Jumat, 07 Juni 2013

Mr Joko goes to Jakarta

Sosok Joko Widodo kembali diulas majalah terkemuka The Economist. Kali ini mengupas soal kans Jokowi untuk mencalonkan diri menjadi presiden. Menurut The Economist, sosok Jokowi sekarang begitu fenomenal.
Artikel tulisan ini diberi tema 'Mr Joko goes to Jakarta'. Pada tulisan pembukanya, majalah ini menulis Jokowi yang sedang duet dengan grup musik dari Inggris, Arkarna pada 31 Mei lalu. Saat itu Jokowi menyanyikan lagu 'Nonton Bioskop'. Konser saat itu digelar di Tenis Indoor Senayan, Jakarta.
"Sulit membayangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memakai jaket kulit dipadu kaos bergambar sebuah band rock," demikian tulis The Economist edisi 8 Juni 2013.
The Economist tidak bisa membayangkan jika yang berduet dengan Arkarna itu adalah seorang presiden. Sebab, Jokowi tengah digadang-gadang menjadi calon presiden.
Sosok Presiden SBY selama ini dikenal tampan, gagah dan berwibawa. Sementara Jokowi terlihat kurus, ramah dan gaya bicaranya kurang lancar. "Jokowi itu tetangga semua orang," demikian kata konsultan politik Eep Saefulloh Fatah.
Di tengah hasil survei yang menempatkan Jokowi di urutan teratas tingkat elektabilitasnya, Jokowi sering disebut-sebut akan maju sebagai calon presiden. Tapi beberapa kalangan sudah menyarankan agar Jokowi tidak maju sebagai capres dalam Pemilu 2014.
Menurut The Economist, Jokowi mengaku telah didekati tiga partai politik untuk maju sebagai calon presiden. Sedangkan dua partai lagi menawarinya sebagai calon wakil presiden. Meski menjadi rebutan partai, sejauh ini tidak ada sinyal Jokowi akan membelot dari PDIP.
Dalam berbagai kesempatan, Jokowi mengaku tidak ingin terganggu dengan hasil survei. Ia ingin fokus menjadi Gubernur DKI Jakarta untuk membenahi persoalan Ibu Kota seperti banjir dan kemacetan.
Saat ini, pesaing terberat Jokowi adalah Prabowo Subianto. Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu elektabilitasnya juga tinggi. Prabowo juga punya peluang besar karena mengendalikan partai sendiri daripada Jokowi.
Selain Prabowo, ada nama Gita Wirjawan. Menteri Perdagangan itu namanya juga populer. Selain itu ada Aburizal Bakrie, tapi Ketua Umum Partai Golkar ini elektabilitasnya kecil.
 
Berikut Berita Dari The Economist. :

IT IS hard to picture Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia’s dignified if slightly pompous president, clad in a leather jacket over a T-shirt advertising a rock band. Yet that is how the man who is already the favourite to succeed him appeared on May 31st, to sing at a concert in Jakarta by the British group Arkarna. Joko Widodo, Jakarta’s governor, has only been a national figure for a year or so. But already conversations about his future have turned from speculation about whether he nurtures presidential ambitions to questions about what can possibly thwart him in an election due in July next year.
Mr Joko, known to all by his nickname, Jokowi, is not yet a declared candidate, and when asked, stresses his duty to Jakarta, where he was elected only last September. Congested, flood-prone and scarred by squalid slums, Indonesia’s capital sorely needs the competent and honest administration he has promised. He turns 52 this month, and some advisers are urging him to defer a presidential bid until the next election in 2019. But recent opinion polls put Jokowi so far ahead of rivals for 2014 that pressure is mounting on him to desert Jakarta and run. He has told friends that three political parties have already approached him as a potential presidential candidate, and another two want him to fill the vice-presidential slot.

Nothing so far hints at disloyalty to his own party, the opposition Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P), led by Megawati Sukarnoputri, the daughter of Indonesia’s first president and who herself held the job in 2001-04. Becoming president is a two-stage process. A parliamentary election next April precedes the presidential poll. Candidates in that have to be nominated by parties. In the system used in the previous election in 2009, which is unlikely to be changed for 2014, to nominate a presidential candidate, parties or coalitions need at least 20% of the seats or 25% of the popular vote in the parliamentary election.
Miss Megawati, defeated in 2004 and 2009 by Mr Yudhoyono, who is known as “SBY”, may yet want to have another tilt at the presidency. Or more likely she realises that Jokowi is the stronger candidate but, by deferring an announcement of his candidacy until nearer the election, hopes to protect him from a pre-emptive onslaught by his opponents. She must be aware that Jokowi, who stalwartly spends his weekends campaigning for PDI-P candidates in local elections, has other options.
Of the reasons for his phenomenal popularity, the biggest is that, in a country where “politician” has become almost a synonym for “crook”, he is seen as honest. So was Mr Yudhoyono—a big reason for his election wins in 2004 and 2009. But the president has failed to curb rampant corruption. Indeed, partly because an active anti-corruption commission (the KPK) is constantly unearthing new scandals, it is easy to believe the problem has worsened. The nearest Jokowi has come to being accused of graft is in accepting a gift of a bass guitar signed by a member of Metallica, a heavy-metal band (he has a penchant for loud rock music). The KPK confiscated it, and is to exhibit it in a museum.
Second, Jokowi is in some senses the “anti-SBY”. Mr Yudhoyono is tall, handsome, orotund, aloof and, say Indonesians, “presidential”. Jokowi is small, friendly, chatty yet rather inarticulate and, in the words of Eep Saefulloh Fatah, a political consultant, “everybody’s neighbour”. Everyone has an anecdote about Jokowi’s fundamental decency—or, to the cynic, his deeply ingrained political instincts. A journalist following him through a gruelling day when Jakarta flooded in January tweeted his urge to give him a hug. Noticing he looked tired, Jokowi had called the man’s editor to suggest he send a replacement.
Jokowi is also the “anti-candidate”. The most popular of the other likely contenders is Prabowo Subianto, who leads his own party, Gerindra, and is seen as a decisive leader, in contrast to the consensual, dithering SBY. He headed the special forces under Suharto, the dictator overthrown 15 years ago, to whose daughter he was once married. Mr Prabowo is accused of human-rights abuses, such as kidnapping student activists in the dying days of Suharto’s rule. Mr Yudhoyono, also a Suharto-era general, is struggling to find a candidate for his Democratic Party. Favourite for now seems to be Gita Wirjawan, the trade minister, a former investment banker with little popular following. Golkar, the party that used to give Suharto a veneer of democratic legitimacy, is likely to nominate Aburizal Bakrie, a wealthy but unpopular businessman. Miss Megawati herself was fighting and losing elections even when Suharto was ordaining the outcome.
Indonesian liberals and foreign experts on the country are also enthused by Jokowi. Nobody thought that Indonesia would become a model democracy overnight. The hope, however, has been that after a drastic political decentralisation in 2001 it would start producing grass-roots politicians with a record of efficient and honest administration who would progress to national politics. Jokowi is the proof that democracy works. After a successful career as a self-made businessman selling furniture, he became mayor of the central-Javanese town of Solo, and did a good job, providing a launch-pad for his Jakarta campaign.

Ahok ahoy!
Jokowi’s other appealing trait is that, although an observant Muslim in an overwhelmingly Islamic country, he seems prepared to take risks for a secular, pluralistic future. His running-mate in Jakarta was Basuki Tjahja Purnama, known as Ahok, a Christian and a member of the ethnic-Chinese minority, which has suffered discrimination and at times persecution. If Jokowi does forsake his municipal duties for the presidency, Ahok will take over. During Jokowi’s campaign for governor, some of his opponents, attempting to appeal to voters’ prejudices, warned them that he might not finish the job. But Jokowi’s fans would surely forgive his abandoning the capital for the biggest political prize of all.


Jokowi: Mal Jakarta Siap Ganti Plastik dengan Tas Daur Ulang

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, para pengelola mal di Jakarta menyanggupi menyediakan tas belanja berbahan ramah lingkungan untuk menggantikan tas belanja berbahan plastik, sesuai yang diminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui surat edaran.
"Sudah satu minggu lalu (surat edaran) kita edarkan. Semua mal di Jakarta pakai tas daur ulang, jadi bisa dipakai terus," ujar Jokowi seusai bertandang ke markas Slank di Gang Potlot III, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (7/6/2013) siang.
"(Tas berbahan ramah lingkungan) dari malnya sendiri dong, masa tasnya dari kita. Jangan mau untungnya saja. Sejauh ini semuanya mendukung, mereka mau," lanjut Jokowi.
Menurut Jokowi, program pengurangan tas plastik itu akan diuji coba selama satu bulan mendatang dan setelahnya akan dievaluasi.


