Senin, 27 Mei 2013

Interpelasi soal KJS, Jokowi: Bukan Masalah!

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), tidak mengkhawatirkan rencana interpelasi dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Ia juga tidak takut interpelasi ini akan berakibat pada pencopotan jabatan dirinya sebagai gubernur.
Sejauh ini sekitar 30 anggota DPRD DKI Jakarta setuju menggunakan hak interpelasi terhadap Jokowi. Alasannya, mantan Wali Kota Solo ini dinilai gagal menyelesaikan masalah sistem pembayaran Kartu Jakarta Sehat. "Biasa saja, orang diinterpelasi itu ditanya. (Baca: Kenapa DPRD Interpelasi Jokowi). Tidak masalah, wong kita bisa menjelaskan," kata Joko Widodo saat ditemui di Bandara Halim Perdana Kusuma, Senin, 27 Mei 2013.
Jokowi mengaku telah memeriksa secara langsung permasalahan atas 16 rumah sakit yang dikabarkan mengundurkan diri dari program KJS. Hasilnya, kata Jokowi, ternyata tidak ada rumah sakit yang akan mengundurkan diri dari program andalan tersebut. "Saya cek di rumah sakit hari Jumat tidak ada masalah apa-apa," kata dia.
Rumah sakit yang sempat dikabarkan mengundurkan diri dari program KJS adalah RS Thamrin, RS Admira, RS Bunda Suci, RS Mulya Sari, RS Satya Negara, RS Paru Firdaus, RS Islam Sukapura, RS Husada, RS Sumber Waras, RS Suka Mulya, RS Port Medical, RS Puri Mandiri Kedoya, RS Tri Dipa, RS JMC, RS Mediros, dan RS Restu Mulya. Dua rumah sakit, yaitu RS Thamrin dan RS Admira, bahkan telah resmi mengundurkan diri kala 14 lainnya membatalkan rencana. (Baca: 14 RS Swasta Jakarta Masih Layani KJS)
Akan tetapi, menurut Jokowi, dua rumah sakit tersebut juga telah bergabung kembali ke program KJS. "Akhirnya bergabung kembali. Santai Saja, nanti mengurus izin gantian," kata Jokowi.


Sumber :
tempo.co

Jokowi Siap Beri Penjelasan Soal KJS ke DPRD DKI

DPRD DKI Jakarta mengundang Gubernur Joko Widodo (Jokowi) untuk memberi penjelasan soal Kartu Jakarta Sehat (KJS). Jokowi menyatakan siap memberikan penjelasan mengenai jaminan kesehatan untuk warga Jakarta ini.
"Mungkin minta penjelasan, ya dijelasin. Mungkin ada yang belum tahu kita jelasin INA CBGs itu apa ya dijelasin. Mungkin ada yang belum tahu kenapa ada 16 RS itu ada keinginan (keluar dari KJS) meskipun tidak jadi," kata Jokowi di Balai Kota Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Senin (27/5/2013).
Namun saat ditanya mengenai undangan DPRD terkait penjelasan KJS yang dilayangkan Komisi E DPRD DKI, Jokowi mengaku belum menerimanya. "Tidak ada undangan ke saya, mungkun Pak Wagub saya tidak tahu," katanya.
Menurut informasi pertemuan antara Komisi E DPRD DKI dan Jokowi akan digelar pada pukul 10.30 WIB. Rapat ini juga akan dihadiri Dinas Kesehatan Pemprov DKI dan akan membicarakan terkait KJS.
Sistem pembayaran tagihan KJS dari Pemprov DKI Jakarta ke pihak rumah sakit saat ini menggunakan sistem pengelompokkan berdasarkan daftar grup penyakit dalam Indonesia Case Based Groups (INA CBGs).
Menurut Jokowi, yang seharusnya dibenahi itu adalah sistem biaya operasional yang diterapkan oleh rumah sakit. Bukan sistem pembayaran KJS-nya. Biaya tersebut harus sama di setiap rumah sakit.
"Begini loh, ada tarif sebuah penyakit misalnya cuci darah ada yang Rp 2 juta, di rumah sakit lain ada yang Rp 1 juta, rumah sakit lain ada yang Rp 600 ribu. Mana yang benar? Mustinya kan semuanya harus sama harganya. Kemudian tindakan medis misalnya sakit perut, ada yang diputusin dioperasi, ada yang dengan obat. Sistem itu yang diperbaiki. Bukan KJS-nya," kata Jokowi, Kamis (23/5) lalu.

Sumber :
detik.com

Jokowi: Saya Enggak Usah Dijelek-jelekin Saja Sudah Jelek

Nama Joko Widodo (Jokowi) begitu populer saat ini. Gubernur DKI Jakarta itu bila mencalonkan diri menjadi presiden, maka punya kans besar untuk menang.
Kans Jokowi terlihat dalam hasil beberapa lembaga survei. Setiap ada survei, nama Jokowi selalu teratas.
Paling anyar, hasil survei Center for Strategic and International Studies (CSIS). Survei itu menempatkan Jokowi di peringkat pertama sebagai tokoh calon presiden (capres) alternatif. Sejumlah nama tokoh capres yang disebutkan oleh 1.635 responden antara lain Jokowi (28,6 persen), Prabowo Subianto (15,6 persen), Aburizal Bakrie (7 persen), Megawati (5,4 persen) dan Jusuf Kalla (3,7 persen).
Popularitas dan elektabilitas tinggi tentu riskan untuk digoyang. Apalagi menjelang Pemilu 2014, mungkinkah banyak yang akan menjegal Jokowi?
"Saya enggak tahu ya, dijegal untuk apa ya?" tanya Jokowi di Balai Kota Jakarta, Senin (27/5).
Jokowi pun hanya menanggapi santai saat ditanya ada beberapa pihak yang mulai menjelek-jelekkan namanya agar elektabilitas turun. Apa jawaban Jokowi?
"Enggak usah dijelek-jelekin saja sudah jelek," ujar Jokowi sambil tertawa.


