua DPD PDIP Jawa Tengah.
Padahal, di berbagai lembaga survei, Jokowi merupakan capres paling potensial mengungguli tokoh-tokoh lainnya. Menurut survei terbaru Intrans, Jokowi dipastikan akan memenangkan Pemilu Presiden 2014 secara mutlak dan meyakinkan jika dirinya benar-benar maju sebagai capres 2014.
Jokowi sendiri hingga saat ini belum pernah menyatakan niatnya untuk maju nyapres. Dia kerap menanggapi pertanyaan soal kemungkinan dirinya nyapres dengan kata-kata "Nggak Mikir ... Nggak Mikir ...Nggak Mikir ...Nggak Mikir ...Nggak Mikir ...Nggak Mikir ...","Ngurus banjir saja pusing", "Tanya Ibu Mega ....", meskipun sesekali menjawab "Saya ini Kader" yang bisa diartikan Jokowi menunggu lampau Hijau dari Ketua Umum PDIP. Di lain pihak, sinyal yang diberikan PDIP samar-samar mengemaskan, seperti menunjukkan keakraban sang Ketua Umum dan Jokowi sampai Regenerasi yang tua dengan yang muda.
Di lingkungan PDIP sendiri belum ada pembahasan soal pencapresan. Sedangkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri belum pernah memberi pernyataan eksplisit tentang pencvapresan Jokowi.
"Nggak ada, biar matang dulu di DPD," kata Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan pencapresan Jokowi. Effendi menyampaikan hal itu saat hendak naik mobil meninggalkan Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Senin (15/7/2013). Jokowi merupakan wakil ketua DPD PDIP Jawa Tengah.
Padahal, di berbagai lembaga survei, Jokowi merupakan capres paling potensial mengungguli tokoh-tokoh lainnya. Menurut survei terbaru Intrans, Jokowi dipastikan akan memenangkan Pemilu Presiden 2014 secara mutlak dan meyakinkan jika dirinya benar-benar maju sebagai capres 2014.
Jokowi sendiri hingga saat ini belum pernah menyatakan niatnya untuk maju nyapres. Dia kerap menanggapi pertanyaan soal kemungkinan dirinya nyapres dengan kata-kata "Nggak Mikir ... Nggak Mikir ...Nggak Mikir ...Nggak Mikir ...Nggak Mikir ...Nggak Mikir ...","Ngurus banjir saja pusing", "Tanya Ibu Mega ....", meskipun sesekali menjawab "Saya ini Kader" yang bisa diartikan Jokowi menunggu lampau Hijau dari Ketua Umum PDIP. Di lain pihak, sinyal yang diberikan PDIP samar-samar mengemaskan, seperti menunjukkan keakraban sang Ketua Umum dan Jokowi sampai Regenerasi yang tua dengan yang muda.
Di lingkungan PDIP sendiri belum ada pembahasan soal pencapresan. Sedangkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri belum pernah memberi pernyataan eksplisit tentang pencvapresan Jokowi.
Tjahjo Kumolo: Hasil Survei Jokowi Pasti Menjadi Pertimbangan PDIP
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tetap tenang dan tidak akan
tergoda dengan tingginya nama salah satu kadernya Joko
Widodo (Jokowi) dalam survei calon presiden (capres) 2014.
Reputasi terakhir Jokowi yang diukir adalah sebagai maharaja pada survei Institute for Transformation Studies (Intrans).
Mengomentari hal tersebut, Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo mengatakan bahwa survei adalah salah satu pertimbangan PDIP dalam pilpres mendatang.
"Hasil survei sebagai salah satu materi pertimbangan, bukan satu-satunya tolok ukur untuk sebuah keputusan politik partai, apalagi terkait calon presiden," kata Tjahjo, Senin (15/7/2013).
Menurut Tjahjo, tingginya popularitas Jokowi tidak lepas dari peran media yang selalu mengekspose kinerja Jokowi selama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Terlebih, sebagian janji Jokowi selama masa kampanye telah terealisasikan.
"Jokowi sebagai kader partai yang saya pahami tentunya tidak melakukan pencitraan terkait Pilpres. Langkah-langkahnya yang terpublikasi media semata melaksanakan tugas politiknya sebagai Gubernur DKI Jakarta," kata Tjahjo.
PDIP, sambung Tjahjo, baru akan menentukan figur yang akan diusung sebagai capres setelah pemilihan anggota legislatif (pileg) tahun depan. "Menunggu saja hasil pileg sambil mempersiapkan konsolidasi," tutup Tjahjo.
Menurut survei Jokowi memangkas habis harapan calon lain seperti Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Wiranto, Mahfud MD, Surya Paloh, Dahlan Iskan, dan Gita Wirjawan.
Reputasi terakhir Jokowi yang diukir adalah sebagai maharaja pada survei Institute for Transformation Studies (Intrans).
Mengomentari hal tersebut, Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo mengatakan bahwa survei adalah salah satu pertimbangan PDIP dalam pilpres mendatang.
"Hasil survei sebagai salah satu materi pertimbangan, bukan satu-satunya tolok ukur untuk sebuah keputusan politik partai, apalagi terkait calon presiden," kata Tjahjo, Senin (15/7/2013).
Menurut Tjahjo, tingginya popularitas Jokowi tidak lepas dari peran media yang selalu mengekspose kinerja Jokowi selama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Terlebih, sebagian janji Jokowi selama masa kampanye telah terealisasikan.
"Jokowi sebagai kader partai yang saya pahami tentunya tidak melakukan pencitraan terkait Pilpres. Langkah-langkahnya yang terpublikasi media semata melaksanakan tugas politiknya sebagai Gubernur DKI Jakarta," kata Tjahjo.
PDIP, sambung Tjahjo, baru akan menentukan figur yang akan diusung sebagai capres setelah pemilihan anggota legislatif (pileg) tahun depan. "Menunggu saja hasil pileg sambil mempersiapkan konsolidasi," tutup Tjahjo.
Menurut survei Jokowi memangkas habis harapan calon lain seperti Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Wiranto, Mahfud MD, Surya Paloh, Dahlan Iskan, dan Gita Wirjawan.
Beda dengan Jokowi, Blusukan Ahok Terprogram Rapi
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadikan momen Ramadhan untuk melakukan blusukan. Blusukan versi Ahok ini berbeda dengan blusukan sang Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang tidak terencana dan tidak diketahui di mana dilakukannya, blusukan Ahok terencana dan sudah terjadwal dengan rapi.
Selama Ramadhan, Ahok akan ikut berbuka puasa dan melebur bersama warga.
Pada awal puasa yang lalu, saat Ahok mengunjungi Kelurahan Cideng, Jakarta Pusat, ia mengharapkan Ramadhan Fair dapat dijadikan sebagai ajang pengenalan warga dengan pemimpinnya, baik Lurah, Camat, maupun Wali Kota.
"Selain agar bisa bertemu saya langsung, semoga Ramadhan Fair ini, bapak dan ibu bisa mengenal dan memperhatikan lurah dan camat yang baru kami lantik," kata Ahok di Kelurahan Cideng, Rabu (10/7/2013) lalu.
Maka melalui kedekatan warga dengan pemimpin di wilayahnya, tidak akan ada lagi kasus anak-anak yang tidak bisa menuntut ilmu, warga yang sakit di rumah karena tidak bisa berobat, dan sebagainya. Oleh karena itu, ia mengharapkan agar Lurah dan Camat setempat untuk turun langsung ke lapangan dan melihat segala permasalahan yang ada di lingkungan mereka.
Kemudian, Lurah dan Camat itu berkoordinasi dengan RT/RW setempat untuk mendata warga, terutama warga-warga yang membutuhkan. Menurut Basuki, Ketua RT dan RW merupakan pimpinan yang paling mengetahui keadaan warganya.
Setelah mengunjungi Kelurahan Cideng, di hari kedua Ramadhan, ia mengunjungi kantor Wali Kota Jakarta Barat. Kemudian, akan mengunjungi kantor pemerintahan mana lagi kah orang nomor dua di Ibu Kota, mulai hari ini dan seterusnya?
