Jumat, 02 Mei 2014

Tak Masalah Siapa Saja Presidennya, Asal Mahfud Wakilnya

Konfigurasi kandidat presiden kini sudah mulai mengerucut kepada dua poros yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Yang menarik kini adalah mencari siapa pendamping mereka berdua di pilpres 9 Juli 2014 mendatang.
Menurut Ketua Umum DPP Perhimpunan Gerakan Keadilan (PGK), Bursah Zarnubi siapapun dari kedua poros tersebut yang menggandeng eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD sebagai Cawapres akan memenangkan kompetisi Pilpres dalam satu putaran.

Kamis, 01 Mei 2014

Jokowi Effect Buat Caleg PDIP Hemat Dana Kampanye

Caleg asal PDIP mengaku mengeluarkan sedikit uang dalam memenangkan pileg 2014 lalu. Hal itu dikarenakan para caleg meniru gaya Jokowi yaitu blusukan ke kampung-kampung dan menyapa warga.
"Kehadiran figur seorang Jokowi yang dicintai rakyat Jakarta tentunya meningkatkan elektabilitas partai kami, dan oleh karena itu ongkos kampanye kami juga tidak terlalu besar," ujar Caleg PDIP, Charles Honoris, kepada detikcom, Kamis (1/5/2014).

Terinspirasi Majapahit, Relawan Jokowi Deklarasi di Mojokerto

Terinspirasi kejayaan Kerajaan Majapahit, relawan ProJo mendeklarasikan diri sebagai pendukung Joko Widodo (Jokowi) di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (1/5). Melalui barisan akar rumput, relawan ProJo mengaku siap mengkristalkan diri dan menjadi satu kekuatan utuh memenangkan pencapresan Jokowi.
Ketua ProJo Jawa Timur Madhan mengatakan deklarasi pemantapan relawan ProJo atau pro Jokowi di Bumi Mojopait, sebutan Kabupaten Mojokerto, pada 1 Mei, adalah bertujuan agar kejayaan Majapahit bisa menginspirasi kemenangan Jokowi sebagai calon presiden 2014-2019.
"Tujuannya agar perjuangan ini terinspirasi terhadap kejayaan Mojopait pada masa Prabu Hayam Wuruk," kata Madhan.

Budayawan: PDIP Terancam jadi Korban Lembaga Survei

Budayawan Radar Panca Dahana mengatakan, partai politik yang telah menetapkan bakal calon presiden berdasarkan hasil survei popularitas oleh lembaga survei, harus berpikir ulang untuk menetapkannya sebagai capres.
Bagi partai yang belum menetapkan capresnya, Radar berharap tidak mengikuti langkah salah itu. "Saya berharap partai politik yang sudah menetapkan capresnya dengan referensi hasil lembaga survei agar melakukan koreksi. Partai politik yang belum menetapkan capresnya, jangan mengikuti cara salah rekrut capres berdasarkan popularitas dan elektabilitas semata," kata Radar, kepada wartawan di Jakarta, Kamis (1/5/2014).

KSPI Resmi Berkoalisi dengan Gerindra

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyatakan secara resmi berkoalisi dengan Partai Gerindra yang dipimpin oleh Prabowo Subianto. Hal ini disebabkan karena hanya Prabowo yang mau memenuhi 10 butir Tuntutan KSPI dan hanya Prabowo yang mau berempati dengan perayaan hari May Day KSPI di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (1/5/2014). "Hanya Prabowo yang mau hadir pada peringatan May Day KSPI hari ini.," kata Iqbal. Lebih lanjut, Iqbal mengungkapkan bahwa para buruh KSPI sudah mengundang capres dari setahun yang lalu untuk memaparkan visi misinya dihadapan para petinggi KSPI.

Jumhur Menilai Salah Besar Tuduhan Jokowi Pro-Upah Murah

Mantan kepala BNP2TKI mempersilakan saja bila ada tokoh buruh yang ingin menjagokan Capres 2014.
Ia anggap, itu adalah bagian dari demokrasi, namun  jangan emosi sampai lakukan negative campaign, tuduhannya jauh panggang dari api.
"Terkait dengan tuduhan kepada Jokowi pro-upah murah, saya nilai itu salah besar. Saya yakin semua buruh tahu bahwa kenaikan upah berpuluh tahun di Republik ini biasanya berkisar 10 persen saja pertahunnya mengikuti angka inflasi.

