Meski sudah menyadari bahwa tanah yang mereka duduki merupakan milik
negara, namun warga Muara Baru yang tinggal di bantaran Waduk Pluit
masih berat meninggalkan tanah tersebut. Mereka pun mengungkit-ungkit
jasa mereka kepada Jokowi-Basuki, seperti mengeluarkan miliaran rupiah
untuk kampanye.
"Saya puluhan juta, Pak Tedy ratusan. Ditotal
seluruh warga ada miliaran uang kita disumbangkan untuk kampanye
Jokowi-Ahok," ungkap Hazari Gemblong, salah seorang warga Muara Baru,
Jakarta Utara, Selasa (21/5/2013).
Hal senada juga dikatakan Sri
Handono. Menurutnya, saat proses penghitungan suara Pilkada DKI
menempatkan Jokowi di tempat teratas. Saking gembiranya mereka
mengadakan syukuran di Muara Karang.
"Begitu perhitungan (Jokowi)
unggul, malamnya di Muara Angke, saking senangnya kita pesta. Uang pak
Gomblong ini banyak habis," kata Sri.
Sri pun kembali
mengungkapkan kekesalannya dengan sikap Jokowi saat ini. Menurutnya,
Jokowi telah melanggar kontrak politik dan janji-janji politiknya. Dalam
kontrak politik, Jokowi telah menjanjikan warga akan dilibatkan dalam
tata ruang wilayah, legalisasi kampung ilegal, penataan kampung kumuh,
dan perlindungan penataan ekonomi informal.
"Kenapa Jokowi kemarin
(saat kampanye) menyasar orang kecil, kenapa enggak orang kaya aja.
Sekarang yang dikorbankan malah orang kecil," sesal pria yang akrab
dipanggil Tirto ini.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, di bawah
kepemimpinan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, membenahi kawasan ini
dimulai setelah banjir besar, Januari lalu. Ketika itu, banyak orang
sadar, betapa pentingnya peranan Waduk Pluit. Seluruh aliran banjir di
pusat kota mengarah ke sana. Waduk tidak dapat menampung lagi
limpahan air tersebut. Banjir akibat ketidakmampuan waduk menampung
air berdampak serius terhadap aktivitas ekonomi, sosial, dan kesehatan
warga.
Kondisi itulah yang mendorong Pemprov DKI Jakarta segera
merealisasikan normalisasi waduk. Pascabanjir Januari lalu, proyek
normalisasi mulai dilakukan. Pintu masuk air diperlebar, sampah
dibersihkan, dan pengerahan alat berat berlangsung hampir setiap hari.
Namun perjuangan Jokowi-Basuki itu tidak mudah, karena masyarakat yang
malah menuntut ganti rugi.
Sumber :
kompas.com
Arsip terlengkap seputar kegiatan Jokowi mulai tahun 2013 hingga Jokowi Terindikasi Melindungi Koruptor.
Selasa, 21 Mei 2013
Pamor Jokowi Semakin Melempem
Kebiasaan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang patuh pada
aturan partainya yakni PDIP untuk menjadi juru kampanye (Jurkam) di
setiap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) harus diwaspadai. Pasalnya,
keterlibatan mantan wali kota Solo ini menjadi Jurkam justru akan
menurunkan popularitas sendiri.
"Lebih dari itu, berkali-kali Jokowi terlibat kampanye di luar kota Jakarta dan kenyataannya tingkat keberhasilannya rendah, akan dapat berakibat melempemnya pamor Jokowi," ujar pengamat politik Ray Rangkuti saat dihubungi wartawan, Minggu (19/5/2013).
Selain itu, PDIP harus lah mengerti dengan kondisi Jokowi yang saat ini menjadi pemimpin Ibu kota. Sebab, jika PDIP terlalu memaksakan keberadaan Jokowi dalam setiap momen kampanye, akan menghambat perannya dalam mengurus Ibu Kota.
"Mengurus kota Jakarta tidak dapat dilakukan sembari lalu. Harus ada fokus dan konsentrasi," katanya.
Mungkin sekali atau dua kali pelaksanaan pilkada tidak masalah Jokowi dilibatkan. Tetapi bila setiap pilkada, Jokowi dilibatkan untuk kampanye, maka akan mengurangi waktunya.
"Tentu saja, hal seperti ini, perlu juga diperhatikan oleh Jokowi. Jangan sampai beliau menanggung efek kekalahan berbagai calon kepala daerah yang diusungnya berakibat pada simpati masyarakat terhadapnya negatif," terangnya.
Ray mengimbau PDIP harus mencermati secara seksama, karena masa depan Jokowi tidak pendek. "Memang hal ini perlu dicermati oleh PDIP. Masa depan Jokowi masih panjang," tandasnya.
Untuk diketahui, Jokowi menjadi jurkam pada pilgub Jawa Barat dan Sumatera Utara tetapi gagal menang. Kemudian, Pilgub Bali dan Jawa Tengah. Sedangkan rencana ke depan, Jokowi juga akan menjadi Jurkam Pilwalkot Malang dan Pilgub Jatim.
Sumber :
merdeka.com
"Lebih dari itu, berkali-kali Jokowi terlibat kampanye di luar kota Jakarta dan kenyataannya tingkat keberhasilannya rendah, akan dapat berakibat melempemnya pamor Jokowi," ujar pengamat politik Ray Rangkuti saat dihubungi wartawan, Minggu (19/5/2013).
Selain itu, PDIP harus lah mengerti dengan kondisi Jokowi yang saat ini menjadi pemimpin Ibu kota. Sebab, jika PDIP terlalu memaksakan keberadaan Jokowi dalam setiap momen kampanye, akan menghambat perannya dalam mengurus Ibu Kota.
"Mengurus kota Jakarta tidak dapat dilakukan sembari lalu. Harus ada fokus dan konsentrasi," katanya.
Mungkin sekali atau dua kali pelaksanaan pilkada tidak masalah Jokowi dilibatkan. Tetapi bila setiap pilkada, Jokowi dilibatkan untuk kampanye, maka akan mengurangi waktunya.
"Tentu saja, hal seperti ini, perlu juga diperhatikan oleh Jokowi. Jangan sampai beliau menanggung efek kekalahan berbagai calon kepala daerah yang diusungnya berakibat pada simpati masyarakat terhadapnya negatif," terangnya.
Ray mengimbau PDIP harus mencermati secara seksama, karena masa depan Jokowi tidak pendek. "Memang hal ini perlu dicermati oleh PDIP. Masa depan Jokowi masih panjang," tandasnya.
Untuk diketahui, Jokowi menjadi jurkam pada pilgub Jawa Barat dan Sumatera Utara tetapi gagal menang. Kemudian, Pilgub Bali dan Jawa Tengah. Sedangkan rencana ke depan, Jokowi juga akan menjadi Jurkam Pilwalkot Malang dan Pilgub Jatim.
Sumber :
merdeka.com
Jokowi-Ahok Tak Kompak Soal Kenaikan Premi KJS
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi)
tak setuju jika premi asuransi untuk Kartu Jakarta Sehat (KJS) dinaikan
dari Rp 23 ribu menjadi Rp 50 ribu pasca-munculnya 16 RS. Menanggapi
hal itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan, prinsipnya kenaikan premi dapat dilakukan dengan adanya pendapatan pajak yang diterima Pemprov DKI saat ini.
"Kalau dilihat dari pajak yang masuk, Pemprov sih mampu-mampu saja. Prinsipnya gotong royonglah warga harus dilibatkan. Mungkin nanti kita bikin peraturan, perokok berat misalnya harus bayar gitu. Yang suka beli pulsa banyak, harus bayar. Makanya kita akan hitung dan tunggu dulu, belum bisa diputuskan hari ini," ujar Ahok di Balai Kota Jakarta, Selasa (21/5/2013).
Ahok mengaku hingga saat ini belum menemukan solusi untuk mengantisipasi RS swasta tidak mundur kembali dari KJS.
"Sampai kita ketemu teknis, baru saya laporkan ke Pak Jokowi. Keputusan ada di tangan Pak Gubernur," ucapnya.
Ahok berencana ke depannya pemegang KJS harus memiliki rekening bank. Hal ini dikarenakan KJS nantinya akan dibuat seperti autodebet.
"Makanya arah ke depan mesti kasih rekening kayak Transjakarta sekarang mesti pakai e-ticketing kan e-wallet, di situ langsung ketahuan," tandasnya.
Sumber :
merdeka.com
"Kalau dilihat dari pajak yang masuk, Pemprov sih mampu-mampu saja. Prinsipnya gotong royonglah warga harus dilibatkan. Mungkin nanti kita bikin peraturan, perokok berat misalnya harus bayar gitu. Yang suka beli pulsa banyak, harus bayar. Makanya kita akan hitung dan tunggu dulu, belum bisa diputuskan hari ini," ujar Ahok di Balai Kota Jakarta, Selasa (21/5/2013).
Ahok mengaku hingga saat ini belum menemukan solusi untuk mengantisipasi RS swasta tidak mundur kembali dari KJS.
"Sampai kita ketemu teknis, baru saya laporkan ke Pak Jokowi. Keputusan ada di tangan Pak Gubernur," ucapnya.
Ahok berencana ke depannya pemegang KJS harus memiliki rekening bank. Hal ini dikarenakan KJS nantinya akan dibuat seperti autodebet.
"Makanya arah ke depan mesti kasih rekening kayak Transjakarta sekarang mesti pakai e-ticketing kan e-wallet, di situ langsung ketahuan," tandasnya.
Sumber :
merdeka.com
Jokowi: Kalau Orientasinya Keuntungan Saja, Repot Juga...
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyayangkan 16 rumah sakit (RS)
swasta yang mundur dari program Kartu Jakarta Sehat (KJS). Menurutnya,
RS seharusnya memiliki tanggung jawab sosial, bukan hanya mementingkan
keuntungan uang semata.
"Harus ada tanggung jawab sosial, tanggung jawab kemanusiaan RS terhadap warga yang tidak mampu, harusnya ada seperti itu. Tapi kalau orientasinya hanya pada keuntungan, kita ini repot juga," ujar Jokowi kepada wartawan di gedung Balaikota, Selasa (21/5/2013) pagi.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak akan memberi sanksi atau imbauan bagi rumah sakit swasta yang mundur dari program KJS. Dan Jokowi menegaskan akan tetap mempertahankan KJS sekaligus sistem pembayaran INA-CBG's (Indonesia Case Base Group) melalui PT Akses.
Pertama, Jokowi menilai KJS mengakomodir pelayanan kesehatan bagi pasien miskin di DKI. "Terbukti dengan melonjaknya pasien di rumah sakit artinya (KJS) dibutuhkan, program itu ditunggu dan dibutuhkan rakyat," ujar Jokowi.
Kedua, dalam sistem pembayaran INA-CBG's yang baru diterapkan sejak 1 Maret 2013, tiap pasien memiliki perencanaan pelayanan medik yang telah ditentukan dan terencana sehingga lebih teratur. Kedua hal tersebut, kata Jokowi, merupakan keuntungan pembayaran pasien ke rumah sakit yang sudah terencana dengan baik.
Sementara, soal rencana peningkatan premi rumah sakit dari Rp 23.000 menjadi Rp 50.000, Jokowi mengaku masih dalam proses kalkulasi. "Belum-belum, semuanya belum di kalkulasi, karena kalau KJS dinaikan satuannya, kena bisa nambah budget," lanjut Jokowi.
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 16 rumah sakit swasta mundur mengurus KJS atas alasan berat dengan tarif harga Indonesia Case Base Group (INA-CBG's) yang dikeluarkan PT Askes (Persero). Tarif yang diberlakukan berdasarkan sistem paket ini dinilai merugikan rumah sakit.
Sumber :
kompas.com
"Harus ada tanggung jawab sosial, tanggung jawab kemanusiaan RS terhadap warga yang tidak mampu, harusnya ada seperti itu. Tapi kalau orientasinya hanya pada keuntungan, kita ini repot juga," ujar Jokowi kepada wartawan di gedung Balaikota, Selasa (21/5/2013) pagi.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak akan memberi sanksi atau imbauan bagi rumah sakit swasta yang mundur dari program KJS. Dan Jokowi menegaskan akan tetap mempertahankan KJS sekaligus sistem pembayaran INA-CBG's (Indonesia Case Base Group) melalui PT Akses.