Berikut jadwal blusukan Ahok yang dimuat pada situs www.ahok.org :
Rabu (10/7/2013), di Kelurahan Cideng, Jalan Petojo Selatan XI/19 Jakarta Pusat
Kamis (11/7/2013), di Kantor Wali Kota Jakarta Barat Jalan Raya Kembangan Nomor 2 Jakarta Barat
Senin (15/7/2013), di Kecamatan Kebon Jeruk, Jalan Perum Kebon Jeruk Jakarta Barat
Selasa (16/7/2013), di Kecamatan Kramat Jati, Jalan Raya Bogor km 20 Jakarta Timur
Rabu (17/7/2013), di Kantor Dinas Pariwisata, Jalan Kuningan Barat Nomor 2 Jakarta Selatan
Kamis (18/7/2013), di Kecamatan Johar Baru, Jalan Johar Baru I Nomor 1 Jakarta Pusat
Jumat (19/7/2013), di Kantor Dinas Kebersihan, Jalan Mandala V Nomor 78 Cililitan Besar, Jakarta Timur
Senin (22/7/2013), di Kelurahan Cilandak Timur, Jalan Bakti Nomor 48 Pasar Minggu Jakarta Selatan
Selasa (23/7/2013), di Kecamatan Setia Budi, Jalan Setiabudi Barat No. 8 Jakarta Selatan
Rabu (24/7/2013), di Kelurahan Tanah Sereal, Jalan Tanah Sereal Jakarta Utara
Kamis (25/7/2013), di Kantor Bupati Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka
Senin (29/7/2013), di Kantor Lurah Sunter Jaya, Jalan Bentengan VI/1 Jakarta Utara
Selasa (30/7/2013), di Kelurahan Kalisari, Jalan Kalisari Raya Jakarta Timur
Rabu (31/7/2013), di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Jalan Dr. Sumarno Pulo Gebang Jakarta Timur.
Selama Ramadhan, Ahok akan ikut berbuka puasa dan melebur bersama warga.
Pada awal puasa yang lalu, saat Ahok mengunjungi Kelurahan Cideng, Jakarta Pusat, ia mengharapkan Ramadhan Fair dapat dijadikan sebagai ajang pengenalan warga dengan pemimpinnya, baik Lurah, Camat, maupun Wali Kota.
"Selain agar bisa bertemu saya langsung, semoga Ramadhan Fair ini, bapak dan ibu bisa mengenal dan memperhatikan lurah dan camat yang baru kami lantik," kata Ahok di Kelurahan Cideng, Rabu (10/7/2013) lalu.
Maka melalui kedekatan warga dengan pemimpin di wilayahnya, tidak akan ada lagi kasus anak-anak yang tidak bisa menuntut ilmu, warga yang sakit di rumah karena tidak bisa berobat, dan sebagainya. Oleh karena itu, ia mengharapkan agar Lurah dan Camat setempat untuk turun langsung ke lapangan dan melihat segala permasalahan yang ada di lingkungan mereka.
Kemudian, Lurah dan Camat itu berkoordinasi dengan RT/RW setempat untuk mendata warga, terutama warga-warga yang membutuhkan. Menurut Basuki, Ketua RT dan RW merupakan pimpinan yang paling mengetahui keadaan warganya.
Setelah mengunjungi Kelurahan Cideng, di hari kedua Ramadhan, ia mengunjungi kantor Wali Kota Jakarta Barat. Kemudian, akan mengunjungi kantor pemerintahan mana lagi kah orang nomor dua di Ibu Kota, mulai hari ini dan seterusnya?
Berikut jadwal blusukan Ahok yang dimuat pada situs www.ahok.org :
Rabu (10/7/2013), di Kelurahan Cideng, Jalan Petojo Selatan XI/19 Jakarta Pusat
Kamis (11/7/2013), di Kantor Wali Kota Jakarta Barat Jalan Raya Kembangan Nomor 2 Jakarta Barat
Senin (15/7/2013), di Kecamatan Kebon Jeruk, Jalan Perum Kebon Jeruk Jakarta Barat
Selasa (16/7/2013), di Kecamatan Kramat Jati, Jalan Raya Bogor km 20 Jakarta Timur
Rabu (17/7/2013), di Kantor Dinas Pariwisata, Jalan Kuningan Barat Nomor 2 Jakarta Selatan
Kamis (18/7/2013), di Kecamatan Johar Baru, Jalan Johar Baru I Nomor 1 Jakarta Pusat
Jumat (19/7/2013), di Kantor Dinas Kebersihan, Jalan Mandala V Nomor 78 Cililitan Besar, Jakarta Timur
Senin (22/7/2013), di Kelurahan Cilandak Timur, Jalan Bakti Nomor 48 Pasar Minggu Jakarta Selatan
Selasa (23/7/2013), di Kecamatan Setia Budi, Jalan Setiabudi Barat No. 8 Jakarta Selatan
Rabu (24/7/2013), di Kelurahan Tanah Sereal, Jalan Tanah Sereal Jakarta Utara
Kamis (25/7/2013), di Kantor Bupati Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka
Senin (29/7/2013), di Kantor Lurah Sunter Jaya, Jalan Bentengan VI/1 Jakarta Utara
Selasa (30/7/2013), di Kelurahan Kalisari, Jalan Kalisari Raya Jakarta Timur
Rabu (31/7/2013), di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Jalan Dr. Sumarno Pulo Gebang Jakarta Timur.
Hari ini Jokowi Peletakan Batu Pertama Rusun untuk Warga Waduk Pluit
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) akan melakukan peletakan batu pertama di rumah
susun sewa sederhana Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin
(15/7/2013) siang. Rusunawa itu diperuntukkan bagi warga di Waduk Pluit.
Hal tersebut dikonfirmasi Kepala Dinas Perumah an dan Bangunan Pemerintah DKI Jakarta, Jonathan Pasodung. "Nanti sekitar jam 13.00 WIB ," kata Jonathan, Senin (15/7/2013) pagi.
Jonathan menjelaskan, sedianya sudah ada 4 blok rusunawa yang telah dibangun sebelumnya. Peletakan batu pertama ini menandai rencana pembangunan 8 blok rusunawa lagi sehingga total ada sebanyak 12 blok rusunawa di sana.
"Rusun itu untuk pembenahan warga di Waduk Pluit. Di sisi timur waduk itu masih banyak warga. Kita proritaskan warga di atas air," tuturnya.
Menurut informasi yang beredar sumber dana pembangunan rusunawa tersebut dari CSR (Corporate Social Responsibility), yakni perusahaan properti raksasa Agung Podomoro dan Agung Sedayu. Ia berharap peletakan batu pertama hari ini berjalan dengan lancar.
Hal tersebut dikonfirmasi Kepala Dinas Perumah an dan Bangunan Pemerintah DKI Jakarta, Jonathan Pasodung. "Nanti sekitar jam 13.00 WIB ," kata Jonathan, Senin (15/7/2013) pagi.
Jonathan menjelaskan, sedianya sudah ada 4 blok rusunawa yang telah dibangun sebelumnya. Peletakan batu pertama ini menandai rencana pembangunan 8 blok rusunawa lagi sehingga total ada sebanyak 12 blok rusunawa di sana.
"Rusun itu untuk pembenahan warga di Waduk Pluit. Di sisi timur waduk itu masih banyak warga. Kita proritaskan warga di atas air," tuturnya.
Menurut informasi yang beredar sumber dana pembangunan rusunawa tersebut dari CSR (Corporate Social Responsibility), yakni perusahaan properti raksasa Agung Podomoro dan Agung Sedayu. Ia berharap peletakan batu pertama hari ini berjalan dengan lancar.
Virus Politik Jokowi
Malam itu, hujan turun rintik-rintik. Di bawah payung hitam, sesosok
pria berkopiah dan berbaju koko, menyapa orang-orang yang menyemut di
jalanan sempit. Dia tak sendiri. Tangannya menggamit seorang wanita,
berdua mereka menyapa kerumunan orang, berjalan di antara kecipak air
hujan, beriring di gang yang lebarnya tak lebih dari satu meter.
