Politisi Senior PDIP Pramono Anung berbicara mengenai calon presiden Joko Widodo di hadapan ratusan alumni UGM. Alumni UGM tersebut bergabung dalam wadah Komunitas Blusukan Jokowi.
"Ada Wong Desa kerempeng, tapi guyune menarik," kata Pramono Anung di Restoran Sari Kuring, Jakarta, Rabu (7/5/2014).
Pramono yang mengenakan kemeja kotak-kotak itu hadir bersama Politisi
Senior PDIP lainnya Sidharto Danusubroto. Pramono melihat adanya
kekuatan yang luar biasa di masyarakat dalam mendukung Jokowi.
Arsip terlengkap seputar kegiatan Jokowi mulai tahun 2013 hingga Jokowi Terindikasi Melindungi Koruptor.
Rabu, 07 Mei 2014
Jokowi: Hendropriyono Layak Jadi Guru Besar Intelijen
Bakal calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo mengatakan sosok mantan Ketua Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono layak menjadi guru besar bidang intelijen.
Alumni UGM Dukung Jokowi
Komunitas alumni Universitas Gadjah Mada hari ini mengadakan diskusi dengan tema 'Ekonomi Kerakyatan'. Diskusi tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap kemenangan Joko Widodo yang merupakan alumni UGM sebagai bakal calon presiden.
Dalam rilis yang diterima merdeka.com, Rabu (7/5/2014) disebut visi Jokowi mengenai ekonomi kerakyatan lebih kokoh dibanding capres lainnya. Jokowi juga membuktikan keberpihakan yang jelas dengan mengembangkan kerja sama dengan provinsi lain, seperti Lampung dan NTT.
Dalam rilis yang diterima merdeka.com, Rabu (7/5/2014) disebut visi Jokowi mengenai ekonomi kerakyatan lebih kokoh dibanding capres lainnya. Jokowi juga membuktikan keberpihakan yang jelas dengan mengembangkan kerja sama dengan provinsi lain, seperti Lampung dan NTT.
Jokowi Temui Dubes Amerika, Hidayat Nur Wahid Berang
Capres PDIP Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan belasan dubes asal Amerika Latin kemarin. Hal ini dicurigai sebagai bentuk upaya intervensi Amerika kepada Jokowi. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tak mau menanggapi pertemuan Jokowi itu. Anggota Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid hanya menegaskan, bahwa Indonesia adalah negara yang berdaulat.
Hidayat mengatakan, memang penting menjalin komunikasi dengan pihak luar negeri. Namun, bukan berarti Indonesia selalu di bawah kendali negara asing khususnya Amerika.
"Di satu pihak kita memang perlu menjalin hubungan internasional itu penting, tapi hubungan itu dalam posisi kita negara berdaulat, bukan negara bagian Amerika," ujar Hidayat di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (7/5/2014).
Hidayat mengatakan, memang penting menjalin komunikasi dengan pihak luar negeri. Namun, bukan berarti Indonesia selalu di bawah kendali negara asing khususnya Amerika.
"Di satu pihak kita memang perlu menjalin hubungan internasional itu penting, tapi hubungan itu dalam posisi kita negara berdaulat, bukan negara bagian Amerika," ujar Hidayat di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (7/5/2014).
Cak Imin: PKB Sudah Masuk ke Tim Pemenangan Jokowi
Arah koalisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di pemilu presiden semakin jelas. Ketum PKB Muhaimin Iskandar mengatakan, sejumlah kader partai telah dimandatkan untuk bergabung bersama tim pemenangan capres PDIP Joko Widodo (Jokowi).
"Sudah mulai masuk (ke tim pemenangan Jokowi)," kata Cak Imin, sapaan akrab Muhaimin usai menghadiri pengukuhan guru besar intelijen Jenderal TNI (Purn) Hendropriyono di Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (7/5/2014).
"Sudah mulai masuk (ke tim pemenangan Jokowi)," kata Cak Imin, sapaan akrab Muhaimin usai menghadiri pengukuhan guru besar intelijen Jenderal TNI (Purn) Hendropriyono di Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (7/5/2014).
Khofifah Juga Bakal Jadi Jubir Presiden Jokowi?
Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, telah ditunjuk Joko Widodo (Jokowi) sebagai juru bicara dalam pencapresannya. Lalu apakah Khofifah juga akan jadi jubir presiden jika Jokowi menang?
