Pasangan Prahara (Prabowo-Hatta Radjasa) benar-benar membangun koalisi 'Tenda
besar' dengan menggabungkan semua kekuatan partai politik. Koalisi ini
dibuat tentunya dengan tujuan untuk bertarung melawan pasangan
JokoJek (Jokowi-Jusuf Kalla) yang hanya diusung empat parpol.
Hingga sejauh ini, Prabowo-Hatta sudah jelas diusung Gerindra,
Golkar, PAN, PPP, dan PKS, serta kemungkinan ditambah Partai Demokrat.
Namun menurut Sekjen PDI-P, Tjahjo Kumolo, pihaknya tak terlalu
mempermasalahkan hal itu.
Arsip terlengkap seputar kegiatan Jokowi mulai tahun 2013 hingga Jokowi Terindikasi Melindungi Koruptor.
Selasa, 20 Mei 2014
Gerindra Yakin Prabowo Akan Libas Jokowi Dengan Mudah
Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta M Taufik optimis pasangan Prabowo
Subianto-Hatta Rajasa bakal menang dalam pertarungan Pilpres 9 Juli
nanti. Gerindra Jakarta memiliki keyakinan penuh bila Prabowo-Hatta
mampu menaklukkan Jokowi-JK dalam satu putaran.
"Optimis dan yakin menang, target menang satu putaran," kata Taufik kepada wartawan di KPU, Jakarta, Selasa (20/5/2014).
Lebih lanjut, Taufik menegaskan, rakyat sekarang ini sudah semakin cerdas, dalam menentukan siapa capres dan cawapres yang pantas untuk memimpin bangsa ke depannya.
"Optimis dan yakin menang, target menang satu putaran," kata Taufik kepada wartawan di KPU, Jakarta, Selasa (20/5/2014).
Lebih lanjut, Taufik menegaskan, rakyat sekarang ini sudah semakin cerdas, dalam menentukan siapa capres dan cawapres yang pantas untuk memimpin bangsa ke depannya.
Tak Berani Oposisi, Ayooo...Demokrat Mau Kemana?
Partai Demokrat hingga kini belum
menentukan sikap di Pilpres 2014, apakah akan berkoalisi atau oposisi.
Menanggapi hal itu, Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia (UI)
Effendi Gazali memprediksi Partai Demokrat tak akan mengambil langkah
oposisi. Ia melihat PD akan merapat ke Partai Gerindra.
"Saya kok yakin PD ke Gerindra," ujar Effendi pada JPNN, Selasa (20/5/2014).
Mantan panitia komite konvensi PD itu
melihat ada tiga hal yang mendasari partai besutan Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) itu untuk merapat ke Partai Gerindra.
Beli Sayur, Jokowi Malah Bertemu Mantan Tetangga
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) kembali meresmikan pasar
tradisional yang baru selesai direvitalisasi. Kali ini, yang diresmikan
adalah Pasar Pos Pengumben, Kelurahan Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk,
Jakarta Barat, Selasa (20/5/2014).
Jokowi Resmikan Pasar Pos Pengumben
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Pasar Pos
Pengumben, Kantor Kelurahan Sukabumi Selatan Jakarta Barat, Selasa
(20/5/2014). Pasar tersebut merupakan salah satu dari enam pasar yang sudah
dibangun tapi belum diresmikan.
"Dengan ucapan Bismillahirrohamanirahim, Pasar Pos Pengumben, Jakarta Barat saya resmikan," kata Jokowi saat meresmikan pasar tersebut.
Pasar Pos Pengumben merupakan pasar yang diresmikan kedua setelah sebelumnya pada Jumat (16/5/2014) lalu Pasar Jembatan Dua, Jakarta Barat. Empat pasar selanjutnya yang akan diresmikan adalah Pasar Gembrong, Pasar Cikini Gold Center, Pasar Kelapa Gading, dan Pasar Gondangdia.
"Dengan ucapan Bismillahirrohamanirahim, Pasar Pos Pengumben, Jakarta Barat saya resmikan," kata Jokowi saat meresmikan pasar tersebut.