Ini bukan elegi lagu lama yang sentimentil itu. Ini kisah nyata. Pria itu adalah Jokowi dan wanita yang bersamanya, tentu saja, adalah Iriana, istrinya. Mereka baru saja menjalankan salat Tarawih di Masjid Tawakkal, Jl. Anyer 15 RT 001 RW 009, Menteng, Jakarta Pusat, sebuah masjid yang berada di tengah permukiman padat. Bukan sekali ini mantan Walikota Solo ini menyambangi warga di permukiman padat, menyalami, lalu tangan dan tubuhnya ditarik-tarik, dijawil-jawil, diperebutkan, diajak berfoto. Selalu begitu. Kurang-lebih, seperti itu pula gaya Jokowi di Solo, dulu.
Kalau malam itu tak ada wartawan, bisa jadi peristiwa kecil itu tak akan tersebar menjadi kabar besar. Tetapi jangan salahkan juga wartawan yang suka mencuri-curi dengar kegiatan Jokowi. Beberapa pengelola media online mengaku, orang ini, yang suka mengaku hanya bisa jualan kayu, adalah aset informasi. Setiap berita tentangnya laris dibaca orang, di-click orang. Survei di berbagai daerah juga menunjukkan, berita tentang Jokowi banyak ditunggu orang.
Siapa pun boleh meniru gaya, atau mungkin bisa dibilang sebagai rumus politik Jokowi: Blusukan, akrab dengan warga dan menggeber kerja-kerja bertipe iconic. Tak usah bicara hasil dulu. Hasil kerja itu soal polesan. Hasil itu perkara retorika. Namun mungkin tak semua pejabat peniru itu sepintar Jokowi. Dia memang tak pandai berpidato, tetapi pandai berbicara. Bila menggelar acara-acara formal, mungkin dia hanya berbicara kurang dari lima menit. Namun dari yang sebentar itu, para pekerja media bisa mempunyai banyak angle untuk bahan tulisan. Sebaliknya, banyak pemimpin yang suka berbicara berbusa-bisa, tetapi wartawan kebingungan mencari sesuatu yang ”nendang: untuk ditulis.
Mungkin banyak tokoh politik, terutama para pengintai kekuasaan di lingkaran puncak istana, gerah dan sebal setengah mati dengan Jokowi. Dia bukan pengurus puncak partai, bukan pula pengusaha yang mempunyai dukungan media televisi, tetapi dia belum kehilangan pesona media darling-nya.
Bahkan mungkin, tak semua elite PDI Perjuangan happy dengan kemonceran pengusaha kayu ini. Alasannya bisa macam-macam. Mungkin karena mereka merasa tak sampai hati dengan figur ibunda mereka, Megawati, yang seolah terlupakan. Atau, kadang-kadang sesama sejawat sehaluan pun, bisa tak senang melihat kawan mereka begitu melesat kebintangannya.
Nyapres
Bagaimanapun, babak baru dongeng Jokowi muncul ke permukaan, Minggu (7/7) lalu. Saat itu, Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) 2014 Provinsi Jawa Tengah resmi dideklarasikan di Kendal. Barisan ini, mengklaim bahwa tak lama lagi akan berdiri gerakan serupa di berbagai daerah, berbagai kota dan provinsi di Indonesia.
Para pemain politik mungkin sudah menginvestigasi siapa aktor aksi ini, siapa yang membiayai dan apa out put yang diharapkan. Tetapi bukan itu persoalan yang dibahas di sini. Sejatinya, jika toh Bara JP berdiri di setiap kota di seluruh Indonesia, tetap saja tidak akan bisa mengusung Jokowi menjadi presiden pada Pemilu Presiden tahun depan. Kenapa? Bukankah hanya partai politik yang berhak mengusung calon presiden. Itu pun dengan sejumlah syarat yang sangat sulit. Apa lagi di era persaingan politik yang sangat ketat dewasa ini.
Berdasarkan Undang Undang No 42 tahun 2008, partai politik atau gabungan partai politik boleh mengusung calon presiden jika mampu meraih 20 persen kursi atau meraih 25 persen suara secara nasional. Itulah kenapa ketika Partai Hanura “pagi-pagi” sudah mendeklarasikan nama Wiranto-Harry Tanoe sebagai capres dan cawapres, kalangan analis menyebutnya sebagai bunuh diri politik. Hal ini mengingat daya angkat Hanura untuk mengusung capres tanpa koalisi dinilai sangat sulit.
Maka apa yang terjadi dengan gerakan mendukung Jokowi nyapres ini, bisa dianggap sebagai parlemen jalanan. Mereka sudah tahu gerakan mereka tidak didasarkan pada jalur demokrasi yang wajar. Sudah pasti mereka melakukan secara sadar, bahwa gerakan itu diharapkan menguat sehingga bisa menggoda mainstream politik untuk mewadahi gerakan mereka—misalnya oleh PDI Perjuangan. Walaupun hal itu masih teka-teki, mengingat PDIP sebagai partai yang menaungi Jokowi, masih berkiblat pada pola paternalistik di sekeliling Megawati.
Siapa tahu, bukankah PDIP belakangan ini mempunyai pilihan politik yang agak berbau adventure dan berani dalam menentukan figur calon pemimpin daerah. Dan jika toh PDIP membolehkan Jokowi nyapres, belum tentu DPRD DKI Jakarta mengizinkan dia mundur dari kursi gubernur DKI yang baru saja didudukinya.
Nama Jokowi memang terus meroket. Hampir semua survei mengunggulkan namanya. Nama Jokowi juga panen puja puji di berbagai media sosial dan laman berita. Bahkan jika Jokowi dikritik atau dicaci, segera saja para penggemarnya berebut membela dan meng-counter. Salah-salah, si pengkritik bisa di-bully.
Ini juga keanehan dunia politik kita. Jokowi belum bisa dianggap berhasil menata Ibukota. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun sikap dan pembawaan dia, membuat banyak orang jatuh hati. Inilah yang terjadi. Zaman memang sudah berganti. Kini, rakyat merindukan pemimpin yang merakyat yang bisa disentuh, yang mau menyapa mereka. Selama ini mereka selalu dihadapkan kepada pemimpin yang lebih banyak berada di gedung-gedung mewah, yang dilindungi tata aturan birokrasi super ketat. Kini, di hadapan rakyat muncul sosok Jokowi yang sederhana, seolah apa adanya.
Di balik semua itu, sebenarnya, pekerjaan utama seorang elite politik yang duduk di kursi kekuasaan adalah menunjukkan karya nyata di hadapan rakyatnya. Dengan begitu, kecintaan rakyat tak lagi perlu diminta. Jika karya nyata hanya menjadi pemanis di bibir, terlalu banyak pencitraan akan menjadi antitesa politik yang menyakitkan. Antitesa atas fenomena Jokowi adalah Jokowi sendiri. Jika dia terlalu banyak diekspose tanpa ada hasil kerja yang pantas, putaran waktu kelak yang akan melindasnya. Perlu diingat pula, bagi rakyat miskin, pada akhirnya keramahan bisa tak berguna sama sekali.
Mudah-mudahan fenomena Jokowi bisa menjadi virus politik, bukan virus yang menyakitkan namun menyehatkan bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Siapa saja boleh meniru cara Jokowi, bahkan memperbaiki beberapa hal yang dirasa perlu. Dan kelak, semoga yang terbaik, yang paling peduli, yang paling tulus, yang paling berani melakukan terobosan yang akan memimpin negeri ini.
Sumber :
solopos.com
Ini bukan elegi lagu lama yang sentimentil itu. Ini kisah nyata. Pria itu adalah Jokowi dan wanita yang bersamanya, tentu saja, adalah Iriana, istrinya. Mereka baru saja menjalankan salat Tarawih di Masjid Tawakkal, Jl. Anyer 15 RT 001 RW 009, Menteng, Jakarta Pusat, sebuah masjid yang berada di tengah permukiman padat. Bukan sekali ini mantan Walikota Solo ini menyambangi warga di permukiman padat, menyalami, lalu tangan dan tubuhnya ditarik-tarik, dijawil-jawil, diperebutkan, diajak berfoto. Selalu begitu. Kurang-lebih, seperti itu pula gaya Jokowi di Solo, dulu.
