Kamis, 15 Mei 2014

Peluang Jokowi Kalah Terbuka Bila Salah Pilih Cawapres

Lembaga survei Founding Fathers House (FFH) merilis hasil penelitian selama 11 April sampai 14 Mei 2014 di 34 provinsi. Survei yang melibatkan ratusan orang itu menempatkan Jawa Barat sebagai daerah yang memiliki sampel terbanyak, sedangkan Provinsi Papua memiliki sampel paling sedikit.
Peneliti senior dari FFH Dian Permata menyebut, hasil penelitiannya menempatkan tiga nama terkuat menjadi cawapres di pilres nanti, antara lain Dahlan Iskan, Mahfud MD dan Jusuf Kalla (JK).
"Ketiga nama itu potensial menjadi cawapres di Pilres 2014. Karena mereka punya modal sosial dan politik tertinggi bila dipasangkan dengan capres manapun, mulai Aburizal Bakrie, Joko Widodo alias Jokowi maupun Prabowo Subianto," kata Dian, di Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (15/5/2014).

JK Baru Bisa jadi Cawapres Setelah Rapimnas

Sekjen Partai Golkar Idrus Marham menyatakan, keputusan majunya Jusuf Kalla sebaga calon wakil presiden mendampingi capres Jokowi, akan diputuskan di rapat pimpinan nasional (Rapimnas) partainya pada 18 Mei 2014.
Penegasan tersebut disampaikan Idrus seusai menghadiri acara ulang tahun Jusuf Kalla ke-72 di rumahnya, Jl Brawijaya 6 Jakarta Selatan, Kamis (15/5/2014).
Pasalnya, partainya belumpernah melakukan pembahasan tersebut.
"Kita belum prnah bicarakan itu (cawapres JK), tetapi ARB (Abuizal Bakrie) akan menyerahkan semuanya kepada peserta rapimnas," kata Idrus.

PDIP Masih Pertimbangkan Abraham Samad Jadi Pendamping Jokowi

PDI Perjuangan mengakui nama Ketua KPK Abraham Samad masuk dalam bursa calon wakil presiden pendamping Joko Widodo. Samad masuk bursa bersama calon lainnya Jusuf Kalla.
"Itu (Samad) masuk dalam pertimbangan. Tapi kan belum ada keputusan," kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP Puan Maharani di Jalan Teuku Umar, Jakarta, Kamis (15/5/2014).
Puan juga mengatakan Jusuf Kalla masuk dalam bursa cawapres dan masuk dalam pertimbangan Megawati Soekarnoputri. Puan menuturkan keputusan pendamping Jokowi harus dibicarakan dengan partai pendukung.

Denny JA Dukung Jokowi Karena Ideologi

Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengungkapkan alasan dirinya mendukung Jokowi lebih karena ideologi, yaitu karena ada kesamaan paham kebangsaan, khususnya terkait dengan semangat yang melekat pada Jokowi tentang konsep keberagaman.
"Dia lah Capres yang saya amati memiliki kesungguhan untuk mewujudkan  program berkesinambungan tentang indahnya warna-warni Indonesia. Yaitu, Indonesia yang harus tetap hidup dengan aneka keberagaman suku, agama, etnis dan budayanya," kata Denny JA dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis.
Menurut Denny, Indonesia yang warna-warni adalah mimpi pendiri negara ini dan juga mimpi bangsa Indonesia.

Pohan: Pemenang Konvensi Demokrat Jadi Cawapres

Niat partai Demokrat untuk menjadikan pemenang peserta konvensi menjadi calon presiden nampaknya akan dikubur dalam-dalam.
Pasalnya, elektabilitas kesebelas peserta yang ada saat ini tidak ada satupun yang bombastis untuk menyamai survei dari Jokowi maupun Prabowo.
Menurut Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Ramadhan Pohan, pemenang konvensi yang akan diumumkan pada esok hari, Jumat 16 Mei 2014 di DPP Partai Demokrat akan dimungkinkan untuk dimajukan sebagai calon wakil presiden (cawapres).

Jokowi Harus Merefleksikan PDIP

Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Sukarnoputri menyebut calon presiden PDIP, Joko Widodo (Jokowi), sebagai Petugas Partai yang harus patuh banyak menimbulkan kontrofersi.
Peneliti politik Lembaha Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, kepada wartawan di kantor Founding Fathers House (FFH), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (15/5/2014), mengatakan bahwa pernyataan itu sebagai amanah dari Ketua Umum Partai terhadap kadernya.