Pertama, Jokowi menilai KJS mengakomodir pelayanan kesehatan bagi pasien miskin di DKI. "Terbukti dengan melonjaknya pasien di rumah sakit artinya (KJS) dibutuhkan, program itu ditunggu dan dibutuhkan rakyat," ujar Jokowi.
Kedua, dalam sistem pembayaran INA-CBG's yang baru diterapkan sejak 1 Maret 2013, tiap pasien memiliki perencanaan pelayanan medik yang telah ditentukan dan terencana sehingga lebih teratur. Kedua hal tersebut, kata Jokowi, merupakan keuntungan pembayaran pasien ke rumah sakit yang sudah terencana dengan baik.
Sementara, soal rencana peningkatan premi rumah sakit dari Rp 23.000 menjadi Rp 50.000, Jokowi mengaku masih dalam proses kalkulasi. "Belum-belum, semuanya belum di kalkulasi, karena kalau KJS dinaikan satuannya, kena bisa nambah budget," lanjut Jokowi.
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 16 rumah sakit swasta mundur mengurus KJS atas alasan berat dengan tarif harga Indonesia Case Base Group (INA-CBG's) yang dikeluarkan PT Askes (Persero). Tarif yang diberlakukan berdasarkan sistem paket ini dinilai merugikan rumah sakit.
Sumber :
kompas.com
Jokowi: Harusnya Ada Tanggung Jawab Sosial Dari Rumah Sakit
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) belum berpikiran untuk
menaikkan premi asuransi untuk KJS senilai Rp 50 ribu. Namun, ia lebih
meminta Rumah Sakit untuk sadar diri bahwa sisi kemanusiaan lebih
penting.
"Ya memang harusnya ada sebuah tanggung jawab sosial, tanggung jawab kemanusiaan Rumah Sakit terhadap warga yang tidak mampu, harusnya ada seperti itu. Tapi kalau orientasinya hanya pada keuntungan profit oriented, kita ini repot juga," ungkap Jokowi di Balai Kota Jakarta, Selasa (21/5/2013).
Menurutnya, premi sebesar Rp 23 ribu lebih baik daripada aturan pemerintah pusat sebesar Rp 15 ribu. Namun, ia menilai Rp 50 ribu itu akan mengembalikan pada sistem sebelumnya, yakni pemilihan obat yang bebas.
"Ya tidak, Rp 50 ribu gimana. Kita ini terlanjur semuanya bebas saja dulu-dulu tanpa sistem, ya kan. Mau pilih obat yang mana boleh, mau pilih ini dioperasi atau tidak dioperasi juga ditentukan sendiri. Sekarang memang ada aturan mainnya dan sistem yang mengatur, obat itu ini ini ini tahapannya ada semua," jelasnya.
Politikus PDIP ini mengaku kebiasaan memilih-memilih obat dan sebagainya yang menjadi RS merasa keberatan.
"Ya kebiasaan-kebiasaan memilih aja. Ya yang dulu-dulu, obat bisa memilih," ucapnya.
Ia pun mengatakan hal ini bukan kesalahan KJS, sebab kartu sehat tersebut saat ini dibutuhkan oleh warga. Pasalnya, adanya KJS, tingkat pasien di setiap RS membludak.
"Dibutuhkan, terbukti dengan melonjaknya pasien di rumah sakit artinya dibutuhkan, program itu ditunggu dan dibutuhkan. Sekarang kalau sudah dipegang tangan kalau RS tidak siap ada yang ingin mundur problemnya ada dimana? bukan di KJS nya yang diselesaikan," katanya.
Sumber :
merdeka.com
"Ya memang harusnya ada sebuah tanggung jawab sosial, tanggung jawab kemanusiaan Rumah Sakit terhadap warga yang tidak mampu, harusnya ada seperti itu. Tapi kalau orientasinya hanya pada keuntungan profit oriented, kita ini repot juga," ungkap Jokowi di Balai Kota Jakarta, Selasa (21/5/2013).
Menurutnya, premi sebesar Rp 23 ribu lebih baik daripada aturan pemerintah pusat sebesar Rp 15 ribu. Namun, ia menilai Rp 50 ribu itu akan mengembalikan pada sistem sebelumnya, yakni pemilihan obat yang bebas.
"Ya tidak, Rp 50 ribu gimana. Kita ini terlanjur semuanya bebas saja dulu-dulu tanpa sistem, ya kan. Mau pilih obat yang mana boleh, mau pilih ini dioperasi atau tidak dioperasi juga ditentukan sendiri. Sekarang memang ada aturan mainnya dan sistem yang mengatur, obat itu ini ini ini tahapannya ada semua," jelasnya.
Politikus PDIP ini mengaku kebiasaan memilih-memilih obat dan sebagainya yang menjadi RS merasa keberatan.
"Ya kebiasaan-kebiasaan memilih aja. Ya yang dulu-dulu, obat bisa memilih," ucapnya.
Ia pun mengatakan hal ini bukan kesalahan KJS, sebab kartu sehat tersebut saat ini dibutuhkan oleh warga. Pasalnya, adanya KJS, tingkat pasien di setiap RS membludak.
"Dibutuhkan, terbukti dengan melonjaknya pasien di rumah sakit artinya dibutuhkan, program itu ditunggu dan dibutuhkan. Sekarang kalau sudah dipegang tangan kalau RS tidak siap ada yang ingin mundur problemnya ada dimana? bukan di KJS nya yang diselesaikan," katanya.
Sumber :
merdeka.com
Jokowi Tak Setuju Dirinya Difilmkan
Rumah produksi K2K Production, asuhan KK Dheeraj melaunching film
berjudul 'Jokowi'. Sayangnya, film tersebut tidak mengantongi izin
persetujuan dari Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi).
"Udah pernah sekali (minta izin), tapi saya bilang nggak usah, karena saya orang kecil. Tapi tetap terjadi," ujar Jokowi di Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2013).
Pria lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengatakan, pihak rumah produksi memang pernah menemui dirinya untuk meminta izin agar kisah hidupnya dituangkan dalam film. Namun dirinya dia belum menyatakan bersedia, sehingga ketika mendengar kabar bahwa filmnya akan segera rilis dia pun kaget.
"Jadi kaget. Kayak apa filmnya saya nggak ngerti juga," ujarnya.
Jokowi pun mengaku malu jika biografinya difilmkan. Maka itu dirinya nanti akan bertemu dengan pihak produksi film tersebut untuk membicarakannya kembali.
"Saya difilmkan malu gitu loh. Saya nggak ngerti bagaimana. Nanti mau ketemu. Perjuangan apa? Saya nggak ngerti perjuangan apa. Wong saya normal-normal aja," pungkasnya.
Sumber :
detik.com
"Udah pernah sekali (minta izin), tapi saya bilang nggak usah, karena saya orang kecil. Tapi tetap terjadi," ujar Jokowi di Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2013).
Pria lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengatakan, pihak rumah produksi memang pernah menemui dirinya untuk meminta izin agar kisah hidupnya dituangkan dalam film. Namun dirinya dia belum menyatakan bersedia, sehingga ketika mendengar kabar bahwa filmnya akan segera rilis dia pun kaget.
"Jadi kaget. Kayak apa filmnya saya nggak ngerti juga," ujarnya.
Jokowi pun mengaku malu jika biografinya difilmkan. Maka itu dirinya nanti akan bertemu dengan pihak produksi film tersebut untuk membicarakannya kembali.
"Saya difilmkan malu gitu loh. Saya nggak ngerti bagaimana. Nanti mau ketemu. Perjuangan apa? Saya nggak ngerti perjuangan apa. Wong saya normal-normal aja," pungkasnya.
Sumber :
detik.com
Jakmania Desak Jokowi Segera Bangun Mess Pemain Persija
Kelompok Suporter Persija Jakarta yang tergabung dalam The Jakmania masih menunggu realisasi janji Gubernur Joko Widodo terkait penyediaan fasilitas latihan dan mess pemain. Penyediaan lapangan latihan dan penginpan pemain mesti direalisasikan untuk mendukung klub kebanggaan Ibukota itu keluar dari zona degradasi.
Menurut Ketua Umum The Jakmania, Lariko Rangga Mone, Gubernur DKI Jokowi telah menjanjikan pembangunan Stadion BMW pada tahun ini dan selesai pada tahun depan. Hingga kini, belum ada langkah lanjutan dari pembangunan itu.
Selain stadion baru, Jokowi juga sempat menjanjikan penyediaan mess pemain dan lapangan latihan Persija di GOR Sumantri Brojonegoro, Kuningan, Jakarta. Namun, hal tersebut belum juga direalisasikan.
"Kalau bangun stadion baru itu masih sulit, ya kami cukup mengerti. Tapi, kami harap dia memenuhi janjinya untuk melancarkan penggunaan stadion Kuningan dan mes pemain di sekitarnya. Jangan hanya janji saja," kata Lariko, belum lama ini.
Pada musim 2013, Persija kerap menggelar latihan di Lapangan Sawangan, Depok, maupun di Lapangan Villa 2000 di kawasan Pamulang. Sejumlah pemain juga menginap di rumah kontrakan yang terletak di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan.
Tercatat kurang dari sepuluh pemain tinggal di dua rumah sewaan yang terletak di Pamulang itu. Termasuk di antaranya adalah pemain anyar Persija asal Tanah Air seperti Glend Poluakan dan Johan Ahmad Alfarizi. Sedangkan pemain asing diinapkan di apartemen Point Square, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
"Saya harap Pemda DKI bisa merealisasikan janjinya. Toh, di apartemen Kuningan itu nantinya manajemen Persija hanya mendapatkan potongan di bawah harga, bukan gratis," ujar Lariko.
Sumber :
tribunnews.com
Menurut Ketua Umum The Jakmania, Lariko Rangga Mone, Gubernur DKI Jokowi telah menjanjikan pembangunan Stadion BMW pada tahun ini dan selesai pada tahun depan. Hingga kini, belum ada langkah lanjutan dari pembangunan itu.
Selain stadion baru, Jokowi juga sempat menjanjikan penyediaan mess pemain dan lapangan latihan Persija di GOR Sumantri Brojonegoro, Kuningan, Jakarta. Namun, hal tersebut belum juga direalisasikan.
"Kalau bangun stadion baru itu masih sulit, ya kami cukup mengerti. Tapi, kami harap dia memenuhi janjinya untuk melancarkan penggunaan stadion Kuningan dan mes pemain di sekitarnya. Jangan hanya janji saja," kata Lariko, belum lama ini.
Pada musim 2013, Persija kerap menggelar latihan di Lapangan Sawangan, Depok, maupun di Lapangan Villa 2000 di kawasan Pamulang. Sejumlah pemain juga menginap di rumah kontrakan yang terletak di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan.
Tercatat kurang dari sepuluh pemain tinggal di dua rumah sewaan yang terletak di Pamulang itu. Termasuk di antaranya adalah pemain anyar Persija asal Tanah Air seperti Glend Poluakan dan Johan Ahmad Alfarizi. Sedangkan pemain asing diinapkan di apartemen Point Square, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
"Saya harap Pemda DKI bisa merealisasikan janjinya. Toh, di apartemen Kuningan itu nantinya manajemen Persija hanya mendapatkan potongan di bawah harga, bukan gratis," ujar Lariko.
Sumber :
tribunnews.com
Dibuat Film, Jokowi Malu
Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) mengaku malu sosoknya diterjemahkan dalam film berjudul Jokowi. Mantan Wali Kota Surakarta tersebut mengaku tidak pantas jika dia dijadikan inspirasi film.
"Saya difilmkan gitu kan malu toh. Saya bukan siapa-siapa, hanya orang kecil," ujar Jokowi pada wartawan Senin (20/5/2013) malam. Seperti diketahui, film itu disebut-sebut berisi kisah perjuangan Jokowi mulai dari masa kecilnya hingga lulus kuliah dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Rencananya, film tersebut dirilis pada 20 Juni 2013, sehari menjelang ulang tahun Jokowi dan dua hari sebelum ulang tahun Jakarta.
