Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dijadwalkan akan meresmikan kampung
deret di Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat,
Kamis (8/8/2013). Peresmian tidak dilakukan secara mewah.
Warga RT 14/RW 01, Kelurahan Tanah Tinggi, antusias menyambut
peresmian kampung deret itu. Warga pun berbondong-bondong membersihkan
lingkungan serta memesan tenda supaya Jokowi tak kepanasan saat
meresmikan kampung deret tersebut. Namun, Jokowi meminta agar tenda itu
ditiadakan.
"Tadi sudah dirikan tenda, tapi digeser. Pak Jokowi enggak mau yang mewah-mewah," kata Tuti (48) kepada Kompas.com, Jakarta, Rabu (7/8/2013).
Hal senada juga disampaikan oleh Sri (65). Ia mengatakan, Jokowi tak
mau merepotkan warga, yang masih butuh banyak dana untuk perbaikan
rumah.
"Ini tenda tadi saya suruh geser, tadinya di sini," ujar Ketua RT 14, Yahya, sembari menunjuk jalan di depan mushala Al Huda.
Menurut Yahya, besok Jokowi akan datang ke permukiman tersebut
sekitar pukul 13.00. Acara akan berlangsung dengan suasana nonformal.
"Semacam halalbihalal," katanya.
Persiapan lain yang dilakukan warga adalah membantu membenahi ruangan
untuk makan prasmanan. Untuk penyediaan konsumsi itu, kata Yahya,
dibantu oleh Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah.
Kampung deret yang baru pertama kali dibuat di Jakarta itu semestinya
diresmikan sebelum Lebaran. Meski molor, toh warga tetap bersemangat
sambut kampung baru. "Ikut senang lah, kampungnya jadi bersih, bagus,
tertata, dilihatnya lapang gitu," kata Mariani, warga RT 13/RW 01.
Sumber :
kompas.com
Arsip terlengkap seputar kegiatan Jokowi mulai tahun 2013 hingga Jokowi Terindikasi Melindungi Koruptor.
Rabu, 07 Agustus 2013
Jokowi Kunjungi Mega
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi kediaman Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri.
Jokowi meninggalkan rumah dinasnya di Taman Suropati, Jakpus, sekitar pukul 18.58 WIB, Rabu (7/8/2013), dengan menggunakan mobil Toyota Innova.
Sampai berita ini diturunkan, belum diketahui tokoh-tokoh lain yang ikut hadir di kediaman Megawati Soekarnoputri. Menurut pesan yang disampaikan ajudan Jokowi, Jokowi minta dengan sangat agar kunjungannya kali ini ke kediaman Megawati tidak diliput media.
Adakah sesuatu yang amat penting? Hanya waktulah yang bisa menjawabnya.
Jokowi meninggalkan rumah dinasnya di Taman Suropati, Jakpus, sekitar pukul 18.58 WIB, Rabu (7/8/2013), dengan menggunakan mobil Toyota Innova.
Sampai berita ini diturunkan, belum diketahui tokoh-tokoh lain yang ikut hadir di kediaman Megawati Soekarnoputri. Menurut pesan yang disampaikan ajudan Jokowi, Jokowi minta dengan sangat agar kunjungannya kali ini ke kediaman Megawati tidak diliput media.
Adakah sesuatu yang amat penting? Hanya waktulah yang bisa menjawabnya.
Ada yang Risih dengan Jokowi?
Kalau ada figur yang beberapa kali berhasil melakukan loncatan
signifikan dan menyejajarkan dirinya dengan tokoh nasional dalam waktu
yang relatif singkat, mungkin Joko Widodo contohnya.
Tak bisa dipungkiri, pria yang akrab disapa Jokowi ini adalah kader potensial milik PDI Perjuangan yang sempat memimpin Surakarta, kemudian loncat memimpin Ibu Kota. Beberapa saat memimpin DKI Jakarta, Jokowi menjadi jawara dalam berbagai survei pemilihan presiden (pilpres) yang dilakukan sejumlah lembaga.
Nama Jokowi yang sering dikaitkan dalam kompetisi pilpres tentu tak bisa dianggap angin lalu oleh partai politik peserta Pemilu 2014. Meski belum ada keputusan resmi dari PDI Perjuangan untuk mengusung Jokowi pada 2014, terakhir, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo sempat menyatakan pihaknya mulai mempertimbangkan Jokowi untuk maju sebagai calon presiden (capres).
Apakah Jokowi membuat risih tokoh lain yang akan maju dalam pilpres mendatang? Jawabannya mungkin saja karena Jokowi dihitung sebagai lawan terkuat bila akhirnya Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri merestui anak didiknya itu bertarung memperebutkan kursi RI 1.
Kerisihan partai politik menyikapi kehadiran Jokowi dalam pertarungan Pilpres 2014 ditanggapi berbeda-beda. Ada partai yang memilih bertarung head to head, ada juga yang memilih cara lembut, yakni dengan konsolidasi mengupayakan peluang koalisi.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Melani Leimina Suharli, mengatakan, pemenang konvensi calon presiden yang digelar partainya harus bisa mengalahkan semua capres dari partai lain, termasuk Jokowi. Menurut Melani, konvensi capres Partai Demokrat menjadi sia-sia bila akhirnya tak mampu memenangkan pilpres.
Melani mengatakan, pihaknya akan habis-habisan mendorong pemenang konvensi capres untuk memenangkan pilpres. Meski demikian, pernyataan Melani berseberangan dengan visi dari Hayono Isman yang berniat mengikuti konvensi. Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini mengaku, bila memenangkan konvensi, dia akan mengarungi pertarungan pilpres dengan fair dan penuh rasa persahabatan.
Sikap berbeda dipertontonkan oleh Gerindra yang mengaku bangga dengan terus melambungnya popularitas Jokowi. Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Martin Hutabarat, menyatakan pihaknya terus melakukan komunikasi intens dengan PDI Perjuangan untuk menyiapkan kemungkinan koalisi dalam pilpres mendatang.
Menurut Martin, Gerindra dan PDI Perjuangan memiliki kedekatan spesial dan seperti saudara serumpun. Bahkan, ia menilai, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto cocok berduet dengan Jokowi sebagai pasangan capres dan cawapres seperti pada 2009 lalu di mana Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjadi calon presiden dan didampingi oleh Prabowo.
"Bagi Gerindra, akan jadi kebanggaan Pak Jokowi disukai jadi gubernur dan cawapres. Kami akan selalu seperti orang dalam, satu rumpun dan saling memercayai. Sejak 2009, hubungan itu selalu terjaga," kata Martin.
Langkah Gerindra menyikapi kehadiran Jokowi dalam belantika politik nasional hampir sama dengan yang ditunjukkan oleh Partai Amanat Nasional (PAN). Ketua Majelis Pertimbangan PAN Amien Rais mengaku tak ingin terlalu ambisius mengusung Ketua Umum PAN Hatta Rajasa sebagai capres. Ia memilih realistis dan siap menerima kenyataan jika pada akhirnya PAN hanya bisa mengusung Hatta sebagai cawapres.
Amien menegaskan, Hatta akan diduetkan dengan tokoh nasional yang berasal dari tanah Jawa. Namun, tokoh tersebut harus memiliki visi dan misi perjuangan yang sama dengan yang diusung PAN. Menurut Amien dan berdasarkan masukan dari rekan-rekannya yang menjadi dosen Universitas Gadjah Mada, Hatta sangat cocok menjadi cawapres mendampingi Jokowi.
"Jokowi dengan Pak Hatta. Karena pertimbangannya apa? Jokowi-Hatta Rajasa, itu kan mirip-mirip dengan Bung Karno dengan Hatta," kata Amien.
Langkah apa pun yang dipilih setiap partai untuk menyikapi kehadiran Jokowi harusnya tidak mencederai pesta demokrasi lima tahunan ini. Suka tidak suka, saat ini Jokowi telanjur diprimadonakan.
Peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), J Kristiadi, menilai pencalonan Jokowi sebagai presiden sudah tak dapat ditunda-tunda lagi. Ini peluang terbaik bagi PDI Perjuangan saat memiliki kader setia yang diprediksinya bakal menang mudah di Pilpres 2014.
"Jokowi itu bisa dengan siapa saja, bersanding dengan daun pun pasti menang," kata Kristiadi.
Sumber :
kompas.com
Tak bisa dipungkiri, pria yang akrab disapa Jokowi ini adalah kader potensial milik PDI Perjuangan yang sempat memimpin Surakarta, kemudian loncat memimpin Ibu Kota. Beberapa saat memimpin DKI Jakarta, Jokowi menjadi jawara dalam berbagai survei pemilihan presiden (pilpres) yang dilakukan sejumlah lembaga.
Nama Jokowi yang sering dikaitkan dalam kompetisi pilpres tentu tak bisa dianggap angin lalu oleh partai politik peserta Pemilu 2014. Meski belum ada keputusan resmi dari PDI Perjuangan untuk mengusung Jokowi pada 2014, terakhir, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo sempat menyatakan pihaknya mulai mempertimbangkan Jokowi untuk maju sebagai calon presiden (capres).
Apakah Jokowi membuat risih tokoh lain yang akan maju dalam pilpres mendatang? Jawabannya mungkin saja karena Jokowi dihitung sebagai lawan terkuat bila akhirnya Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri merestui anak didiknya itu bertarung memperebutkan kursi RI 1.
Kerisihan partai politik menyikapi kehadiran Jokowi dalam pertarungan Pilpres 2014 ditanggapi berbeda-beda. Ada partai yang memilih bertarung head to head, ada juga yang memilih cara lembut, yakni dengan konsolidasi mengupayakan peluang koalisi.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Melani Leimina Suharli, mengatakan, pemenang konvensi calon presiden yang digelar partainya harus bisa mengalahkan semua capres dari partai lain, termasuk Jokowi. Menurut Melani, konvensi capres Partai Demokrat menjadi sia-sia bila akhirnya tak mampu memenangkan pilpres.
Melani mengatakan, pihaknya akan habis-habisan mendorong pemenang konvensi capres untuk memenangkan pilpres. Meski demikian, pernyataan Melani berseberangan dengan visi dari Hayono Isman yang berniat mengikuti konvensi. Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini mengaku, bila memenangkan konvensi, dia akan mengarungi pertarungan pilpres dengan fair dan penuh rasa persahabatan.
Sikap berbeda dipertontonkan oleh Gerindra yang mengaku bangga dengan terus melambungnya popularitas Jokowi. Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Martin Hutabarat, menyatakan pihaknya terus melakukan komunikasi intens dengan PDI Perjuangan untuk menyiapkan kemungkinan koalisi dalam pilpres mendatang.
Menurut Martin, Gerindra dan PDI Perjuangan memiliki kedekatan spesial dan seperti saudara serumpun. Bahkan, ia menilai, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto cocok berduet dengan Jokowi sebagai pasangan capres dan cawapres seperti pada 2009 lalu di mana Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjadi calon presiden dan didampingi oleh Prabowo.
"Bagi Gerindra, akan jadi kebanggaan Pak Jokowi disukai jadi gubernur dan cawapres. Kami akan selalu seperti orang dalam, satu rumpun dan saling memercayai. Sejak 2009, hubungan itu selalu terjaga," kata Martin.
Langkah Gerindra menyikapi kehadiran Jokowi dalam belantika politik nasional hampir sama dengan yang ditunjukkan oleh Partai Amanat Nasional (PAN). Ketua Majelis Pertimbangan PAN Amien Rais mengaku tak ingin terlalu ambisius mengusung Ketua Umum PAN Hatta Rajasa sebagai capres. Ia memilih realistis dan siap menerima kenyataan jika pada akhirnya PAN hanya bisa mengusung Hatta sebagai cawapres.
Amien menegaskan, Hatta akan diduetkan dengan tokoh nasional yang berasal dari tanah Jawa. Namun, tokoh tersebut harus memiliki visi dan misi perjuangan yang sama dengan yang diusung PAN. Menurut Amien dan berdasarkan masukan dari rekan-rekannya yang menjadi dosen Universitas Gadjah Mada, Hatta sangat cocok menjadi cawapres mendampingi Jokowi.
"Jokowi dengan Pak Hatta. Karena pertimbangannya apa? Jokowi-Hatta Rajasa, itu kan mirip-mirip dengan Bung Karno dengan Hatta," kata Amien.
Langkah apa pun yang dipilih setiap partai untuk menyikapi kehadiran Jokowi harusnya tidak mencederai pesta demokrasi lima tahunan ini. Suka tidak suka, saat ini Jokowi telanjur diprimadonakan.
Peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), J Kristiadi, menilai pencalonan Jokowi sebagai presiden sudah tak dapat ditunda-tunda lagi. Ini peluang terbaik bagi PDI Perjuangan saat memiliki kader setia yang diprediksinya bakal menang mudah di Pilpres 2014.
"Jokowi itu bisa dengan siapa saja, bersanding dengan daun pun pasti menang," kata Kristiadi.
Sumber :
kompas.com
Jokowi Siap Jadikan Pasar Tanah Abang Terbesar di Asia
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menata kawasan pasar Tanah Abang supaya menjadi pusat perdagangan yang nyaman bagi pedagang dan pembeli.
Salah satu upaya itu adalah menata para pedagang kaki lima (PKL) supaya bisa dipindahkan ke pasar Blok G.
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), Rabu 7 Agustus 2013, mengatakan, saat ini Pemprov sudah memiliki konsep pembangunan pasar Tanah Abang supaya menjadi pusat perdagangan grosir terbesar di Asia.
"Ini akan menjadi pusat perdagangan grosir terbesar di Asia. Besar sekali nanti, panduan desainnya sudah ada," kata Jokowi. Saat ini, pasar Tanah Abang dikenal sebagai pusat grosir terbesar di Asia Tenggara.