Sumber :
merdeka.com

Heboh Interpelasi, Jokowi Belum Dapat Undangan dari DPRD

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku belum mendapatkan undangan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta terkait hak interpelasi atau hak untuk bertanya program KJS (Kartu Jakarta Sehat).
"Ndak, ndak ada undangan," ujarnya di Gedung Balaikota, Jakarta, Senin (27/5/2013) pagi.
DPRD DKI berencana menggelar rapat dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mengundang Gubernur DKI atau Wakil Gubernur DKI untuk menanyakan permasalahan program KJS. Rapat dijadwalkan mulai pukul 10.00 WIB di ruang rapat DPRD, Jalan Kebon Sirih, Jakarta.
Meski belum mendapat undangan resmi, mantan Wali Kota Surakarta itu mengakui, pihaknya perlu memberikan penjelasan program KJS kepada DPRD. Terutama, sistem pembayaran INA -CBG's (Indonesia Case Base Group) melalui PT Askes, yang dipermasalahkan oleh DPRD.
"Yang belum tahu INA-CBG's apa, ya dijelaskan. Ada yang belum tahu tentang kenapa 16 rumah sakit kemarin ada keinginan mundur dari KJS. Meskipun enggak jadi, kita jelasin juga," ujarnya.
Jokowi mengatakan, tidak masalah dengan wacana interpelasi yang digulirkan oleh DPRD. Ia berjanji akan menjelaskan secara transparan.
Sebelumnya, wacana pengajuan hak interpelasi muncul dalam rapat dengar pendapat antara DPRD DKI Jakarta dengan Dinas Kesehatan dan instansi terkait, Kamis (23/5/2013). Rapat tersebut membahas masalah dalam pelaksanaan KJS. Hal yang akan ditanyakan adalah soal 16 rumah sakit swasta yang keberatan melaksanakan KJS karena sistem pembayarannya.
Dalam rapat tersebut, anggota Komisi E DPRD DKI Ashraf Ali mengklaim, ada 30 anggota DPRD DKI Jakarta yang menandatangani rencana penggunaan hak interpelasi untuk meminta penjelasan kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo terkait masalah tersebut. 

Sumber :
kompas.com

Bambang Widjajanto-Jokowi Rapat Soal Pencegahan Korupsi di Balaikota

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjajanto menemui Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Balaikota DKI hari ini. Kehadiran Bambang dalam rangka rapat 'Kick Off Koordinasi dan Supervisi Pencegahan Pemerintah Provinsi tahun 2013'.
Bambang tiba di ruang Balai Agung, gedung Balaikota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, sekitar pukul 09.30 WIB, Senin (27/5/2013). Bambang yang tampak mengenakan kemeja warna putih, masuk ke ruang Balai Agung bersama Jokowi yang tampak mengenakan setelan jas warna hitam. Di dalam ruangan sudah menunggu Wakil Gubernur DKI, Ahok.
Dalam sambutannya, Jokowi pun menjelaskan tentang upaya transparanasi dari Pemprov DKI sebagai upaya pencegahan terjadinya tindak pidana korupsi. Di antaranya mengenai pemasangan poster APBD hingga di kecamatan dan kelurahan, sistem e-ticketing TransJakarta, pajak online, serta seleksi dan promosi jabatan secara terbuka (lelang jabatan).
"Mungkin banyak yang belum tahu bahwa kita saat ini sudah memasang poster APBD, komplit mulai dari kelurahan, kecamatan sampai provinsi. Artinya, pengawasan dari APBD ini juga dilakukan oleh masyarakaat," terang Jokowi.
"Pajak online dan seleksi dan promosi jabatan secara terbuka, ini sebagai bentuk pencegahan, sebagai transparansi dari Pemprov DKI," tambahnya.

Sumber :
detik.com

Komentar Jokowi untuk Rumah Sakit yang Hengkang dari KJS

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi mengkritik pihak rumah sakit yang ingin mundur dari program Kartu Jakarta Sehat (KJS). Seharusnya, kata Jokowi, mereka melakukan pembicaraan dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terlebih dulu.
"Dikomunikasikan lah, dibicarakan. Ini enggak ada (komunikasi). Tahu-tahu ngabarin mundur. Saya ditelepon mau kok. Enggak usah dia yang datang, saya yang datang," kata Jokowi di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (27/5/2013).
Jokowi mengaku santai jika memang benar mereka memilih keluar dari program KJS. Ia mempersilakan untuk keluar. Hanya saja, kata dia, hasil pengecekannya, seluruh rumah sakit yang awalnya ingin keluar KJS telah berubah sikap.
"Santai aja, nanti (mereka) urus-urus izin gantian. Haa, haa, begitu, enggak usah pikir terlalu rumit," kata Jokowi.
Ketika ditanya apa maksud pernyataan gantian tersebut, Jokowi menjawab, kesehatan merupakan hak rakyat. Namun, kata dia, hak tersebut malah diganggu.
"Kan ganggu-ganggu itu namanya. Mbok ngomong lah dengan kita. Diajak bicara tiap menit saja kita siap 24 jam, kita buka kok. Itu kan namanya tidak punya rasa sosial kemanusiaan. Wong dalam perang saja musuh sakit harus disembuhkan kok. Ini rakyat sendiri ditinggal. Yang benar saja," kata Jokowi.
Ketika disinggung rencana pengajuan hak interpelasi dari DPRD DKI Jakarta terkait KJS, Jokowi juga menanggapi santai. "Biasa saja. Paling ditanya kok, ya nanti dijelaskan. Malah senang kita bisa menjelaskan," pungkasnya.


Sumber :
kompas.com

Jokowi: Mungkin DPRD Belum Faham INA CBGs

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) akan menjelaskan persoalan Kartu Jakarta Sehat (KJS) kepada DPRD DKI Jakarta. Penjelasan dilakukan agar para anggota DPRD itu paham terkait program KJS.
"Mungkin ada yang belum tahu misalnya INA CBGs itu apa, ya dijelasin. Mungkin ada yang belum tahu tentang kenapa 16 rumah sakit itu kemarin ada keinginan, meskipun enggak jadi," kata Jokowi di Balai Kota Jakarta, Senin (27/5/2013).
Tapi, sejauh ini Jokowi mengaku belum ada undangan dari DPRD. Jika ia diundang untuk memberikan penjelasan terkait KJS, maka akan datang.
"Enggak ada undangan saya. Mungkin Pak Wagub (Ahok). Saya enggak tahu," ujarnya.
Jokowi mengaku, interpelasi yang digalang para anggota DPRD itu merupakan hal biasa. Karena itu ia tidak menganggap pusing.
"Ya dijelasin kalau bertanya ya dijelasin. Itu haknya dewan. Itu hal yang sangat teknis, perlu dijelas-jelasin," katanya.
Interpelasi para anggota DPRD ini awalnya digulirkan karena tidak puas dengan penyelesaian KJS. Kisruh KJS berawal dari beberapa rumah sakit swasta mundur dari KJS.