Film yang pengambilan gambarnya dilakukan di Kota Solo dan Yogyakarta itu disutradarai Azhar Kinoi Lubis. Jokowi diperankan Teuku Rifku Wikana, sedangkan Iriana, saat itu masih kekasih Jokowi, diperankan Prisia Nasution. Sementara ibunda Jokowi diperankan Ayu Diah Pasha, dan saksi hidup perjalanan Jokowi, Tarti, diperankan Ratna Riantiarno.
Menurut Jokowi, dia sudah tahu soal film itu sejak lama. Dia pun mengaku sempat menyatakan tidak setuju jika perjalanan hidupnya difilmkan. "Perjuangan apa, saya enggak ngerti perjuangan apa. Wong saya normal-normal saja," ujarnya.
Namun, produser film, yakni KK Dheeraj, tetap memproduksinya. Jokowi pun tak bisa berbuat banyak agar sosoknya tak dieksploitasi di film. Gubernur yang kerap blusukan tersebut tidak memiliki bayangan akan seperti apa sosoknya dalam film nanti. Karenanya, meski masih merasa malu, Jokowi tak menampik bahwa dia pun penasaran hasil dari film yang diproduksi dalam waktu 30 hari itu.
Sumber :
kompas.com
"Saya difilmkan gitu kan malu toh. Saya bukan siapa-siapa, hanya orang kecil," ujar Jokowi pada wartawan Senin (20/5/2013) malam. Seperti diketahui, film itu disebut-sebut berisi kisah perjuangan Jokowi mulai dari masa kecilnya hingga lulus kuliah dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Rencananya, film tersebut dirilis pada 20 Juni 2013, sehari menjelang ulang tahun Jokowi dan dua hari sebelum ulang tahun Jakarta.
Film yang pengambilan gambarnya dilakukan di Kota Solo dan Yogyakarta itu disutradarai Azhar Kinoi Lubis. Jokowi diperankan Teuku Rifku Wikana, sedangkan Iriana, saat itu masih kekasih Jokowi, diperankan Prisia Nasution. Sementara ibunda Jokowi diperankan Ayu Diah Pasha, dan saksi hidup perjalanan Jokowi, Tarti, diperankan Ratna Riantiarno.
Menurut Jokowi, dia sudah tahu soal film itu sejak lama. Dia pun mengaku sempat menyatakan tidak setuju jika perjalanan hidupnya difilmkan. "Perjuangan apa, saya enggak ngerti perjuangan apa. Wong saya normal-normal saja," ujarnya.
Namun, produser film, yakni KK Dheeraj, tetap memproduksinya. Jokowi pun tak bisa berbuat banyak agar sosoknya tak dieksploitasi di film. Gubernur yang kerap blusukan tersebut tidak memiliki bayangan akan seperti apa sosoknya dalam film nanti. Karenanya, meski masih merasa malu, Jokowi tak menampik bahwa dia pun penasaran hasil dari film yang diproduksi dalam waktu 30 hari itu.
Sumber :
kompas.com
Senin, 20 Mei 2013
Rencana Jokowi Naikkan Premi KJS Ditolak
Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagyo, menilai rencana Gubernur DKI
Jakarta Joko Widodo untuk menaikkan premi Kartu Jakarta Sehat menjadi Rp
50 ribu dari sebelumnya Rp 23 ribu tidak tepat dan tidak akan
menyelesaikan masalah.
Pemicu rencana ini adalah mundurnya 16 rumah sakit swasta di Jakarta yang mengaku klaim biaya pelayanan pasien mereka tidak dibayar penuh.
"Antara premi dengan layanan KJS tidak ada hubungannya," kata Agus ketika dihubungi pada Senin, 20 Mei 2013. Menurut Agus, dua hal tersebut adalah hal yang berbeda.
Premi menurut Agus, lebih bersifat komersil. Sedangkan KJS, kata Agus, sesuatu yang bersifat sosial. "Sehingga seharusnya pemerintah bisa menanggung biayanya," ujar dia.
Menurut Agus, jika premi dinaikan tapi sistem yang digunakan masih sama maka rumah sakit akan terus mengeluh. Rumah sakit, menurut dia, juga membutuhkan biaya operasional.
Apa lagi saat ini KJS menggunakan sistem Indonesia Case Based Group. Dalam sistem yang menggantikan mekanisme Paket Pelayanan Esensial ini, setiap layanan rumah sakit sudah ada platfom harganya.
Jadi, kata Agus, meskipun premi dinaikkan, platform biaya yang ditetapkan tidak akan berubah. "Jadi percuma premi naik tetapi platform yang ditetapkan dalam INA-CBG ini tetap," katanya.
Dalam sistem INA-CBG, misalnya ada orang sakit demam berdarah. Rumah sakit sesuai ketentuan INA-CBG diberi patokan boleh melakukan rawat inap selama lima hari dengan tarif Rp 2,2 juta.
Maka jika orang tersebut sembuh pada hari kedelapan, Askes hanya menutup biaya Rp 2,2 juta tersebut. Tiga hari lebihnya ini yang dibayar oleh rumah sakit. Jika patokan harga layanan ini tak diubah, kata Agus, rumah sakit akan selalu mengaku kekurangan biaya.
Sumber :
tempo.co
Pemicu rencana ini adalah mundurnya 16 rumah sakit swasta di Jakarta yang mengaku klaim biaya pelayanan pasien mereka tidak dibayar penuh.
"Antara premi dengan layanan KJS tidak ada hubungannya," kata Agus ketika dihubungi pada Senin, 20 Mei 2013. Menurut Agus, dua hal tersebut adalah hal yang berbeda.
Premi menurut Agus, lebih bersifat komersil. Sedangkan KJS, kata Agus, sesuatu yang bersifat sosial. "Sehingga seharusnya pemerintah bisa menanggung biayanya," ujar dia.
Menurut Agus, jika premi dinaikan tapi sistem yang digunakan masih sama maka rumah sakit akan terus mengeluh. Rumah sakit, menurut dia, juga membutuhkan biaya operasional.
Apa lagi saat ini KJS menggunakan sistem Indonesia Case Based Group. Dalam sistem yang menggantikan mekanisme Paket Pelayanan Esensial ini, setiap layanan rumah sakit sudah ada platfom harganya.
Jadi, kata Agus, meskipun premi dinaikkan, platform biaya yang ditetapkan tidak akan berubah. "Jadi percuma premi naik tetapi platform yang ditetapkan dalam INA-CBG ini tetap," katanya.
Dalam sistem INA-CBG, misalnya ada orang sakit demam berdarah. Rumah sakit sesuai ketentuan INA-CBG diberi patokan boleh melakukan rawat inap selama lima hari dengan tarif Rp 2,2 juta.
Maka jika orang tersebut sembuh pada hari kedelapan, Askes hanya menutup biaya Rp 2,2 juta tersebut. Tiga hari lebihnya ini yang dibayar oleh rumah sakit. Jika patokan harga layanan ini tak diubah, kata Agus, rumah sakit akan selalu mengaku kekurangan biaya.
Sumber :
tempo.co
Warga Klender Minta Jokowi Selesaikan Sengketa Tanah di Gusti Ngurah Rai
Terkait dengan kericuhan yang terjadi di Jalan I Gusti Ngurah Rai,
Klender, Cipinang Muara, Jakarta Timur, Pemerintah Kota Jakarta Timur
menggelar pertemuan dengan pihak yang mengklaim atas kepemilkan di
lokasi tersebut. Sayangnya pertemuan tersebut gagal menemui kata
sepakat.
Salah satu kuasa hukum warga yang mengklaim lahan sengketa tersebut, Antoni mengatakan, pertemuan yang digelar gagal menemui kata sepakat. Akibatnya, pihaknya meminta kekada Walikota Jakarta Timur untuk membicarakan permasalahan ini dengan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi)
"Kami akan bawa kasus ini ke jalur hukum dan meminta walikota mengundang kami untuk bertemu Gubernur DKI," ujar Antoni saat ditemui di kantor Walikota Jakarta Timur, Senin, (20/5/2013).
Antoni mengatakan, permasalahan kepemilikan lahan di Buaran I Rt 08 Rw 12, Klender, Jakarta Timur tersebut sudah berlangsung selama puluhan tahun. Bahkan, lanjut Antoni telah terjadi penghilangan girik (surat kepemilikan) lahan yang kini dihuni oleh mayoritas etnis Madura yang berdagang besi tua di lokasi tersebut.
"Jadi sudah terjadi penghilangan girik-girik, di kelurahan juga sudah tidak ada datanya. Sehingga tanah 13 hektar ini sudah tidak punya tuan," katanya.
Sementara itu, terkait dengan kepemilikan girik oleh PT Graha Cipta Kharisma, atas lahan seluas 9,3 hektar, yang dibeli dari Sukma Jaya, Antoni mengatakan itu adalah hal yang membingungkan. Sebab Sukma Jaya sendiri sudah meninggal pada tahun 1995 dan surat pajaknya sudah dibatalkan oleh Dirjen Pajak pada tahun 1997.
"Surat itu muncul Oktober (2012), jadi sudah jelas ada manipulasi. Surat-surat pajak Sukma Wijaya juga sudah dibatalkan oleh Dirjen Pajak pada 1997, karena memalsukan stempel lurah," ujarnya.
"Jadi kami meminta PT Graha Cipta Kharisma mencabut papan pengumuman kepemilikan di lahan tersebut hingga adanya keputusan yang inkrah," lanjut Antoni.
Sementara itu, saat dikonfirmasi secara terpisah, Kasatpol PP, Jakarta Timur, Syahdona mengatakan pihaknya akan berusaha untuk memfasilitasi pertemuan dengan Jokowi. Satpol PP Jakarta Timur juga telah mengidentifikasi pihak-pihak mengaku sebagai pemilik lahan tersebut.
"Karena tuntutan warga demikian, kami akan mengonsultasikan hasil pertemuan warga Buaran dengan Pemko Jaktim kepada Gubernur DKI. Warga ingin agar gubernur bisa menetapkan pemilik tanah itu. Saat ini kami telah mengidentifikasi ada 3 pihak yang mengklaim tanah tersebut ketiga pihak tersebut adalah PT Graha Cipta Kharisma, Sudibyo, Haji Rais, dan Jiun," tandasnya.
Sumber :
detik.com
Salah satu kuasa hukum warga yang mengklaim lahan sengketa tersebut, Antoni mengatakan, pertemuan yang digelar gagal menemui kata sepakat. Akibatnya, pihaknya meminta kekada Walikota Jakarta Timur untuk membicarakan permasalahan ini dengan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi)
"Kami akan bawa kasus ini ke jalur hukum dan meminta walikota mengundang kami untuk bertemu Gubernur DKI," ujar Antoni saat ditemui di kantor Walikota Jakarta Timur, Senin, (20/5/2013).
Antoni mengatakan, permasalahan kepemilikan lahan di Buaran I Rt 08 Rw 12, Klender, Jakarta Timur tersebut sudah berlangsung selama puluhan tahun. Bahkan, lanjut Antoni telah terjadi penghilangan girik (surat kepemilikan) lahan yang kini dihuni oleh mayoritas etnis Madura yang berdagang besi tua di lokasi tersebut.
"Jadi sudah terjadi penghilangan girik-girik, di kelurahan juga sudah tidak ada datanya. Sehingga tanah 13 hektar ini sudah tidak punya tuan," katanya.
Sementara itu, terkait dengan kepemilikan girik oleh PT Graha Cipta Kharisma, atas lahan seluas 9,3 hektar, yang dibeli dari Sukma Jaya, Antoni mengatakan itu adalah hal yang membingungkan. Sebab Sukma Jaya sendiri sudah meninggal pada tahun 1995 dan surat pajaknya sudah dibatalkan oleh Dirjen Pajak pada tahun 1997.
"Surat itu muncul Oktober (2012), jadi sudah jelas ada manipulasi. Surat-surat pajak Sukma Wijaya juga sudah dibatalkan oleh Dirjen Pajak pada 1997, karena memalsukan stempel lurah," ujarnya.
"Jadi kami meminta PT Graha Cipta Kharisma mencabut papan pengumuman kepemilikan di lahan tersebut hingga adanya keputusan yang inkrah," lanjut Antoni.