Di Depan Istana, Buruh Hina Jokowi dan Mega

Nama mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo tak lagi seharum dulu. Dalam aksi unjukrasa buruh di depan Istana Negara, dua nama tokoh PDI Perjuangan itu justru disindir habis-habisan oleh para buruh.
Megawati dianggap sebagai presiden yang bermurah hati menjual aset negara pada bangsa lain. Sindiran-sindiran ini berupa aksi teatrikal yang dilakukan di atas sebuah mobil bak terbuka depan Istana Negara, Jakarta, Kamis, (1/5/2015).

Hari Buruh, Prabowo Empati dan Jokowi Simpati

Calon Presiden (Capres) Partai Gerindra, Prabowo Subianto langsung berempati alias turut serta dalam perayaan Hari Buruh Internasional, di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Kamis (1/5/2014).
Berbeda halnya dengan Capres PDI Perjuangan (PDIP) Joko Widodo (Jokowi). Jokowi hanya menyampaikan simpati serta menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan nasib buruh melalui rilis yang diterima INILAHCOM, Jakarta, Kamis (1/5/2014).

Hari Buruh, Rumah dan Kantor Jokowi Dijaga Ketat

Rumah dinas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mendapatkan pengawalan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Ada sekitar puluhan Satpol PP berjaga sejak pagi di depan rumah beralamatkan Jalan Taman Suropati No 7, Menteng, Jakarta Pusat.
Kepala Satpol PP Kukuh Hadi Santoso mengatakan, pengamanan dilakukan untuk menjaga kediaman Jokowi.

Hasil Survei : Jokowi di Sulsel Hanya Dikalahkan SYL dan JK

Hasil survei PDIP Sulawesi Selatan, popularitas calon presiden usungan PDIP, Joko Widodo di Sulawesi Selatan hanya dikalahkan oleh Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo dan mantan Wakil Presiden RI, M Jusuf Kalla. Hal ini diungkapkan Sekretaris PDIP Sulsel, Rudy Pieter Goni, Kamis (1/5/2014).
 "Dari 24 kabupaten yang kami iedentifikasi, hanya 30 persen masyarakat di Sulsel yang tidak mengenal baik Jokowi.

Kemendagri Nilai Jokowi Langgar Etika

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menilai blusukan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) ke daerah luar provinsinya, tidak etis. Namun tidak ada larangan atau sanksi terhadapnya karena belum ada aturan yang membatasi kepala daerah untuk urusan tersebut.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kemendagri, Didik Suprayitno mengatakan, selama kepergiannya ke dalam negeri, Jokowi tidak perlu izin ke Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi. Berbeda kalau itu adalah masa kampanye, dan untuk keperluan partai politik.

Dahlan Bangga Jokowi Contek Baju Putihnya

Kemeja putih kian populer di Pemilu 2014 ini. Beberapa capres mengenakan kemeja putih saat tampil di depan publik. Salah satu pelopor pengguna kemeja putih adalah peserta konvensi capres Partai Demokrat (PD) Dahlan Iskan.
"Ah nggak selalu kemeja putih, kadang saya selalu pakai kemeja putih tua, putih muda, putih keabuan-abuan, nggak selamanya putih kan, tergantung tanggalnya, ha ha ha," kata Dahlan setengah berkelakar usai berkunjung ke markas Slank di Gang Potlot, Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (1/5/2014).

Koalisi Ramping Jokowi Bukan Kontra Koalisi Gemuk

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjelaskan perihal koalisi ramping yang ingin dibangun pihaknya bersama calon presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurut Wasekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, koalisi ramping bermaksud untuk menghindari transaksi politik.
"Koalisi ramping berupaya menghindarkan politik dagang sapi," kata Hasto lewat keterangan tertulis, Kamis (1/5/2014).
Konsep ini, kata Hasto, ditekankan karena PDIP belajar dari kelemahan koalisi yang dibangun pada masa lalu.
"Sehingga PDI Perjuangan memandang bahwa kerjasama politik bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pemerintahan dalam sistem presidensial. Dengan demikian kontra dari koalisi ramping bukanlah koalisi gemuk," ujarnya.