Sumber :
merdeka.com

Jokowi Tak Punya Niat Baik

Rencana pengajuan hak interpelasi sejumlah anggota DPRD DKI diprediksi akan menimbulkan reaksi keras warga Jakarta. Anggota Komisi E DPRD DKI dari fraksi Demokrat, Achmad Nawawi menilai hal ini tak akan terjadi jika Gubernur DKI, Joko Widodo (Jokowi) bersedia menjalin hubungan intens dengan anggota dewan.
"Saya inginnya juga kondusif saja kok, mestinya kan begitu. Selama ini Jokowi tidak ada niatan baik untuk menjalani komunikasi yang baik dan intens dengan anggota dewan," ujar Nawawi, Senin (27/5/2013).
Nawawi menilai mantan wali kota Solo ini ngotot menjalankan KJS dan KJP. Sedangkan masih menurutnya Nawawi, kedua program unggulan ini masih belum siap.
"KJS itu dipaksakan, rumah sakit belum siap. Lalu KJP,
bagaimana mengawasi uang itu, kalau dipakai anak untuk beli pulsa bagaimana? tapi ini langsung dilounching saja," kata Nawawi.
"Dia kan bukan hanya gubernur untuk pendukungnya, tapi gubernur kita. Dia kan dari dua partai kecil, mestinya dia duduk dan membangun komunikasi dengan anggota dewan," lanjutnya.
Menanggapi kemungkinan adanya reaksi keras dari warga, Nawawi menyatakan bahwa interpelasi masih akan dirapatkan lagi.
"Ini bukan masalah takut atau tidak takut. Pagi ini akan dirapatkan dulu, apakan memenuhi syarat jumlahnya, berarti nanti ada kesepakatan," tutur politisi Demokrat yang sudah menandatangani pengajuan hak interpelasi ini.


Sumber :
detik.com

Nasib Interpelasi Jokowi Ditentukan Hari Ini

Hari ini, Senin (27/5/2013) pimpinan DPRD DKI Jakarta merespon usulan interpelasi terhadap gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengenai program Kartu Jakarta Sehat.
Pimpinan dewan akan menentukan apakah usulan tersebut diterima atau tidak. Pimpinan juga akan membicarakan langkah-langkah berikutnya apabila usulan tersebut diterima.
"Mekanismenya, usulan itu dibicarakan dahulu di tingkat pimpinan dewan. Lalu pimpinan yang memutuskan apakah usulan itu diterima atau tidak. Jika tidak bagaimana, jika diterima bagaimana," kata Sekretaris DPRD DKI Jakarta Mangara Pardede, Senin (27/5?2013).
Mangara mengatakan, belum ada keputusan mengenai sidang paripurna terkait interpelasi tersebut. "Rapat pimpinan lah yang menentukan langkah berikutnya apabila usulan itu diterima," kata dia.
Menurut Mangara, interpelasi ini diusulkan 32 anggota DPRD DKI dari lima fraksi akhir pekan lalu.
Pengusul interpelasi mempersoalkan program KJS yang dinilai masih ada sejumlah masalah yang belum terjawab.
Selain mengenai tarif, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dinilai kurang membuka komunikasi yang baik dengan dewan.
"Interpelasi itu hak dewan. Jumlah yang mengusulkan sudah melebihi syarat. Kami ingin agar progam ini jelas tidak merugikan rakyat. Pada dasarnya kami akan selalu mendukung program untuk rakyat. Tetapi jika ada masalah, kami berhak mempertanyakan ke Pemprov DKI," kata Taufiqurrahman, salah satu pengusul interpelasi dari Fraksi Partai Demokrat.
Selain Fraksi Partai Demokrat, pengusul interpelasi berasal dari Fraksi Golkar, Fraksi Hanura Damai Sejahtera, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, dan Fraksi PAN-PKB.


Sumber :
kompas.com

Interpelasi Jokowi, Kempes Sebelum Melembung!

Rencana pengajuan hak interpelasi atau hak bertanya 32 anggota DPRD kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ( Jokowi ) tentang Kartu Jakarta Sehat (KJS) sudah masuk ke meja pimpinan dewan.
Sejumlah rumah sakit swasta memilih mundur sebagai penyedia layanan Kartu Jakarta Sehat (KJS). Kejadian ini dimanfaatkan oleh anggota DPRD DKI untuk hak interpelasi atau hak bertanya kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.
Anggota Komisi E bidang Kesehatan DPRD DKI Jakarta Asraf Ali getol menggalang hak interpelasi. Sebabnya, Jokowi dinilai tak bisa menjelaskan persoalan yang terkandung dalam program Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang menyebabkan beberapa rumah sakit memilih mengundurkan diri.
"Saya berpikir, persoalan ini (KJS) tidak akan selesai di tingkat komisi. Maka hak ini akan terus bergulir dan bisa berujung ke paripurna," ujar Asraf kepada merdeka.com, Kamis (23/5/2013).
Asraf menilai, program KJS yang dijalankan Jokowi tidak mengandung kejelasan karena konsep yang dipakai belum matang. Sehingga, atas hal itu, dia merasa perlu meminta pertanggungjawaban kepada Jokowi secara resmi dalam forum mengingat masalah KJS tidak dapat selesai di tingkat komisi.
"Nanti gubernur akan banyak ditanya dalam forum. Gubernur harus menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan," jelasnya.
Namun belakangan, Asraf Ali justru menyangkal pemberitaan yang menyebut dia berinisiatif mengajukan hak interpelasi. Dia bahkan mengaku tidak tahu sumber penggalangan itu dari siapa.
"Sementara pengumpulan tanda tangan. Tapi saya gak tau sumbernya. Saya sendiri tidak tanda tangan," ujar Asraf saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (25/5/2013).
Ketua Fraksi Golkar ini menyebutkan, tidak ada satupun anggotanya yang turut menandatangani hak interpelasi itu. "Fraksi Golkar tidak setuju karena tidak terlibat," kata dia.
Selanjutnya, Asraf justru menjelaskan, jika DPRD tetap kukuh menggunakan hak itu, maka hal itu tidak akan bermanfaat. Pasalnya, persoalan KJS sudah selesai di tingkat komisi.
"Tidak ada lagi gunanya. Karena sudah selesai di tingkat komisi," pungkas Asraf.
Pengamat Politik Boni Hargens menilai pengajuan hak interpelasi beraroma politis. Boni menilai langkah itu dilakukan sebagai upaya untuk menjatuhkan Jokowi yang terus moncor sebagai capres terpopuler versi berbagai lembaga survei.
"Pastinya kelompok yang tidak mengharapkan Jokowi jadi capres terkuat di 2014. Jujur saja tanpa kampanye bisa menang melawan figur-figur yang lain," katanya.
Boni melihat Jokowi memiliki karakter yang di luar maenstrem atau di luar kebiasaan.
"Dia bukan politisi yang dibentuk oleh media, dan dibentuk parpol. Tapi dia politisi yang punya karakter. Karakter dia yang dikapitalisasi oleh segala macam strategi branding media," tuturnya.
Meski lawan politik coba menghantam dengan berbagai isu, menurut Boni, sosok Jokowi tidaklah mudah untuk dihancurkan citranya. Terlebih, selama ini sudah melekat di masyarakat jika Jokowi adalah pribadi yang dekat dengan wong cilik.
"Politisi yang terlahir sebagai politisi, sehingga kebesaran Jokowi sangat sulit untuk digerus oleh upaya-upaya politik dari kelompok lain. Di sinilah Jokowi jadi ancaman bagi banyak kelompok," katanya.