Sementara itu, saat dikonfirmasi secara terpisah, Kasatpol PP, Jakarta Timur, Syahdona mengatakan pihaknya akan berusaha untuk memfasilitasi pertemuan dengan Jokowi. Satpol PP Jakarta Timur juga telah mengidentifikasi pihak-pihak mengaku sebagai pemilik lahan tersebut.
"Karena tuntutan warga demikian, kami akan mengonsultasikan hasil pertemuan warga Buaran dengan Pemko Jaktim kepada Gubernur DKI. Warga ingin agar gubernur bisa menetapkan pemilik tanah itu. Saat ini kami telah mengidentifikasi ada 3 pihak yang mengklaim tanah tersebut ketiga pihak tersebut adalah PT Graha Cipta Kharisma, Sudibyo, Haji Rais, dan Jiun," tandasnya.
Sumber :
detik.com
Jokowi Balas Komentar Ruhut dengan Hasil Survei
Komentar pedas politisi Partai Demokrat Ruhut Sitompul yang menyebut Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo tidak pantas maju sebagai calon presiden mulai ditanggapi oleh pria yang akrab disapa Jokowi.
Dengan santai, Jokowi membalas dengan pernyataan yang mengutip sejumlah survei yang menempatkan namanya dalam urutan paling atas dibandingkan sejumlah tokoh yang dicalonkan sebagai calon presiden.
"Ya saya enggak tahu. Tapi kok survei itu nomor satu terus," ujar Jokowi, Senin (20/5/2013).
Orang nomor satu di DKI Jakarta ini mengatakan, masalah layak atau tidak layaknya seseorang dicalonkan sebagai calon presiden itu berpatokan dari penilaian masyarakat, "Ya soal layak enggak layak itu urusan masyarakat," tutur Jokowi.
Namun, Jokowi tetap menyatakan dirinya tidak pernah memikirkan masalah pencapresan. Dirinya tetap ingin fokus pada pembenahan Ibukota yang cukup semrawut ini. "Tapi saya enggak mikir itu," tutur Jokowi.
Sebelumnya, Ruhut Sitompul mengaku heran masih saja banyak lembaga survei yang menempatkan Jokowi sebagai calon presiden potensial periode 2014-2019 mendatang.
Ruhut melihat justru kinerja Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta masih berantakan. Satu tahun masa jabatan, persoalan ibukota seperti kemacetan, banjir dan lain sebagainya tidak ada satu pun yang dituntaskan.
Berdasarkan survei yang dilakukan Media Survei Nasional (Median), nama Jokowi memang memuncaki sejumlah nama termasuk Megawati Soekarnoputri.
Sumber :
tribunnews.com
Dengan santai, Jokowi membalas dengan pernyataan yang mengutip sejumlah survei yang menempatkan namanya dalam urutan paling atas dibandingkan sejumlah tokoh yang dicalonkan sebagai calon presiden.
"Ya saya enggak tahu. Tapi kok survei itu nomor satu terus," ujar Jokowi, Senin (20/5/2013).
Orang nomor satu di DKI Jakarta ini mengatakan, masalah layak atau tidak layaknya seseorang dicalonkan sebagai calon presiden itu berpatokan dari penilaian masyarakat, "Ya soal layak enggak layak itu urusan masyarakat," tutur Jokowi.
Namun, Jokowi tetap menyatakan dirinya tidak pernah memikirkan masalah pencapresan. Dirinya tetap ingin fokus pada pembenahan Ibukota yang cukup semrawut ini. "Tapi saya enggak mikir itu," tutur Jokowi.
Sebelumnya, Ruhut Sitompul mengaku heran masih saja banyak lembaga survei yang menempatkan Jokowi sebagai calon presiden potensial periode 2014-2019 mendatang.
Ruhut melihat justru kinerja Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta masih berantakan. Satu tahun masa jabatan, persoalan ibukota seperti kemacetan, banjir dan lain sebagainya tidak ada satu pun yang dituntaskan.
Berdasarkan survei yang dilakukan Media Survei Nasional (Median), nama Jokowi memang memuncaki sejumlah nama termasuk Megawati Soekarnoputri.
Sumber :
tribunnews.com
Jadi Pasangan Capres? Ini Jawaban Jokowi dan Gita Wirjawan
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Perdagangan Gita
Wirjawan sangat serasi saat berdampingan menjadi presenter sebuah
stasiun televisi swasta. Apa Gita dan Jokowi mau benar-benar duet di
Pilpres 2014 seperti yang santer diisukan? Simak jawabannya.
"Alhamdulillah dong," kata Gita sembari tersenyum saat ditanya apakah dirinya akan nyapres berpasangan dengan Jokowi, usai menjadi presenter berita Liputan 6 Petang SCTV di Senayan City, Jakarta Selatan, Senin (20/5/2013).
Namun Gita yang sudah menyatakan siap jika didukung di Pilpres 2014 ini sudah merasa masih banyak pekerjaan lain untuk saat ini. "Nggaklah, pokoknya kita masih banyak kerjaan lain. Sekarang harus fokus nurunin harga daging sapi dulu," ujar Gita yang nampak santai mengenakan jaket hitam ini.
"Sekarang fokusnya di Kemendag," sambungnya.
Nah, Jokowi juga punya jawaban sendiri. Jokowi rupanya masih ingin fokus membenahi DKI Jakarta.
"Nggak tahu, nggak tahu nggak tahu," kilah Jokowi yang mengenakan kemeja putih lengan panjang ini sembari tersenyum.
Gita dan Jokowi memang tampak serasi membacakan berita. Keduanya diundang sebagai presenter dadakan di acara ulang tahun SCTV ke-17. Keduanya sangat kompak berduaan layaknya pasangan capres.
Sumber :
detik.com
"Alhamdulillah dong," kata Gita sembari tersenyum saat ditanya apakah dirinya akan nyapres berpasangan dengan Jokowi, usai menjadi presenter berita Liputan 6 Petang SCTV di Senayan City, Jakarta Selatan, Senin (20/5/2013).
Namun Gita yang sudah menyatakan siap jika didukung di Pilpres 2014 ini sudah merasa masih banyak pekerjaan lain untuk saat ini. "Nggaklah, pokoknya kita masih banyak kerjaan lain. Sekarang harus fokus nurunin harga daging sapi dulu," ujar Gita yang nampak santai mengenakan jaket hitam ini.
"Sekarang fokusnya di Kemendag," sambungnya.
Nah, Jokowi juga punya jawaban sendiri. Jokowi rupanya masih ingin fokus membenahi DKI Jakarta.
"Nggak tahu, nggak tahu nggak tahu," kilah Jokowi yang mengenakan kemeja putih lengan panjang ini sembari tersenyum.
Gita dan Jokowi memang tampak serasi membacakan berita. Keduanya diundang sebagai presenter dadakan di acara ulang tahun SCTV ke-17. Keduanya sangat kompak berduaan layaknya pasangan capres.
Sumber :
detik.com
Jokowi: Liputan 6 Menusuk Tajam
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi ternyata adalah salah
seorang penonton setia Liputan 6 SCTV. Menurut Jokowi, sebagai acara
yang menyajikan berita teraktual, Liputan 6 SCTV berbeda dengan acara
berita lainnya.
"Sangat aktual, pendalaman materinya, menusuk tajam. Kemudian gambarnya, ambil sudutnya lebih warna-warni dan beda dari yang lain," ujar Jokowi usai menjadi presenter news dadakan di studio news Liputan 6, SCTV Tower, Senayan, Jakarta, Senin (20/5/2013).
Jokowi juga melihat, dibanding dengan tayangan berita lain, Liputan 6 lebih berkreasi dalam menayangkan sebuah berita.
"Memang apapun sebuah Liputan 6 selalu diperbarui dibenahi. Itu yang saya lihat di Liputan 6, selalu baru dan baru," kata mantan Walikota Solo ini.
Ditanya apakah Jokowi punya presenter news favorit? Jokowi mengaku suka dengan seluruh presenter Liputan 6 SCTV. "Saya itu nggak punya favorit-favoritan. Yang saya lihat beritanya dan presenternya bagus-bagus semua," ucap Jokowi.
Selain Jokowi, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan juga didaulat menjadi presenter news Liputan 6 Petang dalam rangka HUT ke-17 Liputan 6 SCTV. Gita dan Jokowi membawakan sejumlah segmen berita secara bergantian.
Pada akhir acara, Gita menunjukkan kebolehannya memainkan organ sambil menyumbangkan beberapa lagu. Tak lupa lagu terakhir yang dipersembahkan berjudul 'Selamat Ulang Tahun'. Sedangkan Jokowi yang mengaku sebagai penikmat musik turut bernyanyi dan bertepuk tangan.
Sumber :
liputan6.com
"Sangat aktual, pendalaman materinya, menusuk tajam. Kemudian gambarnya, ambil sudutnya lebih warna-warni dan beda dari yang lain," ujar Jokowi usai menjadi presenter news dadakan di studio news Liputan 6, SCTV Tower, Senayan, Jakarta, Senin (20/5/2013).
Jokowi juga melihat, dibanding dengan tayangan berita lain, Liputan 6 lebih berkreasi dalam menayangkan sebuah berita.
"Memang apapun sebuah Liputan 6 selalu diperbarui dibenahi. Itu yang saya lihat di Liputan 6, selalu baru dan baru," kata mantan Walikota Solo ini.
Ditanya apakah Jokowi punya presenter news favorit? Jokowi mengaku suka dengan seluruh presenter Liputan 6 SCTV. "Saya itu nggak punya favorit-favoritan. Yang saya lihat beritanya dan presenternya bagus-bagus semua," ucap Jokowi.
Selain Jokowi, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan juga didaulat menjadi presenter news Liputan 6 Petang dalam rangka HUT ke-17 Liputan 6 SCTV. Gita dan Jokowi membawakan sejumlah segmen berita secara bergantian.
Pada akhir acara, Gita menunjukkan kebolehannya memainkan organ sambil menyumbangkan beberapa lagu. Tak lupa lagu terakhir yang dipersembahkan berjudul 'Selamat Ulang Tahun'. Sedangkan Jokowi yang mengaku sebagai penikmat musik turut bernyanyi dan bertepuk tangan.
Sumber :
liputan6.com
Rusun Relokasi Belum Jadi, Jokowi: Keruk Terus Waduk Pluit, Bukan Gusur
Beberapa rusun sebagai tempat relokasi warga yang menjadi penghuni Waduk
Pluit dan bantarannya belum jadi. Baru ada Rusun Cakung dan Marunda
yang siap, sementara lainnya masih akan dibangun. Bila warga menolak
ditempatkan di kedua rusun itu, pengerukan waduk akan terus dilakukan.
"Pengerukannya ini akan terus dilakukan dan akan banyak alat masuk ke sini untuk keruk, keruk, keruk. Tapi bukan menggusur, jangan salah lagi, ini mengeruk waduk," kata Gubernur DKI Jokowi saat meninjau pembongkaran area Waduk Pluit, Jakarta Utara, Senin (20/5/2013).
Pengerukan terus dilakukan karena mengejar musim hujan pada bulan Desember. Pada musim hujan, aliran air dari Cideng dan Ciliwung akan masuk ke Waduk Pluit ini.
"Kalau nggak siap lagi, banjir lagi kita," jelas Jokowi.
Relokasi warga, imbuh Jokowi, masih menunggu ketersediaan rusun. Menunggu ketersediaan rusun yang beberapa di antaranya masih dalam proses pembangunan, setidaknya butuh 6 bulan.
"Ini masih lama, warga masih menunggu rusunnya. Yang ada sekarang rusunnya di Marunda, di Cakung juga ada. Tapi kalau warganya tidak mau yang di sana (Marunda dan Cakung) kita akan siapkan. Di Daan Mogot ada, di Muara Baru ada, dan di luar Batang juga ada. Baru dalam proses persiapan," jelas dia.
Ketika ditanya mengenai dialog dengan warga di sekitar Waduk Pluit, Jokowi mengatakan setiap hari selalu bertemu dengan kelompok-kelompok yang berbeda. Permintaannya, minta disiapkan rusun.