Walaupun sudah ada desainnya, Jokowi melanjutkan, untuk menjadikan pasar Tanah Abang sebagai pusat grosir terbesar Asia dan pasar yang nyaman, akan memakan waktu sangat lama. Karena, membutuhkan kesiapan, baik dari keadaan sosial masyarakat maupun dari segi infrastrukturnya.
"Itu perlu waktu panjang 10 sampai 15 tahun untuk menuju ke sana," kata Jokowi.
Saat ini, Pemprov DKI Jakarta akan menyelesaikan secara perlahan apa saja yang harus diperbaiki. Menurut dia, salah satunya dengan penataan PKL yang semrawut. "Nanti ditata secara rapi, kontrol manajemennya harus baik," katanya.
Seperti diketahui, dari 1.067 kios di Pasar Tanah Abang Blok G, sebanyak 99 kios masih direnovasi. Adapun jumlah PKL yang sudah terdaftar untuk direlokasi adalah 961 pedagang.
Mereka terdiri atas 470 pedagang dari DKI Jakarta, 313 luar DKI, dan 178 sisanya merupakan pedagang yang mendaftar langsung di Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perdagangan.
Sumber :
viva.co.id
Salah satu upaya itu adalah menata para pedagang kaki lima (PKL) supaya bisa dipindahkan ke pasar Blok G.
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), Rabu 7 Agustus 2013, mengatakan, saat ini Pemprov sudah memiliki konsep pembangunan pasar Tanah Abang supaya menjadi pusat perdagangan grosir terbesar di Asia.
"Ini akan menjadi pusat perdagangan grosir terbesar di Asia. Besar sekali nanti, panduan desainnya sudah ada," kata Jokowi. Saat ini, pasar Tanah Abang dikenal sebagai pusat grosir terbesar di Asia Tenggara.
Walaupun sudah ada desainnya, Jokowi melanjutkan, untuk menjadikan pasar Tanah Abang sebagai pusat grosir terbesar Asia dan pasar yang nyaman, akan memakan waktu sangat lama. Karena, membutuhkan kesiapan, baik dari keadaan sosial masyarakat maupun dari segi infrastrukturnya.
"Itu perlu waktu panjang 10 sampai 15 tahun untuk menuju ke sana," kata Jokowi.
Saat ini, Pemprov DKI Jakarta akan menyelesaikan secara perlahan apa saja yang harus diperbaiki. Menurut dia, salah satunya dengan penataan PKL yang semrawut. "Nanti ditata secara rapi, kontrol manajemennya harus baik," katanya.
Seperti diketahui, dari 1.067 kios di Pasar Tanah Abang Blok G, sebanyak 99 kios masih direnovasi. Adapun jumlah PKL yang sudah terdaftar untuk direlokasi adalah 961 pedagang.
Mereka terdiri atas 470 pedagang dari DKI Jakarta, 313 luar DKI, dan 178 sisanya merupakan pedagang yang mendaftar langsung di Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perdagangan.
Sumber :
viva.co.id
Jokowi Instruksikan Jajaran Antisipasi Kebakaran
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan jajaran di
kecamatan hingga kelurahan untuk mengantisipasi kebakaran di sekitar
wilayahnya.
Dia menegaskan untuk terus memantau anak buah walaupun dalam masa cuti Lebaran.
"Saya selalu muter terus dan saya cek kerja atau tidak. Pasti saya telpon [kepala dinas] jika tidak siaga," kata Jokowi di Jakarta, Rabu (7/8/2013)
Menurutnya walau pun sekarang masih dalam suasana cuti Lebaran tetapi seluruh jajarannya harus selalu siap. Apalagi Dinas Pemadam Kebakaran, Karena kata dia, tugasnya menyangkut hajat hidup orang banyak
Selain itu, Jokowi juga menghimbau kepada jajaran terkecil seperti RT dan RW supaya mengawasil pemukiman di sekitar lingkungannya.
Peran RT dan RW, sambungnya, sangat penting supaya mengimbau warganya agar tidak meninggalkan rumah dalam keadaan lampu menyala dan gas masih terhubung.
Sumber :
bisnis.com
Dia menegaskan untuk terus memantau anak buah walaupun dalam masa cuti Lebaran.
"Saya selalu muter terus dan saya cek kerja atau tidak. Pasti saya telpon [kepala dinas] jika tidak siaga," kata Jokowi di Jakarta, Rabu (7/8/2013)
Menurutnya walau pun sekarang masih dalam suasana cuti Lebaran tetapi seluruh jajarannya harus selalu siap. Apalagi Dinas Pemadam Kebakaran, Karena kata dia, tugasnya menyangkut hajat hidup orang banyak
Selain itu, Jokowi juga menghimbau kepada jajaran terkecil seperti RT dan RW supaya mengawasil pemukiman di sekitar lingkungannya.
Peran RT dan RW, sambungnya, sangat penting supaya mengimbau warganya agar tidak meninggalkan rumah dalam keadaan lampu menyala dan gas masih terhubung.
Sumber :
bisnis.com
Rakyat Mau Jokowi Bukan Gita
Para tokoh yang memperebutkan kursi nomor satu di Indonesia diingatkan agar tetap menginjak pada realita. Sebab presiden merupakan pilihan rakyat, bukan partai politik.
Budayawan, sejarawan, dan juga tokoh Betawi, Ridwan Saidi, mengatakan, saat ini orang sedang menyorot Joko Widodo (Jokowi), bukan Gita Wirjawan ataupun tokoh lainnya.
"Saya bukan pemuja Jokowi. Saya orang politik. Orang politik itu harus berpijak pada realita," ujar Ridwan saat dijumpai di rumahnya, di Bintaro, Jakarta, Selasa (7/8/2013).
Ridwan menceritakan seperti apa realita yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Pada suatu ketika, kata dia, Effendi Gazali menyampaikan bahwa dia sudah didekati oleh empat menteri yang mendukung Gita Wirjawan. Lalu, Ridwan pun menanggapi ucapan Effendi itu.
"Saya bilang, wahai Efendi, saya tinggal di Bintaro Jaya. Orang bilang yang tinggal di situ berkecukupan. Saya sering duduk di sini (di teras), tetangga pada mampir, enggak satu biji yang nanyain Gita Wirjawan," ungkap Ridwan.
"Kadang-kadang dia (tetangga) kenal juga enggak. Jangan salah, ini di Bintaro, lho. Apalagi di Jembatan Besi, apalagi di Kampung Lontar, Pontang, Banten," tutur dia.
"Kita realistislah. Bahwa dia (Gita Wirjawan) bersemangat terserah saja. Dia bilang Facebooker-nya ada 60 juta juga terserah dia, saya enggak ngitungin," imbuh Ridwan.
Realita politik, menurut Ridwan, mudah diamati, seperti mengamati talkshow yang dibawakan pelawak Tukul Arwana, ataupun acara komedi di stasiun televisi yang sama. Meski ia tak suka, nyatanya rating kedua acara televisi itu tinggi.
"Anda boleh bicara dari segi intelektual, tapi Anda berhadapan dengan tokoh yang orang Indonesia merindukan yang seperti ini," jelasnya.
Menurutnya, orang Indonesia sejak lama tidak hanya kehilangan sosok kejujuran, tetapi juga sistem kejujuran. Sistem kekuasaan selalu dianggap mengecewakan. Sejak zaman Belanda, Jepang, bahkan mengharap kejujuran zaman kemerdekaan pun, kata dia, sama saja.
"Orang sudah kehilangan harapan dengan sistem kekuasaan. Tiba-tiba muncullah Jokowi. Ternyata, konsepsi orang tentang penguasa itu kejujuran, ketulusan, bukan intelektualitas," ujarnya.
Menurut Ridwan, jika Jokowi terpilih jadi RI-1, itu sudah persoalan "jodoh politik". Orang-orang tidak bisa mengatur mekanisme yang bergerak sendiri. Dan, pada gilirannya, jodoh politik bukan masalah kasak-kusuk politik.
"Saya itu melihat, orang enggak ada yang ngomongin Gita Wirjawan. Rakyat maunya dia (Jokowi), mau apa?" cetusnya.
Sumber :
tribunnews.com
Budayawan, sejarawan, dan juga tokoh Betawi, Ridwan Saidi, mengatakan, saat ini orang sedang menyorot Joko Widodo (Jokowi), bukan Gita Wirjawan ataupun tokoh lainnya.
"Saya bukan pemuja Jokowi. Saya orang politik. Orang politik itu harus berpijak pada realita," ujar Ridwan saat dijumpai di rumahnya, di Bintaro, Jakarta, Selasa (7/8/2013).
Ridwan menceritakan seperti apa realita yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Pada suatu ketika, kata dia, Effendi Gazali menyampaikan bahwa dia sudah didekati oleh empat menteri yang mendukung Gita Wirjawan. Lalu, Ridwan pun menanggapi ucapan Effendi itu.
"Saya bilang, wahai Efendi, saya tinggal di Bintaro Jaya. Orang bilang yang tinggal di situ berkecukupan. Saya sering duduk di sini (di teras), tetangga pada mampir, enggak satu biji yang nanyain Gita Wirjawan," ungkap Ridwan.
"Kadang-kadang dia (tetangga) kenal juga enggak. Jangan salah, ini di Bintaro, lho. Apalagi di Jembatan Besi, apalagi di Kampung Lontar, Pontang, Banten," tutur dia.
"Kita realistislah. Bahwa dia (Gita Wirjawan) bersemangat terserah saja. Dia bilang Facebooker-nya ada 60 juta juga terserah dia, saya enggak ngitungin," imbuh Ridwan.
Realita politik, menurut Ridwan, mudah diamati, seperti mengamati talkshow yang dibawakan pelawak Tukul Arwana, ataupun acara komedi di stasiun televisi yang sama. Meski ia tak suka, nyatanya rating kedua acara televisi itu tinggi.
"Anda boleh bicara dari segi intelektual, tapi Anda berhadapan dengan tokoh yang orang Indonesia merindukan yang seperti ini," jelasnya.
Menurutnya, orang Indonesia sejak lama tidak hanya kehilangan sosok kejujuran, tetapi juga sistem kejujuran. Sistem kekuasaan selalu dianggap mengecewakan. Sejak zaman Belanda, Jepang, bahkan mengharap kejujuran zaman kemerdekaan pun, kata dia, sama saja.
"Orang sudah kehilangan harapan dengan sistem kekuasaan. Tiba-tiba muncullah Jokowi. Ternyata, konsepsi orang tentang penguasa itu kejujuran, ketulusan, bukan intelektualitas," ujarnya.
Menurut Ridwan, jika Jokowi terpilih jadi RI-1, itu sudah persoalan "jodoh politik". Orang-orang tidak bisa mengatur mekanisme yang bergerak sendiri. Dan, pada gilirannya, jodoh politik bukan masalah kasak-kusuk politik.
"Saya itu melihat, orang enggak ada yang ngomongin Gita Wirjawan. Rakyat maunya dia (Jokowi), mau apa?" cetusnya.
Sumber :
tribunnews.com
Ajudan Jokowi Kena DBD, Rumah Dinas Difogging
"Ada itu 2 (ajudan jokowi.red) kena DB," ujar asisten pribadi Jokowi, David, Rabu (7/8/2013).
"Kan biar enggak kena DB," imbuh David kepada wartawan.
Dari pantauan, tampak asap fogging menyelimuti bagian luar rumah bercat putih tersebut. Beberapa ajudan juga terlihat mengenakan masker dan berada di halaman rumah. Lalu, dimana Jokowi?
"Bapak diatas. Kan enggak kena, yang dibawah aja yang difogging," ujar David.
Sumber :
detik.com
Lulung Lunggana Lebih Suka Cara Jokowi Ketimbang Ahok
Terkait penertiban PKL Tanah Abang, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Lulung Lunggana, menyebut Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) lebih mengerti penanganan PKL di Tanah Abang ketimbang Wagub DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Lulung menyatakan hal itu ketika mendapat laporan Jokowi turun langsung ke lapangan untuk melihat langsung persoalan PKL Tanah Abang.
"Saya memberi apresiasi pada pak Jokowi yang begitu perhatian terhadap PKL Tanah Abang. Ini menjadi bukti kalau pak Jokowi lebih mengerti terrhadap persoalan PKL ketimbang Ahok, yang hanya bisa berbicara di media dengan pernyataan-pernyataannya yang arogan," tegas Lulung dalam pernyataan persnya, Rabu (7/8/2013).
Menurut Lulung, Jokowi merupakan sosok pemimpin panutan dan bisa memberikan contoh yang baik bagi warga Jakarta.
"Sekali lagi, kita harus berikan apresiasi terhadap pak Jokowi. Dia tidak banyak bicara tapi banyak kerja," cetusnya.
Bicara PKL Pasar Tanah Abang, dirinya sepakat dengan apa yang dikatakan Jokowi terkait harus ada penataan yang baik. "Ya, perlu adanya penataan yang baik di Pasar Tanah Abang. Sehingga nantinya tidak ada lagi kemacetan dan PKL yang berjualan disana," jelas Lulung.
Bicara penataan, kata Lulung, sudah barang tentu berbicara pengembangan infrastruktur disana.
Seperti di ketahui, untuk mengetahui persoalan PKL di Tanah Abang, Jokowi turun langsung ke Pasar Tanah Abang. Disana, Jokowi langsung melakukan komunikasi dengan pedagang. Hasilnya, pedagang setelah Lebaran usai, siap direlokasi ketempat yang sudah disiapkan oleh Pemprov DKI yakni Blok G.