Kuasai Jatim, PKB siap menangkan Jokowi

Sukses mendominasi suara di Jawa Timur pada Pemilu Legislatif (Pileg) 9 April lalu, PKB ingin mengulang kemenangannya di pilpres pada Juli mendatang. Namun kali ini, PKB ingin memenangkan perolehan suara untuk calon presiden dari PDIP Joko Widodo (Jokowi) di Jatim.
Bahkan, DPW PKB Jawa Timur begitu optimis bisa memenangkan Gubernur DKI Jakarta itu. Sebab, kali ini PKB tidak sendiri, melainkan bersama-sama PDIP, dan NasDem. Sementara Golkar masih menimang-nimang berkoalisi menunggu hasil rapimnas.

Wasekjen PDIP Sebut Cawapres Jokowi dari Luar Jawa

PDI Perjuangan belum mengumumkan siapa calon pendamping Joko Widodo di pemilihan presiden 2014 nanti. Saat ini di internal PDI Perjuangan beredar informasi yang akan mendampingi Jokowi berasal dari luar pulau Jawa.
Hal itu dikatakan oleh Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Eriko Sotarduga. "Di internal (PDIP) isu cawapres berkembang dari luar pulau Jawa, seperti pak Ryamizard dan pak Mahfud MD. Pak Mahfud itu kan dari Madura, Madura itu juga luar pulau Jawa. Itu kemungkinan bisa dipilih," kata Eriko di Galery Cafe TIM, Jakarta Pusat, Kamis (15/5/2014).

Prabowo-Hatta Duet Capres Elite yang Bisa Imbangi Jokowi

Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro mengapresiasi wacana duet Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto dengan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Hatta Rajasa. Kata dia keduanya mewakili kalangan elit.
Siti mengatakan duet Prabowo-Hatta bisa mengimbangi kekuatan calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Joko Widodo (Jokowi) yang cenderung merakyat.

Jokowi dan Prabowo Ingin Koalisi dengan Golkar, Bukan Ical

Berbeda dengan partai lain, Partai Golkar hingga kini belum menemukan mitra koalisi. Pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Ahmad Taufan Damanik, mengatakan, PDIP dan Gerindra berpeluang menjadi mitra koalisi Golkar.
Namun kedua partai itu harus bersabar. Meski Golkar sudah buntu dengan pencapresan Aburizal Bakrie atau Ical, namun kesepakatan koalisi harus ditentukan Rapimnas.
"Harus diakui dalam internal Golkar ada persoalaan sejak lama, tapi mereka terikat dengan aturan dan prosedur internal. Mereka tak berminat berkoalisi dengan Ical. Tapi dengan Golkar mereka berharap besar," kata Taufan saat dihubungi, Kamis (15/5/2014).

Rhoma Irama Batal Dicapreskan, Penggemar Gunting 'PKB'

Menyusul keputusan PKB mendukung pencapresan Jokowi, komunitas pendukung Rhoma Irama membuktikan ultimatumnya untuk menarik dukungan. Ini merupakan pelampiasan kekecewaan gara-gara PKB tidak penuhi janji untuk memperjuangkan idola mereka menjadi kontestan Pilpres 2014.
"Mulai hari ini kita tinggalkan PKB," tegas Ketua DPC Forsa (Fans of Rhoma and Soneta) Jakarta Barat, Zainal, kepada wartawan, di Joglo, Jakarta Barat, Kamis (15/5/2014).

Saat Lembaga Survei Salah Prediksi Jokowi Menang

Tidak selamanya hasil lembaga survei benar. Termasuk soal survei yang mengindikasikan Jokowi menang di pemilu presiden 2014.
Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, banyak lembaga survei yang menyebut Jokowi unggul segala-galanya, ternyata tidak benar.
Dia mengambil contoh sebelum pemilu legislatif 2014. Diprediksi Jokowi bakal mampu memenangi PDI Perjuangan, tapi ternyata tidak sama sekali.

Anggap Jokowi cacat moral, fans Rhoma tolak koalisi PKB-PDIP

Sejumlah penggemar Rhoma Irama yang tergabung dalam Forsa (Fans of Rhoma and Soneta) menyatakan sikap mendukung sikap mantan bakal calon presiden PKB tersebut menolak koalisi PKB dengan PDIP.
Mereka menganggap, bakal capres PDIP sebagai tokoh yang cacat moral dan etika.
Dalam pernyataan sikapnya, ketua Forsa Jakarta Barat, Zainal SP mengatakan, mereka mengecam sikap sikap DPP PKB yang menafikan peran Rhoma Irama dan pendukungnya.
Menurut dia, peran Rhoma dan penggemarnya turut serta menaikkan suara PKB.