"Aku diminta sebagai jubir capres. Setelahnya wilayah lain," kata Khofifah usai acara pengukuhan AM Hendropriyono sebagai Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) Cendekia Waskita di Balai Sudirman Jakarta, Rabu (7/5).
Khofifah mengaku sudah akrab dengan Jokowi semenjak capres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu menjabat Wali Kota Solo. Namun, soal kerjanya sebagai jubir, mantan menteri dalam kabinet Gus Dur ini mengaku belum melakukan konsolidasi ke bawah.
"Aku diminta sebagai jubir capres. Setelahnya wilayah lain," kata Khofifah usai acara pengukuhan AM Hendropriyono sebagai Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) Cendekia Waskita di Balai Sudirman Jakarta, Rabu (7/5).
Khofifah mengaku sudah akrab dengan Jokowi semenjak capres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu menjabat Wali Kota Solo. Namun, soal kerjanya sebagai jubir, mantan menteri dalam kabinet Gus Dur ini mengaku belum melakukan konsolidasi ke bawah.
Setelah Dicoret Jokowi, Mahfud Merasa Dikerjai
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD
mengatakan isu dirinya akan mendampingi bakal calon presiden dari PDI
Perjuangan Joko Widodo sebagai calon wakil presiden hanyalah
mengada-ada.
"Analisis dari orang luar saja, enggak jelas itu sumbernya," ujar Mahfud usai menghadiri acara pengukuhan mantan Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Hendropriyono sebagai guru besar ilmu intelijen di Sekolah Tinggi Intelijen Negara yang digelar di Balai Sudirman, Jakarta, Rabu (7/5/2014).
"Analisis dari orang luar saja, enggak jelas itu sumbernya," ujar Mahfud usai menghadiri acara pengukuhan mantan Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Hendropriyono sebagai guru besar ilmu intelijen di Sekolah Tinggi Intelijen Negara yang digelar di Balai Sudirman, Jakarta, Rabu (7/5/2014).
Jadi Jubir Jokowi Khofifah Yakin Dongkrak Perolehan Suara
Khofifah Indar Parawansa optimistis mampu mendongkrak perolehan suara bakal calon presiden Joko Widodo pada pemilihan umum presiden dan wakil presiden, Juli mendatang.
Ditemui usai acara pengukuhan guru besar Jenderal (Purn) Prof. Dr. Hendropriyono dalam bidang filsafat intelijen, Khofifah pun mengutarakan alasan Joko Widodo memilihnya dan bukan PKB. Padahal Khofifah adalah kader PKB.
"Kebetulan perolehan suara ku di Jawa Timur kemarin Pilgub (pemilihan gubernur) jauh lebih tinggi dari yang PKB dapat. Konstituen yang kemungkinan membangun aliansi saya kemungkinan lebih besar dari konstituen PKB. Saya sudah melakukan konsolidasi ke bawah," ujar Khofifah di Balai Sudirman, Jakarta, Rabu (7/5/2014).
KPI: Akbar Punya Kans Jadi Cawapres Jokowi
Dukungan masyarakat terhadap tokoh nasional untuk menjadi calon wakil presiden terus bermunculan. Organisasi yang mengatasnamakan Konsorsium Pesantren Indonesia (KPI), misalnya, menilai Akbar Tandjung merupakan sosok paling ideal menjadi pendamping capres di ajang Pilpres 2014 ini.
"Akbar selain memiliki pengalaman cukup luas di dunia politik, juga mampu menjadi figur pemersatu bangsa dan agama," kata Ketua KPI KH M. Amrullah Z Wiryaatmaja, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (7/5/2014).
Sebelum secara bulat mengeluarkan pernyataan soal tokoh yang pantas menjadi cawapres, lanjut Kiai Amrullah, pihaknya sudah melakukan berbagai kajian, baik melalui metode wawancara dengan tokoh-tokoh agama, politik, akademisi, pengamat, aktivis dan masyarakat, maupun kajian berita di berbagai media massa.
"Akbar selain memiliki pengalaman cukup luas di dunia politik, juga mampu menjadi figur pemersatu bangsa dan agama," kata Ketua KPI KH M. Amrullah Z Wiryaatmaja, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (7/5/2014).
Sebelum secara bulat mengeluarkan pernyataan soal tokoh yang pantas menjadi cawapres, lanjut Kiai Amrullah, pihaknya sudah melakukan berbagai kajian, baik melalui metode wawancara dengan tokoh-tokoh agama, politik, akademisi, pengamat, aktivis dan masyarakat, maupun kajian berita di berbagai media massa.