Kalau malam itu tak ada wartawan, bisa jadi peristiwa kecil itu tak akan tersebar menjadi kabar besar. Tetapi jangan salahkan juga wartawan yang suka mencuri-curi dengar kegiatan Jokowi. Beberapa pengelola media online mengaku, orang ini, yang suka mengaku hanya bisa jualan kayu, adalah aset informasi. Setiap berita tentangnya laris dibaca orang, di-click orang. Survei di berbagai daerah juga menunjukkan, berita tentang Jokowi banyak ditunggu orang.
Siapa pun boleh meniru gaya, atau mungkin bisa dibilang sebagai rumus politik Jokowi: Blusukan, akrab dengan warga dan menggeber kerja-kerja bertipe iconic. Tak usah bicara hasil dulu. Hasil kerja itu soal polesan. Hasil itu perkara retorika. Namun mungkin tak semua pejabat peniru itu sepintar Jokowi. Dia memang tak pandai berpidato, tetapi pandai berbicara. Bila menggelar acara-acara formal, mungkin dia hanya berbicara kurang dari lima menit. Namun dari yang sebentar itu, para pekerja media bisa mempunyai banyak angle untuk bahan tulisan. Sebaliknya, banyak pemimpin yang suka berbicara berbusa-bisa, tetapi wartawan kebingungan mencari sesuatu yang ”nendang: untuk ditulis.
Mungkin banyak tokoh politik, terutama para pengintai kekuasaan di lingkaran puncak istana, gerah dan sebal setengah mati dengan Jokowi. Dia bukan pengurus puncak partai, bukan pula pengusaha yang mempunyai dukungan media televisi, tetapi dia belum kehilangan pesona media darling-nya.
Bahkan mungkin, tak semua elite PDI Perjuangan happy dengan kemonceran pengusaha kayu ini. Alasannya bisa macam-macam. Mungkin karena mereka merasa tak sampai hati dengan figur ibunda mereka, Megawati, yang seolah terlupakan. Atau, kadang-kadang sesama sejawat sehaluan pun, bisa tak senang melihat kawan mereka begitu melesat kebintangannya.
Nyapres
Bagaimanapun, babak baru dongeng Jokowi muncul ke permukaan, Minggu (7/7) lalu. Saat itu, Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) 2014 Provinsi Jawa Tengah resmi dideklarasikan di Kendal. Barisan ini, mengklaim bahwa tak lama lagi akan berdiri gerakan serupa di berbagai daerah, berbagai kota dan provinsi di Indonesia.
Para pemain politik mungkin sudah menginvestigasi siapa aktor aksi ini, siapa yang membiayai dan apa out put yang diharapkan. Tetapi bukan itu persoalan yang dibahas di sini. Sejatinya, jika toh Bara JP berdiri di setiap kota di seluruh Indonesia, tetap saja tidak akan bisa mengusung Jokowi menjadi presiden pada Pemilu Presiden tahun depan. Kenapa? Bukankah hanya partai politik yang berhak mengusung calon presiden. Itu pun dengan sejumlah syarat yang sangat sulit. Apa lagi di era persaingan politik yang sangat ketat dewasa ini.
Berdasarkan Undang Undang No 42 tahun 2008, partai politik atau gabungan partai politik boleh mengusung calon presiden jika mampu meraih 20 persen kursi atau meraih 25 persen suara secara nasional. Itulah kenapa ketika Partai Hanura “pagi-pagi” sudah mendeklarasikan nama Wiranto-Harry Tanoe sebagai capres dan cawapres, kalangan analis menyebutnya sebagai bunuh diri politik. Hal ini mengingat daya angkat Hanura untuk mengusung capres tanpa koalisi dinilai sangat sulit.
Maka apa yang terjadi dengan gerakan mendukung Jokowi nyapres ini, bisa dianggap sebagai parlemen jalanan. Mereka sudah tahu gerakan mereka tidak didasarkan pada jalur demokrasi yang wajar. Sudah pasti mereka melakukan secara sadar, bahwa gerakan itu diharapkan menguat sehingga bisa menggoda mainstream politik untuk mewadahi gerakan mereka—misalnya oleh PDI Perjuangan. Walaupun hal itu masih teka-teki, mengingat PDIP sebagai partai yang menaungi Jokowi, masih berkiblat pada pola paternalistik di sekeliling Megawati.
Siapa tahu, bukankah PDIP belakangan ini mempunyai pilihan politik yang agak berbau adventure dan berani dalam menentukan figur calon pemimpin daerah. Dan jika toh PDIP membolehkan Jokowi nyapres, belum tentu DPRD DKI Jakarta mengizinkan dia mundur dari kursi gubernur DKI yang baru saja didudukinya.
Nama Jokowi memang terus meroket. Hampir semua survei mengunggulkan namanya. Nama Jokowi juga panen puja puji di berbagai media sosial dan laman berita. Bahkan jika Jokowi dikritik atau dicaci, segera saja para penggemarnya berebut membela dan meng-counter. Salah-salah, si pengkritik bisa di-bully.
Ini juga keanehan dunia politik kita. Jokowi belum bisa dianggap berhasil menata Ibukota. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun sikap dan pembawaan dia, membuat banyak orang jatuh hati. Inilah yang terjadi. Zaman memang sudah berganti. Kini, rakyat merindukan pemimpin yang merakyat yang bisa disentuh, yang mau menyapa mereka. Selama ini mereka selalu dihadapkan kepada pemimpin yang lebih banyak berada di gedung-gedung mewah, yang dilindungi tata aturan birokrasi super ketat. Kini, di hadapan rakyat muncul sosok Jokowi yang sederhana, seolah apa adanya.
Di balik semua itu, sebenarnya, pekerjaan utama seorang elite politik yang duduk di kursi kekuasaan adalah menunjukkan karya nyata di hadapan rakyatnya. Dengan begitu, kecintaan rakyat tak lagi perlu diminta. Jika karya nyata hanya menjadi pemanis di bibir, terlalu banyak pencitraan akan menjadi antitesa politik yang menyakitkan. Antitesa atas fenomena Jokowi adalah Jokowi sendiri. Jika dia terlalu banyak diekspose tanpa ada hasil kerja yang pantas, putaran waktu kelak yang akan melindasnya. Perlu diingat pula, bagi rakyat miskin, pada akhirnya keramahan bisa tak berguna sama sekali.
Mudah-mudahan fenomena Jokowi bisa menjadi virus politik, bukan virus yang menyakitkan namun menyehatkan bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Siapa saja boleh meniru cara Jokowi, bahkan memperbaiki beberapa hal yang dirasa perlu. Dan kelak, semoga yang terbaik, yang paling peduli, yang paling tulus, yang paling berani melakukan terobosan yang akan memimpin negeri ini.
Sumber :
solopos.com
Untuk Menang Pilpres, Wajib Hukumnya Gandeng Jokowi
Siapapun calon presiden akan maju pada pemilihan 2014 wajib hukumnya untuk menggandeng pendatang baru, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Tanpa backup Jokowi bisa dipastikan sang capres bakal terpelanting.
Elektabilitas Jokowi selalu di posisi teratas dalam pelbagai hasil jajak pendapat. Jika Aburizal Bakrie ingin mulus menghuni Istana Negara, dia mesti menggandeng Jokowi sebagai wakil presiden.
Bahkan diprediksi, duet Ical-Jokowi bisa meraup sokongan 36 persen. Jika ARB dan Joko Widodo bersanding, dua pasangan baru itu mengalahkan alumni pilpres 2009, kata Adjie Alfaraby, peneliti dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) beberapa waktu yang lalu.
Dari hasil risetnya selama dua tahun belakangan, Ical menang tipis bersaing dengan calon presiden dari PDIP Megawati Soekarnoputeri dan Prabowo Subianto dari Partai Gerinda akan memiliki kemenangan yang tipis. Dia menambahkan masyarakat cenderung bosan dengan Megawati dan Prabowo karena sudah pernah menjadi kandidat.
"Kalau ingin menang, Ical harus punya pendamping memiliki basis suara di Pulau Jawa," ujar Alfaraby. Seperti Jusuf Kalla, menurut dia, Ical memiliki dukungan kuat di Pulau Sumatera.