"Ndak, saya kira warga juga tidak ada masalah kok. Paling cuma, 'Pak kami disiapkan rusun, kami dicarikan solusinya'. Ya paling cuma itu aja, nggak ada yang lain," jelas dia.
Rusun-rusun itu, imbuh Jokowi, termasuk utang pengembang yang ditagih sebanyak 680 rusun atau bernilai sekitar Rp 13 triliun.
"Ya sebanyak-banyaknyalah, kita punya 680 kewajiban pengembang yang harus dilaksanakan. Dan itu yang harus kita kejar," tuturnya.
Mengenai ganti rugi, Jokowi mengatakan, "Lah saya tidak tahu".
Soal ganti rugi, Wagub DKI Jakarta Basuki T Purnama menegaskan tak akan ada ganti rugi. "Yang pasti, nggak ada ganti rugi. Kalau kita kasih ganti rugi, besok bisa-bisa ada orang yang buat rumah di Monas," tegas Ahok dalam jamuan makan siang di Balai Agung, Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2013) kemarin.
Sumber :
detik.com
"Pengerukannya ini akan terus dilakukan dan akan banyak alat masuk ke sini untuk keruk, keruk, keruk. Tapi bukan menggusur, jangan salah lagi, ini mengeruk waduk," kata Gubernur DKI Jokowi saat meninjau pembongkaran area Waduk Pluit, Jakarta Utara, Senin (20/5/2013).
Pengerukan terus dilakukan karena mengejar musim hujan pada bulan Desember. Pada musim hujan, aliran air dari Cideng dan Ciliwung akan masuk ke Waduk Pluit ini.
"Kalau nggak siap lagi, banjir lagi kita," jelas Jokowi.
Relokasi warga, imbuh Jokowi, masih menunggu ketersediaan rusun. Menunggu ketersediaan rusun yang beberapa di antaranya masih dalam proses pembangunan, setidaknya butuh 6 bulan.
"Ini masih lama, warga masih menunggu rusunnya. Yang ada sekarang rusunnya di Marunda, di Cakung juga ada. Tapi kalau warganya tidak mau yang di sana (Marunda dan Cakung) kita akan siapkan. Di Daan Mogot ada, di Muara Baru ada, dan di luar Batang juga ada. Baru dalam proses persiapan," jelas dia.
Ketika ditanya mengenai dialog dengan warga di sekitar Waduk Pluit, Jokowi mengatakan setiap hari selalu bertemu dengan kelompok-kelompok yang berbeda. Permintaannya, minta disiapkan rusun.
"Ndak, saya kira warga juga tidak ada masalah kok. Paling cuma, 'Pak kami disiapkan rusun, kami dicarikan solusinya'. Ya paling cuma itu aja, nggak ada yang lain," jelas dia.
Rusun-rusun itu, imbuh Jokowi, termasuk utang pengembang yang ditagih sebanyak 680 rusun atau bernilai sekitar Rp 13 triliun.
"Ya sebanyak-banyaknyalah, kita punya 680 kewajiban pengembang yang harus dilaksanakan. Dan itu yang harus kita kejar," tuturnya.
Mengenai ganti rugi, Jokowi mengatakan, "Lah saya tidak tahu".
Soal ganti rugi, Wagub DKI Jakarta Basuki T Purnama menegaskan tak akan ada ganti rugi. "Yang pasti, nggak ada ganti rugi. Kalau kita kasih ganti rugi, besok bisa-bisa ada orang yang buat rumah di Monas," tegas Ahok dalam jamuan makan siang di Balai Agung, Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2013) kemarin.
Sumber :
detik.com
Keluarkan Biaya Rp15 Miliar, KK Dheraj Puas Garap Film Jokowi
KK Dheeraj, produser film Jokowi mengaku telah mengeluarkan biaya Rp 15 Miliar. Namun, dia merasakan kepuasan batin yang tak terhingga.
"Untuk film insipiratif ini saya mengeluarkan duit Rp 15 miliar. Syutingnya selama sebulan di Solo," kata KK Dheeraj di kepada wartawan di Cafe Musro, Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2013).
Bila selama ini KK Dheeraj yang dikenal memproduseri film horor dan esek-esek itu, namun kali ini dia mengaku memiliki kepuasaan bathin menggarap film Jokowi.
"Waktu bikin film ini rasanya beda, saya dapat kepuasan batin yang luar biasa," pungkasnya.
Seperti diberitakan, K2K Production baru saja merampungkan syuting film Jokowi.
Film besutan sutradara Ashar Kinoi Lubis itu mengangkat cerita masa kecil Joko Widodo alias Jokowi hingga dewasa. Namun, cerita di film tersebut tidak mengangkat cerita karier politik Jokowi yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Film Jokowi ini dibintangi oleh Teuku Rifnu Wikana (Jokowi), Prisia Nasution (Iriana kekasih Jokowi yang kini jadi istrinya), Ayu Diah Pasha (Ibu Jokowi), Susilo Badar (Bapak Jokowi), Landung Simatupang (kakek Jokowiy, dan Ratna Riantiarno (Bu Tarti, saksi hidup dari masa kecil Jokowi).
Film tersebut rencananya akan diputar pada tanggal 20 Juni 2013, bertepatan dengan satu hari sebelum ulang tahun Jokowi dan dua hari menjelang ulang tahun DKI Jakarta.
Sumber :
tribunnews.com
"Untuk film insipiratif ini saya mengeluarkan duit Rp 15 miliar. Syutingnya selama sebulan di Solo," kata KK Dheeraj di kepada wartawan di Cafe Musro, Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2013).
Bila selama ini KK Dheeraj yang dikenal memproduseri film horor dan esek-esek itu, namun kali ini dia mengaku memiliki kepuasaan bathin menggarap film Jokowi.
"Waktu bikin film ini rasanya beda, saya dapat kepuasan batin yang luar biasa," pungkasnya.
Seperti diberitakan, K2K Production baru saja merampungkan syuting film Jokowi.
Film besutan sutradara Ashar Kinoi Lubis itu mengangkat cerita masa kecil Joko Widodo alias Jokowi hingga dewasa. Namun, cerita di film tersebut tidak mengangkat cerita karier politik Jokowi yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Film Jokowi ini dibintangi oleh Teuku Rifnu Wikana (Jokowi), Prisia Nasution (Iriana kekasih Jokowi yang kini jadi istrinya), Ayu Diah Pasha (Ibu Jokowi), Susilo Badar (Bapak Jokowi), Landung Simatupang (kakek Jokowiy, dan Ratna Riantiarno (Bu Tarti, saksi hidup dari masa kecil Jokowi).
Film tersebut rencananya akan diputar pada tanggal 20 Juni 2013, bertepatan dengan satu hari sebelum ulang tahun Jokowi dan dua hari menjelang ulang tahun DKI Jakarta.
Sumber :
tribunnews.com
Jokowi Janji Desak Pengembang Selesaikan Rusun 6 Bulan Ke Depan
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) janji memberikan kompensasi unit rusun sebagai rumah tinggal warga menjadi korban penggusuran. Dia akan mendesak pengembang segera merampungkan proyek-proyek itu.
"Ya kira-kira 6 bulan ini lah kita sudah mulai pembangunan," kata Jokowi kepada wartawan di Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (20/5/2013).
Menurut Jokowi, rusun-rusun ini dapat menampung ratusan warga. Dia berharap proyek itu tuntas tepat waktu.
"Ya sebanyak-banyaknya warga yang harus kita tampung. Kita punya 680 kewajiban pengembang yang harus dilaksanakan. Dan itu yang harus kita kejar," ujarnya.
Sejalan dengan proyek pembangunan rusun, lanjut Jokowi, pihaknya terus melakukan pengerukan waduk agar saat musim hujan pendatang bisa mulai difungsikan. "Pengerukannya akan terus dilakukan dan akan banyak alat masuk ke sini untuk keruk, keruk, keruk. Tapi bukan menggusur, jangan salah lagi, ini mengeruk waduk," imbuh Jokowi.
"Karena nanti pada bulan Desember begitu ada air yang dari cideng, yg dari ciliwung, semuanya akan masuk ke waduk ini. Kalo nggak siap lagi, banjir lagi kita," lanjutnya.
Sumber :
merdeka.com
"Ya kira-kira 6 bulan ini lah kita sudah mulai pembangunan," kata Jokowi kepada wartawan di Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (20/5/2013).
Menurut Jokowi, rusun-rusun ini dapat menampung ratusan warga. Dia berharap proyek itu tuntas tepat waktu.
"Ya sebanyak-banyaknya warga yang harus kita tampung. Kita punya 680 kewajiban pengembang yang harus dilaksanakan. Dan itu yang harus kita kejar," ujarnya.
Sejalan dengan proyek pembangunan rusun, lanjut Jokowi, pihaknya terus melakukan pengerukan waduk agar saat musim hujan pendatang bisa mulai difungsikan. "Pengerukannya akan terus dilakukan dan akan banyak alat masuk ke sini untuk keruk, keruk, keruk. Tapi bukan menggusur, jangan salah lagi, ini mengeruk waduk," imbuh Jokowi.
"Karena nanti pada bulan Desember begitu ada air yang dari cideng, yg dari ciliwung, semuanya akan masuk ke waduk ini. Kalo nggak siap lagi, banjir lagi kita," lanjutnya.
Sumber :
merdeka.com
Ahmad Husen Alaydrus: Jokowi Salah Perhitungan, Rp 1,2 Triliun Terbuang!
Anggota Komisi C bidang Anggaran DPRD DKI Jakarta Ahmad Husen Alaydrus menilai Gubernur Joko Widodo (Jokowi)
salah perhitungan dalam menjalankan program Kartu Jakarta Sehat (KJS).
Menurut dia, kesalahan itu menyebabkan Rp 1,2 triliun terbuang percuma.
Husein menilai, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), warga ibukota yang tergolong miskin sejumlah 1,2 juta jiwa. Tetapi, KJS mengcover 4,7 juta jiwa, yang artinya terdapat 3,5 juta jiwa warga DKI tidak tergolong miskin juga turut tercover.
"Waktu Jamkesda yang dulu, data warga miskin yang mendapatkan layanan kesehatan gratis sebanyak 1,2 juta orang. Data 1,2 juta orang itu sangat jelas. Sedangkan 3,5 juta orang lainnya tidak jelas datanya. Siapa mereka itu, sampai bisa mendapatkan KJS. Ini sistem manajemen yang tidak benar," kata Husein di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jl Kebon Sirih, Senin (20/5/2013).
Dia menambahkan, dengan salah perhitungan itu jumlah anggaran untuk KJS senilai Rp 1,2 triliun jadi tak berguna.
Menurut Husein, kesalahan perhitungan itu juga menjadi penyebab mundurnya 16 rumah sakit dari program KJS. Atas hal itu, dia kemudian meminta agar Jokowi segera melakukan perbaikan terhadap sistem KJS.
"Kalau tidak diperbaiki, walau APBD-nya sampai Rp 1.000 triliun pun, kalau manajemennya masih seperti ini, ya tetap amburadul, jebol. Karena tidak jelas siapa yang mendapatkannya. Jokowi sudah salah perhitungan. Wajar saja kewalahan dengan premi sekecil itu. Minimal itu premi Rp 40.000 hingga Rp 50.000," terang Husein.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menilai perlu ada koreksi terhadap sistem KJS. Sebab, menurut dia, pelaksanaan KJS ternyata masih menggunakan sistem lama yang tidak efektif.
"Kami ingin perbaiki sistem yang sudah lama, yang memang harus dibenahi," ujar Jokowi di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (20/5/2013).
Sumber :
merdeka.com
Husein menilai, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), warga ibukota yang tergolong miskin sejumlah 1,2 juta jiwa. Tetapi, KJS mengcover 4,7 juta jiwa, yang artinya terdapat 3,5 juta jiwa warga DKI tidak tergolong miskin juga turut tercover.
"Waktu Jamkesda yang dulu, data warga miskin yang mendapatkan layanan kesehatan gratis sebanyak 1,2 juta orang. Data 1,2 juta orang itu sangat jelas. Sedangkan 3,5 juta orang lainnya tidak jelas datanya. Siapa mereka itu, sampai bisa mendapatkan KJS. Ini sistem manajemen yang tidak benar," kata Husein di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jl Kebon Sirih, Senin (20/5/2013).