"Pada dasarnya, demi ketertiban pedagang mau direlokasi hanya saja waktunya nanti setelah Lebaran. Jadi sekali lagi saya tekankan sudah tidak ada lagi persoalan PKL di Tanah Abang ini," tandasnya.
Sumber :
tribunnews.com
Lulung menyatakan hal itu ketika mendapat laporan Jokowi turun langsung ke lapangan untuk melihat langsung persoalan PKL Tanah Abang.
"Saya memberi apresiasi pada pak Jokowi yang begitu perhatian terhadap PKL Tanah Abang. Ini menjadi bukti kalau pak Jokowi lebih mengerti terrhadap persoalan PKL ketimbang Ahok, yang hanya bisa berbicara di media dengan pernyataan-pernyataannya yang arogan," tegas Lulung dalam pernyataan persnya, Rabu (7/8/2013).
Menurut Lulung, Jokowi merupakan sosok pemimpin panutan dan bisa memberikan contoh yang baik bagi warga Jakarta.
"Sekali lagi, kita harus berikan apresiasi terhadap pak Jokowi. Dia tidak banyak bicara tapi banyak kerja," cetusnya.
Bicara PKL Pasar Tanah Abang, dirinya sepakat dengan apa yang dikatakan Jokowi terkait harus ada penataan yang baik. "Ya, perlu adanya penataan yang baik di Pasar Tanah Abang. Sehingga nantinya tidak ada lagi kemacetan dan PKL yang berjualan disana," jelas Lulung.
Bicara penataan, kata Lulung, sudah barang tentu berbicara pengembangan infrastruktur disana.
Seperti di ketahui, untuk mengetahui persoalan PKL di Tanah Abang, Jokowi turun langsung ke Pasar Tanah Abang. Disana, Jokowi langsung melakukan komunikasi dengan pedagang. Hasilnya, pedagang setelah Lebaran usai, siap direlokasi ketempat yang sudah disiapkan oleh Pemprov DKI yakni Blok G.
"Pada dasarnya, demi ketertiban pedagang mau direlokasi hanya saja waktunya nanti setelah Lebaran. Jadi sekali lagi saya tekankan sudah tidak ada lagi persoalan PKL di Tanah Abang ini," tandasnya.
Sumber :
tribunnews.com
Komentar Seputar Tragedi Pelecehan SBY
Ibarat bintang, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sedang terang benderang. Begitu terangnya, sinarnya bahkan mengalahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terpuruk nyaris bagai debu di padang pasir.
Drama pelecehan terjadi ketika SBY meninjau sistem pengelolaan zakat yang dilaksanakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) di halaman kantor Baznas, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (5/8/2013).
Awal cerita, Jokowi yang turut mendampingi SBY, keluar dari ruangan terlebih dahulu beberapa menit sebelum SBY.
Setelah itu dilanjutkan oleh sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, seperti Menko Polhukam Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Mereka pun berkumpul di sisi kiri podium tempat SBY berpidato.
Namun saat Presiden SBY bersama Wapres Boediono dan Menteri Agama Suryadharma Ali keluar dari ruang kantor Baznas, Jokowi seketika melangkahkan kakinya menuju barisan wartawan dan warga yang berdiri di dekat pagar kantor Baznas yang telah dibatasi oleh garis Paspampres. Aksi Jokowi itu mengundang perhatian beberapa wartawan dan warga.
"Eh, Pak Jokowi di dekat kita. Ya ampun, saya berdiri di dekat orang bijaksana," kata seorang Ibu sambil menatap Jokowi.
Melihat Jokowi ada di dekat mereka, lantas beberapa warga pun mencoba mendekati Jokowi dan mengarahkan kamera ponsel mereka kepada Jokowi. Aksi para warga itu pun mengusik personel Paspampres yang berjaga untuk menenangkan warga yang mulai berisik melihat Jokowi. Pasalnya, saat itu SBY sedang berpidato dan situasi memang harus kondusif.
Raut muka Jokowi pun tampak serius memperhatikan pidato dan instruksi Presiden. Senyum tak muncul di wajahnya, dan matanya terus memperhatikan Presiden. Namun, warga tetap bergantian berdiri di sampingnya untuk berfoto.
Hingga Presiden selesai memberikan arahannya, warga masih terus bergantian berdiri di sisi Jokowi untuk mengabadikan momen itu. Ketika Presiden meninggalkan podium, Jokowi langsung berbalik badan dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju sisi kiri mobil yang ditumpangi Presiden.
Bersama Kapolres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol, Jokowi mengantarkan Presiden dan rombongan hingga masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Jokowi kembali dikerubuti warga setempat untuk berfoto.
Bahkan ia ditarik oleh Kepala Baznas Didin Hafidhuddin yang memintanya untuk berfoto bersama karyawan Baznas yang sudah rapi membentuk barisan di halaman kantor untuk mengabadikan momen bersama tokoh yang disebut-sebut akan mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia tersebut.
Berita itu mengundang komentar, baik lewat jaringan @tribunnews maupun Facebook Page Tribunnews.com. Antara lain:
Iwan Setiawan Karena Warga tau Pidato nya sama Up date Sttus GAaLAau mulu
Elvitameitisyahriani Hahahaa...masyarakat sudah tau mana yg lbh berMUTU...
WARGA INDONESIA @SyafiiKompol Rakyat sdh pinter..
monika yunio p @monikayunio hahaha sakne
donnaria manullang @dona_mAnullang Hhahaha..kesian yah. Presiden udh gak ada wibawa ckckck
Barnas Kamora @barnasKamora Warga sdh sangat cerdas, mana yg penting rupanya..
Agus Priyanto @AgusL_emende Bikin ngantuk
unytha V Hutagalung @JunythaVH gue akan melakukan hal yg sama kalo gue ada disitu!
Sumber :
tribunnews.com
Drama pelecehan terjadi ketika SBY meninjau sistem pengelolaan zakat yang dilaksanakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) di halaman kantor Baznas, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (5/8/2013).
Awal cerita, Jokowi yang turut mendampingi SBY, keluar dari ruangan terlebih dahulu beberapa menit sebelum SBY.
Setelah itu dilanjutkan oleh sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, seperti Menko Polhukam Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Mereka pun berkumpul di sisi kiri podium tempat SBY berpidato.
Namun saat Presiden SBY bersama Wapres Boediono dan Menteri Agama Suryadharma Ali keluar dari ruang kantor Baznas, Jokowi seketika melangkahkan kakinya menuju barisan wartawan dan warga yang berdiri di dekat pagar kantor Baznas yang telah dibatasi oleh garis Paspampres. Aksi Jokowi itu mengundang perhatian beberapa wartawan dan warga.
"Eh, Pak Jokowi di dekat kita. Ya ampun, saya berdiri di dekat orang bijaksana," kata seorang Ibu sambil menatap Jokowi.
Melihat Jokowi ada di dekat mereka, lantas beberapa warga pun mencoba mendekati Jokowi dan mengarahkan kamera ponsel mereka kepada Jokowi. Aksi para warga itu pun mengusik personel Paspampres yang berjaga untuk menenangkan warga yang mulai berisik melihat Jokowi. Pasalnya, saat itu SBY sedang berpidato dan situasi memang harus kondusif.
Raut muka Jokowi pun tampak serius memperhatikan pidato dan instruksi Presiden. Senyum tak muncul di wajahnya, dan matanya terus memperhatikan Presiden. Namun, warga tetap bergantian berdiri di sampingnya untuk berfoto.
Hingga Presiden selesai memberikan arahannya, warga masih terus bergantian berdiri di sisi Jokowi untuk mengabadikan momen itu. Ketika Presiden meninggalkan podium, Jokowi langsung berbalik badan dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju sisi kiri mobil yang ditumpangi Presiden.
Bersama Kapolres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol, Jokowi mengantarkan Presiden dan rombongan hingga masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Jokowi kembali dikerubuti warga setempat untuk berfoto.
Bahkan ia ditarik oleh Kepala Baznas Didin Hafidhuddin yang memintanya untuk berfoto bersama karyawan Baznas yang sudah rapi membentuk barisan di halaman kantor untuk mengabadikan momen bersama tokoh yang disebut-sebut akan mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia tersebut.
Berita itu mengundang komentar, baik lewat jaringan @tribunnews maupun Facebook Page Tribunnews.com. Antara lain:
Iwan Setiawan Karena Warga tau Pidato nya sama Up date Sttus GAaLAau mulu
Elvitameitisyahriani Hahahaa...masyarakat sudah tau mana yg lbh berMUTU...
WARGA INDONESIA @SyafiiKompol Rakyat sdh pinter..
monika yunio p @monikayunio hahaha sakne
donnaria manullang @dona_mAnullang Hhahaha..kesian yah. Presiden udh gak ada wibawa ckckck
Barnas Kamora @barnasKamora Warga sdh sangat cerdas, mana yg penting rupanya..
Agus Priyanto @AgusL_emende Bikin ngantuk
unytha V Hutagalung @JunythaVH gue akan melakukan hal yg sama kalo gue ada disitu!
Sumber :
tribunnews.com
Pemimpin Malaysia...Kunjungi Jakarta dan Contoh Jokowi
Nama Jokowi kembali go international. Untuk kesekian kalinya, kiprahnya dibahas di media luar. Setelah BBC menyebut 'Obamanya Jakarta', The Malay Mail 'Butuh Jokowinya Malaysia', The Hindu 'Mana Jokowinya India?', kini giliran The Star Malaysia yang mengulasnya lewat artikel berjudul 'Lessons from Tanah Abang' edisi 6 Agustus 2013.
Dalam ulasan tersebut, kolumnis Karim Raslan menuliskan bagaimana Jokowi berhasil menangani ruwetnya memindahkan para pedagang kaki lima (PKL) yang bercokol di Tanah Abang. Cara pamungkas Jokowi, lewat blusukan.
"Blusukan yang dilakukan Jokowi tanpa pengawalan ketat membuatnya bisa memecahkan masalah langsung ke lapangan. Dengan cara ini, seorang pemimpin bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi," tulis Karim, seperti dimuat The Star, Selasa (6/8/2013).
Artikel Karim dibuka dengan perbandingan masalah ibukota di negara Asia Tenggara. "Di Kuala Lumpur terjadi kriminal, Singapura masalah transportasi dan kaum pendatang. Sedangkan di Jakarta dan Manila, macet dan banjir."
Semua permasalahan itu mengakar dari urbanisasi dan membutuhkan sebuah solusi. Bagaimana caranya? "Coba kita tengok Indonesia, tepatnya Jakarta.
PKL Tanah Abang
Di kota itu (Jakarta), jelas Karim, ada tantangan berat yang harus dihadapi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Ketika banyak orang membicarakan potensinya untuk maju sebagai capres, namun ada hal menarik lain, yakni gaya kepemimpinannya yang tak terduga.
"Tanah Abang (yang menjadi tujuan utama orang Malaysia untuk belanja) merupakan pusat perdagangan tekstil besar dan pasar paling sibuk di Asia. Pasar ini telah berdiri sejak 250 tahun lalu."
Kini ada sekitar 28 ribu pedagang yang tersebar di 6 lantai. Juga ada yang di pinggir jalan. Sangat ramai. Apalagi menjelang Lebaran. Sampai bikin macet jalan sekitar.
"Karenanya dibutuhkan pendekatan yang tepat untuk memindahkan para pedagang," sebut penulis beberapa buku itu.
"Selain pengusaha pakaian, ada kelompok lokal (preman) yang berbagi bisnis dengan pemerintah," imbuh dia.
Jokowi pun datang menjadi Gubernur. Ia menghadapi masalah yang hampir sama sewaktu menjabat sebagai Walikota Solo: sulitnya merelokasi PKL.
PKL Solo
Pada 2005 silam, Jokowi harus berusaha keras untuk meyakinkan para pengusaha dan PKL agar pindah ke tempat baru di Klithikan Semanggi, Solo.
"Dan Jokowi pada akhirnya berhasil, seperti yang ditulis Rushad Majeed dalam penelitiannya di Princeton University berjudul 'Innovations for Successful Societies' dengan mengadakan lebih dari 50 kali pertemuan dengan para PKL."
Ini bukan hanya urusan satu belah pihak. Sebagai walikota yang mendengar tuntutan PKL, Jokowi mengumpulkan data dan melakukan tawar-menawar yang alot. "Ini adalah bentuk dari gaya kepemimpinan 'blusukan' nya yang sekarang populer di Jakarta."
Namun apa yang dilakukan Jokowi saat ini tidaklah dianggap mudah. Ia dan wakilnya Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dikritik politisi lokal dan kelompok-kelompok yang menuduh mereka tidak memahami kebutuhan PKL.
"Namun kesabaran mereka terbayarkan dan Basuki mengumumkan pada hari Selasa 30 Juli 2013 bahwa PKL di Tanah Abang telah setuju untuk pindah ke dekat Blok G, dimana sekitar 1.000 kios telah didirikan."
Keberhasilan Jokowi dalam menyelesaikan masalah di Tanah Abang mungkin tampak sulit dipercaya. Namun sebenarnya ini merupakan langkah besar untuk negara.
"Ini membuktikan bahwa perubahan itu mungkin. Perubahan hanya dapat dilakukan ketika para pemimpin terlibat ke bawah dengan masyarakat.
Blusukan
Blusukan (Istilah Indonesia untuk bertemu orang secara langsung di lapangan) telah menjadi kunci dari segalanya.
Dengan turun langsung ke lapangan, memeriksa para pegawai sipil, Jokowi semakin mendapat dukungan dan dipercaya penuh rakyat. Ini menjadi modal besar baginya.
"Jauh dibanding seorang politisi yang skeptis, tak peduli. Sehingga masyarakat sulit untuk percaya."