ISC: Ryamizard Cocok Dampingi Jokowi

Siapa figur pendamping calon presiden Joko Widodo masih ditunggu masyarakat. Sejumlah nama disebut-sebut pantas mendampingi gubernur DKI itu. Lembaga Survei Indonesia Survey Center (ISC) telah melakukan jejak pendapat terkait siapa Cawapres yang paling diinginkan publik untuk disandingkan dengan Jokowi.

Herdi Sahrasad Tantang Jokowi Hapus Outsourcing

Karena tak digubris oleh bakal calon Presiden Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Joko Widodo (Jokowi), ditantang keberaniannya untuk menghapus sistem alih daya (outsourcing) peninggalan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dalam UU nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

PKS Sebut Koalisi Dengan Jokowi Mungkin Dilakukan

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masih membuka ruang untuk melakukan koalisi dengan pihak manapun, termasuk dengan calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Joko Widodo (Jokowi).
Juru bicara PKS Mardani Ali Sera mengungkapkan, PKS ingin bicara dengan semua pihak bagaimana membentuk pemerintahan efektif. "Mungkin saja dengan Jokowi karena ini masih dibicarakan,"ujar Mardani dalam diskusi "Membaca Peluang Poros Keempat: Mungkin atau Tidak?" di Jakarta, Kamis (1/5/2014).

Jokowi Kritisi Kegiatan Hura-hura Buruh di GBK

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, mengkritisi kegiatan buruh yang lebih banyak hura-hura di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional atau (May Day).
"Rekan-rekan buruh malah hura-hura konser padahal saudara (buruh) ini masih banyak sakit. Enggak hanya satu dua, tapi banyak," ujar Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi usai menjenguk dua buruh di rumah kontrakan buruh kawasan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (1/5/2014).

Hayono: Pemenang Konvensi Demokrat Belum Tentu jadi Capres

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman menegaskan, bahwa pemenang konvensi calon presiden PD belum tentu akan diusung sebagai capres maupun calon wakil presiden pada pemilihan presiden nanti.
Hal itu dikarenakan partai berlambang bintang mercy ini tak mencapai 20 persen perolehan suara pada pemilihan legislatif lalu.

Dahlan Sebut Ide Jokowi Hapus Subsidi BBM Rasional

Niat calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo untuk menghapus subsidi bahan bakar minyak (BBM) jika dipercaya menjadi presiden ditanggapi beragam. Jika Menko Perekonomian Hatta Rajasa menilai langkah itu mustahil dilakukan lantaran melanggar konstitusi, Menteri BUMN Dahlan Iskan justru punya pandangan berbeda.
Dahlan mendukung ide Jokowi menghilangkan subsidi BBM jika sudah empat tahun menjabat sebagai presiden.

Jokowi: Petani Terbebani Pupuk dan Benih Impor

Gubernur Jakarta yang juga  calon presiden dari PDI Perjuangan, Joko Widodo, mengatakan petani lokal saat ini dirugikan dengan banyaknya pupuk dan benih impor. Menurut pria yang akrab disapa Jokowi ini , pemerintah seharusnya memberikan pendampingan sehingga petani bisa menghasilkan sendiri pupuk dan benih.
"Sekarang ini petani banyak terbebani dengan pupuk kimia, pestisida, dan benih-benih impor yang harus dibeli dengan harga mahal," katanya ketika berkunjung ke kantor pusat Serikat Petani Indonesia di kawasan Mampang, Jakarta, Kamis (1/5/2014).