Dia menambahkan, dengan salah perhitungan itu jumlah anggaran untuk KJS senilai Rp 1,2 triliun jadi tak berguna.
Menurut Husein, kesalahan perhitungan itu juga menjadi penyebab mundurnya 16 rumah sakit dari program KJS. Atas hal itu, dia kemudian meminta agar Jokowi segera melakukan perbaikan terhadap sistem KJS.
"Kalau tidak diperbaiki, walau APBD-nya sampai Rp 1.000 triliun pun, kalau manajemennya masih seperti ini, ya tetap amburadul, jebol. Karena tidak jelas siapa yang mendapatkannya. Jokowi sudah salah perhitungan. Wajar saja kewalahan dengan premi sekecil itu. Minimal itu premi Rp 40.000 hingga Rp 50.000," terang Husein.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menilai perlu ada koreksi terhadap sistem KJS. Sebab, menurut dia, pelaksanaan KJS ternyata masih menggunakan sistem lama yang tidak efektif.
"Kami ingin perbaiki sistem yang sudah lama, yang memang harus dibenahi," ujar Jokowi di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (20/5/2013).
Sumber :
merdeka.com
Jokowi: Warga Justru Bantu Bongkar Bangunan Liar di Waduk Pluit
Pembongkaran bangunan liar di bantaran Waduk Pluit hari ini berjalan tanpa halangan. Bahkan warga ikut membantu pembongkaran.
"Kita ini yang mau bongkar ini, yang bantu kan warga semua," kata Jokowi saat meninjau pembongkaran lapangan futsal di Waduk Pluit, Jakarta Utara, Senin (20/5/2013).
Meski bantaran Waduk Pluit dibelit berbagai kepentingan, tapi Jokowi memastikan pembongkaran di sisi barat waduk tidak mendapat tekanan dari pihak manapun.
"Memang disininya banyak macem-macem, banyak kepentingan-kepentingan. Kita ngerti, tapi nggak perlu kita ini kan-lah," imbuhnya.
Bagi Pemprov DKI, solusi bagi warga yang sudah belasan atau puluhan tahun tinggal di bantaran waduk harus diutamakan. "Yang penting solusi bagi warga itu yang penting," ujarnya.
Jokowi datang ke bantaran Waduk Pluit untuk melihat langsung pembongkaran arena futsal. Pembongkaran bangunan di bantaran waduk menjadi polemik antara sejumlah warga yang mengklaim warga Pluit dengan Pemprov DKI.
Sumber :
detik.com
"Kita ini yang mau bongkar ini, yang bantu kan warga semua," kata Jokowi saat meninjau pembongkaran lapangan futsal di Waduk Pluit, Jakarta Utara, Senin (20/5/2013).
Meski bantaran Waduk Pluit dibelit berbagai kepentingan, tapi Jokowi memastikan pembongkaran di sisi barat waduk tidak mendapat tekanan dari pihak manapun.
"Memang disininya banyak macem-macem, banyak kepentingan-kepentingan. Kita ngerti, tapi nggak perlu kita ini kan-lah," imbuhnya.
Bagi Pemprov DKI, solusi bagi warga yang sudah belasan atau puluhan tahun tinggal di bantaran waduk harus diutamakan. "Yang penting solusi bagi warga itu yang penting," ujarnya.
Jokowi datang ke bantaran Waduk Pluit untuk melihat langsung pembongkaran arena futsal. Pembongkaran bangunan di bantaran waduk menjadi polemik antara sejumlah warga yang mengklaim warga Pluit dengan Pemprov DKI.
Sumber :
detik.com
Jokowi Blusukan ke Waduk Pluit
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengecek pembongkaran lapangan futsal di
atas Waduk Pluit. Di waduk ini, Jokowi dikerubuti dan disalami warga.
Bahkan ada yang meminta direlokasi. Tidak ada ketegangan yang tampak.
Jokowi ke Waduk Pluit, Jakarta Utara, dengan menaiki Toyota Innova, Senin (20/5/2013) pukul 14.45 WIB. Dia langsung mengecek pembongkaran lapangan futsal. Di lokasi pembongkaran tampak 4 ekskavator dan beberapa kuli menghancurkan lapangan futsal di pinggiran waduk yang akan dinormalisasi itu. 4 Ekskavator terlihat mengeruk enceng gondok di waduk, 2 lainnya terlihat di bantaran waduk.
"Cuma ngecek pembongkaran ini," kata Jokowi.
Tak lama meninjau pembongkaran, Jokowi kemudian kembali lagi. Dalam perjalanan kembali dari lokasi pembongkaran, Jokowi dikerubungi warga untuk salaman. Dia malah sempat dicurhati warga.
"Pak ini kalau yang ngontrak gimana?" tanya warga itu.
"Emang maunya gimana?" tanya balik Jokowi.
"Maunya dipindahin juga Pak," sahut warga itu.
"Iya ini nanti dipikir, ada KTP-nya kan?" cecar Jokowi.
"Ada Pak," tutur warga itu.
"Oke, nanti dipikir yaa," janji Jokowi.
Setelah itu Jokowi membagikan buku tulis kepada anak-anak. Sekitar pukul 15.00 WIB, Jokowi menaiki Innova pergi dari Waduk Pluit.
Pembongkaran Waduk Pluit belakangan ini menjadi polemik antara Komnas HAM dan Pemprov DKI Jakarta.
Sumber :
kompas.com
Jokowi ke Waduk Pluit, Jakarta Utara, dengan menaiki Toyota Innova, Senin (20/5/2013) pukul 14.45 WIB. Dia langsung mengecek pembongkaran lapangan futsal. Di lokasi pembongkaran tampak 4 ekskavator dan beberapa kuli menghancurkan lapangan futsal di pinggiran waduk yang akan dinormalisasi itu. 4 Ekskavator terlihat mengeruk enceng gondok di waduk, 2 lainnya terlihat di bantaran waduk.
"Cuma ngecek pembongkaran ini," kata Jokowi.
Tak lama meninjau pembongkaran, Jokowi kemudian kembali lagi. Dalam perjalanan kembali dari lokasi pembongkaran, Jokowi dikerubungi warga untuk salaman. Dia malah sempat dicurhati warga.
"Pak ini kalau yang ngontrak gimana?" tanya warga itu.
"Emang maunya gimana?" tanya balik Jokowi.
"Maunya dipindahin juga Pak," sahut warga itu.
"Iya ini nanti dipikir, ada KTP-nya kan?" cecar Jokowi.
"Ada Pak," tutur warga itu.
"Oke, nanti dipikir yaa," janji Jokowi.
Setelah itu Jokowi membagikan buku tulis kepada anak-anak. Sekitar pukul 15.00 WIB, Jokowi menaiki Innova pergi dari Waduk Pluit.
Pembongkaran Waduk Pluit belakangan ini menjadi polemik antara Komnas HAM dan Pemprov DKI Jakarta.
Sumber :
kompas.com
Masalah KJS Menurut Jokowi
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menyebut ada 3 masalah seputar
Kartu Jakarta Sehat (KJS). Masalah-masalah itu harus segera dibenahi.
"Pertama, RS yang terlalu profit oriented. Terlalu orientasinya keuntungan," kata Jokowi sambil tertawa ha...ha...ha.
Hal ini disampaikan Jokowi di Gedung Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2013).
Jokowi mengatakan masalah kedua yakni banyaknya biaya-biaya yang tidak dikendalikan dengan manajemen kontrol yang baik.
"Biaya-biaya yang tidak efisien sehingga angka Rp 23.000 itu masih dirasa tidak cukup. Baru direkalkulasi lagi," ujar Jokowi yang terbalut seragam Korpri ini.
Ketiga, lanjut dia, penerapan program pembayaran klaim kesehatan melalui KJS ini menggunakan sistem INA-CBGs.
"Kalau dulu, nggak ada itu kan orang mau pakai obat apapun kan bisa diputuskan sendiri. Sekarang kan semuanya diatur dengan sistem," kata dia.
Jokowi mengaku masih menggodok sanksi-sanksi terhadap RS yang mencabut pelayanan KJS. Ia juga masih menimbang-nimbang rencana kenaikan premi KJS.
"Baru hitung-hitungan. Kalau premi dinaikkan, berarti kan kita harus menambah APBD. Belum (terima). Masih kita rekalkulasi lagi baru kita bicara," kata dia.
Pria asli Solo ini menolak untuk mengajukan usulan kenaikan APBD setiap terbentur masalah, termasuk KJS.
"Ya dinaikkan gimana? Kalau dinaikkan ngomong ke dewan dong. Kita juga tidak mau setiap masalah naikin anggaran. Kita juga mau memperbaiki sistem-sistem yang sudah lama dan memang sudah dibenahi," papar Jokowi.
Jadi keputusannya di Dewan? "Kalau budgeting di dewan. Kalau premi juga bisa di kita tapi kalau premi naik kan budget juga akan naik," jawab Jokowi.
Menurut dia, diperlukan pembenahan sistem KJS. "Untuk sistem yang berjalan itu biasa, koreksi perlu diperbaiki, perlu dibenahi itu biasa. Ini bukan pada sistemnya tapi pada 1, 2, 3 tadi itu," kata Jokowi.
Sumber :
detik.com
"Pertama, RS yang terlalu profit oriented. Terlalu orientasinya keuntungan," kata Jokowi sambil tertawa ha...ha...ha.
Hal ini disampaikan Jokowi di Gedung Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2013).
Jokowi mengatakan masalah kedua yakni banyaknya biaya-biaya yang tidak dikendalikan dengan manajemen kontrol yang baik.
"Biaya-biaya yang tidak efisien sehingga angka Rp 23.000 itu masih dirasa tidak cukup. Baru direkalkulasi lagi," ujar Jokowi yang terbalut seragam Korpri ini.
Ketiga, lanjut dia, penerapan program pembayaran klaim kesehatan melalui KJS ini menggunakan sistem INA-CBGs.
"Kalau dulu, nggak ada itu kan orang mau pakai obat apapun kan bisa diputuskan sendiri. Sekarang kan semuanya diatur dengan sistem," kata dia.
Jokowi mengaku masih menggodok sanksi-sanksi terhadap RS yang mencabut pelayanan KJS. Ia juga masih menimbang-nimbang rencana kenaikan premi KJS.
"Baru hitung-hitungan. Kalau premi dinaikkan, berarti kan kita harus menambah APBD. Belum (terima). Masih kita rekalkulasi lagi baru kita bicara," kata dia.
Pria asli Solo ini menolak untuk mengajukan usulan kenaikan APBD setiap terbentur masalah, termasuk KJS.
"Ya dinaikkan gimana? Kalau dinaikkan ngomong ke dewan dong. Kita juga tidak mau setiap masalah naikin anggaran. Kita juga mau memperbaiki sistem-sistem yang sudah lama dan memang sudah dibenahi," papar Jokowi.
Jadi keputusannya di Dewan? "Kalau budgeting di dewan. Kalau premi juga bisa di kita tapi kalau premi naik kan budget juga akan naik," jawab Jokowi.
Menurut dia, diperlukan pembenahan sistem KJS. "Untuk sistem yang berjalan itu biasa, koreksi perlu diperbaiki, perlu dibenahi itu biasa. Ini bukan pada sistemnya tapi pada 1, 2, 3 tadi itu," kata Jokowi.
Sumber :
detik.com
Gerindra: Elektabilitas Jokowi Tinggi Karena Kinerjanya Bagus
Partai Gerindra angkat bicara terkait melonjaknya elektabilitas gubernur
DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Gerindra melihat lonjakan
elektabilitas Jokowi sangat terkait dengan kinerjanya.
"Wajar saja kalau survei Jokowi tinggi karena sedang menjabat dan aktif menjalankan tugasnya. Sejauh ini kinerjanya bagus dan selalu diliput media," kata Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon, Senin (20/5/2013).
Fenomena Jokowi memang belum berakhir. Elektabilitas Jokowi terus meroket. Di survei terakhir bahkan Jokowi mengungguli elektabilitas capres Gerindra Prabowo Subianto.