Jokowi, Risma, dan Emil, Jadi Nominator Wali Kota Terbaik Dunia 2014

Tiga kepala daerah di Indonesia, masuk dalam daftar nominator peraih penghargaan wali kota terbaik dunia, World Mayor Prize 2014.

Apa Kesepakatan PDIP-Golkar?

Bila merujuk sejarah dan basis massa masing-masing, maka koalisi antara Partai Golkar dengan PDIP dinilai sulit terjadi. Tapi seandainya koalisi antara dua parpol besar itu benar-benar terjadi, patut dicermati apa kesepakatan mereka terkait dengan pencapresan Jokowi.
Pengamat politik Hamdi Muluk menyebut, bagaimanapun bentuk koalisinya nanti pasti menarik. Sebab di dalam pidato politik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri, Rabu (15/5/2014) menggambarkan ketidaksukaannya terhadap partai yang suka menunggu di tikungan dan tak punya pendirian.
"Kalau ada yang berminat silakan ikut aturan main (mengutip penegasan Megawati -red).

PDIP Sulit Terima Golkar Gabung untuk Berkoalisi

Meski sudah didatangi beberapa kali oleh petinggi partai Golkar termasuk Ketua Umum Aburizal Bakrie, diprediksi PDI Perjuangan tidak mudah begitu saja menerima partai berlambang beringin itu masuk ke gerbong koalisi partai banteng moncong putih.
Alasannya, sejak awal PDI Perjuangan hanya ingin membentuk koalisi ramping. Dengan masuknya partai Golkar justru kondisi akan menjadi sebaliknya, gemuk.
"PDIP punya prinsip, dia malu menjilat ludah. Ini kerjasama yang ramping, solid, efektif, kalau Golkar masuk kan (jadi) lebih gemuk dari Gerindra," kata Pengamat Politik LIPI Siti Zuhro di kantor Founding Fathers House (FFH), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis(15/5/2014).

Cawapres Jokowi Tinggal 2 Nama

Siapa nama yang bakal menjadi pendamping calon presiden (capres) PDIP, Joko Widodo mulai ‘mengerucut’. Dari sekian nama yang sempat muncul, saat ini hanya menyisakan dua nama yang akan segera diputuskan sebagai calon wakil presiden (cawapres).
“Tinggal dua nama yang akan kita putuskan secepatnya,” ungkap capres PDIP, Joko Widodo, usai bersilaturahim dengan pengasuh pondok pesantren (ponpes) Edi Mancoro, Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, kamis (15/5/2014).
Jokowi - panggilan akrab Joko Widodo - meminta semua pihak agar bersabar sedikit, terkait dengan siapa nama cawapres yang bakal menjadi pasangannya. Sebab nama cawapres ini akal segera diputuskan.

Inilah Beberapa Opsi yang Tersedia buat Demokrat

Pilihan Partai Demokrat untuk berkoalisi dengan partai politik lain untuk menghadapi pertarungan pilpres 2014 dinilai terbatas. Kemungkinan terbesar PD hanya akan bisa berkoalisi dengan Partai Golkar. Itu pun jika PG tak berkoalisi dengan PDIP.
Menurut Direktur Saiful Mujani Research and Consulting, Jayadi Hanan, jika pun PD dan PG berkoalisi maka problemnya akan ada pada sosok calon presiden dan wakil presiden yang diusung.

PDIP Belum 'Deal' dengan Golkar Soal Koalisi

PDI Perjuangan menyatakan belum ada kesepakatan dengan Golkar mengenai koalisi mendukung calon presiden Joko Widodo. Meskipun, Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie telah bertemu empat mata dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta, Selasa (15/5/2014).
Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo mengakui pihaknya masih mencermati pergerakan Golkar dalam menentukan arah koalisi. "Makanya pertemuan hari ini tidak ada deal. Makanya Ibu Mega masih mencermati.

PDIP Jabar Ingin Pendeklarasian Jokowi di Bandung

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Barat berharap Jowowi dan calon wakil presidennya menggelar deklarasi di Kota Bandung. Deklarasi di 'Kota Kembang' dianggap sangat cocok karena penuh dengan nilai sejarah.
Wakil Sekretaris DPD PDIP Jabar, Abdy Yuhana mengatakan Bandung sebagai ibukota provinsi Jabar punya nilai historis sangat kuat bagi PDIP. Pasalnya, Soekarno tumbuh dan belajar di kota ini.