Sumber :
merdeka.com

Jokowi Dinilai Sukses Mendongkrak Suara Ganjar-Heru

Pasangan Ganjar Pranowo-Heru sudjatmoko menang telak di Pilgub Jateng 2013. Pengamat politik dari UGM, Arie Sujito menilai turunnya Jokowi saat kampanye berperan signifikan atas kemenangan ini.
"(Kedatangan Jokowi) sangat ngefek untuk Ganjar. Ini karena Jokowi orang Jateng, rasa kedekatannya lebih dapat dirasakan oleh pemilih. Kekuatan figur Jokowi ini menambal beberapa kekurangan (Ganjar)," ujar Arie saat berbincang dengan detikcom, Minggu (26/5/2013).
Hal ini juga menjelaskan mengapa kehadiran Jokowi di pilgub-pilgub lainnya tak membantu memenangkan pasangan cagub dari PDIP. "Ya kalau di Jateng memang rumahnya Jokowi, jadi efeknya signifikan. Ini menunjukkan PDIP memang perkasa dan luar biasa di Jateng," lanjutnya.
Terkait dengan spekulasi awal yang banyak menyebutkan nama Rustriningsih lebih cocok maju menjadi cagub dari PDIP ketimbang Ganjar, Arie menilai kemenangan ini sebagai pembuktian partai berlambang banteng ini.
"Spekulasi itu jadi tantangan bagi PDIP, ini yang membuat mereka makin bekerja keras," kata Arie.
Sedangkan melihat kekalahan telak pasangan incumbent yakni Bibit Waluyo-Sudijono Sastroaymodjo di beberapa quick count, dinilai sebagai keberhasilan lawan politik mengolah sikap-sikap politik Bibit yang kontroversial.
"Incumbent kalah hampir 15 persen. Biasanya kalau nggak bermasalah-bermasalah banget ya menang lagi atau kalah tipis.mSikap-sikap politik yang kontrovesial yang diolah sehingga dihabiskan lawan politiknya," imbuhnya.


Sumber :
detik.com

Hak Interpelasi DPRD Kepada Jokowi Akan Dapat Reaksi Keras dari Warga

Rencana sejumlah anggota DPRD mengajukan hak interpelasi terhadap program KJS Jokowi dinilai tak tepat. Politisi PDIP yang duduk di Komisi E DPRD DKI Dwi Rio melihat langkah ini akan mendapat reaksi keras dari masyarakat.
"(Interpelasi) Akan mendapatkan reaksi balik masyarakat yang kritis bahkan amat keras sebab dianggap mengabaikan kepentingan masyarakat banyak. Apalagi jika ditengarai hal ini bernuansa politis," ujar Rio saat berbincang dengan detikcom, Minggu (26/5/2013).
Rio mengatakan bahwa berdasarkan survei IndoPolink, kepuasan masyarakat terhadap KJS adalah sebesar 85 persen.
"Artinya program KJS adalah program pro rakyat yang sangat dibutuhkan oleh rakyat," tegasnya.
Rio menjelaskan bahwa berdasarkan info yang beredar, aksi ini diambil oleh politisi-politisi Kebon Sirih karena mundurnya 16 rumah sakit dari program KJS. Sedangkan pada Kamis (23/5) 16 RS tersebut menyatakan siap melayani KJS.
"14 RS membantah pengunduran diri dari KJS karena belum pernah mengirimkan surat, sedangkan 2 RS menyatakan bersedia kembali melayani KJS," lanjutnya.

Sumber :
detik.com

Tertinggi di Quick Count, Ganjar Pranowo: Pak Jokowi Belum SMS

Dari hasil perhitungan cepat sejumlah lembaga dan KPU Jawa Tengah, Cagub Cawagub Jateng Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko berada di posisi tertinggi. Sejumlah ucapan selamat pun membanjiri Ganjar, bahkan ponselnya dipenuhi oleh ribuan SMS.
Ganjar mengatakan, setidaknya ada 1.300 lebih SMS yang masuk di ponselnya. Ia pun sempat menghubungi Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri setelah mendengar hasil quick count.
"Yang saya telepon pertama ibu ketua umum. Beliau berpesan untuk menjalankan amanat dengan sebaiknya," kata Ganjar saat tiba di kantor DPD PDIP Jateng, Jl Brigjend Sudiarto, Semarang, Minggu (26/5/2013) malam.
"Kalau dari pak Jokowi, tadi saya cek SMS belum. Tadi juga banyak nomor yang belum tersimpan di ponsel saya," imbuhnya.
Selain itu ia juga sempat menghubungi Cagub nomor urut 2, Bibit Waluyo setelah mendengar ucapan selamat yang dilontarkan incumbent Gubernur Jawa Tengah itu.
"Saya tadi dengar dari media, terus saya langsung berusaha telepon. Mungkin lagi sama-sama sibuk tadi, jadi belum bisa," tandasnya.
Saat tiba di kantor DPD PDIP Jateng, ada yang terlihat berbeda dari Ganjar. Biasanya, pri berambut putih itu mengenakan kemeja putih. Namun kali ini ia memakai baju merah polos.
"Ada yang beda dari saya? Kali ini saya pakai merah, karena Jateng kandang Banteng," tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, hasil quick count KPU Jateng dari 67,24% data yang sudah masuk, pasangan Hadi Prabowo-Don Murdono mendapatkan perolehan suara 21,16%, pasangan Bibit Waluyo-Sudijono Sastroaymodjo 30,59%, sedangkan Ganjar Pranowo-Heru sudjatmoko 48,25%