Sumber :
kompas.com

Warga Gusuran Pulo Gebang Minta Jokowi Datang

Ratusan warga yang digusur karena menempati lahan milik pensiunan Bank Mandiri seluas sekitar 3.000 meter di dalam Perumahan Taman Pulo Gebang, Jalan Gebang Mas, RW 13, Cakung Timur, Cakung, Jakarta Timur, memilih tetap bertahan di sekitar reruntuhan bangunan.
Mereka mengharapkan kedatangan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi). "Saya mau ketemu langsung sama Jokowi. Ada yang mau saya omongin tentang masalah ini," kata Narsiti, 58 tahun, yang telah menempati lahan di dalam area Taman Pulo Gebang selama 11 tahun, Kamis, 6 Juni 2013.
Warga lainnya, Iwan, 30 tahun, yang sudah menempati lahan sekitar delapan tahun, berharap Jokowi memberikan solusi kepada mereka. "Kami udah enggak punya rumah. Malam enggak bisa tidur, kedinginan, enggak bisa mandi. Kami harap Bapak Jokowi datang. Bagaimana solusinya, kami ingin tempat tinggal," kata Iwan.
Menurut Iwan, warga meminta ada penggantian dana kerohiman kepada warga dari Bank Mandiri. "Biar kami bisa mengontrak rumah. Sekarang buat makan saja enggak ada duit, apalagi ngontrak," ujarnya.
Warga yang digusur lainnya, Iin, 27 tahun, mengaku menunggu datangnya Jokowi karena masih memiliki KTP Jakarta. "Kami kan warga Jakarta juga, jadi nunggu Jokowi dateng, bagaimana nasib kami. Kalau malem di sini gelap, air enggak ada, listrik juga enggak ada, rumah enggak ada," ujarnya.
Rabu, 5 Juni 2013, sekitar pukul 04.00, sebanyak 1.000 petugas gabungan dari Satpol PP, kepolisian, dan TNI, menertibkan 24 bangunan liar semipermanen di dalam area Perumahan Taman Pulo Gebang, yang ditempati oleh sekitar 40 kepala keluarga atau sekitar 200 jiwa. Sempat terjadi kericuhan antara petugas dan warga saat hendak merobohkan bangunan-bangunan tersebut.


Sumber :
tempo.co

Ratna Sarumpaet Tuding Partai Minta Jokowi Nyapres Itu Brengsek

Ketua Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) Ratna Sarumpaet mengancam partai politik yang berani mengusung Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menjadi Calon Presiden (Capres) 2014.
Menurut dia, saat menang pilgub Jokowi didukung rakyat, bukan partai. Apalagi dia sebelum maju sudah memiliki komitmen akan membenahi Ibu Kota.
"Enggak ada partai yang boleh memaksa Pak Jokowi. Jokowi jadi gubernur bukan karena partai, tapi karena rakyat Jakarta. Oke, itu di ingetin, jangan coba-coba partai tekan dia," kata Ratna usai ketemu Ahok di Balai Kota Jakarta, Jumat (7/6/2013).
Dia yakin Jokowi mampu memenuhi komitmen pada tugas yang diemban, yaitu menjadi Gubernur di DKI. Jadi, Ratna tidak mau Jokowi hanya dimanfaatkan oleh partai politik (parpol).
"Partai kita ini brengsek semua. Ok, itu statement gue. Enggak ada yah partai itu yang bener. Jadi saya yakin, Jokowi cukup cerdas bahwa dia di kelilingi partai gila, jangan lah terjebak," terangnya.
Ibu dari artis Atiqah Hasiholan itu memberikan nasehat kepada Jokowi bahwa dia dibutuhkan membangun jakarta, barangkali besok ada perubahan. Tetapi, secara pribadi ingin Jokowi sebagai ketua MKRI.
"Kalau saya pribadi ingin Jokowi sebagai ketua MKRI, mending yuk ikut gue, di pemerintahan transisi. Iya dong, psti bersihnya. Nah mau ikut partai, mau diapain," ujarnya sambil tertawa.
Tugas utama Jokowi saat ini adalah membenahi Jakarta. "Itu tugas dia sebagai gubernur," ucapnya.


Sumber :
merdeka.com

Pesan Jokowi ke Slankers: Ngerock Boleh Tapi Pas Pulang Santun

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) rupanya ngefans sama Slank. Sebagai penggemar, Jokowi datang ke markas Slank untuk menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-30 Slank.
"Saya datang ke sini ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada. Slank ini sudah 30 tahun berkarya. Kebetulan saya ini penggemarnya, jadi saya datang," ujar Jokowi di markas Slank, Gang Potlot III, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (7/6/2013).
Jokowi yang datang bersama istri, Iriana Widodo, mengaku kagum terhadap grup band besutan Bimbim ini.
"Slank sudah 30 tahun, ini luar biasa. Artinya ada band rock yang eksis dan menginspirasi anak muda di Indonesia. Kemudian pesan-pesan yang disampaikan di liriknya bagus mulai masalah kebobrokan birokrasi, lingkungan, semuanya di situ. Menginspirasi anak muda," jelasnya.
Jokowi menegaskan grup band rock yang terkenal dengan lagu 'Terlalu Manis' ini berasal dari Jakarta.
"Gang Potlot ini wilayah kita. Semuanya di Slank mulai dari Kaka, Bimbim, Abdee, Ridho dan Ivan, itu KTP-nya Jakarta semua. Kalau ada apa-apa kan saya juga yang tanggung jawab," kata Jokowi.
Tak hanya ucapkan selamat ualng tahun, mantan Wali Kota Solo ini pun berharap kepada para Slankers, sebutan untuk para fans Slank, untuk dapat menjaga keamanan dan ketertiban kota, terlebih usai menyaksikan konser.
"Saya pesan juga, Slankers yang pada nonton konser, ngerock boleh, jingkrak-jingkrak boleh, tapi pas pulang yang santun, yang rapih," jelas Jokowi.
Di akhir pertemuan, Jokowi sempat dipancing oleh Vokalis Slank, Kaka, untuk bernyanyi bersama lagu 'Balikin'.
"Balikin, oh... oh balikin. Kehidupan ku yang seperti dulu lagi. Balikin, oh... oh balikin, kotaku yang bersih seperti dulu lagi," dendang Jokowi bersama seluruh personel Slank.


Sumber :
detik.com

Lagi Lagi PDIP Cegah Jokowi Nyapres

Popularitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) meroket dalam sejumlah survei nasional soal calon presiden 2014. Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo menilai Jokowi perlu menyelesaikan tugasnya di Jakarta dulu, sebelum menjadi capres.
"Dia masih punya utang (benahi Jakarta), tapi kami apresiasi keinginan masyarakat," kata Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo di sela-sela sidang Dewan Kehormatan Penyelengara Pemilu (DKPP) terkait Pilkada Bali, Jalan MH Thamrin, Jakpus, Jumat (7/6/2013).
Menurutnya, PDIP belum membahas secara lebih lanjut soal kemungkinan Jokowi atau tokoh PDIP lain diusung sebagai capres 2014.
"Walau partai lain sudah punya calon masing-masing, kita belum membicarakan hal itu," ucap Tjahjo.
Jokowi saat ditanya mengenai keinginan masyarakat yang ingin dirinya menjadi capres 2014, tak pernah mau hirau. Jokowi mengaku 'ndak mikir' soal pencapresan dirinya.
Namun semakin banyak tokoh yang memprediksi Jokowi akan nyapres. Menteri BUMN Dahlan Iskan bahkan siap mendukung pencapresan Jokowi.