Demo Tolak Penutupan Dolly 'Disusupi' Aksi Dukung Jokowi

Ada aksi dukung Joko Widodo (Jokowi) di balik aksi demo pekerja lokalisasi Gang Dolly Surabaya, Jawa Timur, yang digelar bersama dengan acara peringatan May Day, Kamis (1/5). Aksi yang digagas Forum Pekerja Lokalisasi (FPL) itu, memang sengaja digelar bersamaan dengan peringatan Hari Buruh Internasional di Kota Pahlawan.
Namun, dibalik aksi penolakan penutupan lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara itu, 'terselip' kampanye pencapresan Gubernur DKI Jakarta.

Jokowi Nol Besar di Mata SBSI

Para buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 1992 menegaskan kepada Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, tidak usah berlagak mendukung buruh karena hendak maju sebagai capres dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Sunarti, Ketua Umum SBSI 1992, menegaskan pihaknya menilai prestasi Jokowi adalah nol besar dalam menyelesaikan persoalan buruh di Jakarta. Meski upah layak hidup dinaikkan dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2,2 juta, ternyata hal itu tidak dilaksanakan oleh perusahaan tempat buruh bekerja.
"Percuma Jokowi (jadi Presiden). Dulu dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2,2 juta, dia (Jokowi) menyepakatinya, ternyata aturan tersebut tidak diikuti oleh perusahaan.

Jadi Cawapres Jokowi, JK Dikhawatirkan Dominasi Pemerintahan

Nama ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) belakangan santer digadang-gadang bakal menjadi cawapres dari Joko Widodo. Namun, apabila benar JK jadi pendamping Joko Widodo dikhawatirkan ia akan mendominasi pemerintahan.
Sikap dominan JK tersebut sudah terlihat saat mendampingi SBY periode 2004-2009.
"Itu sudah terbukti," ujar Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, Kamis (1/5/2014).

Menakar Peluang Munculnya Poros Keempat dan Kawin Paksa Golkar-Gerindra

Peta politik menjelang Pilpres 2014 masih sangat mungkin berkembang dengan munculnya poros keempat. Bila muncul poros baru di luar PDIP, Gerindra, dan Golkar, kemungkinan terjadi 'kawin paksa' antara Golkar dan Gerindra.
"Kalau poros keempat muncul, Gerindra atau Golkar tidak dapat mitra koalisi. Bisa muncul kawin paksa antara Golkar dan Gerindra. Nanti seperti 2009 saat Gerindra dan PDIP koalisi di saat terakhir," kata Direktur Eksekutif PolComm Institute Heri Budianto dalam diskusi 'Membaca Peluang Poros Keempat: Mungkin atau Tidak' di Hotel Alia, Cikini, Jakpus, Kamis (1/5/2014).

Adik Ipar Foke Kini Dukung Prabowo

Relawan Joko Widodo (Jokowi) meminta para aktivis untuk tidak menyerang calon presiden (capres) Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan isu-isu HAM. Mereka menilai, serangan ke Prabowo justru merugikan Capres mereka Jokowi. Bahkan elektabilitas Gubernur DKI Jakarta itu semakin anjlok.
Romo Harie, salah seorang relawan Jokowi mengatakan tidak menyukai cara-cara kampanye hitam untuk menyerang Capres lain. Menurutnya saat ini sejumlah relawan Jokowi pun, berbalik arah mendukung Prabowo Subianto.

Nasdem: Pendamping Jokowi yang Pernah Kunjungi Gondangdia

Partai Nasdem sebagai mitra koalisi PDI Perjuangan membuka sedikit teka-teki sosok calon wakil presiden yang akan diusung untuk mendampingi calon presiden PDIP, Joko Widodo.
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Nasdem, Willy Aditya, mengatakan, cawapres untuk Jokowi telah bertemu dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di kantor DPP Nasdem, kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat.

Aku Tanpamu, Bagaikan Jokowi Tanpa Ahok

Pencalonan Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden dari PDIP menjadi inspirasi beberapa pihak untuk membuat kaus unik. Salah satunya muncul kaus bertuliskan, 'Aku tanpamu bagaikan Jokowi tanpa Ahok'.
Ketika dikonfirmasi Jokowi mengatakan tidak keberatan jika dirinya menjadi inspirasi.