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Tantowi Yahya mengatakan Rapat Pimpinan Nasional ketiga Golkar beberapa waktu yang lalu telah memberi kewenangan kepada Ical buat menunjuk calon wakilnya. Namun kader juga berhak memberi pandangan soal siapa yang pantas.
Dari beberapa nama telah masuk, Jokowi dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menjadi sasaran.
"Yang jelas cawapres harus bisa mengangkat elektabilitas Ical, artinya cawapres bukan saja sebagai istri tapi juga sebagai penambah suar," ujar Tantowi..
Jika yang dibidik menolak lamaran, Tantowi mengklaim Ical tetap siap bertarung.
Sumber :
merdeka.com
Elektabilitas Jokowi selalu di posisi teratas dalam pelbagai hasil jajak pendapat. Jika Aburizal Bakrie ingin mulus menghuni Istana Negara, dia mesti menggandeng Jokowi sebagai wakil presiden.
Bahkan diprediksi, duet Ical-Jokowi bisa meraup sokongan 36 persen. Jika ARB dan Joko Widodo bersanding, dua pasangan baru itu mengalahkan alumni pilpres 2009, kata Adjie Alfaraby, peneliti dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) beberapa waktu yang lalu.
Dari hasil risetnya selama dua tahun belakangan, Ical menang tipis bersaing dengan calon presiden dari PDIP Megawati Soekarnoputeri dan Prabowo Subianto dari Partai Gerinda akan memiliki kemenangan yang tipis. Dia menambahkan masyarakat cenderung bosan dengan Megawati dan Prabowo karena sudah pernah menjadi kandidat.
"Kalau ingin menang, Ical harus punya pendamping memiliki basis suara di Pulau Jawa," ujar Alfaraby. Seperti Jusuf Kalla, menurut dia, Ical memiliki dukungan kuat di Pulau Sumatera.
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Tantowi Yahya mengatakan Rapat Pimpinan Nasional ketiga Golkar beberapa waktu yang lalu telah memberi kewenangan kepada Ical buat menunjuk calon wakilnya. Namun kader juga berhak memberi pandangan soal siapa yang pantas.
Dari beberapa nama telah masuk, Jokowi dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menjadi sasaran.
"Yang jelas cawapres harus bisa mengangkat elektabilitas Ical, artinya cawapres bukan saja sebagai istri tapi juga sebagai penambah suar," ujar Tantowi..
Jika yang dibidik menolak lamaran, Tantowi mengklaim Ical tetap siap bertarung.
Sumber :
merdeka.com
Tak Ada Alasan Bagi PDIP Untuk Tak Mencapreskan Jokowi 2014
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) diyakini dapat memenangi kursi presiden 2014 secara mutlak dan meyakinkan. Penilaian ini berdasarkan hasil penelitian kualitatif yang dilakukan Institute for Transformation Studies (Intrans).
“Seluruh prasyarat dan atribut ideal dimenangkan Jokowi sehingga diyakini jika Jokowi maju dalam Pilpres 2014, Jokowi akan memenangkan kursi presiden 2014 secara mutlak dan meyakinkan,” kata Direktur Eksekutif Intrans, Saiful Haq, saat memaparkan hasil penelitian lembaganya di Jakarta, Minggu (14/7/2013).
Penelitian Intrans yang dilakukan pada Mei-Juli 2013 ini mengukur persepsi dan sikap pemilih terhadap asosiasi atribut kandidat capres dan cawapres 2014. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif yang melibatkan 150 responden yang dibagi dalam 10 kelompok focus group discussion (FGD). Dalam setiap diskusi dilakukan pendalaman subtansi pertanyaan riset dengan menggunakan metode diskusi mendalam dengan dipandu oleh seorang fasilitator.
Srimulat
Menurut hasil penelitian, minat dan sikap responden yang memenangkan Jokowi sebenarnya banyak dipengaruhi atribut “merakyat’, bukan dilihat dari rekam jejak, karier, atau keputusan politik yang pernah diambil Jokowi selama ini. Saiful mengatakan, sebagian besar responden melihat Jokowi sebagai sosok yang sama dengan rakyat kebanyakan sehingga masyarakat merasa memilih kaumnya sendiri saat menetapkan pilihan kepada Jokowi.
“Sehingga identifikasi masyarakat dengan Jokowi sama dengan melihat opera lawak Srimulat, tidak ada jarak antara rakyat kebanyakan dengan Jokowi sehingga bahasa yang muncul bahasa ndeso sehingga rakyat merasa memilih kaumnya sendiri,” sambung Saiful.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan, secara konsisten responden mengidentifikasikan nama Jokowi hanya sebagai presiden, tanpa pernah memasukkannya ke dalam kategori wakil presiden.
Selain Jokowi, ada dua nama lain yang hanya diidentifikasikan sebagai calon presiden, yakni Megawati Soekarnoputri, dan petinggi Partai Nasdem, Surya Paloh. “Jokowi dalam survei kuantitatif sudah menembus hampir 25 persen dan kualitatif Jokowi disebut calon ideal, dan kalau pemilu presiden diikuti Jokowi, kami pastikan Jokowi bisa memenangkan pilpres,” ucap Saiful.
Menanggapi hasil penelitian ini, sosiolog Universitas Gadjah Mada, Ari Sudjito, mengatakan, tak ada alasan bagi PDI Perjuangan untuk tidak mengusung Jokowi sebagai calon presiden 2014.
“Memang dilema PDI-P adalah apakah dia akan majukan Jokowi dengan konsekuensi banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan di Jakarta. Tetapi, kalau tidak, tidak ada calon yang cukup kuat,” tuturnya.
Sumber :
tribunnews.com
“Seluruh prasyarat dan atribut ideal dimenangkan Jokowi sehingga diyakini jika Jokowi maju dalam Pilpres 2014, Jokowi akan memenangkan kursi presiden 2014 secara mutlak dan meyakinkan,” kata Direktur Eksekutif Intrans, Saiful Haq, saat memaparkan hasil penelitian lembaganya di Jakarta, Minggu (14/7/2013).
Penelitian Intrans yang dilakukan pada Mei-Juli 2013 ini mengukur persepsi dan sikap pemilih terhadap asosiasi atribut kandidat capres dan cawapres 2014. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif yang melibatkan 150 responden yang dibagi dalam 10 kelompok focus group discussion (FGD). Dalam setiap diskusi dilakukan pendalaman subtansi pertanyaan riset dengan menggunakan metode diskusi mendalam dengan dipandu oleh seorang fasilitator.
Srimulat
Menurut hasil penelitian, minat dan sikap responden yang memenangkan Jokowi sebenarnya banyak dipengaruhi atribut “merakyat’, bukan dilihat dari rekam jejak, karier, atau keputusan politik yang pernah diambil Jokowi selama ini. Saiful mengatakan, sebagian besar responden melihat Jokowi sebagai sosok yang sama dengan rakyat kebanyakan sehingga masyarakat merasa memilih kaumnya sendiri saat menetapkan pilihan kepada Jokowi.
“Sehingga identifikasi masyarakat dengan Jokowi sama dengan melihat opera lawak Srimulat, tidak ada jarak antara rakyat kebanyakan dengan Jokowi sehingga bahasa yang muncul bahasa ndeso sehingga rakyat merasa memilih kaumnya sendiri,” sambung Saiful.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan, secara konsisten responden mengidentifikasikan nama Jokowi hanya sebagai presiden, tanpa pernah memasukkannya ke dalam kategori wakil presiden.
Selain Jokowi, ada dua nama lain yang hanya diidentifikasikan sebagai calon presiden, yakni Megawati Soekarnoputri, dan petinggi Partai Nasdem, Surya Paloh. “Jokowi dalam survei kuantitatif sudah menembus hampir 25 persen dan kualitatif Jokowi disebut calon ideal, dan kalau pemilu presiden diikuti Jokowi, kami pastikan Jokowi bisa memenangkan pilpres,” ucap Saiful.
Menanggapi hasil penelitian ini, sosiolog Universitas Gadjah Mada, Ari Sudjito, mengatakan, tak ada alasan bagi PDI Perjuangan untuk tidak mengusung Jokowi sebagai calon presiden 2014.