PDIP Minta Kader Tak Tersandera Masa Lalu

Jubir PDI Perjuangan (PDIP), Eva Kusuma Sundari meminta relawan Joko Widodo (Jokowi) agar tidak tersandera masa lalu. Pernyataan itu terkait dengan penolakan relawan Jokowi atas rencana koalisi PDIP dengan Partai Golkar yang dianggap sisa Orde Baru. 
"Gak mungkin disandera oleh masa lalu. Kalau semua mau, maka mesti memperbaiki masa lalu," ujar Eva kepada Republika, Kamis (15/5/2014).
Golkar memang dikabarkan akan segera merapat dalam barisan PDIP. Namun, sebelum terealisasi, para relawan telah mengeluarkan sikap kritis.

TB Hasanuddin: Insya Allah Jokowi Menang Tak Usah Sebar Fintah ke Capres Lain

Wakil Ketua BP Pemilu PDI Perjuangan Tubagus (TB) Hasanuddin menyatakan, dengan telah dideklarasikannya dukungan dari Partai  Nasdem dan PKB, Rabu (14/5/2014) kemarin, sarat jokowi sebagai capres terpenuhilah sudah untuk didaftarkan ke KPU.
"Apalagi kalau kemudian muncul dukungan dari parta-partai lainnya seperti Golkar , Hanura dan lainnya . Dukungan ini merupakan dukungan atas dasar keikhlasan dan kesadaran bersama dalam rangka membangun Indonesia yang lebih baik , Indonesia yang adil dan sejahtera," ujar TB Hasanuddin.

Mega Akan Bertemu Wiranto

Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP, Puan Maharani mengatakan, partainya masih menjalin penjajakan dengan partai-partai lain selain koalisi yang ada saat ini.
Partai yang akan dijajaki PDIP adalah partai selain Nasdem dan PKB. Salah satunya adalah Partai Hanura.
Menurut Puan, PDIP telah melakukan komunikasi intensif dengan Hanura. Bila tak ada halangan, dalam waktu dekat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri akan menggelar pertemuan dengan Ketua Umum Hanura Wiranto.

Pohan: Siapa Bilang Koalisi Demokrat-Golkar Terkunci?

Partai Demokrat belum menemukan mitra koalisi di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, meskipun pendaftaran peserta pilpres akan berakhir 20 Mei.
Banyak yang menilai partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono itu terancam hanya akan menjadi penonton di pilpres jika tak cepat menentukan sikap.
Namun, Wakil Sekretaris Jenderal PD Ramadhan Pohan menjelaskan bahwa dalam perpolitikan Indonesia, saat-saat akhir itu memang menentukan.

Para Atlet Harapkan Jokowi Memimpin Negeri dengan Jujur

Kekaguman para atlet olahraga terhadap bakal Calon Presiden Joko Widodo ternyata tidak main-main. Pasalnya kekaguman para atlet ini dikukuhkan dalam sebuah deklarasi dukungan.
Beberapa atlet menyatakan, dukungan mereka berdasarkan berbagai alasan. Salah satunya yang diungkapkan mantan atlet olahraga cabang sepakbola Yudo Hadianto.
"Dia merakyat, apapun hasilnya adalah untuk rakyat. Kita lihat hasilnya saat menjadi gubernur, kita selama ini tidak pernah berpihak, namun bukan berarti tidak peduli atau tidak paham dan mau dibodohi. Saya yakin Jokowi bisa berperan sebagai penjaga gawang menghadapi tergerusnya peluang bagi olahragawan Indonesia akibat globalisasi," kata Yudo di Laguna Resto, Komplek Gelanggang Olahraga Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (15/5/2014).

Puan Maharani Kandidat Pendamping Jokowi

Nama Ketua BP Pemilu PDIP Puan Maharani kembali mencuat sebagai calon pendamping Joko Widodo di Pilpres 2014.
Hal itu diutarakan langsung oleh Puan Maharani usai pertemuan dengan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie di Jalan Teuku Umar, Jakarta, Kamis (5/15/2014).
"Kalau di internal ya bisa aja. Hari-hari ini saya jadi kandidat," tutur Puan.
Namun, Puan mengatakan keputusan mengenai pendamping Jokowi sepenuhnya ada di tangan Megawati Soekarnoputri. 

Puan Jelaskan Soal Jokowi Petugas Partai

Ketua DPP PDIP Puan Mahari menjelaskan pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati soekarnoputri, yang menyebut Joko Widodo sebagai petugas partai yang dicapreskan oleh PDIP.
"Mandat yang diberikan ketum itu adalah menunjuk orang jadi capres dari PDI Perjuangan. Mandat itu diberikan kepada Jokowi sebagai petugas partai. Tapi Pak Jokowi harus paham sebagai penugasan beliau itu adalah mewakili PDI Perjuangan," terang Puan, di kediaman ibundanya, Jl Teuku Umar, No 27A, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (15/5/2014).