Jumat, 11 April 2014

Jumat Pagi, Jokowi Gowes Bareng Kru TV ke Balai Kota

Seperti Jumat biasanya, pagi ini Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo gowes sepedanya menuju ke kantor. Jokowi ditemani para ajudan, Camat Menteng Bondan Diah Ekowati dan beberapa kru Trans TV.
Semula orang nomor 1 di DKI Jakarta ini mengenakan kaos warna putih dengan kemeja warna kuning di luarnya. Namun kemudian ia menggantinya dengan kaos yang diberikan oleh Trans TV berwarna kombinasi biru putih dengan tulisan DKI 1 di bagian dada.
"Terima kasih ya kaosnya saya pakai," kata Jokowi di rumahnya, Jl Taman Suropati nomor 7, Jakarta Pusat, Jumat (11/4/2014).
Jokowi berangkat dari rumahnya sekitar pukul 07.00 WIB.

PDIP Sukses 'Kuasai' Pulau Jawa

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), mampu tampil dominan sebagai pemegang suara terbanyak pemilih Pemilu 2014, di enam provinsi yang berada di Pulau Jawa.
PDIP, menjadi jawara dalam perolehan suara di lima dari enam provinsi yang berada di Pulau Jawa. Hal tersebut, berdasarkan hasil hitung cepat yang digelar Saiful Mujani Saiful Mujani Research & Consulting (SRMC).
Dalam penghitungan SRMC sampai Jumat (11/4/2014) dini hari, PDIP mampu meraup 21,3 persen suara dari 1.102 tempat pemungutan suara (TPS) se-Pulau Jawa.

Kamis, 10 April 2014

Ada Gerakan Memecah Belah Internal PDIP

Pasca pileg terus bergulir kampanye negatif terkait pencalonan Jokowi sebagai presiden. Kampanye negatif ini juga dilakukan dengan cara memecah belah internal PDIP agar tidak puas dengan Jokowi.
Hal ini diungkapkan oleh Pengamat Politik Ari Dwipayana, Kamis (10/4/2014). Ia menegaskan, kampanye negatif yang dimaksud adalah, munculnya pemberitaan secara masif, menegaskan tak ada Jokowi efek dalam Pileg kemarin.
"Ada kampanye, skenarionya untuk memecah belah PDIP. Mendorong ketidakpuasan internal terhadap Jokowi. Menekankan, Jokowi tidak punya efek ke partai," ujarnya.

Jokowi Jamin PDI-P Tidak Bagi-bagi Kursi Menteri

Bakal calon presiden dari PDI Peruangan Joko Widodo mengatakan, sistem  pemerintahan di Indonesia adalah presidensial. Oleh sebab itu, Jokowi  menjamin kerja sama politik ala partainya tidak berujung pada bagi-bagi  kursi menteri.

PDIP Mulai Cari Cawapres untuk Jokowi

Meskipun menurut sumber internal di PDIP, wacana cawapres mengerucut ke Surya Paloh karena berbagai pertimbangan, tetapi secara resmi PDIP belum menetapkan calon wakil presiden pendamping Joko Widodo (Jokowi). Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait (Ara) mengakui adanya sejumlah nama di eksternal yang diwacanakan sebagai pendamping Jokowi di pilpres.
Nama yang mengemuka yakni Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Ketua KPK Abraham Samad, Mantan Ketua MK Mahfud MD, Ketua Umum PAN Hatta Rajasa, Ketua Umum PMI Jusuf Kalla (JK).

Jokowi Persilahkan Relawan Bergerak Sendiri-sendiri

Sebelum Gubernur DKI, Joko Widodo dideklarasikan sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), sejumlah tim relawan telah dibentuk untuk mendukung kemenangan mantan Wali Kota Solo itu dalam pemilihan presiden (pilpres) mendatang.
Beberapa relawan di antaranya Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP), Sekretaris Nasional Jokowi (Seknas Jokowi), Pro Jokowi (Projo), Relawan Buruh Sahabat Jokowi dan lainnya.
Menghadapi pilpres yang akan digelar 9 Juli mendatang, Jokowi tidak berencana mengkonsolidasikan semua kekuatan tersebut.

Jokowi: Relawan Bara JP Orang-orang yang Tulus Bekerja

Bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Joko Widodo mengapresiasi Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) yang terus mendukung Jokowi untuk maju menjadi calon presiden. Ia pun mendatangi markas Bara JP yang terletak di kawasan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Kamis (10/4/2014).
"Saya ingin mengundang balik beliau-beliau ini," ujar Jokowi seusai menemui tim Bara JP di posko Bara JP, semalam.
Jokowi mengatakan, ini adalah pertemuan pertamanya dengan tim relawan dari Bara JP. Meski baru pertama bertemu, Jokowi mengaku sudah lama mengetahui keberadaan Bara JP. Ia menilai,  relawan dari Bara JP merupakan relawan-relawan yang bekerja dengan tulus.