Pasar Pos Pengumben merupakan pasar yang diresmikan kedua setelah sebelumnya pada Jumat (16/5/2014) lalu Pasar Jembatan Dua, Jakarta Barat. Empat pasar selanjutnya yang akan diresmikan adalah Pasar Gembrong, Pasar Cikini Gold Center, Pasar Kelapa Gading, dan Pasar Gondangdia.
Nusron Wahid Atas Nama Ansor, Politisi Golkar Ini Membelot Dukung Jokowi
Politikus Golkar Nusron Wahid kemarin tampak datang dalam acara
deklarasi capres-cawapres Jokowi-Jusuf Kalla di Gedung Joang, Jakarta
Pusat. Kedatangan Nusron ini tidak mewakili partainya, melainkan sebagai
Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor.
"Saya atas nama warga negara, masa nggak bisa. Atas nama Ansor juga, tokoh muda NU," kata Nusron Wahid saat dihubungi merdeka.com, Selasa (20/5/2014).
Nusron mengatakan, kedatangannya untuk mendukung Jusuf Kalla lantaran cawapres Jokowi tersebut merupakan tokoh NU dan menjabat sebagai Dewan Mustasyar NU.
"Pak JK kan Dewan Mustasyar NU. Kalau orang NU punya hajat ya kita gotong royong kita dukung," papar mantan Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tersebut.
"Saya atas nama warga negara, masa nggak bisa. Atas nama Ansor juga, tokoh muda NU," kata Nusron Wahid saat dihubungi merdeka.com, Selasa (20/5/2014).
Nusron mengatakan, kedatangannya untuk mendukung Jusuf Kalla lantaran cawapres Jokowi tersebut merupakan tokoh NU dan menjabat sebagai Dewan Mustasyar NU.
"Pak JK kan Dewan Mustasyar NU. Kalau orang NU punya hajat ya kita gotong royong kita dukung," papar mantan Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tersebut.
Meski Senior, JK Tetap Hormati Jokowi
PDI Perjuangan bersama sejumlah parpol mitra koalisinya mengusung Jusuf
Kalla (JK) sebagai cawapres mendampingi Joko Widodo (Jokowi). Meski
dianggap berpengalaman dalam urusan kepemerintahan, namun kewenangan JK
tak akan melangkahi jabatan Jokowi.
Juru Bicara JK, Poempida Hidayatulloh mengatakan, dalam mengambil keputusan JK tentunya akan berkordinasi dengan Jokowi. Kalau nanti pasangan calon tersebut terpilih, keduannya akan menjadi pemimpin yang sama-sama proaktif dan kordinatif.
"Pak JK itu adalah orang yang sangat santun dan dapat menempatkan diri sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya," kata Poempida saat dihubungi Republika, Selasa (20/5/2014).
Juru Bicara JK, Poempida Hidayatulloh mengatakan, dalam mengambil keputusan JK tentunya akan berkordinasi dengan Jokowi. Kalau nanti pasangan calon tersebut terpilih, keduannya akan menjadi pemimpin yang sama-sama proaktif dan kordinatif.
"Pak JK itu adalah orang yang sangat santun dan dapat menempatkan diri sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya," kata Poempida saat dihubungi Republika, Selasa (20/5/2014).
Relawan Jokowi-JK Gelar Donor Darah
Relawan Joko Widodo - Jusuf Kalla (Jokowi-JK) yang tergabung dalam
Lapak Jokowi Papua di Jayapura menggelar aksi donor darah, Selasa
(20/5/2014).
Tes Kesehatan, Jokowi Pilih Hari Kamis
Pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla lebih
memilih tes kesehatan pada Kamis, 22 Mei 2014, atau sehari sebelum
penutupan tes kesehatan pada 23 Mei 2014.
"Saya pilih hari Kamis karena memang tes kesehatannya tanggal 20-23 Mei 2014," ujar Jokowi di Balai Kota, Selasa, 20 Mei 2014.