“Memang dilema PDI-P adalah apakah dia akan majukan Jokowi dengan konsekuensi banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan di Jakarta. Tetapi, kalau tidak, tidak ada calon yang cukup kuat,” tuturnya.
Sumber :
tribunnews.com
Konser Metallica, Jokowi Mau Headbanging?
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) diketahui sebagai penggemar band-band
rock termasuk Metallica. Mengetahui hal ini, pihak promotor Black Rock
Entertainment mengaku telah terlebih dulu memberitahukan kehadiran
Metallica ke Jakarta pada Jokowi.
"Setelah media tahu, sebelum itu kami sudah memberi tahu beliau (Jokowi) bahwa Metallica insya Allah akan ke sini," kata Prilly, dari Black Rock Entertainment, saat ditemui di kantornya, Jalan Tirtayasa, Jakarta, Sabtu 13 Juli 2013.
Menurut pihak promotor, Jokowi tidak ingin menonton di kursi VIP melainkan bergabung di kelas festival."Beliau maunya di festival, mau ikut headbanging. It's gonnabe a lot of fun," kata Prilly. Jokowi memang sudah dikenal menyukai musik metal.
Beberapa waktu lalu pun, Jokowi mengatakan ia akan membawa Metallica ke Indonesia. Sekarang keinginannya tersebut menjadi kenyataan.
Sesuai dengan rencana, Metallica akan bermain di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada 25 Agustus 2013 mendatang. Metallica akan menghibur penggemarnya selama dua jam dari atas panggung yang dikabarkan akan sangat spektakuler tersebut.
Sumber :
tempo.co
"Setelah media tahu, sebelum itu kami sudah memberi tahu beliau (Jokowi) bahwa Metallica insya Allah akan ke sini," kata Prilly, dari Black Rock Entertainment, saat ditemui di kantornya, Jalan Tirtayasa, Jakarta, Sabtu 13 Juli 2013.
Menurut pihak promotor, Jokowi tidak ingin menonton di kursi VIP melainkan bergabung di kelas festival."Beliau maunya di festival, mau ikut headbanging. It's gonnabe a lot of fun," kata Prilly. Jokowi memang sudah dikenal menyukai musik metal.
Beberapa waktu lalu pun, Jokowi mengatakan ia akan membawa Metallica ke Indonesia. Sekarang keinginannya tersebut menjadi kenyataan.
Sesuai dengan rencana, Metallica akan bermain di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada 25 Agustus 2013 mendatang. Metallica akan menghibur penggemarnya selama dua jam dari atas panggung yang dikabarkan akan sangat spektakuler tersebut.
Sumber :
tempo.co
Minggu, 14 Juli 2013
Terhalang PDI Perjuangan, Jokowi Hanya Jadi Presiden Survei
Kesekian kalinya, nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi)
disebut-sebut dalam hasil survei dan riset untuk menjadi pemenang untuk
Pemilu 2014.
Hal itu diketahui berdasarkan riset Institute for Transformation Studies (Intrans) yang melibatkan 150 orang responden yang dibagi ke dalam 10 kelompok Focus Group Discussion yang diadakan bulan Mei hingga Juli 2013.
"Diyakini jika Jokowi maju dalam Pemilihan Presiden 2014, Jokowi akan memenangkan kursi presiden 2014 secara mutlak dan meyakinkan," ujar Direktur Intrans, Saiful Haq di dalam peluncuran hasil riset Intrans di Galeri Cafe, Cikini, Jakarta, Minggu (14/7/2013).
Lanjutnya, alasan Jokowi bisa menang dalam pilpres karena banyak responden yang melihat mantan Walikota Solo itu diberi atribut merakyat alias ndeso.
"Rekam jejak dan keputusan politik yang diambil Jokowi tidak dilihat. Responden mengidentifikasi Jokowi sebagai rakyat kebanyakan dengan menggunakan bahasa ndeso. Dia dinilai merakyat," kata Saiful.
Sementara itu, Pengamat Sosial politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito melihat, fenomena Jokowi yang berada diurutan teratas dalam berbagai lembaga survei memang kerap ditemui dari berbagai lembaga survei. Namun demikian, kata Arie, Jokowi sendiri masih terkendala di partainya dalam pemberian restu untuk benar-benar maju bertarung di Pemilihan Presiden 2014. "Jokowi {nggak} akan berani melampaui partainya," kata Arie.
Selain itu, PDIP sendiri tidak bisa begitu saja mengutus Jokowi untuk ikut dalam pencapresan. Sebab, keputusan pada PDIP ada di tangan ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri. "Logika dinasti politik PDIP harus ditinggakan," paparnya.
Riset Intrans ini menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi mendalam yang terbagi dalam 10 kelompok elemen masyarakat. Dalam riset ini menunjukan peluang yang menang dalam pilpres 2014 adalah Jokowi, Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Abu Rizal Bakrie, Wiranto, Mahfud MD, Surya Paloh, Dahlan Iskan dan Gita Wirjawan.
Sedangkan dalam rangking Cawapres 2014, riset ini melihat sosok yang tepat untuk menjadi cawapres dengan kriteria atribut berupa Profesionalisme, cerdas, solusi ekonomi, rendah hati di dominasi kandidat muda, adalah Gita Wirjawan dan Hari Tanoesoedibjo. Sementara untuk atribut pengalaman dalam karir dan teruji dalam integritas, beberapa tokoh senior pun keluar seperti Ginanjar Kartasasmita, Akbar Tanjung dan Jusuf Kalla.
Namun, dalam riset ini, respons responden cukup mengalami kesulitan ketika harus menentukan rangking tingkat minat dan sikap mereka terhadap kandidat cawapres (ketat dalam persaingan). Namun setelah mempertimbangkan seluruh atribut maka responden memilih Ginanjar Kartasasmita di posisi teratas dengan selisih tidak jauh berbeda dengan Gita Wirjawan dan Hari Tanoesoedibjo.
"Persepsi pemilih terhadap cawapres sangat dipengaruhi oleh kriteria atribut ideal cawapres dan skenario pasangan Muda-Muda dan Muda-Tua. Serta juga persepsi pasangan ideal Soekarno-Hatta dan SBY-JK," kata Saiful.
Sumber :
okezone.com
Hal itu diketahui berdasarkan riset Institute for Transformation Studies (Intrans) yang melibatkan 150 orang responden yang dibagi ke dalam 10 kelompok Focus Group Discussion yang diadakan bulan Mei hingga Juli 2013.
"Diyakini jika Jokowi maju dalam Pemilihan Presiden 2014, Jokowi akan memenangkan kursi presiden 2014 secara mutlak dan meyakinkan," ujar Direktur Intrans, Saiful Haq di dalam peluncuran hasil riset Intrans di Galeri Cafe, Cikini, Jakarta, Minggu (14/7/2013).
Lanjutnya, alasan Jokowi bisa menang dalam pilpres karena banyak responden yang melihat mantan Walikota Solo itu diberi atribut merakyat alias ndeso.
"Rekam jejak dan keputusan politik yang diambil Jokowi tidak dilihat. Responden mengidentifikasi Jokowi sebagai rakyat kebanyakan dengan menggunakan bahasa ndeso. Dia dinilai merakyat," kata Saiful.
Sementara itu, Pengamat Sosial politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito melihat, fenomena Jokowi yang berada diurutan teratas dalam berbagai lembaga survei memang kerap ditemui dari berbagai lembaga survei. Namun demikian, kata Arie, Jokowi sendiri masih terkendala di partainya dalam pemberian restu untuk benar-benar maju bertarung di Pemilihan Presiden 2014. "Jokowi {nggak} akan berani melampaui partainya," kata Arie.
Selain itu, PDIP sendiri tidak bisa begitu saja mengutus Jokowi untuk ikut dalam pencapresan. Sebab, keputusan pada PDIP ada di tangan ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri. "Logika dinasti politik PDIP harus ditinggakan," paparnya.