Jokowi saat ini tengah merancang solusi besar untuk menuntaskan masalah banjir dan macet. Seperti membujuk penghuni liar di Pluit demi program penanganan banjir.
"Aksinya bagai superhero Hercules. Mampu mengajak 7.000 keluarga untuk pindah ke tempat yang lebih tepat. Kemampuan persuasif positifnya sangat besar."
Blusukan yang dilakukan Jokowi tanpa pengawalan ketat membuatnya bisa memecahkan masalah langsung ke lapangan. Dengan cara ini, seorang pemimpin bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebagai warga negara Malaysia yang baik, saya sarankan pemimpin kita perlu ke Jakarta dan mencontoh apa yang Jokowi lakukan di sana. Mungkin kita membutuhkan seorang pemimpin yang melakukan blusukan untuk mendengar dan belajar?"
Sumber :
liputan6.com
Dalam ulasan tersebut, kolumnis Karim Raslan menuliskan bagaimana Jokowi berhasil menangani ruwetnya memindahkan para pedagang kaki lima (PKL) yang bercokol di Tanah Abang. Cara pamungkas Jokowi, lewat blusukan.
"Blusukan yang dilakukan Jokowi tanpa pengawalan ketat membuatnya bisa memecahkan masalah langsung ke lapangan. Dengan cara ini, seorang pemimpin bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi," tulis Karim, seperti dimuat The Star, Selasa (6/8/2013).
Artikel Karim dibuka dengan perbandingan masalah ibukota di negara Asia Tenggara. "Di Kuala Lumpur terjadi kriminal, Singapura masalah transportasi dan kaum pendatang. Sedangkan di Jakarta dan Manila, macet dan banjir."
Semua permasalahan itu mengakar dari urbanisasi dan membutuhkan sebuah solusi. Bagaimana caranya? "Coba kita tengok Indonesia, tepatnya Jakarta.
PKL Tanah Abang
Di kota itu (Jakarta), jelas Karim, ada tantangan berat yang harus dihadapi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Ketika banyak orang membicarakan potensinya untuk maju sebagai capres, namun ada hal menarik lain, yakni gaya kepemimpinannya yang tak terduga.
"Tanah Abang (yang menjadi tujuan utama orang Malaysia untuk belanja) merupakan pusat perdagangan tekstil besar dan pasar paling sibuk di Asia. Pasar ini telah berdiri sejak 250 tahun lalu."
Kini ada sekitar 28 ribu pedagang yang tersebar di 6 lantai. Juga ada yang di pinggir jalan. Sangat ramai. Apalagi menjelang Lebaran. Sampai bikin macet jalan sekitar.
"Karenanya dibutuhkan pendekatan yang tepat untuk memindahkan para pedagang," sebut penulis beberapa buku itu.
"Selain pengusaha pakaian, ada kelompok lokal (preman) yang berbagi bisnis dengan pemerintah," imbuh dia.
Jokowi pun datang menjadi Gubernur. Ia menghadapi masalah yang hampir sama sewaktu menjabat sebagai Walikota Solo: sulitnya merelokasi PKL.
PKL Solo
Pada 2005 silam, Jokowi harus berusaha keras untuk meyakinkan para pengusaha dan PKL agar pindah ke tempat baru di Klithikan Semanggi, Solo.
"Dan Jokowi pada akhirnya berhasil, seperti yang ditulis Rushad Majeed dalam penelitiannya di Princeton University berjudul 'Innovations for Successful Societies' dengan mengadakan lebih dari 50 kali pertemuan dengan para PKL."
Ini bukan hanya urusan satu belah pihak. Sebagai walikota yang mendengar tuntutan PKL, Jokowi mengumpulkan data dan melakukan tawar-menawar yang alot. "Ini adalah bentuk dari gaya kepemimpinan 'blusukan' nya yang sekarang populer di Jakarta."
Namun apa yang dilakukan Jokowi saat ini tidaklah dianggap mudah. Ia dan wakilnya Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dikritik politisi lokal dan kelompok-kelompok yang menuduh mereka tidak memahami kebutuhan PKL.
"Namun kesabaran mereka terbayarkan dan Basuki mengumumkan pada hari Selasa 30 Juli 2013 bahwa PKL di Tanah Abang telah setuju untuk pindah ke dekat Blok G, dimana sekitar 1.000 kios telah didirikan."
Keberhasilan Jokowi dalam menyelesaikan masalah di Tanah Abang mungkin tampak sulit dipercaya. Namun sebenarnya ini merupakan langkah besar untuk negara.
"Ini membuktikan bahwa perubahan itu mungkin. Perubahan hanya dapat dilakukan ketika para pemimpin terlibat ke bawah dengan masyarakat.
Blusukan
Blusukan (Istilah Indonesia untuk bertemu orang secara langsung di lapangan) telah menjadi kunci dari segalanya.
Dengan turun langsung ke lapangan, memeriksa para pegawai sipil, Jokowi semakin mendapat dukungan dan dipercaya penuh rakyat. Ini menjadi modal besar baginya.
"Jauh dibanding seorang politisi yang skeptis, tak peduli. Sehingga masyarakat sulit untuk percaya."
Jokowi saat ini tengah merancang solusi besar untuk menuntaskan masalah banjir dan macet. Seperti membujuk penghuni liar di Pluit demi program penanganan banjir.
"Aksinya bagai superhero Hercules. Mampu mengajak 7.000 keluarga untuk pindah ke tempat yang lebih tepat. Kemampuan persuasif positifnya sangat besar."
Blusukan yang dilakukan Jokowi tanpa pengawalan ketat membuatnya bisa memecahkan masalah langsung ke lapangan. Dengan cara ini, seorang pemimpin bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebagai warga negara Malaysia yang baik, saya sarankan pemimpin kita perlu ke Jakarta dan mencontoh apa yang Jokowi lakukan di sana. Mungkin kita membutuhkan seorang pemimpin yang melakukan blusukan untuk mendengar dan belajar?"
Sumber :
liputan6.com
Jokowi Serius Bekerja, Parpol Serius Rebut Kekuasaan
Peneliti dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lusius
Karus mengemukakan, gaya parpol saat ini sungguh berbanding terbalik dengan
gaya Joko Widodo (Jokowi).
Jika parpol-parpol sudah tersedot energinya secara penuh untuk mendapatkan tokoh yang layak dicalonkan menjadi Presiden, Jokowi justru menunjukkan bahwa pekerjaannya sekarang menjadi yang paling utama.
"Jokowi sesungguhnya sedang mengolok-olok parpol yang memang hanya peduli dengan jabatan dan kekuasaan ketimbang memanfaatkan waktu dan kekuasaan mereka untuk berbakti nyata kepada bangsa. Walaupun parpol-parpol diuntungkan oleh perintah UU sebagai pihak yang berhak mencalonkan presiden, tetapi sesungguhnya hampir semua partai saat ini tak ada yang pantas untuk menjadi kendaraan politik Jokowi menuju kursi RI I," kata Lusius di Jakarta, Selasa (6/8) malam.
Ia menjelaskan, legitimasi etis kekuasaan yang menjadi pijakan Jokowi dalam memimpin sungguh tak berjalan seiring dengan kecenderungan parpol yang hanya menjalankan demokrasi sebagai alat untuk meraih kekuasaan semata.
Praktek kepemimpinan Jokowi merupakan koreksi total terhadap gaya parpol-parpol dalam memimpin bangsa.
Jokowi mendasarkan kepemimpinan dengan modal integritas dan kerja keras, sedangkan partai-partai menghindari integritas dan kerja keras itu dalam prakteknya.
"Jika banyak parpol merebut Jokowi maka kita harus mengatakan bahwa parpol-parpol itu hanya meributkan kegagalan mereka untuk melahirkan pemimpin berintegritas seperti Jokowi. Keasyikan mereka untuk merebut kekuasaan menelantarkan misi mendasar parpol pada kerja nyata bagi bangsa dalam arti sesungguhnya termasuk melahirkan calon pemimpin berintegritas," tuturnya.
Dia juga menegaskan jika integritas menjadi acuan, maka parpol-parpol yang ada saat ini tak satupun yang layak untuk dijadikan kendaraan politik Jokowi menuju RI I.
Sosok Jokowi ini melebihi kapasitas dan integritas parpol yang ada saat ini sehingga kalaupun Jokowi harus dicalonkan menjadi presiden 2014, maka itu hanya karena masyarakat yang menghendakinya, bukan parpol-parpol yang mengusungnya, apalagi yang meributkannya saat ini.
Sementara Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin mengemukakan parpol-parpol memperebutkan Jokowi karena hampir semua lembaga survei menempatkan jokowi sebagai kandidat terkuat dan pada saat yang sama hampir tidak ada suara-suara yang menolak hasil survei itu.
Maka dapat kita katakan bahwa sesungguhnya Jokowi adalah "Presiden RI" hari. Karena itu pula wajar dalam politik jika ada kandidat terkuat, kandidat lain atau parpol lain ingin merebut hati jokowi.
Sumber :
suarapembaruan.com
Jika parpol-parpol sudah tersedot energinya secara penuh untuk mendapatkan tokoh yang layak dicalonkan menjadi Presiden, Jokowi justru menunjukkan bahwa pekerjaannya sekarang menjadi yang paling utama.
"Jokowi sesungguhnya sedang mengolok-olok parpol yang memang hanya peduli dengan jabatan dan kekuasaan ketimbang memanfaatkan waktu dan kekuasaan mereka untuk berbakti nyata kepada bangsa. Walaupun parpol-parpol diuntungkan oleh perintah UU sebagai pihak yang berhak mencalonkan presiden, tetapi sesungguhnya hampir semua partai saat ini tak ada yang pantas untuk menjadi kendaraan politik Jokowi menuju kursi RI I," kata Lusius di Jakarta, Selasa (6/8) malam.
Ia menjelaskan, legitimasi etis kekuasaan yang menjadi pijakan Jokowi dalam memimpin sungguh tak berjalan seiring dengan kecenderungan parpol yang hanya menjalankan demokrasi sebagai alat untuk meraih kekuasaan semata.
Praktek kepemimpinan Jokowi merupakan koreksi total terhadap gaya parpol-parpol dalam memimpin bangsa.
Jokowi mendasarkan kepemimpinan dengan modal integritas dan kerja keras, sedangkan partai-partai menghindari integritas dan kerja keras itu dalam prakteknya.
"Jika banyak parpol merebut Jokowi maka kita harus mengatakan bahwa parpol-parpol itu hanya meributkan kegagalan mereka untuk melahirkan pemimpin berintegritas seperti Jokowi. Keasyikan mereka untuk merebut kekuasaan menelantarkan misi mendasar parpol pada kerja nyata bagi bangsa dalam arti sesungguhnya termasuk melahirkan calon pemimpin berintegritas," tuturnya.
Dia juga menegaskan jika integritas menjadi acuan, maka parpol-parpol yang ada saat ini tak satupun yang layak untuk dijadikan kendaraan politik Jokowi menuju RI I.
Sosok Jokowi ini melebihi kapasitas dan integritas parpol yang ada saat ini sehingga kalaupun Jokowi harus dicalonkan menjadi presiden 2014, maka itu hanya karena masyarakat yang menghendakinya, bukan parpol-parpol yang mengusungnya, apalagi yang meributkannya saat ini.
Sementara Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin mengemukakan parpol-parpol memperebutkan Jokowi karena hampir semua lembaga survei menempatkan jokowi sebagai kandidat terkuat dan pada saat yang sama hampir tidak ada suara-suara yang menolak hasil survei itu.
Maka dapat kita katakan bahwa sesungguhnya Jokowi adalah "Presiden RI" hari. Karena itu pula wajar dalam politik jika ada kandidat terkuat, kandidat lain atau parpol lain ingin merebut hati jokowi.
Sumber :
suarapembaruan.com
Jokowi Bantah TNI-Polri Terlibat Penertiban PKL Tanah Abang
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menampik telah melibatkan unsur Polri dan TNI dalam penataan kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Menurutnya, kedua unsur itu tak diperlukan karena pemindahan PKL telah rampung.
"Enggak kok, wong sudah mau pindah, mau ngapain lagi (mengerahkan Polri-TNI)?" ujar Jokowi seusai "blusukan" ke Tanah Abang, Selasa (6/8/2013).
Tak hanya Polri dan TNI, Jokowi melanjutkan, hal serupa juga diberlakukan bagi aparat Satpol PP.
Menurutnya, tugas mereka hanya pada penegakan hukum saja, bukan mengawal pemindahan pedagang kaki lima dari tepi jalan ke Blok G.
Sebelumnya, pada Senin (22/7/2013), Pemprov DKI Jakarta melakukan penataan Pasar Tanah Abang, yakni memakai sistem push and pull.
Artinya, menarik PKL dari jalan ke tempat yang tersedia dan mendorong angkutan kota untuk tertib lalu lintas.
Kepala Satpol PP DKI Kukuh Hadi Santoso mengatakan, tak hanya unsur Satpol PP, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Dinas Perhubungan, serta Polri dan TNI juga dilibatkan dalam penertiban ratusan pedagang kaki lima Pasar Tanah Abang.
Menurut dia, koordinasi tim gabungan perlu dilakukan terutama untuk penertiban. Sebab, PKL diperkirakan akan kembali dari kampung halaman setelah Kamis (15/8/2013).
Penjagaan kawasan sekitar Pasar Tanah Abang perlu dilakukan karena mereka akan datang lagi dan berusaha membuka lapak dagangan mereka.
Sejak Sabtu (3/8/2013), PD Pasar Jaya telah menutup pendaftaran PKL yang hendak masuk ke Blok G.