Sumber :
detik.com

Minggu, 26 Mei 2013

Survei CSIS: Jokowi capres terkuat, ungguli Prabowo dan Ical

Hasil survei Center for Strategic and International Studies (CSIS) menempatkan Gubernur DKI Jakarta Joko "Jokowi" Widodo di peringkat pertama sebagai tokoh calon presiden (capres) alternatif.
"Pada dasarnya (hasil) ini bukan soal 'fenomena Jokowi' semata, melainkan bahwa masyarakat Indonesia benar-benar mengharapkan calon pemimpin alternatif, yaitu Jokowi atau calon alternatif lain," kata peneliti CSIS Philip Jurius Vermonte di Jakarta, Minggu.
Sejumlah nama tokoh capres yang disebutkan oleh 1.635 responden antara lain Jokowi (28,6 persen), Prabowo Subianto (15,6 persen), Aburizal Bakrie (7 persen), Megawati (5,4 persen) dan Jusuf Kalla (3,7 persen).
Sementara itu, pengamat politik sekaligus peneliti senior CSIS J Kristiadi mengatakan kemunculan Jokowi bertepatan dengan momentum pencarian tokoh capres alternatif, terlepas dari opini bahwa mantan wali kota Solo itu baru menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Lebih dari separuh responden (53,9 persen) menyatakan setuju jika Jokowi maju sebagai kandidat capres meskipun masih menjabat sebagai Gubernur.
"Kesulitan Jokowi untuk mendapatkan dukungan partai masih dipersoalkan, tetapi kalau tingkat elektabilitasnya mencapai 50 persen pasti dia akan diperebutkan oleh partai-partai," kata Kristiadi.
Namun demikian, Kristiadi berharap nama-nama tokoh alternatif lain juga dapat muncul sebagai capres, sehingga Jokowi tidak selalu disandingkan dengan tokoh-tokoh lama seperti dalam hasil survei itu.
"Salah satu hal yang bisa menjadikan Pemilu 2014 menjadi titik terang dan memberikan harapan adalah dengan mengeksploitasi nama-nama selain yang sudah pernah muncul," katanya.
Oleh karena itu, politik pemberitaan mengenai tokoh capres alternatif menjadi penting karena masyarakat dapat diberikan beberapa pilihan baru sebagai capres.
Hasil survei yang dilakukan 9-16 April itu menunjukkan nama Jokowi menjadi tokoh alternatif yang langsung muncul di benak para responden (top of mind) tanpa disodori daftar pilihan nama tokoh.
Temuan tersebut diperoleh dari wawancara terhadap responden di 31 provinsi di Tanah Air, yang dilakukan secara acak bertingkat, mulai dari tingkat kelurahan, RT hingga kepala keluarga.


Sumber :
merdeka.com

LSI Denny JA: Jokowi Capres Potensial Jika Sukses Bangun Jakarta

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA melihat Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) termasuk salah satu capres paling potensial. Namun Jokowi harus terlebih dahulu sukses membangun Jakarta.
"Jokowi dilihat potensial dibanding tokoh lain. Dia lebih potensial tapi harus diingat ada PR yang harus dikerjakan Pak Jokowi dengan membangun Jakarta," kata kata peneliti LSI, Ardian Sopa, usai paparan hasil survei di Kantor LSI Denny JA di Graha Dua Rajawali Jl. Pemuda No. 70, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (26/5/2013).
Karena itu saat ini sebaiknya Jokowi fokus mengurus Jakarta. Masih ada waktu sebelum masing-masing parpol mengusung capres dan cawapresnya.
"Kalau Pak Jokowi bisa mempertahankan posisi dia sebagai tokoh antitesis dari tokoh yang ada, berarti peluang dia makin besar untuk 2014," katanya.
Karenanya jawaban Jokowi yang selalu menegaskan fokus mengurus Jakarta saat ditanya wacana capres dinilai cukup bagus. "Itu bagus, dia nggak ngomong nyapres kan karena dia mau ngurus Jakarta dulu. Itu strategi yang cocok, mendingan Jokowi fokus dulu dengan Jakarta sampai dengan waktu untuk menentukan capres dan cawapres," katanya.
Selain Jokowi, LSI Denny JA melihat sosok Gita Wirjawan dan Mahfud MD sebagai capres potensial. Mahfud dianggap sebagai sosok yang bersih dari korupsi, juga sebagai mantan ketua MK yang tegas.
"Gita mewakili representasi sebagai pimpinan ada. Dari segi tampilan. Secara pembawaan dia seperti Pak SBY dan itu yang dilihat masyarakat. Santun, pintar, yang dilihat sama perempuan, ganteng, bagus, cerdas. Dia juga ada pengalaman di kementerian saat ini," tandasnya.
Lalu bagaimana peluang menteri BUMN Dahlan Iskan? "Fisik dia kan tidak terlalu kuat, dia katanya sering sakit. Apakah dia mampu pada saat menjadi presiden dengan kondisi fisik yang seperti itu. Kalau dia merasa sehat, ya monggo," tandasnya.


Sumber :
detik.com

Usulan Interpelasi Dianggap Upaya Jegal Pencapresan Jokowi

Sebanyak 32 anggota DPRD DKI dari 5 fraksi mengajukan hak interpelasi terkait Program Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang digagas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Upaya politisi Kebon Sirih dinilai sebagai manuver menjegal pencapresan Jokowi di 2014.
"Sebetulnya interpelasi DPRD kepada Jokowi menurut saya ide yang terlalu kerdil dan ini mengada ada. Sebetulnya konteknya harus kita paham bahwa hari ini jika bicara 2014 Jokowi itu tidak ada tandingannya," kata pengamat politik Boni Hargens di Galeri Kafe Jalan Cikini Raya, Jakpus, Minggu (26/5/2013).
Menurutnya, bahkan kalau hari ini Prabowo masih nomor satu dalam segala survei kuantitatif, Jokowi bisa melibas Prabowo kalau saja Jokowi punya kendaraan politik.
"Nah, konteks ini yang membuat banyak elit dan kelompok politik yang merasa terganggu dengan adanya Jokowi, sehingga ide interpelasi DPRD saya pikir lebih kental persoalan politisnya dari pada persolan pemerintahan. Jadi ini ada upaya kelompok yang bermain di balik layar," paparnya.
Karenanya menurut Boni, tak mungkin anggota DPRD berhasil mengganjal popularitas Jokowi dengan mengajukan hak interpelasi, apalagi masalahnya sudah hampir clear soal KJS.
"Nggak mungking upaya menggerus popularitas jokowi. Ini pastinya kelompok yang tidak mengharapakan Jokowi jadi capres terkuat di 2014," ungkapnya.
Ia menilai, Jokowi betul betul karakter yang di luar maenstrem atau di luar kebiasaan atau unik, dia bukan politik yang dibentuk oleh media tapi dia politisi yang punya karakter.
"Sehingga dia tidak bisa dihajar olah momentum oleh isu-isu politik yang bisa menggerus dia. Artinya Jokowi bukan politisi yang dibentuk oleh media massa dan bukan politisi yang dibentuk oleh parpol," ucap Boni.
"Tapi politisi yang terlahir sebagai politisi sehingga kebesaran Jokowi sangat sulit untuk digerus oleh upaya upaya politik dari kelompok lain. Di sinilah Jokowi jadi ancaman bagi banyak kelompok," imbuhnya.


Sumber :
detik.com

Gerindra: Interpelasi Jokowi, Politisi Kebon Sirih Genit!