Sumber :
detik.com

Sowan ke Markas Slank, Jokowi: Pangling Saya

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menyambangi lagi markas grup band Slank. Saat melihat gaya rambut anyar sang vokalis, Kaka, Jokowi pangling (sulit mengenali).
"Pangling saya," kata Jokowi saat melihat Kaka yang telah memangkas rambutnya gondrongnya saat keduanya bertemu di markas Slank, Jl Potlot III, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (7/6/2013) sekitar pukul 14.00 WIB.
Melihat reaksi orang nomor satu di Jakarta itu, Kaka yang mengenakan kaos warna putih dan celana jeans itu terlihat mesam- mesem.
Kunjungan spesial ini merupakan kunjungan kedua pria asli Solo tersebut. Jokowi sebelumnya pernah main ke markas Slank pada Senin 16 April 2012, sebelum Pilgub DKI Jakarta.
Dalam kunjungan kali ini, Jokowi mengajak serta sang istri tercinta, Iriana Widodo. Pasutri ini diterima hangat oleh manajer Slank, Bunda Ifet, dan personel Slank.
Mereka asyik bercengkrama, termasuk curhat tentang konser di PRJ. "Pak, nanti di PRJ, waktu konser Slank mundur. Tadinya tanggal 10 Juni tapi diundur jadi tanggal 13 Juni. Slankers pada kecewa Pak, soalnya mereka udah prepare beli tiket untuk yang tanggal 10 Juni," ujar Bimbim kepada Jokowi.
Jokowi mendengarkan serius curhat penabuh drum itu. Puas berbincang-bincang, Jokowi dijamu makan siang. Ia disuguhi ayam goreng, gulai dan lalapan lengkap dengan sambal.
Bimbim mengutarakan kangen makan soto di Solo. Suasana santap siang sangat cair dan akrab. "Saya jadi kangen makan soto di Solo yang pagi-pagi itu, Pak," ujar Bimbim.
"O ya, nanti kalau konser di Solo kita makan soto, banyak soto di Solo," jawab Jokowi ramah.


Sumber :
detik.com

Jokowi Gelar Lomba Renang Antarpulau di Kepulauan Seribu

Festival Bahari Jakarta bakal ikut memeriahkan HUT ke-486 Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) siap menyaksikan lomba renang antarpulau di Kepulauan Seribu.
Asisten Bidang Pemerintahan Pemprov DKI Jakarta, Sylviana Murni, mengatakan acara tersebut digelar mulai tanggal 8 hingga 9 Juni 2013.
"Tujuannya sebagai promosi wisata di Kepulauan Seribu agar masyarakat semakin dekat dengan kawasan tersebut," ujar Sylviana kepada wartawan di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (7/6/2013).
Mantan Walikota Jakarta Pusat ini menerangkan kegiatan Festival Bahari Jakarta rutin dilakukan setiap tahunnya. Namun untuk tahun ini ada penambahan kegiatan, yaitu lomba renang antarpulau.
"Tiap tahun ada. Hanya tahun ini ada beberapa teknis yang berbeda. Seperti ada tambahan lomba renang antarpulau. Itu pesertanya (lomba renang antarpulau) masyarakat di pulau," kata Sylvi,
Untuk lomba renang akan dilepas oleh Jokowi. Rencananya dari Pulau Pramuka ke Pulau Panggang. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara Pemprov DKI dengan pihak swasta.
"Jadi ada anggaran gabungan dari SKPD juga ada sponsor. Koordinasi tetap di Wali Kota Jakarta Utara," katanya.
Selain lomba renang antarpulau dan perahu naga, ada juga perlombaan Jetski, lomba foto pesona Kepulauan Seribu, kegiatan penanaman terumbu karang, pelepasan penyu, aksi bersih pantai, festival kuliner dan hiburan rakyat.


Sumber :
detik.com

Kapok, Jokowi Ogah Prediksi Skor Indonesia Vs Belanda

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) enggan memprediksi hasil pertandingan persahabatan antara timnas Indonesia dan Belanda yang digelar pada Jumat (7/6/2013) malam nanti di Stadion Gelora Bung Karno (GBK).
"Enggak mau. Saya prediksi salah terus. Kapok," ujar Jokowi seusai mendampingi Presiden di acara peninjauan Kapal Rainbow Warrior di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat pagi.
Bulan lalu Jokowi memprediksi klub asal Spanyol, Barcelona, akan mengungguli Bayern Muenchen dengan skor 2-1 di laga semifinal leg kedua Liga Champions. Dia menjagokan Lionel Messi untuk menjebol gawang Manuel Neuer. Namun, Barca justru menelan kekalahan telak 0-3 dan total agregat 0-7.
Timnas Indonesia dan Belanda akan menjalani laga uji coba pada Jumat (7/6/2013) malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Selain disiarkan langsung di Indonesia dan Belanda, laga itu rencananya akan ditayangkan oleh lebih dari 12 negara di berbagai penjuru dunia.
Skuad Belanda akan diperkuat pemain-pemain berpengalaman, seperti Robin van Persie, Arjen Robben, dan Wesley Sneijder.

Sumber :
kompas.com

Jokowi Tegaskan Kembali Keinginannya Untuk Mengakusisi PT Palyja

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menegaskan kembali rencananya untuk melakukan 'Nasionalisasi' PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja). Namun, dirinya berharap pengambil alihan PT Palyja memakan biaya yang murah.
"Mestinya diambil alih dengan harga yang murah," ujar Jokowi, seusai mengiringi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meninjau kapal Green Peace di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (7/5/2013).
Jokowi mengatakan, keinginannya mengambil alih PT. Palyja dengan harga yang murah lantaran dirinya tidak ingin membebani Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.
"Ya ini supaya tidak membebani APBD," kata Jokowi.
Sampai saat ini, Jokowi mengungkapkan pihaknya telah membentuk tim untuk melakukan negosiasi dengan pihak PT Palyja.
"Ini masih dalam proses. Timnya sudah kami bentuk untuk melakukan negosiasi," tutur Jokowi.

Sumber :
tribunnews.com

Jokowi: Biaya Promosi Enjoy Jakarta ke Malaysia Ditanggung Sponsor

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), pekan ini ke Kuala Lumpur, Malaysia, mempromosikan program Enjoy Jakarta. Keberangkatan rombongan yang berjumlah 90 orang ini tidak menggunakan APBD DKI Jakarta, melainkan pihak swasta yang menjadi sponsor acara.
"Di sana kan ada promosi, semua didanai oleh sponsor. Ada kurang lebih 90 orang, semua ditanggung dari sponsor," ujar Jokowi usai mendampingi Presiden SBY menemui delegasi Greenpeace di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (7/6/2013).
Pria asal Solo ini mengatakan, rombongan yang ikut bersamanya terdiri dari perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispaprbud) DKI, pemain musik dan penari. Di Malaysia, Jokowi dan rombongan akan memamerkan kebusayaan dan wsiata khas Jakarta. Jokowi menilai, sebuah kota itu sama halnya dengan sebuah produk, dimana harus dibranding dan dipasarkan.
"Nanti pameran, promosi-promosi ke travel agen. Ini proses promosi kota. Kota itu perlu dipromosikan," katanya.
Jokowi dijadwalkan berangkat pada tanggal 13 hingga 15 Juni 2013. Jokowi beserta rombongan akan melakukan bisnis berbasis budaya dan pariwisata. JOkowi juga akan ditemani noleh artis ibukota, Rossa.
"Jadi Pak Gubernur mau ikut ke Malaysia lihat promosi yang kita lakukan. Dan rencana promosi Enjoy Jakarta ini akan diikuti para penari Betawi dan ada artis Rossa juga. Fokusnya bisnis kita menjual paket wisata Jakarta, dan kita akan business to business di sana. Kita membawa institusi pariwisata Jakarta, ada hotel dan biro perjalanan wisata dan akan ketemu dengan agenda perjalanan wisata di KL. Target kita sekitar 150 sampai 200 pelaku usaha di sana," ujar Kepala Disparbud DKI, Arie Budiman beberapa waktu lalu.


Sumber :
detik.com

Jokowi: PRJ Harus Dikembalikan ke Roh Pesta Rakyat

Mahalnya harga tiket masuk ke Pekan Raya Jakarta (PRJ) di Kemayoran yang dikeluhkan warga Ibukota sampai ke telinga Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Ia berharap PRJ menjadi pesta rakyat.
"Kan sudah saya sampaikan kalau harus dikembalikan ke roh semula. Harus dikembalikan ke rakyat," kata Jokowi saat dimintai komentar tentang warga yang mengeluhkan tiket masuk PRJ mahal.
Hal ini disampaikan Jokowi usai mengiringi peninjauan Presiden SBY ke Kapal Raibow Warrior Greenpeace di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (7/6/2013).
Mau diturunkan harga tiketnya, Pak? "Sudah lama ini dikelola swasta. Jadi yang kelola swasta," jawab Jokowi.
Jokowi berpendapat industri-industri kecil yang berbasis budaya harus lebih didominankan. "Sekarang menurut saya lebih ke pameran dagang," ujar dia.
Ketika ditanya tentang rencana pencabutan saham, Jokowi mengatakah hal tersebut belum dibahas.
"Yang jelas kita mau buat konsep baru untuk PRJ. Jangan smpai konsep lama kehilangan PRJ. Kita akan concern ke sana. Saya nggak berbicara pindah ke Monas atau di mana. Rohnya adalah ini pesta rakyat. Jadi rakyat harus menikmati," papar Jokowi.
Tarif masuk PRJ dipatok Rp 25 ribu untuk Senin hingga Kamis, sedangkan untuk Jumat, Sabtu, Minggu dan hari libur nasional dipatok Rp 30 ribu. Untuk hari Senin hingga Kamis PRJ buka dari pukul 15.30-22.00 WIB, sedangkan Jumat PRJ buka dari puku 15.30-23.00 WIB dan untuk Sabtu dan Minggu PRJ dibuka dari pukul 10.00-23.00 WIB.
Tiket parkir motor dipatok Rp 10 ribu. Untuk mobil Rp 20 ribu. Namun pihak PRJ menilai tiket masuk tersebut masih reasonable.


