Arsip terlengkap seputar kegiatan Jokowi mulai tahun 2013 hingga Jokowi Terindikasi Melindungi Koruptor.
Kamis, 15 Mei 2014
Silaturahmi Jokowi Temui Sejumlah Tokoh Di Jawa Tengah
Usai Pertemuan Ical-Mega, Cawapres untuk Jokowi Kembali Misteri
Siapa tokoh yang akan jadi bakal cawapres untuk Jokowi semakin misterius pasca kunjungan Ketum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie kepada Ketum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri. Wacana yang pekan lalu Jokowi sampaikan bahwa sang kandidat kuat berasal dari Makassar, pun mentah kembali.
"Sampai sekarang belum disampaikan siapa orangnya," ujar Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo di kediaman Megawati, Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (15/5/2014).
Ini disampaikannya usai bersama Puan Maharani mendampingi Megawati menerima kunjungan Ical. Di dalam pertemuan yang diawali dengan makan siang bersama itu, Ical didampingi Bendahara Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto dan Ketua Streering Comitte Rapimnas Partai Golkar Idrus Marham.
"Sampai sekarang belum disampaikan siapa orangnya," ujar Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo di kediaman Megawati, Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (15/5/2014).
Ini disampaikannya usai bersama Puan Maharani mendampingi Megawati menerima kunjungan Ical. Di dalam pertemuan yang diawali dengan makan siang bersama itu, Ical didampingi Bendahara Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto dan Ketua Streering Comitte Rapimnas Partai Golkar Idrus Marham.
Sabam: JK Lebih Cocok Jadi Wantimpres
Politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sabam Sirait menilai sebaiknya Jusuf Kalla menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Sabam mengaku, JK terlalu tua untuk mendampingi Calon Presiden PDIP Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2014 ini.
Begitu dikatakannya saat ditanya apakah Jusuf Kalla cocok mendampingi Jokowi sebagai cawapres dalam diskusi politik bertajuk "Mantenan Politik 2014-2019: Versi Rakyat vs Versi Elite" yang dirilis Founding Fathers House (FHH).
Begitu dikatakannya saat ditanya apakah Jusuf Kalla cocok mendampingi Jokowi sebagai cawapres dalam diskusi politik bertajuk "Mantenan Politik 2014-2019: Versi Rakyat vs Versi Elite" yang dirilis Founding Fathers House (FHH).
PDIP Menunggu Hasil Rapimnas Golkar soal Koalisi Jokowi
Ketua DPP PDIP Puan Maharani mengatakan, partainya akan bersabar menunggu kepastian Partai Golkar untuk bergabung dalam format kerja sama PDIP dalam mengusung capres-cawapres 2014.
"Ini dalam penjajakan apakah Partai Golkar memungkinkan mendukung PDI Perjuangan dan sama-sama dengan PDI Perjuangan bangun bangsa ini kedepan. Tapi itu harus dilaporkan dulu dalam rapimnas. Tentu saja kami menunggu," ujar Puan di kediaman Ibundanya, Megawati Soekarnoputri, Jl Teuku Umar No 27A, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (15/5/2014).
"Ini dalam penjajakan apakah Partai Golkar memungkinkan mendukung PDI Perjuangan dan sama-sama dengan PDI Perjuangan bangun bangsa ini kedepan. Tapi itu harus dilaporkan dulu dalam rapimnas. Tentu saja kami menunggu," ujar Puan di kediaman Ibundanya, Megawati Soekarnoputri, Jl Teuku Umar No 27A, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (15/5/2014).
Jika Golkar Bentuk Poros Baru Diprediksi Sulit Menang
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, (LIPI), Siti Zuhro
meyakini poros baru akan terbentuk dan digawangi oleh Partai Golkar.
Poros tersebut kata dia akan memecah suara dua poros yang sudah ada,
yang dipimpin oleh PDI Perjuangan dan Partai Gerindra.
Namun, kata Siti poros baru pimpinan partai Golkar ini diprediksi sulit menang.
"Ini akan jadi poros yang terpaksa, yang lalu akan capres-cawapreskan seadanya. Secara politik masih menguntungkan, kalau ada putaran kedua," katanya di kantor Founding Fathers House (FFH), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (15/5/2015).
Namun, kata Siti poros baru pimpinan partai Golkar ini diprediksi sulit menang.