Program Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang dijalankan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo akan diinterpelasi anggota DPRD DKI menyusul mundurnya 16 rumah sakit dari program tersebut. Langkah sejumlah politisi Kebon Sirih tersebut dinilai sebagai kegenitan politik di ujung masa jabatan.
"Ada-ada saja. Ini hanya kegenitan politik Kebon Sirih mengingat sudah mau habis masa jabatan. Jadi bermanuver sedikit lah," ujar Ketua Fraksi Gerindra DKI Jakarta M Sanusi saat berbincang dengan detikcom, Minggu (26/5/2013).
Sanusi mengatakan memang menjadi hak yang melekat pada dewan untuk menggunakan interpelasi terhadap Gubernur, dengan persyaratan sesuai undang-undang adalah 15 anggota pengusul dan lebih dari 1 fraksi. Usulan itu lalu dibawa ke Rapim dan rapat paripurna. Jika dirapat paripurna usulan ini disetujui, maka rapat paripurna dengan agenda interpelasi dapat dilakukan.
Namun Sanusi menegaskan persoalan KJS saat ini sangat tidak substantif untuk dilakukannya interpelasi. Karena masyarakat secara umum sangat menikmati pelayanan KJS.
"Yang bermasalah ini kan soal beberapa rumah sakit saja. Itu lebih spesifik administrasi pembayaran. Kecuali jika terjadi ketidakpuasan secara massif dari masyarakat, interpelasi bisa digunakan. Jadi ini lucu, nggak bermanfaat," kata bendahara Partai Gerindra DKI Jakarta ini.
32 Nama anggota DPRD DKI yang mengajukan hak interpelasi berasal dari 5 fraksi. Pengajuan itu sudah masuk ke pimpinan dewan dan akan dibahas dalam rapat pimpinan pada Senin (27/5/2013)


Sumber :
detik.com

Masuk Dalam DPT, Jokowi Tak Nyoblos di Pilgub Jateng

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), sering tampil sebagai jurkam bagi pasangan Ganjar Pranowo - Heru Sudjatmoko untuk pilgub Jateng. Nama Jokowi dan keluarganya juga tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT) Pilgub Jateng di TPS dekat rumahnya di Solo. Namun pihak keluarga memastikan Jokowi tidak pulang ke Solo untuk mencoblos.
Nama Jokowi dan keluarganya tercatat dalam DPT di TPS 22, Kelurahan Manahan, Banjarsari, Solo, Minggu (26/5). Nama Jokowi berada di urutan ke 128. Selain namanya juga tertulis nama istrinya, Iriana, dan ketiga anaknya juga tercatat sebagai pemilih.
Namun ibunda Jokowi, Sujiatmi Notomiatdjo, ketika ditemui usai mencoblos di TPS yang sama memberikan informasi bahwa anaknya yang sekarang menjadi gubernur DKI Jakarta itu hari ini tidak pulang ke kampung halamannya di Solo. Dengan demikian dipastikan Jokowi tidak menggunakan hak pilihnya.
"Dia (Jokowi) di sana (di Jakarta -red). Nggak pulang ke Solo, nggak nyoblos," ujar Sujiatmi kepada wartawan, Minggu (26/5/2013), tanpa memberikan penjelasan lebh lanjut.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Kahiyang Ayu, salah satu anak Jokowi. "Bapak hari ini tidak pulang. Beliau kan di Jakarta," ujarnya saat dicegat wartawan usai menggunakan hak pilihnya.


Sumber :
Metro TV

Interpelasi Muncul karena Jokowi Dianggap Mengancam?

Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens menilai rencana interpelasi yang digulirkan oleh DPRD DKI untuk Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo merupakan hal yang terlalu mengada-ada. Boni menuding, ada pihak yang sengaja menggulirkan rencana interpelasi untuk menggerus kepopuleran mantan Wali Kota Surakarta tersebut.
"Harus dipahami, ide (interpelasi) ini kurang ajar, ide yang terlalu kerdil dan mengada-ada," kata Boni, di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (26/5/2013).
Boni menjelaskan, alasan menggerus kepopuleran Jokowi sangat mungkin dilakukan pihak tertentu yang merasa terancam secara politik. Pasalnya, merujuk dari berbagai hasil survei, Jokowi dianggapnya sosok calon presiden yang paling potensial di Pemilihan Presiden 2014.
Bahkan lebih jauh, Jokowi, menurut Boni, akan memenangi Pilpres 2014 tanpa perlu kampanye apabila yang bersangkutan bersedia mencalonkan diri. Saat ini popularitas Jokowi dianggap berada di atas semua sosok calon presiden.
"Konteks ini yang menurut banyak elite politik merasa terganggu dengan Jokowi. Ide interpelasi DPRD lebih kental politisnya. Ini ada kelompok yang bermain di balik layar dan menginginkan Jokowi tak maju (sebagai capres) di 2014," ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, anggota DPRD DKI Jakarta mengancam akan menggunakan hak interpelasinya. Hak interpelasi digunakan sebagai hak tanya legislatif kepada eksekutif. Namun kemudian, sejumlah Anggota DPRD mengartikan interpelasi sebagai langkah untuk mencopot Jokowi sebagai pemmimpin Jakarta.
Sedikitnya 30 Anggota DPRD telah membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk pernyataan sikapnya menggunakan hak interpelasi. Pemerintah Provinsi DKI dinilai terlalu terburu-buru dalam memberlakukan KJS yang sistemnya belum matang. Apalagi, sebenarnya peluncuran KJS tidak tertulis dalam anggaran tahun 2012 saat KJS diluncurkan.


Sumber :
kompas.com

Meski Dikritik, Partai Demokrat DKI akan Tetap Interpelasi Jokowi

Rencana politisi Kebon Sirih melakukan interpelasi terhadap Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo terus berlanjut meski menuai kritik. Politikus Partai Demokrat Taufiqurahman menyatakan kritik itu tidak akan menyurutkan langkah interpelasi.
"Ini sudah masuk ke pimpinan dewan. Tidak mungkin mundur lagi," ujar Taufiq saat dihubungi detikcom, Minggu (26/5/2013).
Taufiq mengatakan sebanyak 32 anggota dewan dari 5 fraksi menandatangani persetujuan penggunaan hak interpelasi. Namun penggunaan hak ini bukan atas nama fraksi, melainkan individu anggota bersangkutan.
Taufiq membantah jika upaya interpelasi ini untuk memakzulkan Gubernur Jokowi. Menurutnya, hak ini tidak akan digunakan jika tidak muncul kekisruhan KJS.
"Kita ini kan wakil rakyat. Terlalu jauh jika interpelasi dimaknai untuk memakzulkan. Dewan hanya menggunakan haknya karena ada persoalan di masyarakat. Harus dibaca dengan clear persoalan ini," jelas anggota FPD ini.
Apalagi menurut dia, Partai Demokrat adalah partai pendukung pemerintah. Karena itu menurutnya, sangat tidak mungkin PD berupaya untuk memakzulkan Jokowi.
"Jadi kewajiban kami, Partai Demokrat untuk mendukung Pemprov DKI dan gubernur Jokowi. Nggak mungkin pemakzulan," tuturnya.
"Usulan interpelasi ini sudah masuk ke pimpinan dewan, akan dibahas besok," pungkas Taufiq.