Jokowi Kurang Mahir Berkomunikasi Politik

Pengamat media UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Iswandi Syahputra menilai calon presiden dari PDIP Joko Widodo (Jokowi) tidak mahir melakukan komunikasi politik. Makanya, elektabilitas yang dimiliki Jokowi tidak memberi pengaruh besar pada perolehan suara PDIP pada pemilu legislatif 9 April 2014.
Menurut Iswandi, Jokowi selama ini mengandalkan pencitraan melalui berbagai kegiatan yang diliput media dan sangat kurang melakukan komunikasi dengan rakyat.
"Blusukan hanya jadi ajang pencitraan. Datang hanya untuk salaman, photo-photo, basa-basi sebentar kemudian masuk televisi.

Bara JP Rangkul Kelompok Golput Dukung Jokowi

Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) akan merangkul golongan putih (golput) untuk menggunakan hak pilihnya mendukung calon presiden yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).
Menurut Ketua Umum Bara JP, Sihol Manullang, kaum golput merupakan penentu kemenangan dalam pilpres yang akan digelar 9 April mendatang. Hal itu karena angka golput di Indonesia mencapai 40 persen dari jumlah pemilih.
"Kaum golput ini 40 persen. Jika angka pemilih saat ini sekitar 185 juta maka terdapat 75 juta kaum golput," kata Sihol kepada Jokowi yang menyambangi markas Bara JP di kawasan Cipinang Cempedak, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (10/4/2014) malam.

Seknas Jokowi Optimistis Bakal Menang di Pilpres

Sekretaris Nasional (Seknas) Jokowi (Joko Widodo), Helmy Fauzi mengatakan pihaknya akan bekerja maksimal lagi untuk memenangkan calon presiden Jokowi di Pemilu Presiden 2014. Sebab, kinerja tim pemenangan di pemilu legislatif belum mencapai target.
"Meskipun kemenangan PDI Perjuangan berdasarkan hasil quick count menggembirakan, namun tak urung hasil ini cukup mengagetkan kami karena di bawah perkiraan. Kami yakin raihan dalam pilpres akan jauh berbeda," kata Helmy, di Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Jokowi Mengaku Diperintah Mega Bangun Koalisi

Calon presiden (capres) dari PDI Perjuangan, Joko Widodo seolah meluruskan kembali pernyataannya soal koalisi. Dia berpendapat, sistem presidensil tidak mengenal koalisi seperti yang diterapkan pemerintahan SBY.
"Tadi pagi di SMS pagi-pagi. Makin banyak pertemuan makin baik (koalisi)," ujar Jokowi di Balaikota, Jakarta Pusat, Kamis (10/4/2014).

Cawapres Jokowi Segera dideklarasikan

Calon presiden (capres) yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, sejauh ini pihaknya masih terus membangun komunikasi untuk menentukan calon wakil presiden yang akan mendampinginya.
Namun, Gubernur DKI Jakarta itu memberikan sinyal akan segera mengumumkan pilihannya dalam waktu dekat.
"Belum masih dalam proses. Dalam waktu cepat ini moga-moga," ungkap Jokowi usai menyambangi markas Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) di kawasan Cipinang Cempedak, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (10/4/2014) malam.

PDIP Lemah dalam 'Counter Attack'

Perolehan suara PDI Perjuangan dalam sejumlah quick count jauh dari target yang dipatok. Deklarasi Joko Widodo (Jokowi) sebagai Capres PDIP dianggap kurang signifikan pengaruhnya terhadap Pemilu Legislatif.
Dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) Agung Suprio berpendapat, PDIP terlalu bersandar dan tergantung pada sosok Jokowi sehingga mesin partai berjalan kurang maksimal.
"Ini kesalahan strategi PDIP yang utama tim sukses Jokowi kurang mampu melakukan counter attack terhadap serangan negative campaign. Timsesnya tak mampu meluaskan wacana negative campaign sehingga serangan dari kompetitor hanya mengarah ke PDIP dan Jokowi," kata Agung kepada merdeka.com, Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Tak Miliki Uang dan Media, Jokowi Berharap pada Rakyat

Joko Widodo (Jokowi) yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai calon presiden (capres) mengaku tak memiliki apapun sebagai modal dalam pertarungan di pemilihan presiden (pilpres) 2014.
Di antara para calon presiden yang akan bertarung, Jokowi, mengaku tak memiliki uang atau media yang dapat menunjangnya. Hal itu diakuinya saat menyambangi markas Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) di kawasan Cipinang Cempedak, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (10/4/2014) malam.