Jokowi sengaja tak mau terburu-buru melakukan tes kesehatan setelah dirinya dan Kalla mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum kemarin. Sebab, menurut dia, perlu ada persiapan dahulu sebelum tes kesehatan.
"Saya pilih hari Kamis karena memang tes kesehatannya tanggal 20-23 Mei 2014," ujar Jokowi di Balai Kota, Selasa, 20 Mei 2014.
Jokowi sengaja tak mau terburu-buru melakukan tes kesehatan setelah dirinya dan Kalla mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum kemarin. Sebab, menurut dia, perlu ada persiapan dahulu sebelum tes kesehatan.
Reformasi Pajak dan Subsidi BBM bisa jadi Visi Jokowi - JK
Anton Gunawan, ekonom Bank Danamon, menyatakan bahwa pasangan Joko Widodo - Jusuf Kalla memiliki potensi dalam memajukan perekonomian.
Menurutnya ada visi misi dalam memperbaiki perekonomian yang harus dilakukan pasangan ini, yang memiliki sosok JK sebagai praktisi ekonomi.
"Banyak visi misi yang dilakukan seperti mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), ini bisa kita lakukan dengan menyalurkannya ke ke sektor-sektor produktif seperti infrastruktur dan lain-lain," kata Anton di Jakarta, Selasa (20/5/2014).
Anton menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan transportasi laut memungkinkan dibangun jika subsidi BBM dicabut.
Menurutnya ada visi misi dalam memperbaiki perekonomian yang harus dilakukan pasangan ini, yang memiliki sosok JK sebagai praktisi ekonomi.
"Banyak visi misi yang dilakukan seperti mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), ini bisa kita lakukan dengan menyalurkannya ke ke sektor-sektor produktif seperti infrastruktur dan lain-lain," kata Anton di Jakarta, Selasa (20/5/2014).
Anton menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan transportasi laut memungkinkan dibangun jika subsidi BBM dicabut.
JK: Pilih Mantan Ketum Partai Sendiri Atau Ketum Partai Lain?
Mantan Ketua Umum DPP. Partai Golkar, Jusuf Kalla (JK), didapuk sebagai calon wakil presiden (Cawapres) untuk calon presiden (capres) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Joko Widodo (Jokowi). Namun Partai Golkar sendiri memberikan dukungannya untuk pasangan Prabowo Subianto - Hatta Rajasa.
JK kepada wartawan di kediamannya Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (20/5/2014), mengatakan pada pemilu presiden masyarakat akan memilih figur, dan bukan memilih partai.
Soal ancaman sanksi bagi kader Partai Golkar yang menentang keputusan partai dengan tidak mendukung pasangan Prabowo - Hatta, JK menganggap hal itu bukan lah suatu hal yang patut.
JK kepada wartawan di kediamannya Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (20/5/2014), mengatakan pada pemilu presiden masyarakat akan memilih figur, dan bukan memilih partai.
Soal ancaman sanksi bagi kader Partai Golkar yang menentang keputusan partai dengan tidak mendukung pasangan Prabowo - Hatta, JK menganggap hal itu bukan lah suatu hal yang patut.
Prahara Unggul Dukungan Parpol, Hasil Pilkada DKI Jilid 2
Pengamat politik Univeristas Pelita Harapan, Victor Silaen menilai di atas kertas, pasangan bakal calon presiden Prabowo Subianto dan bakal calon wakil presiden Hatta Rajasa mendapat dukungan partai politik lebih banyak dibanding pasangan bakal capres Joko Widodo (Jokowi) dan bakal cawapres Jusuf Kalla (JK).
Keputusan Partai Golkar pada detik-detik akhir semakin memperbesar dukungan untuk Prabowo-Hatta.
Keputusan Partai Golkar pada detik-detik akhir semakin memperbesar dukungan untuk Prabowo-Hatta.
Ancaman Ical Dianggap Angin Lalu
Partai Golkar akhirnya memutuskan berkoalisi untuk mendukung
pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Meski demikian,
tak semua elite Golkar mendukung keputusan itu.