Riset Intrans ini menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi mendalam yang terbagi dalam 10 kelompok elemen masyarakat. Dalam riset ini menunjukan peluang yang menang dalam pilpres 2014 adalah Jokowi, Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Abu Rizal Bakrie, Wiranto, Mahfud MD, Surya Paloh, Dahlan Iskan dan Gita Wirjawan.
Sedangkan dalam rangking Cawapres 2014, riset ini melihat sosok yang tepat untuk menjadi cawapres dengan kriteria atribut berupa Profesionalisme, cerdas, solusi ekonomi, rendah hati di dominasi kandidat muda, adalah Gita Wirjawan dan Hari Tanoesoedibjo. Sementara untuk atribut pengalaman dalam karir dan teruji dalam integritas, beberapa tokoh senior pun keluar seperti Ginanjar Kartasasmita, Akbar Tanjung dan Jusuf Kalla.
Namun, dalam riset ini, respons responden cukup mengalami kesulitan ketika harus menentukan rangking tingkat minat dan sikap mereka terhadap kandidat cawapres (ketat dalam persaingan). Namun setelah mempertimbangkan seluruh atribut maka responden memilih Ginanjar Kartasasmita di posisi teratas dengan selisih tidak jauh berbeda dengan Gita Wirjawan dan Hari Tanoesoedibjo.
"Persepsi pemilih terhadap cawapres sangat dipengaruhi oleh kriteria atribut ideal cawapres dan skenario pasangan Muda-Muda dan Muda-Tua. Serta juga persepsi pasangan ideal Soekarno-Hatta dan SBY-JK," kata Saiful.
Sumber :
okezone.com
Jokowi Unggul Karena Merakyat
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) akan menjadi pemenang jika maju sebagai calon presiden di pilpres 2014.
Hal itu diketahui dari riset Institute for Transformation Studies (Intrans) yang melibatkan 150 orang responden yang dibagi ke dalam 10 kelompok Focus Group Discussion yang diadakan bulan Mei hingga Juli 2013.
"Diyakini jika Jokowi maju dalam Pemilihan Presiden 2014, Jokowi akan memenangkan kursi presiden 2014 secara mutlak dan meyakinkan," ujar Direktur Intrans, Saiful Haq di dalam peluncuran hasil riset Intrans di Galeri Cafe, Cikini, Jakarta, Minggu (14/7/2013).
Menurut Saiful, alasan Jokowi dapat memenangkan Pilpres 2014 karena responden melihat Jokowi itu merakyat. Responden mengindentifikasi Jokowi sebagai rakyat kebanyakan.
"Rekam jejak dan keputusan politik yang diambil Jokowi tidak dilihat. Responden mengidentifikasi Jokowi sebagai rakyat kebanyakan dengan menggunakan bahasa ndeso. Dia dinilai merakyat," ucap Saiful.
Nama Jokowi, kata dia, tidak disebut responden masuk sebagai calon wakil presiden (cawapres). Selain Jokowi, nama Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh tidak masuk dalam kandidat cawapres.
"Pemilih sudah menempatkan tiga nama ini sebagai capres. Nama lain muncul sebagai kandidat capres dan cawapres," pungkasnya.
Berikut adalah sejumlah nama capres yang mengemuka dalam diskusi, termasuk kategori yang ditentukan sendiri oleh responden lewat diskusi.
Sumber :
- jpnn.com
- detik.com
Hal itu diketahui dari riset Institute for Transformation Studies (Intrans) yang melibatkan 150 orang responden yang dibagi ke dalam 10 kelompok Focus Group Discussion yang diadakan bulan Mei hingga Juli 2013.
"Diyakini jika Jokowi maju dalam Pemilihan Presiden 2014, Jokowi akan memenangkan kursi presiden 2014 secara mutlak dan meyakinkan," ujar Direktur Intrans, Saiful Haq di dalam peluncuran hasil riset Intrans di Galeri Cafe, Cikini, Jakarta, Minggu (14/7/2013).
Menurut Saiful, alasan Jokowi dapat memenangkan Pilpres 2014 karena responden melihat Jokowi itu merakyat. Responden mengindentifikasi Jokowi sebagai rakyat kebanyakan.
"Rekam jejak dan keputusan politik yang diambil Jokowi tidak dilihat. Responden mengidentifikasi Jokowi sebagai rakyat kebanyakan dengan menggunakan bahasa ndeso. Dia dinilai merakyat," ucap Saiful.
Nama Jokowi, kata dia, tidak disebut responden masuk sebagai calon wakil presiden (cawapres). Selain Jokowi, nama Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh tidak masuk dalam kandidat cawapres.
"Pemilih sudah menempatkan tiga nama ini sebagai capres. Nama lain muncul sebagai kandidat capres dan cawapres," pungkasnya.
Berikut adalah sejumlah nama capres yang mengemuka dalam diskusi, termasuk kategori yang ditentukan sendiri oleh responden lewat diskusi.
- Kategori merakyat: Jokowi, Megawati, Jusuf Kalla.
- Keberpihakan kepada rakyat: Jokowi, Jusuf Kalla, Megawati.
- Track record bersih: Jokowi, Mahfud MD, Jusuf Kalla.
- Kewibawaan: Prabowo, Wiranto, Jokowi.
- Kecepatan kerja: Jokowi, Jusuf Kalla, Mahfud MD.
- Sikap aspiratif komunikatif: Jokowi, Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla.
- Ketegasan citra: Prabowo, Jokowi, Mahfud MD.
- Keberanian sikap: Jokowi, Prabowo, Surya Paloh.
Sumber :
- jpnn.com
- detik.com
Jokowi Janji Tambah Fasilitas di Hutan Kota Penjaringan
Fasilitas di Hutan Kota Penjaringan di Kelurahan Pejagalan, Kecamatan
Penjaringan, Jakarta Utara, masih kurang. Gubernur DKI Jakarta Joko
Widodo (Jokowi) pun berjanji akan menambah fasilitas di Hutan Kota Penjaringan.
"Aktivitas fisik harus ada. Itu memang sulit, tetapi jelas di dalam (hutan kota) harus ada kegiatan," ujar Jokowi, saat mengunjungi Hutan Kota Penjaringan, Minggu (14/7/2013).
Jokowi mengatakan, Pemerintah Provinsi DK I Jakarta melalui Dinas Pertamanan dan Pemakaman, telah berencana membangun fasilitas untuk hutan kota Pejagalan, antara lain sarana bermain untuk anak dan keluarga, bangku taman.
Jokowi mengatakan, yang terpenting dari sebuah taman adalah menjalakan fungsi sebagai daerah resapan air dan ruang bagi aktifitas warga umum. "Sehingga terjadi interaksi antar masyarakat dan bisa menjadi modal sosial," tukas sang gubernur.
Luas Hutan Kota Penjaringan 60 hektare, yang akan bertambah jika proses pembebasan tanah selesai. Lahan itu mulai ditanami sejak 2010 dan sekarang memiliki sekitar 20 jenis pohon.
Seorang pengawas Hutan Kota Penjaringan berharap sengketa lahan bisa diselesaikan dalam waktu dekat, sehingga akses masuk hutan kota Pejagalan bisa ditambah.
"Kalau bisa cepat dibebasin, soalnya sampai sekarang ini satu-nyanya akses masuk," ujar pengawas tersebut.
Sumber :
kompas.com
"Aktivitas fisik harus ada. Itu memang sulit, tetapi jelas di dalam (hutan kota) harus ada kegiatan," ujar Jokowi, saat mengunjungi Hutan Kota Penjaringan, Minggu (14/7/2013).
Jokowi mengatakan, Pemerintah Provinsi DK I Jakarta melalui Dinas Pertamanan dan Pemakaman, telah berencana membangun fasilitas untuk hutan kota Pejagalan, antara lain sarana bermain untuk anak dan keluarga, bangku taman.
Jokowi mengatakan, yang terpenting dari sebuah taman adalah menjalakan fungsi sebagai daerah resapan air dan ruang bagi aktifitas warga umum. "Sehingga terjadi interaksi antar masyarakat dan bisa menjadi modal sosial," tukas sang gubernur.
Luas Hutan Kota Penjaringan 60 hektare, yang akan bertambah jika proses pembebasan tanah selesai. Lahan itu mulai ditanami sejak 2010 dan sekarang memiliki sekitar 20 jenis pohon.