Jadi Jubir Jokowi Khofifah Tunggu Masa Iddah
Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan baru bisa aktif menjadi juru bicara bakal calon Joko Widodo (Jokowi) pada 24 Mei 2014 atau setelah selesai masa iddah atau tidak boleh meninggalkan rumah berdasarkan aturan Islam.
Khofifah pun mengatakan hanya untuk urusan sangat penting makanya meninggalkan rumah. Seperti hari ini ketika Khofifah menghadiri pengukuhan guru besar Jenderal (Purn) Prof Dr AM Hendropriyono dalam bidang intelijen negara.
Usai Menghadiri Acara Hendropriyono, Jokowi Kembali ke Balai Kota
Setelah menghadiri acara pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Intelejen
Prof Dr AM Hendropriyono bersama Megawati Soekarnoputri di Balai
Sudirman, Jakarta, Capres PDIP Joko Widodo kembali ke Balai Kota.
Hendropriyono Bantah Diangkat Jadi Ketua Tim Pemenangan Jokowi
Nama AM Hendropriyono disebut-sebut bakal diangkat sebagai Ketua Tim Pemenangan Capres PDI Perjuangan Joko Widodo (Jokowi). Saat dikonfirmasi terkait kabar ini, Hendropriyono mengaku belum tahu.
"Saya baru tahu dan saya baru dengar. Calon presidennya (Jokowi) datang. Kenapa tidak ditanyakan ke beliau," ujar Hendropriyono usai pengukuhan Guru Besar Filsafat Intelejen di Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (7/5/2014).
"Saya baru tahu dan saya baru dengar. Calon presidennya (Jokowi) datang. Kenapa tidak ditanyakan ke beliau," ujar Hendropriyono usai pengukuhan Guru Besar Filsafat Intelejen di Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (7/5/2014).
Permudah Birokrasi Pusat dan Daerah, Ahok Dukung Jokowi Jadi Presiden
Banyaknya pelaksanaan pembangunan dan penataan kota Jakarta terbentur
birokrasi berbelit-belit antara pusat dan daerah, Wakil Gubernur DKI
Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mendukung Gubernur DKI Jakarta
Joko Widodo (Jokowi) mencalonkan dirinya menjadi Presiden RI.
Ahok melihat kewenangan gubernur dan wakil gubernur (wagub) terbatas. Karena di dalam pelaksanaan pemerintahan daerah di Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibukota negara juga ada kewenangan Pemerintah Pusat. Kondisi ini yang menyebabkan gubernur dan wagub DKI sulit menerapkan aturan di area kekuasannya sendiri.
"Makanya saya bilang agar lebih gampang ngurus Jakarta lebih gampang jadi presiden ketimbang gubernur," kata Ahok di Balai Kota DKI, Jakarta, Rabu (7/5/2014).
Ahok melihat kewenangan gubernur dan wakil gubernur (wagub) terbatas. Karena di dalam pelaksanaan pemerintahan daerah di Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibukota negara juga ada kewenangan Pemerintah Pusat. Kondisi ini yang menyebabkan gubernur dan wagub DKI sulit menerapkan aturan di area kekuasannya sendiri.
"Makanya saya bilang agar lebih gampang ngurus Jakarta lebih gampang jadi presiden ketimbang gubernur," kata Ahok di Balai Kota DKI, Jakarta, Rabu (7/5/2014).
Umbar Senyum Mega-Jokowi Puasa Bicara Usai Hadiri Pengukuhan Hendropriyono
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan bakal calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo
diam seribu bahasa seusai menghadiri acara pengukuhan mantan Kepala
Badan Intelijen Negara (BIN) Hendropriyono sebagai guru besar bidang
Intelijen di Sekolah Tinggi Intelijen Negara.
Keduanya nampak berjalan bersama dari meja mereka menuju ke pintu keluar gedung Balai Sudirman, Jalan Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (7/5/2014).
Meski di sekelilingnya banyak awak media yang menghujani keduanya dengan pertanyaan, Megawati dan Jokowi tidak bergeming.
Keduanya nampak berjalan bersama dari meja mereka menuju ke pintu keluar gedung Balai Sudirman, Jalan Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (7/5/2014).
Meski di sekelilingnya banyak awak media yang menghujani keduanya dengan pertanyaan, Megawati dan Jokowi tidak bergeming.