Namun Gerindra yakin Prabowo akan memenangi Pilpres 2014. Sejauh ini serangan udara yang digencarkan Prabowo dirasa cukup efektif dan menempatkan Prabowo sebagai capres paling top versi internal Gerindra.
'Serangan udara' di berbagai media ini akan digulirkan sampai Pilpres 2014. Diharapkan Gerindra sukses mengantar Prabowo ke kursi RI 1 yang dicita-citakan sejak Pilpres 2009 lalu.
"'Serangan udara' sampai Pemilu, kita harapkan bisa menyampaikan pesan dan sikap Gerindra dan Pak Prabowo di berbagai hal," tegas Fadli.
Sumber :
detik.com
"Wajar saja kalau survei Jokowi tinggi karena sedang menjabat dan aktif menjalankan tugasnya. Sejauh ini kinerjanya bagus dan selalu diliput media," kata Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon, Senin (20/5/2013).
Fenomena Jokowi memang belum berakhir. Elektabilitas Jokowi terus meroket. Di survei terakhir bahkan Jokowi mengungguli elektabilitas capres Gerindra Prabowo Subianto.
Namun Gerindra yakin Prabowo akan memenangi Pilpres 2014. Sejauh ini serangan udara yang digencarkan Prabowo dirasa cukup efektif dan menempatkan Prabowo sebagai capres paling top versi internal Gerindra.
'Serangan udara' di berbagai media ini akan digulirkan sampai Pilpres 2014. Diharapkan Gerindra sukses mengantar Prabowo ke kursi RI 1 yang dicita-citakan sejak Pilpres 2009 lalu.
"'Serangan udara' sampai Pemilu, kita harapkan bisa menyampaikan pesan dan sikap Gerindra dan Pak Prabowo di berbagai hal," tegas Fadli.
Sumber :
detik.com
Demokrat: KJS Jokowi Belum Siap
Sebanyak 16 rumah sakit swasta di DKI Jakarta akhirnya memutuskan untuk
keluar dari sistem pelayanan program Kartu Jakarta Sehat (KJS).
Mundurnya RS swasta ini sudah diprediksi karena memang profit oriented.
"Ini hak mereka. Rumah sakit swasta pun jelas profit oriented. Sejak kapan mereka punya kewajiban moril kepada siapa pun?" tutur dr Nova Riyanti Yusuf, anggota Komisi Kesehatan DPR dari PD yang juga seorang dokter jiwa ini.
Hal itu disampaikan dokter cantik yang akrab disapa Noriyu itu dalam acara peluncuran unit mobil Mental Health Service di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Senin (20/5/2013),
Menurutnya, reaksi ke-16 RS swasta tersebut wajar adanya. Ia berpendapat bahwa KJS yang disosialissasikan dan diimplementasikan terlalu dini.
"Segala sesuatu yang tidak disosialisasikan tapi segera diimplementasikan akan membuat shock nantinya. Jadi saya pikir ini reaksi wajar. Awalnya rumah sakit itu kan sudah menyetujui. Tapi setelah menjalankan, ternyata mereka menemukan kesulitan," ujarnya.
Lebih lanjut lagi, Noriyu mengatakan bahwa ke-16 rumah sakit tersebut pasti sudah berani mengambil langkah karena tidak ada pilihan lain. Sebab pihak rumah sakit pasti memperhitungkan bahwa tidak mungkin tetap bisa beroperasi dengan memangkas prosedur operasional atau gaji dokter.
"Saya sudah prediksi akan jadi seperti ini, saya tidak sangka rumah sakit ini berani untuk mundur. Saya sudah bilang ini pasti kacau, ternyata benar kan? 16 rumah sakit mundur," ujarnya.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sebagai penanggung jawab dan penggagas program KJS seharusnya berlapang dada mengakui bahwa program ini belum siap.
"Kalau memang KJS belum siap, ya Pak Jokowi harus legowo mengatakan bahwa itu memang belum siap. Karena kalau kita lihat pada BPJS, itu berapa lama disiapkan PP-nya, kemudian berapa lama sosialisasinya di masyarakat dilakukan. Jadi tidak bisa kalau suatu program seperti KJS ini ujug-ujug diluncurkan tanpa MoU dari rumah sakit yang bersangkutan apa saja," tutur Noriyu yang saat Pilkada DKI menjadi juru bicara tim kampanye Foke-Nara.
Sumber :
detik.com
"Ini hak mereka. Rumah sakit swasta pun jelas profit oriented. Sejak kapan mereka punya kewajiban moril kepada siapa pun?" tutur dr Nova Riyanti Yusuf, anggota Komisi Kesehatan DPR dari PD yang juga seorang dokter jiwa ini.
Hal itu disampaikan dokter cantik yang akrab disapa Noriyu itu dalam acara peluncuran unit mobil Mental Health Service di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Senin (20/5/2013),
Menurutnya, reaksi ke-16 RS swasta tersebut wajar adanya. Ia berpendapat bahwa KJS yang disosialissasikan dan diimplementasikan terlalu dini.
"Segala sesuatu yang tidak disosialisasikan tapi segera diimplementasikan akan membuat shock nantinya. Jadi saya pikir ini reaksi wajar. Awalnya rumah sakit itu kan sudah menyetujui. Tapi setelah menjalankan, ternyata mereka menemukan kesulitan," ujarnya.
Lebih lanjut lagi, Noriyu mengatakan bahwa ke-16 rumah sakit tersebut pasti sudah berani mengambil langkah karena tidak ada pilihan lain. Sebab pihak rumah sakit pasti memperhitungkan bahwa tidak mungkin tetap bisa beroperasi dengan memangkas prosedur operasional atau gaji dokter.
"Saya sudah prediksi akan jadi seperti ini, saya tidak sangka rumah sakit ini berani untuk mundur. Saya sudah bilang ini pasti kacau, ternyata benar kan? 16 rumah sakit mundur," ujarnya.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sebagai penanggung jawab dan penggagas program KJS seharusnya berlapang dada mengakui bahwa program ini belum siap.
"Kalau memang KJS belum siap, ya Pak Jokowi harus legowo mengatakan bahwa itu memang belum siap. Karena kalau kita lihat pada BPJS, itu berapa lama disiapkan PP-nya, kemudian berapa lama sosialisasinya di masyarakat dilakukan. Jadi tidak bisa kalau suatu program seperti KJS ini ujug-ujug diluncurkan tanpa MoU dari rumah sakit yang bersangkutan apa saja," tutur Noriyu yang saat Pilkada DKI menjadi juru bicara tim kampanye Foke-Nara.
Sumber :
detik.com
Pengamat: Jokowi Berbeda Dengan Pejabat Lain
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo dinilai pengamat Komunikasi Publik
dari Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati, berbeda dari pejabat
lainnya.
Penilaian itu tak lepas dari sosok Jokowi yang disebut Devie tak banyak berkomentar layaknya pengamat. Devie mencontohkan, untuk kasus relokasi warga bantaran waduk Pluit. Paling tidak, Devie melihat jokowi sudah cukup berani mengambil keputusan dengan merelokasi warga dengan berbagai risiko.
"Terkecuali Jokowi, dia tidak jadi pengamat seperti yang lainnya," kata Devie ketika dihubungi ROL, Senin (20/5/2013)
Justru Devie menyayangkan, sikap pejabat lain yang bisanya hanya melempar polemik publik dengan bersikap sebagai pengamat. Jika ada masalah konstalasi dialog publik, menurutnya adalah hal yang wajar dalam iklim demokrasi di Indonesia. "Kalau tidak ingin ada rakyat protes, mending kita kembali ke masa tirani yang lalu," tuturnya.
Sebenarnya dalam iklim demokrasi sangat sulit membungkam aspirasi publik yang ada. Publik terbagi atas tiga kelompok, yaitu setuju, tidak setuju dan netral. Ini tergantung derajat kepentingan masing-masing. Yang netral masuk ke dalam golongan yang tidak memiliki kepentingan apa-apa, dan bahkan tidak peduli.
Mereka yang netral, tutur Devie, biasanya tidak memiliki persinggungan langsung dengan pemerintah. Berbeda dengan publik yang setuju atau tidak setuju, mereka punya persinggungan langsung dengan kebijakan tersebut
Sementara Jokowi, dalam berbagai kebijakan sudah berani mengambil keputusan. Jokowi dinilai Devie dapat mengentaskan kebijakan tersebut dengan menjalankannya. Selain itu, dalam pengamatannya, Jokowi juga memberikan alasan dan sudah menyiapkan berbagai keperluan untuk kebijakan tersebut.
Jokowi tidak menjadi seorang pengamat seperti yang dilakukan pejabat publik yang lainnya yang justru sangat menyesatkan ketika menjadi pengamat. "Yang seharusnya penjabat tersebut menjalankan kebijakan itu," katanya mengakhiri.
Sumber :
republika.co.id
Penilaian itu tak lepas dari sosok Jokowi yang disebut Devie tak banyak berkomentar layaknya pengamat. Devie mencontohkan, untuk kasus relokasi warga bantaran waduk Pluit. Paling tidak, Devie melihat jokowi sudah cukup berani mengambil keputusan dengan merelokasi warga dengan berbagai risiko.
"Terkecuali Jokowi, dia tidak jadi pengamat seperti yang lainnya," kata Devie ketika dihubungi ROL, Senin (20/5/2013)
Justru Devie menyayangkan, sikap pejabat lain yang bisanya hanya melempar polemik publik dengan bersikap sebagai pengamat. Jika ada masalah konstalasi dialog publik, menurutnya adalah hal yang wajar dalam iklim demokrasi di Indonesia. "Kalau tidak ingin ada rakyat protes, mending kita kembali ke masa tirani yang lalu," tuturnya.
Sebenarnya dalam iklim demokrasi sangat sulit membungkam aspirasi publik yang ada. Publik terbagi atas tiga kelompok, yaitu setuju, tidak setuju dan netral. Ini tergantung derajat kepentingan masing-masing. Yang netral masuk ke dalam golongan yang tidak memiliki kepentingan apa-apa, dan bahkan tidak peduli.
Mereka yang netral, tutur Devie, biasanya tidak memiliki persinggungan langsung dengan pemerintah. Berbeda dengan publik yang setuju atau tidak setuju, mereka punya persinggungan langsung dengan kebijakan tersebut
Sementara Jokowi, dalam berbagai kebijakan sudah berani mengambil keputusan. Jokowi dinilai Devie dapat mengentaskan kebijakan tersebut dengan menjalankannya. Selain itu, dalam pengamatannya, Jokowi juga memberikan alasan dan sudah menyiapkan berbagai keperluan untuk kebijakan tersebut.
Jokowi tidak menjadi seorang pengamat seperti yang dilakukan pejabat publik yang lainnya yang justru sangat menyesatkan ketika menjadi pengamat. "Yang seharusnya penjabat tersebut menjalankan kebijakan itu," katanya mengakhiri.
Sumber :
republika.co.id
Kalah Top dari Jokowi, Ical Terus Gencarkan 'Serangan Udara'
Hampir setiap hari Ketua Umum Partai Golkar Aburial (Ical) menebar
'serangan udara' sebagai salah satu kandidat capres. Namun elektabilitas
Ical belum juga meroket, bahkan masih tertinggal dari gubernur DKI
Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Namun Ical belum menyerah.
"Serangan udara tidak akan berhenti sampai tujuan tercapai," kata Wasekjen Partai Golkar Nurul Arifin, Senin (20/5/2013).
Di sejumlah survei capres, Ical hanya menempati jajaran 5 besar capres. Sementara Golkar memuncaki survei parpol jika Pemilu digelar saat ini. Golkar berupaya elektabilitas Ical ikut terdongkrak.
"Kita bekerja terus, survei masih di kisaran tiga besar terus. Itu kan peluang," kata Nurul.
Golkar sendiri memprediksi hanya akan ada maksimal 5 pasang capres di Pilpres 2014. "Toh capresnya kami prediksikan tidak akan lebih dari lima pasang. Kami percaya kerja keras pasti membuahkan hasil yang bagus," tegasnya.
Selain Ical, sejumlah kandidat capres lain juga terus melancarkan 'serangan udara'. Seperti capres Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Hanura Wiranto, Mahfud MD, Dahlan Iskan, Gita Wirjawan, hingga Marzuki Alie. Sementara Jokowi yang terus memuncaki survei capres belum ingin memikirkan peluangnya di Pilpres 2014.