Sumber :
detik.com

FPG DPRD DKI: Soal KJS Diputuskan Senin, untuk Apa Interpelasi Jokowi?

Sejumlah anggota DPRD DKI menggalang tanda tangan untuk menggunakan hak interpelasi terkait kisruh Kartu Jakarta Sehat (KJS). Fraksi Partai Golkar menyatakan tidak perlu melakukan interpelasi, karena minggu depan sudah ada kepastian soal biaya klaim KJS.
"Senin sudah ada finalisasi, untuk apa lagi interpelasi. Iya kan?" ujar Ketua FPG DPRD DKI, Asyraf Ali, saat berbincang dengan detikcom, Minggu (26/5/2013).
Asyraf mengatakan Pemprov DKI Jakarta dan pihak rumah sakit daerah dan swasta akan kembali melakukan pertemuan di rapat komisi pada Senin (27/5) pekan depan setelah gagal mencapai kesepakatan pada rapat Kamis (23/5) lalu. Menurutnya, jika sudah akan selesai dalam rapat komisi nanti, maka interpelasi tidak diperlukan.
Asyraf juga mengatakan yang menjadi masalah sebenarnya bukan sistem KJS secara keseluruhan. Untuk program KJS ini, Asyraf menyatakan fraksinya mendukung penuh.
"Yang dipermasalahkan oleh pihak rumah sakit kan hanya sistem penarikan atau klaim biaya KJS. Itu saja. Ini yang tidak ketemu dengan Pemprov waktu rapat Kamis kemarin," kata dia.
Asyraf membantah jika penggunaan hak interpelasi kepada Gubernur merupakan strategi untuk pemakzulan. Hak interpelasi, sebagaimana hak angket dan lainnya adalah hak bertanya anggota dewan terhadap Gubernur jika ada permasalahan yang tidak selesai dibahas di komisi dan memerlukan penjelasan dari Gubernur langsung.
"Terlalu jauh kalau ini ditarik ke pemakzulan. Ini anggota dewan hanya ingin menggunakan haknya," kata dia.
Anggota Komisi E DPRD DKI ini juga mengungkapkan jika sudah 32 anggota DPRD DKI dari lima fraksi yang membubuhkan tanda tangan penggunaan hak interpelasi. Proses tersebut menurutnya masih berlangsung.
"Fraksi Golkar tidak berkenan dengan interpelasi. Yang lain saya tidak tahu, silakan saja," pungkasnya.


Sumber :
detik.com

Berani Ganggu Jokowi, Forum Komunikasi Jakarta Baru Ancam Duduki DPRD

Ketua Forum Komunikasi Jakarta Baru Irwan Setiadi menegaskan, jika mayoritas anggota DPRD DKI ngotot melakukan hak interpelasi untuk menjatuhkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), maka warga akan menduduki kantor DPRD sebagai simbol perlawanan terhadap wakil rakyat.
"Jika hak interpelasi tetap dilakukan, rakyat akan menduduki DPRD. Dalam waktu dekat, mungkin minggu-minggu ini, sebelum awal bulan. Sepuluh ribu orang akan kita turunkan," kata Irwan di sela-sela aksi unjuk rasa di Bundaran HI pada Minggu (26/5/2013).
Irwan menyatakan, anggota DPRD yang telah melakukan pengancaman terhadap Jokowi hendaknya segera meminta maaf. Karena jika tidak, hal itu akan makin memperburuk citra para wakil rakyat di mata masyarakat.
"(Anggota) DPRD harus minta maaf. Apa yang mereka lakukan merupakan cermin tidak berpihaknya mereka pada rakyat. Padahal sangat jelas program KJS yang Jokowi canangkan sangat prorakyat," ujar Irwan.
Sementara itu, M Yasin, orator aksi unjuk rasa sekaligus Koordinator Forum Komunikasi Jakarta Baru wilayah Koja, Jakarta Utara, menegaskan, upaya untuk menduduki DPRD supaya para wakil rakyat tahu jika Jokowi juga dipilih oleh rakyat.
"Mereka mengatasnamakan wakil rakyat padahal tidak prorakyat. Sudah sangat jelas bahwa Jokowi yang sangat prorakyat dengan KJS-nya, kenapa harus ditentang," kata Yasin dalam orasinya.
Seperti diberitakan, anggota DPRD DKI Jakarta mengancam akan mencopot Jokowi karena dianggap kurang mampu menuntaskan masalah kekisruhan sistem pembayaran Kartu Jakarta Sehat.
Anggota DPRD akan menggunakan hak interpelasi karena masalah KJS dan 16 rumah sakit yang keberatan mengikuti program tersebut. Pemerintah Provinsi DKI dinilai terlalu terburu-buru dalam memberlakukan KJS yang sistemnya belum matang. Apalagi, peluncuran KJS tidak tertulis dalam anggaran tahun 2012 saat KJS diluncurkan.


Sumber :
kompas.com

Interpelasi Jokowi Berlebihan, Hanya Mencari-cari Kesalahan

Sebanyak 16 rumah sakit mengaku kesulitan mengurus pembayaran Kartu Jakarta Sehat (KJS), dua diantaranya bahkan menyatakan mundur. Rencana anggota DPRD DKI Jakarta mengajukan hak interpelasi kepada Jokowi dinilai berlebihan.
"Itu hanya mencari-cari kesalahan saja, masih terlalu jauh. Apalagi yang mau mundur kan cuma dua," ujar Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Andrinof Chaniago kepada detikcom, Sabtu (25/5/2013) malam.
Andrinof mengatakan, jika masih banyak yang belum sempurna dalam implementasi di lapangan, maka Jokowi harus diberikan waktu untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk anggota DPRD.
"Tidak akan jadi masalah buat gubernur DKI interpelasi atau tidak. Tapi seharusnya bersama-sama memperbaiki pelayanan KJS jika dirasa belum sempurna," ujarnya.
Mengenai rumah sakit yang merasa kesulitan dalam sistem pembayaran KJS, Andrinof menyarankan perundingan antara pihak Pemprov dan pihak rumah sakit.
"Tinggal dirundingkan ulang apa masalahnya, apakah soal administrasi. Masa belum ada negosiasi tahu-tahu mundur. Karena usaha jasa rumah sakit tetap ada misi sosial, sekomersial apapun," tambahnya.

Sumber :
detik.com

Jokowi dan Para Algojonya

Gonjang ganjing interpelasi terhadap gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) melibatkan nama-nama anaggota DPRD dari berbagai fraksi, dengan dukungan mayoritas dari partai Demokrat, berikut foto Jokowi berderet dengan tampang para algojonya.


Dari foto-foto di atas, dengan menggunakan perasaan, kita dengan mudah dapat menduga siapa yang berhati bersih, siapa yang berhati preman, siapa yang mata duitan dan siapa yang haus tahta dan wanita.