"Ini akan jadi poros yang terpaksa, yang lalu akan capres-cawapreskan seadanya. Secara politik masih menguntungkan, kalau ada putaran kedua," katanya di kantor Founding Fathers House (FFH), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (15/5/2015).
JK Kembali Nyatakan Siap Dampingi Jokowi
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, menyatakan siap menjadi bakal calon
wakil presiden mendampingi Joko Widodo, bakal calon presiden dari Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Namun, hingga hari ulang tahunnya yang ke-72, Kamis (15/5/2014), Kalla masih harus menunggu kepastian siapa yang akhirnya dipilih menjadi pendamping Jokowi itu.
"Saya belum tahu itu (cawapres Jokowi). Tapi, kan semua tergantung keputusan PDI-P, Ibu Mega. Tunggu saja," kata Kalla di sela perayaan ulang tahunnya itu, di kediaman Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Kamis.
Dia mengatakan pula, kesediaannya menjadi bakal calon wakil presiden bagi Jokowi semata bertujuan untuk membangun bangsa dan negara.
Namun, hingga hari ulang tahunnya yang ke-72, Kamis (15/5/2014), Kalla masih harus menunggu kepastian siapa yang akhirnya dipilih menjadi pendamping Jokowi itu.
"Saya belum tahu itu (cawapres Jokowi). Tapi, kan semua tergantung keputusan PDI-P, Ibu Mega. Tunggu saja," kata Kalla di sela perayaan ulang tahunnya itu, di kediaman Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Kamis.
Dia mengatakan pula, kesediaannya menjadi bakal calon wakil presiden bagi Jokowi semata bertujuan untuk membangun bangsa dan negara.
Pangi Syarwi Chaniago Tuduh Jokowi Bohong!
Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan (PDIP) Joko Widodo alias Jokowi dinilai bohong terkait koalisi tanpa transaksional.
Penilaian itu disampaikan pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Pangi Syarwi Chaniago sperti yang dikutip inilah.com, Kamis (15/5/2014).
Menurut dia, tentu koalisi tetap bicara siapa dan mendapat apa, kapan dan bagaimana. "Menurut saya bohong Jokowi mengatakan koalisi tanpa syarat, bukan didasari koalisi transaksional atau tanpa power sharing," kata Pangi.
Penilaian itu disampaikan pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Pangi Syarwi Chaniago sperti yang dikutip inilah.com, Kamis (15/5/2014).
Menurut dia, tentu koalisi tetap bicara siapa dan mendapat apa, kapan dan bagaimana. "Menurut saya bohong Jokowi mengatakan koalisi tanpa syarat, bukan didasari koalisi transaksional atau tanpa power sharing," kata Pangi.
Diajak Golkar Koalisi, Megawati akan Bertanya kepada Jokowi
Menjajaki peluang koalisi dengan PDIP, menjadi agenda utama kunjungan Ketum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie kepada Ketum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri. Terhadap kemungkian Golkar bergabung mendukung pencapresan Jokowi, PDIP akan minta pendapat dari Partai NasDem dan PDIP yang merupakan mitra koalisinya yang sudah pasti.
"PDIP akan bertanya dahulu ke beberapa pihak, terutamanya parpol koalisi," ujar Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo usai mendampingi Megawati menerima kunjungan Ical dan rombongan.
"Juga akan bertanya kepada Pak Jokowi bagaimana pendapatnya," sambungnya kepada wartawan di kediaman Megawati di Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta, Kamis (15/5/2014).
"PDIP akan bertanya dahulu ke beberapa pihak, terutamanya parpol koalisi," ujar Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo usai mendampingi Megawati menerima kunjungan Ical dan rombongan.
"Juga akan bertanya kepada Pak Jokowi bagaimana pendapatnya," sambungnya kepada wartawan di kediaman Megawati di Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta, Kamis (15/5/2014).
Jokowi Akan Periksa Pengiriman Dana ke Rekening Pribadi Pejabat Dinas PU
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menyatakan akan menyelidiki
kasus adanya penyerahan anggaran yang dikirim melalui rekening pribadi
ke sejumlah kepala seksi Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta.
Pengiriman dana APBD Perubahan ke rekening pribadi dilakukan sejak akhir September sampai awal Oktober.
Saat ditanya mengenai kasus ini, Jokowi mengaku tidak tahu menahu Dinas PU DKI melakukan pengiriman anggaran ke rekening pribadi pejabat kasie kecamatan oleh Dinas PU.