Politisi Golkar yang juga jubir Jusuf Kalla (JK) Poempida Hidayatulloh mengakui banyak kader Golkar yang lebih mendukung pasangan Jokowi-JK ketimbang mengikuti kebijakan sang Ketua Umum Aburizal Bakrie (Ical) untuk mendukung Prabowo-Hatta. Golkar pun terancam terbelah di Pilpres 2014.
Politisi Golkar yang juga jubir Jusuf Kalla (JK) Poempida Hidayatulloh mengakui banyak kader Golkar yang lebih mendukung pasangan Jokowi-JK ketimbang mengikuti kebijakan sang Ketua Umum Aburizal Bakrie (Ical) untuk mendukung Prabowo-Hatta. Golkar pun terancam terbelah di Pilpres 2014.
Ini Visi dan Misi Jokowi-JK
Sebagai dokumen yang wajib diserahkan saat pendaftaran, pasangan
bakal calon presiden dan bakal calon wakil presiden (Capres dan
Cawapres) Joko Widodo-Jusuf Kalla telah menyerahkan visi dan misi.
Pasangan ini memberi judul dan tema besar
"Jalan Perubahan Untuk Indonesia Yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian" terhadap visi-misi yang disesuaikan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) itu.
"Jalan Perubahan Untuk Indonesia Yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian" terhadap visi-misi yang disesuaikan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) itu.
Ramli: Saya Pengurus Golkar, Kenapa Harus Dukung Prabowo?
Muhammad Ramli Rahim menentang keras keputusan Aburizal Bakrie dan pengurus Partai Golkar lainnya yang mengarahkan dukungan partai pemenang nomor dua pemilu legislatif 2014 itu kepada pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Metro TV = Jokowi, TV One + MNC TV = Prabowo
Ada cerita menarik di balik siaran langsung televisi berita dalam ajang Pilpres 2014. Dukungan berbeda antara pemilik kedua stasiun televisi berita tvOne dan MetroTV tampak pada pemberitaan.
Kemarin, MetroTV menayangkan pendaftaran duet capres-cawapres Joko Widodo dan Jusuf Kalla , tvOne memilih menyiarkan langsung deklarasi Prabowo-Hatta Rajasa, Senin (19/5/2014).
Kemarin, MetroTV menayangkan pendaftaran duet capres-cawapres Joko Widodo dan Jusuf Kalla , tvOne memilih menyiarkan langsung deklarasi Prabowo-Hatta Rajasa, Senin (19/5/2014).
Jokowi Optimistis Anggaran KJP Segera Cair
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menyatakan optimis anggaran
Kartu Jakarta Pintar (KJP) bagi siswa yang tidak mampu akan segera
dicairkan.
“Anggaran KJP cair sebentar lagi,” kata Jokowi seusai menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan IRTI Monas, Jakarta, Selasa (20/5).
Namun ketika ditanya kapan pencairan anggaran KJP dapat dilakukan, Jokowi menyatakan tidak tahu menahu. Dia hanya meminta awak media untuk bertanya kepada instansi yang mencairkan anggaran tersebut, yaitu Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DKI dan Dinas Pendidikan (Disdik) DKI.
“Anggaran KJP cair sebentar lagi,” kata Jokowi seusai menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan IRTI Monas, Jakarta, Selasa (20/5).
Namun ketika ditanya kapan pencairan anggaran KJP dapat dilakukan, Jokowi menyatakan tidak tahu menahu. Dia hanya meminta awak media untuk bertanya kepada instansi yang mencairkan anggaran tersebut, yaitu Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DKI dan Dinas Pendidikan (Disdik) DKI.
Pilpres 2014 Ulangan dari Pilpres 2004
Dalam pemilihan presiden (Pilpres),
pemilih akan menentukan pilihan karena milihat figur sang
capres-cawapres. Pemilih tidak terlalu peduli dengan partai apa saja
yang mendukung capres-cawapres.