Duduk Semeja, Wiranto Terlihat Kaku Bersampingan dengan Megawati
Hari ini, Rabu (7/5/2014), Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri
bersama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menghadiri acara Pengukuhan
mantan Kepala (Badan Intelijen Negara) Hendropriyono sebagai guru besar
bidang Intelijen di Sekolah Tinggi Intelijen Negara.
DPR: Para Dubes Asing Sah untuk Hormati Jokowi
Duta besar berbagai negara kerap bertemu dengan capres PDI Perjuangan
Joko Widodo. Secara periodik, para dubes pun ditemui Jokowi.
Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, sebagai anggota Komisi Luar Negeri DPR, dirinya melihat bahwa untuk menjalin hubungan dengan negara tertentu, bisa menggunakan beberapa jalur. Yakni jalur formal dengan memanfaatkan hubungan antarpemerintah. Sementara jalur satunya adalah non-formal melalui hubungan perorangan.
Dalam konteks itu, pertemuan-pertemuan dengan dubes itu menunjukkan Jokowi bisa berperan, baik sebagai pribadi maupun sebagai seorang negarawan.
"Itu sah dilakukan termasuk oleh orang yang tak jadi capres sekalipun," kata Hasanuddin di Jakarta, Rabu (7/5/2014).
Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, sebagai anggota Komisi Luar Negeri DPR, dirinya melihat bahwa untuk menjalin hubungan dengan negara tertentu, bisa menggunakan beberapa jalur. Yakni jalur formal dengan memanfaatkan hubungan antarpemerintah. Sementara jalur satunya adalah non-formal melalui hubungan perorangan.
Dalam konteks itu, pertemuan-pertemuan dengan dubes itu menunjukkan Jokowi bisa berperan, baik sebagai pribadi maupun sebagai seorang negarawan.
"Itu sah dilakukan termasuk oleh orang yang tak jadi capres sekalipun," kata Hasanuddin di Jakarta, Rabu (7/5/2014).
SBY: Rakyat Butuh Capres Selain Jokowi, Prabowo dan Ical
Dari hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014, ada 3 nama yang berpotensi maju sebagai calon presiden (capres) pada Pemilihan Presiden (Pilpres 2014). Yakni Joko Widodo (Jokowi) dari PDIP, Prabowo Subianto dari Gerindra, dan Aburizal Bakrie (Ical) dari Golkar.
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku dirinya mendapat pesan dari sejumlah orang bahwa rakyat membutuhkan capres lain dari partainya, selain Jokowi, Prabowo, Ical.
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku dirinya mendapat pesan dari sejumlah orang bahwa rakyat membutuhkan capres lain dari partainya, selain Jokowi, Prabowo, Ical.
Jokowi Harus Bijak, Strategis, dan Tepat Pilih Cawapres
Sekretariat Nasional Jokowi berharap capres PDIP tersebut memilih capres
secara bijak, strategis dan tepat. Diharapkan Jokowi memilih capres
dari kalangan tokoh muda.
"Dalam penentuan cawapres, masyarakat menginginkan Jokowi benar-benar bijak, strategis dan tepat. Bijak berarti bahwa Jokowi tidak boleh hanya mengandalkan sumber informasi yang berasal dari hasil-hasil survei," kata Presidium Seknas Jokowi, Dadang Juliantara, kepada detikcom, Rabu (7/5/2014).
Menurut Dadang, masyarakat percaya bahwa Jokowi memiliki demikian banyak sumber informasi, oleh sebab itu, semua informasi yang masuk hendaknya diterima dengan baik, untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
"Dalam penentuan cawapres, masyarakat menginginkan Jokowi benar-benar bijak, strategis dan tepat. Bijak berarti bahwa Jokowi tidak boleh hanya mengandalkan sumber informasi yang berasal dari hasil-hasil survei," kata Presidium Seknas Jokowi, Dadang Juliantara, kepada detikcom, Rabu (7/5/2014).
Menurut Dadang, masyarakat percaya bahwa Jokowi memiliki demikian banyak sumber informasi, oleh sebab itu, semua informasi yang masuk hendaknya diterima dengan baik, untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Kristiadi: Jokowi Benar Tak Diperlukan Koalisi Gajah
Keramaian politik beberapa hari ini cenderung terfokus pada dua poros, yakni PDI Perjuangan dan Partai Gerindra. Dua poros itu digadang-gadang menjadi kontestan terkuat yang akan bertarung di Pemilu Presiden 2014.