Sebanyak 961 lapak yang ada sudah terisi dan kini tersisa sebanyak 99 lapak yang masih direnovasi. Itu pun sudah ada PKL yang memesan.
Proses pemindahan PKL menurut rencana akan dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri, 11 Agustus 2013.
Sumber :
kompas.com
Menurutnya, kedua unsur itu tak diperlukan karena pemindahan PKL telah rampung.
"Enggak kok, wong sudah mau pindah, mau ngapain lagi (mengerahkan Polri-TNI)?" ujar Jokowi seusai "blusukan" ke Tanah Abang, Selasa (6/8/2013).
Tak hanya Polri dan TNI, Jokowi melanjutkan, hal serupa juga diberlakukan bagi aparat Satpol PP.
Menurutnya, tugas mereka hanya pada penegakan hukum saja, bukan mengawal pemindahan pedagang kaki lima dari tepi jalan ke Blok G.
Sebelumnya, pada Senin (22/7/2013), Pemprov DKI Jakarta melakukan penataan Pasar Tanah Abang, yakni memakai sistem push and pull.
Artinya, menarik PKL dari jalan ke tempat yang tersedia dan mendorong angkutan kota untuk tertib lalu lintas.
Kepala Satpol PP DKI Kukuh Hadi Santoso mengatakan, tak hanya unsur Satpol PP, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Dinas Perhubungan, serta Polri dan TNI juga dilibatkan dalam penertiban ratusan pedagang kaki lima Pasar Tanah Abang.
Menurut dia, koordinasi tim gabungan perlu dilakukan terutama untuk penertiban. Sebab, PKL diperkirakan akan kembali dari kampung halaman setelah Kamis (15/8/2013).
Penjagaan kawasan sekitar Pasar Tanah Abang perlu dilakukan karena mereka akan datang lagi dan berusaha membuka lapak dagangan mereka.
Sejak Sabtu (3/8/2013), PD Pasar Jaya telah menutup pendaftaran PKL yang hendak masuk ke Blok G.
Sebanyak 961 lapak yang ada sudah terisi dan kini tersisa sebanyak 99 lapak yang masih direnovasi. Itu pun sudah ada PKL yang memesan.
Proses pemindahan PKL menurut rencana akan dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri, 11 Agustus 2013.
Sumber :
kompas.com
Jokowi Angkat Telepon, Masalah Air Palyja Selesai
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) membicarakan masalah air bersih di
sejumlah wilayah di Jakarta dengan Direktur Utama PT PAM Jaya Sri
Widayanto Kaderi melalui telepon. Menurut Jokowi, Sri menjanjikan
masalah itu selesai hari ini, Rabu (7/8/2013).
"Sudah ditelepon. Kata (Sri) besok sudah diberesin, kan tepat lima hari berarti," ujar Jokowi, Selasa (6/8/2013).
Menurut Jokowi, ia biasa berkoordinasi melalui telepon. Jika masalah tak selesai, lanjut Jokowi, ia akan memberikan teguran atau turun langsung.
"Terus-terusan saya telepon. Saya sudah biasa manajemen via telepon semacam itu," lanjutnya.
Sejumlah wilayah di Jakarta mengalami masalah air bersih setelah panel pompa air baku (PAB) Cawang milik pihak ketiga, yaitu Perum Jasa Tirta (PJT) II, terbakar pada Sabtu (3/8/2013) sekitar pukul 09.20 WIB.
Kerusakan itu membuat kerusakan tersebut membuat pasokan air baku turun dari 5.600 liter per detik menjadi 1.200 liter per detik.
Palyja kemudian berusaha mendapatkan tambahan air baku dari Kanal Banjir Barat dan dari Tangerang melalui Distribution Central Reservoir 5 (DCR 5) di Lebak Bulus. PT Palyja juga mendapatkan bantuan air bersih sebanyak 500 liter per detik (lps) dari rekanan PAM Jaya lainnya, PT Aetra Air Jakarta.
"Sejak Sabtu 3 Agustus pukul 22.00 WIB, kami telah membuka katup pipa air di jaringan boundary pipa utama kami berdiameter 1.000 mm di Jalan MT Haryono yang biasanya ditutup," ujar Corporate Secretary Aetra Priyatno Bambang Hernowo, Selasa (6/8/2013).
Selain membuka katup pipa air di perbatasan area Aetra-Palyja di Jalan MT Haryono, pasokan air bersih itu diperoleh melalui maksimalisasi pemompaan air dari IPA Buaran. Ia mengharapkan, penambahan pasokan itu mampu memenuhi kebutuhan tempat strategis pelanggan Palyja, seperti di Istana Presiden, Masjid Istiqlal, maupun Balaikota DKI Jakarta.
Saat ini, lanjut Bambang, Aetra sedang melakukan evaluasi penambahan suplai melalui boundary pipe di Jalan Diponegoro. Upaya itu dilakukan agar pelanggan Aetra di Salemba, Cempaka Putih, Martadinata, dan Ancol tidak mengalami dampak terbakarnya panel listrik pompa air baku PJT II.
"Akan ada petugas siang dan malam untuk mengoperasikan katup pipa air. Kami juga memasang flow meter memonitor pengaliran," kata Priyatno.
Sumber :
kompas.com
"Sudah ditelepon. Kata (Sri) besok sudah diberesin, kan tepat lima hari berarti," ujar Jokowi, Selasa (6/8/2013).
Menurut Jokowi, ia biasa berkoordinasi melalui telepon. Jika masalah tak selesai, lanjut Jokowi, ia akan memberikan teguran atau turun langsung.
"Terus-terusan saya telepon. Saya sudah biasa manajemen via telepon semacam itu," lanjutnya.
Sejumlah wilayah di Jakarta mengalami masalah air bersih setelah panel pompa air baku (PAB) Cawang milik pihak ketiga, yaitu Perum Jasa Tirta (PJT) II, terbakar pada Sabtu (3/8/2013) sekitar pukul 09.20 WIB.
Kerusakan itu membuat kerusakan tersebut membuat pasokan air baku turun dari 5.600 liter per detik menjadi 1.200 liter per detik.
Palyja kemudian berusaha mendapatkan tambahan air baku dari Kanal Banjir Barat dan dari Tangerang melalui Distribution Central Reservoir 5 (DCR 5) di Lebak Bulus. PT Palyja juga mendapatkan bantuan air bersih sebanyak 500 liter per detik (lps) dari rekanan PAM Jaya lainnya, PT Aetra Air Jakarta.
"Sejak Sabtu 3 Agustus pukul 22.00 WIB, kami telah membuka katup pipa air di jaringan boundary pipa utama kami berdiameter 1.000 mm di Jalan MT Haryono yang biasanya ditutup," ujar Corporate Secretary Aetra Priyatno Bambang Hernowo, Selasa (6/8/2013).
Selain membuka katup pipa air di perbatasan area Aetra-Palyja di Jalan MT Haryono, pasokan air bersih itu diperoleh melalui maksimalisasi pemompaan air dari IPA Buaran. Ia mengharapkan, penambahan pasokan itu mampu memenuhi kebutuhan tempat strategis pelanggan Palyja, seperti di Istana Presiden, Masjid Istiqlal, maupun Balaikota DKI Jakarta.
Saat ini, lanjut Bambang, Aetra sedang melakukan evaluasi penambahan suplai melalui boundary pipe di Jalan Diponegoro. Upaya itu dilakukan agar pelanggan Aetra di Salemba, Cempaka Putih, Martadinata, dan Ancol tidak mengalami dampak terbakarnya panel listrik pompa air baku PJT II.
"Akan ada petugas siang dan malam untuk mengoperasikan katup pipa air. Kami juga memasang flow meter memonitor pengaliran," kata Priyatno.
Sumber :
kompas.com
Selasa, 06 Agustus 2013
Untuk Kedua Kalinya, Jokowi Nyaris Kecopetan
Untuk yang kedua kalinya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo kembali
nyaris jadi korban pencopetan ketika sedang berkunjung ke Blok G Pasar
Tanah Abang Selasa, (6/8/2013). Kali ini pelakunya diduga seorang anak
kecil yang ikut mengerumuni Jokowi.
Peristiwa itu terjadi di lantai dasar Pasar Blok G, ketika itu, Jokowi yang sebelumnya memantau lokasi penampungan PKL Tanah Abang di lantai 2 dan 3, hendak kembali ke mobilnya melalui lantai dasar. Seperti biasa, kedatangan politisi PDIP ini, menarik perhatian warga. Ratusan orang pun mengerumuni Jokowi.
Jokowi tengah berada tepat lokasi parkir sepeda motor, dalam suasana ramai dan dikerumuni oleh banyak orang. Dari arah belakang, datang seorang anak kecil yang usianya sekitar 8 tahun berusaha merogoh saku celana bagian kanan Jokowi. Untungnya aksi anak tersebut langsung diketahui oleh Jokowi.
Belum sempat mengambil sesuatu dari saku celana, tangan Jokowi buru-buru menepis tangan anak itu.
Tertangkap basah, anak itu langsung kabur dan pergi meninggalkan Jokowi. Mantan Walikota Solo itu pun sempat memeriksa kantong celananya.
Dua ajudan Jokowi yang menyertainya pun berusaha memberi jalan bagi Jokowi yang dikerumuni oleh banyak orang itu. Setelah itu, politisi PDIP ini langsung menuju ke mobilnya dan meninggalkan lokasi.
Sebelumnya Jokowi juga sempat nyaris kecopetan ketika berada di pasar kawasan Pekojan, Jakarta Utara, saat membagikan paket sembako kepada warga di pinggir rel kereta api tersebut. Untungnya, aksi yang dilakukan oleh seorang pemuda itu berhasil digagalkan salah seorang ajudannya.
Sumber :
liputan6.com
Peristiwa itu terjadi di lantai dasar Pasar Blok G, ketika itu, Jokowi yang sebelumnya memantau lokasi penampungan PKL Tanah Abang di lantai 2 dan 3, hendak kembali ke mobilnya melalui lantai dasar. Seperti biasa, kedatangan politisi PDIP ini, menarik perhatian warga. Ratusan orang pun mengerumuni Jokowi.
Jokowi tengah berada tepat lokasi parkir sepeda motor, dalam suasana ramai dan dikerumuni oleh banyak orang. Dari arah belakang, datang seorang anak kecil yang usianya sekitar 8 tahun berusaha merogoh saku celana bagian kanan Jokowi. Untungnya aksi anak tersebut langsung diketahui oleh Jokowi.
Belum sempat mengambil sesuatu dari saku celana, tangan Jokowi buru-buru menepis tangan anak itu.
Tertangkap basah, anak itu langsung kabur dan pergi meninggalkan Jokowi. Mantan Walikota Solo itu pun sempat memeriksa kantong celananya.
Dua ajudan Jokowi yang menyertainya pun berusaha memberi jalan bagi Jokowi yang dikerumuni oleh banyak orang itu. Setelah itu, politisi PDIP ini langsung menuju ke mobilnya dan meninggalkan lokasi.
Sebelumnya Jokowi juga sempat nyaris kecopetan ketika berada di pasar kawasan Pekojan, Jakarta Utara, saat membagikan paket sembako kepada warga di pinggir rel kereta api tersebut. Untungnya, aksi yang dilakukan oleh seorang pemuda itu berhasil digagalkan salah seorang ajudannya.
Sumber :
liputan6.com
Tata Pasar Tanah Abang, Jokowi Tiru Taiwan dan Rusia
Ide untuk membuat kebijakan dapat muncul dari mana saja, termasuk saat melihat referensi di tempat lain. Cara kerja semacam itulah yang diterapkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dalam mengambil kebijakan.
Saat blusukan ke Pasar Blok G Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (6/8/2013) sore, Jokowi mengaku memiliki sejumlah referensi yang menginspirasi konsep penataan di kawasan perdagangan terbesar di Jakarta itu.
"Banyak, di Taiwan, Moscow, Rusia, banyak yang saya lihat bagus-bagus penataan pedagangnya," ujarnya di sela-sela kunjungan di lantai 3 Blok G Tanah Abang.
Dari sejumlah referensi di kota-kota mancanegara itu, Jokowi menilai bahwa penataan pedagang bukan sebatas menjadi pusat perdagangan besar, melainkan juga sebagai destinasi wisatawan. Penataan itu akan lebih baik jika harga yang ditawarkan pedagang terjangkau.
"Yang kita mau kan begitu, sekalian belanja, ya juga sekalian menjadi tempat wisata. Orang lokal ke sini, orang dari luar negeri ke sini, ramai," ujarnya.
Jokowi mengaku puas dengan renovasi Pasar Blok G, yang akan menjadi tempat relokasi pedagang kaki lima di kawasan Tanah Abang. Hanya, ia ingin ada sebuah tangga yang menghubungkan Jalan Kebon Jati dengan lantai 2 pasar itu. Hal itu untuk memudahkan para pengunjung yang ingin ke lantai dasar dan ke lantai di atasnya.
Sumber :
kompas.com
Jokowi-Ahok Enggak Ada Bandingannya
Budayawan Betawi Ridwan Saidi menilai pemimpin DKI Jakarta Joko Widodo
dan wakilnya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tak bisa dibandingkan dengan
pemimpin-pemimpin sebelumnya, termasuk Ali Sadikin.
"Enggak ada yang kayak ini. Pasangan Jokowi-Ahok enggak ada bandingannya. Orang bilang (Ahok) kaya Ali Sadikin. Ali Sadikin galak karena membela judi, enggak menarik, enggak membela hukum dia (seperti Ahok)," kata Ridwan dijumpai di rumahnya di Bintaro, Jakarta, Selasa (6/8/2013).