"Saya belum tahu soal ini," kata Jokowi, Kamis (15/3/2014).
Pengiriman dana APBD Perubahan ke rekening pribadi dilakukan sejak akhir September sampai awal Oktober.
Saat ditanya mengenai kasus ini, Jokowi mengaku tidak tahu menahu Dinas PU DKI melakukan pengiriman anggaran ke rekening pribadi pejabat kasie kecamatan oleh Dinas PU.
"Saya belum tahu soal ini," kata Jokowi, Kamis (15/3/2014).
Zuhro Jelaskan Arti "Petugas Partai"
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyebut Joko Widodo (Jokowi) yang diusung sebagai calon presiden (capres) adalah petugas partai. Kata petugas partai dinilai tak tepat diberikan kepada Jokowi.
"Jokowi adalah kader PDIP, istilah kader dan petugas pasti berbeda makna," ujar pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro ketika dihubungi Metrotvnews.com, Kamis (15/5/2014).
"Jokowi adalah kader PDIP, istilah kader dan petugas pasti berbeda makna," ujar pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro ketika dihubungi Metrotvnews.com, Kamis (15/5/2014).
Komunitas Atlet Dukung Jokowi
Relawan atlet dan komunitas olahraga mendekalarasikan dukungan mereka untuk Joko Widodo alias Jokowi, Gubernur DKI Jakarta yang juga calon presiden tiga partai: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai NasDem, dan Partai Kebangkitan Bangsa.
"Kami pribadi. Meski posisi kami mewakili cabang olahraga, kami semua simpati pada Bapak Jokowi. Kelompok kami kelompok mandiri, tidak terkit kelompok manapun. Spontan karena persepsi sama untuk mendukung Jokowi menjadi presiden," kata koordinator atlet pro-Jokowi, Ivana Lie, di Laguna Resto, Senayan Jakarta Pusat, Kamis (15/5).
Deklarasi dukungan atlet buat Jokowi dihadiri sekitar 30 dari 102 bekas atlet dari berbagai cabang olah raga. Komunitas ini menilai Jokowi pantas dijagokan karena memunyai pribadi jujur dan sederhana.
"Kami pribadi. Meski posisi kami mewakili cabang olahraga, kami semua simpati pada Bapak Jokowi. Kelompok kami kelompok mandiri, tidak terkit kelompok manapun. Spontan karena persepsi sama untuk mendukung Jokowi menjadi presiden," kata koordinator atlet pro-Jokowi, Ivana Lie, di Laguna Resto, Senayan Jakarta Pusat, Kamis (15/5).
Deklarasi dukungan atlet buat Jokowi dihadiri sekitar 30 dari 102 bekas atlet dari berbagai cabang olah raga. Komunitas ini menilai Jokowi pantas dijagokan karena memunyai pribadi jujur dan sederhana.
Samad: Saya tak Bisa Tolak Takdir Cawapres Jokowi
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad mengungkapkan, tidak bisa menolak takdir bila dipilih sebagai calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres 9 Juli 2014. Sebab, sebagai pimpinan KPK dirinya hanya orang biasa.
"Jadi seperti yang dulu saya katakan pada sudara-saudara, sebagai manusia biasa, manusia beragama kita tak mampu menolak takdir, begitu pula kita tidak mampu mengatur takdir," kata Samad saat ditemui di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (15/4/2014).
"Jadi seperti yang dulu saya katakan pada sudara-saudara, sebagai manusia biasa, manusia beragama kita tak mampu menolak takdir, begitu pula kita tidak mampu mengatur takdir," kata Samad saat ditemui di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (15/4/2014).
Politisi PKPI: SBY Bagai Kuda Putih Gagah Diterkam Macan Tutul
Ketua DPP PKPI Nehemia Lawata, menyarankan bakal capres PDI Perjuangan (PDIP) Joko Widodo (Jokowi) mencari pendamping tepat dalam pilpres nanti agar tidak bernasib seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Jangan sampai, pengalaman SBY pada 2004 dan 2009 itu kembali terulang. SBY yang bagaikan kuda putih gagah saat itu selalu diterkam macan tutul. Dan hal itu jangan sampai terjadi pada Jokowi yang ada di kandang banteng justru diterkam macan tutul. Itu bisa menjadi berbahaya," kata Ketua DPP PKPI Nehemia Lawalata, Kamis (15/5/2014).