Sumber :
detik.com

Tak Ada Izin, Ratusan Spanduk Tolak BBM PKS Ditertibkan Anak Buah Jokowi

500-an Spanduk bertuliskan menolak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) milik Partai keadilan Sejahtera (PKS) yang tersebar di wilayah Jakarta Barat telah ditertibkan Satpol PP. Penertiban tersebut dilakukan dikarenakan penempelan spanduk tersebut tidak memiliki izin.
"Sudah 500 spanduk yang kita bersihkan dan tidak memiliki izin makanya kita bersihkan," ujar Kasatpol PP Jakarta Barat, Kadiman Sitinjak saat dihubungi detikcom, Jumat (7/6/2013).
Kadiman mengatakan, spanduk bertuliskan menolak kenaikan BBM dari PKS sudah ada sejak Kamis (31/5) lalu. Spanduk tersebut pun tersebar di seluruh wilayah Jakarta Barat.
"Mereka menempelnya di taman, JPO, sisi tol dan di mana-mana," ujar Kadiman.
Kadiman mengatakan, adapun yang sudah ditertibkan yaitu spanduk yang berada di kolong fly over pesing, pagar taman jalur hijau Daan Mogot, Tubagus Angke, Grogol, Tomang, Slipi, kawasan Glodok, Arjuna Utara dan Selatan, Jalan Panjang, Kemanggisan Utama dan lain sebagainya.
"Semua fasum yang ada di delapan kecamatan Jakarta Barat sudah kami tertibkan," ungkapnya.
Menanggapi masih banyaknya spanduk tolak kenaikan BBM di dalam jalan-jalan kampung, kata Kadiman, pihaknya memang mengakui masih banyaknya spanduk tolak kenaikan BBM yang terdapat di jalan kampung. Menurutnya hal tersebut lantaran pihaknya masih memfokuskan penertiban spanduk yang berada di fasum dan jalur-jalur kota.
"Ini kita lagi sisir semua," tegasnya.


Sumber :
detik.com

Jokowi Iringi SBY Naik Geladak Kapal Rainbow Greenpeace

Pagi ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono tiba di kapal milik Greenpeace, Rainbow Warrior III, yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Gubernur DKI Joko Widodo(Jokowi) terlihat mengiringinya.
Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono terlihat kompak mengenakan busana biru-biru saat tiba di kapal milik organisasi pegiat lingkungan internasional itu di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (7/6/2013).
Beberapa pejabat juga terlihat hadir antara lain Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Jokowi, serta Menteri Perhubungan EE Mangindaan. SBY dan rombongan langsung naik ke geladak kapal. SBY juga mengucapkan selamat kepada para aktivis lingkungan.
Kepada aktivis lingkungan. SBY juga menekankan bahwa aktivitas pecinta lingkungan ini semata-mata untuk generasi penerus bangsa nantinya.
"Ini untuk cucu kita. Untuk anak cucu kita, untuk masa depan kita," ujar SBY. 

Kemudian SBY, Jokowi, dan para rombongan lainnya sedang berkeliling di atas kapal.
Rainbow Warrior yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, adalah kapal terbaru Greenpeace dan satu-satunya kapal yang paling ramah lingkungan di kelasnya. Kapal itu kerap berlayar ke wilayah terpencil untuk menyaksikan dan memberi perlawanan kepada perusak lingkungan. 




SBY-Jokowi : Sang Jenderal vs Si Tukang Kayu

Tanda tanda kemunculan pemimpin nasional seperti SBY sebelum dipilih menjadi Presiden Republik Indonesia mengingatkan kita akan beberapa peristiwa yang mendahului kemunculannya. Kalau kita cocok-cocokkan, fenomena yang terjadi pada SBY (Sang Jenderal) ternyata juga terjadi pada Jokowi (Si Tukang Kayu), berikut ini hasil fenomena yang mungkin bisa kita katakan mirip :
  1. Kemunculan di media masa : SBY muncul pertama kali di AFI dengan membawakan lagu "Pelangi Dimatamu" besutan Jamrud, Jokowi muncul pertama di OVJ.
  2. Blusukan : SBY sebelum jadi presiden sering mengunjungi pasar, lokasi syuting, rumah sakit sampai lokasi bencana. Jokowi keluar masuk perkampungan kumuh di Solo dan Jakarta.
  3. Citra Terzolimi : SBY saat "dipecat" jadi mentri oleh Megawati (yang sebenarnya mengundurkan diri). Jokowi dituduh anak dari pasangan Non Muslim oleh Oma Irama.
  4. Ekspos Media : SBY dan Jokowi sama sama selalu ditempel media, sampai hal-hal sekecil apapun jadi berita di media
  5. Musibah di Awal Kekuasaan : Di tahun pertamanya menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, SBY di suguhi tsunami. Jokowi disuguhi banjir besar di jakarta.
  6. Pendukung Yang Kuat : SBY dan Jokowi sama sama punya pendukung, SBY didukung kelompok Menengah-Atas, Jokowi didukung kelompok Menengah Bawah, sebagian besar pendukung Jokowi dari Wong Ciliknya PDIP.
  7. Dukungan Pengusaha : SBY diketahui dengan dengan beberapa pengusaha seperti Hartati Murdaya, Jokowi juga dekat dengan beberapa pengusaha, seperti pengusaha Industri kosmetik Tradisional Martha Tilaar.
Meskipun terdapat kesamaan-kesamaan seperti yang telah kita bahas diatas, ternyata di antara SBY dan Jokowi juga terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat cukup mencolok, berikut ini dibahas perbedaan antara SBY dan Jokowi :
  1. Tutur Kata dan Bahasa Tubuh : Saat berbicara, membuka mulut dan gerakan tangan SBY seperti diatur dan dibuat sedemikain rupa, seperti wayang golek digerakkan dalang, sehingga nampak membosankan. Jokowi berbicara dengan gaya yang wajar, tidak dibuat-buat, tertawa lepas dan humor dilepas kapan saja dengan tanpa beban.
  2. Pengawalan : SBY dan Jokowi sama-sama dikawal, bedanya SBY dikawal kelewat ketat, sedang Jokowi dikawal secara simbolik, buktinya ada ibu ibu yang berhasil mencium Jokowi tanpa dicegah oleh satupun pengawalnya. Bisa kita bayangkan mungkinkah kejadian penciuman yang dialami oleh Jokowi bisa terjadi pada SBY ?
  3. Hubungan Dengan Rakyat : SBY banyak didemo rakyat, Jokowi sebaliknya, banyak dinanti rakyat untuk mengunjungi daerah mereka.
  4. Hubungan Dengan Wakil : SBY memperlakukan Wakil Presiden Boediono seperti hiasan (burung dalam sangkar), sebaliknya Jokowi memperlakukan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) seperti macan yang mengawal daerahnya dan Jokowi membebaskan sang macan untuk mengaum dan menerkam siapa saja yang tidak benar.
  5. Hubungan Dengan Media Masa : SBY mengundang media masa untuk meliput kegiatanya, sebaliknya Jokowi dikejar-kejar awak media untuk meliputnya sehingga tak jarang awak media kehilangan jejak Jokowi.
  6. Hubungan Dengan Partai : Partai SBY (Demokrat) diperlakukan sebagai penyambung lidahnya, sebaliknya Jokowi diperlakukan partainya (PDIP) sebagai penyambung lidah partai. SBY sering menggunakan waktu kerjanya untuk membicarakan partainya, sebaliknya Jokowi tidak mau membicarakan partainya di waktu kerjanya tetapi sering berkampanye atau mendukung kampanye di hari liburnya.
  7. Pengambilan Keputusan : Konsep pengambilan keputusan SBY "Fikirkan Dulu, Laksanakan Kemudian", sebaliknya Jokowi "Laksanakan Dulu, Fikirkan Masalah Yang Timbul Kemudian". SBY yang berlatar belakang militer ternyata tidak dapat mengambil keputusan dengan cepat, keputusan-keputusan yang menurunkan citranya baru dibuat setelah didemo dan dihujat kiri kanan. Sebaliknya Jokowi dapat mengambil keputusan dengan sangat cepat (bisa dikatakan kelewat berani) yang kadang-kadang jadi bulan-bulannya lawan-lawan politiknya, sebagai contoh masalah KJS yang baru-baru ini terjadi.
  8. Bantuan Asing : SBY kerap mempraktikkan konsep neoliberal yang bersikap kooperatif dengan pihak kreditor dan lebih ramah pada investor asing, sebaliknya Jokowi cenderung menolak bantuan asing dan berkeinginan mengakusisi perusahaan asing sebagai contoh masalah PT Paljaya.
  9. Pertumbuhan Ekonomi : SBY mengutamakan pertumbuhan ekonomi makro, keberhasilan kepemimpinan SBY diukur dari banyaknya investasi asing yang masuk. Sebaliknya Jokowi mengutamakan pertumbuhan ekonomi kerakyatan, keberhasilan kepemimpinannya diukur dari kesejahteraan rakyatnya.
  10. Hari Libur : SBY nyaris tidak pernah menggunakan hari liburnya untuk mengurusi rakyatnya, sebaliknya Jokowi sering menggunakan hari liburnya untuk mengurusi warganya.
  11. Aliran Musik : SBY menyukai musik sendu/melangkolis, sebaliknya Jokowi menyukai musik keras (rock).
Bagaimana akhir cerita kepemimpinan SBY dan Jokowi. Apakah sama ?