Dari PDI-P, mandat diberikan pada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi bakal calon presiden. Sementara Gerindra mengusung Ketua Dewan Pembinanya, Prabowo Subianto.
Kedua tokoh itu memiliki elektabilitas tertinggi berdasarkan hasil berbagai survei. Perbedaannya hanya pada komitmen pembentukan kabinet.
Dari PDI-P, mandat diberikan pada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi bakal calon presiden. Sementara Gerindra mengusung Ketua Dewan Pembinanya, Prabowo Subianto.
Kedua tokoh itu memiliki elektabilitas tertinggi berdasarkan hasil berbagai survei. Perbedaannya hanya pada komitmen pembentukan kabinet.
Hadiri Pengukuhan Guru Besar Hendropriyono
Gubernur DKI Joko Widodo dan Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri
menghadiri acara pengukuhan guru besar AM Hendropriyono. Sejumlah
petinggi parpol lain yang pernah aktif di militer, seperti Wiranto dan
Sutiyoso pun ikut meramaikan acara.
Acara digelar di Balai Sudirman, Jl Sudirman, Jaksel, Rabu (7/5/2014). Nama acara tersebut adalah rapat senat khusus terbuka sekolah tinggi intelijen negara dalam rangka pengukuhan guru besar dalam bidang ilmu intelijen kepada Prof Dr AM Hendropriyono.
Acara digelar di Balai Sudirman, Jl Sudirman, Jaksel, Rabu (7/5/2014). Nama acara tersebut adalah rapat senat khusus terbuka sekolah tinggi intelijen negara dalam rangka pengukuhan guru besar dalam bidang ilmu intelijen kepada Prof Dr AM Hendropriyono.
Dubes Paraguay Cesar Esteban Grillon Bangga Jadi Mualaf
Ada peristiwa unik terjadi dalam Diplomatic Corps Gathering yang digelar Pemprov DKI Jakarta di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (6/5/2014) malam. Pertemuan tersebut merupakan agenda tahunan antara pemprov dengan duta besar yang ada di Indonesia.
Jika Elektabilitas Jokowi tak Terkalahkan, Golkar akan Tetap Capreskan Ical
Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan DPP Partai Golkar Indra J Piliang mengatakan, partainya tengah mempertimbangkan untuk berkoalisi dengan Partai Gerindra. Akan tetapi, untuk sampai pada keputusan ini, ada sejumlah hal yang akan menjadi catatan.
Salah satu yang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan koalisi dengan Gerindra adalah elektabilitas bakal calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo (Jokowi). Indra mengatakan, jika elektabilitas Jokowi masih tak terkalahkan, maka Golkar kemungkinan akan memilih untuk tetap mengusung Aburizal Bakrie sebagai capres.
Salah satu yang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan koalisi dengan Gerindra adalah elektabilitas bakal calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo (Jokowi). Indra mengatakan, jika elektabilitas Jokowi masih tak terkalahkan, maka Golkar kemungkinan akan memilih untuk tetap mengusung Aburizal Bakrie sebagai capres.
Dahlan-Hatta jadi Poros Alternatif
Jika koalisi Partai Gerindra dengan Partai Golkar (PG) untuk mengusung capres-cawapres terwujud, maka terbuka peluang munculnya poros alternatif yang digalang Partai Demokrat. Sebab, Partai Golkar atau Gerindra akan kehilangan poros sendiri sehingga memungkinkan muncul koalisi alternatif itu.
"Poros baru akan muncul di bawah kendali Demokrat," kata Pengamat politik dari Lingkar Madani Indonesia (Lima) Ray Rangkuti kepada INDOPOS (Grup JPNN), di Jakarta, kemarin (6/5/2014).Menurut Ray, analisa itu didasari sulitnya Gerindra akan merangkul Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) untuk bergabung dalam satu koalisi. Sementara baik PAN maupun PKS berharap elite partainya bisa menjadi cawapres dari Prabowo.
"Poros baru akan muncul di bawah kendali Demokrat," kata Pengamat politik dari Lingkar Madani Indonesia (Lima) Ray Rangkuti kepada INDOPOS (Grup JPNN), di Jakarta, kemarin (6/5/2014).Menurut Ray, analisa itu didasari sulitnya Gerindra akan merangkul Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) untuk bergabung dalam satu koalisi. Sementara baik PAN maupun PKS berharap elite partainya bisa menjadi cawapres dari Prabowo.