Hatta Tolak Komentar Tentang Cawapres Jokowi

Ketum Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Rajasa mengakui partainya sudah melakukan penjajakan koalisi bersama sejumlah parpol termasuk PDI Perjuangan. Tapi Hatta belum mau berbicara soal kansnya menjadi cawapres mendampingi Joko Widodo.
"Nanti saja soal itu. Saya tidak mau berandai-andai," kata Hatta di Hotel Kempinski, Kamis (10/4/2014) malam.

Jokowi Tak Setuju Pesawat Kepresidenan

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ( Jokowi ) menanggapi pembelian pesawat kepresidenan jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2), seharga Rp 840 miliar. Menurut Jokowi , anggaran sebesar itu masih bisa untuk menutupi kebutuhan mendasar di negara ini.
"Masih banyak kebutuhan yang mendasar. Salah satu kebutuhan mendasar negara kita adalah pendidikan dan kesehatan. Itu yang harus dipenuhi," kata Jokowi .
Hal itu dikatakan Jokowi saat menyambangi Markas Besar Barisan Relawan Jokowi Presiden (Mabes Bara JP), di Cipinang Cempedak, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (10/4/2014).

Malam Hari, Jokowi Sambangi Markas Bara JP

Usai menjalankan tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta, capres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Joko Widodo (Jokowi) menyambangi markas Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) di kawasan Cipinang Cempedak, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (10/4) malam.
Ratusan warga sekitar dan relawan yang telah menantinya sejak sore hari langsung menyambut Jokowi, sapaan Joko Widodo yang tiba sekitar pukul 20.45 WIB dengan menggunakan mobil Toyota Innova hitam B 1124 BH.
Para relawan dan warga yang sebagian besar kaum ibu itu terus berteriak "Jokowi Presiden!!!" "Hidup Jokowi" atau "Aku Rapopo".

Ada Upaya Mendowngrade Jokowi untuk Memecah PDIP

Perolehan suara PDIP dalam pemilihan legislatif, Rabu (9/4) memang di bawah target. Alih-alih mendapat 27 persen, berdasarkan hasil hitung cepat partai banteng moncong putih ini hanya meraup 19,72  persen (hitung cepat Lingkaran Survey Indonesia). Nah, kini banyak pihak yang menganggap bahwa Jokowi tak punya efek untuk mendongkrak suara PDIP.
Berbagai berita yang menghiasi media pun menekankan tak ada perubahan signifikan setelah Jokowi diumumkan sebagai capres. Menanggapi pemberitaan yang masif itu pengamat Politik Ari Dwipayana menilai saat ini ada gerakan kampanye negatif yang ingin men-downgrade sosok capres Jokowi.

Wujud Loyalitas Seknas Jokowi, Kawal Pileg Hingga Monitoring Media

Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi telah melakukan berbagai hal untuk mengawal Pileg serta hal lainnya pasca diumumkannya Gubernur DKI itu sebagai capres dari PDIP. Beberapa diantaranya telah dilakukan, seperti pemantauan hasil Pileg 2014 dan monitoring media. Hal tersebut dianggap sebagai wujud dukungan penuh Seknas kepada Jokowi sebagai Capres PDIP.
"Kami bekerjasama dengan para caleg PDIP untuk mengawal proses penghitungan suara, dan beberapa hal lainnya pasca Pileg yang telah diadakan," ujar Sekjen Seknas Jokowi, Dono Prasetyo dalam jumpa pers yang diadakan di kantor Seknas Jokowi, Jalan Dharmawangsa 35, Kebayoran Baru, Jaksel, Kamis (10/4/2014).

Serangan M Sanusi Gerindra untuk Jokowi

Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD DKI Jakarta, Mohammad Sanusi, mengungkapkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo kini memiliki tiga ketakutan.
"Takut kalah dalam capres. Takut kehilangan jabatan Gubernur, dan takut mandatnya dicabut Mega," ujar Sanusi di Balai Kota, Jakarta, Kamis (10/4/2014).
Ucapan Sanusi yang merupakan anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta tersebut berdasarkan fakta yang ada, bahwa Jokowi hingga kini belum juga mundur sebagai Gubernur, meski Pileg telah selesai.