Mengenai sikap Ahok yang dinilai sejumlah kalangan keras dan arogan, Ridwan mengatakan, "Pemerintah kemarin-kemarin kompromistis. Kalau Pak ini (Ahok), tegas dia menegakkan hukum. Patut didukung Jokowi-Ahok, lepas dari ekspresi dia (Ahok)."
Ridwan pun menuturkan, ketika tinggal di Sawah Besar, ia bergaul dengan orang-orang yang bergaya bicara seperti Ahok dan tak ada masalah. Menurut Ridwan, orang yang risih dengan gaya bicara Ahok adalah orang-orang yang hidup dan bergaul dalam komunitas yang tidak pluralistis.
"(Gaya bicara seperti) Itu sudah biasa kok. Itu asyik saja buat saya ngedenger-nya," aku Ridwan.
Sumber :
kompas.com
"Enggak ada yang kayak ini. Pasangan Jokowi-Ahok enggak ada bandingannya. Orang bilang (Ahok) kaya Ali Sadikin. Ali Sadikin galak karena membela judi, enggak menarik, enggak membela hukum dia (seperti Ahok)," kata Ridwan dijumpai di rumahnya di Bintaro, Jakarta, Selasa (6/8/2013).
Mengenai sikap Ahok yang dinilai sejumlah kalangan keras dan arogan, Ridwan mengatakan, "Pemerintah kemarin-kemarin kompromistis. Kalau Pak ini (Ahok), tegas dia menegakkan hukum. Patut didukung Jokowi-Ahok, lepas dari ekspresi dia (Ahok)."
Ridwan pun menuturkan, ketika tinggal di Sawah Besar, ia bergaul dengan orang-orang yang bergaya bicara seperti Ahok dan tak ada masalah. Menurut Ridwan, orang yang risih dengan gaya bicara Ahok adalah orang-orang yang hidup dan bergaul dalam komunitas yang tidak pluralistis.
"(Gaya bicara seperti) Itu sudah biasa kok. Itu asyik saja buat saya ngedenger-nya," aku Ridwan.
Sumber :
kompas.com
Jokowi: Penentuan Kios di Blok G Bakal Diundi Secara Terbuka
Usai lebaran, gedung Blok G Tanah Abang diperkirakan sudah siap untuk
menampung ratusan PKL liar di Tanah Abang. Nantinya akan diberlakukan
sistem zonasi yang akan diundi secara terbuka pada 11 Agustus mendatang.
"Nanti di zoning. Penentuannya tanggal 11," kata Jokowi saat meninjau gedung Blok G Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (6/8/2013).
Meski upaya relokasi PKL liar itu kemarin sempat terkendala, namun Jokowi menegaskan saat ini PKL sudah mau menerima dan mengikuti saran dari Pemprov DKI untuk pindah ke Blok G.
"PKL sudah nggak ada masalah. Kemarin orang provokasi saja," kata Jokowi.
Jokowi mengatakan, saat ini sudah banyak PKL yang mendaftar untuk masuk ke gedung Blok G Tanah Abang. Ada hampir 1.000 kios yang disiapkan utk para PKL. Pendaftarannya pun kini sudah ditutup.
"Nanti (pembagian kios) dilotre secara terbuka. Begitu saja gampang," ucap Jokowi.
Sumber :
detik.com
"Nanti di zoning. Penentuannya tanggal 11," kata Jokowi saat meninjau gedung Blok G Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (6/8/2013).
Meski upaya relokasi PKL liar itu kemarin sempat terkendala, namun Jokowi menegaskan saat ini PKL sudah mau menerima dan mengikuti saran dari Pemprov DKI untuk pindah ke Blok G.
"PKL sudah nggak ada masalah. Kemarin orang provokasi saja," kata Jokowi.
Jokowi mengatakan, saat ini sudah banyak PKL yang mendaftar untuk masuk ke gedung Blok G Tanah Abang. Ada hampir 1.000 kios yang disiapkan utk para PKL. Pendaftarannya pun kini sudah ditutup.
"Nanti (pembagian kios) dilotre secara terbuka. Begitu saja gampang," ucap Jokowi.
Sumber :
detik.com
Jokowi Akan Bangun Jembatan Besar di Blok G Dengan Uang Pribadi
Pemprov DKI terus berupaya untuk membenahi bangunan Blok G Tanah Abang
yang akan dijadikan sebagai tempat relokasi PKL di sana. Gubernur DKI
Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, nantinya akan dibangun jembatan besar
yang langsung terhubung dari luar ke lantai III Blok G.
"Nanti dibangun jembatan gede, biar orang leluasa. Tangga dari bawah arah terminal," kata Jokowi saat meninjau lokasi Blok G Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (6/8/2013).
Lebar tangga itu nantinya sekitar 5-6 meter. Bahannya direncanakan dari baja. Jokowi mengatakan, nantinya tangga itu akan menjadi gerbang utama di Blok G. Sehingga warga yang ingin berbelanja bisa langsung menaiki lantai III Blok G.
"Dibuat di tengah ini 5-6 meter tangga menuju ke jalan. Yang cepat aja. Satu tangga saja tapi gede, biar jadi gerbang utama. Tinggal nyari yang kerjain aja," katanya.
Untuk anggarannya?
"Kalau nggak ada, saya bayar," ujar Jokowi kepada wartawan dan Kepala Pasar Blog G Warimin.
"Ini kerja cepat-cepatan, nggak usah ke dirut-dirutnya, sementara saya saja yang handle," tambah Jokowi.
Sumber :
- kompas.com
- detik.com
"Nanti dibangun jembatan gede, biar orang leluasa. Tangga dari bawah arah terminal," kata Jokowi saat meninjau lokasi Blok G Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (6/8/2013).
Lebar tangga itu nantinya sekitar 5-6 meter. Bahannya direncanakan dari baja. Jokowi mengatakan, nantinya tangga itu akan menjadi gerbang utama di Blok G. Sehingga warga yang ingin berbelanja bisa langsung menaiki lantai III Blok G.
"Dibuat di tengah ini 5-6 meter tangga menuju ke jalan. Yang cepat aja. Satu tangga saja tapi gede, biar jadi gerbang utama. Tinggal nyari yang kerjain aja," katanya.
Untuk anggarannya?
"Kalau nggak ada, saya bayar," ujar Jokowi kepada wartawan dan Kepala Pasar Blog G Warimin.
"Ini kerja cepat-cepatan, nggak usah ke dirut-dirutnya, sementara saya saja yang handle," tambah Jokowi.
Sumber :
- kompas.com
- detik.com
Pak Jokowi, Jangan Menyerah!
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) kembali mengunjungi Pasar Blok G
Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (6/8/2013) sore. Di sana ia
mendapat dukungan dari warga.
Jokowi datang ke pasar itu sekitar
pukul 14.30 WIB. Untuk menuju Pasar Blok G, Jokowi yang dikawal dua
ajudan menaiki anak tangga jembatan penyeberangan orang.
Semula tak ada yang menyadari kedatangan Jokowi, yang mengenakan kemeja putih. Namun, karena aktivitas Jokowi dikerumuni wartawan, warga ataupun pedagang di bawah jembatan itu menaruh perhatian pada sosok Jokowi.
"Pak Jokowi, semangat, Pak!" ujar salah seorang bapak dari seberang jalan. Pria itu tampak seperti pengunjung Pasar Tanah Abang. Berbagai kantong plastik ditenteng di tangan kanan dan kirinya.
"Iya, Pak, jangan menyerah ya, Pak," ujar salah seorang pengunjung lain.
Menanggapi dukungan itu, Jokowi pun tersenyum. Ia juga melambai ke arah warga yang menyapanya.
Di Pasar Blok G Tanah Abang, Jokowi berkeliling di lantai tiga, dua, dan lantai dasar. Ia memantau beberapa aspek yang dirasa kurang dari pasar tersebut, antara lain akses tangga ke sejumlah lantai. Menurutnya, harus ada tangga yang memudahkan pengunjung dalam mengaksesnya.
"Kalau bangunannya saya rasa cukup. Biar nanti dibersihkan sendiri sama penyewa," ujarnya.
Hingga pukul 15.00, Jokowi masih melakukan pemantauan. Kepala Blok G Pasar Tanah Abang Warimin tampak mendampinginya.
Rabu (31/7/2013) pekan lalu, Jokowi juga mengunjungi pasar tersebut. Ia memantau kondisi pasar yang akan digunakan sebagai tempat relokasi pedagang kaki lima (PKL) Tanah Abang itu. Rencana relokasi PKL sempat mendapat tentangan dari para PKL. Namun, PKL akhirnya menyanggupi untuk pindah ke pasar tersebut seusai Lebaran. Pemerintah Provinsi DKI masih punya pekerjaan rumah untuk memindahkan rumah potong hewan di pasar tersebut ke daerah lain.
Sumber :
kompas.com
Semula tak ada yang menyadari kedatangan Jokowi, yang mengenakan kemeja putih. Namun, karena aktivitas Jokowi dikerumuni wartawan, warga ataupun pedagang di bawah jembatan itu menaruh perhatian pada sosok Jokowi.
"Pak Jokowi, semangat, Pak!" ujar salah seorang bapak dari seberang jalan. Pria itu tampak seperti pengunjung Pasar Tanah Abang. Berbagai kantong plastik ditenteng di tangan kanan dan kirinya.
"Iya, Pak, jangan menyerah ya, Pak," ujar salah seorang pengunjung lain.
Menanggapi dukungan itu, Jokowi pun tersenyum. Ia juga melambai ke arah warga yang menyapanya.
Di Pasar Blok G Tanah Abang, Jokowi berkeliling di lantai tiga, dua, dan lantai dasar. Ia memantau beberapa aspek yang dirasa kurang dari pasar tersebut, antara lain akses tangga ke sejumlah lantai. Menurutnya, harus ada tangga yang memudahkan pengunjung dalam mengaksesnya.
"Kalau bangunannya saya rasa cukup. Biar nanti dibersihkan sendiri sama penyewa," ujarnya.
Hingga pukul 15.00, Jokowi masih melakukan pemantauan. Kepala Blok G Pasar Tanah Abang Warimin tampak mendampinginya.
Rabu (31/7/2013) pekan lalu, Jokowi juga mengunjungi pasar tersebut. Ia memantau kondisi pasar yang akan digunakan sebagai tempat relokasi pedagang kaki lima (PKL) Tanah Abang itu. Rencana relokasi PKL sempat mendapat tentangan dari para PKL. Namun, PKL akhirnya menyanggupi untuk pindah ke pasar tersebut seusai Lebaran. Pemerintah Provinsi DKI masih punya pekerjaan rumah untuk memindahkan rumah potong hewan di pasar tersebut ke daerah lain.
Sumber :
kompas.com
Lokasi Blusukan Jokowi Saat Lebaran
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dipastikan tak akan menggelar open house di kediamannya saat Lebaran nanti. Jokowi malah dijadwalkan untuk blusukan ke masyarakat.
"Beliau Shalat Id sama Presiden di Istiqlal, lalu ke Balaikota untuk menyapa yang shalat di sana, habis itu langsung ke wilayah," ujar Heru Budi Hartono, Kepala Biro Kepala Daerah dan Hubungan Luar Negeri DKI Jakarta, Selasa (6/8/2013) pagi.
Heru menjelaskan, beberapa tempat yang dijadwalkan akan dikunjungi oleh orang nomor satu di DKI Jakarta tersebut, antara lain Pademangan Timur (Jakarta Utara), Cipinang (Jakarta Timur), Daan Mogot (Jakarta Barat), Tanah Tinggi (Jakarta Pusat).
"Jadi enggak akan ada open house. Datang, santai ngeriung bareng masyarakat, terus beliau jalan lagi ke tempat yang lainnya, begitu saja," ujarnya.
Di tempat-tempat tersebut, kata Heru, telah disediakan sejumlah makanan prasmanan bagi masyarakat dan Gubernur. Di tempat tersebut, masyarakat pun dapat berdialog dengan Jokowi terkait seluruh permasalahan di DKI Jakarta.
Sumber :
kompas.com
"Beliau Shalat Id sama Presiden di Istiqlal, lalu ke Balaikota untuk menyapa yang shalat di sana, habis itu langsung ke wilayah," ujar Heru Budi Hartono, Kepala Biro Kepala Daerah dan Hubungan Luar Negeri DKI Jakarta, Selasa (6/8/2013) pagi.
Heru menjelaskan, beberapa tempat yang dijadwalkan akan dikunjungi oleh orang nomor satu di DKI Jakarta tersebut, antara lain Pademangan Timur (Jakarta Utara), Cipinang (Jakarta Timur), Daan Mogot (Jakarta Barat), Tanah Tinggi (Jakarta Pusat).
"Jadi enggak akan ada open house. Datang, santai ngeriung bareng masyarakat, terus beliau jalan lagi ke tempat yang lainnya, begitu saja," ujarnya.
Di tempat-tempat tersebut, kata Heru, telah disediakan sejumlah makanan prasmanan bagi masyarakat dan Gubernur. Di tempat tersebut, masyarakat pun dapat berdialog dengan Jokowi terkait seluruh permasalahan di DKI Jakarta.
Sumber :
kompas.com
40 Menit Bersama Jokowi
Pada 1 Agustus 2013, antara pukul 13.15 dan 13.45, memang benar Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke Maarif Institute (MI) di kawasan Tebet, Jakarta, menemui saya dan teman-teman MI. Tidak ada agenda khusus yang dirancang untuk pertemuan itu, sekalipun media suka berspekulasi tentang itu. Maklumlah Jokowi yang sekarang sedang berada di atas angin di balantara perpolitikan Indonesia, pasti dikejar ke manapun dia bergerak. Apa pun yang diucapkannya, pasti dikutip. Mantan Wali Kota Solo ini dalam Pemilukada DKI pada 20 Oktober 2012 telah memenangkan pertarungan bergensi itu secara fenomenal, padahal pencalonannya hanya didukung oleh PDI-P dibantu Gerindra.