Karena itu, Direktur Eksekutif Lingkaran
Survei Indonesia (LSI) Denny JA yakin Pilpres 2014 akan mengulangi
Pilpres 2004; capres dari koalisi ramping mengalahkan capres koalisi
partai yang gemuk. Dalam hal ini, pasangan Jokowi-JK, yang memang
didukung koalisi partai dengan persentase yang lebih kecil, aka mirip
dengan SBY di 2014, yang akhirnya akan keluar sebagai pemenang.
Kelebihan Jokowi-JK
Peneliti Lembaga Survei Indonesia Adjie Alfarabi mengatakan publik menilai pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla lebih jujur dibandingkan dengan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.
"Publik juga menganggap mereka berdua lebih dekat dengan rakyat," kata Adjie ketika dihubungi, Selasa 20 Mei 2014.
Namun menurut Adjie, dalam survei LSI pada Mei lalu, belum terlihat sosok calon wakil presiden yang mampu meningkatkan elektabilitas calon presiden. Ketika dipasangkan dengan JK ternyata elektabilitas Jokowi tidak naik signifikan.
"Publik juga menganggap mereka berdua lebih dekat dengan rakyat," kata Adjie ketika dihubungi, Selasa 20 Mei 2014.
Namun menurut Adjie, dalam survei LSI pada Mei lalu, belum terlihat sosok calon wakil presiden yang mampu meningkatkan elektabilitas calon presiden. Ketika dipasangkan dengan JK ternyata elektabilitas Jokowi tidak naik signifikan.
Jokowi Masih Tunggu Penonaktifan Dirinya sebagai Gubernur
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) masih menunggu penonaktifan
dirinya sebagai gubernur dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
dalam rangka pencalonan dirinya sebagai presiden.
Jokowi mengatakan, posisi dirinya menjadi gubernur non-aktif kemungkinan baru berlaku pada 1 Juni mendatang.
"Untuk pecapresan (izin) sudah keluar dari Bapak Presiden, untuk yang non-aktifnya, masih nunggu," kata Jokowi usai menjadi Inspektur Upacara (Irup) Peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan Ex. IRTI, Monas, Jakarta Pusat, Selasa (20/5/2014).
Jokowi mengatakan, posisi dirinya menjadi gubernur non-aktif kemungkinan baru berlaku pada 1 Juni mendatang.
"Untuk pecapresan (izin) sudah keluar dari Bapak Presiden, untuk yang non-aktifnya, masih nunggu," kata Jokowi usai menjadi Inspektur Upacara (Irup) Peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan Ex. IRTI, Monas, Jakarta Pusat, Selasa (20/5/2014).
Nyapres, Jokowi Klaim Tetap Fokus Sebagai Gubernur
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo membantah dirinya tak lagi
berkonsentrasi penuh saat menjalani tugasnya sebagai gubernur usai
mendaftarkan diri sebagai calon presiden ke Komisi Pemilihan Umum.
Jokowi menjamin dirinya masih menunaikan tugasnya seperti biasa sebagai
gubernur.
"Sekarang pukul berapa? Nyatanya saya masih hadir saat upacara, kan?" kata Jokowi usai memimpin upacara Hari Kebangkitan Nasional di lapangan eks IRTI Monas, Jakarta, Selasa, 20 Mei 2014.
"Sekarang pukul berapa? Nyatanya saya masih hadir saat upacara, kan?" kata Jokowi usai memimpin upacara Hari Kebangkitan Nasional di lapangan eks IRTI Monas, Jakarta, Selasa, 20 Mei 2014.
Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Jokowi Tekankan Pendidikan Paling Utama
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menekankan jika kebangkitan
khususnya di Jakarta bisa dicapai dengan pendidikan sedari awal. Hal
itu dia katakan bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional
(Harkitnas) yang jatuh pada 20 Mei ini.
Menurutnya, pendidikan merupakan dasar dalam membangun karakter manusia. Bagaimanapun kekayaan alam yang berlimpah, tidak bisa membangun suatu bangsa menjadi lebih maju jika pendidikan tidak ada.