Sumber :
detik.com
"Serangan udara tidak akan berhenti sampai tujuan tercapai," kata Wasekjen Partai Golkar Nurul Arifin, Senin (20/5/2013).
Di sejumlah survei capres, Ical hanya menempati jajaran 5 besar capres. Sementara Golkar memuncaki survei parpol jika Pemilu digelar saat ini. Golkar berupaya elektabilitas Ical ikut terdongkrak.
"Kita bekerja terus, survei masih di kisaran tiga besar terus. Itu kan peluang," kata Nurul.
Golkar sendiri memprediksi hanya akan ada maksimal 5 pasang capres di Pilpres 2014. "Toh capresnya kami prediksikan tidak akan lebih dari lima pasang. Kami percaya kerja keras pasti membuahkan hasil yang bagus," tegasnya.
Selain Ical, sejumlah kandidat capres lain juga terus melancarkan 'serangan udara'. Seperti capres Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Hanura Wiranto, Mahfud MD, Dahlan Iskan, Gita Wirjawan, hingga Marzuki Alie. Sementara Jokowi yang terus memuncaki survei capres belum ingin memikirkan peluangnya di Pilpres 2014.
Sumber :
detik.com
Jokowi, Tegurlah Ahok...
Pernyataan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama selama
terkait penolakan warga Muara Baru untuk direlokasi dinilai malah
memperkeruh suasana proses penataan Waduk Pluit. Gubernur DKI Jakarta
Joko Widodo diminta untuk menegur wakilnya itu.
"Pak Wagub mestinya bisa menahan diri dulu untuk memberi komentar dan reaksi negatif masyarakat di sana. Yang terjadi sekarang, kita malah terjebak perseteruan tersebut," kata pengamat perkotaan Nirwono Joga saat dihubungi wartawan, Senin (20/5/2013).
Dia mendorong Jokowi lebih rutin memberikan teguran kepada Basuki agar lebih arif dalam memberikan pernyataan kepada publik. Dalam hal ini, perlu ketegasan Jokowi sebagai Gubernur DKI untuk menegur bawahannya, sehingga upaya relokasi dan normalisasi cepat terwujud.
"Gubernur harus memberikan teguran, minimal teguran halus kepada Wagub agar tidak memperkeruh suasana dengan pernyataan beliau yang kontraproduktif dengan Komnas HAM atau dengan kelompok warga," kata Akademisi Universitas Trisakti itu.
Ia juga berharap Jokowi membagi tugas yang jelas antara dirinya dengan Basuki. Hal tersebut dilakukan agar keduanya dapat fokus menyelesaikan permasalah Ibu Kota.
Urusan penyelesaian eksternal seperti memenuhi panggilan Komnas HAM, kata dia, lebih baik ditangani oleh Gubernur. Sedangkan urusan internal birokrasi ke dalam dipegang oleh Wagub. Contohnya, dengan mengefektifkan peran lurah-camat di daerah Waduk Pluit untuk melakukan sosialisasi warga.
Nirwono melanjutkan, lurah dan camat sebagai penguasa wilayah sebagai pihak yang paling banyak memberikan masukan dalam penyelesaian permasalahan tersebut. "Itu tugas Wagub, kalau enggak kerja baik, dengan adanya lelang jabatan, Wagub bisa langsung ganti dan tunjuk lurah-camat baru yang bisa kerja dengan baik," ujar Nirwono.
Sumber :
kompas.com
"Pak Wagub mestinya bisa menahan diri dulu untuk memberi komentar dan reaksi negatif masyarakat di sana. Yang terjadi sekarang, kita malah terjebak perseteruan tersebut," kata pengamat perkotaan Nirwono Joga saat dihubungi wartawan, Senin (20/5/2013).
Dia mendorong Jokowi lebih rutin memberikan teguran kepada Basuki agar lebih arif dalam memberikan pernyataan kepada publik. Dalam hal ini, perlu ketegasan Jokowi sebagai Gubernur DKI untuk menegur bawahannya, sehingga upaya relokasi dan normalisasi cepat terwujud.
"Gubernur harus memberikan teguran, minimal teguran halus kepada Wagub agar tidak memperkeruh suasana dengan pernyataan beliau yang kontraproduktif dengan Komnas HAM atau dengan kelompok warga," kata Akademisi Universitas Trisakti itu.
Ia juga berharap Jokowi membagi tugas yang jelas antara dirinya dengan Basuki. Hal tersebut dilakukan agar keduanya dapat fokus menyelesaikan permasalah Ibu Kota.
Urusan penyelesaian eksternal seperti memenuhi panggilan Komnas HAM, kata dia, lebih baik ditangani oleh Gubernur. Sedangkan urusan internal birokrasi ke dalam dipegang oleh Wagub. Contohnya, dengan mengefektifkan peran lurah-camat di daerah Waduk Pluit untuk melakukan sosialisasi warga.
Nirwono melanjutkan, lurah dan camat sebagai penguasa wilayah sebagai pihak yang paling banyak memberikan masukan dalam penyelesaian permasalahan tersebut. "Itu tugas Wagub, kalau enggak kerja baik, dengan adanya lelang jabatan, Wagub bisa langsung ganti dan tunjuk lurah-camat baru yang bisa kerja dengan baik," ujar Nirwono.
Sumber :
kompas.com
Jokowi-Ahok Rapat Bahas Penggusuran
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan akan
membahas lebih lanjut terkait rencana penggusuran rumah warga Kampung
Sumur, Buaran, Jakarta Timur, atau dikenal juga dengan Kampung Madura.
"Ini mau dirapatkan dengan Pak Gubernur," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Senin (20/5/2013).
Lebih lanjut, Basuki menjelaskan kalau warga tidak boleh asal menduduki tanah milik orang lain. Terlebih apabila bangunan itu tidak mendapatkan izin, maka akan digusur oleh pihak Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) DKI.
"Bangunlah di tanah negara, nanti anda dapat uang ganti rugi. Itu pelajaran yang salah," tegas mantan Bupati Belitung Timur itu.
Untuk diketahui sebelumnya, warga Kampung Madura, yang terancam digusur melakukan aksi memblokade Koridor XI rute Kampung Melayu-Pulo Gebang agar suara mereka didengar. Pemblokadean dilakukan warga sejak pukul 07.30 WIB, Sabtu (18/5/2013) lalu, dengan memaksa kendaraan roda empat berhenti, tepat di depan kantor PMI Jakarta Timur, Jalan I Gusti Ngurah Rai.
Kendaraan roda empat, termasuk bus transjakarta, bannya mereka kempeskan. Sehingga membuat kemacetan cukup panjang. Setelah dijanjikan akan berdialog dengan Wali Kota Jakarta Timur dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, warga membubarkan diri.
Menurut perwakilan warga Kampung Sumur, H Mukhlis, aksi berawal karena PT Graha Cipta Karisma tiba-tiba meminta warga untuk segera meninggalkan tanah yang selama ini mereka tinggali. Namun, warga tidak pernah diajak berdialog. Tanah yang mereka tempati tersebut, menurut Mukhlis, statusnya berdasarkan putusan PK dari MA kembali ke nol, tidak ada putusan milik pihak tertentu.
Sumber :
kompas.com
"Ini mau dirapatkan dengan Pak Gubernur," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Senin (20/5/2013).
Lebih lanjut, Basuki menjelaskan kalau warga tidak boleh asal menduduki tanah milik orang lain. Terlebih apabila bangunan itu tidak mendapatkan izin, maka akan digusur oleh pihak Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) DKI.
"Bangunlah di tanah negara, nanti anda dapat uang ganti rugi. Itu pelajaran yang salah," tegas mantan Bupati Belitung Timur itu.
Untuk diketahui sebelumnya, warga Kampung Madura, yang terancam digusur melakukan aksi memblokade Koridor XI rute Kampung Melayu-Pulo Gebang agar suara mereka didengar. Pemblokadean dilakukan warga sejak pukul 07.30 WIB, Sabtu (18/5/2013) lalu, dengan memaksa kendaraan roda empat berhenti, tepat di depan kantor PMI Jakarta Timur, Jalan I Gusti Ngurah Rai.
Kendaraan roda empat, termasuk bus transjakarta, bannya mereka kempeskan. Sehingga membuat kemacetan cukup panjang. Setelah dijanjikan akan berdialog dengan Wali Kota Jakarta Timur dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, warga membubarkan diri.
Menurut perwakilan warga Kampung Sumur, H Mukhlis, aksi berawal karena PT Graha Cipta Karisma tiba-tiba meminta warga untuk segera meninggalkan tanah yang selama ini mereka tinggali. Namun, warga tidak pernah diajak berdialog. Tanah yang mereka tempati tersebut, menurut Mukhlis, statusnya berdasarkan putusan PK dari MA kembali ke nol, tidak ada putusan milik pihak tertentu.
Sumber :
kompas.com
Tiba-tiba, Sutiyoso Datangi Jokowi
Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso tiba-tiba datang ke Balai Kota.
Dia menyarankan Gubernur Joko Widodo (Jokowi) membentuk sebuah yayasan
yang bergerak di bidang penyaluran beasiswa.
Saran ini diberikan mengingat pelaksanaan program Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang selama ini tidak menyentuh jenjang pendidikan tinggi.
"Sekarang sudah ada KJP. Kita sarankan ke gubernur lebih baik membentuk yayasan beasiswa ini ditujukan bagi mahasiswa yang berprestasi tetapi dari keluarga miskin. Sementara yang SMA ke bawah supaya dicover ke KJP," ujar Sutiyoso usai bertemu Jokowi di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (20/5/2013).
Sutiyoso mengatakan, saran pembentukan yayasan beasiswa ini didasarkan pada kemungkinan adanya tumpang tindih dalam pelaksanaan KJP. Selain itu, juga dimaksudkan agar KJP dapat berjalan dengan lebih tepat sasaran.
"Supaya tidak ada overlap. Nanti bisa double, makanya kita sarankan dipisah-pisah saja," kata Sutiyoso.
Selanjutnya, terang Sutiyoso, pembentukan yayasan beasiswa itu dapat membantu banyak mahasiswa. Selain itu, program ini juga akan dapat meningkatkan citra Jakarta.
"Ada 11 ribu mahasiswa,tapi itu perlu seleksi. Program itu juga membawa nama baik bagi DKI di forum internasional maupun nasional," ujar dia.
Selama Pilgub lalu, Sutiyoso dikenal sebagai pendukung Fauzi Bowo, rival Jokowi. Sutiyoso juga kerap mengritik Jokowi.
Sumber :
merdeka.com
Saran ini diberikan mengingat pelaksanaan program Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang selama ini tidak menyentuh jenjang pendidikan tinggi.
"Sekarang sudah ada KJP. Kita sarankan ke gubernur lebih baik membentuk yayasan beasiswa ini ditujukan bagi mahasiswa yang berprestasi tetapi dari keluarga miskin. Sementara yang SMA ke bawah supaya dicover ke KJP," ujar Sutiyoso usai bertemu Jokowi di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (20/5/2013).
Sutiyoso mengatakan, saran pembentukan yayasan beasiswa ini didasarkan pada kemungkinan adanya tumpang tindih dalam pelaksanaan KJP. Selain itu, juga dimaksudkan agar KJP dapat berjalan dengan lebih tepat sasaran.
"Supaya tidak ada overlap. Nanti bisa double, makanya kita sarankan dipisah-pisah saja," kata Sutiyoso.
Selanjutnya, terang Sutiyoso, pembentukan yayasan beasiswa itu dapat membantu banyak mahasiswa. Selain itu, program ini juga akan dapat meningkatkan citra Jakarta.
"Ada 11 ribu mahasiswa,tapi itu perlu seleksi. Program itu juga membawa nama baik bagi DKI di forum internasional maupun nasional," ujar dia.
Selama Pilgub lalu, Sutiyoso dikenal sebagai pendukung Fauzi Bowo, rival Jokowi. Sutiyoso juga kerap mengritik Jokowi.
Sumber :
merdeka.com
Langganan:
Postingan (Atom)

