Dahlan-Hatta jadi Poros Alternatif
Jika koalisi Partai Gerindra dengan Partai Golkar (PG) untuk mengusung capres-cawapres terwujud, maka terbuka peluang munculnya poros alternatif yang digalang Partai Demokrat. Sebab, Partai Golkar atau Gerindra akan kehilangan poros sendiri sehingga memungkinkan muncul koalisi alternatif itu.
"Poros baru akan muncul di bawah kendali Demokrat," kata Pengamat politik dari Lingkar Madani Indonesia (Lima) Ray Rangkuti kepada INDOPOS (Grup JPNN), di Jakarta, kemarin (6/5/2014).Menurut Ray, analisa itu didasari sulitnya Gerindra akan merangkul Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) untuk bergabung dalam satu koalisi. Sementara baik PAN maupun PKS berharap elite partainya bisa menjadi cawapres dari Prabowo.
"Poros baru akan muncul di bawah kendali Demokrat," kata Pengamat politik dari Lingkar Madani Indonesia (Lima) Ray Rangkuti kepada INDOPOS (Grup JPNN), di Jakarta, kemarin (6/5/2014).Menurut Ray, analisa itu didasari sulitnya Gerindra akan merangkul Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) untuk bergabung dalam satu koalisi. Sementara baik PAN maupun PKS berharap elite partainya bisa menjadi cawapres dari Prabowo.
Pospera Ingin Abraham Samad Dampingi Jokowi
Koordinator Nasional Posko Perjuangan Rakyat (Pospera), Mustar Bona Ventura, mengatakan mayoritas relawan yang tesebar di 16 Provinsi menginginkan agar calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Joko Widodo dipasangkan dengan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad pada pemilihan presiden 9 Juli mendatang. “Jokowi dan Abraham Samad adalah pasangan ideal,” kata Mustar dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Selasa (6/5/2014).
Menurut Mustar, Pospera menilai pasangan Jokowi-Abraham mewakili kesederhanaan, kejujuran, intelektualitas, dan keadilan antikorupsi.
Menurut Mustar, Pospera menilai pasangan Jokowi-Abraham mewakili kesederhanaan, kejujuran, intelektualitas, dan keadilan antikorupsi.
Jokowi Juga Akan Bertemu Dubes-dubes dari Eropa
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dua hari belakangan ini
melakukan pertemuan dengan para duta besar (dubes) dari negara yang ada
di Timur Tengah (Timteng) dan Amerika. Jokowi masih akan melakukan
pertemuan dengan para dubes dari negara Asia dan Eropa.
"Pak Gubernur masih ada agenda pertemuan dengan dubes dari Asia tengah, selatan, barat dan pasifik. Juga dengan para dubes yang ada di negara di Eropa bagian tengah, timur, barat, selatan dan utara," ujar PLt Kepala Biro Kepala Daerah dan Hubungan Luar Negeri (KDH) DKI, Heru Budi Hartono saat berbincang dengan detikcom, Selasa (7/5/2014).
"Pak Gubernur masih ada agenda pertemuan dengan dubes dari Asia tengah, selatan, barat dan pasifik. Juga dengan para dubes yang ada di negara di Eropa bagian tengah, timur, barat, selatan dan utara," ujar PLt Kepala Biro Kepala Daerah dan Hubungan Luar Negeri (KDH) DKI, Heru Budi Hartono saat berbincang dengan detikcom, Selasa (7/5/2014).
Mahfud MD Dicoret dari Daftar Cawapres Jokowi
Calon wakil presiden yang akan mendampingi Joko Widodo (Jokowi) kian
mengerucut. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dikabarkan mencoret
nama Mahfud Mahfuddin (Mahfud MD) dari daftar cawapres. Partai
berlambang banteng moncong putih itu lebih condong ke Jusuf Kalla.
"Bukan dia (Mahfud Md)," kata seorang pengurus PDIP saat berbincang dengan detikcom, Selasa malam (6/5/2014). Dari 3 nama yang kini di 'kantongi' Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati dan Jokowi, nama Mahfud MD ada di urutan dua. Sementara JK masih teratas.
"Bukan dia (Mahfud Md)," kata seorang pengurus PDIP saat berbincang dengan detikcom, Selasa malam (6/5/2014). Dari 3 nama yang kini di 'kantongi' Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati dan Jokowi, nama Mahfud MD ada di urutan dua. Sementara JK masih teratas.
Langganan:
Postingan (Atom)




