Menurutnya, pendidikan merupakan dasar dalam membangun karakter manusia. Bagaimanapun kekayaan alam yang berlimpah, tidak bisa membangun suatu bangsa menjadi lebih maju jika pendidikan tidak ada.
Golkar Segera Pecat Kader Yang Dukung JK
Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Mahyudin mengatakan partainya
akan menjatuhkan sanksi pada pengurus yang mendukung pasangan Joko
Widodo dan Jusuf Kalla pada pemilihan presiden 9 Juli mendatang. Menurut
dia, pengurus Golkar harus tunduk pada keputusan Ketua Umum Aburizal
Bakrie alias Ical yang mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Hatta
Rajasa.
"Dalam organisasi itu ada aturan dan semua harus tunduk," kata Mahyudin saat dihubungi, Selasa (20/5/2014).
"Dalam organisasi itu ada aturan dan semua harus tunduk," kata Mahyudin saat dihubungi, Selasa (20/5/2014).
Media Sosial Lebih Merespons Deklarasi Jokowi-JK Ketimbang Prabowo-Hatta
Dua pasangan calon presiden (Capres) mendeklarasikan calon wakil
presiden (Cawapres) di Jakarta, Senin (19/5). Capres Joko Widodo
(Jokowi) berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK). Sementara Capres Prabowo
Subianto berpasangan dengan Hatta Rajasa.
Hasil pemantauan PoliticaWave menemukan kenaikan komunikasi di dunia maya yang signifikan atau hampir dua kali lipat pada Senin (19/5) dibandingkan dari hari sebelumnya.
Hasil pemantauan PoliticaWave menemukan kenaikan komunikasi di dunia maya yang signifikan atau hampir dua kali lipat pada Senin (19/5) dibandingkan dari hari sebelumnya.
Jokowi JK Hanya Kuat di Survei
Pemilihan presiden (Pilpres) 9 Juli nanti hampir dipastikan hanya akan diikuti dua pasangan capres-cawapres. Mereka adalah Joko Widodo (Jokowi)- Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Di tempat berbeda, kedua pasangan itu akhirnya sama-sama dideklarasikan, Senin (19/5/2014).
Jokowi-JK mendeklarasikan kepastian duet mereka di Gedung Joeang-45, Jakarta. Sedangkan, Prabowo-Hatta di Rumah Polonia, Cipinang Cempedak, Jakarta. Rumah yang nantinya dijadikan posko pemenangan Prabowo-Hatta itu dulunya pernah ditinggali Presiden pertama RI Soekarno.
Hari Ini Demokart Akan Bergabung dengan Prabowo
Partai Demokrat (PD) baru akan mengumumkan keputusan final partainya menghadapi Pilpres 9 Juli, hari ini (19/5/2014).
Namun demikian, ada ruang keputusan
akhir partai yang dikomandani Susilo Bambang Yudhoyono itu nantinya akan
berbeda dengan aspirasi mayoritas peserta Rapimnas yang menghendaki
Demokrat netral.
Tadi malam, SBY mengundang pasangan Prabowo-Hatta datang ke kediamannya, Cikeas, Bogor.
Tadi malam, SBY mengundang pasangan Prabowo-Hatta datang ke kediamannya, Cikeas, Bogor.
Dendam pada Jokowi, Rhoma Kembali Ke Kawan Lama
Rhoma Irama tidak ingin kecewa
berlama-lama karena pencapresannya yang telah digadang-gadang Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB) akhirnya batal. Dia pun telah menentukan arah
pilih untuk Pilpres 2014 sebagai panduan juga buat pendukungnya.
Rhoma yang dikenal sebagai Raja Dangdut
menyatakan dukungan kepada pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa
dalam Pilpres 2014. Sikap Rhoma ini berlawanan dengan keputusan PKB yang
mendukung Jokowi yang sejatinya merupakan musuh abadinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
+vs+Prabowo+Hatta+(Prahara).jpg)











+vs+Prabowo+Hatta+(Prahara)+2.jpg)







+vs+Prabowo+Hatta+(Prahara).jpg)