Hal itu disampaikan Nehemia dalam sebuah diskusi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
"Jangan sampai, pengalaman SBY pada 2004 dan 2009 itu kembali terulang. SBY yang bagaikan kuda putih gagah saat itu selalu diterkam macan tutul. Dan hal itu jangan sampai terjadi pada Jokowi yang ada di kandang banteng justru diterkam macan tutul. Itu bisa menjadi berbahaya," kata Ketua DPP PKPI Nehemia Lawalata, Kamis (15/5/2014).
Hal itu disampaikan Nehemia dalam sebuah diskusi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
PKPI: Dukungan Kami Dianggap Sebelah Mata oleh Jokowi
Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi PKPI Indonesia Nehemia Lawalata, menyarankan Jokowi bila jadi presiden harus memperhatikan berbagai kebijakan ekonomi yang mengacu pada azaz pemerataan pembangunan dengan landasan hukum kuat.
Temui Mega, Ical: Sudah Ada Kecocokan, Belum Koalisi
Koalisi antara dua partai menjadi agenda utama pertemuan antara Ketum DPP Partai Gokar Aburizal dengan Ketum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri. Dua partai sudah menemukan kecocokan, namun apakah akan dilanjutkan dengan koalisi untuk mendukung pencapresan Jokowi adalah masalah berbeda.
"Kita bicara koalisi ke depan, sudah ada kecocokan," ujar Ical di kediaman Megawati di Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta, Kamis (15/5/2014).
Meski sudah ada kecocokan dalam berbagai hal menjelang Pilpres 2014, tetapi urusan Partai Golkar bergabung dengan PDIP-NasDem-PKB untuk mencapreskan Jokowi belum dicapai.
"Kita bicara koalisi ke depan, sudah ada kecocokan," ujar Ical di kediaman Megawati di Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta, Kamis (15/5/2014).
Meski sudah ada kecocokan dalam berbagai hal menjelang Pilpres 2014, tetapi urusan Partai Golkar bergabung dengan PDIP-NasDem-PKB untuk mencapreskan Jokowi belum dicapai.
Jokowi: Soal Cawapres Siapa Saja, Yang Penting Kompak
Bakal capres PDI Perjuangan, Joko Widodo (Jokowi), enggan memberikan keterangan kepada wartawan, saat ditanyakan, siapa sosok cawapres yang akan mendampinginya nanti. Saat menyambangi Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo (Rudy), di rumah dinas Loji Gandrung, Kamis (15/5/2014), keduanya lebih banyak melakukan pembicaraan tertutup di lokasi tersebut sekitar setengah jam.
Saat kembali ditanyakan nama sosok cawapres, Jokowi justru menceritakan tentang kekompakannya bersama Rudy saat menjadi wali kota Solo.
Saat kembali ditanyakan nama sosok cawapres, Jokowi justru menceritakan tentang kekompakannya bersama Rudy saat menjadi wali kota Solo.
Sekjen PDIP Harap Deklarasi Cawapres Jokowi Pada Hari Kebangkitan Nasional
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) belum memutuskan calon
wakil presiden pendamping Joko Widodo di pemilihan presiden 2014, meski
wacana 'Jumat Suci' untuk deklarasi pendamping Jokowi beredar sejak
beberapa pekan silam.
Pendukung Jokowi Tolak Koalisi PDIP dengan Golkar
Pendukung bakal capres PDI Perjuangan Joko Widodo
menolak rencana koalisi PDIP dengan partai Golkar. Mereka mencurigai
adanya aksi ambil untung yang ingin didapat partai berlambang pohon
beringin tersebut dari koalisi dengan PDIP.
Menjelang Cuti, Jokowi Lelang Jabatan Pelayanan
Joko Widodo yang tengah sibuk menjadi calon presiden belum kunjung cuti dari jabatan Gubernur DKI Jakarta. Mumpung belum cuti, Jokowi kembali menggelar seleksi terbuka atau lelang jabatan untuk eselon II-IV di internal Pemerintah DKI Jakarta.
Kepala Badan Kepegawaian Daerah DKI Jakarta, I Made Karmayoga, mengatakan seleksi ini akan menghasilkan peserta untuk mengisi Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di seluruh kecamatan dan kelurahan seluruh Jakarta.