Sumber :
kompasiana.com

Kamis, 06 Juni 2013

Jokowi Belum Layak Jadi Calon Presiden

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dijagokan sebagai calon presiden pada pemilihan umum 2014 mendatang. Sejumlah lembaga survei menempatkan pria yang akrab disapa Jokowi itu, di posisi teratas calon presiden.
Tapi, di mata putri presiden pertama RI Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri, Jokowi dianggap belum layak untuk menjadi presiden. " Jokowi memang populer, tetapi untuk menilainya, apakah beliau akan membawa pikiran-pikiran besar yang bisa membawa kemajuan bangsa ke depan," ujar Rachmawati Soekarnoputri usai memperingati peringatan ulang tahun ke 112 Bung Karno di Jalan Jati Padang no 54, Jakarta Selatan, Kamis (6/6/2013).
Kata Rachma, mantan Wali Kota Solo ini belum dapat memimpin Indonesia, pasalnya dia belum setahun menjabat sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta. "Tidak gampang memimpin negara, tidak bisa disamakan dengan memimpin Jakarta. Karena kompleksitas dalam memimpin negara sangat besar sekali," tuturnya.
Lebih lanjut Rachmawati mengatakan, sejauh ini, dia belum bisa menilai sosok calon pemimpin yang layak diusung sebagai presiden pada 2014.
Ketika ditanyakan soal apakah sosok Puan Maharani layak diusung sebagai calon presiden, dia enggan memberikan komentar lebih banyak. "Kalau Puan masih terlalu belum mature," tutupnya.


Sumber :
okezone.com

PDIP Belum Bahas Pencapresan Jokowi

Nama gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) akhir-akhir ini selalu muncul beberapa survei yang dirilis berbagai lembaga. Bahkan popularitas Jokowi telah melampaui beberapa tokoh senior. Dalam internal PDIP, peluang Jokowi di Pilpres belum dibahas.
"Belum ada pembahasan masalah Pilpres," ujar ketua DPP PDIP Maruarar Sirait usai acara nonton bareng film Sang Kyai di Plaza Senayan, Jl Asia Afrika, Jakarta Pusat, Kamis (6/6/2013).
Menurut anggota komisi XI DPR RI ini, semua keputusan perihal pencapresan ada di tangan ketua umum, Megawati. PDIP sampai sekarang masih fokus untuk memenangkan beberapa kader mudanya di Pilkada.
"Kami fokus ke Pilkada dulu. Strategi 2014 jelas sudah ada, tapi nggak mungkin kita buka dong," tambah Ara.
Kader muda di PDIP memang menjadi senjata utama partai ini. Ara menambahkan untuk pilpres PDIP tidak hanya mempertimbangkan usia, kader yang loyal dan kompeten akan menjadi pilihan utama.
Sebelumnya, ketua fraksi PDIP DPR, Puan Maharani mengatakan bahwa partai berlambang banteng ini sedang gencar melakukan kaderisasi. Kader-kader muda PDIP menjadi andalan partai ini. Jokowi adalah salah satu kader muda PDIP yang cukup mentereng popularitasnya.
 
Sumber :
detik.com

Warga Betawi : Jokowi-Ahok Kembalikan PRJ ke Sejarah

Meski baru sebatas wacana, pemindahan Pekan Raya Jakarta (PRJ) dari Kemayoran ke area Monumen Nasional oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta disambut baik oleh warga, khusus masyarakat Betawi sendiri.
Adji Virdian (24), warga Betawi yang tinggal di Lenteng Agung, Jakarta Selatan mengatakan, dirinya setuju jika PRJ dipindahkan ke Monas. Menurutnya, jika hal tersebut terjadi, Gubernur DKI Joko Widodo dan Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama menghargai sejarah HUT DKI.
"Kan memang sejarahnya pertama kali PRJ itu di Monas. Diadakan di sana karena Monas kan ikon Jakarta. Makanya setuju banget mau diadain di Monas lagi," ujar pria yang bekerja di perusahaan konstruksi ini, Kamis (6/6/2013) siang.
Adji mengakui gelaran PRJ tahun-tahun terakhir sangat jauh dari roh HUT DKI Jakarta terdahulu. Di mana, produk-produk berbasis masyarakat serta kesenian Betawi bergeser ke pinggir dan diganti dengan beragam stan industri raksasa. Pasar rakyat akhirnya berubah menjadi pasar modern.
"Kalau di Monas kan lebih kelihatan PRJ-nya dari pada di Kemayoran yang lebih kelihatan pameran hanya untuk kalangan high class-nya. Lihat saja tiket masuknya yang Rp 35.000," lanjut Adji.
Tidak hanya Adji, hal senada juga diungkapkan warga Betawi lainnya, Asrul Hasanudin (28). Pria yang tinggal di kawasan Batuampar, Condet tersebut mengaku pasti turut dalam kemeriahan PRJ jika diselenggarakan di Monas. Menurutnya, suasana PRJ bisa membawa ke masa kecilnya.
"Gua ke PRJ Kemayoran cuma dua kali, tapi dulu gua lebih sering ke PRJ Monas waktu kecil sama bokap gua. Pasti berasa nostalgia lah. Apalagi kalau tiket masuknya gratis," ujarnya sumringah.
Ia berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa menghidupkan kembali roh yang telah lama sirna dari HUT Kota Jakarta. Karakter Betawi yang menjelma dalam PRJ di Monas itu, lanjut Asrul, menjadi semangat baru bagi warga Jakarta demi membangun Kota Jakarta yang diidam-idamkan.
Wacana perpindahan PRJ dari area Kemayoran ke pelataran Monas diwacanakan Pemprov DKI, beberapa waktu lalu. Pemprov DKI melihat PRJ kehilangan roh karakter Betawi atas keberadaan stan-stan industri raksasa di PRJ, menggeser produk kebudayaan Betawi. Pemprov DKI melihat perlu digelar HUT DKI yang memiliki ciri Betawi.


Sumber :
kompas.com

"Pak Jokowi, Malnya Kok Enggak Digusur?"