Seorang pengawas Hutan Kota Penjaringan berharap sengketa lahan bisa diselesaikan dalam waktu dekat, sehingga akses masuk hutan kota Pejagalan bisa ditambah.
"Kalau bisa cepat dibebasin, soalnya sampai sekarang ini satu-nyanya akses masuk," ujar pengawas tersebut.
Sumber :
kompas.com
Nasib PKL Tanah Abang di Tangan Jokowi
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sangat terusik dengan keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Tanah Abang yang selalu tumpah ke jalan sehingga mengakibatkan macetnya lalu lintas di kawasan tersebut.
Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta merencanakan merelokasi PKL ke Blok G Tanah Abang. Rencananya, relokasi ini akan diawasi selama 1 tahun.
"Biar dipakai yang lain, kalau kelamaan yang lain nggak bisa bikin aktivitas di situ, bagi-bagilah," kata Jokowi ketika masalah penertiban PKL Tanah Abang.
Hal itu dikatakan Jokowi usai meninjau Taman Hutan Kota (THK) Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu (14/7/2013).
Penertiban PKL Tanah Abang itu, imbuh Jokowi, tidak bisa sekali jadi. Cara-cara represif dihindari untuk bulan pertama. Penertiban dilakukan Satpol PP dan Dishub DKI secara bertahap.
"Pelaksanaannya sendiri diawasi 6 bulan - 1 tahun, diawasi kayak di Jatinegara dan Pasar Minggu.
Kita ini membersihkannya tidak sekali jadi. Kalau mau sehari jadi, tapi kita kan tidak mau seperti itu," jelas Jokowi.
Blok G Tanah Abang, imbuh Jokowi, sekarang sedang dicat dan diperbaiki. Pemprov DKI akan membuat akses jalan baru ke Blok G Tanah Abang.
"Baru kita ke sini, mungkin bisa dibuat akses jalan baru," tutup Jokowi.
Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta merencanakan merelokasi PKL ke Blok G Tanah Abang. Rencananya, relokasi ini akan diawasi selama 1 tahun.
"Biar dipakai yang lain, kalau kelamaan yang lain nggak bisa bikin aktivitas di situ, bagi-bagilah," kata Jokowi ketika masalah penertiban PKL Tanah Abang.
Hal itu dikatakan Jokowi usai meninjau Taman Hutan Kota (THK) Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu (14/7/2013).
Penertiban PKL Tanah Abang itu, imbuh Jokowi, tidak bisa sekali jadi. Cara-cara represif dihindari untuk bulan pertama. Penertiban dilakukan Satpol PP dan Dishub DKI secara bertahap.
"Pelaksanaannya sendiri diawasi 6 bulan - 1 tahun, diawasi kayak di Jatinegara dan Pasar Minggu.
Kita ini membersihkannya tidak sekali jadi. Kalau mau sehari jadi, tapi kita kan tidak mau seperti itu," jelas Jokowi.
Blok G Tanah Abang, imbuh Jokowi, sekarang sedang dicat dan diperbaiki. Pemprov DKI akan membuat akses jalan baru ke Blok G Tanah Abang.
"Baru kita ke sini, mungkin bisa dibuat akses jalan baru," tutup Jokowi.
Kriteria Lelang Jabatan Kepala Sekolah Masih Dalam Proses
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan lelang jabatan atau
seleksi dan promosi terbuka untuk camat dan lurah yang selesai pada Juni
lalu. Selanjutnya, giliran jabatan kepala sekolah yang akan dilakukan
proses lelang.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengatakan ada perbedaan kriteria lelang jabatan antara camat dan kepala sekolah ini. Namun, seperti apa perbedaan kriteria tersebut, dia masih enggan menyebutkannya. "Baru disiapkan," ujarnya di sela-sela blusukan di Taman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu (14/7/2013).
Jokowi menargetkan lelang jabatan kepala sekolah dilakukan pada penutupan tahun 2013. "Akhir tahun ini," kata dia. Rencananya, Dinas Pendidikan akan membuka pendaftaran lelang jabatan kepala sekolah dengan online mulai Oktober 2013. Adapun mengenai mekanismenya masih dalam proses penggodokan.
Lelang jabatan untuk kepala sekolah ini bertujuan untuk mengetahui potensi guru yang layak sebagai kepala sekolah dan tidak. Diharapkan, lelang jabatan ini mampu mendapatkan kepala sekolah yang mempunyai nilai-nilai kepemimpinan yang lebih baik. Seleksi kepala sekolah ini akan dilakukan secara terbuka bagi guru-guru yang ada di lingkup pendidikan dan terbatas pada wilayah DKI Jakarta.
Sumber :
tempo.co
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengatakan ada perbedaan kriteria lelang jabatan antara camat dan kepala sekolah ini. Namun, seperti apa perbedaan kriteria tersebut, dia masih enggan menyebutkannya. "Baru disiapkan," ujarnya di sela-sela blusukan di Taman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu (14/7/2013).
Jokowi menargetkan lelang jabatan kepala sekolah dilakukan pada penutupan tahun 2013. "Akhir tahun ini," kata dia. Rencananya, Dinas Pendidikan akan membuka pendaftaran lelang jabatan kepala sekolah dengan online mulai Oktober 2013. Adapun mengenai mekanismenya masih dalam proses penggodokan.
Lelang jabatan untuk kepala sekolah ini bertujuan untuk mengetahui potensi guru yang layak sebagai kepala sekolah dan tidak. Diharapkan, lelang jabatan ini mampu mendapatkan kepala sekolah yang mempunyai nilai-nilai kepemimpinan yang lebih baik. Seleksi kepala sekolah ini akan dilakukan secara terbuka bagi guru-guru yang ada di lingkup pendidikan dan terbatas pada wilayah DKI Jakarta.
Sumber :
tempo.co
Jokowi Bagi-bagi Buku dan Uang
Setelah mengadakan peninjauan di Hutan Kota Penjaringan, Jakarta Utara, Gubernur DKI
Jakarta Joko Widodo (Jokowi) membagikan buku kepada anak-anak di Kampung Pejagalan,
Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu (14/7/2013).
Seperti biasa, Jokowi disambut antusias dan dikerubuti warga dan anak-anak.
Saat beranjak menuju mobilnya, Jokowi dibantu ajudannya mengeluarkan paket buku-buku tulis. Warga yang melihat Jokowi spontan datang menyerbu Jokowi. Tua, muda, laki, perempuan dan anak-anak berbondong-bondong menghampiri Jokowi untuk menyalaminya.
"Aku nanti kalau udah gede mau jadi Jokowi aja!" teriak seorang anak disana.
"Ini mau salim (salaman) biar jadi gubernur kaya Jokowi aja," kata salah satu ibu yang mengantar anaknya berjabat tangan dengan Jokowi.
Jokowi juga kemudian terlihat membagi-bagi "ampelop" (uang?), entah berapa jumlahnya, kepada warga.
Menanggapi hal ini, seorang ibu berkata,
"Yang penting ketemu Pak Jokowi sudah senang," katanya.
Seperti biasa, Jokowi disambut antusias dan dikerubuti warga dan anak-anak.
Saat beranjak menuju mobilnya, Jokowi dibantu ajudannya mengeluarkan paket buku-buku tulis. Warga yang melihat Jokowi spontan datang menyerbu Jokowi. Tua, muda, laki, perempuan dan anak-anak berbondong-bondong menghampiri Jokowi untuk menyalaminya.
"Aku nanti kalau udah gede mau jadi Jokowi aja!" teriak seorang anak disana.
"Ini mau salim (salaman) biar jadi gubernur kaya Jokowi aja," kata salah satu ibu yang mengantar anaknya berjabat tangan dengan Jokowi.
Jokowi juga kemudian terlihat membagi-bagi "ampelop" (uang?), entah berapa jumlahnya, kepada warga.
Menanggapi hal ini, seorang ibu berkata,
"Yang penting ketemu Pak Jokowi sudah senang," katanya.
Langganan:
Postingan (Atom)


