Made mengatakan, tes seleksi terbuka tersebut akan diikuti oleh 2.227 orang pegawai. "Kami yang akan menyiapkan SDM (sumber daya manusia) untuk mengisi PTSP tersebut," kata Made, Kamis, 15 Mei 2014.
Kepala Badan Kepegawaian Daerah DKI Jakarta, I Made Karmayoga, mengatakan seleksi ini akan menghasilkan peserta untuk mengisi Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di seluruh kecamatan dan kelurahan seluruh Jakarta.
Made mengatakan, tes seleksi terbuka tersebut akan diikuti oleh 2.227 orang pegawai. "Kami yang akan menyiapkan SDM (sumber daya manusia) untuk mengisi PTSP tersebut," kata Made, Kamis, 15 Mei 2014.
Pesan Rudi Buat Jokowi: Kalau Jadi Presiden Jangan Rebutan Duit
Kedatangan Capres PDIP Joko Widodo (Jokowi) ke Rumah Dinas Wali Kota Solo Loji Gandrung mendapat sambutan hangat. Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo (Rudy) yang mengenakan baju merah menyambut sendiri kedatangan gubernur DKI Jakarta tersebut. Kepada wartawan Rudy mengaku terharu mendapat kunjungan yuniornya itu.
"Terharu, beliau masih menganggap saya sebagai seniornya. Dari usia kan lebih tua saya. Ke sini beliau banyak minta masukan-masukan untuk pencalonannya sebagai presiden. Dulu waktu mau jadi gubernur kan juga sama-sama kita bantu dari Solo," ujar Rudy kepada wartawan, Kamis (15/5/2014).
"Terharu, beliau masih menganggap saya sebagai seniornya. Dari usia kan lebih tua saya. Ke sini beliau banyak minta masukan-masukan untuk pencalonannya sebagai presiden. Dulu waktu mau jadi gubernur kan juga sama-sama kita bantu dari Solo," ujar Rudy kepada wartawan, Kamis (15/5/2014).
Ke Loji Gandrung, Jokowi Berdoa di kamar Bung Karno
Saat berkunjung ke Rumah Dinas Wali Kota Solo Loji Gandrung, Capres PDIP Joko Widodo (Jokowi) menyempatkan diri memasuki kamar Presiden RI pertama, Soekarno. Di kamar yang berukuran cukup besar tersebut, Jokowi sempat melakukan doa. Entah apa yang diucapkan Jokowi saat berada di kamar tersebut. Saat merdeka.com menanyakannya Jokowi hanya tersenyum dan tak banyak berkomentar.
"Ada lah," jawabnya singkat, Solo, Kamis (15/5/2014).
"Ada lah," jawabnya singkat, Solo, Kamis (15/5/2014).
Projo Meminta Pendamping Jokowi dari Luar Partai
Kader dan simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang tergabung dalam Pro-Jokowi (Projo) menyarankan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memilih calon wakil presiden untuk Joko Widodo dari kalangan nonpartai politik. Koordinator Nasional PDIP Projo Budi Arie Setiadi beralasan, calon yang bukan berasal partai akan memperkuat sistem presidensial.
"Ini juga untuk efektifitas jalannya pemerintahan ke depan," katanya melalui siaran pers, Kamis (15/5/2014).
Menurut dia, pasangan yang sama-sama berasal dari partai justru memiliki kecenderungan bersaing saat memimpin pemerintahan. Ini sudah terjadi sejak era Reformasi.
"Ini juga untuk efektifitas jalannya pemerintahan ke depan," katanya melalui siaran pers, Kamis (15/5/2014).
Menurut dia, pasangan yang sama-sama berasal dari partai justru memiliki kecenderungan bersaing saat memimpin pemerintahan. Ini sudah terjadi sejak era Reformasi.
Abraham Mengaku Direstui untuk Dampingi Jokowi
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad disebut menjadi salah satu kandidat calon wakil presiden (cawapres) untuk mendampingi calon presiden PDI Perjuangan Joko Widodo alias Jokowi. Abraham bahkan mengaku tak mendapat penolakan dari internal KPK jika kelak maju sebagai cawapres Jokowi.