Pertemuan di MI ini diatur oleh Fajar Riza Ul Haq, direkturnya, yang sebelumnya telah diterima Jokowi di kantor Gubernur DKI. Untuk apa bertemu? Tidak ada agenda politik penting yang ingin dibicarakan. Saya hanya ingin bertanya tentang DKI yang sarat masalah itu: macet, banjir, premanisme, dan kantong-kantong kemiskinan di kawasan kumuh. Dengan bahasa datar yang optimistis Jokowi telah menjelaskan semuanya itu. Inilah kalimatnya, “Untuk mengatasi masalah DKI, dana tersedia dan masalahnya jelas. Jadi bisa diselesaikan, sekalipun akan memakan waktu sekitar 10 tahun.”
Lalu saya tanyakan, apakah selama ini dana tidak ada dan masalahnya tidak jelas. Dijawab, “Kemauan untuk mengatasi masalah DKI yang tidak ada.” Tetapi untuk mengatasi banjir di ibu kota, wewenang utamanya ada pada pemerintah pusat, tidak hanya pada DKI. Dulu DKI yang dinilai tidak responsif, sekarang yang berlaku sebaliknya, pemerintah pusat yang tidak serius, kata Jokowi. Sebagai orang luar, kita tidak tahu, mana yang benar. Pada saat DKI telah membuka diri dengan lebar, semestinya pemerintah pusat cepat merundingkan untuk mengatasi masalah banjir yang akut ini dengan Jokowi. Bagi saya yang sekali-sekali tinggal di Jakarta merasakan betul betapa ganasnya banjir itu.
Karena sejak 2003 sudah menjadi anggota Akademi Jakarta (AJ) yang berkantor di sebuah ruangan kecil di Taman Ismail Marzuki (TIM), tentu masalah ini saya singgung juga. Jokowi malah mengatakan bahwa TIM akan direnovasi secara besar-besaran dan akan rampung tahun 2014. Tempat parkir akan dirancang di bawah tanah. Mendengar rencana ini, saya langsung mengatakan, “Pak Jokowi adalah Ali Sadikin kedua.”
Sebab, yang membangun TIM di abad yang lalu adalah Ali Sadikin saat menjabat gubernur DKI. Para penggantinya yang berdatangan kemudian tidak begitu hirau dengan nasib TIM, termasuk dalam memelihara Dokumen Sastra H.B. Jassin yang bernilai sangat tinggi itu. Jokowi tampaknya paham betul apa makna kehadiran TIM bagi DKI khususnya, dan bagi Indonesia pada umumnya.
Dengan renovasi TIM di tangan Jokowi, para seniman dan budayawan Ibu Kota tentu akan bergairah kembali menjadikan pusat kegiatan kebudayaan yang sudah sangat populer ini untuk meragakan segala kemampuan kreatif mereka. TIM harus diminati kembali oleh para seniman dan masyarakat luas. Mengucurkan APBD DKI secara wajar bukan sebuah pemborosan, tetapi untuk menunjukkan bahwa birokrasi itu memerlukan seni. Tanpa seni, birokrasi dan sistem kekuasaan apa pun akan sangat kering dan membosankan, seperti yang terjadi selama ini, tidak saja untuk DKI, tetapi berlaku secara merata di seluruh Tanah Air.
Akhirnya, kedatangan Jokowi ke MI tidak ada kaitannya dengan Pilpres 2014, sebagaimana yang diduga oleh sebagian media, seperti terbaca pada judul ini: “Ada Apa di Balik Pertemuan Jokowi dan Syafii Maarif?” Tetapi, segala gerak-gerik Jokowi untuk beberapa bulan yang akan datang pasti akan menyedot perhatian publik pada saat kesederhanaan dan keluguan para elite telah lama absen dalam kultur politik Indonesia.
Sumber :
republika.co.id
Pertemuan di MI ini diatur oleh Fajar Riza Ul Haq, direkturnya, yang sebelumnya telah diterima Jokowi di kantor Gubernur DKI. Untuk apa bertemu? Tidak ada agenda politik penting yang ingin dibicarakan. Saya hanya ingin bertanya tentang DKI yang sarat masalah itu: macet, banjir, premanisme, dan kantong-kantong kemiskinan di kawasan kumuh. Dengan bahasa datar yang optimistis Jokowi telah menjelaskan semuanya itu. Inilah kalimatnya, “Untuk mengatasi masalah DKI, dana tersedia dan masalahnya jelas. Jadi bisa diselesaikan, sekalipun akan memakan waktu sekitar 10 tahun.”
Lalu saya tanyakan, apakah selama ini dana tidak ada dan masalahnya tidak jelas. Dijawab, “Kemauan untuk mengatasi masalah DKI yang tidak ada.” Tetapi untuk mengatasi banjir di ibu kota, wewenang utamanya ada pada pemerintah pusat, tidak hanya pada DKI. Dulu DKI yang dinilai tidak responsif, sekarang yang berlaku sebaliknya, pemerintah pusat yang tidak serius, kata Jokowi. Sebagai orang luar, kita tidak tahu, mana yang benar. Pada saat DKI telah membuka diri dengan lebar, semestinya pemerintah pusat cepat merundingkan untuk mengatasi masalah banjir yang akut ini dengan Jokowi. Bagi saya yang sekali-sekali tinggal di Jakarta merasakan betul betapa ganasnya banjir itu.
Karena sejak 2003 sudah menjadi anggota Akademi Jakarta (AJ) yang berkantor di sebuah ruangan kecil di Taman Ismail Marzuki (TIM), tentu masalah ini saya singgung juga. Jokowi malah mengatakan bahwa TIM akan direnovasi secara besar-besaran dan akan rampung tahun 2014. Tempat parkir akan dirancang di bawah tanah. Mendengar rencana ini, saya langsung mengatakan, “Pak Jokowi adalah Ali Sadikin kedua.”
Sebab, yang membangun TIM di abad yang lalu adalah Ali Sadikin saat menjabat gubernur DKI. Para penggantinya yang berdatangan kemudian tidak begitu hirau dengan nasib TIM, termasuk dalam memelihara Dokumen Sastra H.B. Jassin yang bernilai sangat tinggi itu. Jokowi tampaknya paham betul apa makna kehadiran TIM bagi DKI khususnya, dan bagi Indonesia pada umumnya.
Dengan renovasi TIM di tangan Jokowi, para seniman dan budayawan Ibu Kota tentu akan bergairah kembali menjadikan pusat kegiatan kebudayaan yang sudah sangat populer ini untuk meragakan segala kemampuan kreatif mereka. TIM harus diminati kembali oleh para seniman dan masyarakat luas. Mengucurkan APBD DKI secara wajar bukan sebuah pemborosan, tetapi untuk menunjukkan bahwa birokrasi itu memerlukan seni. Tanpa seni, birokrasi dan sistem kekuasaan apa pun akan sangat kering dan membosankan, seperti yang terjadi selama ini, tidak saja untuk DKI, tetapi berlaku secara merata di seluruh Tanah Air.
Akhirnya, kedatangan Jokowi ke MI tidak ada kaitannya dengan Pilpres 2014, sebagaimana yang diduga oleh sebagian media, seperti terbaca pada judul ini: “Ada Apa di Balik Pertemuan Jokowi dan Syafii Maarif?” Tetapi, segala gerak-gerik Jokowi untuk beberapa bulan yang akan datang pasti akan menyedot perhatian publik pada saat kesederhanaan dan keluguan para elite telah lama absen dalam kultur politik Indonesia.
Sumber :
republika.co.id
Lagi Lagi Jokowi Disurati
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Dani Anwar telah menyurati Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) terkait rencana relokasi Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kebon Jati Tanah Abang oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. |
Terdapat beberapa poin penting yang digarisbawahi Dani Anwar dalam surat tertanggal 31 Juli 2013 itu. Dalam surat itu, Anggota DPD Dapil DKI Jakarta tersebut meminta RPH harus dipertahankan. Kalaupun terpaksa dipindah, Dani meminta Gubernur agar berembug dengan para pedagang dan penjagal di RPH soal lokasi barunya.
Namun kritik Dani paling keras adalah dengan menyatakan rencana relokasi Pemprov akan mematikan penghidupan para penjagal dan penjual daging kambing. "Saya ingin mengingatkan bahwa tindakan seperti itu dapat menjadi tindakan kesewenang-wenangan oleh penyelenggara negara," kata Dani dalam suratnya.
Di akhir suratnya, Dani Anwar berharap Jokowi dan jajarannya bisa mencarikan jalan keluar yang terbaik buat warga asli Tanah Abang yang berketramapilan khusus sebagai pemotong hewan itu.
Sebelumnya Pemprov DKI Jakarta kukuh ingin merelokasi RPH dari Tanah Abang guna mengembalikan fungsi awalnya sebagai lahan parkir. Langkah itu diperlukan untuk memuluskan upaya mengembalikan para pedagang kaki lima Pasar Tanah Abang yang meluber ke bahu jalan ke gedung pasar.
Kenapa banyak pihak yang menentang keras gagasan bagus Jokowi? Adakah bisnis mereka terganggu oleh ulah Jokowi?
Sumber :
tempo.co
Terdapat beberapa poin penting yang digarisbawahi Dani Anwar dalam surat tertanggal 31 Juli 2013 itu. Dalam surat itu, Anggota DPD Dapil DKI Jakarta tersebut meminta RPH harus dipertahankan. Kalaupun terpaksa dipindah, Dani meminta Gubernur agar berembug dengan para pedagang dan penjagal di RPH soal lokasi barunya.
Namun kritik Dani paling keras adalah dengan menyatakan rencana relokasi Pemprov akan mematikan penghidupan para penjagal dan penjual daging kambing. "Saya ingin mengingatkan bahwa tindakan seperti itu dapat menjadi tindakan kesewenang-wenangan oleh penyelenggara negara," kata Dani dalam suratnya.
Di akhir suratnya, Dani Anwar berharap Jokowi dan jajarannya bisa mencarikan jalan keluar yang terbaik buat warga asli Tanah Abang yang berketramapilan khusus sebagai pemotong hewan itu.
Sebelumnya Pemprov DKI Jakarta kukuh ingin merelokasi RPH dari Tanah Abang guna mengembalikan fungsi awalnya sebagai lahan parkir. Langkah itu diperlukan untuk memuluskan upaya mengembalikan para pedagang kaki lima Pasar Tanah Abang yang meluber ke bahu jalan ke gedung pasar.
Kenapa banyak pihak yang menentang keras gagasan bagus Jokowi? Adakah bisnis mereka terganggu oleh ulah Jokowi?
Sumber :
tempo.co
Pelecehan: SBY Pidato, Warga Malah Asyik Foto Jokowi
Pesona Joko Widodo (Jokowi) tidak luntur meski ada Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono. Warga lebih tertarik berfoto bersama Gubernur DKI Jakarta
tersebut ketimbang mendengarkan pidato Presiden.
Itulah yang terjadi saat Presiden meninjau sistem pengelolaan zakat yang selama ini dilaksanakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), di halaman Kantor Baznas, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (5/8/2013).
Awal cerita, sebenarnya Jokowi Widodo yang turut mendampingi SBY, keluar dari ruangan terlebih dahulu beberapa menit sebelum SBY. Setelah itu, dilanjutkan oleh sejumlah menteri kabinet bersatu jilid II, seperti Menko Polhukam Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, dan Menko Perekonomian Hatta Radjasa. Mereka pun berkumpul di sisi kiri podium tempat SBY berpidato.
Namun, seketika Presiden SBY bersama Wapres Boediono dan Menteri Agama Suryadharma Ali keluar ruang kantor Baznas, Jokowi seketika melangkahkan kakinya menuju barisan wartawan dan warga yang berdiri di dekat pagar kantor Baznas yang telah dibatasi oleh garis Paspampres. Aksi Jokowi itu mengundang perhatian beberapa wartawan dan warga.
"Eh, Pak Jokowi di deket kita. Ya ampun, saya berdiri di deket orang bijaksana," kata seorang Ibu sambil menatap Jokowi.
Melihat Jokowi ada di dekat mereka, lantas beberapa warga pun mencoba mendekati Jokowi dan mengarahkan kamera handphone mereka kepada Jokowi. Aksi para warga itu pun mengusik personel Paspampres yang berjaga untuk menenangkan warga yang mulai berisik melihat Jokowi. Pasalnya, saat itu SBY sedang berpidato dan situasi memang harus kondusif.
Raut muka Jokowi pun tampak serius memperhatikan pidato dan instruksi Presiden. Senyum tak muncul di wajahnya, dan matanya terus memperhatikan Presiden. Namun, warga tetap bergantian berdiri di sampingnya untuk berfoto.
Hingga Presiden selesai memberikan arahannya, warga masih terus bergantian berdiri di sisi Jokowi untuk mengabadikan momen itu. Ketika Presiden meninggalkan podium, Jokowi langsung berbalik badan dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju sisi kiri mobil yang ditumpangi Presiden.
Bersama Kapolres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol, mantan Wali Kota Surakarta itu mengantarkan Presiden dan rombongan hingga masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Jokowi kembali dikerubuti warga setempat untuk berfoto.
Bahkan, ia ditarik oleh Kepala Baznas Didin Hafidhuddin yang memintanya untuk berfoto bersama karyawan Baznas yang sudah rapi membentuk barisan di halaman kantor untuk mengabadikan momen bersama tokoh yang disebut-sebut akan mencalonkan diri sebagai Presiden Indonesia tersebut.