Usaha Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menormalisasi Waduk Pluit sudah mulai menunjukkan hasil. Saat ini, sisi barat Waduk Pluit, yaitu perkampungan, taman burung, dan lapangan futsal milik PT Jakarta Propertindo (PT Jakpro) sudah rata dengan tanah.
Seorang warga yang rumahnya digusur, Sumiati, mempertanyakan keputusan Pemprov DKI Jakarta menormalisasi Waduk Pluit dengan menggusur bangunan-bangunan di bantaran. Menurutnya, Jakarta banjir karena pusat-pusat perbelanjaan yang dibangun di area yang seharusnya menjadi lahan resapan air.
"Padahal kami kebanjiran juga baru kemarin (awal 2013). Kenapa Pak Jokowi enggak membongkar mal-malnya juga? Di Pantai Marina saja sudah mau dibangun gedung atau apartemen itu," kata Sumiati, yang mengaku sudah puluhan tahun tinggal di bantaran Waduk Pluit, Kamis (6/6/2013).
Mengenai rumahnya yang sudah rata dengan tanah, Sumiati mengatakan, "Dulu saya beli sama orang Rp 15 juta. Sekarang mah orangnya pasti sudah kabur. Yah mau bagaimana lagi memang sudah nasibnya."
Setelah rumahnya di dekat lapangan futsal PT Jakpro digusur, lanjut Sumiati, ia dan suaminya kini menumpang di rumah anaknya, yang masih mengontrak. Sumiati tidak pindah ke rumah susun yang sudah disediakan Pemrpov DKI Jakarta, karena tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) DKI Jakarta.
Soal mata pencarian, Sumiati kini berjualan minuman dan kue di dekat tenda tempat polisi menjaga proyek normalisasi Waduk Pluit.
Sementara itu, Komar (55) yang mengaku telah tinggal di bantaran Waduk Pluit sejak tahun 1984 menolak direlokasi ke rumah susun yang disediakan oleh Pemprov DKI. Komar mengaku tidak pindah karena mempertimbangkan retribusi yang akan dibebankan kepadanya jika menjadi penghuni rumah susun. Menurut Komar, ia mempertimbangkan pengeluaran karena penghasilannya sebagai tukang tambal ban tak menentu.
"Kalau gratis ya enggak apa-apa. Tapi, kalau bayar, ya saya mendingan disini saja," kata dia.
Waduk Pluit dinormalisasi karena telah mengalami penyempitan dan pendangkalan. Awalnya, Waduk Pluit memiliki luas 80 hektar dan berkedalaman sepuluh meter. Luas Waduk Pluit menyusut sampai 20 persen karena rumah-rumah liar di bantaran. Kedalaman Waduk Pluit saat ini juga hanya satu sampai tiga meter.
Pengerukan Waduk Pluit mulai dikerjakan pada Februari lalu, tepatnya setelah banjir besar melanda kawasan itu pada awal tahun ini. Saat itu, permukaan waduk dipenuhi sampah dan eceng gondok, sampai-sampai airnya tak terlihat.
Sementara untuk menyelesaikan masalah warga bantaran Waduk Pluit, Pemprov DKI Jakarta membangun rumah susun di Marunda, Muara Baru, Daan Mogot. Pemrpov DKI Jakarta juga berencana membangun rumah susun di area seluas 6,4 hektar di Luar Batang, Jakarta Utara.


Sumber :
kompas.com

Warga Waduk Pluit Kini Pasrah Rumahnya Digusur Jokowi

Warga sisi timur bantaran Waduk Pluit kini mengaku telah pasrah dan menerima apabila kediaman mereka yang berdiri di atas lahan negara tersebut dibongkar Pemprov DKI.
Yani (46) warga RT 18 RW 19 Pluit, Jakarta Utara, mengaku telah membereskan segala perabotannya untuk pindah ke rumah susun (rusun).
"Ya mau bagaimana lagi, asal Pak Jokowi (Gubernur DKI) beri kami ganti tempat tinggal yang layak ya mau tidak mau memang harus pindah," kata Yani, saat ditemui di Waduk Pluit, Jakarta, Kamis (6/6/2013).
Ibu tiga anak tersebut telah menetap di bantaran Waduk Pluit sejak 12 tahun yang lalu. Menurutnya, Pemprov DKI baru bertindak tegas kepada warga bantaran Waduk Pluit saat di bawah pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.
Sebab selama ini, menurutnya, banjir jarang menerjang tempat tinggalnya. Yani adalah warga asal Madiun, Jawa Timur yang hijrah ke Jakarta untuk mengikuti suaminya yang bekerja sebagai tukang tambal ban di Pasar Penjaringan.
Untuk menambah penghasilan keluarganya, Yani membuka warung kelontong di dekat rumahnya dengan menjual aneka makanan ringan untuk anak-anak.
Dengan penghasilan Rp 500.000 per bulan dari berdagang kelontong, Yani berharap kelak di rusun yang ia tempati penghasilannya tidak akan menyusut.
"Saya sebenarnya ingin pindah ke rusun Daan Mogot saja biar dekat sama tempat lainnya. Kalau di Rusun Marunda terlalu jauh. Lagipula sudah banyak korban banjir kemarin yang menempati," kata Yani.
Hal senada juga diungkapkan Sodikin (36) yang mengatakan telah siap untuk direlokasi. Terlebih saat ia mendengar Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menjanjikan untuk membangun kawasan ekonomi khusus (KEK) Rusun Marunda yang akan membuka banyak lapangan pekerjaan bagi warga relokasi yang tidak memiliki mata pencaharian.
Sodikin juga berharap Pemprov DKI tidak memasang harga sewa terlalu tinggi untuk Rusun Marunda.
"Saya dengar ada biaya perawatannya semoga saja tidak mahal. Karena saya juga pengangguran, baru saja kena PHK," kata Sodikin.
Salan satu program unggulan Pemprov DKI tahun ini adalah normalisasi Waduk Pluit. Waduk itu seharusnya memiliki kedalaman sepuluh meter. Namun, karena terus mengalami pendangkalan, kini kedalamannya hanya antara satu dan tiga meter.
Sebanyak 20 persen dari luas areal waduk yang mencapai 80 hektare -khususnya di bantaran waduk- telah berubah menjadi kawasan permukiman liar.
Pengerukan Waduk Pluit mulai dikerjakan pada Februari lalu, tepatnya setelah banjir besar melanda kawasan Pluit awal tahun ini. Saat itu, sampah dan eceng gondok menutupi Waduk Pluit, sehingga air tidak dapat terlihat.
Sehingga, Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Joko Widodo bertekad mengembalikan fungsi waduk seperti semula.
Sementara itu, untuk menyelesaikan masalah warga bantaran Waduk Pluit, Pemprov DKI Jakarta membangun rumah susun di Marunda, Muara Baru, Daan Mogot, dan akan membeli lahan di kawasan Luar Batang, Jakarta Utara, seluas 6,4 hektar.


Sumber :
kompas.com

Ini Tanggapan Warga Soal Rencana Jokowi Memindahkan PRJ ke Monas

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) rencananya akan memindahkan lokasi pelaksanaan Pekan Raya Jakarta (PRJ) dari Kemayoran ke Monas, Jakarta Pusat. Langkah ini disambut baik oleh warga yang merasa pelaksanaan PRJ di Kemayoran banyak kekurangannya.
"Kalau di Kemayoran menengah ke atas, parkir saja mahal. Saya pernah motor Rp 15 ribu apalagi mobil bisa lebih mahal. Pernah juga beli kerak telor harganya Rp 70 ribu," kata Rudi (22), salah seorang pengunjung Monas ketika ditanya mengenai rencana Jokowi memindahkan PRJ ke Monas, Kamis (6/6/2013).
Rudi mengatakan setuju lokasi PRJ dipindahkan ke Monas karena acara ini akan bisa dikunjungi semua kalangan. "Kalau PRJ di Kemayoran mahal, kalau di Monas bisa lebih murah," katanya.
Tarufik (28), pengunjung Monas lainnya, mengeluhkan hal yang serupa. Menurutnya parkir mobil di PRJ Kemayoran sangat mahal. Dirinya pernah harus membayar parkir Rp 60 ribu saat mengunjungi PRJ Kemayoran. "Bawa mobil kena Rp 60 ribu, padahal mau lihat-lihat saja bukan mau beli," keluhnya.
Taufik mengatakan, salah satu kelebihan Monas dibanding Kemayoran adalah lebih rindang dan lebih strategis. Namun jika memang dipindahkan ke Monas maka PRJ akan lebih kecil. "Mudah-mudahan terwujud deh PRJ di Monas," katanya.
Usriyah (21), pengujung Monas lain, mengatakan jika dipindah ke Monas maka akan lebih dekat lokasinya dibanding dengan di PRJ Kemayoran. Menurutnya kalau dipindah ke Monas juga akan lebih murah.
"Disana mahal-mahal, main kesana uang langsung habis, parkiran juga mahal. Kalau di Monas lebih cocok dan terjangkau semua kalangan," katanya.
Namun tak semuanya setuju dengan rencana Jokowi memindahkan lokasi PRJ ke Monas. Sugiarto, pedagang yang sudah 20 tahun berjualan di monas menentang rencana tersebut. Menurutnya Monas seharusnya menjadi monumen sejarah dan bukan menjadi tempat pelaksanaan PRJ.
"Nanti Monas menjadi rusak," katanya.