Sebagai Ketua KPK, Abraham mengatakan bahwa dirinya telah bertanya kepada pimpinan lainnya di komisi antirasuah itu andai kelak maju sebagai capres. Ternyata, katanya, pimpinan KPK lainnya telah memberikan lampu hijau.
Sebagai Ketua KPK, Abraham mengatakan bahwa dirinya telah bertanya kepada pimpinan lainnya di komisi antirasuah itu andai kelak maju sebagai capres. Ternyata, katanya, pimpinan KPK lainnya telah memberikan lampu hijau.
Visi Misi Jokowi
Bakal calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo selalu mengelak jika ditanya soal visi misinya kalau terpilih sebagai presiden RI. Ia hanya sempat mengungkapkan, salah satu program besarnya yaitu revolusi mental. Lainnya, Jokowi memilih untuk menyimpan rapat visi misinya dan berjanji akan menyampaikannya pada waktu yang tepat.
Saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pada Selasa (13/5/2014), di Jakarta, Gubernur DKI Jakarta itu secara gamblang memaparkan apa yang akan dilakukannya jika menjadi orang nomor satu di republik ini.
Saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pada Selasa (13/5/2014), di Jakarta, Gubernur DKI Jakarta itu secara gamblang memaparkan apa yang akan dilakukannya jika menjadi orang nomor satu di republik ini.
Kunjungi Loji Gandrung
Sejak Kemarin, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) tengah berada di Provinsi Jawa Tengah hingga pagi ini, Kamis (16/5/2014). Kehadiran ini tidak mengganggu kegiatannya sebagai Gubernur. Sebab, dia pergi saat hari libur keagamaan, yaitu Hari Raya Umat Budha, Waisak 2558. Setelah semalam menghadiri upacara Waisak, pada pukul 08.40 WIB, Jokowi mengunjungi Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, di Loji Gandrung.
Golkar Ancam PDIP, Beranikah PDIP Menjawab "Tidak"?
Ambisi Partai Golkar sebagai partai pemenang kedua di pemilu legislatif untuk mendorong kadernya duduk sebagai cawapres Joko Widodo makin terlihat, jelas. Partai berlamabang beringin ini bahkan setengah mengancam untuk tidak berkoalisi dengan PDI Perjuangan jika tidak disediakan kursi RI 2.
“Golkar harus mendapat posisi capres atau cawapres. Kalau tidak, lebih baik tak usah berkoalisi. Golkar tidak mungkin pasrah soal capres dan cawapresnya kepada partai lain. Enak saja didukung kemudian Golkar nggak dipandang sebagai capres atau cawapres,” kata Ketua DPP Golkar, Priyo Budi Santoso di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (14/5/2014).
“Golkar harus mendapat posisi capres atau cawapres. Kalau tidak, lebih baik tak usah berkoalisi. Golkar tidak mungkin pasrah soal capres dan cawapresnya kepada partai lain. Enak saja didukung kemudian Golkar nggak dipandang sebagai capres atau cawapres,” kata Ketua DPP Golkar, Priyo Budi Santoso di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (14/5/2014).
Inilah Cawapres Jokowi Yang Tersisa
Kabar santer nama Ketua KPK Abraham Samad masuk bursa cawapres Jokowi.
Namun aturan tak memungkinkan lagi Abraham Samad mendampingi Jokowi.
Lalu siapa cawapres Jokowi yang tersisa?
Kabarnya nama Jusuf Kalla (JK) dan Puan Maharani adalah dua nama cawapres Jokowi yang tersisa. Namun posisi JK kabarnya belakangan meredup seiring dengan semakin masifnya "todongan" dari Golkar yang diarahlan ke PDIP, sementara nama Puan Maharani justru menguat, sejumlah elite PDIP yang sering disebut 'Geng Tancho' terus mendorong Mega menduetkan Jokowi-Puan ke Pilpres 2014.
Kabarnya nama Jusuf Kalla (JK) dan Puan Maharani adalah dua nama cawapres Jokowi yang tersisa. Namun posisi JK kabarnya belakangan meredup seiring dengan semakin masifnya "todongan" dari Golkar yang diarahlan ke PDIP, sementara nama Puan Maharani justru menguat, sejumlah elite PDIP yang sering disebut 'Geng Tancho' terus mendorong Mega menduetkan Jokowi-Puan ke Pilpres 2014.
Langganan:
Postingan (Atom)





