Sumber :
kompas.com
Itulah yang terjadi saat Presiden meninjau sistem pengelolaan zakat yang selama ini dilaksanakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), di halaman Kantor Baznas, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (5/8/2013).
Awal cerita, sebenarnya Jokowi Widodo yang turut mendampingi SBY, keluar dari ruangan terlebih dahulu beberapa menit sebelum SBY. Setelah itu, dilanjutkan oleh sejumlah menteri kabinet bersatu jilid II, seperti Menko Polhukam Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, dan Menko Perekonomian Hatta Radjasa. Mereka pun berkumpul di sisi kiri podium tempat SBY berpidato.
Namun, seketika Presiden SBY bersama Wapres Boediono dan Menteri Agama Suryadharma Ali keluar ruang kantor Baznas, Jokowi seketika melangkahkan kakinya menuju barisan wartawan dan warga yang berdiri di dekat pagar kantor Baznas yang telah dibatasi oleh garis Paspampres. Aksi Jokowi itu mengundang perhatian beberapa wartawan dan warga.
"Eh, Pak Jokowi di deket kita. Ya ampun, saya berdiri di deket orang bijaksana," kata seorang Ibu sambil menatap Jokowi.
Melihat Jokowi ada di dekat mereka, lantas beberapa warga pun mencoba mendekati Jokowi dan mengarahkan kamera handphone mereka kepada Jokowi. Aksi para warga itu pun mengusik personel Paspampres yang berjaga untuk menenangkan warga yang mulai berisik melihat Jokowi. Pasalnya, saat itu SBY sedang berpidato dan situasi memang harus kondusif.
Raut muka Jokowi pun tampak serius memperhatikan pidato dan instruksi Presiden. Senyum tak muncul di wajahnya, dan matanya terus memperhatikan Presiden. Namun, warga tetap bergantian berdiri di sampingnya untuk berfoto.
Hingga Presiden selesai memberikan arahannya, warga masih terus bergantian berdiri di sisi Jokowi untuk mengabadikan momen itu. Ketika Presiden meninggalkan podium, Jokowi langsung berbalik badan dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju sisi kiri mobil yang ditumpangi Presiden.
Bersama Kapolres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol, mantan Wali Kota Surakarta itu mengantarkan Presiden dan rombongan hingga masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Jokowi kembali dikerubuti warga setempat untuk berfoto.
Bahkan, ia ditarik oleh Kepala Baznas Didin Hafidhuddin yang memintanya untuk berfoto bersama karyawan Baznas yang sudah rapi membentuk barisan di halaman kantor untuk mengabadikan momen bersama tokoh yang disebut-sebut akan mencalonkan diri sebagai Presiden Indonesia tersebut.
Sumber :
kompas.com
Jokowi Oneng Ikut Jual Bambang Said
Sejumlah tokoh PDI Perjuangan dipastikan turun ke Jawa Timur membantu
kampanye pasangan cagub-cawagub Jatim, Bambang Dwi Hartono-Said Abdullah
(Bambang-Said).
Selain Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi), juga akan hadir Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Ketum PDI-P Megawati, Rike Dyah Pitaloka (Oneng) hingga Teras Narang, Gubernur Kalimantan Tengah.
Menurut Ketua DPD PDI-P Jatim, Sirmadji, para tokoh tersebut dipastikan hadir di Jatim dalam kampanye Bambang-Said di sejumlah daerah.
"Para tokoh tersebut adalah inspirasi bagi Bambang-Said dalam memenangkan Pilkada di daerahnya masing-masing," katanya seusai meresmikan media center Said Abdullah di Surabaya, Minggu (5/8/2013) malam.
Pihaknya optimistis, pasangan yang diusung partai PDI-P itu mampu memenangkan Pilgub Jatim dalam satu kali putaran, menyusul dukungan yang terus meningkat dari berbagai daerah.
Bahkan pasangan yang mengusung ikon jempol itu semakin menunjukkan jati diri sebagai kandidat kuat pemenang Pilgub Jatim.
"Bambang-Said dianggap merepresentasikan elemen besar masyarakat Jatim dalam konteks sosial dan etnis yakni Jawa dan Madura," tambahnya.
Bambang Dwi Hartono adalah tokoh PDI-P yang populer dan besar di kawasan Mataraman, Jatim, sementara Said Abdullah juga tokoh sekaligus pengusaha terkenal di tanah Madura.
Komposisi latar belakang keduanya dinilainya cukup merepresentasikan latar belakang suku di Jatim yang sebagian besar dari kalangan Jawa dan Madura.
Selain Bambang-Said, Pilgub Jatim tahun ini juga diramaikan tiga pasangan lainnya yakni Soekarwo-Saifullah Yusuf yang didukung sebagian besar partai parlemen dan non-parlemen, Khofifah Indar Parawansah-Herman Suryadi Sumawiredja yang diusung PKB, dan lima partai gurem, serta pasangan independen Eggi Sudjana-M Sihat.
Sumber :
kompas.com
Selain Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi), juga akan hadir Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Ketum PDI-P Megawati, Rike Dyah Pitaloka (Oneng) hingga Teras Narang, Gubernur Kalimantan Tengah.
Menurut Ketua DPD PDI-P Jatim, Sirmadji, para tokoh tersebut dipastikan hadir di Jatim dalam kampanye Bambang-Said di sejumlah daerah.
"Para tokoh tersebut adalah inspirasi bagi Bambang-Said dalam memenangkan Pilkada di daerahnya masing-masing," katanya seusai meresmikan media center Said Abdullah di Surabaya, Minggu (5/8/2013) malam.
Pihaknya optimistis, pasangan yang diusung partai PDI-P itu mampu memenangkan Pilgub Jatim dalam satu kali putaran, menyusul dukungan yang terus meningkat dari berbagai daerah.
Bahkan pasangan yang mengusung ikon jempol itu semakin menunjukkan jati diri sebagai kandidat kuat pemenang Pilgub Jatim.
"Bambang-Said dianggap merepresentasikan elemen besar masyarakat Jatim dalam konteks sosial dan etnis yakni Jawa dan Madura," tambahnya.
Bambang Dwi Hartono adalah tokoh PDI-P yang populer dan besar di kawasan Mataraman, Jatim, sementara Said Abdullah juga tokoh sekaligus pengusaha terkenal di tanah Madura.
Komposisi latar belakang keduanya dinilainya cukup merepresentasikan latar belakang suku di Jatim yang sebagian besar dari kalangan Jawa dan Madura.
Selain Bambang-Said, Pilgub Jatim tahun ini juga diramaikan tiga pasangan lainnya yakni Soekarwo-Saifullah Yusuf yang didukung sebagian besar partai parlemen dan non-parlemen, Khofifah Indar Parawansah-Herman Suryadi Sumawiredja yang diusung PKB, dan lima partai gurem, serta pasangan independen Eggi Sudjana-M Sihat.
Sumber :
kompas.com
Senin, 05 Agustus 2013
Jokowi Ogah One Man Show
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengaku sangat mendukung langkah Wali Kota Jakarta Pusat Saefulloh yang akan mengadakan buka bersama dengan perwakilan PKL Tanah Abang nanti sore. Rencananya buka bersama tersebut akan dilakukan di masjid Al Makmur, Jalan KH Mas Mansyur Jakarta Pusat.
Pasalnya, acara bukber tersebut ditujukan untuk ajang silahturahmi dan mengingatkan pernyataan PKL yang bersedia direlokasi ke blok G, Pasar Tanah Abang. Apabila dilakukan oleh Jokowi, maka wali kota maupun SKPD tidak memiliki tugas.
"Bagus, masa semua urusan gubernur, kan ada juga yang kita delegasikan ke wali kota, ke dinas, nanti one man show kalau saya semua," ujar Jokowi usai mendampingi presiden SBY di Baznas Jakarta, Senin (5/8/2013).
Namun, mantan wali kota Solo ini memastikan relokasi PKL ke Blok G akan selesai setelah lebaran. Apabila, nanti setelah lebaran masih ada PKL yang tidak mau direlokasi, maka dia akan mengundang PKL untuk membahas perelokasian.
"Blok G nanti habis lebaran, saya akan mengundang PKL untuk bicara," ucapnya.
Jika nanti, saat melakukan pengeksekusian di H+4 belum rampung, Jokowi akan turun tangan langsung menyelesaikan. "Kalau belum selesai ya nanti diselesaikan," tandasnya.
Sumber :
merdeka.com
Pasalnya, acara bukber tersebut ditujukan untuk ajang silahturahmi dan mengingatkan pernyataan PKL yang bersedia direlokasi ke blok G, Pasar Tanah Abang. Apabila dilakukan oleh Jokowi, maka wali kota maupun SKPD tidak memiliki tugas.
"Bagus, masa semua urusan gubernur, kan ada juga yang kita delegasikan ke wali kota, ke dinas, nanti one man show kalau saya semua," ujar Jokowi usai mendampingi presiden SBY di Baznas Jakarta, Senin (5/8/2013).
Namun, mantan wali kota Solo ini memastikan relokasi PKL ke Blok G akan selesai setelah lebaran. Apabila, nanti setelah lebaran masih ada PKL yang tidak mau direlokasi, maka dia akan mengundang PKL untuk membahas perelokasian.
"Blok G nanti habis lebaran, saya akan mengundang PKL untuk bicara," ucapnya.
Jika nanti, saat melakukan pengeksekusian di H+4 belum rampung, Jokowi akan turun tangan langsung menyelesaikan. "Kalau belum selesai ya nanti diselesaikan," tandasnya.
Sumber :
merdeka.com
Tak Ada Kata-kata Lain Selain Tunggu Mega
Dorongan masyarakat agar PDI Perjuangan mengusung Joko Widodo (Jokowi) sebagai
calon presiden (capres) mulai mendapat sinyal positif dari kader
internal PDI Perjuangan.
Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait menilai dorongan masyarakat
terhadap Jokowi sebagai bentuk apresiasi terhadap kinerja Jokowi.
"Masyarakat menilai Jokowi sebagai pemimpin yang berhasil," kata
Maruarar, Senin (5/8/2013).
Maruarar yang akrab disapa Ara ini mengatakan, Jokowi merupakan model kader yang berhasil menjalankan visi misi partai. Buktinya, Jokowi sempat dua kali terpilih sebagai Wali Kota Solo dan menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Menurut Ara, hal-hal tersebut tidak akan terjadi bila kinerja Jokowi tidak memuaskan masyarakat. "Jokowi cermin kader yang berhasil menjalankan amanat partai. Dia kader murni PDI Perjuangan," ujarnya.
Kendati menyambut positif dorongan masyarakat, namun Ara belum menyatakan secara tegas dukungan PDI Perjuangan terhadap Jokowi menjadi capres. Sebab, menurutnya, penetapan capres PDI Perjuangan merupakan hak prerogatif Ketua Umum, Megawati Soekarnoputri. "Kita tunggu saja keputusan Ibu Mega," katanya.
Sumber :
republika.co.id
Maruarar yang akrab disapa Ara ini mengatakan, Jokowi merupakan model kader yang berhasil menjalankan visi misi partai. Buktinya, Jokowi sempat dua kali terpilih sebagai Wali Kota Solo dan menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Menurut Ara, hal-hal tersebut tidak akan terjadi bila kinerja Jokowi tidak memuaskan masyarakat. "Jokowi cermin kader yang berhasil menjalankan amanat partai. Dia kader murni PDI Perjuangan," ujarnya.
Kendati menyambut positif dorongan masyarakat, namun Ara belum menyatakan secara tegas dukungan PDI Perjuangan terhadap Jokowi menjadi capres. Sebab, menurutnya, penetapan capres PDI Perjuangan merupakan hak prerogatif Ketua Umum, Megawati Soekarnoputri. "Kita tunggu saja keputusan Ibu Mega," katanya.
Sumber :
republika.co.id
Jokowi Ogah Blusukan Ke Terminal
Di H-3 Lebaran, terminal menjadi salah satu tempat konsentrasi massa
yang akan mudik. Namun Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) tak berniat blusukan ke terminal bus di
Jakarta. Kenapa?
"Nanti kalau saya yang lakukan malah lebih macet. Hehe ," kata Jokowi di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, Senin (5/8/2013).
Guyonan tersebut dilontarkannya saat ditanya wartawan kapan ia akan blusukan ke terminal atau stasiun KRL di Jakarta. Menurutnya, peninjauan terminal-terminal sudah menjadi domain Dinas Perhubungan, Jakarta. Sehingga tidak perlu ia turun langsung
"Ya nggak lah itu sudah dilakukan oleh Dishub," pungkasnya.
Saat ini kepadatan warga Jakarta beralih ke terminal, stasiun KRL, pelabuhan dan bandara. Kondisi kota Jakarta sendiri cenderung lengang karena kebanyakan di antara warga sudah mulai mudik lebaran.
Sumber :
detik.com
"Nanti kalau saya yang lakukan malah lebih macet. Hehe ," kata Jokowi di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, Senin (5/8/2013).
Guyonan tersebut dilontarkannya saat ditanya wartawan kapan ia akan blusukan ke terminal atau stasiun KRL di Jakarta. Menurutnya, peninjauan terminal-terminal sudah menjadi domain Dinas Perhubungan, Jakarta. Sehingga tidak perlu ia turun langsung
"Ya nggak lah itu sudah dilakukan oleh Dishub," pungkasnya.
Saat ini kepadatan warga Jakarta beralih ke terminal, stasiun KRL, pelabuhan dan bandara. Kondisi kota Jakarta sendiri cenderung lengang karena kebanyakan di antara warga sudah mulai mudik lebaran.
Sumber :
detik.com
Langganan:
Postingan (Atom)


