Sumber :
detik.com

Jokowi Akan Temani SBY Buka Jakarta Fair 2013

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) DKI Jakarta ke-486, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi)  direncanakan menemani Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono(SBY) untuk meresmikan event Jakarta Fair di Jakarta Internasional Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Senin (10/6/2013) mendatang.
Namun, bagi para pengunjung yang ingin menikmati aneka kuliner khas dan berbagai wahana liburan, event Jakarta Fair sendiri telah dibuka untuk umum sejak hari ini, Kamis (6/6/2013). Acara itu sendiri akan berlangsung selama 32 hari.
"Rencananya, acara pembukaan oleh Presiden RI, dan Jokowi akan diisi pagelaran drama musikal yang antara lain menampilkan penyanyi senior Titiek Puspa dan Rio Febrian," kata Ketua Panitia Jakarta Fair, Prajna Murdaya.
Prajna Murdaya menjelaskan bahwa event Jakarta Fair 2013 ini diikuti oleh 2.650 peserta yang tergabung dalam 1.280 stand yang terdiri dari kalangan usaha dan industri besar, menengah, hingga koperasi dan usaha kecil-mikro. Diikuti pula oleh anjungan BUMN dan Pemerintah Provinsi atau kabupaten dari berbagai penjuru tanah air.
"Di Jakarta Fair Kemayoran ini dipamerkan berbagai produk unggulan dalam negeri yang akan dijual langsung ke konsumen dengan harga promosi," ujarnya.
Perlu diketahui, produk-produk yang dipamerkan disini diantaranya adalah otomotif mobil, sepeda motor, furniture, building material, lighting fixtures, handycraft, textile, lether, peralatan rumah tangga, komputer, alat olah raga, kosmetik, herbal dan medicine, produk makan dan minuman, branded fashion, telekomunikasi multimedia, beragam produk jasa, hingga produk emas batangan.
"Konser musik berlangsung selama 32 hari nonstop. Mengusung genre musik seperti rock, reggae, ska, pop, jazz, metal, punk, K-pop, alternatif, berbagai pertunjukan budaya, etnik dan lain-lain," pungkasnya.


Sumber :
tribunnews.com

Jokowi Peringati Haul Bung Karno dan Nonton Sang Kiai

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) tetap beraktivitas di hari libur. Kegiatan pagi ini dimulai Jokowi dengan blusukan mengunjungi warga Jakarta.
Selanjutnya, pukul 12.00 WIB, Jokowi akan menghadiri acara 112 Tahun Bung Karno dan 35 Tahun Yayasan Bung Karno di Gedung Pola Lantai 3 Jl. Proklamasi 56 JakPus.
Jokowi memang mengidolakan Soekarno. Dia bahkan akan menamai salah satu ruas jalan dengan nama Jalan Soekarno.
Acara Jokowi selanjutnya adalah menghadiri nonton film bersama Sang Kyai di XXI Plaza Senayan. Rencananya Jokowi nonton pukul 15.00 WIB.
Film Sang Kiai bercerita tentang perjuangan dan sosok KH Hasyim Asy'ari. Dialah ulama yang mengobarkan resolusi jihad mempertahankan kemerdekaan.


Sumber :
merdeka.com

Terinspirasi Soekarno, Jokowi Tak Mau Didikte Asing

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) tak mau sembarangan menerima bantuan pihak asing yang mengaku ingin membantu. Jokowi tak mau didikte.
Terakhir, Jokowi menolak bantuan dari Amerika Serikat yang ditawarkan Dubes AS untuk Indonesia, Scot Marciel. AS mengaku ingin membantu Jokowi menata kampung deret di Kampung Muara Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
"Kita sudah ditawarkan bantuan oleh pihak Kedubes, tapi saat ini kita belum butuh apapun, masih kita tangani melalui anggaran yang ada," ujar Jokowi, Rabu (5/6/2013).
Jokowi memang tak mau diatur asing. Sebelumnya, dia juga menolak bantuan dari bank dunia. Bank Dunia rencananya akan meminjamkan Rp 1,2 triliun. Namu karena prosedur peminjamannya dipersulit, Jokowi enggan menuruti keinginan Bank Dunia tersebut.
"Kalau memang masih rumit, kita bisa pakai APBD. Saya enggak mau diatur-atur terlalu banyak kayak gitu, mau pinjem saja kok rumit begitu," jelas Jokowi.
Jokowi terinspirasi sosok Soekarno yang tak pernah mau didikte asing. Jokowi memang mengidolakan Soekarno.


Berikut ketegasan Soekarno yang tak mau didikte asing.

Go to Hell with Your Aid
Soekarno juga pernah menolak mentah-mentah bantuan dari Amerika Serikat. Saat itu, Soekarno melihat ada niat terselubung Amerika yang waktu itu menginginkan diberangusnya paham komunis dari Asia.
Soekarno yang berjanji tak mau meminta-minta dari negara lain bahkan menilai Amerika 'riya' jika memberi bantuan. Sehingga menyebabkan negara penerima bantuan kehilangan muka. Menyikapi hal ini Soekarno langsung mengatakan,
"Go to Hell with Your Aid! Persetan dengan bantuanmu! lautan dollar tak akan dapat merebut hati kami" teriak Soekarno dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams.


Keluar dari PBB
Indonesia pernah keluar dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia. Tetapi PBB malah mengangkat Malaysia menjadi anggota Dewan Keamanan PBB.
Soekarno merasa PBB tidak akan netral membela Indonesia. Soekarno pun menyatakan sikap. Lebih baik terkucil daripada melihat ketidakadilan.
Tahun 1964 Soekarno sudah memberikan ultimatum agar PBB lebih memihak nega-negara dunia ketiga, tetapi tak diindahkan. Maka sikap Soekarno tegas.
Tanggal 7 Januari 1965 dalam rapat raksasa di hadapan puluhan ribu rakyat, Presiden Soekarno menyatakan Republik Indonesia keluar dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).


Marahi Presiden AS
Dwight Eisenhower, presiden Amerika dibuat terperangah oleh Soekarno yang notabenenya cuma pemimpin negara baru. Saat kunjungan Soekarno ke Amerika pada tahun 1960.
Soekarno merasa tersinggung pasalnya tidak seperti layaknya pemimpin negara lain, kedatangan Soekarno tak dijemput dan disambut Presiden Eisenhower. Kemarahan Soekarno memuncak ketika dia merasa dibiarkan menunggu berjam-jam oleh Eisenhower di gedung putih.
"Aku bicara pada protokol apakah aku harus menunggu lebih lama lagi? bila demikian aku akan pergi sekarang juga. lalu orang itu pucat dan memohon untuk menunggu sebentar. Dia pun lari ke dalam, keluarlah Eisenhower," jelas Soekarno dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams.
Para pejabat AS pun kebingungan. Mereka sibuk meminta maaf dan meminta Soekarno tinggal. Eisenhower pun segera keluar menemui Soekarno. Pada pertemuan berikutnya, Eisenhower menjadi lebih ramah. Soekarno berani, padahal Eisenhower adalah Jenderal AS panglima perang dunia ke II yang membuat sekutu menang melawan Jerman.


Tak mau jadi bangsa budak
Kala itu, Bung Karno bercita-cita agar Indonesia menjadi bangsa yang berdiri di kaki sendiri atau berdikari. Indonesia tidak boleh menjadi budak bangsa lain. Karenanya, Indonesia pantang meminta-minta kepada negara lain.
"Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu. Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bistik tetapi budak," kata Bung Karno saat berpidato pada HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1963.
Sikap anti-perbudakan yang dimiliki Bung Karno juga ditunjukkan dengan sikap anti-imperialisme. Bung Karno kala itu bahkan sudah memprediksi imperialisme akan berkembang menjadi neo-imperialisme di bidang ekonomi.
Imperialisme adalah sebuah isme yang menghalalkan negara besar memegang kendali atas pemerintahan negara lain atau daerah. Salah satu akibat imperialisme di bidang ekonomi adalah negara besar pemilik modal akan semakin kaya dan menjadi pusat kekayaan sementara negara yang dikuasainya semakin miskin. Hal ini akan mengakibatkan negara tersebut menjadi budak negara besar dari segi ketergantungan ekonomi alias penjajahan gaya baru.