Sekarang Jokowi Dinilai Jadi 'Musuh Media' Milik Calon Seteru

Selain karena kurangnya kesungguhan elite PDI Perjuangan (PDIP) mengusung Joko Widodo (Jokowi) sebagai capres, masalah lain yang menyebabkan perolehan suara partai berlambang moncong putih itu tak mencapai target 27 persen, sebab kurangnya publikasi media.
Hal itu dikatakan Pengamat Politik LIPI Ikrar Nusa Bakti. Padahal, Ikrar melanjutkan, saat ini media massa merupakan alat vital untuk melakukan kampanye politik. Apalagi, saat ini Jokowi sudah tidak menjadi media darling.

Jokowi yang Akan Tunjuk Pendampingnya Dalam Pilpres

Calon wakil presiden yang akan diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan ditentukan sendiri oleh Joko Widodo (Jokowi). "Jadi kami belum ada keputusan siapa pasangan Jokowi," kata Ketua DPP PDIP, Effendi Simbolon, Kamis (10/4), Jakarta.
Menurut Effendi, hal itu merupakan bukti bahwa Gubernur DKI Jakarta itu bukan sosok yang mudah didikte seperti apa yang dikataka  banyak orang. Jokowi mencari pendamping yang sesuai dengan ideologi UUD 1945.

Kalau Hanya 'Head to Head' Jokowi-Prabowo Kurang Seru

Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bakti memprediksi, hanya akan ada tiga calon presiden yang maju dalam Pemilu Presiden mendatang. Mereka adalah Joko Widodo alias Jokowi dari PDI Perjuangan, Aburizal Bakrie alias Ical dari Partai Golkar, dan Prabowo Subianto dari Partai Gerindra.
“Mudah-mudahan tiga itu yang maju. Kalau hanya dua saja head to head antara Jokowi dan Prabowo kurang seru. Lebih seru kalau ada tiga pasangan,” kata Ikrar di Media Centre LIPI di Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Pengamat: Ada 'Orang Dalam' yang tak Ingin Jokowi Naik Daun

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego menengarai ada 'orang dalam' yang tidak menginginkan Jokowi menjadi calon presiden di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Indria menyebutkan, orang-orang inilah yang menyebabkan mesin partai tidak jalan sehingga target perolehan suara Pemilu 2014 tidak terpenuhi. Seperti diberitakan, PDIP menargetkan memperoleh sebanyak 27 persen suara dalam Pemilu Legislatif 2014, namunternyata hanya dapat 19 persen. Dengan 19 persen, PDIP tetapmemperoleh suara terbesar.

Meski Dilarang Iklan, Pengaruh Jokowi Dongkrak Suara PDIP Tinggi

Meski Joko Widodo (Jokowi) dilarang iklan atau diblok di berbagai televisi swasta di Indonesia, namun pengaruhnya terhadap suara PDI Perjuangan di Pemilu Legislatif tetap tinggi.
"Mau iklan di website saja itu sulit. Karena saya baca di media itu, Jokowi tidak boleh beriklan," kata Ganjar Pranowo Gubernur Jateng yang juga jurkamnas PDIP,  Kamis (10/4/2014).
Menurutnya, Jokowi Effect itu memiliki pengaruh yang luar bisa.

Tamil Selvan : Jokowi Haus Kekuasaan

Pernyataan bakal calon Presiden dari PDI Perjuangan, Joko Widodo yang menegaskan pencapresan dirinya tidak bisa diganggu gugat, dinilai sebagai tanda Gubernur DKI Jakarta itu mulai haus kekuasaan.
Pemerhati sosial dan politik dari Universitas Mercu Buana, Tamil Selvan mengatakan hasil hitung cepat yang menunjukkan PDIP hanya mendapat 19 persen perlu dicerna lebih dalam.
Menurutnya meski PDIP berada dalam posisi tertinggi, namun kenaikannya tidak signifikan seperti Gerindra dan PKB.

Duet Jokowi-Wiranto Ramai di Media Sosial

Meskipun di dunia nyata telah santer beredar Joko Widodo (Jokowi) - Surya Paloh, tetapi di Jagat media sosial Twitter diramaikan oleh duet Jokowi dan Wiranto untuk Pilpres 2014. Dengan hashtag #jokowiranto, menjadi trending topik dunia di media kicauan.
Pro dan kontra pengguna Twitter pun muncul menanggapi duet ini. Banyak yang setuju, banyak juga yang mencibir duet tersebut.
"apa kata dunia #jokowiranto," tulis pemiluk akun twitter @chinitaxxx3 beberapa menit lalu, Kamis (10/4/2014).