Rencana Interpelasi Jokowi Bakal Mentah?

Kisruh kabar penolakan 16 rumah sakit swasta pelaksana Kartu Jakarta Sehat (KJS) membuat anggota DPRD DKI berencana untuk menggunakan hak interpelasi. Petisi ini sempat ditandatangani 32 anggota DPRD, 20 di antaranya anggota Fraksi Partai Demokrat.
Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD DKI, Jhony Wellas Poly, mengaku tak mau ambil pusing atas masalah ini. "Interpelasi adalah hak personal anggota DPRD. Ini tidak memiliki keterkaitan dengan fraksi," kata Jhony, Sabtu 25 Mei 2013.
Jhony mengatakan, yang harus dilakukan anggota DPRD saat ini adalah turut melakukan sosialisasi KJS. "Seperti kami ini kan harusnya menjadi garda depan di semua sektor pembangunan, termasuk kesehatan. Kami harus sosialisasikan program pemda, termasuk 20 anggota yang tanda tangan" katanya.
Ia melihat, hak interpelasi terhadap Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), yang digulirkan rekannya tidak ada gunanya lagi. Sebab, masalah KJS telah diambil alih oleh Komisi Kesehatan DPRD DKI. "Saya lihat akhirnya mentah dengan sendirinya," tuturnya.

Bantah Jadi Penggagas

Gonjang ganjing interpelasi gubernur DKI terkait KJS berbuntut saling lempar tanggung jawab. Asraf Ali, anggota DPRD DKI Komisi E Fraksi Partai Golkar yang paling banyak bicara justru membantah sebagai penggagas.
"Saya bukan penggagas. Saat pengumpulan tanda tangan saya tak tahu sumbernya," katan Asraf Ali.Hak interpelasi merupakan hak personal yang dimiliki anggota DPRD dan tidak memiliki keterkaitan dengan Fraksi DPRD. "Fraksi Partai Golkar sendiri tidak setuju atas wacana interpelasi gubernur," katanya.
Asraf menjelaskan, hak interpelasi anggota DPRD terkait program Kartu Jakarta Sehat, sudah tidak lagi berguna. Masalah mengenai kabar mundurnya 16 rumah sakit tersebut telah ditangani Komisi E DPRD. "Kami akan berkomunikasi agar hak interpelasi batal," katanya.
Sebelumnya, wacana pengajuan hak interpelasi muncul dalam rapat dengar pendapat antara DPRD DKI Jakarta dengan Dinas Kesehatan, Kementerian Kesehatan, dan 16 rumah sakit yang berencana mundur dari program KJS dua hari lalu.
Rapat tersebut membahas masalah dalam pelaksanaan KJS. Sebanyak 16 rumah sakit swasta pelaksana KJS keberatan dengan nilai dan sistem pembayaran. Dalam pelaksanaan KJS disepakati pembayaran dilakukan melalui PT Askes.
Sementara itu, biaya kesehatan sebesar Rp 23.000, merupakan pola INA CBGs yang penghitungannya dilakukan Kemenkes. Jaminan masyarakat tidak mampu di Jakarta ini mengacu pada nilai BPJS yang ditetapkan Rp 22.800 per orang per bulan.


Sumber :
viva.co.id

Ini 32 Nama Anggota DPRD DKI Pengusul Interpelasi

Anggota DPRD DKI, Taufiqurrahman, membenarkan ia dan 31 rekannya telah mengajukan hak interpelasi kepada Pemerintah Jakarta terkait program Kartu Jakarta Sehat (KJS). "Memang benar ada 32," kata Taufiqurrahman, Sabtu 25 Mei 2013.

Hak interpelasi yang diajukan 32 anggota dewan ini, menurutnya, jangan sampai diartikan bahwa DPRD DKI meminta Gubernur Jakarta Joko Widodo untuk mundur dari jabatannya.
"Saya dari Partai Demokrat yang notabene mendukung kebijakan pemerintah. Jangan sampai dipelintir hak interpelasi ini sebagai langkah untuk melengserkan Gubernur. Saya dukung Pak Jokowi dan Pak Ahok. Tapi saya ingin program tidak memberatkan rakyat," katanya.

Berikut 32 nama anggota dewan yang menyepakati mengajukan hak interpelasi ke Pemerintah Jakarta:

Fraksi Partai Demokrat
1. Aliman Aat
2. Taufiqurrahman
3. Habib Alaydrus
4. Sandy
5. Neneng Hasanah
6. Siti Sofiah
7. Abdul Mutholib
8. Mujiyono
9. Agung Haryono
10. Nawawi
11. Lucky
12. Berlin
13. TS Yance
14. Hendry Ali
15. Marie Amadea
16. Mirna Na'Amin
17. Santoso
18. Hardi
19. DR Marthin
20. Maria Hernie

Fraksi PKB-PAN
21. Hidayat Ar Yasin
22. Moh Asyari

Fraksi PPP
23. Belly Bilalusalam
24. Matnoor Tindoor
25. Ichwan Zayadi
26. Abdul Aziz

Fraksi Partai Glokar
27. Ruddin Akbar Lubis

Fraksi Partai Hanura-PDS
28. Fahmi Zulfikar
29. Guntur
30. Farel Silalahi
31. Dr. Suprawito
32. Rukun Santoso

Sumber :
tempo.co

Sabtu, 25 Mei 2013

Demokrat: Interpelasi Jokowi Bisa Saja Dibatalkan

Lebih dari 30 anggota DPRD DKI Jakarta mendukung diajukannya hak interpelasi kepada Gubernur DKI, Joko Widodo, soal kisruh program Kartu Jakarta Sehat (KJS). Tapi, Ketua Fraksi Demokrat Jhony Wellas Poly mengatakan, hak iterpelasi masih memungkinkan dibatalkan.
"Katakanlah itu dijalankan, sedangkan Komisi E telah memanggil rumah sakit. Dari 16 rumah sakit, yang 14 sudah balik," kata dia saat dihubungi wartawan di Jakarta, Sabtu (25/5/2013).
Dia mengaku sudah mendengar adanya rencana mengajukan hak bertanya wakil rakyat. Anggota Fraksi Partai Demokrat yang sudah menandatangani bukti persetujuan mengajukan hak interpelasi sudah ada 11 orang.
"Saya baru dengar sebagian besar Demokrat," ujar Jhony.
Dia berharap, Pemda DKI Jakarta dapat menjelaskan sistem yang tengah dijalankan tersebut kepada rumah sakit. Sehingga pihak rumah sakit memahami seperti apa pelaksanaan sistem KJS.
"Ada sejumlah rumah sakit yang tidak mengerti sistem itu. Setiap minggu kami menjadi garda terdepan melakukan sosialisasi program," pungkasnya.

Sumber :
okezone.com