Tolak Modal Asing Kuasai Indonesia
Presiden Soekarno tahu kapitalisme pertambangan akan menerkam Indonesia bulat-bulat. Maka sejak awal Soekarno tak mau ada pemodal asing berkuasa. Dia menolak saat para pengusaha Amerika Serikat hendak membuka usaha tambang di Papua.
Kekuasaan Soekarno berakhir setelah peristiwa 30 September. Jenderal Soeharto memulai rezim baru. Setelah dilantik, Soeharto segera meneken pengesahan Undang-undang Penanaman Modal Asing pada 1967. Freepot menjadi perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto.
Sejak itulah Freeport mengeruk kekayaan alam Papua.
Berdasarkan laporan keuangan Freeport McMoran, total penjualan emas Freeport sebanyak 1,01 juta ons (31,6 ton) emas dan 3,6 miliar pon ( 1,8 juta ton) tembaga. Penjualan tembaga asal Indonesia menyumbang seperlima penjualan komoditas sejenis bagi perusahaan induknya.
Laba Freeport naik sekitar 16 persen pada kuartal keempat tahun lalu menjadi USD 743 juta (Rp 7,2 triliun). Total pendapatan juga meningkat menjadi USD 4,51 miliar dari USD 4,16 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Ironisnya, Freeport hanya memberikan royalti satu persen dari hasil penjualan emas dan 3,75 persen masing-masing untuk tembaga dan perak. Kewajiban terbilang sangat rendah dibanding keuntungan diperoleh Freeport.


Sumber :
merdeka.com

AS HIKAM Dukung Pernyataan Dahlan Iskan Soal Pencapresan Jokowi 2014

Pernyataan Dahlan Iskan benar bahwa Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) adalah calon presiden potensial. Bukan saja pengakuan Dahlan itu didukung berbagai hasil poling, tetapi juga karena Menteri BUMN tersebut pasti sudah membaca gelagat publik di seantero negeri.
"Sebagai orang yang ringan kaki kemana-mana di seluruh penjuru tanah air, tentu DI (Dahlan Iskan) dengan intens menguping pendapat publik di mana-mana tentang Gubernur DKI itu," ujar pengamat politik senior AS Hikam (Kamis, 6/6/2013).
Meski begitu, dalam amatan Hikam, PDIP memang masih ragu melepas Jokowi sebagai capres karena pertimbangan kelestarian kepemimpinan tradisonal keluarga Bung Karno.
"Tetapi, seperti pernah saya kemukakan sebelumnya, jika sejarah sudah menghendaki, PDIP pun tak mungkin mampu menghalangi," ungkap Menristek era pemerintahan Gus Dur ini.
Sebelumnya, usai menghadiri peluncuran buku "Antara Pasar dan Politik BUMN di bawah Dahlan Iskan" di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, Dahlan Iskan menyatakan Joko Widodo merupakan calon presiden potensial.
"Semua calon presiden dan yang ingin menjadi presiden harus berpikir ulang karena ada fenomena baru. Jokowi akan menjadi calon presiden dari Ibu Mega," kata Dahlan.

Sumber :
republika.co.id

Jokowi Beri Simbol Politik Tak Bakal Maju Capres 2014

Peristiwa Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) mengangkat spanduk bertuliskan "Megawati Capres 2014-2019" menjawab spekulasi pencapresan Jokowi.
Jokowi memberi sinyal tak akan maju sebagai Capres 2014 saat memperingati Hari Kelahiran Pancasila. Hal itu ditunjukkan dengan mengangkat bendera bertuliskan Megawati Presiden 2014-2019' simbol bahwa Jokowi tak akan maju sebagai Presiden 2014 mendatang.
Sebagai kader partai PDIP, Jokowi terlihat tunduk kepada kepada ketua umum PDIP.
Simbol politik ini menjawab hasil-hasil survei yang menempatkan Jokowi sebagai capres populer. Simbol politik yang diberikan oleh Jokowi ini juga menjawab sebagian besar harapan publik yang menginginkan Jokowi maju menjadi capres.
Bahkan, simbol politik ini juga menjawab wacana yang dibangun oleh Partai Demokrat yang menginginkan Jokowi mengikuti konvensi partainya. Simbol politik ini juga akan sangat baik bagi pendidikan politik dimana Jokowi memberikan isyarat memberi dukungan politik bagi Mega.
Realitas politik ini pun sangat bertentangan dengan pernyataan Puan Maharani yang mengatakan Megawati tidak akan naik menjadi capres.

Jokowi Beri Pembelajaran Politik
Selain itu, simbol politik yang diberikan Jokowi adalah hal yang positif bagi pendidikan poltik, dan bagi para elit. Karena, memberikan pembelajaran bahwa berbuat sesuatu kemudian memberikan contoh konkret terhadap apa yang dilakukan dengan membangun Jakarta.
Pembuktian itu penting, agar publik benar-benar yakin Jokowi memiliki kapasitas dan kapabilitas sebagai seorang pemimpin. Jakarta bisa menjadi laboratorium bagi Jokowi untuk membuktikan bisa membangun Indonesia masa depan yang lebih baik.
Apabila pembangunan Jakarta berhasil di tangan Jokowi, maka bukan tidak mungkin dukungan publik akan semakin besar.
Untuk menjadi presiden, tidak cukup hanya popularitas. Karena bangsa ini membutuhkan pemimpin bukan hanya populer, namun bisa berbuat lebih baik bagi bangsa dan negara.


Sumber :
tribunnews.com

Bank Dunia Optimis Jokowi-Ahok Dapat Atasi Banjir di Jakarta

Salah satu penyebab banjir di wilayah Jakarta adalah pendangkalan sungai-sungai membelah ibukota. Untuk mengatasi itu, diperlukan pengerukan dan normalisasi sejumlah sungai dan waduk.
Direktur Bank Dunia untuk Indonesia Stefan Koeberle menyatakan sangat mendukung program penanggulangan banjir yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Bahkan, dia optimis kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bisa mengatasi banjir di Jakarta.
"Dan kami melihat adanya kepemimpinan sangat kuat ditunjukkan Jokowi-Ahok dalam menangani manajemen banjir," kata Stefan usai bertemu dengan Ahok di Balai Kota, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.
Stefan menegaskan pihaknya sangat yakin dengan semua kegiatan manajemen banjir yang telah diprogramkan oleh Pemprov DKI. Termasuk penyelesaian pengerukan dan normalisasi sungai pada musim hujan yang akan datang.
"Kami sangat yakin bahwa pada musim hujan berikutnya, semua kegiatan manajemen banjir, pengerukan kanal sudah dilakukan dan selesai. Itu yang sangat penting," tegasnya.



Bank Dunia Bertekuk Lutut di Kaki Jokowi-Ahok

Menyoal Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI), Bank Dunia akhirnya menyetujui persyaratan yang diajukan oleh Pemprov DKI Jakarta dan menyepakati jangka waktu pinjaman hanya dua tahun.
"Ya kita seneng saja. Akhirnya mereka (Bank Dunia) mengerti harus dua tahun. Jadi enggak ragu-ragu lagi. Soalnya dulu Bank Dunia tidak mengatakan iya atau tidak untuk waktu penyelesaian normalisasi 13 sungai," kata Ahok usai bertemu dengan perwakilan Bank Dunia di Balai Kota, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.
Ahok menceritakan, dulunya Bank Dunia lebih mengutamakan transparansi dalam anggaran. Kemudian, setelah sampai di lapangan, mereka terkendala dengan relokasi warga yang berada di bantaran sungai yang akan dikeruk.
"Saya bilang, kalau mau transparan, apa kami masih kurang transparan? Dia bilang di lapangan bisa hadapi kendala dalam memindahkan orang. Makanya kalau kamu tidak dua tahun, tetapi malah lima tahun, orang yang dapat kerohiman bisa pindah-pindah. Bisa lima kali dapat kerohiman mereka. Jadi kalau mau sekaligus dikeroyok saja," jelas Ahok.
Menurut Ahok, untuk mengerjakan pengerukan atau normalisasi sungai tersebut harus dikerjakan secara bersamaan. Baik dari BUMD atau BUMN.
"Soal BUMN dan BUMD tidak mau ikut tender, itu cerita lama. Kalau sekarang boleh ikut. Lalu proses prakualifikasinya diperpendek. Nah Bank Dunia sudah oke," tandasnya.